KEDI (2016)

10 komentar
Kucing adalah hewan misterius. Sebagian menyebutnya bodoh, sebagian menganggapnya pintar. Bahkan beberapa pihak meyakini bahwa kucing sadar akan eksistensi mereka serupa manusia. Kebenarannya sulit dipastikan, yang jelas, banyak masyarakat Istanbul mengamini hal tersebut. Kedi (dari Bahasa Turki, berarti kucing) karya sutradara Ceyda Torun menyoroti bagaimana interaksi manusia dengan kucing jalanan Istanbul yang jumlahnya mencapai ribuan. Mulai "membanjiri" kota sejak era Ottoman melalui kapal-kapal pelaut Norwegia, mamalia ini awalnya hadir membantu warga mengatasi serangan tikus. Ratusan tahun berselang, simbiosis mutualisme bertahan kemudian berkembang jadi kisah kasih.

Dalam Kedi, kita melihat kucing-kucing liar berkeliling kota, berinteraksi dengan warga yang daripada terganggu, malah bersikap senang hati. Entah sekedar menggoda, membelai, sampai menyediakan makanan walau bukan hewan peliharaan sendiri. Kucing bak sahabat, bahkan cinta bagi orang-orang ini. Jika umat Hindu di India memandang sapi hewan suci, kucing Istanbul amat dicintai karena dianggap membentuk kehidupan di sana. Torun mampu memunculkan suasana damai lewat harmoni antar makhluk hidup, ketika manusia mendapat kebahagiaan berkat kemauan mencintai hal-hal sederhana, termasuk merawat kucing. Begitu hangat dan syahdu Torun menggambarkan Istanbul. Di satu adegan, seorang warga menemukan kucing kecil terluka lalu cepat tanggap membawanya ke rumah sakit. Sebuah momen unscripted yang berdampak besar menyuntikkan emosi. 
Selain suasana, nyatanya kucing turut membentuk manusia di dalam kota ini. Beberapa interviewee sekilas mengungkapkan pernah mengalami gangguan psikis di masa lalu dan kegiatan mengurus kucing menjadi obat mujarab. Misalnya seorang pria yang menyatakan dahulu sempat terserang nervous breakdown, tak mampu bersosialisasi apalagi tersenyum. Sampai aktivitas memberi makan ratusan kucing liar di seluruh penjuru kota mengobatinya, menghadirkan tawa bahagia. Sedangkan kisah warga lain turut menautkan kucing dengan perkembangan beragam sisi sosial Istanbul. Mulai isu feminisme berisi kegundahan sesosok wanita, hingga modernisasi yang mengancam keharmonisan alam dan populasinya.
Penonton diajak mengenal tujuh ekor kucing, yakni Sari, Duman, Bengü, Aslan Parçasi, Gamsiz, Psikopat, dan Deniz, dengan kisah berlainan dari masing-masing warga. Ciri khas, sifat, sampai tingkah polah detail setiap kucing dideskripsikan lengkap. Bahkan memori pertemuan pertama masih tersimpan jelas. Seperti yang kita semua pernah lakukan, mereka gemar melakukan ad-lib, merangkai cerita berdasarkan observasi terhadap situasi dan tingkah laku kucing. Ada betina galak yang "menguasai" sang suami, ada pula perebutan teritori dua ekor kucing. Torun pandai bermain visual, jeli menangkap momen tepat sehingga penonton berujung meyakini peristiwa-peristiwa di atas nyata, benar adanya. Penataan kamera duo sinematografer Alp Korfali dan Charlie Wuppermann juga bergerak lincah sekaligus sanggup menempatkan penonton di bermacam perspektif termasuk sejajar dengan para kucing, bagai tengah membuntuti mereka. 

Kedi jelas sempurna bagi pecinta kucing. Bisa berupa hiburan ringan hasil dari melihat kelucuan mereka, atau proses observasi dan pemahaman lebih dalam mengenai si hewan kesayangan di belahan dunia lain. Bagi penonton umum sejatinya serupa, meski akhirnya berpotensi sedikit melelahkan karena di samping sederet informasi yang mungkin didapat, mayoritas film hanya diisi kucing berkeliaran di tiap sudut kota. Termasuk epilog lima menit tatkala cerita sejatinya telah usai namun Torun memaksa menambahkan scenery shot repetitif yang berkepanjangan. Tapi pada masa di mana cinta kasih antara makhluk hidup seolah makin langka, Kedi yang mendamaikan perasaan ini perlu disimak. 

10 komentar :

Comment Page:
Arif Hidayat mengatakan...

Nonton dimana bang ??

Rasyidharry mengatakan...

Di torrent ada :)

Panca Sona mengatakan...

Sebagai pecinta kucing saya harus lihat ini, tolong link torrentnya mas heehe.. :)

Rasyidharry mengatakan...

Search keyword "kedi 2016" aja di piratebay :D

Iftikar Mukti mengatakan...

ini filmnya mirip Monkey kingdom (2015) ya mas?
Kayakny bagus tuh...

btw, boleh tukeran link review....
lemonvie.net

riozacky mengatakan...

Kayaknya keren nih. Oh ya kang, udah nonton film The Invisible Guest? Kampret tuh film!!

Rasyidharry mengatakan...

Beda sih pendekatannya, Monkey Kingdom kan Disney Nature, dokumenter edukasi semua umur.

Sip, terpasang :)

Rasyidharry mengatakan...

Belum ada pendorong kuat nonton itu hehe

Badminton Battlezone mengatakan...

Bang kalo sempet review 47 meters down donk bang. Pengen ntn tapi ragu bagus apa ngga :)

Rasyidharry mengatakan...

Download aja ada kok haha
Jelek sih kata beberapa reviewer yang nonton. Hiunya malu-malu