DIMSUM MARTABAK (2018)

16 komentar
Meniliki judulnya, wajar mengira Dimsum Martabak adalah suguhan foodporn penuh pertunjukan masak-memasak dan menyajikan makanan, yang berkat estetikanya, tak cuma menyegarkan mata, juga memancing kucuran air liur. Tapi tidak. Sutradara Andreas Sullivan (Revan & Reina, Sawadikap) enggan mengedepankan itu, atau mungkin telah berusaha, namun karena ia dan Fachmi J. Saad (Hongkong Kasarung, Winter in Tokyo) selaku penata kamera kurang mumpuni, target yang dicanangkan urung tercapai. Dimsum dibuat, martabak disajikan, tapi seluk beluk pengolahan hanya terjadi di belakang layar, membuat produksi kedua RA Pictures ini belum layak disebut foodporn.

Dimsum Martabak cenderung menyusuri jalur yang dibentangkan formula klasik “Kisah Cinderella”, di mana gadis (atau puteri) miskin bertemu lelaki (atau pangeran) kaya, meski ketimbang kuda putih, sang pangeran kini menunggangi truk martabak kuning kemudian Ferrari merah. Walau untuk menyebut Mona yang diperankan Ayu Ting Ting, dengan riasan lengkap apik, bukan norak, yang senantiasa menghiasi wajahnya sebagai “gadis miskin” terasa sulit dipercaya. Tidak peduli ia sekedar pelayan terpercaya di restoran milik Koh Ah Yong (Chew Kin Wah) yang menyajikan dimsum sebagai menu andalan.

Jika Mona adalah “si dimsum”, maka siapakah “si martabak”? Perkenalkan Soga (Boy William) yang menjual martabak memakai truknya bersama Dudi (Muhadkly Acho). Dodi, sebagaimana contoh sidekick yang baik, mampu mencuri perhatian melalui celotehan-celotehan serta tingkah menggelitik, yang jadi motor paruh pertama filmnya, menghadirkan hiburan ringan menyenangkan sebelum dimsum dan martabak bersatu. Pada romansa berbasis “kisah Cinderella” begini, tiga fase patut diperhatikan: 1) Bagaimana kedua protagonis mulai saling terpikat walau ada jurang perbedaan, 2) Bagaimana cinta keduanya menguat, 3) Bagaimana perbedaan tadi membuat keduanya ragu bisa terus bersama sebelum dipersatukan kekuatan cinta. Penonton harus dibuat yakin oleh ketiga fase di atas.

Fase pertama terjadi kala Mona, yang kebetulan di suatu malam mengenakan baju yang lebih bagus dari biasanya, menyeberang jalan dan nyaris tertabrak truk milik Soga yang hanya mampu diam terpukau, sementara Mona, meski terkejut karena nyaris celaka, merespon setenang mungkin, sembari tersenyum memasang lirikan cantik. Tidak mengherankan. Dia adalah gadis yang terbangun pukul 1 dinihari memakai riasan lengkap termasuk bulu mata lentik. Dibalut gerak lambat, pertemuan pertama dua sejoli tak bisa “lebih sinetron” dari ini.

Singkat cerita, kecemburuan istri kedua Koh Ah Yong menyebabkan Mona dipecat, dan karena Soga telah terpikat, mudah baginya menerima Mona bekerja di warung martabaknya sebagai perancang sistem. Dalam sebuah adegan yang jelas terinspirasi (kalau enggan disebut mengambil) dari The Founder (2016), Mona mengajarkan sistem buatannya di tengah lapangan yang digambari menggunakan kapur. Bedanya dengan film biografi Ray Kroc itu, adegan versi Dimsum Martabak takkan membuatmu terpukau, karena ide Mona sekedar common sense ketimbang terobosan jenius, pun pengemasan Andreas gagal menjadikannya momen intens yang melibatkan penonton dalam proses perencanaan.

Rasanya tidak mengejutkan saat saya menyebut duet Ayu-Boy kekurangan chemistry. Keduanya sebatas pasangan berparas rupawan tanpa jangkauan emosi luas yang diperparah penokohan dangkal dari naskah buatan Alim Sudio (Kuntilanak, Ayat-Ayat Cinta 2). Mona adalah gadis sederhana yang memahami sistem warung makanan, Soga adalah bocah kaya yang menolak meneruskan bisnis ayahnya (Ferry Salim) demi impian pribadi. Itu saja. Nihil karakterisasi spesifik pemberi daya tarik kala berinteraksi. Memang sulit berharap pada naskah yang dalam dialognya menulis “pesan order” dan “paling terberat”. Walau bukan tak mungkin dua istilah ajaib itu dikarang sendiri oleh Ayu, sebagai contoh betapa ia masih kerepotan menangani kalimat-kalimat pada debut layar lebarnya.

Konflik puncaknya sederhana, bahkan berjalan datar hasil penyutradaraan Andreas yang kurang piawai membangun dinamika dramatis juga ketidakmampuan naskah menyelipkan permasalahan kompleks yang ditutup oleh resolusi kental penggambangan. Babak akhirnya berpindah ke setting berbeda, tapi saat itu saya sudah kesulitan membuka mata. Ya, ini lebih pantas ditayangkan di televisi, tapi kalau anda tak mengharapkan tontonan bergizi, filmnya masih menjadi hiburan yang layak dengan segala keklisean dan elemen cheesy miliknya. Masalah terbesar bukan terletak di kedangkalan maupun kebodohan cerita, melainkan ketiadaan dinamika. Dimsum Martabak bukan bencana. Cuma santapan membosankan.

16 komentar :

Comment Page:
mukhlis galaxy mengatakan...

hmmm. istikhfar aja deh.
udh 3 film tp blm insyaf2

Taufik Adnan Harahap mengatakan...

Kayaknya emang gk worth it buat d tonton ya, d suasana lebaran yg harusnya gembira ntar keluar bioskop bengong 😁🙊

Rasyidharry mengatakan...

@mukhlis 3 film? Apaan aja?

@Taufik Kecuali fans berat Ayu Ting Ting, mending lewat deh.

mukhlis galaxy mengatakan...

rafatar, susterngesot, sm film ini

Rasyidharry mengatakan...

@mukhlis Oh iya Rafafthar waktu itu masih pake nama RNR Movies sih, belum RA pictures, jadi nggak kepikiran :D

Samarinda mengatakan...

Sy blm ntn. Bagaimana dg akting aktris peraih 3 piala citra dan pila vidia, Meriam Bellina? Apa dapat chemistry sbg ibu dan anak dg Ayu?

Rasyidharry mengatakan...

@Samarinda Biasa aja, karena karakter mereka emang bukan ibu-anak yang "dekat". Tapi secara individu Meriam Bellina bagus.

Samarinda mengatakan...

Makasih review nya om

Anonim mengatakan...

untung bahasa mas rasyid masih agak halus ya nge-review film ini. kalo pake kata2 terang2an dan agam frontal nanti diserang bala jaer bisa2 ��

Vian mengatakan...

Saya belum nonton sih. Tapi terlepas dari bagaimana ceritanya, saya ingin lebih membahas departemen castingnya. Begitu banyak aktor/aktris televisi yang telah punya jam terbang tinggi layar kaca tapi tidak pernah berkesempatan main di layar lebar. Alasannya karena sutradara ingin cari aman dengan aktris yang itu2 aja, atau "takut" filmnya jadi bercita rasa sinetron.

Tapi anehnya banyak selebritis infotainment atau artis yang tadinya bukan pemeran, yang masih miskin pengalaman akting, malah ditawari main di layar lebar (yang terhitung bukan ecek2 terlepas reviewnya akhirnya bagus atau kurang/jelek).

Memang beberapa dari mereka terbukti bagus dan mampu membuktikan kapasitasnya, sebut saja Lala Karmela (penyanyi), Putri Marino (host MTMA), bahkan Prilly (pemain sinetron yang sebelumnya lebih dikenal karena gosip). Dan sekarang Ayu Ting Ting, penyanyi yang nyelebnya minta ampun, yang barangkali dia ngupil aja bisa jadi bahan berita (di sini saya ga bilang Ayu bagus ya, karena belum nonton filmnya).

Tapi kenapa saat menyebut pemain sinetron, rasanya mereka "jauh" sekali dari kesempatan berlayar lebar? Di tahun ini memang ada beberapa yang mulai main layar lebar seperti Teddy Syach dan Nafa Urbach (ironis, padahal mereka sudah jadi pemeran lebih dari 2 dekade), tapi itu baru segelintir. Kenapakah? Apakah sutradara takut mereka membawa imej sinetron ke dunia film sehingga filmnya juga jadi "sinetronish"? Padahal mereka ada di jalur yang sama, yaitu AKTING, bukan nyanyi atau ngehost.

Tapi kenapa giliran selebritis sapi perah para jurnalis infotainment, para sutradara tak ragu memberi kesempatan? Apa semata2 karena nama besar supaya BANYAK PENONTON dan bisa syukuran karena balik modal?

Sekali lagi di sini saya tidak mempermasalahkan selebriti non-akting yang diberi kesempatan main film, karena beberapa dari mereka terbukti memang bertalenta. Tapi cobalah beri kesempatan pada pemeran televisi, terutama mereka yang sudah bertahun2 mengabdi di dunia seni peran meski lewat medium sinetron yang notabene sering dipandang negatif. Tak perlu jadi pemeran utama kok. Misal Moudy Wilhelmina jadi pemeran mama, Lucky Hakim jadi pemeran papa... atau sekali2 coba sandingkan Tara Basro dengan Marshanda, misalnya, atau Dian Sastro dengan Tia Ivanka, tentunya akan jadi suguhan langka dan mengundang rasa penasaran

Aduh maaf komen saya sudah terlalu OOT. Sebenarnya ingin sekali mengeluarkan unek2 ini sejak dulu, dan saat saya lihat ATT main film, saya rasa bisa jadi "excuse" untuk mengeluarkannya. Hehe. Iri? Ah, nggak kok. Di sini saya hanya duduk di kursi penikmat, tidak pernah ada keinginan naik ke panggung akting.

Thanks sebelumnya Mas Rasyid. (semua gara2 Ayu Ting Ting, sih)

Rasyidharry mengatakan...

@Vian Haha ini topik menarik nih. Sebenernya mayoritas aktor besar kita awalnya dari tv lho, Reza, Vino, Abimana, Prisia, semua dari sinetron/FTV. Dan bener, banyak pemain sinetron potensi gede, contoh Aliando. Dia kalau digarap sutradara oke, yakin hasilnya bagus.

Jadi sebenernya kalo dibilang pemain tv nggak dikasih kesempatan kurang tepat juga. Malah kalo dilihat dari potensi jumlah penonton, gede banget. Lihat aja film-film screenplay.

Tapi emang ada beberapa hal yang mengganjal produser/sutradara buat ambil pemain sinetron:
1. Takut imej film jadi sinetronish, tapi ini alasan yang (setahu saya) paling jarang.
2. Masalah jadwal. Kecuali si pemain mau total stop sementara dari sinetron yang stripping, susah atur jadwalnya.
3. Fee. Karena udah punya nama di tv means bayaran melonjak. Masalahnya, untuk nama yang belum terbukti bankable di film, agak riskan mengiyakan gaji selangit.
4. Buat aktor, susah menghilangkan gaya akting yang terlanjur terbentuk sesuai kebutuhan sinetron. Walau sama-sama depan kamera, gaya tetep beda. Banyak yang mentok di casting & screen test.
5. Kenapa lebih prefer yang potensial tapi nol pengalaman akting daripada potensial dan pengalaman tinggi di tv? Karena agak nyerempet ke poin 4, ibaratnya, gambar di kertas kosong itu lebih gampang dari yang udah ada isinya.
6. Soal Ayu Ting Ting sih karena produsernya Rapi Amat hahaha.

Unknown mengatakan...

Aku penasaran banget sama ini film karena suka banget sama trailer nya. So sweet banget plus didukung soundtrack nya yg aku suka sampe sekarang. Ditambah aku follow official account nya dimsum martabak, tambah penasaran lah aku sama mona dan soga ini. BuUUUTTTTTT.... Pas nonton. Sorry to say, ini semacam kya FTV tapi versi layar lebar. Kecewa? Banget! :'( sorry... Acting nya juga B aja dan chemistry nya gak se keren waktu di trailer. Pokoknya.. Ya gitu

Heru Pramono mengatakan...

Tapi Tia Ivanka sama Jeremy Thomas udah mulai merambah film ya.

Rasyidharry mengatakan...

@Heru Wah Tia Ivanka di film apa ya? Kalo Jeremy Thomas dari 2015, di Tiger Boy-nya Nayato.

Heru Pramono mengatakan...

Tia Ivanka kalo gak salah main di film produksinya RA yang baru. Judulnya lupa, Haunted apa gitu. Soalnya sekilas di teasernya ada dia. Sama Jeremy Thomas juga.

Rasyidharry mengatakan...

@Heru Oh "13: The Haunted". Nggak ngeh, teralihkan sama Mikha Tambayong & Valerie Thomas.😂