SUSAH SINYAL (2017)

16 komentar
Apakah Ernest Prakasa kelelahan? Atau ia belum menemukan formula mengolah kisah di luar sentilan kultur Cina yang kali ini hanya muncul sekelebat sebagai balutan humor sesaat? Masih menggunakan perpaduan drama keluarga dan komedi "acak" serupa Ngenest dan Cek Toko Sebelah, kedua unsur tersebut sesekali tersampaikan, namun tak jarang luput dari sasaran, kurang mulus pula dikawinkan. Koneksi dengan penonton timbul tenggelam, kadang lancar, kadang terganggu. Sepertinya film ini tengah mengalami susah sinyal. 

Seperti kebanyakan drama serupa, hubungan berjarak antara orang tua dan anak film ini disebabkan urusan pekerjaan. Ellen (Adinia Wirasti), pengacara sukses sekaligus ibu tunggal, jarang meluangkan waktu bersama puterinya, Kiara (Aurora Ribero), yang lebih terikat dengan kehidupan media sosial dan sang nenek, Agatha (Niniek L Karim). Di suatu malam, sepulang kerja, Ellen berusaha terlibat pembicaraan tentang film favorit Kiara, Moana, tapi justru menyebut Lilo & Stitch. Nenekmu lebih tahu film yang kamu cintai daripada ibumu, yang notabene jarang memberi perhatian. Tentu menyakitkan. 
Alhasil, wajar Kiara amat terpukul saat nenek meninggal. Mengetahui itu, Ellen mengabulkan keinginan Kiara berlibur ke Sumba, sembari berharap menemukan sinyal yang terputus di antara mereka. Tapi liburan ke tempat di mana Asri Welas, Arie Kriting, Abdur Arsyad, Ge Pamungkas, sampai Chew Kin Wah yang menikahi Selfi KDI berkumpul, jelas takkan berlangsung normal. Ernest menyediakan panggung melucu seliar mungkin. Asri yang lebih kalem tetap mengocok perut kala memperagakan capoeira, pun Ge sebagai tokoh penuh trauma yang memfasilitasi gaya ekspresifnya. 

Keliaran komedi, yang acap kali tak terkait alur utama, berhasil sebagai bumbu penyedap dalam Cek Toko Sebelah. Susah Sinyal memunculkan kesan berbeda. Menulis naskahnya bersama sang istri, Meira Anastasia, Ernest bagai menabur bumbu terlalu banyak demi menutupi kekurangan di bahan pokok, alias alur yang tipis. Kelakar Arie dan Abdur misalnya. Menggelitik, namun seketika kehilangan daya bunuh sewaktu hadir berkepanjangan. Titik tertinggi komedi film ini terletak pada guyonan sekilas dengan kesempurnaan timing, seperti Asri Welas yang cenderung serius sehingga dampaknya berlipat ganda saat celotehan yang dinanti tiba, atau absurditas Dodit Mulyanto yang mengisi sesuai kebutuhan, tak dieksploitasi.
Ellen berharap perjalanan ke Sumba merekatkan hubungannya dengan Kiara. Kita menghabiskan sepertiga durasi di sana, melewati berbagai peristiwa, termasuk ketertarikan Kiara pada karyawan hotel bernama Abe (Refal Hady), sayangnya itu semua bukan quality time. Terlampau sering distraksi hadir, keduanya telah menemukan kembali sinyal yang terputus sebelum penonton sempat direnggut oleh gesekan yang terjadi. Film ini membawa karakternya ke Sumba, lalu seolah bingung mesti berbuat apa pada mereka. Aspek teknis pun gagal membantu, baik pilihan shot ala kadarnya (Ernest pernah melahirkan gambar luar biasa kuat berupa Chew Kin Wah bersandar di tiang toko kosong dalam Cek Toko Sebelah) maupun transisi kasar musik selaku cue emosi. 

Untungnya Susah Sinyal punya Adinia Wirasti, seorang aktris langka yang sanggup menyulap obrolan kasual jadi menarik. Bersama debut memikat Aurora Ribero dalam gaya sinis yang menjadikan ketakutan Ellen mendekatinya terasa masuk akal, Adinia menghembuskan nyawa, menghindarkan filmnya dari kehampaan total. Susah Sinyal is a step back. Tapi bukan kemunduran jauh, apalagi suguhan buruk. Ernest selalu belajar, dan itu membuat kepercayaan saya padanya tidak luntur. 

16 komentar :

Comment Page:
Billy Simamora mengatakan...

Wah gw kira bakal dapet minimal 4 bintang.. review di luar cukup bagus soalnya.. tapi nih film tetep recomended sih, bakal tetep nonton inii gw bang haha

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

kalo dibanding CTS iya kalah, kalah dinaskah.
kalo komedi nya ernest masih jenius dalam manfaatin komika
bahkan scene wawancara casandra di trailer aja ternyata masih menyimpan punchline di akhir

Rasyidharry mengatakan...

@Billy Oh sure, tetep perlu ditonton :)

@Teguh Naskahnya emang kurang, kayak bingung mesti gimana menyikapi konfliknya

hilpans mengatakan...

Oh emjiii..adinia..sejak AADC 2 ..makin berkelasss euy,,semakin matang, semakin perfect, semakin ahhhh ... Smoga bisa menyamai seorang christine hakim.. D IG ny hanung adinia kata lgi trrlibat sebuah biopic yg dgarab ms hanung..smga adinia brpasang dgn reza kembali hihihi di proyek slnjutnya

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Akting Chew Kin Wah di sini kurang tereksplor kayaknya ya, Bang ? Sayang banget padahal di CTS dia udah nendang gitu aktingnya. Btw ralat Bang, bukan Siti KDI, tapi Selfi KDI.

Rasyidharry mengatakan...

@hilpans Sejak Laura & Marsha udah yakin dia bakal jadi salah satu yang terbaik. Iya tuh, bareng Putri Marino. Pengennya sih dia main Benyamin Biang Kerok, biar ngelawak bareng Reza lagi :D

@Pramudya Nggak apa, biar senang-senang dulu si kokoh. Oh iya haha, ketuker sama nama karakternya

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

@Bang Rasyid Hahaha, ya jelas senenglah Bang sama biduan aduhai gitu. Semoga aja nanti reuni Dion-Chew di film Terbang: Menembus Langit aktingnya bisa seemosional di CTS.

Rasyidharry mengatakan...

Well, Fajar di Jakarta Undercover banyak peningkatan, jadi lumayan berharap sama Terbang

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

@Bang Rasyid Nah itu dia Bang, Fajar ngebikin Jakarta Undercover lebih bagus dari versi 2006. Dan katanya "Terbang" jadi film periodik pertamanya Fajar, ya Bang ?

Rasyidharry mengatakan...

Kayaknya gitu. Belum semua film Fajar pernah ditonton sih

agoesinema mengatakan...

Adinia Wirasti gw mulai suka aktingnya sejak di 3 hari untuk selamanya (2007) bareng nicholas saputra dan peran kecilnya di omnibus Jakarta Magrib (2011) bareng Reza Rahadian dan bintang2 lainnya

Rasyidharry mengatakan...

Oh iya, bagus juga di 3 Hari Untuk Selamanya.

Yondri Pratama mengatakan...

komedi nya masih gila kok, tpi drama nya emang gak sebaik CTS..

Amatir dalam Hidup mengatakan...

Aah.. Aku baru ngeh setelah baca reviewmu, kalau ini tidak mendominankan kisah tentang etnis cina lagi.. Agak menyayangkan tidak se ngena dua film lainnya. Tapi yups, tetap menunggu film selanjutnyaa 😊😊

Rasyidharry mengatakan...

Mungkin belum biasa di luar zona nyaman. Nggak apa, belajar. Kalau di situ-situ terus nggak akan lebih baik :)

yazuli al amin mengatakan...

Saya suka credit scenenya seakan mendengar pendapat bahwa cts terlalu atau seakan dibuat2 dan susah sinyal sengaja beneran dibuat2.over all bagus tapisebagus cts dan mungkin susah buat dapet penghargan walaupun di box ofice movie award seandainya laris karena pengabdi setan sudah menunggu disana