ONLY THE BRAVE (2017)

29 komentar
Pada era di mana banyak penjahat kemanusiaan menggenggam kekuasaan seperti sekarang, segala bentuk heroisme, tanpa peduli oleh siapa atau sekecil apa, patut diceritakan dan dirayakan. Only the Brave, yang menandai peralihan sutradara Joseph Kosinski dari gelaran fiksi ilmiah (Tron: Legacy, Oblivion) menuju paparan kepahlawanan lebih membumi termasuk salah satunya. Mengangkat kisah nyata tentang pemadam kebakaran hutan Granite Mountain Hotshots kala berjuang menaklukkan api di Yarnell pada 2013, film ini adalah penghormatan menggugah yang tak lupa memanusiakan objeknya.

Dipimpin oleh Eric Marsh (Josh Brolin), Granite Mountain Hotshots mengawali karir mereka dari trainee yang diremehkan, sampai akhirnya berkesempatan membuktikan kapasitas dan mendapat status elit (Hotshots). Turut bergabung belakangan adalah Brendan "Donut" McDonough (Miles Teller), mantan pecandu yang berniat memperbaiki diri pasca sang kekasih mengandung anaknya. Para pria pemberani ini memang tak sendiri. Keluarga, dari kekasih, istri, anak, orang tua, setia berdiri di samping memberi dukungan. Ini bukan saja soal memadamkan api, juga tentang orang-orang terkasih.
Itu sebabnya 133 menit durasi tidak cuma diisi aksi memadamkan api   yang terlihat meyakinkan berkat tata lokasi apik plus CGI tepat guna meski hanya punya bujet $38 juta   juga drama intim terkait keluarga, dengan penempatan fokus untuk Donut dan Eric, yang hidup berdua bersama istrinya, Amanda (Jennifer Connelly). Khususnya hubungan Eric-Amanda, naskah karya Ken Nolan (Black Hawk Down, Transformers: The Last Knight) dan Eric Warren Singer (American Hustle) cermat membangun konflik secara natural. Progres bergerak dari harmoni sepasang suami istri menuju perbedaan pandangan pemicu perdebatan yang disusun bertahap melalui rangkaian pembicaraan.

Akting memegang kunci keberhasilan interaksi. Melihat Brolin si pemimpin tangguh di lapangan bertukar dialog dengan Connelly yang menunjukkan kekuatan seorang wanita mandiri layaknya memasuki ruang personal yang mengikat. Demikian pula ketika dua aktor penuh kematangan, Brolin dan Jeff Bridges menghadirkan aliran perbincangan nikmat. Miles Teller dengan kelembutan non-verbal seperti saat memeluk sang buah hati ditambah luapan emosi yang menyesakkan dada di penghujung film berhasil mengimbangi seniornya. Begitu pula Taylor Kitsch sebagai MacKenzie beberapa kali memancing tawa, membuktikan ia punya jangkauan akting lebih luas.
Solidnya departemen akting dan naskah menutupi fakta bahwa Kosinski belum cukup jago menangani kehangatan situasi dalam drama, apalagi ketika terdapat selipan humor. Beberapa pengadeganan canggung hingga transisi kasar yang menyebabkan kurang lembutnya perpindahan tone. Untungnya, mencapai pertengahan lubang-lubang di atas tak lagi muncul. Narasi bergerak lancar menyatukan sensitivitas kisah kasih keluarga dan kepahlawanan sambil sesekali diselingi gelak tawa penyegar suasana. Kita dibuat mengenal betul para tokoh utama, yang mana jadi bekal menjelang klimaks.

Baik untuk penonton yang telah mengetahui konklusi kejadian nyatanya maupun yang belum, third act film ini sungguh mengobrak-abrik emosi. Selain kepedulian pada karakter, akhirnya penyutradaraan Kosinski menemukan taji, perlahan membangun ketegangan ketika misi pemadaman api di Yarnell yang awalnya dipandang mudah mulai mencuatkan satu demi satu rintangan bagi Granite Mountain Hotshots. Puncaknya yakni satu shot pasca kebakaran berlalu, yang berkat sinematografi Claudio Miranda (Life of Pi, Oblivion), mampu mencabik-cabik perasaan. Sebagaimana jasa Granite Mountain Hotshots yang selalu dikenang, shot tersebut takkan mudah hilang dari ingatan. Heartbreaking.

29 komentar :

Comment Page:
Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Sayang gak tayang di Bogor, padahal udah masuk watchlist (dadakan). Pas liat trailer-nya berasa banget usaha keras para pemadam kebakarannya.

Btw porsi atau durasi aksi heroik madamin apinya gimana bang ?

Lumayan bikin tegang pas liat film-film tentang para pekerja kayak gini dalam ngatasin masalah di pekerjaannya. Macem kayak The 33 sama Deepwater Horizon. Ada rekomendasi lain gak bang selain itu ?

Rasyidharry mengatakan...

Barusan cek ada kok di Metmall, cuma 2 jam penayangan tapi.

Secara kuantitas dikit buat film 130 menit, tapi klimaks-endingnya luar biasa.

Wah banyak, bisa cek halaman wiki ini, lengkap dibagi per sumber bencana https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_disaster_films

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Ehh iya ada deh bang. Soalnya saya kira tayangnya bakalan lebih awal gitu dibandingin Amerika. Biasanya kan film Hollywood tayang premiere hari Rabu di Indonesia.

Kalo Metmal kejauhan bang, mendingan nunggu reguler di Botani aja, soalnya di sana tayangnya midnight.

Ya bolehlah kalo endingnya memuaskan mah.

Wah, banyak juga ya. Makasih bang buat rekomendasinya,

Btw diem2 saya pembaca artikel abang lho di UC News, tapi gak bisa jadi pengikut karena gak pake UC. Mantep artikel-artikel di sana yang tentang rekomendasi film. Keep it up bang!

Rasyidharry mengatakan...

Beberapa emang Jumat, khususnya yang dadakan & eksklusif XXI. Haha thanks, tapi kalau di UC cuma buat cari duit, cuma list singkat, jangan harap pembahasan dalem

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Itu yang tayang reguler Jum'at sama tayang midnight malem minggu film yang kurang hype-nya di sini ya, Bang ?

Hahaha, kalem aja Bang pembahasan yang mendalam kan udah ada di sini. Di UC lumayan buat nambah-nambah khazanah perfilman saya.

Rasyidharry mengatakan...

Kalau Jumat itu pure pengaturan jadwal. Bisa karena Rabu udah banyak film atau film Rabu sepi penonton, atau alasan teknis. Midnight biasanya buat tes pasar. Beberapa yang rame kayak La La Land akhirnya tayang reguler, kalau sepi stay di gudang, baru tayang kalau nggak ada film baru atau malah total nggak tayang.

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Nah bener juga tuh Bang, apalagi sekarang film Indonesia juga masih ada 12 film yang now playing.

Apa kasus tes pasar juga berlaku buat Flatliners ? Dari premisnya sih menarik filmnya. Tapi menurut abang worth it gak ?

Oiya satu lagi Bang, Jigsaw jadi tayang di bioskop Indonesia gak ? Denger-denger Cinemaxx bakalan nayangin ya ?

Syamil Imtiyaz mengatakan...

Bang rasyid kapan review film duka sedalam cinta? Pengen tau reaksi mas rasyid kalo liat sekuel kmgp ini..

Anonim mengatakan...

Bang Rasyid,

Untuk menghindari polemik yg kontra produktif, lebih bijak bila kalian (dan para reviewer film lain) skip ke-review film "Duka sedalam Cinta".

Film bertema reliji-seburuk dan sengaco apapun- itu sakral dan imun dari kritik.

Daripada kita2 yg muslim ini dituduh anti Islam kan?

Gak rugi juga gak nonton film buruk yg akan lenyap seiring waktu dari sejarah perfilman

Rasyidharry mengatakan...

@Pramudya Flatliners aslinya tayang 27 September, mundur ke 1 November. Tapi sejak review yang remuk, promonya ilang. Jigsaw sih pasti 1 November.

@Syamil & Anonim Ya, itu juga pertimbangan kenapa sampai sekarang nggak nonton. Sejak polemik KMGP waktu itu capek juga ngeladenin orang-orang bodoh. :)

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Wah, 1 November ya Bang. Tapi pas tau review-nya kurang mah saya blacklist aja dari watchlist. Mendingan Jigsaw aja ya. Btw film-film Saw yang sebelumnya pernah tayang di Indonesia gak sih Bang ?

park byull mengatakan...

Ada adegan aneh-aneh nggak kak? Aku mau nonton bareng keluarga, tapi takut awkward gitu kalo ada adegan aneh-aneh😂

Rasyidharry mengatakan...

@Pramudya Nah lupa tuh, dulu belum tinggal di daerah yang ada bioskop jadi nggak update

@park Seks maksudnya? Nggak kok, beberapa kali mau have sex kamera langsung move. Aman :)

Budi Nurdin mengatakan...

Bang Rasyid punya rekomendasi buat film Bela Tarr??? Mo nonton Satantango tp 7 jam emh.... mungkin nonton The Turin Horse dulu... gmn menurut bang Rasyid???

Rasyidharry mengatakan...

Haha belum pernah nonton Tarr, lebih demen Tarkovsky. Lambat, panjang, tapi indah

Akbar Pradhana mengatakan...

Bang, "duka sedalam cinta" kapan direview? Gak sabar nunggu kata kata pedes kayak di "Ketika Mas Gagah Pergi" tahun lalu.

Rasyidharry mengatakan...

@Akbar Masih dilema. Kalau sampai Senin malam nggak ada, berarti ya nggak nonton :)

Anonim mengatakan...

"Tidak ada review" adalah bentuk review yang paling efektif menyuarakan pendapat seorang reviewer

Rasyidharry mengatakan...

Sebenernya relatif, dan khusus untuk DSC, ada pengaruh "harus berhemat" hehe

h3nQ mengatakan...

flatliners yg ini film remake ya? yg film jadul, jaman" smp sih top markotop..cast nya si julia roberts ,kiefer shuterland, kevin bacon

free mengatakan...

Hahaha kalo dah bawa agama, orang kok jadi goblok. Yg diulas filmnya, malah dibilang anti-agama. Mending gak usah nonton biar kapok.

Akbar Pradhana mengatakan...

Entahlah.... saking dianggap sakralnya film religi Islam sampe orang yang ngasih rate jelek bakal langsung dibully dan dicap tunduk kepada kaum kapitalis kafir. Karena yang penting buat mereka, film Religi sudah seharusnya jadi film idola di Indonesia. Bukan film komedi, drama non-religi, cinta cintaan SMA, dan juga film barat karena gak mencerminkan unsur Islaminya.

Sebaiknya sampaikan ke fanpage "Duka Sedalam Cinta" dan seluruh jaringan bioskop agar mau menyerahkan seluruh layarnya kepada Duka Sedalam Cinta selama 4 bulan tanpa diganggu film lain sebagai sindiran terselubung.

Rasyidharry mengatakan...

@h3nQ betul, remake yang meragukan bakal sebagus aslinya :)

@free Nah itu, seolah haram bilang film religi jelek, padahal mayoritas memang gitu

@Akbar Sudah mengalami sendiri jaman KMGP, dapat komen & e-mail macam-macam ya ketawa saja haha

Anonim mengatakan...

Karena KMGP1 gada yg nonton, KMGP2 (yg udah terlanjur diproduksi) ganti judul ya?

2 Minggu lagi juga orang sudah lupa bahwa film DSC itu pernah ada...

hilpans mengatakan...

Bung fix nih gk jd review film duka sedalam cinta yah...trus bung gk trtarik review film yh digarap sineas makasar ato skitarny di.wil indo timur yg masuk jejaring bioskop nasional...kek dlu bung pernah review uang panai..bukanny lg boming sineas makasar..ato jaringan bioskop masi tbataskah utk film lokal2 tsb

Rasyidharry mengatakan...

Bukan nggak tertarik sih, kalau ada yang menjanjikan pasti ditonton. Masalahnya, nggak semua "film daerah" dapat layar sebanyak Uang Panai. Entah belum sempet nonton udah ilang atau bahkan sama sekali nggak tayang di sini

Anonim mengatakan...

Jennifer conelly dan milles teller layak masuk nominasi best supp actor and best supp actress rasanya

Anonim mengatakan...

Ntar ada film Molulo tuh, Mas. Hihi. Yang ada Muhadkly Acho ama Andi Arsyil.

Kasamago mengatakan...

Kisah kepahlawanan di kenang karena ada Pengorbanan..
Masuk list nonton saya nih