DOA (DOYOK-OTOY-ALI ONCOM): CARI JODOH (2018)

11 komentar
Sebuah adegan di trailer memperlihatkan Mang Ujang (Ence Bagus) si penjual kopi mengomel sementara kopi mengucur dari mulutnya. Di film, ketika Mang Ujang hendak mengulangi perbuatan sama (membuat kopi dalam mulut alih-alih cangkir), Ali Oncom (Dwi Sasono) menyela dengan berkata “Jangan diulang Bang, yang tadi aja nggak lucu”. Ucapan Ali sebenarnya bisa ditujukan bagi keseluruhan DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh, selaku komedi yang keliru menyamakan definisi “lucu” dengan “aneh” dan “absurd”.

Saya ambil satu lagi adegan dari trailer ketika Doyok (Fedi Nuril) ditelepon oleh mendiang sang ibu (Yati Surachman), yang muncul dalam wujud pocong. Doyok diminta agar cepat mencari jodoh, lalu bermuara pada adegan musikal di mana Doyok menyanyikan Cari Jodoh milik Wali, berlagak bak rock star, sedangkan sang ibu bersama pocong-pocong lain jadi penari latar. Daripada seru dan lucu, saya malah dibuat kebingungan. Saya mesti merespon bagaimana? Musikal berikutnya, walau tak sebegitu aneh, tampil datar dalam kemasan medioker. Entah apa alasan mengganti lirik lagu-lagunya, yang alih-alih lucu justru mengurangi hook lagu. Padahal lagu tema, yang telah lebih dulu mengiringi serial animasi televisinya, luar biasa catchy.

Mengadaptasi komik strip rubrik Lembergar (Lembar Bergambar) milik harian Pos Kota, film ini mengisahkan persahabatan tiga pengangguran: Doyok, Otoy (Pandji Pragiwksono), dan Ali Oncom. Otoy selalu jadi sasaran kemarahan istrinya, Elly (Nirina Zubir) akibat hanya bermalas-malasan, Ali Oncom gemar menggoda wanita walau telah memacari Yuli (Jihane Almira), sedangkan Doyok, masih melajang. Otoy dan Ali Oncom pun tergerak mencarikan kawannya jodoh melalui berbagai cara. Salah satunya lewat situs “Minder”. Ya, satu lagi humor plesetan merk yang bagai kegemaran Anggy, yang kali ini tak hanya menyutradarai, pula menulis naskahnya bersama Fico Fachriza.

Tapi plesetan di atas masih lebih baik daripada 2 gaya komedi yang diandalkan film ini, yaitu 1) Komedi absurd yang dibuat seabsurd serta seaneh mungkin, dan 2) Komedi jorok yang dikemas, well, sejorok mungkin. Namun seolah tidak ada yang berusaha dijadikan selucu mungkin. Seberapa absurd? Bayangkan Anggy Umbara, tampil sebagai cameo, memerankan juri lomba debat bernama Manoj P., yang membuka perlombaan dengan teriakan “Action!”. Seberapa jorok? Pada satu titik, kita diserbu humor berlandaskan alat kelamin yang menampilkan penis salah satu tokoh terjebit dua kali. Anggy memang liar. Saat keliaran itu tersalurkan secara tepat dan terkontrol, ia mampu melahirkan kreativitas tinggi. Sayangnya tidak di sini. Biar seorang sutradara aksi yang bagus, Anggy bukan sutradara komedi mumpuni. DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh adalah bukti nyata.

Karena bagaimana bisa sebuah film amat tidak lucu ketika diisi nama-nama bertalenta? Selain materi lemah, fakta bahwa pemeran pendukung tampil lebih solid ketimbang mayoritas pemain utama merupakan salah satu faktor. Ketika Dwi Sasono, dengan riasan yang membuatnya sulit dikenali, memikat berkat kemampuan menciptakan tawa unik, Pandji adalah Pandji seperti biasa, hanya gaya rambut aneh plus perut (lebih) buncit yang membedakan. Kemudian Fedi Nuril, meski mengenakan gigi tonggos palsu sembari menyindir Fahri si pujaan wanita yang ia perankan di Ayat-Ayat Cinta, jelas belum sepenuhnya piawai berkomedi. Berbeda dengan deretan pemain pendukung, khususnya para wanita. Nirina yang masih ahli mengoceh bak lesatan peluru, Titi Kamal dengan cara bicara dan gerak bibir aneh, sampai Laura Basuki yang menggila, menjaga filmnya dari kehancuran total.

Dan kita pun tahu pasti gaya khas Anggy Umbara. Dia takkan membiarkan DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh berakhir sebagai film mengenai pencarian jodoh berlatar kehidupan masyarakat kampung kelas menengah ke bawah semata. Sehingga, third act-nya, melompat ke satu lagi twist berkonsep tinggi yang menggiring kita menuju klimaks berupa baku hantam sarat kekacauan. Ketika saya berpikir Anggy mulai mampu mengontrol dosis keliaran eksplorasinya untuk dipakai seperlunya seperti dalam Insya Allah Sah 2, sang sutradara justru menghasilkan absurditas berikutnya, yang juga karya terburuknya sejak Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015).

11 komentar :

Comment Page:
Warna Tekno mengatakan...

dari judul, poster, dan trailer udah kebayang betapa cringe-nya film garapan sutradara komersil ini...

Zamal mengatakan...

Waw...skip berarti ..tinggal nunggu review sesat nih akan seperti apa

Banumustafa24 mengatakan...

Waduh, hehehe. Emang benar sih, bang. Rada aneh juga komedinya, Laura Basuki lagi -_-

Panca Sona mengatakan...

Wah ada Laura Basuki juga jadi pengen tetep nonton sih..tapi ya gatau juga.. :D
Ini survey random saya aja sih tanpa sentimen negatif.. mungkin gak sih film2 yg ada pandjinya jadi agak "kurang" gitu..

Rasyidharry mengatakan...

@Warna Judul & posternya udah pas sebenernya, menyasar target pasar yang sama kayak komik stripnya.

@Zamal So far mix, ada yang bilang unsur horornya sampah, ada yang bilang oke di storytelling.

@Banu Untung Lauranya gila. Ck.

@Panca Wah pertanyaan menjebak haha. Nggak kok, so far Pandji nggak pernah jadi alasan utama film jelek. Kecuali Partikelir karena directing & skripnya lemah.

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

unsur penolongnya laura basuki memang

tegar gallantry mengatakan...

Jujur, gw orang yg sangat tidak antusias dgn film2nya anggy umbara, dgn absurditas total comic 8 dan kekacauan warkop reborn, gw sdh berjanji pada diri sendiri utk gak buang duit nonton film2nya anggy, bwt gw sama aja kaya nontn film2nya kk dheraj atau nayato, lebih baik anggy kembali lg ke belakang dj set dan metal2an lg sama purgatory

Rasyidharry mengatakan...

@tegar Nggak sampai sekelas KKD & Nayato lah. Anggy ini asal pas lagi pas takarannya, potensial. IAS2 paling pas dan oke. 3 bagus, Warkop 1&2 cuma urusan beda taste dan banyak penonton yang akrabnya sama Warkop era Soraya.

Raid Mahdi mengatakan...

Zack Snydernya Indonesia, kalau naskahnya sampah filmnya sampah, kalau naskah bagus filmnya bagus

saat santoso mengatakan...

Wah padahal sempet antusias ama nih film..

Rasyidharry mengatakan...

@Raid Ya karena Zack & Anggy prinsipnya sama: style over substance