HICHKI (2018)

9 komentar
Hichki, atau dalam Bahasa Indonesia berarti “cegukan”, mengisahkan wanita penderita sindrom Tourette, sebuah kondisi di mana seseorang mengeluarkan gerakan atau ucapan spontan (tic) tanpa mampu dikontrol. Dari suara-suara acak sampai sumpah serapah, dari gerakan kecil hingga kejang-kejang. Bagi penderita Tourette berada di muka umum bukan perkara mudah, karena minimnya pemahaman akan penyakit ini mengakibatkan pandangan miring publik terhadap mereka.  Dengan kondisi tersebut, protagonis film ini mesti mengajar murid-murid luar biasa nakal, yang saking nakalnya, pihak sekolah menganggap mereka sampah yang lebih baik musnah.

Tentu semakin jauh alur berjalan, kita dan sang guru, Naina Mathur (Rani Mukerji) mendapati bahwa anak-anak itu sejatinya bukan biang onar. Hanya butuh perhatian lebih. Hichki memang kisah inspiratif konvensional soal guru bermasalah yang coba menolong murid bermasalah, dan seiring usaha si guru berlangsung, tanpa disadari ia turut menyelesaikan masalahnya sendiri. Naskah yang ditulis empat orang termasuk sutradara Siddharth P. Malhotra bergerak mengikuti pakem yang sudah diterapkan ratusan film di luar sana, mulai Dead Poets Society, Half Nelson, bahkan produk lokal macam Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara, ketika sang guru menerapkan pola mengajar unik guna menangani siswa-siswi unik.
Belajar di luar kelas, memakai telur sebagai peraga, atau materi-materi lain di samping kurikulum yang hanya bisa kita impikan terjadi di dunia nyata supaya kegiatan mempelajari rumus fisika dan matematika di sekolah dulu lebih menyenangkan. Tentu ada sosok oposisi. Wadia (Neeraj Kabi), guru kelas 9A (kelas terbaik, sementara 9F yang diajar Naina adalah yang terburuk) dengan pola pikir kolot yang menganggap kebahagiaan tak berbanding lurus dengan kesuksesan. “We’re luckier but they’re definitely happier”, begitu ucap salah satu murid 9A melihat siswa-siswi Naina belajar sambil tertawa. Sebagaimana banyak film motivasional, dialog buatan Ankur Chaudhry tak masuk akal namun enak didengar pula quotable.

Bisa dipastikan keteguhan Naina akan meluluhkan hati anak-anak 9F. Bisa dipastikan pula, seorang anak bakal lebih sulit ditaklukkan. Peran itu diemban Aatish (Harsh Mayar) yang gemar berkelahi dengan anak 9A, tetapi di waktu bersamaan diam-diam menyukai gadis di kelas itu. Romantika Aatish, seperti halnya perselisihan Naina dengan ayahnya atau potret kemiskinan yang memancing sikap berat sebelah terkait hak memperoleh pendidikan, hadir bukan sebagai distraksi. Fokus berhasil dijaga, sedangkan sempilan-sempilan di atas berguna memberi dimensi kepada para tokoh, memanusiakan mereka alih-alih sekedar alat pengeruk inspirasi.
Demikian juga alasan kegigihan Naina membantu 9F yang memiliki dasar kuat. Dahulu ia pun diremehkan, dianggap bermasalah, aneh, dan sebagainya. Wajar bila Naina merasakan ikatan. Memerankan karakter dengan sindrom yang memiliki simtom gamblang, akting Mukerji menghindarkan kesan parodi tak sensitif dari sosok Naina. Perhatikan saat tic-nya muncul di sela-sela perbincangan. Seolah kondisi ini telah sekian lama menjadia bagian hidup Mukerji. Pasca 4 tahun “cuti melahirkan”, performa aktris peraih piala Filmfare Awards terbanyak ini (7 kemenangan dari 17 nominasi) sama sekali tidak terkikis.

Mengadaptasi buku Front of the Class: How Tourette Syndrome Made Me the Teacher I Never Had buatan motivator asal Amerika, Brad Cohen, Hichki memang formulaik, tapi mengikuti kesuksesan drama edukatif dan motivasional produksi Bollywood belakangan, hatinya ada di tempat yang tepat. Air mata haru, atau setidaknya seperti saya, senyum lebar bakal mengembang mengamati perjuangan Naina Mathur. Paling penting, selaras dengan tujuan besar si tokoh utama, yakni memberi pendidikan, Hichki memberi sepintas pemahaman tentang sindrom Tourette. Belum mendetail, namun melihat fakta banyak penonton belum mengenal penyakit ini,  pencapaian filmnya sudah cukup.

9 komentar :

Comment Page:
Anonim mengatakan...

Min, review film i kill giant, katanya sih keren,

Thanks

Ungki Haeri mengatakan...

Meskipun hasil akhir film ini predictable. Hal yang membuat saya betah dan menghiraukan akhirnya bakal berjalan seperti bagaimana film ini adalah performa Mukerji yang memang luar biasa. Kedua, saya adalah seorang guru, dan pernah berada di posisi Naina Mathur.

Rasyidharry mengatakan...

Nah, bener, kalau pernah/lagi jadi guru bakal lebih berkesan ceritanya

Ungki Haeri mengatakan...

Dutunggu review film #TemanTapiMenikah sama Maddah-nya Mas Rasyid.

Rasyidharry mengatakan...

Maddah nonton nanti malem sih. TTM mungkin baru Sabtu, antri sama Ready Player One, The Shape of Water & ada premier Bluebell juga

Ungki Haeri mengatakan...

Hokkeh mas ditunggu semua review-nya

jefry punya cerita mengatakan...

The shape water film tahun lalu kan bang. Download aja.

dimas mukti mengatakan...

Ada nyanyi nyanyi sama joged joged ga mas??

Btw ditunggu riviuw Hongkong Kasarungnya hahaha😂😂

Rasyidharry mengatakan...

@Jefry udah nonton, tapi sayang kalo nggak di bioskop. Visual & musik sebagus itu

@Dimas nggak semua bolly ada kali 😂