INSYA ALLAH, SAH! (2017)

18 komentar
Entah berbentuk kritik atau sindiran dalam satir maupun semata olok-olok jenaka, unsur "ketidakseriusan" milik komedi dapat berfungsi memperhalus penyampaian sebuah pesan. Lalu apa jadinya saat suguhan komedi justru bagai berceramah secara bertubi-tubi dalam berpesan hingga mengesampingkan ajakan tertawa bagi penonton? Demikianlah Insya Allah, Sah! adaptasi novel berjudul sama karya Achi TM yang mengandung DNA serupa drama religi preachy perfilman kita. Menyedihkan ketika mendapati medium bersenang-senang pengendur otot turut dijajah polisi moral begini.

Silvi (Titi Kamal) sedang harap-harap cemas dilamar oleh kekasihnya, Dion (Richard Kyle), tetapi kesialan-kesialan bagai enggan menjauh darinya. Bahkan begitu lamaran terjadi, keberuntungan tak jua datang ketika persiapan pernikahan selalu dihantam rintangan. Belum lagi, Silvi mesti menghadapi Raka (Pandji Pragiwaksono), pria lugu anak buah Dion yang selalu menasehati supaya rajin beribadah, yang mana termasuk nazar Silvi tatkala terjebak dalam lift bersama Raka. Benarkah masalah-masalah tersebut disebabkan keengganan Silvi menjalankan nazarnya?
Tidak saya pungkiri pesan utama Insya Allah, Sah! baik, bahwa seseorang wajib memenuhi janji, terlebih bila ditujukan pada Tuhan. Akan mudah menerima tuturan itu apabila intisari dapat penonton petik dengan sendirinya alih-alih beruntun diutarakan oleh seorang man-child yang gemar menginvasi ruang personal wanita. Seperti poin utama kisahnya, Raka berniat baik. Tapi sewaktu ia selalu hadir tak kenal waktu, mulai muncul di depan rumah Silvi hingga menelepon tengah malam, ketimbang peduli sosoknya justru terkesan creepy. Apalagi Raka adalah fully functional adult, paham soal agama, pun diceritakan jago mengurus bisnis musik (entah bagaimana caranya), menjadikannya bukan representasi kemuliaan hati manusia polos, melainkan stalker mengerikan.

Bagai sejalan dengan banyak sisi mengkhawatirkan negeri ini seputar isu moral dan agama, Insya Allah, Sah! tidak saja preachy menasihati tentang agama, pula asal senggol soal isu sensitif untuk materi humor. Misalnya pemakaian karakter banci dan LGBT sebagai bahan banyolan usang, yang salah satunya muncul saat Raka menasihati satu pria supaya "kembali pada kodratnya". Pun bila sekedar ditinjau dari kualitas komedi tanpa mempedulikan korelasi terhadap isunya, Benni Setiawan (Wa'alaikumsalam Paris, Toba Dreams, Sepatu Dahlan) selaku sutradara sekaligus penulis naskah kurang luas berkreasi, mengandalkan repitisi momen kemunculan tiba-tiba Raka. 
Pandji berusaha sebisanya bertingkah aneh, namun penokohannya sama sekali tak membantu. Untung di mana Raka berada, Silvi selalu turut mengisi (or is it the other way around?), sebab Titi Kamal adalah penggerak yang tidak pernah surut tenaganya. Mencibir sesuka hati lewat kata-kata pedas hingga ekspresi konyol, konsisten menggelakkan tawa walau tanpa dukungan sepadan dari sumber materinya. Begitu juga sederet meta jokes terkait sederet cameo mulai Prilly Latuconsina (Danur) sampai Reza Rahadian (Something in the Way?). Sedangkan bagi Richard Kyle ada dua opsi: melatih keluwesan akting dan berbahasa Indonesia atau meng-cast aktor lain yang lebih kompeten.

Di samping ceramah agama, Insya Allah, Sah! sejatinya mengandung potensi kisah lain untuk dijadikan fokus, yaitu keruwetan persiapan pernikahan. Kita memang melihat beragam kesulitan Silvi tapi semua selalu dikaitkan dengan agama ketimbang berdiri sebagai eksplorasi tersendiri. Mungkin anda familiar akan ungkapan berbagai pihak kala terjadi musibah di suatu daerah yang kira-kira berbunyi "itu adzab Tuhan, makanya rajin ibadah". Sungguh pernyataan nihil empati. Demikianlah yang tercermin pada respon Raka menanggapi setumpuk permasalahan Silvi. 

18 komentar :

  1. Baca review ini, tiap paragrafnya selalu bikin aku pengen nyeletuk "Hehehehehe." Okelah fix dan sah nggak nonton film ini. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas nonton juga nyeletuk gitu kok, cuma dibarengi nangis penyesalan :D

      Hapus
  2. Sabar bang wkwkwk
    BTW kenapa pemakaian nama Reza Rahadian harus diikuti "Something in the Way"? Kenapa nggak Critical Eleven yg baru dan keren itu? Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya cuma di Something in the Way dia jadi supir taksi :)

      Hapus
    2. Lah kocak wkwk
      Reza bisa jadi apa saja bang, kemarin dia aja hampir jadi pemeran Kartini wkwk

      Hapus
    3. Oh besok ada film biografi Reza dan yang main dia sendiri

      Hapus
    4. Udh kayak Johnny Depp, nongol mulu sampai bosan liatnya :D

      Hapus
    5. Reza mah nggak pernah bosen. Selalu bagus mainnya. :)

      Hapus
  3. "Menyedihkan ketika mendapati medium bersenang-senang pengendur otot turut dijajah polisi moral begini... "Rasyid

    Lah? Medium komedi mah bebas aja bang mau buat orientasi agama kek, action kek, horor kek, moral kek, sosial kek. Kok menyedihkan? Bebas aja lah org mau pakai komedi buat apaan. Org barat aja pakai komedi buat mengolok agamanya sendiri enjoy aja. Sorry to say ya bang, sy ga sependapat dgn word diatas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah disebut sebelum & sesudahnya kok, di komedi, kelucuan humor harus didahulukan, bukan pesan/ceramah dulu. Benar banyak komedi khususnya di luar lebih berani & keras mengkritik, tapi yang bagus nggak akan terkesan preachy.

      True, bukan cuma komedi malah, semua genre bebas mau bahas apa. Tapi jangan lupa esensi dasarnya. Apalagi sekarang kesadaran penonton ke isu sosial makin tinggi, nggak bisa lagi asal ofensif, asal lempar.

      Hapus
    2. That's it !!
      Kalau emang mau jadi komei maka lucu dulu yang diutamakan, bukan ceramah atau pesan moral.
      Karena yg harusnya penonton ketawa malah jadi engggggg....

      Hapus
  4. Ekspektasi buat 5 Cowok Jagoan gimana bang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Konsepnya potensi jadi fun, asal Anggy bisa tepat nempatin gayanya macam di Warkop DKI, it could be really entertaining :)

      Hapus
  5. Ada niatan kecil untuk nonton ini, walaupun sadar pasti mengecewakan kalau Pandji jadi Pemeran Utamanya.. Seperti di Make Money.
    Tapi setelah baca review ini mending gausah nonton deh hehe..

    Oiya mas ada kompetisi review untuk blogger soal film ini lho. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha menarik, soalnya mayoritas review-nya pada negatif begini

      Hapus
  6. Titi kamal alasan utama utk nonton film ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan dia emang hal terbaik di sini :)

      Hapus