PITCH PERFECT 3 (2017)

12 komentar
Pitch Perfect 3 ibarat kembalinya sebuah band yang pernah berjaya, namun secara setengah hati, diisi album baru tanpa materi memadahi, pula tur ala kadarnya yang semata bersifat obligasi. It's all about money with no energy and creaticity. Ironisnya, hal yang mirip dialami The Barden Bellas. Selepas gagal menyesuaikan diri dalam realita selepas universitas, mereka bereuni, mencoba lagi peruntungan di panggung hanya untuk mendapati kejayaan masa lalu sulit diulangi. Inilah saat realita (secara kebetulan) mengimitasi karya, sayangnya dalam konteks negatif.

Jajaran cast sama, skenario pun masih dikerjakan oleh Kay Cannon dan Mike White, tapi bangku sutradara kini ditempati Trish Sie. Harapannya, pengalaman menggarap Step Up: All In (2014) menghasilkan sekuen musikal sedap. Namun pesona Bellas lenyap ketika Sie membungkus performa mereka bagai siaran ajang pencarian bakat menyanyi di televisi. Pun kelompok pesaing, Evermoist, band yang terdiri atas empat wanita, ikut melempem. Bergaya serupa rockstar, mereka membawakan pop-rock generik dengan aksi panggung medioker. 
Sepertinya daya kreasi Pitch Perfect yang lima tahun lalu menjadikan gelas plastik alat musik keren menguap bersama kesuksesan The Bellas. Beca (Anna Kendrick) adalah produser bagi lagu busuk milik rapper keras kepala, Fat Amy (Rebel Wilson) menganggur sambil sesekali memparodikan Amy Winehouse di tengah kota, sementara anggota lain tidak lebih beruntung. Berniat meraih kejayaan lagi, The Bellas nekat ambil bagian pada tur dunia guna mengibur militer Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh United Service Organization (USO). 

Realisasi terhadap realita merupakan tema utama, yang mana lebih dewasa dibanding kedua pendahulunya. Bagaimana proses The Bellas mencapai titik tersebut? Itu yang semestinya dijawab alih-alih sibuk mengotak-atik unsur sampingan tak perlu. Momen pembukanya mencuatkan pertanyaan: Apa esensi ledakan ala suguhan laga dalam film seputar grup akapela? Pasca konteksnya dipaparkan pun, fungsinya  selain menghabiskan bujet nyaris tiga kali lipat film pertama  tetap jadi pertanyaan. Dan pertemuan Fat Amy dengan ayahnya (John Lithgow) hanya ada untuk membuka jalan menyelipkan adegan bombastis di atas. 
Sebagai film musik dengan konflik kompetisi musik, mestinya intensitas muncul karena kompetisi tersebut, perseteruan antar peserta, perjuangan tokoh utama mencapai tujuan (entah soal mengejar kemenangan atau penerimaan diri), tidak perlu tetek bengek penculikan berbumbu ledakan. That's cheap. Anna Kendrick dan Hailee Steinfeld sebagai Emily masih mempesona di atas panggung, tapi story arc Beca dangkal dan membosankan, sedangkan Emily lebih parah, sebatas penggembira. Fat Amy selaku "sumber derita" mampu memancing tawa, demikian juga absurditas Lilly (Hana Mae Lee), namun Pitch Perfect 3, dengan sekelompok protagonis wanita berbeda kepribadian dan latar seharusnya lebih berwarna. Sayang, naskahnya kelabakan membagi fokus. 

Pertanyaan terpenting: Apakah Pitch Perfect 3 menyenangkan? Komedinya cukup efektif mengocok perut. Mayoritas nomor musikalnya kurang berkesan, walau tatkala The Bellas membawakan Toxic, sulit rasanya menahan tubuh ikut bergoyang biarpun sedikit. Ya, dalam film di mana para protagonis disindir sebagai grup karaoke karena cuma menyanyikan karya orang lain, cover bagi lagu rilisan awal 2000-an justru jadi yang paling memorable. Pitch Perfect 3 memang reuni setengah hati. The Bellas need another new cups if they want to comeback (again). 

12 komentar :

Comment Page:
Anna B mengatakan...

Oh ya mas, film Lady Bird ama Three Billboards kemungkinan bakal tayang di bioskop Indo ga? Saya pengen bgt nonton soalnya.

Anna B mengatakan...

Oh iya, kapan dah Film Lady Bird ama Three Billboards Outside Ebbing, Missouri rilis di Indo? Bakal di rilis di bioskop Indo ga si mas? Soalnya bener" pengen nonton nih

Panca Sona mengatakan...

Saya mengikuti bellas ini dari pertama, dan sudah ketebak yg ke 3 bakal garing dan tidak sebagus 2 penaduhulunya. Analisa asal saya aja sih, film genre musikal/teen comedy seperti step up n american pie cenderung memuaskan di awal kesananya hanya berharap pundi2 aja dari fans2 padahal cerita cenderung monoton dan penggarapan tidak serius.
Cukup tunggu link nya aja :D

Rasyidharry mengatakan...

@Anna Kecuali menang Oscar ya nyaris mustahil masuk sini

@Panca Mayoritas franchise begitu kok, sampai yang ketiga, umumnya kehabisan ide. Kalau Step Up mending, di film ketiga kasih inovasi visual

SALEMBAY mengatakan...

Kelihatan kehabisan ide emang setting yang berbeda turut memberi pengaruh juga serta penulis yang gak mau jauh menggambil resiko demi keuntungan semata, seharurnya kalo mau gahar genrenya ganti jadi music trillers psikologi..

Rasyidharry mengatakan...

Nah, kalau sampai opsinya banting setir pindah genre, artinya kehabisan ide dan kudu stop. So far cuma frachise Fast & Furious yang bisa, itu pun nggak jauh dari akarnya

Chan Hadinata mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Rasyidharry mengatakan...

@Chan Sori komentarnya kehapus. Jarinya kegedean buat hape haha
Aktris paling berpeluang Robbie (I,Tonya), McDormand (Three Billboards),Ronan (Lady Bird). Kalo aktor Oldman (Darkest Hour), Day-Lewis (Phantom Thread), Franco (Disaster Artist).

Chan Hadinata mengatakan...

Set dah.. belum ada yg tayang.. bru i,tonya aja yg bisa via donlot hehe

Akbar Pradhana mengatakan...

Bang, Surat Cinta Untuk Starla sama Si Juki juga direview kah?

Billy Simamora mengatakan...

Ditunggu bang list film terbaik 2017 yaa

Btw rencana bikin list film 2018 yang anticipated gak bang?

Rasyidharry mengatakan...

@Akbar Starla udah nonton, Juki yang belom. Belom sempet nyentuh laptop buat nulis

@Billy lokal dulu yes, yang overall Januari deh. Kalau bisa milah, bikin list anticipated :)