THE GIFT (2017)

12 komentar

Bagi banyak sutradara, mengarahkan Reza Rahadian, Ayushita Nugraha, Diyon Wiyoko, hingga Christine Hakim dalam satu film yang sepertiga bagian akhirnya bertempat di Italia merupakan kemewahan. Namun kita membicarakan Hanung Bramantyo. Baginya, menangani deretan nama besar serta setting luar negeri jadi hal biasa. Menjadi tidak biasa tatkala The Gift membawanya menarik rem dramatisasi, membiarkan musik mengalun secukupnya, dan menekan jumlah sekaligus intensitas tangisan. Rupanya setelah bertahun-tahun menerapkan pemahaman akan formula, Hanung masih menyimpan kepekaan bertutur. 

Berusaha menyelesaikan novel terbarunya, Tiana (Ayushita Nugraha) pindah ke Yogyakarta, menempati kamar kosong yang terletak di kediaman Harun (Reza Rahadian). Mengalami gangguan penglihatan dan masalah personal terkait keluarga membentuk Harun sebagai pribadi yang kurang ramah. Berbeda kondisi fisik, keduanya memiliki kesamaan, sama-sama terbiasa memandang dunia dari dalam kegelapan. Dibantu naskah buatan Ifan Ismail (Habibie & Ainun, Ayat-Ayat Cinta 2), Hanung mempresentasikan percintaan sebagai hasil kecocokan dua insan, membangun romantika dari interaksi yang tersusun atas dialog tajam nan menarik ketimbang eksploitasi momen manis.
Kali ini Hanung turut menggunakan simbolisme yang tersaji subtil nan mulus, bermain-main dengan metafora guna menyoroti sisi gelap serta sifat hubungan manusia. Gembok pemisah kamar Tiana dan Harun melambangkan sekat pembatas dua hati, sementara bahasan soal "penglihatan" yang kental mengisi sepanjang film tak hanya bermakna literal. Apakah Tiana dengan mata yang sempurna mampu melihat lebih jelas dibanding Harun? Ataukah kesempurnaan itu membuatnya terlena, melupakan sensitivitas lain termasuk perasaan? 

Dibekali kebebasan kentara memaksimalkan kualitas penyutradaraan Hanung. Hasil pengadeganannya penuh kreativitas yang memperkuat dinamika. Kamera bergerak lincah pun beberapa kali memanfaatkan pantulan cermin dengan puncak kebolehan menyusun mise-en-scène tersaji pada sebuah pertengkaran Harun dan Tiana, sedangkan karakter Simbok berdiri di kejauhan sambil merespon. Perpindahan rutin flashback ke masa kini pun bergerak rapi, saling menguatkan dan menyokong alih-alih mendistraksi. Tapi poin terbaiknya adalah penyusunan situasi dramatis. 
Musik garapan Charlie Meliala dibiarkan melantun merdu sebagai latar, bukan media manipulasi rasa. Bahkan mayoritas momen terkuat tampil di tengah kesunyian mencekat layaknya tragedi yang menghadang tiba-tiba tanpa bisa kita antisipasi. Penampilan para pemain ikut jadi tonggak. Baik selaku tuna netra maupun ketepatan ekspresi emosi, telah cukup mengingatkan penonton betapa Reza Rahadian merupakan aktor terbaik yang jauh meninggalkan generasinya di level berbeda. Ayushita mengimbangi lewat sensibilitas tinggi, dan bukan sebuah kejutan kala Christine Hakim sanggup merenggut hati walau cuma muncul beberapa menit. 

Sayangnya The Gift menurun saat menyentuh babak akhir, pasca memindahkan setting ke Italia seiring kehadiran Arie (Dion Wiyoko) mewarnai cinta segitiga, kemudian bertransformasi dari drama low-key menuju konflik penuh kebetulan yang bagai hasil kebingungan penulis menyusun konklusi. Belum lagi bumbu kejutan yang diharapkan mencengkeram emosi namun berakhir sebatas shock value akibat kurangnya fase pembangunan. The Gift bukan persembahan terbaik Hanung Bramantyo, tapi cukup menjadi bukti bahwa sang sutradara punya kapasitas lebih dari sekedar meramu tontonan sesuai pakem.


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

12 komentar :

Comment Page:
Redo Anggara mengatakan...

Belum tayang secara luas kan min film ini..
Wajib ditunggu kayak nya secara ada reza heeee

Rasyidharry mengatakan...

Belum kok, mungkin pertengahan 2018

Okiyadi Greg mengatakan...

Terima kasih Mas Rasyid untuk review2 nya yg memandu kami memilih film yg layak di tonton dan terhindar dari buang waktu dan Rupiah karena menyaksikan tayangan yang gak jelas mau nya. Gak tertarik untuk mereview Chasing The Dragon? Yang menurut saya lumayan memotret dunia triad HK era 1960 - 1970. Tapi yg lebih berkesan ialah sisi persaudaraan dan persahabatan yg pekat mengikat dari awal hingga ending.

Rasyidharry mengatakan...

Thanks, my pleasure :)
Pengen sekali nonton, tapi waktu itu kelewatan penayangannya di bioskop karena nggak sempat

Anonim mengatakan...

Ada film tribute to 212 tuh bawa2 cinta biar menampik tudingan negatif atasnya

Kalo mas Rasyid reviewnya nggak muji2, siap2 aja matinya nggak disholatin

Rasyidharry mengatakan...

Ogah nonton film yang pembuatnya aja nggak bisa bedain trailer & thriller

Anonim mengatakan...

Premisnya sekilas mirip "Yang tak dibicarakan ketika membicarakan cinta"
iya ga sih bang?

Rasyidharry mengatakan...

Filmnya Mouly itu antara difabel secara luas, kalau 'The Gift' tuna netra dengan yang "normal"

Anonim mengatakan...

Ada bocoran film terbaru Reza Rahardian, judulnya " THE GIFT " mau tayang maret 2018. Teasernya lihat disini http://bit.ly/rezaRtube

Bhumi Hangladen mengatakan...

Film The Gift akan release di akhir maret 2018. Silahkan kunjungi official websitenya. http://bit.ly/giftmovieid
Atau official youtube channelnya.
http://bit.ly/giftmovieCH

Banumustafa24 mengatakan...

SPOILER ALERT

yang dimaksud reza harus ke kaliurang untuk menuntaskan sesuatu itu ngapain ya, bang? Saya kurang paham saat ia cuma berdiri di pinggir.

Christine Hakim ini memang mantap ya, bang. Saat tiana ngelihat matanya Christine dari lemari itu berasa banget seperti tiana mendapatkan malaikat penjaga dia yang sebenarnya

Rasyidharry mengatakan...

@Banu Si Reza itu kan sebenernya suicidal. Dia nabrakin mobil secara tersirat juga didorong keinginan mati. Dia balik ke situ buat "menuntaskan", apa dia mau mati atau hidup. Istilahnya, sebelum ketemu ayushita, dia orang yang "belum selesai dengan dirinya".