HALO MAKASSAR (2018)

14 komentar
Kalau film sama seperti agama, di mana niat baik telah mendatangkan pahala, saya akan memberikan Halo Makassar penilaian positif. Film buatan Ihdar Nur yang sebelumnya menjabat sebagai penata kamera di Uang Panai’ (2016) ini tanpa intensi macam-macam. Tidak ada tuntutan berpesan moral, tidak ada propaganda, tidak ada pula niatan sok artsy. Menulis naskahnya bersama Matamatahari, Ihdar Nur cuma ingin menghibur (bedakan “menghibur” dan “jualan”) lewat kisah cinta berbumbu komedi. Tapi film bukan agama. Niat baik saja tak cukup, sehingga saya harus adil mengakui bahwa kekurangan Halo Makassar menenggelamkan kelebihannya.

Seperti Uang Panai’, talenta komedi berbakat mengisi film ini. Tapi seperti Uang Panai’ pula, naskahnya tak sanggup menyatukan keping-keping komedi secara rapi, agar tak terasa bak kompilasi sketsa. Pun sketsanya memakai formula yang terus diulang: Dua sopir taksi, Bimbi dan Mellonk (diperankan Bimbi dan Mellonk) bertingkah bodoh, seringkali terlibat pertengkaran konyol, sebelum diakhiri bunyi klise “Ba Dum Tss”. Lucu? Di beberapa kesempatan, ya. Meski dengan talenta Bimbi dan Mellonk, daya bunuh humornya berpotensi meningkat bila berani menambah tingkat absurditas.
Dua adegan pendek yang tampil sebelum logo rumah produksi membuat saya makin mempertanyakan pilihan struktur filmnya.  Salah satu adegannya jadi perkenalan penonton pada Diat (Rizaf Ahdiat), komposer jenius asal Jakarta yang baru menerima pekerjaan membuat musik dari satu perusahaan di Makassar. Perusahaan apa? Musik untuk apa? Jangan berharap mendapat jawaban. Sebab Diat pun hanya dihubungi via telepon, yang menanyakan, apakah ia mau menerima pekerjaan di Makassar? Tanpa menggali informasi lebih jauh, dia langsung mengiyakan. Diat memang tak suka basa-basi. Bahkan dalam pertemuan pertama di kantor klien, ia bersikap tak acuh, sibuk dengan alat perekamnya, lalu melontarkan pernyataan sombong bahwa “musik bagus itu biasa”.

Tapi Diat tak membenci sosialisasi. Keramahannya pada puteri pemilik studio rekaman yang masih kecil jadi bukti. Penokohannya memang penuh tanda tanya. Satu hal pasti, suara Anggu (Anggu Batari), operator taksi yang diidolakan penumpang karena celotehan lucunya, meluluhkan hatinya. Diat pun sibuk merekam suara Anggu, melupakan kewajibannya membuat musik. Cara bicara Anggu Batari mampu mengingatkan pada pengalaman terpikat suara penyiar radio, yang saya yakin, pernah dialami kebanyakan laki-laki. Ditambah polah lucu yang memancarkan aura positif plus senyum manis penyingkap gingsul, Anggu berjasa meniupkan rasa manis dalam romansa dua orang asing ini.
Anggu mulai menyadari ketertarikan Diat ketika alat rekam sang komposer handal asal ibukota itu tertinggal di taksi. Anggu menemukannya, tapi melanjutkan pola naskah Halo Makassar yang penuh tanda tanya soal motivasi karakter, ia menunda mengembalikan perekam itu. Apabila ia mempertanyakan intensi Diat, bukankah lebih baik segera mengembalikannya lalu bertanya langsung atau melaporkannya pada bos? Keputusan Anggu membuatnya diskors selama tiga hari, mengakibatkan taksi-taksi kesulitan memperoleh penumpang, sebab suara Anggu adalah hal yang mereka nantikan. Logis? Tentu tidak. Namun masalahnya bukan soal logika, melainkan kegagalan menjadikan situasi itu kekonyolan absurd selaku bentuk penolakan Halo Makassar menuruti logika.  
Kekurangan naskahnya terulang di babak akhir yang buru-buru, nihil puncak emosi dari momen yang telah dibangun sepanjang durasi. Tapi saya tidak terkejut. Pasca mendapati berbagai kelemahan sebelumnya, mestinya penonton bisa mencium gelagat kelemahan yang satu ini. Justru tata suaranya yang amat disayangkan. Memiliki tokoh utama seorang komposer yang mencintai wanita karena suaranya, telinga saya justru kerap terganggu oleh departemen suara, apalagi saat musik menampilkan distorsi gitar.   Benar jika Halo Makassar belum bisa disebut baik. Tapi saya mengajak anda menontonnya, sebab dengan intensi murni (baca: menghibur) pembuatnya, makin besar dukungan publik, saya yakin kualitas karya bakal bertambah.

14 komentar :

Comment Page:
Roy Mudblood mengatakan...

Jika film indonesia adalah bollywood. Maka saya berharap film makassar seperti film tamil yang lebih banyak menghasilkan film yang lebih berkualitas dari pada bollywood. Ini adalah harapan.

Mansur mengatakan...

kualitasnya naik dari uang panai nggak mas? menurut mas gimana prosepek film makassar kedepannya?

Rasyidharry mengatakan...

@Roy Harapan saya sih kualitas bisa merata. Susah, tapi namanya harapan 😊

@Mansur Komedi lebih oke Uang Panai', romance lebih manis Halo Makassar. Prospek cerah asal konsisten progres dan memperluas referensi.

Fadly mengatakan...

dari segi teknis(grading,sound design dll) gimana bang? hampir semua film "daerah" kurangnnya disitu.

Rasyidharry mengatakan...

Tuh soal sound udah dibahas. Teknis emang masih mentah, tapi kekurangan yang sangat bisa diperbaiki ke depan seiring pengalaman (dan duit) yang tambah.

Amril Nuryan mengatakan...

Mewakili team produksi mengucapkan banyak terima kasih atas Reviewnya yang mendalam, kami sangat membutuhkan masukan masukan positif seperti ini sebagai evaluasi atas kekurangan dalam karya teman2 di Makassar. Semoga perbaikan demi perbaikan terus bisa kami lakukan kedepan..
Salam karya

Rasyidharry mengatakan...

@Amril sama-sama. Terlepas kekurangan (yang akan selalu ada), selalu apresiasi teman-teman Makassar yang berkarya atas dasar kecintaan akan karya itu. Good luck!

Wawan Kurn mengatakan...

mari dukung film Makassar!

Anonim mengatakan...

dibanding uang panai tata suaranya bagusan mana kak?

Rasyidharry mengatakan...

Nggak jauh beda, tapi di Halo Makassar, suara kan pegang perang vital, jadi lebih berasa kalau nggak oke.

Lucass mengatakan...

Saya mau nanya mas tentang film phantom thread soalnya kalo komen di kolom fikm nya tkutnya engga kebaca, mnurut saya film nya cukup bagus cuma saya kurang nangkep apa yang dimaksud dengan momen menusuk tentang racun diakhir, mungkin saya terlewat, tapi tolong minta pnjelasannya dong mas rasyid biar lega sama pnjelasan dikit kseluruhan inti ending nya

Rasyidharry mengatakan...

Intinya "Toxic Love". Pasangan itu tahu kalau mereka sama-sama pernah dan bukan nggak mungkin ke depannya saling menyakiti, tapi nggak peduli, bahkan bisa jadi itu yang menyatukan. Nggak jauh beda sama "Posesif" sebenernya. Tapi kalau dilihat lebih jauh, bukannya pasangan emang selalu saling menyakiti kan? Dan seringkali itu yang merekatkan cintanya. Well, at least menurut PTA ya :)

Ryan Valent mengatakan...

di bts saya liat ada greenscreen. gimana visualeffect nya film ini bang?

Rasyidharry mengatakan...

Wah nggak merhatiin soal green screen. Mungkin emang halus, atau muncul di adegan yang efeknya nggak perlu halus, jadi kasar pun nggak peduli