RAFATHAR (2017)

23 komentar
Karya Umbara Bersaudara senantiasa kaya ambisi. Berkiblat pada blockbuster Hollywood, tercipta deretan alur fantastik walau kerap memaksakan pun kurang masuk akal, visual bergaya keren walau sering melupakan substansi, hingga kuantitas pemakaian CGI tinggi meski kadang urung dibarengi kualitas. Selalu muncul kata "tapi" dan tidak jarang hasil akhirnya memecah penonton menjadi dua kubu, biar demikian, keberanian memasuki area yang jarang disentuh sineas tanah air jelas layak diapresiasi. Sekilas Rafathar bagai sekedar usaha Raffi Ahmad memanfaatkan rasa gemas publik akan puteranya yang baru dua tahun, namun bisa juga dipandang selaku angin segar, karena sejauh ini belum ada film Indonesia bertema petualangan dengan tokoh utama bayi.

Cerita high concept khas Umbara Bersaudara langsung nampak sejak adegan pembuka kala Profesor Bagyo (Henky Solaiman) kabur dari suatu laboratorium canggih. Di waktu bersamaan, Jonny Gold (Raffi Ahmad) dan Popo Palupi (Babe Cabita) tengah melancarkan aksi perampokan. Akibat kebetulan bercampur kekonyolan, dua peristiwa ini saling bersinggungan, memberi kesempatan Profesor Bagyo meninggalkan Rafathar (Rafathar Malik Ahmad) di depan pintu aktris sinetron asal Malaysia, Mila (Nur Fazura). Bagi Mila beserta sang suami, Bondan (Arie Untung), kemunculan Rafathar adalah anugerah setelah bertahun-tahun pernikahan tanpa dikaruniai anak, tanpa tahu bahwa Rafathar bukanlah bayi biasa.
Kemudian kisah menyoroti Jonny dan Popo menjalankan misi dari Bos Viktor (Agus Kuncoro) untuk menculik Rafathar. Pada paruh ini filmnya mengusung pola serupa Baby's Day Out, di mana dua penculik minim kompetensi dibuat kerepotan oleh seorang bayi. Bedanya, si bayi bukan dinaungi keberuntungan melainkan punya kekuatan besi berani. Jadilah banyolan berupa Jonny dan Popo dihujani segala macam perabot mendominasi. Walau sentuhan slapstick-nya tak sampai memancing tawa menggelegar, keputusan sutradara Bounty Umbara memanfaatkan CGI demi menambah kadar "siksaan" terhadap duo penculik bodoh itu agak menolong. Setidaknya timbul kegilaan pemancing senyum.

Di luar unsur slapstickRafathar sebagai komedi masih cukup menghibur. Materi dari naskah buatan Bounty Umbara bersama Bene Dion Rajagukguk sebenarnya tergolong hit-and-miss, tapi tiap kali kena sasaran, tawa sejenak dapat hadir termasuk berkat sokongan para pemain. Sewaktu Raffi Ahmad lebih banyak berteriak-teriak atau menggerutu tak lucu meski secara mengejutkan lumayan baik di satu momen dramatik, Babe Cabita sebagai karakter yang setipe dengan seluruh peran di karir keaktorannya sesekali menyegarkan suasana. Demikian pula gaya hiperbolis Agus Kuncoro sebagai penjahat multi logat.
Masalahnya, persentase hit-and-miss komedinya setara, sehingga tatkala humor gagal mengena, praktis Rafathar kehabisan daya. Bagi film komedi keberadaan plot kuat bukan kebutuhan utama, namun lain cerita ketika dua per tiga durasi nyaris kosong melompong, semata-mata mengandalkan lelucon yang tidak selalu berhasil. Sebaliknya, menjelang akhir mendadak setumpuk poin alur ditumpahkan, termasuk konspirasi bertaraf internasional ditambah sederet kejutan yang seluruhnya menggelikan karena sulit diterima nalar. Film ini bertutur soal bayi mutan, membuatnya sah jika diisi aspek yang melawan logika andai diiringi kesadaran atas kebodohan miliknya daripada semata-mata bentuk pemaksaan hasrat supaya terlihat keren. 

Kualitas CGI-nya terhitung lumayan sampai tiba klimaks pertarungan Rafathar melawan robot kulkas dan ATM, saat acap kali susah mencerna apa yang tengah berlangsung akibat CGI kasar. Belum lagi penonton hanya disuguhi tiga robot (yang katanya) senjata perang kelas satu bergerak secara canggung, saling tabrak, saling lempar, bagai minim usaha memberi sentuhan estetika dalam koreografi pertempuran. Sekali lagi film ini patut diapresiasi karena mengusung konsep yang belum dijamah film tanah air, meski soal kualitas, Rafathar adalah ambisi tinggi yang amat lemah dieksekusi. Paling tidak Rafathar Malik Ahmad masih bocah dua tahun super menggemaskan.


Review Rafathar juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_PXdL

23 komentar :

  1. akting rafathar gimana bang Rasyid?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak bisa sepenuhnya disebut akting juga sih itu. Nggemesin iya :D

      Hapus
    2. hahaha akting juga toh?

      Hapus
  2. Raffi Ahmad gimana lawakannya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya kayak udah ditulis di atas, teriak-teriak nggak lucu, tapi pas drama malah lumayan

      Hapus
  3. Welcome to the future

    BalasHapus
  4. Anonim11:13 AM

    Mas,tingkat keberanian sampeyan loh.. nonton film2 kyk gini ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya berharap banyak sama Rafathar, at least biasanya Umbara Brothers filmnya fun

      Hapus
  5. smartfren the movie ya? hehe..

    BalasHapus
  6. Anonim8:18 PM

    Janganlah MUBAZIR kan uang kalian untuk orang yang sudah KELEBIHAN uang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anonim7:32 AM

      ^hahaha, Da Best Komeng.
      Gue setuju sama lu.
      Kelihatannya Rafi Ahmad belum puas dengan hartanya, jadi dia mengeksploitasi anak nya sendiri.

      Hapus
  7. Nunggu review The Underdog aja ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rada khawatir juga sebenernya sama itu haha

      Hapus
    2. Berarti menurut Bang Rasyid lebih mendingan nonton A Aku, Benci, dan Cinta, gitu ? hahaha.

      Hapus
    3. Personally lebih nunggu 'A: Aku Benci & Cinta'. Ada Jefri Nichol & Indah Permatasari, both are talented. Bisa jadi the next 'Dear Nathan'

      Hapus
    4. makanya saya tunggu reviewnya dulu hahaha

      Btw sejak Dear Nathan Nichol sama Amanda jadi paket lengkap ya?

      Hapus
    5. Iya tuh, mumpung lagi jadi idola anak muda. Dear Nathan & Jailangkung sukses besar. ABC dan One Fine Day pun kemungkinan sama

      Hapus
    6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    7. Premiere satu tiket satu, kalau mau satu tiket berdua itu sweetbox di CGV (biasanya htm 2 tiket plus 10.000)

      Hapus
  8. Oke terimakasih mas..

    BalasHapus
  9. saat saya menulis koment ini, saya baru aja duduk di depan komputer saya setelah sekitar 1 jam lalu keluar dari bioskop untuk nonton film Rafathar. Saya nonton berdua dengan istri dengan penonton di dalam bioskop hanya 4 orang termasuk saya dan istri. Tadinya sih mau nonton Anabelle, tapi apa daya istri saya udah "nge-Per" duluan saat mau beli tiket papasan sama orang yang baru keluar teathre sambil bilang "jangan nonton Anabelle,deh. Daripada kagak bisa tidur sebulan. Serem". Alhasil, jaddilah kita beli tiket Rafathar.

    Sebenarnya, ada beberapa poin mengapa saya tertarik nonton film ini :
    1. apakah ekspektasi saya terhadap pengaplikasian Motion Capture terjawab dengan baik?Apakah CGI-nya jauh lebih halus dan CGI-awi dari film-film sebelumnya?
    2. Apakah film ini menjadi film yang lebih baik dari film-film Anggy sebelumnya?

    Well, secara umum saya untuk kesekian kalinya menyesal nonton film buah tangan dari Umbara Brothers. Satu 1,5 Jam saya sia-sia karena seolah-olah dipaksa untuk mencerna mangga belum mateng yang kalo dicocol gulapun masih terasa asem. Dulu saya pernah nonton film "Garuda Superhero" yang sangat buruk dengan CGInya, di film Rafathar, ternyata 11-12 dengan film yang saya sebutkan tadi. Ketika saya nonton Comic 8 Hingga CAssino Kings Part1 dan 2, saya merasa banyak CGI yang dipaksakan dan dipasang tidak pada tempatnya. Parahnya lagi, CGInya terkesan apa adanya. Kalo boleh saya analogikan, pengaplikasian CGInya seperti makan pecel ayam dari dalam cangkir kopi. Betul-betul tidak pada tempat yang sesuai. Saya pernah melihat video klip Indah Dewi Pertiwi yang berjudul "Hipnotis" (yang kartanya video klip dengan biaya 9.9 Milyard) yang dibuat oleh Anggy Umbara dan hasilnya begitu bagus CGInya, meskipun mainstream alias tidak ada konsep CGI yang baru. Nah, ketika nonton Comic 8 dan seterusnya, saya masih tidak percaya Anggi dan team menempatkan CGI yang menurut saya ala kadarnya dan terkesan (untuk yang ngerti) Video Copilot banget. Di film Rafathar saya lumayan Amazed dengan pengaplikasian Motion Capture, yang ternyata lagi-lagi hasilnya membuat saya nyletuk "oh, gini aja nih?''. Saya masih ingat betul, begitu banyak green screen yang compositingnya tidak rapih dan grepesan, set extension yang maksa banget, Robot-robotan yang tidak ada "Depth" sama sekali. Saya ingat bagaimana teman saya latihan membuat object 3D, dan gak jauh beda dengan robot-robotan juga karakter Robot Rafathar. Entah apa yang membuat mereka melepas film ini untuk naik ke Bioskop dengan kualitas CGI yang apa adanya. Padahal, dalam promosi ini adalah hal besar yang mereka jual.

    Yang ke-dua, lagi-lagi saya tidak percaya film ini menjual cerita dengan twist yang sangat mudah ditebak. Meskipun Anggy berperan sebagai Produser dan Bounty sebagai Sutradara, saya pikir Anggi bisa menjadi supervisi yang baik untuk film ini. Selama film, saya udah gak sabar untuk hengkang dari kursi bioskop tapi saya tahan hanya untuk mengetahui siapa tau di akhir film ada sesuatu yang membuat saya terkejut. ternyata benar, saya sangat-sangat terkejut dengan alur film dan dramaturgi yang rata.

    Semoga, kedepan Umbara Brothers dapat membuat film yang jauh lebih baik dan tidak melulu terjebak dengan jualan CGI. Toh, pada akhirnya kita harus mengakui bahwa tekhnologi kita sudah sangaaaat jauh tertinggal. Saya setuju bahwa CGI kita harus berkembang, tapi dengan ketertinggalan kita, alangkah bijaknya bila kita bisa mengeksekusi dengan penempatan yang baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cukup setuju sama beberapa poin di atas. Film-film Umbara memang selalu mengandalkan "gaya-gayaan" visual yang sayangnya sering too much, terlalu fokus juga ke sana sampai lupa poin lain. Walau kurang suka sama kebanyakan film Umbara, saya pribadi selalu berharap filmnya laku supaya membuka jalan film-film dengan banyak CGI dibuat, yang artinya, berpotensi memperbaiki kualitas teknologinya. Jangka panjang, but who knows. :)

      Hapus