BOHEMIAN RHAPSODY (2018)

17 komentar
Bohemian Rhapsody tampil bak medley, di mana deretan greatest hits dimainkan sebagian demi mengakomodasi sebanyak mungkin lagu dimainkan dalam keterbatasan waktu. Metode tersebut niscaya mampu menghibur, namun takkan terasa lengkap dan penonton bakal berharap lebih dengan ketidakpuasan tertinggal di hati. Karir gemilang Queen, musikalitas mereka, dan tentunya perjalanan hidup sang vokalis, Freddie Mercury, terbukti terlampau besar nan kompleks untuk dituturkan melalui gaya formulaik film biopic.

Di departemen penulisan naskah, Anthony McCarten (The Theory of Everything, Darkest Hour) memahami kata kuncinya, yaitu “keluarga”. Semua hubungan interpersonal film ini bermuara ke sana, dari sulitnya Freddie (Rami Malek) mendapatkan restu sang ayah (Ace Bhatti) yang menganggapnya telah melenceng jauh dari kultur Parsi, romansanya dengan Mary Austin (Lucy Boynton), juga dinamika Queen, yang digambarkan bukan sebatas band, tetapi keluarga. Walau akhirnya, meski kita tak meragukan chemistry antara personel perihal pembuatan musik, penggambaran hubungan mereka urung nampak berbeda dibanding banyak band di luar sana. Artinya, “keluarga” hanya kalimat di atas kertas yang berulang kali diucapkan.

Jelang akhir, terselip pembicaraan mengenai adanya perdebatan soal lagu ciptaan siapa yang disertakan dalam album, lagu siapa yang dipilih jadi single andalan, lagu mana yang menjadi b-side, dan lain-lain, yang kerap terjadi tiap Queen memasuki studio rekaman. Tapi selain saling ejek soal lagu I’m in Love with My Car buatan Roger Taylor (Ben Hardy) sang penggebuk drum, kita tidak pernah menyaksikan konflik di atas secara langsung. Padahal cekcok semacam ini mampu memperkaya substansi film tentang musisi.

Proses musikalnya toh tetap menghibur. Kita diajak menyaksikan Queen bereksperimen dengan beragam sumber bunyi, mengkreasi komposisi unik Bohemian Rhapsody, membuat We Will Rock You yang terdengar sederhana bila disandingkan dengan lagu titular-nya, diciptakan berdasarkan keinginan memberi penonton lagu yang dapat mereka mainkan, namun sejatinya, tetap layak disebut eksperimen (mayoritas cuma tersusun atas hentakan kaki dan tepuk tangan). Di balik kekurangannya, Bohemian Rhapsody sanggup menggambarkan kejeniusan serta kegilaan eksplorasi Queen untuk urusan karya.

Merangkum lebih dari 2 dekade penuh lika-liku, Bohemian Rhapsody memilih gaya presentasi jumpy, bergerak dari waktu ke waktu, lagu ke lagu, konser ke konser, menjadikan filmnya terputus-putus alih-alih naratif utuh yang melaju mulus. Pada titik ini filmnya seolah tersesat, tak tahu ingin menyampaikan apa, lalu memilih pasrah terbawa arus, sebelum mencapai third act, yang mana merupakan fase terbaik Bohemian Rhapsody.

Sekitar 30 menit terakhirnya berhasil mengikat segala cabang plot menggunakan benang merah berupa “keluarga”, menghadirkan beberapa momen personal perihal Freddie dan orang-orang terkasihnya selaku penutup emosional. Khususnya hubungan Freddie-Mary, di mana cinta Freddie terhadap inspirasi di balik lagu Love of My Life itu adalah salah satu cinta tanpa syarat paling murni dan indah yang pernah saya saksikan, walau tambahan satu-dua obrolan intim pada masa awal hubungan mereka bakal lebih menguatkan pondasi kisah keduanya.

Sementara 15 menit pamungkasnya adalah puncak, di mana Bryan Singer (The Usual Suspects, X-Men, Superman Returns) melakukan reka ulang terhadap penampilan Queen di konser amal Live Aid (1985), yang banyak dianggap sebagai salah satu aksi panggung terbaik sepanjang masa. Sekuen ini diambil pada hari pertama produksi, sehingga Singer masih duduk di kursi sutradara sebelum dipecat lalu digantikan Dexter Fletcher (Eddie the Eagle) pada sepertiga akhir proses. Singer bisa saja memasang sistem autopilot dan penonton tetap akan terhibur berkat susunan lagu-lagu seperti Bohemian Rhapsody, Radio Gaga, We Will Rock You, hingga We Are the Champions. Tapi dia menolak bermalas-malasan.

Dibantu sinematografer langganannya, Newton Thomas Sigel, kamera Singer bergerak dinamis menangkap energi Freddie yang bergerak menyusuri panggung layaknya pemimpin massa dan euforia 72 ribu penonton di stadion Wembley. Tapi satu hal spesial dalam sekuen ini adalah, keberhasilannya secara subtil menjelaskan bagaimana Freddie bisa memberi performa luar biasa, walau telah lama ia dan personel Queen lain tak berada di satu panggung, pula kesehatannya makin memburuk akibat AIDS. Jawabannya sama: keluarga. Konser itu pun makin bermakna. Live Aid jadi momen ketika Freddie mencurahkan segala cintanya, dan keputusan Singer sesekali mengalihkan fokus ke ekspresi orang-orang terdekat sang vokasi di sela-sela konser terbukti menambah bobot emosi.

Tapi tanpa akting Rami Malek, niscaya reka ulang Live Aid tidak akan sebaik itu. Secara tampilan fisik, ia mungkin kalah mirip dibanding Gwilym Lee sebagai Brian May atau Joseph Mazzello sebagai John Deacon, namun aktingnya menutupi itu. Di bawah panggung, Malek menjadikan Freddie manusia rapuh yang kesepian dan merindukan cinta, juga musisi jenius yang tubuhnya bergetar tiap menyadari bahwa dirinya sedang menciptakan mahakarya. Tapi ia bukan sosok suci. Malek turut menangkap sisi gelap Freddie sebagai megabintang yang dikuasai ego akibat kesendirian. Di atas panggung, ia adalah pemimpin flamboyan penuh energi. Malek sempurna menampilkan tiap detail kekhasan gerak-gerik Freddie. Malek bukan sekedar meniru. Seolah Freddie sungguh merasuki sang aktor. Mungkin Malek tidak bernyanyi live, tetapi gestur dan ekspresinya (plus tata suara cermat) memudahkan kita mempercayai jika ia mampu bernyanyi serupa Freddie Mercury.

17 komentar :

Comment Page:
Zulfikar Knight mengatakan...

soooooo possible Oscar nod for Malek?

Chan Hadinata mengatakan...

Katanya rami malek masuk oscar nominasi best actor dr film ini??

susan mengatakan...

Agak setuju sih dengan paragraf 5, tapi kaget juga "cuma" dpt 3,5/5... Secara saya penggemar berat queen ngerasa mimpi basah aja nnton ini premiere.. But Thanks buat review nya.

Rasyidharry mengatakan...

@zulfikar satu-satunya penghalang ya filmnya yang nggak bagus-bagus amat.

@chan Lah, masih lama lah pengumuman nominasi 😅

@susan Hampir kasih 3 bahkan 2.5 kalau bukan karena setengah jam terakhir. 90 menit di tengah ngaco banget strukturnya.

Rahmad Pratama mengatakan...

Ga 5 nih?
Film nya terlalu dominan lgbt gak sih?
Mau ngajak pacar tapi dia homophobic 😂😂
Mau nonton besok di dolby cinema.
Biar sambil nyanyi. Kan suara bioskopnya gede. Jadi bisa ikutan nyanyi. Walaupun suara fals 😃

Rahmad Pratama mengatakan...

Ada adegan sexual berunsur lagibete gak?
Kan ratingnya 17+ tuh?
Apa dicut scenenya ?

Anonim mengatakan...

Kok lebih berkesan 'berharap' daripada 'Bertanya' ya.....?

Ryan Valent mengatakan...

kenapa bryan singer dipecat yanh bang?

Rahmad Pratama mengatakan...

Hehe

aryo mengatakan...

Sebagai penggemar Queen, film ini malah jadi kekecewaan besar buat saya. Kalo saya suruh kasih rating mungkin pol bintang 3. Cukup menghibur dengan banyak lagu diputer, reka ulang konser, tapi dengan ekspektasi biopic, bukan itu yg pingin saya lihat. Chemistrynya wadaw, dramanya meh.
Perasaan nonton ini mirip sama perasaan pas nonton Last Days nya Gus Van Sant. Tapi kalo Last days itu murni ekspektasi saya yang salah sih. Hehehe...

aan mengatakan...

Kalo dibanding dengan film band Def Leppard dulu enak mana penceritaan nya?

Rasyidharry mengatakan...

@Rachmad Ya pasti, nggak eksplisit tapi jelas unsur LGBT nggak bisa & nggak boleh dipisahkan dari cerita Freddie.

@Ryan Karena sempet ngilang di tengah syuting, bikin masalah sama cast & crew, ditambah kasus pelecehan seksual ke anak bawah umur.

@aryo Sepertinya emang gitu, buat mayoritas die hard fans Queen, apa yang diceritain film ini ya nggak ada apa-apanya sama kisah keseluruhan mereka.

@aan Def Leppard film yang mana ya? Television movie itu?

Rahmad Pratama mengatakan...

Well ini film fredie sih sebenernya, gak sepenuhnya queen

Rasyidharry mengatakan...

@Rahmad Ya memang diniati begitu kok, tagline-nya aja "The only thing more extraordinary than their music is his story".

liver deux mengatakan...

Bohemian Rhapsody memang terasa mengecewakan bagi para die hard, tapi memuaskan jika digunakan sbg media bahkan propaganda bagi anak2 mereka (generasi muda) tentang dahsyatnya atmosfir musik era 60 - 80an.
https://posmusica.wordpress.com/2018/11/04/freddie-mercury-michael-jackson/

wins mengatakan...

Bahas Rami Malek gak nyinggung-nyinggung Mr. Robot?

Rasyidharry mengatakan...

@wins Karena Malek lebih dari sekedar "A guy in Mr. Robot".