PIHU (2018)

16 komentar
Dalam sebuah suguhan berani yang terinspirasi dari kisah nyata yang dibaca sang sutradara, Vinod Kapri (Miss Tanakpur Haazir Ho), empat tahun lalu, Pihu melontarkan pertanyaan, “Apa jadinya bila balita ditinggal sendirian di rumah?”. Gabungkan itu dengan kelalaian mematikan beberapa peralatan elektronik, terciptalah skenario menerikan yang turut menampar kita lewat studi kasus perihal parenting.

Guna menghindari spoiler, saya cuma bisa bilang kalau film ini menceritakan bocah dua tahun bernama Pihu (Myra Vishwakarma) yang ditinggal sendirian di rumah tanpa bekal makanan layak, serta setrika dan kran air yang menyala. Seiring durasi berjalan, kita mulai mengetahui keberadaan orang tua Pihu, pula alasan ia sendirian, dalam cerita yang juga bicara soal konflik rumah tangga, termasuk dampaknya terhadap anak.

Melakukan pengambilan gambar selama dua jam tiap hari dengan tiga kamera ditempatkan di lokasi, Pihu memiliki dialog minimalis. Kita hanya mendengar beberapa pembicaraan melalui telepon dan sedikit interaksi di luar rumah Pihu. Lebih jauh lagi, selain sang titular character dan sang ibu (diperankan Prerna Sharma, ibunda Myra di dunia nyata), tidak ada karakter yang wajahnya diperlihatkan secara langsung. Entah sekedar kaki yang nampak, atau suara yang terdengar.

‘Pihu’ is a case study first, thriller later. Vinod Kapri yang turut bertindak selaku penulis bahkan bersedia mengubah naskahnya beberapa kali untuk menyesuaikan dengan perilaku aktris ciliknya, demi  menangkap gambar-gambar senatural mungkin. Dan usaha itu berhasil. Kita bisa merasakan kebebasan yang diberikan kepada Myra, di mana berbeda dengan banyak pelakon cilik, ia tak terlihat berpura-pura atau menjalankan instruksi. Dan terpenting, Pihu bertingkah sebagaimana mestinya balita berkelakuan jika ditempatkan dalam beragam situasi tersebut.

Kata kuncinya memang “balita”. Karena protagonisnya balita, hal-hal yang biasanya mengganggu, karena merupakan wujud kebodohan bagi karakter dewasa, di sini merupakan kewajaran yang didasari rasa ingin tahu khas anak kecil. Kita pun bisa duduk santai menikmati filmnya, Well, sebenarnya “santai” bukan pilihan kata yang pas, sebab keberadaan balita sebagai tokoh utama menjadikan kepedulian dan kekhawatiran kita berlipat ganda. Semakin menegangkan karena kemampuan bocah memecahkan masalah tentu belum sebaik orang dewasa. Apa yang bagi kita keseharian (memanaskan makanan, membuka kulkas) adalah petualangan menantang untuk mereka.

Pujian pantas disematkan kepada penulisan Vinod Kapri, yang sangup memikirkan deretan rintangan sederhana guna membangun ketegangan. Siapa sangka setrika bisa terlihat begitu mengerikan? Gabungkan dengan kapasitas penyutradaraan Vinod, yang piawai memilih timing pula sudut kamera, Pihu menjadi perjalanan yang dapat membuat anda kesulitan mengontrol jeritan kala mengkhawatirkan nasib karakternya.

Filmnya semakin menyiksa (in a good way) akibat rasa ketidakberdayaan yang dimunculkan. Pihu tidak memahami situasinya, pula pentingnya berusaha keluar dari rumah. Dia sekedar “mengikut arus”, bersikap sesuai insting untuk melakukan apa pun yang diinginkan. Kita hanya bisa berharap supaya dewi fortuna senantiasa menaunginya. Ya, terdapat penurunan tensi sekaligus kekosongan di sana-sini, sehingga durasi yang cuma 91 menit itu tetap agak terlalu panjang, namun setiap tensi meningkat, debaran jantung anda pun bakal ikut melonjak drastis.

16 komentar :

Comment Page:
Anonim mengatakan...

Bang. Saya nanya yang ga berhububgan dengan review film ni.

Kenapa ya film 3d udah ga tayang lagi di indo? Kayak fb2 dan wreck it ralph 2 yang seharusnya 3d. Kok ga ada satupun bioskop yg ngejual format itu lagi? Ga kaya terakhir film 3d yang saya tonton. Yaitu ff7 dan coco

Anonim mengatakan...

Bang Rasyid, mau nanya bang kalau misal bang rasyid mau nge-review suatu film, harus ngapain dulu sebelumnya bang? Langkah2 sebelum review film apa aja bang? Apakah kita harus tau latar belakang film tersebut atau tujuan film tersebut dibuat untuk apa? Dll. Bagaimaba bang? Terima kasih

Andi achmad mengatakan...

Anyway di jogja ada kok wreck it ralph 3d

Rasyidharry mengatakan...

Ada kok, tergantung lokasi aja. Mungkin 3D di kotanya kurang rame penonton jadi bioskop pilih tayangin reguler

Rasyidharry mengatakan...

Riset-riset itu wajib. Tentang apa pun. Tujuan pembuatan, proses, dll. Apakah info itu nantinya dituliskan di review, urusan lain. Tapi makin banyak tahu, makin baik. Membantu buat memahami filmny.

Anonim mengatakan...

Pengen bener nonton film ini, tapi bingung nonton dimana, keknya di Bintaro gaada ini film

sandy fabregaz mengatakan...

Coba mas nya main ke CGV dong jgn di XXI mulu, ada kok 3D nya dan 4DX3D biar makin cihuy nonton nya

Bian 3101 mengatakan...

Ga review wreck it ralph 2 mas?

Rasyidharry mengatakan...

@sandy Nah, dan Ralph di 4DX3D mantap banget!

@Bian ya review lah, udah nonton, cuma masih sibuk promo film sana-sini

Anonim mengatakan...

Terima kasih infonya,bang! Sangat berguna. Berarti risetnya dilakukan sebelum nonton boleh atau sesudah nontonpun juga boleh ya?

Rasyidharry mengatakan...

Seperlunya, tergantung kebutuhan. Kalau sebelum, biasanya misal film itu angkat peristiwa/tokoh tertentu, jadi ada modal pemahaman.

Fahira Fira mengatakan...

Happy ending ngga?

MrzauL mengatakan...

Tau situs nonton online buat film ini?

Anonim mengatakan...

situs online yg biasa utk donlot, ga ada pihu... penasaran ama film ny

nurasiah latifah mengatakan...

Mas saya udah nonton 2 kKi filmnya, tp gak jelas endingnya. Jd sebenarnya anaknya meninggal ap masih hidup krn anaknya sbelumnya kan makanin obat ibunya. Trus itu suara anaknya rekaman apa benerN dia?

Rasyidharry mengatakan...

@nuraisah Masih hidup kok. Suara yang mana ya? Agak lupa karena udah lama nontonnya hehe