BANDA THE DARK FORGOTTEN TRAIL (2017)

19 komentar
Sutradara Jay Subyakto menyebut pembuatan debut film panjangnya ini sebagai proses bebas cenderung tak terstruktur. Meski naskah buatan Irfan Ramly (Surat dari Praha, Filosofi Kopi 2) memetakan jalur serta garis besar cerita, begitu pengambilan gambar berlangsung Jay membebaskan kru menangkap gambar apa pun di beragam titik kepulauan Banda. Lalu bagaimana bisa tercipta tuturan kohesif? Sebab begitulah sejarah. Tersimpan rapi nan rapat di semua tempat dari arsitektur bangunan bikinan manusia sampai bentangan alam karya Tuhan, menetap, menunggu untuk diungkap, dirangkai, kemudian dimaknai. Selalu ada cerita masa lalu yang mungkin takkan diduga masyarakat masa kini.

Film dibuka oleh sekumpulan awan pekat sembari musik unsettling gubahan Lie Indra Perkasa. Sekilas bagai prolog bagi tontonan horor ketimbang dokumenter kebanyakan, tapi Banda The Dark Forgotten Trail memang bukan dokumenter kebanyakan dan punya rahasia mengerikan yang segera penonton temukan. Kisahnya menjelaskan dahulu betapa dahulu, tak ubahnya hikayat Kerajaan nusantara macam Majapahit, Kepulauan Banda selaku penghasil pala nomor satu sempat mengalami masa kejayaan sebagai pusat perdagangan rempah yang bahkan lebih berharga daripada emas. "Kuasai rempah, maka kau akan menguasai dunia", sebut salah satu ungkapan yang dibacakan Reza Rahadian selaku narator yang sepanjang film amat menghayati sehingga kita seolah mendengarnya langsung dari pihak pertama.
Toh film ini juga menghadirkan beberapa narasumber asli Banda dari bermacam profesi; sejarawan Usman Thalib, pengusaha pala Pongky van den Broeke, Wim Manuhutu, dan lain-lain. Dari para narasumber yang sangat informatif bertutur inilah kenangan gelap Banda terungkap lengkap, memunculkan kisah mencekat yang takkan ditemukan dalam pelajaran sejarah di sekolah. Beberapa nama atau peristiwa mungkin familiar, namun kita disadarkan betapa pengetahuan kita akan fakta sesungguhnya masih sekelumit. Jan Pieterszoon Coen misal. Semua mengenal sosok Gubernur Jenderal Hindia Belanda ini. Tapi berapa banyak orang tahu jika Coen merupakan pelaku pembantaian terhadap rakyat nusantara pertama?  

Kelengkapan informasi berpadu luasnya eksplorasi jadi keunggulan Banda The Dark Forgotten Trail. Berpijak pada jalur rempah pusat perdagangan, filmnya turut menjabarkan bagaimana kejayaan tersebut mempengaruhi manusia-manusia di Banda, termasuk mendorong hasrat berkuasa serta sisi materialistis manusia yang memancing sederet konflik bahkan jauh sebelum kolonialisme. Cakupan kisah Banda membentang luas dari sekitar abad 14 atau 15 sampai sekarang. Penonton diajak menengok Banda di era reformasi kala diterpa konflik SARA walau sebelumnya dikenal lewat berkat pluralisme yang bak miniatur Indonesia. Ada pula presentasi situasi sekarang tatkala pala Banda mulai meredup dan terlupakan. Alhasil muncul satu garis lurus panjang yang membuktikan bahwa masa lalu, masa kini, dan masa depan saling bersinggungan, sehingga memahami sejarah menjadi penting. 
Hebatnya, meski punya jangkauan kisah luas, penceritaannya rapi. Ibarat suatu kelas, film ini adalah guru sedangkan penonton muridnya. Dan Banda jadi guru yang baik, mampu menyampaikan materi secara runtut sekaligus jelas. Latar seluruh sisi, proses sebab akibat yang terjadi, tiada yang terlewat. Akhirnya bila tercetus pertanyaan dalam hati kita selaku murid, sang guru senantiasa sanggup menjawabnya. Bukti keberhasilan kerja kolektif Irfan Ramly yang menyiapkan dasar berupa naskah, trio editor Aline Jusria, Cundra Setiabudhi, dan Syauqi Tuasikal yang sangat cermat menyusun, lalu tentunya pengarahan Jay Subyakto dengan niatan meracik dokumenter unik.

Jay memang membawa keunikan gaya. Sinematografi Ipung Rachmat Syaiful menangkap panorama alam indah dengan tone gelap selaku representasi kisah kelamnya. Sesekali suasana gambar mengingatkan akan judul-judul seperti Baraka dan Samsara, walau sayang, sesekali terjadi repetisi footage. Bedanya dengan dua judul di atas, (selain keberadaan narasi) Jay membuat filmnya lebih liar lewat perpindahan gambar cepat ditemani musik campuran rock n roll dan industrial. Departemen animasi yang diemban RUS Animation tak ketinggalan mencuri perhatian mereka ulang berbagai peristiwa lampau. Di luar ekspresi kreativitas tersebut, momen terkuat justru hadir dibalut kesederhanaan ketika kamera hanya memperlihatkan Pak Pongky mengisahkan suatu tragedi. Saat itu seisi ruangan mendadak terasa sesak. Sepertinya semua penonton menahan nafas sewaktu imajinasi tersulut, membayangkan detail peristiwa menyakitkan itu. Informatif, agresif, kreatif. Begitulah Banda The Forgotten Trail. Sumber belajar mengenai masa lalu, cerminan masa kini, dan persiapan bagi masa depan. 


Ulasan film ini juga dapat dibaca di: http://tz.ucweb.com/8_1J3A

19 komentar :

Comment Page:
yazuli al amin mengatakan...

Ngak bisa nnton lagi pulkam , pasti sdah turun layar

Rasyidharry mengatakan...

Baru tayang 3 agustus kok, paling bertahan 10-14 hari tergantung sikon kotanya :)

yazuli al amin mengatakan...

Ohh kirain kamis kemarem. Di palembang paling 2-3 hari atau mungkin ngak tayang. Tergantung film yg tayang

yazuli al amin mengatakan...

Malesnya gua nanti sendiri di studio kayak film pancasila tahun kemaren

yazuli al amin mengatakan...

Malesnya gua nanti sendiri di studio kayak film pancasila tahun kemaren

Rasyidharry mengatakan...

Lala Timothy udah confirm kok, di Palembang tayang di Cinemaxx.
Asyik lho sendiri, bebas :D

yazuli al amin mengatakan...

Berarti harus incar hari pertama layar pertama,

Rasyidharry mengatakan...

Semoga berhasil nonton :)

Hanif Uke mengatakan...

Itu sekilas posternya kaya muka bulldog...iya ga?hahaha

Imam mengatakan...

kalau yang saya tahu Jay Subyakto itu penata panggung...

Rasyidharry mengatakan...

Jay semua dia garap memang, konser, fotografi, video klip :)

Emir Yudhistira mengatakan...

Saya baru pulang abis nonton ni film.Mantap emang,membuat penonton mengerti betapa pentingnya mempelajari sejarah Indonesia.Menurut saya sih ni film wajib banget di tonton terutama sama yang generasi muda,tapi sayang tadi pas saya nonton satu studio cuma 5 orang hahah

Febrian Prisley mengatakan...

wah sayang bgt ga tayang disini :( menuai kontroversi di daerah asalnya sendiri

Rasyidharry mengatakan...

Jatah layar pun sedikit. Tapi untuk sekarang ini dokumenter bisa tayang di bioskop komersil sudah syukur sih. Rekomendasiin ke teman-teman saja, biar lebih rame :)

Rasyidharry mengatakan...

Oya? Malah baru dengar. Bisa dibagi cerita mungkin kontroversinya gimana

Febrian Prisley mengatakan...

menurut msyrakat banda ada kesalahan sejarah di filmnya,, salah satunya ktanya di film disebutkan suku banda udah punah, padahal belom,, msih ada yg bermigrasi ke daerah lain di maluku wktu itu.. trus timbul juga keresahan masyarakat soalnya film ini dianggap memicu pertikaian antara penduduk banda saat ini dan keturunan asli banda (gtau krna apanya)
itu aja sih yg saya smpet baca dri bbrapa artikel

duh pdahal pngen bgt nonton :(

Rasyidharry mengatakan...

Kalau nggak salah di film bukan disebut punah tapi populasinya sangat sedikit yang tinggal di Banda.
Oh gitu, menurut saya sih bukan memicu pertikaian, tapi menceritakan pertikaian yang pernah terjadi. Tapi entah kalau menurut warga lokal itu membuka luka lama yang sensitif. Disayangkan, tapi cukup bisa dipahami

Satria Pratama mengatakan...

Pengalaman menonton yang baru, studio cm ada 8 orang mgkn..dan studio bener2 senyap sepanjang film, kyk pada menghayati / atau tidur? Yang jelas asik sih hahaha

Gw suka scene "om kacamata, om kacamata"

Rasyidharry mengatakan...

Jangankan 8 orang, pas premier Jogja full house senyap terus kok. Cuma rame hembusan nafas panjang pas cerita Pak Pongy :D