GASING TENGKORAK (2017)

21 komentar
Lupakan Pengabdi Setan yang sebentar lagi akan menggeser Jangkrik Boss! Part 2 dari puncak daftar film lokal terlaris 2017. Gasing Tengkorak, selaku film ketiga Jose Purnomo tahun ini setelah Jailangkung dan Ruqyah: The Exorcism, adalah horor yang amat mewakili pengalaman hidup banyak penontonnya. Kenapa? Karena Jose bersama Baskoro Adi Wuryanto yang belakangan setia menulis naskah untuk filmnya, sukses memposisikan cerita teror makhluk halus sebagai simbol bagi teror lain yang tak kalah mengerikan: penulisan skripsi! Mari kita bedah detailnya.

Ketika mengerjakan skripsi tentu kita pernah merasa sudah menuliskan seluruh poin penting, tapi hasilnya masih terlalu pendek dan tipis. Alhasil kita memilih mengulang-ulang pokok bahasan, menambahkan hal-hal kurang penting, atau memanjangkan kalimat hingga berputar-putar. Demikianlah Gasing Tengkorak. Hanya berdurasi 80 menit dengan inti masalah mungkin dapat diselesaikan sekitar 15 menit. Menceritakan tentang Vero (Nikita Willy), seorang diva yang ingin mengasingkan diri di sebuah villa terpencil pasca pingsan mendadak kala konser. Suatu malam, ada sosok wanita yang disalahartikan kedatangannya. Maksud hati ingin mengajak idolanya main gasing, ia dikira mengirim santet. Malang nian.
Tapi konflik itu baru tampil setelah lewat 30 menit. Sebelumnya, kita dijejali penayangan eksklusif nan terselubung bagi extended trailer untuk Keeping Up with Nikita Willy plus promo villa. Menyaingi iklan apartemen Pantai Indah Kapuk yang dibawakan Feni Rose, filmnya menunjukkan interior mewah serta eksterior dengan ragam fasilitas milik villa tersebut, seperti kolam renang, balkon maha luas, hingga lapangan basket. Sementara Nikita sibuk bergaya di depan cermin bak Krisyanto menyanyikan lagu Putri, merekam vlog, mencoba wig sembari berlenggak-lenggok, bermain PlayStation VR, dan adu kecepatan melawan si wanita gasing. Parahnya, walau menaiki sepeda, ia dikalahkan oleh si wanita yang berlari. You need to workout more, dear.

Melanjutkan kaitan dengan skripsi, layaknya mahasiswa yang asal garap berujung kurang memahami hasil tulisannya, film ini menyalahi rule yang dibuat sendiri. Sempat disebutkan (termasuk dalam mantra), begitu gasing berhenti berputar, hidup korban pun turut terhenti. Fakta di lapangan justru sebaliknya. Saat gasing berhenti, teror yang berhenti, bukan nafas Vero sebagaimana kemauan penonton...maaf, maksud saya si wanita gasing. Bahkan, beberapa gangguan terjadi tanpa ada putaran gasing. Lalu teror macam apa yang menyerang ketika gasing tengkorak dimainkan? Rupanya hantu anak kecil berwajah tengkorak yang bergerak lebih lambat dibandingkan proses PDKT laki-laki paling pemalu sekalipun. 
Tanpa diduga, tanpa dinyana, pelanggaran rule di atas terjawab oleh suatu twist, yang lagi-lagi merupakan simbolisme tepat sasaran terhadap mahasiswa yang menggarap skripsi seenaknya tanpa belajar secara mendalam. Gasing Tengkorak menawarkan kejutan bermuatan psikologis yang selain salah kaprah menyikapi sebuah disorder, juga hadir mendadak tanpa memperhatikan logika alur. Ibarat skripsi dengan tujuan penelitian A, lalu menghasilkan kesimpulan V. Atau latar belakang B, tapi yang diteliti S. Terdapat pula adegan menggelikan berupa pelaksanaan Tes Rorschach yang lebih terlihat seperti kuis tebak gambar. 

Nilai positif layak diberikan pada beberapa set-up menjelang jump scare yang cukup efektif membangun kecemasan, sebelum akhirnya eksekusi teror berbasis hentakan efek suara dan musik berisik merusaknya. Ah, maaf. Saya melantur. Tidak ada yang rusak dalam film ini. Sebaliknya, Gasing Tengkorak sanggup menjadi jendela realita yang teramat relevan, mengajak penonton melongok lebih jauh soal problematika pengerjaan tugas akhir mahasiswa Indonesia. Sementara Nikita Willy yang seolah ingin membuktikan pendewasaannya, tampil dengan performa yang tidak masuk kategori buruk.

21 komentar :

Comment Page:
Ungki Haeri mengatakan...

kalo mas Rasyid udah mereview film jenis beginian, keluarlah sisi lainnya hehe, malah berasa kaya roosting di stand up comedy hehe. Oh ya pendapat mas Rasyid mengenai Keluarga Tak Kasat Mata sama Mata Batin gimana? Klo After School Horror 2 jelas bakalan di skip...he

Rasyidharry mengatakan...

Padahal udah mau stop nulis model begini, masih ada aja film ngaco yang ketonton. After School jelas skip kecuali penyembah Baginda Nayato. Mata Batin looks promising, belakangan Hitmaker lagi oke. Keluarga Tak Kasat Mata kok kelihatan kancut ya haha

Ungki Haeri mengatakan...

Iya saya juga demikian hehe, tapi ntar deh nunggu hasilnya gimana. Hitmaker sekarang berani ya tampil brutal sejak The Doll 2, tapi itu dialog dari naskahnya terasa sangat dangkal. Nunggu review film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak kayaknya menjanjikan, apalagi katanya menurut badan sensor tak ada satu pun yang di sensor. Oh ya mas Rasyid, Jigsaw bakalan di review?

nouvaleka mengatakan...

Ngakak baca reviewnya. Untungggg bgtttt ga jadi ntn inih pelm. Padahal sempet pengen sih ��

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Merusak track record Nikita di film horor pertamanya.

Ruqyah, Devil's Whisper, dan Gasing Tengkorak perasaan flop semua ya, Bang ? Apa MD terlalu jemawa di awal karena Danur-nya, jadinya MD ingin mencoba mengulang kesuksesan (dari segi finansial) Danur dengan genre horornya ?

Raid Mahdi mengatakan...

tidak masuk kategori buruk? retarded berarti?

Rasyidharry mengatakan...

@Ungki Oh naskahnya ngawur, itu twist ala sinetron masih dipakai di The Doll 2. Tapi gore-nya asyik. Marlina kebetulan Selasa besok nonton jadi review-nya lebih cepet. Jigsaw jelas. Penggemar franchise-nya :)

@Pramudya Ruqyah lumayan kok, sekitar 200 ribu. Devil's Whisper 75 ribu, tapi nggak tahu penjualan DVD di Amrik gimana.

@Raid Haha nggak kok, just not terrible

Ungki Haeri mengatakan...

Ditunggu ya Mas Rasyid review-nya, selalu suka baca review mas Rasyid terutama tata pengolahan bahasanya two thumbs up, mudah di mengerti namun tak melupakan kaidah penulisan. Oh ya Mas kalo bisa sering review film Bollywood ya, film bollywood sekarang lagi menggeliat, tak hanya terkenal akan tariannya, banyak yang bagus, sekarang di bioskop lagi main film Ittefaq (Kebetulan) yang main aktor sama aktris bollywood masa kini Sonakhsi Sinha sama Siddhart Malhotra, genrenya thriller suspense, maksa banget comentnya, hehe.

Rasyidharry mengatakan...

Glad to hear that, means a lot. Makasih ya. Soal film Bollywood jelas mau banget, sayangnya jarang tayang di bioskop Jogja. Soalnya sering sepi. Setahun rata-rata maksimal 10 film.

Ungki Haeri mengatakan...

Sipp, gak paps mas yang tayang aja hehe, Mas Rasyid minat nonton film bollywood yang kontroversial gak? Judulnya Lipstick Under My Burkha (Lipstick Di Bawah Kerudungku/Cadarku) itu film bollywood yang bisa di bilang berani dimana digambarkan sosok wanita bercadar justru kelakuannya liar, terus ada juga sosok Bhuaji (diperankan Ratna Pathak) seorang nenek yang hadrat sexnya tinggi bahkan dia melakukan anal sex dengan seorang pria terus di rekam, pokoknya filmnya membawa kita pada perspektif karakternya, kental dengsn nuansa feminisme, serta kaitannya dengan namanya kebebasan di tengah tuntutan adat serta kebudayaan. Recomended filmnya, pengen tahu kalo mas Rasyid review film ini. hehe

Ariyadi Firmansyah mengatakan...

Kok lama2 jose purnomo kayak baginda nayato dan kk dheraj ya, semenjak Film Jailangkung gak ada film horrornya yang bagus, sepertinya jose purnomo sudah kehilangan arah sekarang dalam ngebuat film horror

Anonim mengatakan...

Dari awal udah ragu sama film ini, dari segi penulis naskah, durasi singkat sama sound berisik di trailer. Jadi Nikita Willy the only good aspect dari film ini?

Rasyidharry mengatakan...

@Ungki Oh that controversial dark comedy haha, tertarik nonton cuma belum sempet aja.

@Ariyadi Duh daridulu udah kurang suka sama hororna Jose, cuma makin ke sini makin helek memang

@Anonim Nggak bisa dibilang bagus sih, at least dia nggak bikin kondisi tambah buruk. Pembangunan menuju beberapa jump scare lumayan, tapi begitu "gong", remuk.

Banumustafa24 mengatakan...

hahaha, ngakak! malah promo villa. Pas saya buka juga udah kelihatan tuh ada tulisan "Jelek" di tag, hehehe. Padahal Nikita udah nyebar2 loh this is my first horror movie

yazuli al amin mengatakan...

The next nikita mirzani.semua lagi kesetanan buat film setan jgan sampai kk derhaj dan ciska dopert bangkit lagi

Rasyidharry mengatakan...

@yazuli Banyak film setan nggak apa, asal bener. Chiska tahun ini ada film kok, '12:06 Rumah Kucing', tapi flop. Kalau KKD lebih tertarik komedi sekarang.

yazuli al amin mengatakan...

Emang ada film ciska yg ngak flop ya bang. ???

Rasyidharry mengatakan...

Dulu sih. Poconggg Juga Pocong & Ada Apa Dengan Pocong? masuk 15 film terlaris 2011

yazuli al amin mengatakan...

Ohh saya belom lahir 2011,

Kasamago mengatakan...

Sebenarnya dilihat dr poster nya pun.. rasanya sudah bisa menilai secara bruto bagaimana kualitas filmny

Imam Raharja mengatakan...

Salam kenl om rasyd, ane udah lama silent nih... Baca reviewnya aja udah lucu apa lg filmnya hehe jd penasran nih sama filmnya... Kadang2 perlu juga nonton film ngaco kek gini... Biar gak gampang ngantuk hehe