BEYOND THE CLOUDS (2018)

8 komentar
Jika The Color of Paradise (1999) diawali oleh kalimat “To the glory of God”, maka “In the name of God” membuka Beyond the Clouds. Saya lupa apakah film-film Majid Majidi lain seperti Children of Heaven (1997) juga demikian. Pun melihat judul-judul filmnya, ada kesan sang sutradara berkarya atas dasar ekspresi spiritual, atau bisa disebut berdoa. Bukan doa berupa permohonan, melainkan puja-puji, mengagungkan kebaikan yang selalu ada dalam hati manusia, sekecil apa pun itu, seburuk apa pun si empunya hati. Protagonis film ini misal, yang menurut perspektif umum, tentu kurang layak disebut orang baik.

Aamir (Ishaan Khatter) namanya, yang sehari-hari mencari nafkah sebagai kurir narkoba. Ketika sikap bengalnya membuat kesal seorang pentolan dunia hitam setempat, Aamir pun jadi buronan polisi. Tersudut, ia meminta bantuan sang kakak, Taara (Malavika Mohanan) yang dulu sempat ditelantarkannya. Masih besar sakit hati Taara, tapi sebagaimana ia menyediakan ruang khusus untuk burung-burung bernaung, Aamir pun diberi tempat berlindung. Berbeda dengan Taara, menolong secara cuma-cuma tampak begitu jauh dari jangkauan Amir dengan segala ego miliknya. Sampai hadir ujian, ketika membantu sang adik justru mendatangkan petaka bagi Taara.
Narkoba kepunyaan Aamir dia titipkan pada Akshi (Gautam Ghose), salah seorang rekan kerjanya. Malang, Akshi justru berusaha memperkosa Taara, memaksanya membela diri, memukul kepala Akshi dengan batu. Akshi sekarat. Apabila ia tewas, Taara bakal dipidana atas kasus pembunuhan dan mesti mendekam di penjara seumur hidup. Nasib yang tak jauh beda dibanding kematian melihat kondisi sel yang kumuh. Tentu ini pukulan untuk Aamir. Ketimbang membunuh Akshi guna membalas dendam, yang mana lebih mudah dia lakukan, Aamir mesti berharap pria brengsek itu selamat. Dilema, ironi, pula gejolak-gejolak batin lain campur aduk, menciptakan kompleksitas yang jarang Aamir alami mengingat selama ini dia hanya hidup memikirkan diri sendiri.

Situasi semakin rumit tatkala ibu beserta dua puteri Akshi datang menjenguk. Mereka miskin. Membayar biaya rumah sakit bakal menghabiskan seluruh harta, sementara mendengar perbuatan Akshi bisa seketika menghancurkan hidup mereka. Seperti kebaikan Taara terhadap burung-burung serta dirinya, Aamir memutuskan menolong keluarga Akshi. Di sini prosesnya mengais sisa-sisa kebaikan bermula, dan Majid Majidi, melalui kisah buatannya yang kemudian dituangkan menjadi naskah oleh Mehran Kashani (sebelumnya berduet bersama Majidi lewat The Song of Sparrows), berpesan bahwa sifat kemanusiaan selaras dengan kesedian berbuat baik pada sesama, yang nantinya akan dibalas kebaikan pula.
Kedua belah pihak mulai menjalin kedekatan, bahkan menghadirkan senyum tulus, yang sebelumnya bak sulit merekah di bibir masing-masing. Ada satu momen indah, saat keempatnya bergantian menyanyi dengan latar tembok rumah Taara yang penuh gambar pedesaan hasil coretan crayon warna-warni. Indah, karena di situ mereka berbagi kebahagiaan bersama. Sedangkan di kesempatan lain, sinematografi Anil Mehta kerap menampilkan karakternya berada di tengah keramaian, entah di antara karyawan laundry, kain-kain putih yang dijemur, hingga taman penuh merpati, yang menyulap setting Mumbai bak panggung petualangan berskala besar. Keberadaan A. R. Rahman (Slumdog Millionaire, 127 Hours) di departemen musik menjadikan petualangan itu kental nuansa kultural unik.

Walau mudah menebak akhirnya Aamir sadar, naskahnya enggan menyajikan transformasi instan. Beyond the Clouds tampil selaku gambaran proses, bukan perjalanan ajaib serba tiba-tiba. Bahkan melewati pertengahan kisah, sewaktu mayoritas film bertema serupa telah membawa tokoh utama ke penebusan dosa, Aamir masih menunjukkan sisi kelam mencengangkan. Karena realitanya, sulit berbuat baik apalagi dalam di posisi Aamir. Tidak ada yang mudah, termasuk bagi Tara. Biarpun menemukan secercah kebahagiaan, penjara bukan hal enteng, bukan pula tempat di mana senyum rutin merekah dan bulan bersinar terang. Beyond the Clouds memang positif, namun menolak tampil naif. Konklusinya sederhana. Cukup satu shot bermakna tanpa emosi bergelora yang tegas menyatakan pesannya. Lebih dari cukup, sebab pada titik itu, Aamir dan Taara sudah meruntuhkan kegelapan, rela berbagi kebaikan, kemudian menemukan kedamaian.

8 komentar :

Comment Page:
Ungki Haeri mengatakan...

Enjoy banget dari awal film sampai ending, berasa dekat dengan kehidupan nyata filmnya. Ishan Khatter ( adik Shahid Kapoor) ternyata piawai juga dlm berlakon, bisa sejajar dengan Varun Dhawan atau Siddharth Malhotra yang kini jadi idola para remaja. Seandainya Deepika Padukone gak out, makin gahar nih peran Taara. Tapi Mohanan di debutnya juga tak kalah kerennya, scene di penjara itu bikin luluh.

Rasyidharry mengatakan...

Haha belum lah kalo Siddarth Malhotra, soalnya nggak seganteng itu.
Pas kok, kalau pake Deepika, jadinya distraksi, soalnya jadi ada nama top nongol. Dan mau nggak mau, karena udah bayar mahal, porsi Taara kudu dibanyakin, padahal bukan fokus utama.

Ungki Haeri mengatakan...

Mungkin bisa kalo filmnya Dhadak bareng Janhvi (anak Alm. Sridevi) rilis, hehee. Soalnya tu film remake film tamil, Sairat. Yang populer karena ending yang begitu menguras air mata. Deepika out setelah proses shoot udah sebagian rampung, mungkin Deepu sadar ia bukan peran yang terlalu menonjol. Haha

Rasyidharry mengatakan...

Oh Deepika belum shoot. Itu screen test aja sehari, bagian proses casting. Majid sendiri yang bilang, someday pengen kerja bareng dia, tapi bukan di sini, yang buat dia nggak pas campurin aktor baru & berpengalaman.

Ungki Haeri mengatakan...

Kirain udah shoot itu, ternyata screen test tho. Matur suwun mas infonya...

pengamatfilm mengatakan...

bollywood bakal bersaing dgn hollywood, memang bukan dari segi glamor tapi dari karya

Aliando Bae mengatakan...

Tapi ada yg buat penasaran itu pas ending tara bisa keluar atau gak dari penjara

ide yanuar mengatakan...

iya sama gmna akhirnya tuh ya