ARINI (2018)

16 komentar
Bayangkan sebuah puzzle bergambar gajah. Hampir seluruh keping telah tersusun kecuali bagian belalai dan gading yang ternyata hilang. Tentu anda sudah bisa menebak bahwa itu gajah, namun ketidaktuntasan itu pastinya mengganjal. Lagipula esensi puzzle bukan menanyakan “gambar apa?”, melainkan bagaimana potongan-potongan kecil dapat membentuk satu kesatuan besar. Arini sama seperti itu. Film panjang kelima Ismail Basbeth (Another Trip to the Moon, Mencari Hilal) selaku adaptasi novel Biarkan Kereta itu Lewat, Arini karya Mira W. ini adalah puzzle yang tidak selesai.

Saya belum membaca novelnya, pula menonton film versi 1987 (berjudul Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat) yang menampilkan pasangan Widyawati-Rano Karno. Tapi saya bisa merasakan bahwa di balik presentasi 80 menit ini tersembunyi tuturan soal pemberdayaan wanita, hubungan beda usia yang berdampak pada interaksi berupa benturan pola pikir, kegelisahan tentang cinta, hingga beragam kompleksitas lain, termasuk yang ditampilkan melalui sebuah twist di pertengahan kisah. Sayang, semua tersembunyi terlampau dalam dan urung mencuat merasuki hati serta pikiran penonton.
Naskah buatan Ismail Basbeth dan Titien Wattimena (Dilan 1990, Hujan Bulan Juni, Salawaku) menerapkan teknik non-linier di paruh awal. Kita diajak maju-mundur mengamati Arini (Aura Kasih) di masa lalu dan kini. Timbul pertanyaan, mengapa di kedua masa yang terpisah 13 tahun itu sikap Arina bertolak belakang? Sama-sama diawali perjalanan di atas kereta (satu di Jerman, satu di Indonesia), Arini masa kini tampak dingin cenderung ketus. Walau sejatinya kebanyakan orang pasti bersikap sama kala didatangi pria asing macam Nick (Morgan Oey) yang mendadak minta bantuan untuk sembunyi karena naik kereta tanpa karcis.

Nick 15 tahun lebih muda dari Arini. Muda, riang, penuh semangat, juga gila. Kegilaannya terlihat ketika Nick tiba-tiba muncul di apartemen Arini. Ya, ia memiliki alasan jelas (selain jatuh cinta pada pandangan pertama), yaitu mengembalikan telepon genggam yang tertinggal. Tapi setelahnya, Nick menolak pulang, membawakan bunga, memaksa tinggal untuk makan malam. Di sini ketidaklengkapan puzzle tadi berpengaruh. Penggambaran bahwa Arini diam-diam mencari cinta dipaparkan kurang tegas. Arini seperti wanita yang gagal belajar dari trauma masa lalu dengan Helmi (Haydar Salishz) si mantan suami. Motivasinya kabur.
Arini berujung jadi satu lagi simplifikasi kisah cinta, kala suatu film memaksa penonton menerima sikap karakter atas dasar “cinta tidak peduli logika”. Arini dan Nick pun menghabiskan sehari bersama di Heidelberg. Pertemuan yang diakhiri kurang menyenangkan, sebelum filmnya melompat beberapa waktu ke depan sambil memindahkan setting ke Indonesia. Bisa ditebak mereka bertemu lagi, meski sukar dipahami alasan Arini begitu saja memaafkan Nick, bocah yang mencaci-maki hanya karena gagal meniduri wanita. Selanjutnya hubungan keduanya bergerak lebih cepat dari Shinkansen, minim eksplorasi di ranah proses.

Sukar mencintai romantika instan begini kalau bukan didorong penyutradaraan plus akting. Morgan tampil beda. Walau sesekali terlihat memaksakan untuk menjadi pemuda “ekspresif”, penampilannya menyenangkan disaksikan. Begitu pula Aura Kasih, yang menyimpan masalah serupa, yakni terlalu berusaha nampak dingin dan ketus. Menyatukan keduanya adalah penyutradaraan Ismail Basbeth yang sekali lagi berhasil menekankan olah rasa. Dibantu reka ulang lagu-lagu klasik seperti Mencintaimu dan Kaulah Segalanya (dibawakan Morgan dan Claresta), Basbeth memunculkan romantisme dari kehambaran naskah. Simak adegan ciuman pertama yang enggan terburu-buru, sabar membangun tahap demi tahap pertukaran rasa melalui saling tatap dua pemeran utama.

16 komentar :

Comment Page:
Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

mayoritas penonton anak muda or anak muda zaman old?

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

"Arini"-nya Rano Karno ada sekuelnya ya, Mas ? Apa mungkin "Arini" yang sekarang juga bakalan dibuat sekuel ? Pasti bakalan lebih kompleks deh tuh konfliknya.

dimas mukti mengatakan...

Pas Jogja dua bulan kemudian kirain masih di masa lalu. Gak taunya lagi di masa sekarang.. selebihnya oke sih.. Btw Arini bikin sesek napas pas di close up haha

Ungki Haeri mengatakan...

Chemistry-nya gimana nih Mas?


Btw,,projek "Dongeng Mistis" kapan rilis?

Rasyidharry mengatakan...

@Teguh campur sih kayaknya

@Pramudya Ada "Arini II" dulu. Kalau sekarang mau dibuat sekuel, kompleksitasnya jangan diilangin kayak film ini.

@Ungki tuh udah dibahas masalah chemistry yang kurang klop. Soal "Dongeng Mistis" belum bisa jawab. Rencana tengah tahun, tapi masih tunggu kabar dari 21. Doakan :)

Ungki Haeri mengatakan...

Ditunggu kabar selanjutnya Mas. All the best buat projeknya and can't wait to see...

Ungki Haeri mengatakan...

Ditunggu kabar selanjutnya Mas. All the best buat projeknya and can't wait to see...

Rasyidharry mengatakan...

Thanks! Tapi nggak terlibat banyak sih, pas post-production udah mau kelar. 😁

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

@Mas Rasyid Nah semoga aja Mas, apalagi kalo nanti yang nontonnya kids zaman old ada unsur yang diilangin aja pasti pada gak puas. Di sekuelnya nanti (kalo dibikin) kayaknya temanya jadi lebih dewasa ya, Mas ? Apa nanti kalo kids zaman now yang nonton bakalan bisa tetep nikmatin ?

Ungki Haeri mengatakan...

Soal terlibat banyak atau enggaknya gak masalah Mas. Yang penting kinerja dan ikut andilnya yang turut menyumbang terciptanya sebuah karya. Itu intinya sih Mas, hehe

Rasyidharry mengatakan...

@Pramudya Oh yakin sih versi yang sekarang ini, penggemar Rano Karno-Widyawati dulu pasti nggak puas. Well, kalau yang dimaksud dengan anak zaman sekarang itu fans Dilan, ya nggak suka.

@Ungki Mantap. Tunggu pembahasannya nanti kalau udah mau rilis

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

@Mas Rasyid Mungkin karena ada beberapa adegan atau unsur dalam novel yang gak dimasukin jadi kayak ada yang ngeganjal ? Gak cuman ditujuin ke fans Dilan aja sih, ya kayak remaja pada umumnya yang suka drama-romantis gitu, Mas. Apa relate-nya suatu film dengan kehidupan si penonton berpengaruh dalam menikmati film itu sendiri ?

Rasyidharry mengatakan...

Nggak berani komen soal kesesuaian novel, belum baca soalnya.

Oh jelas. Kadar menikmati film kan ditentukan sama selera + pengetahuan, 2 hal yang dibentuk dari pengalaman hidup.

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

@Mas Rasyid Hehehe, oke2 Mas. Oke makasih Mas buat petuah sama review-nya.

jefry punya cerita mengatakan...

Bang, ismail basbeth yg main grave torture kan ya? Kayaknya dia anak buahnya joko anwar. Btw biasanya novel mira w ada unsur seksualitas nya. Pernah baca novelnya yg sampai maut memisahkan kita.

Rasyidharry mengatakan...

Yap, yang jadi pocong. Tapi bukan anak buah juga sih. Beda "tongkrongan" 😁
Well di sini ada sih, tapi mild. Dan Nick berasa jadi cowok mesum doang