A MAN CALLED AHOK (2018)

29 komentar
Suka/tidak suka itu urusan lain, tapi mayoritas rakyat Indonesia pasti tahu siapa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok beserta ideologi dan segala sepak terjangnya. Tapi A Man Called Ahok bukan sekedar coba memindahkan Ahok yang publik kenal di artikel media cetak atau layar kaca menuju layar lebar, melainkan memanfaatkan familiaritas penonton terhadap Ahok sebagai pondasi guna menuturkan latar belakang watak dan sikapnya. Kita tahu ia keras, dan film ini jelaskan mengapa ia keras. Kita tahu kebenciannya atas oknum korup, dan film ini jabarkan bagaimana masa lalunya, kehidupannya di Belitung, terutama keluarganya, membentuk kebencian tersebut.

A Man Called Ahok memang akhirnya tampil bagai foreshadowing sepanjang 90 menit, khususnya kala tersaji pembicaraan tentang keyakinan sang ayah, Tjung Kim Nam alias Indra Tjahaja Purnama (Denny Sumargo), bahwa kelak puteranya bakal menjadi pejabat, pula pertanyaan soal “Apa bisa orang Cina jadi pejabat?”. Tapi sebagai suguhan yang bertujuan memberi pemahaman akan karakternya, film yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Rudi Valinka ini, telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Satu hal yang dapat langsung kita pelajari, yakni Ahok merupakan “perwujudan” mendiang ayahnya, pemilik tambang timah yang dijuluki “Tauke” alias “bos besar” berkat kesediaannya selalu mengulurkan tangan menolong orang-orang kesusahan, meski itu memaksanya berhutang sana-sini di tengah kondisi bisnis tak menentu akibat praktek korup. Bukan Tjung Kim Nam saja, semua pengusaha di Belitung harus membayar “uang pelicin” apabila tidak ingin proyeknya dipersulit.

Ahok muda (Eric Febrian) melihat ayahnya sebagai pria penyayang, jujur, namun bisa tegas, keras, bahkan tak segan “menyemprot” karyawan yang bertindak curang lalu memecatnya di muka umum. Singkatnya, serupa Ahok yang kita kenal sebagai Gubernur DKI Jakarta. Terasa bagai kumpulan foreshadowing, untungnya naskah hasil tulisan sutradara Putrama Tuta (Catatan Harian Si Boy, Noah Awal Semula) bersama Ilya Sigma (Rectoverso, Sundul Gan: The Story of Kaskus) dan Dani Jaka (Modal Dengkul, Pizza Man), rapi dalam merajut cerita yang poin-poinnya saling mendukung ketimbang sebaran keping-keping acak fase hidup karakternya yang dijahit paksa layaknya kelemahan banyak biopic (setidaknya pada 2/3 awal durasi).

Akting jajaran pemain pun membantu A Man Called Ahok melaju mulus sebagai drama keluarga. Denny Sumargo menghadirkan performa terbaik sepanjang karir sebagai pria penuh kepedulian, bapak penyayang, dan pebisnis tegas. Tiga sisi itu mampu ia satukan untuk membentuk karakter yang utuh. Hal serupa layak dialamatkan pada Eriska Rein—yang kembali ke layar lebar setelah 3 tahun—selaku pemeran Buniarti Nigsih alias Cibun, ibunda Ahok. Respon Cibun kala sang suami mengambil uang dari tangannya untuk diberikan pada para peminta bantuan adalah conton kepiawaian Eriska memainkan emosi kecil namun efektif.

Kemudian filmnya melompat menuju masa dewasa Ahok (diperankan Daniel Mananta), sewaktu ia baru kembali ke Belitung setelah merantau, berkuliah di Jakarta. Ahok ingin membantu ayahnya (kini diperankan Chew Kin Wah) yang mulai sakit-sakitan mengurus tambang, sekaligus coba meruntuhkan sistem korup. Tapi eksekusinya tidak semudah di teori. Terdapat perdebatan menarik antara Ahok dan Indra, di mana naskahnya sanggup mengutarakan perspektif berdasar milik kedua pihak, sehingga dapat memancing pemikiran penonton mengenai “Sudut pandang mana yang benar?”. A Man Called Ahok bukan tengah membenarkan praktek suap, namun mengingatkan betapa ada garis batas abu-abu di antara benar dan salah.

Masalah terbesar fase ini terletak di pergantian pemain. Terasa mengganjal, ketika Indra dan Buniarti (ganti diperankan Sita Nursanti) “berubah wajah”, namun Donny Damara, Ferry Salim, hingga Yayu Unru masih tetap memerankan tokoh masing-masing, dengan hanya sedikit modifikasi tata rias. Dunia dalam A Man Called Ahok pun terasa inkonsisten, apalagi ditambah perubahan karakter Indra. Jangan salah, akting Chew Kin Wah masih sehebat biasanya, masih jago memunculkan haru pada momen dramatis. Tapi Indra versi Denny Sumargo dan versi Chew Kin Wah jelas dua karakter berbeda.

Daniel Mananta melakukan impersonasi untuk Ahok sebaik mungkin (kecuali rambut palsunya yang nampak aneh dari depan), walau ada kalanya ia terlihat seperti karikatur, ada kalanya ia berhasil menangani ciri-ciri mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, dari suara, gestur, hingga tabiat. Inilah kesulitan memerankan individu nyata dengan kekhasan yang dikenal luas. Aktor mesti melakukan pendalaman ekstra, sebab jika tidak, kebebasan interpretasi aktingnya bisa terkekang. Di samping jajaran cast yang lebih luwes karena memperoleh kebebasan menafsirkan karakternya, Daniel kerap terjebak permasalahan itu.

Sedangkan di departemen penyutradaraan, Putrama Tuta kembali unjuk gigi, memamerkan kapasitasnya mengkreasi adegan dramatis efektif, yang sesekali bicara hanya lewat visual (shot dari belakang saat Ahok membesuk ayahnya yang jatuh sakit), sesekali lewat kombinasi visual dengan bahasa verbal (shot dari liang kubur dibarengi kalimat “Makasih Pa” ucapan Ahok, yang sempurna merangkum hubungannya dengan sang ayah).

Sayangnya, Tuta sendiri tak kuasa menahan agar filmnya tak kehilangan pijakan di sepertiga akhir, tatkala kita akhirnya tiba di babak politik kehidupan Ahok. Penceritaan A Man Called Ahok menjadi terburu-buru, melompat-lompat. Karena saat itu, praktis semua yang film ini ingin sampaikan (pembentuk sosok Ahok) telah usai, dan masih berlanjut mungkin karena anggapan “Kamu tidak bisa membuat film tentang politikus tanpa menampilkan karir politiknya”. Bagai sekedar memenuhi obligasi, penuturannya tak lagi menyertakan hati, dan berakhir sekedar melakukan checklist. A Man Called Ahok sama sekali tidak buruk, tetapi tokoh seperti Basuki Tjahaja Purnama layak diberi film yang lebih dari sebatas “tidak buruk”.

29 komentar :

Comment Page:
Chan Hadinata mengatakan...

Dongeng mistis di review gak mas?? Hehe😁

Rasyidharry mengatakan...

Hahaha kagak lah, tapi sebagai gantinya bakal berbagi sedikit cerita di balik layar aja :)

Muhammad Faisal Aulia mengatakan...

212 power of love di review juga dong bang :v

Abdi Khaliq mengatakan...

Memang aneh sih kalau sampai Bang Rasyid mereview "Dongeng mistis", secara dia sendiri terlibat di balik layar. Pasti bakalan awkward banget deh! Hahahaha
Biarlah kritikus lain yang memberikan penilaian objektif pada filmnya!

Bayangkan kalau Bang Rasyid mereview Dongeng mistis :
"Filmnya bagus! Lumayan! Rating 3. Layak tonton!"
Pasti Pengunjung akan bilang, "Mentang-mentang film sendiri. Promosi tuh!"

"Filmnya jelek! Tak layak tonton! Rating 1!"
Pasti Kru film akan bilang, "F**K! Dasar, rekan kerja penghuni alam setan!"
Hahhahaha....

Just kidding!
BTW Saya optimis kok sama Dongeng Mistis! :)
Bahkan kalau Bang Rasyid dkk tertarik, saya punya kok segudang ide-ide film bertema horror psikologis, thriller, misteri (drama & komedi juga ada sih)! Saya siap kok bantu nulis naskahnya di Final Draft! Ehem! (Promo diri sendiri!) :)

Rasyidharry mengatakan...

@Muhammad Boro-boro itu, nanti Hanum & Rangga aja skip. Mending nonton Wahana Rumah Hantu :D

@Abdi Kalau sampai ada reviewer bikin review untuk film yang dia terlibat langsung (bukan sekedar "thanks to") itu gila namanya. Tapi saya bilang ini: 'Dongeng Mistis' mungkin bukan 'Sebelum Iblis Menjemput' apalagi 'Pengabdi Setan', tapi jelas bukan 'Arwah Tumbal Nyai' hahaha.

Jangan pitching ke kita, duitnya dikit hahaha

Akbar Pradhana mengatakan...

Lah kok Hanum & Rangga diskip?

Anonim mengatakan...

Kenapa Hanum dan Rangga di skip?
Kan katanya jangan campur adukan soal politik dengan dunia film.
Suka atau tidak suka.
Apalagi sutradara filmnya juga termasuk lumayan.

Rasyidharry mengatakan...

Nothing to do with politic. Salah satu sutradara kesukaan saya beda pandangan politik, tapi selalu nonton & suka karya-karyanya. Tapi simply nggak mau "sumbang uang" ke Hanum dkk (Kecuali filmnya menarik banget). Dan sikap begitu sah, yang salah adalah kalau nggak suka sama orangnya lalu melarang orang nonton, atau kasih review negatif karena sentimen pribadi.

Anonim mengatakan...

Mau sumbang uang ke Arwah Tumbal Nyai, tapi ga mau sumbang uang ke Hanum dan Rangga. Well, that's obviously something to do with politic :)

Btw, I skip both of those films LOL

Rasyidharry mengatakan...

Gini mas/mbak, kalau alasannya sebatas "politik" saya nggak akan nonton film-film seperti "GN" dsb (yang saya tahu sebagian duitnya masuk ke mana). Dan kalau ngomongi Arwah Tumbal Nyai (or any other shitty movies that I watched) itu lain cerita, memang tugas dari IDFC.

jefry punya cerita mengatakan...

Kalo boleh berbagi, part paling abang suka di cerita mistis apa bang? Sebenarnya film low budget kalo bagus kayak film cin(t)a misalnya, kekurangannya bakal dimaafkan kok hehehe

Rasyidharry mengatakan...

@jefry Oh itu disimpen buat artikel nanti yes. Yap, betul itu. Elemen teknis "boleh" beralasan kalau kurang bujet, tapi skrip bagus nggak perlu duit (well, sort of).

Anonim mengatakan...

Film tentang kehidupan cinta dokter gigi merangkap dokter ahli bedah itu lagi buy1get1 promonya. Mungkin takut tekor, kan Habibie Ainun laris manis....

Chan Hadinata mengatakan...

Overlord recomend gak mas??
Penasaran

Anonim mengatakan...

Apakah ada scene ahok di persekusi sama dipenjara ?��

Itu bakalan jadi twist ending yang waow kalo ada

Panca Sona mengatakan...

dion wiyoko lebih cocok jadi chew kwin wah muda.. tapi tetap aja inkonsisten :D

Rasyidharry mengatakan...

@Anonim Well, ada momen itu termasuk sedikit di awal. Padahal nggak perlu sampai ke titik itu.

@Panca Oh, Denny Sumargo itu mirip banget lho sama bapak Ahok pas muda :D

Badminton Battlezone mengatakan...

Mengenai berita bahwa adik perempuan Ahok keberatan menonton film ini dikarenakan penceritaan ayahnya tidak sesuai kenyataan,menurut Mas Rasyid ini hanya gimmick marketing saja atau memang penggambaran tokoh filmnya kurang bagus?

Rasyidharry mengatakan...

Lebih ke arah miskonsepsi yang sering juga terjadi ke mayoritas orang tentang "biopic harus semua nyata & real". Lihat aja, hal-hal trivial pun dia kritisi. Jawaban puterinya Ahok sudah paling betul itu. Dan kalau Ahok sendiri sudah kasih restu & acc, berarti secara substansial sudah tepat.

agoesinema mengatakan...

Adegan perselingkuhan veronika ada gak ya?

Unknown mengatakan...

Ada adegan cici vero selingkuh sama koko ahwa gak bang..??

Rasyidharry mengatakan...

Nggak ada, karena bukunya sendiri dibuat pas Ahok masih menjabat. Lagipula elemen itu nggak perlu, karena fokus ceritanya semasa Ahok di Belitung.

Unknown mengatakan...

Mau tanya mas broo,situ sengguk2 ga??, blm nonton film nya sich,, tapi liat di twit orang2 ,, koq bnyak yg mewek ya?? Serius nanya

Anonim mengatakan...

Film ini masih 1 universe sama film 212 power of love, ada film lanjutannya lagi nga yah

Briyogi Shadiwa mengatakan...

Seriously? How about film tentang Anies bAswedan yg sukses jd Gubernur? #wew #liveaction #JakartaUniverse

Anonim mengatakan...

Dicuekkin.. emang enak??

Andre dana mengatakan...

Sampah ni film..gk beda sma ftv di tipi..gk layak tonton

Unknown mengatakan...

Ya nggak usah ditonton kalo filmnya jelek, gitu aja kok repot

Andre dana mengatakan...

film kek gini hrs nya di tayangin di SCTV..jam 1-mlm kyk ftv2 gitu..gk layak msuk bioskop..bnr2 sampah..