KAIN KAFAN HITAM (2019)

27 komentar
Saya mengira Kain Kafan Hitam bakal menghasilkan satu lagi bencana di industri perfilman Indonesia. Sungguh salah kaprah yang parah. Dalam debut penyutradaraan yang dilakukan bersama Yudhistira Bayuadji, siapa sangka Maxime Bouttier berani bereksperimen guna melahirkan horor arthouse yang menyatukan jiwa Roma-nya Alfonso Cuaron, pendekatan Terrence Malick, gerakan Dogma 95 yang diprakarsai Lars von Trier dan Thomas Vinterberg, dan surealisme David Lynch.

Mari kita bedah satu per satu. Roma merupakan lukisan aktivitas sehari-hari, sebagaimana Kain Kafan Hitam bercerita soal Evelyn (Haico Van Der Weken) yang sedang mencari rumah baru ditemani kekasihnya, Bimo (Maxime Bouttier). Pencarian tersebut berujung di sebuah rumah besar dengan harga sewa murah. Ketimbang hanya mengintip beberapa sudut mengerikan, film ini mengajak kita mengikuti paket lengkap tur berkeliling yang dipandu Egi (Egi Fedly) si penjaga rumah.

Egi memamerkan seluruh penjuru, pelan-pelan menjelaskan “ini ruang apa”, “ruang itu di mana”, dan sebagainya. Beberapa kali, gemuruh keras musik buatan Joseph S. Djafar (Jailangkung, Jaga Pocong, Orang Kaya Baru) datang menemani meski tiada satu pun peristiwa supranatural terjadi. Hingga akhirnya Evelyn menetap di sana, hal-hal aneh mulai menampakkan wujudnya.

Adik-adiknya lebih dulu jadi korban. Suatu malam, saat Arya (Rayhan Cornellis) si bungsu henak buang air kecil, hantu berwajah mirip versi busuk dari topeng Aku Aku di serial gim Crash Bandicoot menerornya. Ketakutan, Arya pun ngompol. Berikutnya kita menyaksikan:  Evelyn membawa Arya ke kamar – Evelyn mencari celana ganti – Evelyn menggantikan celana Arya – Evelyn menidurkan Arya. Film mana yang amat murah hati mau memperlihatkan proses mengganti celana secara lengkap? Bahkan musik yang sepanjang durasi punya kebiasaan menggedor gendang telinga pun seketika senyap. Apa ini kalau bukan usaha Maxime menciptakan post-horror ala A24?

Sutradara muda harapan bangsa ini bahkan menggerakkan filmnya selambat mungkin. Para skeptis akan berkata bahwa itu sebatas usaha mengakali naskah tipis karya Girry Pratama (Revan & Reina) yang mungkin cuma berisi sekitar 30-40 halaman. Tapi saya berbeda pendapat. Saya yakin, Maxime berusaha meniru kesabaran Ari Aster kala merangkai tempo Hereditary.

Kain Kafan Hitam juga merupakan penghormatan terselubung kepada Terrence Malick. Sang sutradara legendaris gemar mengambil gambar tanpa naskah, membiarkan aktor berimprovisasi demi memperoleh kejujuran luapan rasa. Bukan mustahil, para pemain Kain Kafan Hitam juga bernasib sama seperti Brad Pitt di The Tree of Life atau Ben Affleck di To the Wonder, yakni hanya menerima arahan singkat di secarik kertas tiap hari, yang kurang lebih berbunyi, “Hari ini kamu berjalan keliling rumah, lalu buka semua gorden. Lakukan perlahan. Resapi cahaya matahari yang menyelinap di antara kisi-kisi jendela”.

Hasilnya bisa kita saksikan, ketika Haico Van Der Weken berakting sama naturalnya dengan Yalitza Aparacio. Caranya membuka gorden sungguh meyakinkan, bisa saja suatu hari nanti lapangan kerja baru sebagai pembuka gorden ia ciptakan. Akting Maxime masih secanggung biasanya, namun bisa dimaklumi. Dia mengampu tugas berat membuat horor eksperimental, sehingga wajar bila tugasnya di depan kamera agak terbengkalai.

Walau tidak begitu kental, jejak Dogma 95 yang berprinsip pada micro-budget filmmaking masih dapat kita temui di sini lewat kemunculan beberapa establishing shot dengan resolusi rendah yang bak diambil memakai kamera telepon genggam.

Menginjak 15 menit akhir, eksperimen Kain Kafan Hitam menggila. Ranah surealisme berani dijamah sewaktu menampilkan kilas balik yang bila dilihat dengan mata telanjang, timing kemunculannya terasa dipaksakan. Tapi melalui kacamata sinematik tingkat tinggi, surat cinta kepada gaya David Lynch yang sering mendadak membawa alur melompat ke dunia absurd bisa dirasakan. Di dalam dunia Lynchian, tindakan maupun motivasi yang melatarinya terkadang sukar dipahami.

Sama seperti di film ini, tatkala seorang ibu mertua mendorong menantunya yang sedang hamil tua dari tangga hingga tewas. Dia memutuskan mengubur sang menantu diam-diam, membungkus jenazahnya memakai gorden berwarna hitam alih-alih kain kafan. Kenapa ia tidak berbohong saja, mengatakan jika menantunya tidak sengaja jatuh dari tangga alias kecelakaan. Melihat kondisi kehamilannya, kebohongan tersebut sejatinya lebih aman, logis, sekaligus mudah dilakukan. Tapi sekali lagi, ini eksperimentasi. Lupakan logika beserta hal-hal mudah lain. Now please welcome Mr. Maxime Bouttier, the new auteur of Indonesian cinema.

Gosh, I need Vodka.

27 komentar :

Comment Page:
Andi Suhendar mengatakan...

Keren nih pelem 🤣

Unknown mengatakan...

Yeeeay.. hari ini nuntun kaen kafan item, wkwkwkwkwk..

Aslee ngakak baca review'nya..
Mantuuul..

Chan hadinata mengatakan...

Yaelah.. masi ada stngah bintang..
Mas rasyid.. segera hubngi aria ama razak kalo perlu berkolaborasi utk review film masterpiece ini🤣🤣

hilpans mengatakan...

Wkwwk...pake pendeketan sutradara hollywood berkelass.semua nih..bakalan tayang nih ddluar negeri kekny nih

Anna B mengatakan...

Review penuh sarkasme 😂😂

Restia Cahyani mengatakan...

WKWKWK ku senang kalo mas rasyid review jele

Anonim mengatakan...

Sarcasm Level 99999999999999999

Rasyidharry mengatakan...

Aria lagi nikahan sodaranya hahaha. Tapi nanti kita bikin video soal Oscar kok.

aan mengatakan...

Busyeet..baca awal ga langsung liat rating kirain paket lengkap banyak bagian bagus dari film keren...ga taunya paket ganti celana yg lengkapnya...😁😁

Akbar Pradhana mengatakan...

"Gosh, i need vodka." Sumpah, gue ngakak baca bagian itu. Ditambah sarkasnya yang bikin ngakak.

BTW, Dragon Ball Super Broly ntar di-review kan, kalau filmnya udah rilis?

Anonim mengatakan...

" Caranya membuka gorden sungguh meyakinkan,"
Cara buka gorden yg meyakinkan itu kayak apa sih kak jadi penasaran tp ga mungkin nonton filemnya ��

susan mengatakan...

Review nya masterpiece 👍 Pasti nanti disadur oleh IG nya film ini

Rasyidharry mengatakan...

(((PAKET GANTI CELANA)))

Rasyidharry mengatakan...

Oo jelas, big fan of the series. Suka banget sama seri Super juga. Nanti malem nonton midnite.

Rasyidharry mengatakan...

Hahaha that's a sarcasm

Rasyidharry mengatakan...

Maxime Bouttier is the new auteur of Indonesian cinema - Rasyid Harry (Movfreak)
😂😂

Unknown mengatakan...

Bang oot nih, saranin film tentang duo Polisi tp yg rada kocak kyk Bad Boys nya Will Smith, The Other guys nya Mark Whelberg atau itu yg Kevin hart ft Ice Cube. Lagi demen nonton yg gtuan. Thanks before..^

Hugo mengatakan...

Jangan bilang mas rasyid nonton film ini sebagai penugasan wkwkwkw, dari judulnya aja udah gak menarik minat nonton, kenapa harus kain kafan hitam, bukankah kain kafan itu putih, apakah karena yang memakai kain kafan itu banyak dosa sehingga dosa2nya terserap oleh kain kafannya sendiri atau maxime lagi mengalami penyakit buta warna sehingga tidak bisa membedakan warna hitam dan putih

Vrd mengatakan...

Ibu mertua pembunuh menantu yang sedang hamil kain kafannya berubah menjadi hitam pekat dan mendadak menjadi setan

Rasyidharry mengatakan...

Wajib coba jelas 4 film Lethal Weapon. Terus 21 Jump Street, Hot Fuzz, Tango & Cash

Rasyidharry mengatakan...

Iyalah, sayang banget duit buat filem beginian haha
Oh itu beneran kain kafannya dari gorden hitam, bukan ngelawak doang 😂

Puja Damayani mengatakan...

Hahahaha, pas baca paragraf awal sangat meyakinkan sampai saya sangat serius bacanya, pas scroll ke bawah saya tidak sanggup lagi, sakit perut , luar biasa twistnya 😂😂😂👏👏👏

Anonim mengatakan...

Sampe gw liat bintang ratingnya, gw masi kemakan kl ini film artsy horror yg oke... %®¢£=€

Mahendrata Iragan Kusumawijaya mengatakan...

Welcome to the dark of Rasyid Harry. Ada kemungkinan buat bersanding dengan azrax ga bang tingkat cult legendnya?

Anonim mengatakan...

Kalau masanya Hanum & Rangga dulu ada review spt ini, niscaya bakal dipasang di IG filmnya. Seperti hujan bintangnya yg legendaris itu. Hahahahaa

Unknown mengatakan...

Mas Rasyid,

Akhirnyaaaa diriku nuntun film epic ini, wkwkwkkwkwk..

Memang sih filmnya nggk berkesan,"B"ajah..

Tapi nggk ada film yang jeleknya melebihi film Wahana Rumah Hantu..

Sejelek jeleknya film apapun, saya nggk pernah bilang film itu jelek, karena saya tau bikin film itu susah..

Tapi film Wahana Rumah Hantu sih keterlaluan, wkwkwkwk..

Gokcil mengatakan...

Njir sarkas