SETERU (2017)

9 komentar
Dari sekian banyak "gejolak kawula muda" khususnya siswa SMA, tawuran termasuk tindakan paling bodoh. Kalau ditelusuri, fenomena tersebut bakal memancing studi menarik, sebutlah tumbuh kembang remaja, tendensi kekerasan, budaya konformitas, bullying, bahkan bisa ditarik sampai ke lingkup keluarga. Banyak poin dapat diamati, tapi jangan harap Seteru menghasilkan observasi hingga sedalam itu, sebab karya teranyar Hanung Bramantyo bersama co-director Seno Aji (dirilis seminggu pasca Kartini mungkin demi tertular momentumnya) sekaligus produk kampanye kebhinekaan dan anti tawuran dari Kementrian Pertahanan (Kemhan) ini hanya berniat menyerukan "tawuran itu keliru".

Bukan masalah. Sejak dulu film telah sering dipakai untuk media propaganda, promosi, atau iklan layanan masyarakat versi panjang. Lagipula pesan yang diusung baik. Terpenting, pesan itu tersampaikan, bahkan kalau bisa memberi dampak. Pelaku tawuran dalam Seteru adalah pelajar dua SMA di Yogyakarta, yakni Kesatuan Bangsa (berisi siswa kaya) dan Budi Pekerti (berisi siswa miskin). Permusuhan dipicu kematian siswa Budi Pekerti yang konon disebabkan oleh Kesatuan Bangsa. Sulitnya upaya perdamaian memaksa kedua sekolah menyerahkan pentolan tawuran masing-masing pada Letkol Rahmat (Mathias Muchus), Komandan Kodim setempat yang kemudian menyerahkan pembinaan pada Lettu Makbul (Alfie Alfandy). 
"Sasaran tembak" Seteru tentu para pelajar SMA yang terbagi jadi dua golongan: pelaku tawuran dan bukan pelaku tawuran. Golongan kedua akan mudah mengamini tuturan filmnya, tapi lain cerita dengan golongan pertama yang notabene target utama filmnya. Masalahnya, naskah karya Bagus Bramanti sekedar bertindak selaku pemberi nasihat eksternal, bagai orang tua atau guru tengah berpetuah tanpa coba memposisikan diri di frekuensi serupa lawan bicaranya. Terkesan dangkal pula menggampangkan resolusi, sehingga mudah membayangkan bila seorang siswa "berandalan" penyuka tawuran disuguhi film ini, dia seketika menjawab "tidak semudah itu, bro". 

Bukan berarti sama sekali nihil usaha mengetuk hati mereka. Konflik internal keluarga Martin (Bio One) dan Ridwan (Yusuf Mahardika) diharapkan mewakili masalah personal remaja. Namun presentasi soal harapan membanggakan orang tua berhenti di tatanan permukaan, sebab lagi-lagi mengubah pola pikir individu tak sesederhana itu. Sebelum ditawari gambaran ideal, seseorang perlu direnggut dahulu hatinya supaya ikhlas menerima arahan. Upaya menarik hati dilakukan melalui pemakaian futsal, yang mana kegiatan favorit mayoritas remaja, sebagai pemersatu. 
Hanung (selaku penggemar sepakbola) cukup piawai merangkai pertandingan menghibur. Tapi turnamen futsal justru memantik persoalan baru ketika Seteru jadi condong ke arah film olahraga hiburan. Praktis paruh kedua menenggelamkan usungan pesan akibat sequence futsal menekankan hiburan berupa gol demi gol ketimbang suguhan kerja sama tim. Ditambah lagi cuma Bio One dan Yusuf Mahardika yang tampak meyakinkan di atas lapangan, merenggangkan jarak keduanya dengan kawan-kawannya yang minim ciri pembeda. Paling hanya Dito (Dhemi Purwanto) lewat sisi komikalnya yang menonjol. Kalau ditelusuri lebih jauh pun, sulit menjabarkan detail penokohan keenam protagonis. Unsur perbedaan etnis siswa Budi Pekerti dan Kesatuan Bangsa pun berujung tempelan tak substansial. 

Seteru memang tidak subtil bertutur. Segala wejangan disampaikan gamblang, namun bisa diterima berkat penempatan tepat. Setting militernya memfasilitasi cara bertutur tersebut. Adalah wajar tatkala seorang Letkol berceramah panjang lebar seputar moral dan nilai persatuan bangsa. Awalnya saya pesimis akan pemilihan tempaan berat militer sebagai jalan pembentuk disiplin, sebelum filmnya menunjukkan kalau hal terpenting bukan fisik atau bentakan yang selalu diteriakkan Lettu Makbul semata, pula hati dan rasa. Alfie Alfandy sendiri meyakinkan sebagai sosok tentara keras meski kala tokohnya melunak, transformasinya berjalan kurang mulus, sebagaimana transformasi terlalu instan dua kubu protagonis dari lawan menjadi kawan. Setidaknya kematangan Hanung berhasil menjaga jalannya alur tetap nyaman diikuti. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

9 komentar :

  1. Bang, bakal nonton colossal gak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitu tayang pasti tonton :)

      Hapus
  2. Bang, ijin saran. Untuk rating baiknya di CAPS LOCK, biar eye catching. Begitu ratingny LUAR BIASA, jd semangat baca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks, saran ditampung :)

      Hapus
  3. Bang, ijin saran. Untuk rating baiknya di CAPS LOCK, biar eye catching. Begitu ratingny LUAR BIASA, jd semangat baca

    BalasHapus
  4. Bang dapet sponsor tiket gitu gimana caranya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tugas nonton dari IDFC :)

      Hapus
    2. Bung..chanel IDFC ato tg film film d telegram app adagak alamatnya

      Hapus
    3. Bisa lewat link ini
      https://t.me/joinchat/AAAAAECnSLLWZrgxZl8uVg

      Hapus