KASINEM IS COMING (2018)

9 komentar
Kasinem is Coming bukan produk berkualitas kancut, karena filmnya sendiri tidak layak disejajarkan dengan kancut yang masih memiliki fungsi penting dalam hidup manusia di seluruh semesta Indonesia. Bukan saya tidak menghargai perjuangan tim produksi, khususnya kru yang bekerja banting tulang (skor setengah yang saya berikan dipersembahkan bagi mereka), tapi filmnya sendiri seolah tak menghargai waktu, tenaga, serta uang yang diluangkan penonton. Di luar gedung bioskop biasanya berjejer beberapa warung makanan. Jika saat membaca review ini anda sedang berjalan memasuki bioskop untuk menonton Kasinem is Coming, segera berbalik, masuk ke salah satu warung, pakai uang 35 ribu rupiah itu demi menghapuskan lapar dan dahaga.

Kasinem yang konon segera datang itu adalah gadis cantik kembang desa (Naysila Mirdad), yang tengah bimbang ketika secara mendadak, sang ibu (Yanti Yaseer) meminta meneruskan pekerjaannya sebagai pembantu di Jakarta. Kasinem bimbang karena di saat bersamaan, ia telah diterima bekerja sebagai sekretaris di Singapura. Kabar itu baru Kasinem terima setelah sang ibu meneleponnya dari kereta dalam perjalanan pulang. Mengapa tidak sejak jauh-jauh hari? Sebaliknya, mengapa pula Kasinem tak menghubungi ibunya perihal pekerjaan di Singapura? Semua masalah di film ini takkan terjadi andai karakternya berkomunikasi sebagaimana manusia normal.

Kasinem nekat diam-diam berangkat ke Singapura bersama Luna Asmara alias Lunas (Nadya Pasha), penyalurnya. Kasinem is Coming pun memulai proses selaku road movie, yang sesuai aturan tak tertulis, wajib menghadirkan sederet konflik pengacau perjalanan. Kekacauan-kekacauan milik Kasinem is Coming sungguh tidak terduga. Bukan disebabkan twist cerdik, melainkan keputusan naskah hasil tulisan Bagus Laksono berdasarkan ide cerita sang produser, Letsman Tendy, menantang akal sehat. Deretan filmografi Letsman Tendy sendiri terdiri atas judul-judul macam Missing You (2016) sampai Lasjkar di Tapal Batas (2016), sehingga saya tak terkejut mendapati hasil karya terbarunya ini.

Kasinem bak wanita terkutuk pembawa sial. Bus yang ditumpangi terhalang jembatan yang terendam banjir, terhenti setelah menabrak seorang nenek, lalu mesinnya mati.  Bus kedua mengalami kebocoran ban. Sebelumnya, kereta yang dinaiki terpaksa menghentikan laju akibat rel tertutup air bah. Kualitas CGI-nya bakal membawamu terbang ke langit ketujuh, di mana rel kereta asal dipasang pada latar sungai tempat warga desa biasa buang air besar. Satu-satunya pelajaran yang bisa dipetik dari road trip Kasinem dan Lunas hanya gambaran buruknya transportasi negeri ini. Bahkan realitanya tak separah itu. Setidaknya, takkan terjadi dalam satu rangkaian perjalanan seseorang. Jadi, satu-satunya penjelasan masuk akal adalah: Kasinem terkutuk!

Jika anda rindu paras ayu Naysila Mirdad yang menjalani debut layar lebarnya di sini, Kasinem is Coming akan cukup mengobati, walau aktingnya tak pernah beranjak dari stereotip gadis kampung yang bicara selembut sutra, selambat siput, selembek kotoran ayam. Namun itu lebih baik dibanding menyaksikan Limbad, oh maaf, MASTER Limbad. Ingat aksi pertamanya di layar kaca yang misterius, mengerikan, sewaktu berjalan di atas belati? Sosok tersebut sudah lama hilang, dan mencapai titik nadir di film ini, ketika ia tampil bak memparodikan diri sendiri. Memerankan bodyguard yang senantiasa membisu, konyol, tidak mampu berbuat apa pun kecuali menggerutu sambil menjaga pintu. Rupanya “Master of Fakir Magician” itu kini sebatas satpam yang tak lucu.

Bukan cuma Limbad yang gagal melucu. Keseluruhan filmnya pun demikian. Sepanjang durasi hanya 2 kali saya tertawa: Dalam sebuah momen slapstick di pesawat dan saat Kasinem menyebut minuman keras sebagai wedang jahe. Keduanya efektif berkat kesempurnaan timing. Dinamis, langsung menerjang di titik yang tepat, tanpa diulur-ulur seolah menggoda penonton, “Hayoo ternyata yang lucu apa hayooo???” sebagaimana humor lainnya dikemas oleh Hasto Broto (Surga Menanti, Jembatan Pensil) di kursi sutradara. Belum sempat punchline-nya muncul, saya terlanjur dibuat kesal akibat metode itu.

Komedi Kasinem is Coming memang mengesalkan kala menghabiskan 100 menit mengolok-olok ukuran tubuh Nadya Pasha. Ke mana pun destinasinya, apa pun masalah yang dihadapi, leluconnya urung beranjak dari “sulitnya orang gemuk beraktivitas”. Satu-dua kali “main fisik” wajar. Saya tak seekstrim itu soal bodyshaming. Namun melakukannya hampir di setiap kesempatan menandakan kemalasan penulis. Sudah ofensif, repetitif pula. Humor menurut Bagus Laksono hanya berkutat di 2 hal: ekspresi mesum lelaki melihat kecantikan Naysila serta tubuh Nadya Pasha. Sekalinya mencoba gaya berbeda, kita disuguhi tiga orang, termasuk cameo Cassandra Lee, mengenakan topi bertuliskan “Kasinem is Coming Film”. Was that supposed to be a meta jokes? Was that supposed to be a joke at all???

Tanpa klimaks, konflik diakhiri semudah menggaruk ketiak. Kasinem sampai di Singapura, menyadari ia adalah korban penipuan dan dijual hanya untuk memuaskan hasrat sang bos, berhasil kabur dengan alasan kembali sejenak ke kamar, bertemu gadis asal Indonesia yang ternyata merupakan sepupu Radit (Randy Martin), anak majikan tempat sang ibu bekerja dulu, lalu bertemu lagi dengan ibunya. Mereka berbahagia, penonton bermuram durja. Saya baru saja membocorkan ending filmnya supaya anda tidak perlu buang-buang uang, tenaga, dan waktu menonton kekacauan memalukan nan mengesalkan ini. Thank me later.

9 komentar :

Comment Page:
Panca Sona mengatakan...

Yaelah mas saya pikir ni film bakal di skip..sempet2nya.. Ngeliat posternya aja udah bikin dahi berkerut, nama2 diposternya itu cameo semua?

jefry punya cerita mengatakan...

Wahahaha parah nih komennya to the point banget. Mungkin niatnya mau bikin ala cek toko sebelah, tapi gatot. Dapet promosi jabatan yg berkantor di singapura alih alih malah disuruh jaga toko sama sang bokap.

hilpans mengatakan...

Hey...tpi gw emang emess Ama naysilla..gmn siy debutny d layarlebar...gak apa deh gak jauh beda.am dsintrion....liat wajahdoi di layar gudeee gtu udeh seneng kok y kudu ditonton ini mahh

Rasyidharry mengatakan...

@Panca Maunya skip, cuma gimana lagi, ditugasin wajib. Nah entah tuh, selain Cassandra Lee nggak ada yang kenal.

@jefry Ya udah bukan waktunya bermanis-manis :)

@hilpans Silahkan kalo masih nekat :D

Aliando Bae mengatakan...

Di kota saya malah gak tayang ni film min 😊

Fadila Rizki mengatakan...

mas, pengen review serendipity gak?

Chan Hadinata mengatakan...

Ngakak baca paragraf trakhirnya.. kekesalan memuncak wkwk

Zamal mengatakan...

Wkekwk..kasinem terkutuk

Mofan Elzein mengatakan...

Suka banget sama review film jelek... bahasanya itu loh... 😂😂😂