DETECTIVE CONAN: THE FIST OF BLUE SAPPHIRE (2019)

16 komentar
Saya meninggalkan anime Detective Conan selepas tidak lagi menonton televisi, berhenti membaca komiknya karena tak kunjung usai, dan meninggalkan film layar lebarnya yang lebih mementingkan aksi bombastis (adaptasi anime populer selalu demikian) ketimbang misteri, yang mana memancing ketertarikan saya akan seri ciptaan Gosho Aoyama ini dahulu. Pilihan itu sejatinya bisa dipahami, karena filmnya harus tampil sinematik, berbeda dibanding versi lain, sehinngga penonton punya alasan untuk mengeluarkan uang lebih.

Detective Conan: The Fist of Blue Sapphire merupakan installment terlaris kedua dalam franchise-nya, berhasil mengangkangi Avengers: Endgame di peringkat box office, serta merupakan film Detective Conan pertama yang mengambil latar internasioal (Singapura). Saya pun merasa ini waktunya kembali menjajal aksi Conan Edogawa memecahkan misteri. Dan jika kebetulan anda juga penggemar lama yang coba kembali, The Fist of Blue Sapphire adalah pilihan tepat. Anda takkan tersesat, karena di luar para tokoh utama, hanya ada nama-nama lama seperti Kaito Kid (Kappei Yamaguchi) dan Makoto Kyogoku (Nobuyuki Hiyama).

Kisahnya bermula saat seorang wanita terbunuh di Singapura. Tidak lama setelah ia meregang nyawa, terjadi ledakan yang menimbulkan kekacauan, sebelum tiba-tiba cairan merah seperti darah muncrat dari Merlion. Peristiwa terakhir tampak mengerikan, mencengangkan, dan misterius, meski sayang, jawaban yang filmnya siapkan atas anomali tersebut amat mengecewakan.

Kemudian bertemulah kita dengan Ran (Wakana Yamazaki), Sonoko (Naoko Matsui), dan Kogoro (Rikiya Koyama) yang mengunjungi Singapura guna menonton kompetisi karate di mana Makoto turut serta. Conan (Minami Takayama) yang awalnya kecewa tidak bisa ikut akibat masalah paspor, kaget ketika ia mendadak terbangun di Singapura. Kekagetannya bertambah saat mendapati ada Shinichi lain tengah bersama Ran. Tentu kita itu adalah samaran Kaito Kid.

Kali ini Kid berusaha mencuri batu safir legendaris yang ditatahkan di sabuk juara kompetisi karate yang Makoto ikuti. Tapi bukan hanya itu intensinya. Kembali ke pembunuhan di awal film, polisi menemukan kartu Kid yang berlumuran darah, otomatis menjadikannya tersangka. Di situlah ia memerlukan bantuan Conan guna membersihkan nama baiknya, dengan cara mencari sang pembunuh sebenarnya.

Naskah buatan Takahiro Ohkura (Detective Conan: Crimson Love Letter) tidak menampilkan misteri, atau setidaknya bukan misteri yang cukup kuat untuk mencengkeram atensi. Sejak awal kita sudah mengetahui siapa pelakunya. Bahkan filmnya pun tak berusaha menutupi itu. Pertanyaan yang tersisa bukan “siapa”, melainkan “bagaimana”. Bagaimana trik pembunuhan tersebut? Sebuah pertanyaan yang dikesampingkan oleh Takahiro atas nama gelaran aksi.

Sebagai film yang memiliki protagonis detektif, The Fist of Blue Sapphire begitu minim momen investigasi. Tanpa proses penyelidikan bertahap, kita langsung dihadapkan pada fase deduksi di paruh akhir, yang turut menyelipkan twist berlapis. Alih-alih mengejutkan, twist-nya semakin membuat penceritannya terlihat bak benang kusut. Sebuah twist yang datang entah dari mana, tanpa pondasi memadai, dan terasa mencurangi penonton.

Dan sebagai film yang memiliki protagonis detektif jenius, The Fist of Blue Sapphire terlalu gemar menampilkan kebodohan. Kebimbangan hati akibat intimidasi tak masuk akal salah satu karakter memperlihatkan kebodohan Makoto, keputusan mengejar mobil polisi di tengah sebuah kekacauan yang berujung membahayakan keselamatannya membuktikan kebodohan Sonoko, pun rencana besar sang antagonis tidak kalah bodoh.

Menariknya, sekuen aksi justru muncul sebagai penyelamat. Walau pengarahan sutradara debutan Tomoka Nagaoka (plus penyuntingan buruk) acap kali kacau akibat ketidaktepatan memilih fokus dalam frame yang berakhir menciptakan disorientasi membingungkan, secara keseluruhan ia cukup piawai membagun intensitas. Dibantu animasi solid, laga puncak di klimaksnya memang seru. Dari Conan, Kid, Makoto, sampai duet Kogoro-Ran, semua memamerkan kebolehan masing-masing.

Tomoka pun mampu melahirkan sekuen dramatis yang sedikit menyentuh definisi “indah” dalam mengemas peristiwa sebelum klimaks, ketika ia mematikan semua suara kecuali musik berbasis dentingan piano gubahan Katsuo Ono. Pun lagu tema buatan legendaris buatan sang komposer masih ampuh membuat tubuh “mantan penggemar” seperti saya bergetar. Sayang, keseluruhan filmnya tak mampu menumbuhkan keinginan untuk mengikuti lagi serinya (dalam media apa pun).

16 komentar :

Comment Page:
jefry punya cerita mengatakan...

Entah, conan dibanding sama kindaichi ibarat kata bagai bumi dan langit hehe

Chan hadinata mengatakan...

Yup yg bikin malas conan di tv yah gitu udah kyk nnton actionnya dwayne johnson
Kalo baca komiknya dlu.. kalo bukan misteri pembunuhan pasti gw skip

Rasyidharry mengatakan...

Kindaichi yang dulu ya, pas masih sinting 😁

Rasyidharry mengatakan...

Yep, kurang lebih sama. Tapi kalau ada Kid/mitologi jubah hitam, bukan pembunuhan pun masih mau baca sih

Akbar Pradhana mengatakan...

Sepakat bang, ane cuma ngikutin kalo ceritanya tentang Conan lawan si Jubah Hitam.

M arya gibran mengatakan...

Padahal movie jadulnya bagus bagus, kok makin kesini jadi tambah gini ya wkwk

Fajar Buyung mengatakan...

Masih setia ngikutin komiknya (tidak film-nya) karena identitas Pemimpin Jubah Hitam terkuak sedikit demi sedikit

Akbar Pradhana mengatakan...

Bentar. Sejak chapter berapa identitas pemimpin jubah hitam mulai terkuak?

Rasyidharry mengatakan...

Kalau tease awalnya sih dulu banget, pas siluet Renya Karasuma

Yolana mengatakan...

Udah lama brenti baca, selain alasan yg sama kek bang rasyid, saya juga bosen krn endingnya ketebak terus. Pelakunya biasanya yg terlihat paling lemah kalo gak yg paling baik... Ya gitu deh.

Adit mengatakan...

Udh lama engga ngikutin ini komik, apa kabar kawanan jubah hitam??

Saat Santoso mengatakan...

Sabar nunggu yang tahun depan aja lah, ada suara nya Akai dan aromanya bakal tentang Organisasi Hitam wkwkwkw..

Klo anime nya sndri saya udh g ngikutin kcuali ada case tentang kid atau jubah hitam

Unknown mengatakan...

Film ini emang Kaito Kid sentris yang terfokus pada hubungan simbiosis mutualisme-nya dengan Conan semenjak kejadian di Jet Black Mystery Train (Anime episode 701-704), serta romansa Makoto dan Sonoko. Mungkin ini yang ingin dijejelin ke penonton. Lupakan sejenak Detective Boys, Black Organization, atau romansa Shinichi dan Ran. Film ini bukan tentang mereka :)

Unknown mengatakan...

Makin banyak karakter baru yang berkaitan dengan mereka. Terutama tentang misteri siapa itu Rum, orang kedua yang berkuasa setelah Anokata di Black Organization

Unknown mengatakan...

Kalo mau nonton the first of blue sapphire emangnya dimana

AiZu_ichi mengatakan...

Terus terang saya lebih suka filmnya yang tahun 2018. Itu misterinya lebih dapet. Brgitu pun dengan emosinya. Kalo yang ini lebih ke hebohnya doank, sama ostnya yg ngisi artis kesayangan saya. Hehe...