READY PLAYER ONE (2018)

24 komentar
Pada 2045 saat dunia menjadi kumuh akibat overpopulasi, polusi, korupsi, dan perubahan iklim, umat manusia memilih “kabur” ke OASIS (Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation), dunia virtual ciptaan James Halliday (Mark Rylance) yang dapat diakses memakai kacamata VR, di mana seseorang bebas menjadi siapa saja serta melakukan apa saja. Pada 2018 saat dunia kerap lupa bersenang-senang, umat manusia mestinya “kabur” ke Ready Player One, dunia imajinatif ciptaan Steven Spielberg, yang sebaiknya dinikmati memakai kacamata 3D. Kostum XI dapat memaksimalkan sensasi OASIS yang karakternya alami,  sedangkan format 4DX menghasilkan efek serupa bagi filmnya.

Berasal dari novel fenomenal berjudul sama buatan Ernest Cline (juga selaku penulis naskah bersama Zak Penn) yang dipenuhi referensi kultur populer 80-an, jelas tak ada yang lebih pantas menggarap adaptasi layar lebarnya selain Spielberg. Pertama, ia termasuk sosok paling berpengaruh yang membentuk kultur populer masa itu lewat trilogi Indiana Jones (1981-1989), sampai E.T. the Extra-Terrestrial (1982). Kedua, tidak ada sutradara sehebat dirinya perihal merangkai hiburan visioner kental kreativitas bertabur efek spesial berskala besar. Sekali lagi, TIDAK ADA.
Wade Watts (Tye Sheridan), bocah yatim piatu berusia 18 tahun yang tinggal di pemukiman kumuh di Columbus, Ohio, merupakan protagonis kita. Seperti orang-orang yang lebih betah memamerkan diri di dunia maya (baca: sosial media) karena merasa sosok aslinya payah, Wade pun menghabiskan mayoritas waktunya di OASIS. Menggunakan avatar bernama Parzival, Wade mengikuti kompetisi mencari easter eggs yang ditinggalkan Halliday sebelum meninggal. Si pemenang bakal mewarisi kepemilikan OASIS plus hadiah-hadiah lain. Masalahnya, rintangan yang mesti dihadapi teramat sulit, belum lagi ancaman dari Nolan Sorrento (Ben Mendelsohn) beserta perusahaan penyedia peralatan VR miliknya, IOI (Innovative Online Industries), yang berambisi menguasai OASIS.

Saya berharap Ready Player One meluangkan sedikit lagi waktu menyelami dunia maupun karakternya lebih jauh, namun kehebatan Spielberg merangkai spectacle membuat saya tidak keberatan langsung terjun ke dalam aksi bombastis sejak menit awal. Balapan melintasi versi OASIS untuk New York di mana bola-bola besi raksasa, T-Rex, hingga King Kong telah menanti guna menggagalkan usaha menemukan easter eggs. Ini baru tahap pertama, tapi itu urung memudahkan perjuangan Parzival dengan mobil “Back to the Future” miliknya menembus garis akhir. Begitu pula Art3mis (Olivia Cooke), sosok pemain terkenal pengendara motor merah dari animasi Akira yang jadi pujaan Parzival.

Balapan tersebut membuktikan betapa Spielberg paham cara membangun tensi. Reruntuhan gedung yang membuat mobil saling bertabrakan, amukan King Kong yang menghancurkan kendaraan pemain layaknya mainan plastik murahan, bukan sekedar pawai CGI. Terdapat dimensi, bobot, alih-alih gambar rekayasa komputer yang beterbangan tanpa massa tubuh. Berkatnya, kesan bahwa para tokoh sungguh terancam bahaya pun terasa. Menegangkan, tetapi Spielberg tak pernah lalai menyuntikkan nuansa senang-senang.
Ready Player One mengajak kita merayakan hidup, baik di dunia nyata maupun maya. Keseimbangan itu dibutuhakan. Spielberg wants us to know what it feels like to live our lives at its fullest. Caranya adalah meniadakan set piece yang sifatnya filler. Total ada 3 kunci diperlukan demi mendapatkan hadiah dari Halliday, dan tiap fase pencarian kunci mengandung momen penyulut decak kagum dan sorak sorai berupa visualisasi kelas wahid Spielberg terhadap ide tertulis Cline. Di tangan Spielberg, hal terpenting bukan “ada berapa tokoh dan/atau referensi budaya populer?”, melainkan bagaimana semua dirangkum menjadi adegan solid. Pun naskahnya meniadakan kesan “pamer”, sehingga tur mengelilingi Hotel Overlook, lantai dansa nol gravitasi dilengkapi lagu Stayin’ Alive, sampai pergumulan “tiga raksasa” di klimaks bak fase alamiah yang wajib alurnya lalui.

Tetap ada cela. Sebagai film mengenai ajakan agar tak melupakan realita, adegan “dunia nyata” film ini kekurangan daya pikat. Saya merasa seperti manusia-manusia di dalamnya yang memilih kehidupan OASIS ketimbang kenyataan. Satu-satunya momen (mendekati) realita yang tampil menarik terletak menjelang akhir, Mark Rylance memperlihatkan akting kaya sensitivitas sebagai Halliday, si pria jenius yang introvert pula canggung soal sosialisasi. Namun di kemunculan pamungkasnya, dibalut kehangatan ala Spielberg, Rylance menunjukkan bahwa Halliday telah berubah. Lebih dewasa, lebih matang, lebih bijak. Kita semua mampu mengalami perubahan serupa asal tidak terlampau lama menetap di dunia maya.

24 komentar :

Comment Page:
Satria Wibawa mengatakan...

Adegan the overlook membuat saya bersorak sorai di bangku bioskop

Jackman mengatakan...

Nekat nonton di hari pertama
Dan ternyata puas
Melebihi ekspektasi
Sayang ga nonton di 3D/4dx karena kendala lokasi yang jauh

Osirisia mengatakan...

Budaya Pop yg diusung spielberg ini hadiah bagi orang yg ikut meramaikan eksistensi 80-an. Saya yg generasi 90-an awal untung aja nyambung dan bisa bersorak sorai di dalam hati ketika budaya pop 80-an hingga 90-an muncul satu demi satu, mau musik, film, anime dkk mampu membuat saya kegirangan dan bilang, íni kan di film..? Ini kan musiknya...? Sungguh senangnya. Yang saya kasihani adalah adik saya yg lahir di thun millenial, dan tidak tau referensi, dia hanya bisa bilang, "emangnya itu difilm apa kak? musik apa?" kasihan, yg dia tau hanya mechagodzilla, king kong, dan juga t-rex. bahkan untuk iron giant pun ia tak tahu..

Rasyidharry mengatakan...

@Satria gila itu, momen-momen ikonik satu film bisa digabung serapi itu

@Jackman Yah, it has the best 4DX I've ever seen.

@Osirisia Wah udah bagus lho tahu Mechagodzilla. Ayo dikenalin pelan-pelan 😁

Zulfikar Knight mengatakan...

Berkat film ini, ane banyak berkenalan Ama nerd nerd samping kursi gue. Saling sharing pengalaman sambil nonton.

Well bahkan di bioskop 2D, visual film ini sangat mantabbb.

Bukannya emang gitu tujuan Motion Picture dibuat? Buat pelarian dari dunia nyata wkwkwk. Itulah kenapa banyak jga yg nonton film Romance

benny salim mengatakan...

Ada lagu atomic blonde bang di film ni.

Rasyidharry mengatakan...

@Zulfikar tinggal nunggu ada cerita 2 nerd kenalan pas nonton RPO lalu jadian

@benny Wajib hukumnya ada lagu "Blue Monday" di film rasa 80-an 😁

Muhammad Faisal Aulia mengatakan...

Apa cuma gw aja yg JENUH nonton film ini?

Untuk urusan film basis Avatar atau Like A Games ,mending Avatar nya James Cameron dan Jumanji . Jalinan cerita lbh dapet dan intens .

Ini film cuma modal CGI aja ,cerita mudah ketebak, sad moment pun biasa aja. Intinya ngantuk sangat nonton nih film .

Erwin Sanz mengatakan...

Reviewnya kelihatan bagus banget tp nilai cuma 4 stars.. Malah dibawah #TTM.. Why Oom?

Syaiful Rizki mengatakan...

dua kali saya bersorak di film ini.

pertama karena the overlook.

kedua karena gundam.

Rasyidharry mengatakan...

@Muhammad well, kalo ngomongin predictable, sebenernya semua judul-judul itu juga. Hebatnya Baginda Spielberg ini bisa susun action full CGI dengan imajinatif, rame, tapi nggak berantakan.

@Erwin Jangan dibandingin apple to apple dong, kan beda spesies. Dan tuh, ada 1 poin krusial di paragraf terakhir yang bikin "cuma" dapet 4.

Arif Hidayat mengatakan...

Kurang setuju bang di kasih 4. Cocok nya 4,5

Anonim mengatakan...

Osirisia komennya keren!
Hehehe

aryo mengatakan...

Barusan nonton. Kesenangan yg diberikan mirip saat nonton cabin in the woods. Hehe... yang gak suka/boring mungkin yang ga konek sama referensi2nya. Kalo saya malah pingin nonton ulang, hanya utk lebih ngamatin lagi referensi yang bertebaran.
Di film2 kayak gini ekspektasi kita emang pure fun, ga ngarep naskah dan plot cerdas. Tapi di beberapa film kayak gini seringkali saya nemu yang lemahnya naskah dan plot ternyata tetap bisa mengganggu kesenangan, kayak di independence day 2 atau kong skull island. Tapi hal itu nggak terjadi di film ini... bahkan level fun-nya naik banget setelah sebelumnya bersenang2 di pacific rim 2. Well done

Rasyidharry mengatakan...

Nah itu, your refference, your knowledge, youe luck. Well, sayangnya masih banyak yang anggap cerita rumit = bagus, atau cerita bagus = naskah bagus

Ilham Ramadhan mengatakan...

"haduken".
tiba ini gw girang. cuma kayaknya cuma saya yg girang -_-

awal memang gak tahu ini film tentang apa, karena gak ada baca referensi, jadi bertaruh aja nontonnya.
eh pengen nonton lagi gara2 pengen ngeliat satu persatu karakter game/kartun yang muncul.

Tri Fajar mengatakan...

Oh nostalgia....sayangnya referensi Jepangnya gak ngena. Gak ada satria baja hitam, sailormoon, ultraman.
Paling cuma gundam wing. Akira malah kenalnya gara2 cari info buat motor concept.

Badminton Battlezone mengatakan...

Baru ntn kemarin. Sukaaa saya...feelsnya mirip pas ntn back to the future 2.

Cuman mo nanya donk bang Rasyid,di ending tu sebenernya Halliday beneran dah mati ataukahh dia masi idup? Karena liat sorotan mata dan dialognya,seakan2 dia membuat fake death untuk membuat kompetisi agar lewat kompetisi itu bisa menyadarkan dunia bahwa hidup itu harus seimbang antara dunia virtual dan reality...haahaha

Rasyidharry mengatakan...

Filmnya emang nggak jawab secara gamblang, tapi bisa dilihat kayak "seseorang akan tetap hidup melalui karya yang ia tinggalkan".

Billy Jean Files mengatakan...

WARNING
spoiler
spoiler
spoiler
spoiler

maaf sekali untuk perbedaan pendapat.
tapi saya tidak menikmati film ini setelah 1 jam pertama. dengan alasan sebagai berikut :

spoiler
spoiler
spoiler
spoiler
spoiler
spoiler
spoiler
spoiler

1. hype trailer yang berlebihan
2. mungkin sudah terjadi di dunia nyata (bahkan dimulai saat skandal review berbayar ign & gamespot), bahwa sebagian perusahaan game serakah SUDAH dan SEDANG menguasai industri game (dalam film ini vr). jadi tidak ada rasa mendesak jika tokoh jahat nya menang.
3. tokoh utama digambarkan sebagai tokoh yang paling "empati" terhadap halliday. nyatanya, setiap orang yang tenggelam dalam dunia vr, dan menganggap bahwa vr dan game adalah bagian penting dari hidup, adalah orang yang juga rata2 SAMA ber"empati"nya. they're all loners. nothing special with Z,, tapi dialog art3mis seakan2 Z lah yang paling terzalimi dan paling loner.
4. easter eggs di level terakhir tidak sebegitu spesialnya, jika anda juga loners dan ex gamers tahun 90an yang punya akses Internet dan youtube. paling tidak anda pernah membuka video "top greatest easter eggs in gaming history". jadi, bayangkan kecewa nya saya, ketika level terakhir terbuka, dalam benak saya "yahh, gua juga tau kali..".. tapi tetap, saya tidak menghujat para penikmat klimaks. karena mungkin hanya sebagian total nerd yang nganggur2 browsing2 easter eggs di youtube.
4. yang satu ini picky dan gapenting banget, slogan film ini referensi hiburan dan games 80 & 90an, tapi ada pasukan master chief dan tracer dari overwatch yang dari tahun 2000an. agak generation gap.
5. jika chara utama mampu beli holy hand grenade (yang main worms armageddon :) maka, perusahaan kaya pasti juga lebih mampu nyetok banyak. akibatnya, scene "divine intervention" nya sangat lemah.
6. true nerd, para pecundang dunia nyata asli, para pemenang dunia maya, TIDAK, sekali lagi, TIDAK AKAN pernah mengumumkan nama aslinya. hanya noob yang melakukannya. tapi art3mis bilang, parcival adalah orang paling nerd yang mengerti halliday, oh well......
7. film ini membuat saya salah kaprah, awalnya saya mengira referensi untuk gamers dan pop culture addicts tahun 80-90an. tapi saya rasa pop culture nya yang mengena, sisi gamers retro nya, tidak, atau belum.

Billy Jean Files mengatakan...

spoiler
spoiler
spoiler
spoiler
spoiler
spoiler
spoiler
spoiler
spoiler
spoiler
spoiler
spoiler


maaf lagi sekali lagi:
8. kalimat prolog yang menyatakan bahwa di dunia online, artifak lah barang sakti yang paling blah blah blah....

kalimat ini adalah premis cerita salah satu franchise serial ".hack", anime dan berbagai games .hack di ps2.

untuk casual gamers dan pop culture, tidak ada yang salah dari film ini, tapi opini pribadi saya berkata "meh, nothing i've never seen"

point terakhir, karena ke bias an saya terhadap spielberg, saya tak tega berkata film ini BIASA AJA. tapi akan saya bilang CUKUP MENGHIBUR.

Rasyidharry mengatakan...

@Billy
1. Merasa sebaliknya sih, trailernya buruk, at least teaser ya. Full trailer bagus, tapi biasa.
2. Justru karena hal seperti banyak terjadi, artinya relevansi filmnya tinggi.
3. Entah kalau ini. Karena saya sendiri nggak pernah menangkap ada maksud begitu di kalimat Art3mis.
4. Wajar, kalau ekspektasinya adalah sesuatu yang unpredictable. Tapi poin third act-nya lebih ke love letter, pengingat, daripada kejutan.
5. Nah ini emang termasuk plot hole.
6. Emang itu poinnya, saat jatuh cinta, semua jadi noob:)
7. Game kan bagian pop culture.
8. There's nothing wrong with that. Namanya juga tribute.

Syahrul Tri Ramdhani mengatakan...

What ? The shining juga masuk disini

abrori s. mengatakan...

maaf gan mau tanya, kenapa pas terakhir si wade nggak jadi ditembak sama musuhnya ?