SLENDER MAN (2018)

9 komentar
Slender Man yang bermula dari creepypasta mampu memancing rasa ngeri memanfaatkan ketakutan manusia akan hal misterius, yang dikuatkan oleh desain tanpa wajah miliknya. Dibantu beberapa foto buram hasil editan, imajinasi kita melayang-layang, dan mitos baru pun tercipta. Permainannya, Slender: The Eight Pages, juga viral. Bukan sepenuhnya karena menyeramkan, melainkan sebagaimana video game lain, kita selaku pemain, benci kalah. Ditambah nuansa atmosferik serta kesendirian (kita satu-satunya tokoh), semakin total adrenalin dipacu.

Sementara dalam filmnya, Slender Man adalah makhluk CGI yang bukan saja tak seram, bahkan konyol. Kesan kesendirian pun lenyap, digantikan kebisingan dari kecerewetan para tokoh utama yang sulit disukai. Hallie (Julia Goldani Telles), Wren (Joey King), Chloe (Jaz Sinclair), dan Katie (Annalise Basso) merupakan empat serangkai yang pada suatu malam, terpancing membuka situs soal ritual memanggil Slender Man dengan cara menonton video terkutuk. Seminggu berselang, dampak mengerikan terjadi, mulai dari penampakan aneh, hingga akhirnya memuncak ketika Katie menghilang.

Tersisa tiga gadis remaja, dan Hallie jelas karakter utama film ini. Dia satu-satunya yang sempat penonton singgahi lingkup personalnya, mengenal anggota keluarganya. Sekilas pun mudah ditebak bahwa dialah pengisi peran “Final Girl” yang keberadaannya bagai aturan tak tertulis di film horor. Tapi, Hallie justru paling skeptis perihal dunia mistis dibanding ketiga rekannya. Tidak peduli berapa banyak keanehan ia alami, temannya menghilang dan jadi gila tanpa alasan, Hallie bersikukuh enggah terlibat, menutup mata, berharap dapat menjalani hidup secara normal. Karakter skeptis dalam horor selalu menjadi sosok paling menyebalkan, begitu pula Hallie. Di sini kegagalan filmnya berasal. Tokoh utamanya mudah dibenci, menciptakan jurang besar dengan kepedulian penonton.

Pasca menonton video pemanggilan Slender Man, mereka berempat kerap bermimpi dan melihat keanehan. Konon, hal tersebut merupakan tanda-tanda hilangnya kewarasan akibat kutukan si hantu muka rata. Di tangan Sylvain White (I’ll Always Know What You Did Last Summer, The Losers) sekuen yang mewakili kegilaan tokohnya dikemas lewat surreal imageries yang mengisi mayoritas bagian trailer-nya sehingga terlihat menarik. Sekuen sureal yang terlihat bak mimpi buruk yang cantik, merupakan elemen paling menarik film ini, yang jika seluruhnya digabung, total takkan mencapai 2 menit lamanya. White jelas berbakat menciptakan video klip bagi musisi gothic, tapi tidak dengan film horor.

White menganggap, semakin temaram cahaya, semakin mengerikan suatu adegan. Alhasil, mayoritas teror terjadi di tengah kegelapan. Begitu gelap, sulit mendeskripsikan peristiwa di atas layar. Terkadang, entah ide brilian dari mana, White memakai shaky cam tatkala suasana gelap gulita. Jump scare-nya berkutat pada Slender Man yang diam berdiri bagai pria mabuk di ujung gang. Terdapat satu jump scare yang luar biasa mengagetkan. Bukan karena eksekusinya baik—bisa disebut konyol malah—namun, campur tangan sensor yang memotong momen sensual sebelum itu, justru menambah kesan tiba-tiba pada jump scare-nya.

Bicara potong-memotong, Slender Man mestinya dipotong sekitar 60-70 menit, jadikan film pendek, yang mana lebih cocok, baik dari sisi teror maupun cerita. Alurnya menjabarkan misteri soal latar belakang legenda Slender Man yang jadi bahan penyelidikan karakternya untuk mencari jalan keluar dari maut. Tapi penyelidikan itu gagal menghadirkan jawaban memuaskan, pula gagal menyusun satu kesatuan mitologi. Begitu usai, pengetahuan kita tentang Slender Man takkan bertambah signifikan dibanding saat film baru dimulai. Sementara konklusinya bagai ekspresi kemalasan David Birke menutup naskah secara layak, memilih berkata “Fuck it, I’m done!” lalu menyerah. Saya berharap ia melakukannya lebih cepat supaya filmnya selesai lebih awal, alhasil saya tak perlu lama tersiksa. Karena Slender Man merupakan salah satu pengalaman menonton paling menyiksa tahun ini.

9 komentar :

Comment Page:
Varado mengatakan...

Next horror selain the nun, apalagi ya bang yang recommended buat ditonton?

Aliando Bae mengatakan...

Dari trailer nya udah gak menarik ya...

Rasyidharry mengatakan...

@Varado Beberapa yang paling ditunggu sih The Predator, Suspiria, Halloween

@Aliando teaser pertamanya malah bagus, tapi ternyata semua yang bagus udah nongol di sana, 80an menit sisanya ampas.

Nizwan Amin mengatakan...

sumpah nyesel nonton ni film pas midnight . .ampas banget endingnya

aryo mengatakan...

Weww... Satu lagi potensi terbuang

Badminton Battlezone mengatakan...

Wowww 1 bintang!!!hahahaa...kok ane malah jadi penasaran liat ya wkakaakaka

Rasyidharry mengatakan...

@Badminton Don't throw your money away. Agustus masih banyak film bagus :D

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Yang jumpscare tiba-tiba itu yang kissing scene Hallie-Tom bukan, Mas ? Kok saya liatnya kayak yang gak di-cut ya.

Rasyidharry mengatakan...

@Pramudya Yes, karena kalau bukan sensor, berarti editing aslinya ngaco luar biasa itu