THE HAPPIEST DAY IN THE LIFE OF OLLI MAKI

6 komentar
Ketika penuturan film biografi kian terjebak formula lama, The Happiest Day in the Life of Olli Maki hadir dengan pola berbeda di mana sorotan terletak hanya seputar salah satu fase hidup tokohnya alih-alih membentang dari ia kecil hingga akhir hayat. Pun sebagai film olahraga, perjuangan motivasional menggapai gelar juara bukanlah andalan. Daripada menggelora maupun mengharu biru, film ini memakai gaya realisme humanis, mengangkat kisah nyata Olli Maki (Jarkko Lahti), petinju asal Finlandia yang belum lama beralih ke profesional namun langsung menantang juara dunia dari Amerika, Davey Moore (John Bosco Jr.).

Olli dihadapkan persiapan ekstra keras menjelang pertandingan karena berat badannya beberapa kilogram di atas batas maksimal. Di tengah proses, ia jatuh cinta dengan temannya, Raija (Oona Airola), yang kemudian ia ajak ke tempatnya berlatih di Helsinski. Keputusan itu ditentang keras oleh sang manajer, Elis Ask (Eero Milonoff), Menurutnya, asmara hanya mengacaukan konsentrasi Olli. Ironisnya, Elis sendiri banyak melibatkan Olli pada rangkaian aktivitas komersil yang tak terkait latihan, sebutlah sesi foto majalah, pembuatan dokumenter, sampai makan bersama pemodal. Pikiran Olli terbelah, antara mengejar cinta atau bersikap profesional. 
Dalam gesekan kebahagiaan personal melawan tuntutan industri ini, naskah buatan Juho Kuosmanen (juga mengisi kursi sutradara) dan Mikko Myllylahti memihak perihal pertama sembari tetap mengakui bahwa tak bisa dipungkiri (so-called) komersialisasi perlu ada demi bertahan di industri, apalagi olahraga telah menjelma jadi ladang bisnis menggiurkan. Kondisi kompleks  yang beda dengan visualnya  tidaklah hitam-putih ditekankan. Olli yang paham betul akan hal ini mengalami dilema, mengingat bahagia untuknya bukan popularitas. Cukup menemukan layang-layang di tengah hutan dan memainkannya bak anak kecil riang gembira atau menghabiskan waktu bersama si gadis tercinta. Ketika "the happiest day" bagi sang manajer yang dahulu pun bertinju adalah kala memenangkan kejuaraan, Olli punya anggapan lain.

Terjebaknya tokoh utama di tengah cinta dan kejayaan bukan cerita baru. Penyebab filmnya menjauhi keklisean tutur biografi olahraga terletak pada pendekatan berbasis realisme yang mengusung perspektif humanistik. The Happiest Day in the Life of Olli Maki lebih berstatus selaku studi kasus yang menampilkan observasi ketimbang dramatisasi. Meski kisah Olli melankolis, Kuosmanen enggan merangkai melodrama berurai air mata, sepenuhnya mengajak penonton mengamati beragam kondisi. Sayangnya di pengamatan ini ekspresi rasa bukannya diperhalus lewat cara kreatif, namun murni diredam. Paling kentara pada paparan romansa yang nihil "it moment" (at least the strong one) guna menunjukkan kuatnya gejolak di hati dua karakter. Penonton butuh interaksi spesial supaya ikut jatuh cinta bersama mereka, satu poin yang tak filmnya miliki.
Untungnya balutan asmara tersebut tak seutuhnya hambar, setidaknya ada magnet dari performa apik Oona Airola. She's fun to watch. Bertingkah laku manis dengan senyum setia menghiasi wajah namun selalu bersemangat dan lincah, bukan wanita lemah pengayom laki-laki kuat (secara fisik) sebagaimana gemar ditampilkan film-film olahraga lain bertemakan tinju. Mendukung penokohan likeable naskahnya, penampilan Airola memudahkan penonton percaya pula memahami alasan Olli demikian tergila-gila padanya. 

Visual hitam-putih garapan sinematografer Jani-Petteri Passi memang rentang memancing komparasi dengan Raging Bull, tapi toh keindahan yang diisi penggunaan kontras tinggi sulit ditolak, sekaligus mampu menyokong nuansa vintage yang sesuai setting tahun 1962. Begitu pula saat pertandingan berlangsung, yang walau bukan klimaks pemacu adrenalin, menarik disimak tatkala kilatan blitz kamera menghujani arena, seolah mewakili kondisi Olli yang mendadak berada di bawah spotlight menyilaukan bagaikan selebritis dengan sorotan berskala nasional. Balutan visual tersebut melengkapi The Happiest Day in the Life of Olli Maki selaku observasi cukup solid, yang meski tak seberapa mencengkeram akibat kurang melibatkan emosi penonton, begitu nyaman dipandang.

6 komentar :

  1. Frances ha kah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh? Kok jadi Frances Ha?

      Hapus
    2. mirip-mirip?

      Hapus
    3. Oh selain visual hitam-putih, semua beda.

      Hapus
  2. Anindya7:19 PM

    Kak, udah nonton Tschick belum? kalo udah, gimana pendapat kakak tentang film itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh punya Fatih Akin ya? Belum sayangnya

      Hapus