VALERIAN AND THE CITY OF A THOUSAND PLANETS (2017)

10 komentar
Sewaktu kecil saya gemar memainkan setumpuk action figure karakter fiksi favorit. Berbekal barang  seadanya macam bantal, guling, atau kaleng biskuit bekas, dunia tempat karakter itu hidup jadi kenyataan. Setidaknya dalam imajinasi saya selaku satu-satunya batasan realisasi. Melalui film ini, Luc Besson melakukan hal serupa, menghidupkan komik kesukaannya saat kecil, Valerian and Laureline. Bedanya ia punya modal $210 juta (film Eropa dan independen termahal) guna mengganti mainan dan perabot sehari-hari dengan deretan aktor kenamaan sekaligus efek CGI. Tapi ada sebuah persamaan. Keduanya tak peduli kedalaman karakter atau cerita solid. Terpenting imajinasi terwujud. Valerian and the City of a Thousand Planets memang membawa Besson kembali menjadi bocah.

Dibarengi lagu Space Oddity-nya David Bowie yang sempurna membangun mood, filmnya dibuka oleh montage perkembangan program luar angkasa manusia dari masa ke masa, berujung pada abad 28 ketika stasiun Alpha tempat jutaan makhluk dari planet berlainan hidup bersama berbagi kultur pula pengetahuan, dilepas dari orbit Bumi, melayang bebas di angkasa tanpa batas. Valerian (Dane DeHaan) dan sang partner, Laureline (Cara Delevigne) adalah anggota kepolisian manusia yang tengah menjalankan misi mengamankan spesies hewan langka di suatu planet. Misi yang membawa keduanya mengarungi berbagai tempat di galaksi, bertemu alien beragam bentuk, juga menyelidiki tragedi masa lalu yang disembunyikan rapat-rapat.
Sederhana saja rangkaian cerita dalam naskah Besson. Penyebab durasinya melebihi dua jam (137 menit) dikarenakan alurnya kerap berputar-putar dahulu sebelum sampai titik destinasi. Ibarat perjalanan, penonton sebagai penumpang sering diajak singgah di tempat lain, menetap di sana menikmati suasana, baru lanjut ke tujuan. Juga terasa bagai menyaksikan video game dari stage ke stage berikutnya. Bahkan adegan tatkala Valerian menembus satu per satu lokasi Alpha dikemas oleh Besson laksana tipe permainan endless running yang biasa kita mainkan di smartphone. An exciting one

Meski berakibat pacing yang kurang dinamis, Besson punya alasan kuat di balik pilihan tersebut, yaitu mengajak penonton mengamati keindahan beraneka ragam dunia asing beserta makhluk dan budaya di sana. Karena sejatinya, ketimbang suguhan tipikal "kebaikan melawan kejahatan", Valerian and the City of a Thousand Planets lebih menitikberatkan pada eksplorasi soal diversity dengan cakupan luas: alam semesta. Kalau diperhatikan, mayoritas konflik berujung sekuen aksi tidak didorong usaha tokoh utama menumpas kejahatan, melainkan sebuah keterpaksaan dipicu insting bertahan hidup saat terancam bahaya akibat terjebak di situasi maupun kultur asing. Pun musuh utama yang mesti dihadapi bukan sosok megalomania dengan hasrat menguasai dunia, sekedar manusia dan keburukan alami mereka (kita). 
Walau acap berlama-lama mampir kebosanan urung hadir, sebab bersenjatakan kreatifitas tanpa batasnya, Besson yang makin sahih disebut sutradara visioner mampu menciptakan sederet lingkungan, teknologi, hingga aktivitas tak terbayangkan. Tentu semua didasari komik buatan Pierre Christin dan Jean-Claude Mézières, tetapi menghidupkan gambar diam di panel komik butuh daya kreasi luar biasa. Inilah esensi film selaku motion picture. Gambar bergerak yang mewadahi imajinasi liar pembuatnya. Sinematografi Thierry Arbogast juga musik Alexandre Desplat yang mencerminkan ekspresi kekaguman, menambah daya pukau petualangan jagat raya yang langsung menghentak sejak menit-menit awal di Planet Mül. Sayang, fokus terhadap visual seolah sepenuhnya menyedot energi Besson, sehingga ia gagal maksimal soal eksekusi aksi. Tidak buruk, hanya saja medioker, nihil cool aspect ciri khasnya.

Saat Dane DeHaan kekurangan pesona sebagai pahlawan sci-fi yang bertingkah semaunya (charm-nya lebih cocok untuk tokoh gloomy), Cara Delevigne sukses menghapus memori buruk Enchantress si iblis penari perut berkat deadpan sarcasm yang juga didukung struktur wajah naturalnya. Sebagai Laureline, Cara mampu pula menangkap sisi sensual tanpa kehilangan kekuatan khas tokoh wanita idola ala suguhan sci-fi klasik. Walau demikian, gelar penampil paling mencuri perhatian justru disandang dua nama yang hanya muncul singkat, Ethan Hawke dan Rihanna. Gaya koboi Texas banyak omong milik Hawke menghembuskan nuansa berbeda di tengah kesan monoton kebanyakan karakter (bertampang) manusia. Sementara Rihanna dengan kehebatan olah tubuh di sebuah adegan pole dance memikat nyatanya paling mencerminkan aura inti filmnya: unik, aneh, imajinatif, magical, out of this world.


Ulasan untuk film ini dapat dibaca juga di: http://tz.ucweb.com/8_dMLE

10 komentar :

Comment Page:
Ilham Ramadhan mengatakan...

akhirnya direview juga mas.
nonton ini agak sedikit mengantuk di tengah2 film. ntah karena ceritanya udah ketebak (oh y, saya udah bisa nebak kalau yg antagonisnya si itu), atau pameran utamanya kurang "menggigit" dll

untuk visualnya saya suka. cuma menurut saya sih kurang eksplorasi stasiun yg memiliki ribuan planet. cuma numpang lewat aja hhe

terima kasih atas reviewnya mas

Rasyidharry mengatakan...

Yah, emang potensi bikin ngantuk, atau minimal, di bagian tengah bakal agak capek.

Setengah durasi udah dipake jalan-jalan di sana kok, tapi cerita Valerian ini emang luas, satu film kurang buat eksplor.

Sama-sama :)

Ilham Ramadhan mengatakan...

iya, capek mungkin karna alur agak lamban ditengah, apalagi agak sunyi juga sih

hhe iya, bener mas. semoga dibikin sekuelnya. karna masih banyak yg bisa dieksplor disini, mulai dari latar belakang valerian, kenapa bisa berpartner dll

Rasyidharry mengatakan...

Naskah sih udah dibuat sampai yang ketiga, tapi sayang filmnya flop

Briyogi Shadiwa mengatakan...

setuju om.. deHaan pas bgt charmnya gloomy sperti di Two lovers and the Bear. atau memang raut wajahnya begitu ya?wkwkwkwk

Rasyidharry mengatakan...

Matanya penuh penderitaan haha

Ilham Ramadhan mengatakan...

film yg ini y mas?
sgt dsygkan sih klo begitu.

Rasyidharry mengatakan...

Di US flop karena kurang familiar sama komiknya. Tapi di Prancis laris. Asal di Cina sukses, ada kemungkinan sekuel

Aziz Zaelani mengatakan...

bang ane bingung ,, koq brani banget ya pihak studio ny.. ngbis2 in duit,, yng jngan kn untung , balik modal aja blm tntu..

Rasyidharry mengatakan...

Ini film indie kok, duit semua dari Besson dan fund raising. Dan walau susah balik modal, sekilas flop di Box Office, Besson dan studio nggak sepenuhnya kehilangan duit karena taktik financing yang pinter.
Detailnya bisa tengok di sini:
http://www.indiewire.com/2017/07/valerian-luc-besson-180-million-indie-cara-delevingne-dane-dehaan-europacorp-1201851376/