DUKUN (2018)

5 komentar
Di tengah persidangan, Karim (Faizal Hussein) selaku pengacara, bertanya, “Siapa di sini percaya ilmu hitam?”. Hampir semua peserta sidang mengangkat tangan. Sebagaimana kita, perihal mistis memang lekat dengan kehidupan masyarakat Malaysia. Beberapa menyebutnya kepandiran dalam era modern, tapi saya melihatnya sebagai aspek kultural unik yang mempunyai fungsi. Seperti saat Dain Said (Bunohan: Return to Murder, Interchange) menjadikan Dukun karya “eksklusif” yang takkan bisa direplika sineas negeri Barat sehebat apa pun. Aspek supranatural bukan jadi alat penghasil teror saja, melainkan bagian penting narasi, pula bagian kehidupan karakternya.

Dukun sendiri terinspirasi dari kasus nyata pembunuhan Mona Fandey, dukun sekaligus mantan penyanyi yang membunuh kemudian memutilasi tubuh salah satu kliennya, politikus Mazlan Idri, menjadi 18 bagian pada 1993 selaku bagian ritual. Selepas proses persidangan yang menarik animo seantero negeri, Mona dihukum gantung tahun 2001. Keterlibatan nama-nama besar serta konten kontroversial tersebut membuat Dukun terhalang perilisannya yang awalnya dijadwalkan pada 2007. Setelah 11 tahun tanpa kejelasan, Dukun akhirnya tayang.

Skenario buatan Huzir Sulaiman sejatinya hanya mengadaptasi lepas, walau beberapa unsur jelas masih serupa. Pilihan itu akhirnya membuka jalan kisahnya mencampurkan elemen tiga genre: investigasi kasus pembunuhan, thriller ruang persidangan, dan horor supranatural. Menariknya, elemen yang disebut terakhir justru porsinya paling minim, meski nuansa supranatural kental menyelimuti tiap sisi cerita, sehingga membuat tiap cabang alur tetap saling terikat.

Nama Mona Fandey diganti Diana Dahlan (Umie Aida). Jauh berbeda? Tidak saat anda tahu jika album debut Mona dahulu mengusung judul Diana I. Sejak awal kita bertemu Diana, ia telah mendekam di penjara pasca menghabisi sang klien, Datuk Jefri (Adlin Aman Ramlie), dengan tenang menanti dakwaan, sembari selalu menolak jasa pengacara. Sampai pengacara ke-24, Karim, menawarkan diri demi memperoleh informasi soal puterinya yang hilang. Kali ini Diana beredia. Di tempat lain, Talib (Nam Ron) dan bawahannya, Shah (Bront Palarae) dari kepolisian, sedang menyelidiki kasus tersebut lalu menemukan setumpuk rahasia kelam nan mengerikan.

Perlahan ketiga cabang itu bertemu, memuncak di suatu twist seputar hubungan terselubung antar-karakter yang terasa beralasan juga masuk akal, berbeda dengan kebanyakan film yang cuma mengandalkan kebetulan dipaksakan. Satu lagi bukti solidnya penulisan Huzir Sulaiman, meski di banyak kesempatan, selipan adegan-adegan pendek yang muncul sambil lalu, menyebabkan aliran alur kurang nyaman diikuti.

Besar kemungkinan anda takkan menganggap Dukun sebuah horor menyeramkan, walau melihat dari penyutradaraan Dain Said, itu memang pilihan. Dia enggan berusaha keras menakut-nakuti penonton lewat unsur supranatural, namun melukiskannya sebagai pemandangan tidak wajar. Seram atau tidak urusan belakangan. Ketika Diana melakukan ritual di sel misalnya, yang jadi wahana Dain Said bermain-main memanfaatkan ruang gelap gulita untuk mengkreasi trik visual. It’s scary for some but not for the others. But I think we can agree that it feels unnatural.

Babak persidangan adalah fase terbaik Dukun. Satu per satu saksi hadir, tiap keterangan divisualisasikan, menggiring kita menuju reka ulang peristiwa yang menjelaskan kengerian dalam ruang praktek Diana. Semakin banyak protagonisnya belajar tentang kasus itu dari para saksi, semakin kita memahami latar belakang kisanya. Di situ terjadi “pertarungan”  Karim melawan jaksa penutut (Chew Kin Wah). Jaksa bersikukuh Diana bersalah, sebaliknya, Karim menyanggah. Argumen mereka berdasar, saya pun tertarik mempertimbangkan versi kebenaran masing-masing, termasuk Karim, di mana kematian Datuk Jefri hanya kecelakaan. Setidaknya hingga kasus digali lebih jauh.

Bagi drama ruang sidang, kemampuan memprovokasi penonton, menghadirkan dilema mengenai dua perspektif berlawanan yang diperdebatkan dalam konfliknya, merupakan wujud kesuksesan. Tapi sulit menyangkal argumen bahwa kesuksesan terbesar film ini adalah penampilan Umie Aida. Terlihat mengerikan, mematikan, dengan senyum yang menolak memudar walau berada di persidangan yang mempertaruhkan nyawanya. Pun dia tambahkan sensualitas melalui gestur kecil seperti memilin rambut atau gerakan kepala yang menyiratkan kontrol penuh sarat kepercayaan diri atas segala situasi.

“Aku tidak akan mati”. Demikian kalimat terakhir Mona Fandey sebelum lehernya dijerat tali gantungan. Walau tak dimasukkan di film, namun baik di atas atau di balik layar, kalimat itu terus menggema. Terkait narasi, Dain Said cerdik menggunakannya guna menyusun konklusi supranatural yang sepenuhnya baru, tidak terikat kejadian nyatanya. Sementara di balik layar, seiring kontroversi yang membanjiri filmnya, Mona takkan mati. Namanya, riwayatnya, selalu hidup dalam ingatan publik sebagai bomoh (dukun) penebar teror berdarah.

5 komentar :

Comment Page:
Andi achmad mengatakan...

Nonton dimana nih mas? Penasaran jugaa

jefry punya cerita mengatakan...

Bagus mana sama munafik?

Rasyidharry mengatakan...

@Andi Udah tayang di bioskop (non-XXI) dari hari Rabu. Tapi terbatas emang, nggak di semua kota.

@jefry Beda treatment. Munafik murni horor tradisional, Dukun campur-campur genre, fokus bukan di horor.

Rahmad Putra mengatakan...

Nonton dimana bang? Di cgv sama xxi kok ga ada ya

Rasyidharry mengatakan...

@Rahmad Emang cuma di CGV & Cinemaxx. Tapi Cinemaxx ternyata terakhir Minggu, karena sepi ilang. CGV masih ada di beberapa spot, tapi kalau Jakarta nggak ada.