THE DOLL 2 (2017)

16 komentar
Danur: I Can See Ghosts, The Curse, Jailangkung. Ketiganya termasuk horor lokal paling ditunggu karena potensi besar serta digawangi nama-nama tak sembarangan. Sayangnya ada satu persamaan lain yakni sama-sama berkualitas buruk, mengecewakan meski sejatinya digarap sungguh-sungguh. Walau demikian dua di antaranya sukses secara finansial pun nampaknya memancing kembali animo publik terhadap horor. Ikut mencoba peruntungan adalah The Doll 2 yang film pertamanya mengumpulkan lebih dari 550 ribu penonton dan bertengger di posisi 15 film Indonesia terlaris 2016. 

Serupa pendahulunya, film karya sutradara Rocky Soraya ini masih mengumbar kebrutalan, mengandalkan sadisme eksplisit sebagai senjata. Prolognya berurutan menampilkan karakter paranormal Bu Laras (Sara Wijayanto) dari film pertama dan pasangan suami istri Aldo (Herjunot Ali) dan Maira (Luna Maya) beserta puteri tunggal mereka, Kayla (Shofia Shireen). Tanpa basa-basi Rocky memacu filmnya, mengumbar darah sejak menit pertama. Bukan kekerasan kosong, melainkan punya shock value yang salah satu momennya memberi statement tegas: sang roh jahat begitu kejam, bukan hantu narsis yang sekedar doyan muncul tiba-tiba.
Suatu malam kecelakaan lalu lintas yang secara logika mustahil terjadi kecuali ada peranan alkohol merenggut nyawa Kayla, membenamkan Maira dalam depresi. Atas saran sahabatnya yang tidak percaya hal-hal mistis, Elsa (Maria Sabta), Maira mencoba memanggil arwah sang puteri memakai boneka kesayangannya, Sabrina  yang lebih tak masuk akal jadi mainan anak dan membuat Ghawiyah nampak menggemaskan  sebagai medium. Dari situlah teror bermula, menggiring Maira menuju peristiwa-peristiwa mengerikan, seperti salah satunya kemunculan mendadak Sabrina di antara tumpukan cucian yang entah bagaimana, seluruhnya berwarna putih. Menolak percaya cerita sang istri, Aldo membawa Maire bertemu Dini (Mega Caferansa), dokter spesialis kejiwaan yang daripada membimbing justru "menyerang" dan menghakimi "halusinasi" Maira. 
Paragraf di atas mendeskripsikan kelemahan paling fatal The Doll 2 yaitu kebodohan luar biasa naskah garapan Riheam Junianti (Sunshine Becomes You, The Doll, Tarot) dan Fajar Umbara (trilogi Comic 8). Film horor bisa dimaafkan bila tampil bodoh, namun lain cerita saat kebodohan tersebut hadir pada tiap titik penting, menghadirkan ganjalan untuk bisa sepenuhnya menikmati barisan kengerian. Melanjutkan jejak pendahulunya, The Doll 2 menolak eksploitasi jump scare. Kali ini hasilnya lebih baik. Sepanjang second act, ketimbang sekedar melambatkan alur kosong, ada usaha menyelipkan bobot dramatik berupa perjuangan seorang ibu menghadapi duka kehilangan buah hati. Luna Maya pun memberi suntikan nyawa melalui kesanggupan mencurahkan keputusasaan bercampur pilu. Walau akhirnya kesan draggy tetap menyeruak akibat tuturan yang cuma menjangkau permukaan. 

Meski jump scare-nya sempat formulaik, Rocky mampu menyusun beberapa hentakan tak terduga yang efektif memberi daya kejut. Tapi keunggulan terbesarnya adalah teror action-oriented pemicu adrenalin yang berkulminasi di klimaks. Disokong gerak kamera liar Asep Kalila yang mendukung terciptanya suasana chaotic dan gemuruh musik dengan porsi tepat gubahan Anto Hoed, sang sutradara menyajikan puncak intensitas yang acap kali menyinggung ranah kejar-kejaran ala slasher. Membanjiri lokasi dengan darah hasil tusukan berantai atau benturan ke beragam benda, di tangan Rocky tubuh manusia dijadikan target kekerasan tak berujung, seolah memfasilitasi hasrat sadisme dalam diri penonton. Berlangsung cukup lama (sekitar 30 menit), third act-nya adalah sajian bernyali yang jarang ditemui di horor lokal belakangan ini. 


Review film ini tersedia juga di: http://tz.ucweb.com/7_1C1tE

16 komentar :

  1. Nggak niat review Black Butterfly (2017) bang? Ada twist ending yg gw msh gagal paham

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak, terlanjur kena spoiler ending haha

      Hapus
    2. Wah siapa yg kasih spoiler bro?

      Hapus
    3. Di twitter pokoknya, nggak sengaja baca haha

      Hapus
  2. Wow bintang tiga... Ngalahin the curse,danur hingga jailangkung... Semoga raiahan penonton bisa menyamai danur dan jailangkung... Sabtu langsung cuss nih liat akting luna maya yg ciamik kykny pas liat trailerny

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jelas jauh dibanding tiga itu. Buat penonton belum tahu sih, tergantung report hari pertama. Tapi kayaknya maksimal 800 ribu

      Hapus
  3. Review Dunkirk dong mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru nonton besok siang nih

      Hapus
  4. Hittmaker cabang dari Soraya Intercine Films ya Mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, anak perusahaan

      Hapus
    2. Wah pantes mirip-mirip soalnya style gambarnya hehe

      Hapus
    3. Ngakak sih.. Pas temen Maira bilang "Ih lucu pisan" padahal boneka serem gitu..

      Hapus
  5. Mas,review Bukan Cinta Malaikat dong..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah di bioskop dekat sini nggak masuk sayangnya

      Hapus
  6. bang review dunkirk dong, lagi hot nih diantara kritikus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha baru besok siang nonton

      Hapus