BLACKMAIL (2018)

6 komentar

Blackmail bercerita soal Dev Kaushal (Irrfan Khan), pria paruh baya yang bertransformasi dari pegawai kantoran biasa—namun kurang bahagia—menjadi seorang kriminal, serta bagaimana satu keburukan kecil bakal menggiring pelakunya menujuk keburukan berikutnya yang jauh lebih besar. Dev menyesali pernikahannya, memilih pulang larut, bermain Pac-Man di kantor, sampai bermasturbasi memakai foto istri/pasangan rekan kerja yang diam-diam ia ambil dari meja mereka. Dengan kondisi tersebut, sebagai “budak korporat” kota besar yang penuh tekanan, tendensi Dev terjerumus pada tindak kriminalitas akibat kehilangan kesabaran dan kewarasan pun cukup besar tanpa perlu ada campur tangan kasus pemerasan.

Atas saran teman sekantornya, Anand (Pradhuman Singh), Dev berusaha menyegarkan lagi rumah tangganya dengan Reena (Kirti Kulhari) lewat pemberian kejutan. Pulang sambil membawa bunga, Dev justru mendapati sang istri tengah bersama pria lain. Namanya Ranjit, (Arunoday Singh), suami puteri pengusaha kaya, Dolly Verma (Divya Dutta), yang menikah hanya demi harta istrinya. Beberapa sekuen imajinasi—yang di menit-menit berikutnya bakal sering diulang—menggambarkan keinginan Dev menghabisi Reena dan Ranjit, tapi begitu teringat setumpuk tagihan yang meneror, niat itu diurungkan. Dev memutuskan memeras Ranjit kalau tidak mau perselingkuhannya terbongkar.
100 ribu rupee. Itu jumlah yang diminta Dev. Tidak terlampau besar, karena di samping memberi pelajaran, Dev memang hanya ingin melunasi tanggungan finansial. Namun, berpijak dari satu pemerasan ini, naskah buatan Parveez Sheikh dan Pradhuman Singh (penulis dialog) menyajikan komedi hitam berbasis situasi menggelitik tatkala pemerasan demi pemerasan berikutnya terjadi. Pelaku jadi korban, korban jadi pelaku, sementara uang yang dibayarkan terus berputar, berpindah tangan bak tanpa ujung. Para tokohnya kebingungan, begitu pula penulis naskah yang seiring bertambahnya jumlah pemerasan, terjebak dalam lingkaran setan berupa momen-momen repetitif yang perlahan kehilangan taring, serupa adegan “imajinasi Dev”.

Memaksimalkan potensi komedi hitam jauh lebih sulit ketimbang komedi biasa (yang sudah tergolong sulit). Bagaimana menyulap situasi yang sewajarnya menyulut emosi negatif—kematian, kekerasan, kesedihan—menjadi kelucuan jelas butuh kejelian pengadeganan sekaligus kepekaan. Mengawali karir lewat komedi hitam Delhi Belly (2011) yang membawanya memenangkan Filmfare Award untuk kategori “Best Debut Director”, Abhinay Deo nyatanya masih keteteran di beberapa kesempatan, sehingga daya bunuh banyak humor gelapnya surut. Berbeda dengan Irrfan Khan yang tampak meyakinkan memerankan pria kantoran biasa yang tidak berdaya, tersudut, dan sewaktu ia menjalankan aksinya, saya pun bersedia berdiri di belakangnya.
Blackmail turut melanjutkan pencapaian banyak tontonan Bollywood yang semakin piawai menyentil isu-isu sosial. Secara gamblang, kita dibawa menyaksikan 4 pemerasan, tetapi di balik itu, secara tersirat, muncul bentuk-bentuk pemerasan lain yang sejatinya lebih jamak kita temui di keseharian. Pihak pemerintah daerah yang meminta sejumlah besar uang suap, detektif swasta yang mematok harga luar biasa tinggi, sampai perusahaan yang alih-alih memberi kenaikan gaji atau minimal bonus justru memaksa karyawannya bekerja lebih keras tanpa imbalan lebih. Seluruhnya adalah pemerasan dalam wujud yang berbeda. Sementara lewat kehidupan karakter Dev, kita diajak mengintip kondisi karyawan swasta kelas semenjana di kota.

Sempat berlangsung repetitif di pertengahan, untungnya perjalanan hampir dua setengah jam—tepatnya 139 menit—ini ditutup oleh konklusi memuaskan berkat naskah yang telaten merajut deretan trik dalam rencana kompleks penuh bumbu kejutan yang menyatukan berbagai poin plot dengan cerdik ditambah cara bertutur rapi dari sang sutradara. Blackmail adalah soal kompetisi kecoh-mengecoh, tipu-menipu, dan saling makan, tidak jauh beda dengan Pac-Man yang nyaris tiap malam Dev mainkan. Sekali seseorang berbuat keburukan, tinggal menunggu waktu hingga keburukan-keburukan berikutnya menyusul. Blackmail memperlihatkan itu.

6 komentar :

Comment Page:
Ungki Haeri mengatakan...

Selalu suka pembawaan karakter Irrfan di setiap filmnya. Sayang film "Sapna Didi" tentang gangster India wanita bersama Deepika Padukone harus di tunda karena penyakit langka yang di derita Irrfan. Get Well Soon Irrfan Khan...

Jackman mengatakan...

Bukan aktor favorit
Tapi sering nonton film2 Irfan Khan
Dan rata2 cukup memuaskan
Terakhir nonton filmnya: Hindi Medium

Blackmail ini tayang di bioskop Indo juga ya min?

Antoni Toni mengatakan...

Film kelas B ya?

Rasyidharry mengatakan...

@Jackman Tayang dong, ini makanya di-review :)

@Antoni Nggak lah, Irrfan Khan sekarang masa bikin B-Movie.

Budi Nurdin mengatakan...

Wah ane udah lama gk nonton film India -terakhir nonton PK-.....

Bang Raysid udah pernah nonton "Pather Panchali"? reviewnya kayanya bgs.....

Rasyidharry mengatakan...

Coba deh nonton, makin keren film India sekarang ini.

Nah belum itu, belum banyak film India jadul yang ditonton.