PARI: NOT A FAIRYTALE (2018)

5 komentar

Dalam Pari: Not a Fairytale mengalir perpaduan DNA antara romansa antar spesies macam Let the Right One In dengan The Omen, Rosemary’s Baby, atau film-film lain seputar anak iblis. “Pari” sendiri berarti peri. Tapi peri di sini bukan makhluk cantik seperti Tinkerbell, tetapi anak hasil persetubuhan manusia dan jin melalui sebuah ritual persembahan. Bukan pula jin sembarangan, melainkan Ifrit, yang dalam kepercayaan Islam adalah jin terkuat. Menjalin cinta bersama puteri Ifrit—sebagaimana dinyatakan judulnya—tentu tak semudah dan seindah dongeng.

Pria “beruntung” itu bernama Arnab (Parambrata Chatterjee), pria pemalu yang sedang menjalani proses perjodohan setelah seumur hidupnya belum pernah berpacaran. Pasca sebuah kecelakaan saat mobilnya menabrak wanita tua hingga tewas, ia bertemu puteri wanita tersebut, Rukhsana (Anushka Sharma). Namun ada yang aneh dalam diri gadis ini. Dia jarang bicara, tidak mengetahui benda sehari-hari dari salep hingga televisi, juga takut pada dupa. Jika kita tinggal di gubuk kecil di tengah hutan, dipasung, hanya ditemani ibu serta sekelompok anjing liar, mungkin kondisinya pun serupa.
Pari menyimpan unsur mitologi menarik. Terdapat aliran sesat penyembah Ifrit yang bertujuan menyebar benih sang jin ke seluruh dunia. Sementara di kubu berlawanan, sekelompok orang memburu aliran tersebut, membunuh bayi-bayi yang dikandung pengikutnya guna menghentikan rencana Ifrit. Mereka percaya bila rencana itu terlaksana, kiamat akan datang. Jangan tanya bagaimana. Skenario buatan Prosit Roy (juga selaku sutradara) dan Abhishek Bannerjee luput mengeksplorasi mitologinya. Ketimbang menelusurinya sepanjang durasi, pengungkapan fakta sporadis di satu titik jadi pilihan. Alhasil selama 134 menit kerap terjadi kekosongan di alur.

Tatkala poin substansial tadi dikesampingkan, aspek kurang berarti berupa konflik cinta segitiga justru dimasukkan. Masih banyak pemicu masalah antara Arnab dan Rukhsana yang bisa dimanfaatkan. Ini percintaan lelaki canggung dan wanita aneh puteri jin. Mengapa problematikanya lagi-lagi soal cinta segitiga ketika beragam anomali semestinya bisa tersaji? Untungnya interaksi Arnab-Rukhsana terjalin cukup manis plus sesekali menggelitik, khususnya karena kegagapan tekonologi si wanita. Melihatnya terpukau oleh televisi, kemudian belajar menyampaikan “I love you (too)” adalah pemandangan lucu sekaligus manis.
Penampilan Anushka Sharma memegang peranan penting berkat kesuksesan mencampur kelucuan, keanehan, dan kengerian. Sayang, filmnya sendiri gagal mengekor keberhasilan sang aktris sewaktu lompatan tone kerap mengganggu. Prosit Roy dan tim punya dua pilihan: a) meninggalkan rasa horor untuk total menghadirkan percintaan dengan dunia mistis selaku latar belakang, atau b) sepenuhnya tancap gas sebagai horor. Tapi Roy terlampau berambisi dan memilih menyatukan segalanya tanpa takaran dan penempatan tepat.

Hasilnya adalah krisis identitas. Kuantitas kengeriannya minim untuk disebut horor, tetapi sebagai non-horor, penampakan hantu dalam balutan jump scare jelas cukup banyak dan kerap memberi distraksi. Deretan jump scare yang nyaris tanpa taji akibat kurang piawaianya Roy mempermainkan perasaan penonton. Timing-nya beberapa kali meleset, pergerakan kamera kadang terlalu lambat guna menggedor jantung, bahkan di sebuah kesempatan kala adrenalin mestinya dipacu, ia justru mengaplikasikan gerak lambat. Sinematografi garapan Jishnu Bhattacharjee enak dilihat namun kurang berdampak di tataran rasa.

5 komentar :

Comment Page:
Ungki Haeri mengatakan...

Yeahh. Akhirnya review yang di tunggu hadir. Makasih mas karena mulai me-review film bollywood. Sebenarnya pengen nonton sih tapi akses tempat saya tinggal jauh dari bioskop, dan harus nonton pun itu belain ke Bandung. Belum lagi film bollywood skarang cuma tayang di cgv saja. Kmaren datang k bandung niat nonton film ini malah gk tayang, alhasil nonton Nini Thowok.

Ungki Haeri mengatakan...

Yeah akhirnya review yang di tunggu muncul. Makasih mas sudah mulai rutin me-review film bollywood. Penasaran pengen nonton karena alasan Anushka yang main, dia salah satu aktris bollywood yang sudah menjajal semua genre. Dan tahun ini ada dua lagi filmnya yg bakal dan masuk daftar film yang paling d tunggu, Sui Dhaaga: Made in India bersama Varun Dhawan, serta reuni Jab Tak Hai Jaan bareng Shah Rukh Khan serta Katrina Kaif. Semoga mas Rasyid me-review-nya jika nanti tayang di bioskop. Hehee

Kmarin mampir k bioskop hendak nonton film ini malah gak tayang, alhasil nonton Nini Thowok.

Rasyidharry mengatakan...

Selama tayang dan tertarik sih pasti nonton dan review. Zero karena ada SRK biasanya bakal diputer. Sanju juga bakal nonton secara ada Sonam Kapoor haha

Ungki Haeri mengatakan...

Dari Deepika Padukone pindah ke Sonam Kapoor ya mas? Hehe. Berharap mereka main satu layar hehe. Sonam juga maen di veere di wedding bareng Kareena Kapoor. Btw. Nini Thowok gak minat nonton mas?.

Rasyidharry mengatakan...

Wets, nggak pindah dong, cuma menambah haha
Nggak deh, bulan ini lagi rame film. Kemaren udah dateng premiernya tapi nyasar di jalan. Yowes :D