THE MERCILESS (2017)

23 komentar
Bertemakan kesetiaan, penuh intrik pengkhianatan, dibumbui kekerasan, twist bertebaran, dan karakter bergaya seolah manusia paling keren sedunia. Demikian kurang lebih cara mendefinisikan sinema kriminal mainstream Korea Selatan, tak terkecuali The Merciless a.k.a Bulhandang garapan sutradara Byun Sung-hyun yang pada 24 Mei baru diputar di sesi Midnight Screenings dalam rangkaian Cannes Film Festival. Walau tanpa menawarkan inovasi, The Merciless bakal memuaskan penyuka genre film kriminal dan bukan mustahil menarik perhatian penonton muda berkat keterlibatan salah satu anggota boyband ZE:A, Im Si-wan.

Cerita bermula di suatu penjara, ketika tahanan muda bernama Hyun-soo (Im Si-wan) mencuri atensi setelah terlibat perkelahian. Kenekatan bocah itu menarik perhatian Jae-ho (Sol Kyung-gu) si penguasa penjara yang menguasai bisnis rokok. Keduanya mulai menjalin kedekatan, bahkan sampai saat mereka telah bebas dari penjara. Sampai sini saja saya bisa menjabarkan sinopsis, selebihnya berpotensi menjadi spoiler. Naskah hasil tulisan Byun Sung-hyun bersama Kim Min-soo memang penuh belokan, seolah hampir di setiap perpindahan sequence ada kejutan menanti. 
Berondongan twist demi twist tersebut sejatinya bak pisau bermata dua. Di satu sisi, ketertarikan penonton mampu dijaga karena selalu terdapat arah baru, namun di sisi lain menciptakan distraksi ketika yang setia dinanti adalah "kejutan apalagi?" ketimbang pengembangan karakter layak. Toh setidaknya pilihan twist Sung-hyun dan Min-soo tak pernah dipaksakan, murni berupa rahasia yang tertutup rapat daripada fakta baru yang mendadak muncul entah dari mana. 

Seperti telah jamak diketahui, film kriminal Korea Selatan terobsesi dengan gaya. Cool factor. Selain pengadeganan (I'll get into that later), sisi penulisan pun tidak lepas dari usaha terlihat keren yang sudah nampak dari opening kala terjadi obrolan soal makan ikan sebagai metafora kegiatan membunuh yang seperti dicuplik dari film-film Tarantino (sempat pula diselipkan trunk shot). Kemudian alurnya bergerak cukup liar, kerap tiba-tiba melompat maju-mundur antar garis waktu demi mengakomodasi terciptanya kejutan. Konsentrasi lebih diperlukan agar tak tersesat dalam limbo ambiguitas waktu itu, terlebih dialog panjang lebar kerap dipakai selaku penjelasan bermacam poin rumit alurnya. 

Penyutradaraan Sung-hyun pun sama stylish-nya, bahkan untuk adegan "remeh" macam menyalakan rokok di mana editing cekatan plus teknik close-up diterapkan. Demikian pula soal meramu aksi yang mencapai highlight dalam suatu perkelahian antar-geng di sebuah warehouse. Mengandalkan gaya street fighting brutal ditemani balutan kekerasan (mendominasi sepanjang film), kamera Cho Hyoung-rae bergerak dinamis, sesekali berakrobatik, sesekali juga memakai take panjang. Sementara musik bernuansa rock 'n roll buatan Kim Hong-jip dan Lee Jin-hee menguatkan aroma keren yang ingin dibangun. 
Sung-hyun sendiri tahu cara supaya tokoh-tokohnya nampak keren kala beraksi. Contohnya masih di adegan warehouse di atas, sewaktu Jae-ho menerobos masuk, lalu dengan tangan kosong, enteng menghajar lawan yang menyerang memakai beragam senjata. Sama seperti Hwang Jung-min (Veteran, The Himalayas, The Wailing) yang belakangan naik daun, Sol Kyung-gu punya karisma seorang anti-hero berpengalaman yang dapat teramat santai menangani situasi berbahaya sekalipun. Sedangkan Im Si-wan urung terjebak dalam akting sedatar kayu yang kerap menjangkiti banyak idol-turned-actor ketika melakoni peran cool guy.

Apabila ditempatkan murni sebagai hiburan, The Merciless berhasil konsisten melaksanakan tugasnya, menghibur selama hampir dua jam. Meski sebenarnya film ini dapat berakhir lebih. Jalinan pertemanan yang patut disebut bromance antara Jae-ho dan Hyun-soo semestinya dapat menggugah emosi andai tak pengembangannya tidak terganggu oleh rutinitas melempar kejutan. Paling tidak daya tarik intrik tatkala penonton tidak bisa mempercayai apapun baik kejadian atau karakter selalu menarik.

23 komentar :

Comment Page:
Muhammad Rivaldi mengatakan...

Im si wan memang beda kelas ama idol turned-actor lain di Korea sana.. Saya sarankan coba tonton drama Korea Misaeng. Drama yang bener bener beda dari drama korea kebanyakan, Im si wan jadi pemeran utama di sana.

Rasyidharry mengatakan...

So far sih paling berkesan Lee-joon di "Rough Cut"

Anonim mengatakan...

Pernah nonton fabricated city bang rasyid ? Bagus lhoh

Uda Isan mengatakan...

Jadi si Siwan bagus apa nggak aktingnya bang ��

Rasyidharry mengatakan...

Bagus kok itu, entertaining :)

Rasyidharry mengatakan...

Well, not bad :)

Uda Isan mengatakan...

Sip, Siwan selalu disebut sebagai idok aktor terbaik soalnya di Korea sana. Udah antisipasi banget ini film hhe

Mau ngasih info aja bang.
Sol Kyung Gu itu salah satu dari 3 Raja di Korea sana. Yang 2 lagi adalah Choi Min Sik dan Song Kang Ho. Jadi bisa dibilang beliau sedikit diatas Hwang Jung Min kelasnya. Hehehe

Rasyidharry mengatakan...

Oh ya, betul itu. Perannya di Peppermint Candy & Oasis luar biasa. Sebut nama Hwang Jung-min karena belakangan dia yang "bertanggung jawab" mematenkan lagi tipikal anti-hero macam gitu di film mainstream Korea :)

Uda Isan mengatakan...

Hero sok keren ya bang? Wkwkwk

Rasyidharry mengatakan...

Nah, ketemu istilah yang tepat tuh :D

Uda Isan mengatakan...

Hahahaha :D

Bang mau tanya donk, diatas abang nulis "Film mainstream Korea", emang film yang gak mainstream kayak apa bang? Film2nya Kim Ki Duk atau Hong Sang Soo gitu kah? Apakah film Park Chan Wook dan Bong Joon Ho masuk film mainstream?
Soalnya banyak blogger film yg menggolongkan film berdasarkan mainstream dan tidak, dan saya agak terganggu dengan istilah itu wkwkwk

Rasyidharry mengatakan...

Pengertian mainstream bisa beragam:
1.Penggarapannya mengikuti formula/pakem yang jamak dipakai
2.Perilisannya luas, bukan limited
Jadi, definisi mainstream bakal selalu berubah. Chan-wook & Joon-ho secara karya jelas nggak mengikuti pakem, tapi kalau dipandang dari sisi perilisan, mereka tergolong wide, bahkan internasional. Nggak ada definisi pasti memang. Nah khusus di tulisan ini, yang dimaksud mainstream itu, di genre film kriminal. Kalau sudah sering nonton crime Korea, pasti waktu nonton The Merciless bakal mikir "oh familiar nih, sering lihat nih yang ginian". Dan memang penggarapannya ngikuti pakem sekali :)

Uda Isan mengatakan...

Oh gitu, paham saya.

Nah ini, waktu itu saya baca, ada blogger film Indonesia yang bilang kalau Christopher Nolan itu sutradara film Mainstream, nah saya sebagai penyuka karya Nolan agak kesel bacanya wkwkwk, masa film kayak Memento dibilang mainstream, perasaan yang filmnya begitu ya cuma Memento doank wkwk

Saya udah ngikutin blog ini dari zaman bang Rasyid baru2 nulis, waktu reviewnya masih hal2 mendasar. Sekaranf bang Rasyid kayaknya udah jadi salah satu yang blogger film terbesar nih di Indonesia. Blognya paling rame komen dan paling aktif. Mau nyaingin Om Daniel Dokter ya bang? Wkwkwk

Rasyidharry mengatakan...

Mainstream nggak selalu buruk kok, apalagi kalau mengacu definisi yang kedua. Nolan sekarang bisa masuk kategori mainstream karena filmnya ditonton luas & tergolong blockbuster. Kalau Memento masih "jaman susah" haha

Wah glad to hear that. Makasih setia baca ya.
Duh, masih ketinggalan puluhan tahun buat nyaingin dokter Medan itu. Banyak banget belajar dari dia :)

Uda Isan mengatakan...

Oke fix "Mainstream Gak Berarti Buruk" :D
Soalnya saya suka ngantuk kalau nonton film2 yg katanya gak mainstream itu. Film Wong Kar Wai aja yg bisa saya nikmati cuma In The Mood For Love wkwkwk. Film gak mainstream yg betah saya tonton cuma film2nya Kim Ki Duk sama Asgar Farhadi doank wkwk

Tapi kayaknya blog abang udah lebih rame dari sang Dokter, udah ada iklan sekarang :D
Kalau soal banyak2an nonton kayaknya semua orang di Indonesia juga kalah sama beliau. Doi kayaknya udah nonton semua film di dunia ini wkwkwk

Rasyidharry mengatakan...

Nah itu, mainstream dirilis luas karena bisa menjangkau penonton yang lebih luas juga. Tapi karena miskonsepsi jaman sekarang aja, istilah mainstream sering identik dengan buruk.

Lha wong koleksi film dia sama Sinematek aja kayaknya banyakan di rumah dia :D

Anonim mengatakan...

Yg bener "rough play" bang, klo "rought cut" mah yg maen so ji-sub ma kang ji-hwan... 2 film itu sama-sama di tulis oleh kim ki-duk.

Rasyidharry mengatakan...

Ah yes, maaf, thanks koreksinya. Yap, sama-sama ditulis Ki-duk, dan disutradarai mantan asistennya

Uda Isan mengatakan...

Nah itu, masalahnya di Indonesia istilah "mainstream" itu mengacu pada makna "pasaran, murahan, atau terlalu biasa". Padahal film mainstream juga banyak yg amat bagus wkwk

Itu orang duitnya banyak amat yak, kalau dijual semua koleksinya bisa bikin PH sendiri itu, orang banyak harta karunnya wkwkwk

Rasyidharry mengatakan...

Biasa. Banyak yang pengen sok hipster jaman sekarang. Malu kalau suka yang mainstream & klise.

Kalau duitnya nggak banyak bukan dokter haha

Uda Isan mengatakan...

Oh iya bener wkwk

Bobby Arbie mengatakan...

bang review film prancis 'raw' dong...

Rasyidharry mengatakan...

Masih antri :D