ATOMIC BLONDE (2017)

5 komentar
Atomic Blonde digadang-gadang bakal menjadi John Wick versi wanita. Wajar, mengingat filmnya dibuat oleh David Leitch selaku salah satu sutradara film tersebut. Pun trailer-nya yang menampilkan ketangguhan Charlize Theron menghajar habis sederet musuh sembari diiringi kombinasi lagu Blue Monday, Personal Jesus, dan Black Skinhead memancing kesan serupa. Sehingga mengejutkan tatkala produk akhirnya berupa cold war espionage di mana nuansa dingin, percakapan penuh kecurigaan, aktivitas sadap menyadap, atau investigasi bukti tersembunyi, lebih mendominasi ketimbang baku hantam. This isn't "the next John Wick", this is "John Wick meets Tinker Tailor Soldier Spy".

Berlatar detik-detik menuju keruntuhan Tembok Berlin pada 1989, Lorraine Broughton (Charlize Theron), seorang agen MI6, diberi tugas merebut daftar nama-nama agen di Soviet. Daftar tersebut sejatinya dipegang oleh agen MI6 lain, James Gasciogne (Sam Hargrave), namun James terbunuh, dan daftar itu jatuh ke tangan agen KGB. Konon ada keterlibatan agen ganda bernama Satchel yang berkhianat serta sudah bertahun-tahun menyuplai informasi ke Soviet. Seiring memanasnya konflik dua sisi Jerman, Lorraine, dibantu oleh kontaknya di Berlin, David Percival (James McAvoy), mesti secepat mungkin mengungkap jati diri Satchel.
Pemilihan setting menjelang reunifikasi Jerman menguatkan kesan bahwa di tengah peristiwa bersejarah pencuri sorotan dunia nyatanya terjadi pula hal dengan urgensi tak kalah besar nan menentukan tanpa diketahui banyak pihak. Bahkan mereka yang terlibat pun urung memahami kebenarannya. Tuturan spionase memang penuh rahasia. Tidak semua dapat dipercaya, berpotensi saling tikam dari belakang. Terpancar jelas saat Lorraine dinterogasi (alurnya bergerak bolak-balik antara interogasi dan misi Berlin) oleh atasannya, Eric Gray (Toby Jones) dan agen CIA, Emmett Kurzfeld (John Goodman). Siapa jujur, siapa sepenuhnya beraksi demi negara, siapa membawa kepentingan lain, semua misteri. 

Dan merangkai fakta sesungguhnya bukan perkara mudah, baik bagi para tokoh maupun penonton. Sebagaimana umumnya cold war espionage, Kurt Johnstad melalui naskah hasil adaptasi novel grafis The Coldest City karya Sam Hart, enggan gamblang menjelaskan jawaban. Apa yang dicari kemudian didapat, arti sebuah temuan, sampai kejutan-kejutan, ditebar bagai keping puzzle yang harus penonton rangkai sendiri. Rumit. Perlu ketelitian. Sedikit terlewat, rasanya seperti diperlihatkan sesuatu yang kita tak merasa tengah mencarinya. Namun juga menantang. Atomic Blonde layaknya ujian sulit yang makin memuaskan begitu mampu memecahkan persoalannya. 
Masalah terletak di kemampuan David Leitch bercerita. Sang sutradara tersesat dalam benang kusut yang ciptaan sendiri. Beragam momen memunculkan kerumitan tak perlu, mengalir kasar akibat lebih mementingkan gaya berupa gambar memikat berhias neon aneka warna. Lain halnya eksekusi aksi. Walau tidak seberapa sering, sekalinya hadir, keindahan koreografi bela diri brutal ditemani hentakan soundtrack era (mostly) 80an tampil mengesankan. Not as atomic as its trailer but still a hard-hitting action. Puncaknya long take beberapa menit kala Lorraine berdarah-darah membabat lawan, entah dengan tangan kosong, pistol atau perkakas. Kemampuan Leitch dan sinematografer Jonathan Sela menata gerak dinamis kamera di antara koreografi perkelahian kompleks dalam ruang sempit (tangga, mobil) layak diganjar riuh tepuk tangan.

Charlize Theron mendefinisikan "badass action hero". Khusus untuk long take di atas, bukan saja pamer kehebatan melakoni bela diri sendiri, Theron membuat adegan itu meyakinkan berkat ketepatan ekspresi kelelahan dan rasa sakit. Secara bertahap kita dapat melihat Lorraine yang awalnya tangkas semakin kepayahan seiring bertambahnya lawan juga luka tubuhnya. Di samping ketangkasan aksi, Theron bagaikan magnet super kuat dengan penuturan kalimat dingin, tatapan tajam nihil keraguan, sampai hisapan rokok penuh kepercayaan diri. Ketika orang lain dibayangi ketidaktahuan, Lorraine menonjol, tampak mengerti segalanya, bisa melakukan apa saja, seolah dunia ada dalam genggamannya.


Review Atomic Blonde juga tersedia di tautan ini 

5 komentar :

Comment Page:
Usep Zamaludin mengatakan...

penasaran untuk film ini karna memang ada charliz theron...sebenarnya antara mau2 ragu ..nntn film ini apalagi yg gaya pencritaan "benang kusut" yang kadang melelahkan..tapi gada salahnya dicoba kali ya?

Rasyidharry mengatakan...

Asal sebelum nonton sudah tahu kalau bukan action non-stop. Cuma perlu lebih teliti ngamatin alurnya kok :)

Badminton Battlezone mengatakan...

Ni si Bang Rasyid kok uda bisa kasih review AB?mank ntn dimana bang?di inet masi jelek gambarnya

Rasyidharry mengatakan...

Lho, kan udah tayang di bioskop dari Rabu lalu :)

Fauzi Rakhman mengatakan...

gw suka fight snene nya.. mantap.. dan tak lupa blue mondaynya(new order)