KELUARGA TAK KASAT MATA (2017)

19 komentar
Keluarga Tak Kasat Mata adalah film jelek. Sangat jelek. Dan sesuai tradisi, film berkualitas jauh di bawah rata-rata akan mendapat review spesial. Tapi 2 hari berselang, saya buntu. Ketika ulasan Coco dan Murder on the Orient Express yang ditonton belakangan sudah dipublikasikan, ide belum juga mengalir bagi Keluarga Tak Kasat Mata. Saking bingungnya, sempat terpikir menerbitkan satu halaman nyaris kosong bertuliskan "Ini adalah review tak kasat mata", namun urung saya lakukan. Karena itu sama saja dengan pembuat filmnya, yang kehabisan akal lalu memilih jalur luar biasa malas sekaligus bodoh.

Setahun lalu, ketika horor tanah air cenderung jalan di tempat, kelemahan akut Keluarga Tak Kasat Mata mungkin bisa sedikit (catat: SEDIKIT) dimaafkan. Paling tidak ini bukan tontonan antah berantah macam Dia Pasti Datang atau Video Maut yang memperlihatkan keburukan tidak mempunyai batas. Terima kasih Joko Anwar, Pengabdi Setan memasang standar baru. Kini, production value lumayan (catat: LUMAYAN) saja tak cukup memberi rasa maklum. Apalagi dalam film seperti Keluarga Tak Kasat Mata yang layaknya "kaum sumbu pendek" Indonesia, mudah curiga dan insecure. Pulpen jatuh musik berdentum, sebaris dialog selesai musik berdentum, hantu muncul sekelebat pun musik berdentum. 
Apa yang terjadi saat para makhluk halus sungguh-sungguh menampakkan wujud? Menurut sutradara Hedy Suryawan (Rock N Love), jawabannya adalah close-up ekstrim, dan tentu saja musik berdentum. Bagai Benedict Cumberbatch yang doyan mengganggu sesi foto karpet merah, hantu film ini suka melakukan photo bomb, tiba-tiba muncul memenuhi seisi layar bioskop, yang daripada menakutkan justru memancing tawa. Lucu, jauh lebih lucu ketimbang karakter Bebek (Kemal Palevi) yang memanfaatkan tiap kemunculan untuk merengek, bertingkah menyebalkan, berusaha tampil konyol meski sama sekali tidak lucu.

Soal membangun intensitas filmnya juga punya metode murahan. Ketegangan berbasis kekacauan situasi disamakan dengan editing lompat-lompat, kala secara ajaib, tokohnya bisa mendadak berpindah tempat. Entah di antaranya ada transisi tak kasat mata atau pembuat filmnya menganggap Genta (Deva Mahenra) dan kawan-kawan sebagai David Copperfield yang tengah melakukan sulap pindah tempat dalam sekejap dibantu trik kamera. Deva sendiri kesulitan menangani peran protagonis horor yang dituntut senantiasa takut dan curiga, akibat kosongnya pengekspresian rasa. 
Cerita Keluarga Tak Kasat Mata buatan Bonaventura D Genta yang populer di Kaskus pada dasarnya merupakan rangkaian pengalaman melihat hantu atau mendengar suara aneh, yang mengerikan karena membiarkan imajinasi serta asumsi pembaca berkeliaran. Mengangkatnya mentah-mentah ke layar lebar, seperti tangisan wanita yang rutin terdengar tiap beberapa menit, menghasilkan ketiadaan eksistensi alur pun daya cekam. Walau tidak sampai satu setengah jam, karena sekedar diisi penampakan satu ke berikutnya, Keluarga Tak Kasat Mata seolah berjalan sehari penuh. Bisa dipahami jika anda merasa sedang terjebak di kutukan lingkaran waktu tanpa ujung serupa Jessica Rothe di Happy Death Day.

Ada usaha merajut alur, namun naskah buatan trio Lele Laila, Evelyn Afnila, dan Bonaventura D Genta mengandung setumpuk poin yang pantas dipertanyakan, dari esensi tulisan penanda waktu serta lokasi yang hanya tampak di awal, hingga resolusi seputar para keluarga tak kasat mata di kantor Genta. Penonton bukan Genta dan Rudi (Gandindra Bimo) yang mampu memahami masalah makhluk halus hanya lewat pertanda ambigu dalam mimpi. Penonton butuh elaborasi. Tak perlu gamblang, cukup pemaparan berbentuk struktur cerita rapi alih-alih plot tak kasat mata dalam film berkualitas tak kasat mata pula. 

19 komentar :

Comment Page:
Alini Pramestias mengatakan...

Kenapa bawa nama Benedict cumberbatch bang? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ aku blum nonton sih lebih tertarik nonton coco atau valentine

Rasyidharry mengatakan...

Hantunya kayak Ben, doyan photobomb, tiba-tiba muncul pasang muka aneh haha. Oh jelas, dahulukan 2 film bagus itu.

Ungki Haeri mengatakan...

lebih mengerikan ini ternyata dari pada Gasing Tengkorak hehe, baca reviewnya sendiri ketawa-ketiwi hehe, oke fix klo begitu ntar malem gak jadi buat nonton film ini. Mendingan nonton Coco aja yang sukses membuat orang-orang terisak keluar bioskop. Terima kasih Mas telah menyelamatkan uang saya untuk nonton film ini. Hehe

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

akhirnya rilis review spesial untuk film spesial

Rasyidharry mengatakan...

@Ungki Yes, Coco aja, atau Valentine kalau mau film Indonesia. Haha welcome

@Teguh Setelah berjuang beberapa lama haha

yazuli al amin mengatakan...

Padahal jajaran castnya menjanjikan..

Raid Mahdi mengatakan...

ane kira Coco itu review spesial wkwkwk

Anonim mengatakan...

Yoi, HANCUR parah. Untung gua di traktir teman.
Kenapa tdk sekalian kosong kan aja bintang nya. Nih film tdk layak dapat bintang walaupun cuma setengah.

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Sempet excited pas premiere langsung nonton marathon, Keluarga Tak Kasat Mata sama Valentine. Penasaran karena booming thread KTKM di Kaskus,dan sengaja belum baca yang di Kaskusnya. Dan ya 1 tiket KTKM melayang yang harusnya buat film lain, hahaha.

Rasyidharry mengatakan...

@Raid Kalau Coco itu film spesial :)

@Anonim Banyak nonton yang lebih jelek. Rating 0 itu kalau film kayak belum kelar atau ofensif (rasis, seksis, etc.)

@Pramudya Turut berduka haha

Alvan Muqorrobin Assegaf mengatakan...

Bener kan kata saya mas, ini adalah film horror yang bener2 " Disaster " dan Lebih buruk malah daripada Koya pagayo yg setidakx msih menghibur meski filmx gak ada yg bagus. Saya rasa sutradaranya masih blum punya ilmu tentang directing horror deh. Yasudahlah filmnya luar biasa malas.

Rasyidharry mengatakan...

Nayato/Koya mah banyak yang selevel gini. Lebih jelek juga ada. Dia tidak terkalahkan haha

Anonim mengatakan...

3 reviews on the row. Keren sangaaat !

Rasyidharry mengatakan...

Dan masih ada Blade of Immortal haha

Rama.rachmad mengatakan...

Film gk jelas alurnya lompat lompat, maksud yg disampaikan juga gk jelas.
Haduhhh... Mending baca novelnya deh.

Anonim mengatakan...

Mas rasyid pernah ngasih bintang 0 ke film apa aja?��

Rasyidharry mengatakan...

Baru 3. Dia Pasti Datang, Pacarku Anak Koruptor, Komedi Gokil 2

seranara mengatakan...

Aku kemarin, excited mau nonton film ini. soalnya pas baca di kaskus lumayanlah ceritanya, dan bener-bener kecewa di pertengahan film kek ngomong ke diri sendiri. manaaa niiih manaaa? rasanya pengen bilang kembalikan 77menitku yang berharga .. overall kecewa..

andris rekianto mengatakan...

Kecewa banget nonton ini film..
Harusnya aq mampir kesini dulu sebelum berangkat nonton ya