SATU HARI NANTI (2017)

11 komentar
Mengusung rating 21+, Satu Hari Nanti memang film dewasa. Bukan karena bertebaran sensualitas yang sesungguhnya sebatas beberapa ciuman "panas" dan lingerie Adinia Wirasti, melainkan tema beserta perspektif soal hubungan. Ditulis sekaligus disutradarai oleh Salman Aristo (Bukaan 8, Mencari Hilal), sudut pandang film yang mengetengahkan kisah saling tukar pasangan ini memang cenderung menyasar kalangan dewasa, di mana romantika bukan cuma aktivitas "manis-manis manja", istilah "best friend forever" tidak eksis, sedangkan setting luar negeri bukan dipakai sebagai lahan jalan-jalan ria. 

Bertempat di Swiss memfasilitasi (atau tepatnya memudahkan) empat tokoh utamanya menjalin asmara, tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan. Bima (Deva Mahenra) yang bergulat meniti karir musik mendapati hubungannya dengan Alya (Adinia Wirasti) yang tengah menempuh pendidikan chocolatier semakin hambar, sementara Chorina (Ayushita Nugraha) si manajer hotel harus sabar menyikapi kegemaran kekasihnya yang berprofesi sebagai tour guide, Din (Ringgo Agus Rahman), bermain wanita. Kedua pasangan ini saling mendukung, menyediakan tempat bersandar kala masing-masing diterpa permasalahan. Sampai semua berjalan terlalu jauh, dan persahabatan berkembang menjadi hasrat menggebu. 
Satu kelebihan yang kerap Salman Aristo munculkan lewat skenario buatannya yakni karakter solid. Dalam Satu Hari Nanti, mudah mendeteksi apa yang tiap tokoh rasakan, inginkan, atau keluhkan dari pasangannya. Serupa pendekatan filmnya, keempat protagonis bukan lagi muda-mudi naif yang selalu kagum bak turis di negeri orang. Akhirnya, biarpun kamera Faozan Rizal sanggup menyibak indahnya alam setempat, dan Aghi Narottama bersama Bemby Gusti membuat musik bernuansa Eropa, Satu Hari Nanti tidak tampil "kampungan" kala enggan meluangkan terlampau banyak waktu berwisata. 

Dewasa dan elegan. Dua kata itu menyusun gerak langkah filmnya, setidaknya itu yang ingin dituju Salman Aristo saat menekan letupan emosi sambil membangun interaksi melalui barisan pembicaraan yang dipakai karakternya untuk menuangkan kegelisahan ketimbang bertukar bahasa puitis. Pun daripada momentum bergelora, Salman memilih memberi panggung bagi jajaran pemain sebagai pembentuk rasa, khususnya Adinia Wirasti yang kembali piawai memberi bobot untuk adegan sesederhana apapun. Tidak semua keputusan Alya simpatik, tapi Adinia bisa mengajak penonton bertahan di sisinya.
Sayang, penyutradaraan Salman Aristo tak memiliki sensitivitas sekuat sang aktris. Keinginan memasang wajah dewasa nan elegan membuatnya lalai menghembuskan rasa. Tidak dibarengi pembentukan dinamika mumpuni ditambah dialog tanpa pokok pembicaraan yang mampu menyulut kemauan penonton menyelami detail setiap kata, Satu Hari Nanti tersaji sedingin Swiss. Padahal bila diamati, tersimpan setumpuk gagasan menarik mengenai cinta, mimpi, hingga gejolak batin manusiawi, yang gagal tertuang maksimal layaknya seseorang penuh ide yang bingung cara menumpahkannya. Penonton dapat menangkap setumpuk gagasan itu, tapi sulit merasa terikat, yang artinya, Satu Hari Nanti hanya bekerja di ranah kognitif, bukan afektif. 

Kekurangan tersebut berakibat fatal tatkala konklusi yang bermakna dan berpotensi mengguncang emosi secara subtil akhirnya kurang berdampak. Mengangkat tagline "Cinta itu Perjalanan", Satu Hari Nanti justru melangkah lemah di paruh tengah, membuat destinasi yang sebenarnya spesial berujung hambar. Padahal resolusi yang dipilih untuk menutup persoalan kedua (atau keempat) hubungan sudah selaras dengan kedewasaan berbasis realita yang dituju. Apalagi ketika Chorina tidak lagi membutuhkan bantuan untuk memotong cokelat kepunyaannya. Tersirat namun kuat. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

11 komentar :

Comment Page:
Redo Anggara mengatakan...

Tapi tetap wajib nonton ni secara pemainya udah kelas atas semua ...
Kamis ininkn tayang secara luas nya ?

Rasyidharry mengatakan...

Yap, tayang reguler mulai Kamis, bareng Chrisye

mukekho mengatakan...

Kalau 3 pemain lain gimn menurut mas rasyid?

Rasyidharry mengatakan...

Ringo lumayan enak multibahasanya. Ayushita lumayan kuat. Deva standard

Redo Anggara mengatakan...

Baru kelar nonton min..setuju sekali dgn review kmu min...saya ngerasa film nya terasa kurang kena ke emosi penonton ya..semua perbuatan karakternya urung membuat penonton terasa terikat,apa karena ceritanya terlalu banyak memakai analogi ya jadi radah bingung.dan soal endingnya sama sekali tak merasa tersentuh ya..

Rasyidharry mengatakan...

Sayang, kalau pertengahannya kuat, ending itu bisa bener-bener emosional

Redo Anggara mengatakan...

Iya padahal akting pemain udh bagus,naskah nya juga peluang buat penonton terikat tapi kenapa ya penonton tak bisa masuk lebih dalam kedalam cerita dan karakter nya ya?

Rasyidharry mengatakan...

Sederhananya, karena di naskah & pengadeganan nggak pakai perasaan. Sepenuhnya otak. Penuh analogi ke A,B,C, yang cuma menggiring penonton buat "mengerti" tapi nggak "merasakan"

Alini Pramestias mengatakan...

Pas pertama nonton trailernya ngerasa agak mirip film India yang judulnya Khabi al vida Naa kehna... Posternya juga agak mirip. Atau ini cuma feeling aku aja ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Redo Anggara mengatakan...

Mungkin juga karena tdk ingin ceritanya terlalu dramatis makah nya rasa nya ditahan padahal kalau sedikit di dramatis rasa yg di dapat akan lebih kena lagi.

Rasyidharry mengatakan...

@Alini sama-sama angkat kisah cinta dari sudut pandang dewasa ya. Kalau poster standar sih, desain begitu buat film yang membagi rata peran tokoh-tokohnya.

@Redo Ya seperti udah ditulis di review, ada usaha bangun suasana dewasa & elegan. Nggak mau manis-manis, nggak mau terlalu dramatis. Sebenernya pilihan tepat, karena ini mature, tapi bukan berarti hampir nggak ada rasa begini