FLIGHT 555 (2018)

5 komentar
Membuat komedi itu susah. Apalagi kalau spesifik, khusus menyasar persoalan atau setting tertentu. Seperti namanya, Flight 555 (seharusnya) merupakan komedi penerbangan dengan humor yang terfokus pada benda, peristiwa, dan orang-orang di pesawat. Adegan pembukanya melakukan itu, menggelitik lewat parodi terhadap ragam ciri penumpang: wakil rakyat sombong, orang yang baru pertama terbang dan bertingkah norak, pramugari yang bergerak hiperbolis kala menunjukkan arah bangku. Melihat Meriza Febriani yang anggun dalam balutan seragam pramugari bertingkah demikian jadi anomali menyenangkan.

Memang perlu usaha ekstra bagi duo penulis naskah, Isman HS dan Raymond Handaya (juga sutradara) mengkreasi opening-nya. Dituntut berpikir keras sepertinya membuat pikiran mereka terforsir lalu kering ide. Humor yang menyusul, khususnya setelah pembajakan dimulai, tak lebih dari kebodohan seragam nan reptitif. Pembajakannya absurd. Putu (Tarra Budiman) yang pulang ke Bali demi menemui sang ayah yang sakit keras menemukan pistol di toilet pesawat, tepat sebelum seorang Sunda dengan koteka (Anyun Cadel) dan seorang Papua (Abdur Arsyad) membajak pesawat menggunakan panah. Tidak lama kemudian muncul satu lagi pembajak yang mengenakan bom. 
Merasa perlu bertindak, Putu memakai pistol yang ia temukan untuk berpura-pura ikut membajak pesawat guna mengkonfrontasi ketiga pelaku. Absurd dan penuh usaha melucu, namun skenarionya bukan menitikberatkan pada situasi, melainkan karakter. Ketimbang menciptakan absurditas berdasarkan rutinitas penerbangan seperti dilakukan Airplane! yang sepertinya memberi pengaruh besar (romansa dengan pramugari, konflik terkait mantan kekasih, keracunan makanan, pembersih kaca pesawat, kemiripan pilot dengan sosok ternama), Flight 555 mengutamakan agar beberapa tokohnya bertindak sebodoh mungkin.
Anyun Cadel misalnya, diminta melontarkan pernyataan ngawur terus menerus hingga ke titik membosankan, bahkan menyebalkan. Sebaliknya, begitu banyak karakter malah sama sekali tidak berstatus tokoh komedik. Rusmedie Agus adalah antagonis super serius, Tarra Budiman selaku protagonis hanya konyol di awal sewaktu status jomblonya jadi bahan olok-olok, pula Mikha Tambayong yang tersia-siakan talentanya. Raymond urung memahami potensi Mikha melakoni komedi deadpan serupa yang ditunjukkan saat merespon kecerobohan supir yang membuat lipstiknya berantakan di awal kemunculan.

Terlalu banyaknya karakter plus situasi serius menyiratkan hilang arahnya film ini. Pembajakan diposisikan bak kenyataan selaku situasi hidup-mati alih-alih sekedar parodi pengundang tawa di tengah premis absurd. Tapi di saat bersamaan, Flight 555 juga menggelontorkan lelucon di luar nalar. Inkonsistensi tone pun hadir. Absurditas komikal yang tak mempedulikan logika bertabrakan, gagal membaur dengan komponen suspens dan dramatik. Anda pun bisa memindahkan setting Flight 555 ke mana saja. Bus, perahu, kapal selam. tinggal pilih. Pertanda filmnya gagal memanfaatkan kekhasan setting. 

5 komentar :

Comment Page:
Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Tinggal tunggu sekuelnya aja Mas. Submarine 555, Anyun udah mengisyaratkan itu pas lagi diciduk, hahaha.

Rasyidharry mengatakan...

Monggo lah, nggak akan nonton :D

Taufik Adnan Harahap (Opik) mengatakan...

Dilan gak di review bro? Haha

Rasyidharry mengatakan...

Dilan kan baru tayang Kamis besok, 25 Januari

Taufik Adnan Harahap (Opik) mengatakan...

Wahaha, kirain nonton d premier ny