MARIPOSA (2020)

18 komentar
Seperti sempat saya singgung di ulasan Teman tapi Menikah 2, penonton kita sedang jatuh hati pada adaptasi Wattpad bertema romansa remaja yang membawa ciri-ciri seperti judul “asing”, gombalan unik (baca: absurd), dan tipikal bad boy yang cenderung brengsek ketimbang keren. Mariposa, yang diangkat dari kisah buatan Luluk HF, sebenarnya turut mengusung formula serupa, tapi pendekatan ringan lewat sentuhan humor dan kemasan artistik yang diberi perhatian, membuatnya unggul dibanding banyak kompatriotnya.

Acha (Adhisty Zara) menyukai teman sekolahnya, Iqbal (Angga Yunanda). Tapi seperti sudah disinggung di atas, tentu saja Iqbal tidak membalas cinta Acha, bersikap dingin bahkan sedikit kasar padanya. Iqbal sangat kaku. Kekakuan yang dipicu tuntutan tinggi sang ayah (Ariyo Wahab), agar Iqbal selalu jadi nomor satu di bidang akademis, termasuk menjuarai olimpiade sains tingkat nasional. Tujuannya adalah memperoleh beasiswa untuk berkuliah di Inggris. Iqbal punya alasan kuat menghindari urusan percintaan. Kondisi tersebut berlawanan dengan keluarga Acha. Sang ibu (Ersa Mayori), yang seorang Army (penggemar BTS) sekaligus pengagum hal-hal berbau budaya populer Korea Selatan, ibarat sahabat bagi Acha, yang bisa ia ajak berbagi banyak hal termasuk tentang cinta.

Pun meski sesekali kelewatan, penolakan Iqbal sebenarnya bisa cukup dipahami. Obsesi Acha sebenarnya sering kelewatan. Dia selalu mengikuti Iqbal, terus menghubunginya, bersikap seolah keduanya berpacaran. Penanganan keliru dapat menjadikan Acha karakter creepy, namun Zara adalah figur likeable yang mampu memberi kepolosan, sehingga bentuk obsesinya bisa dijustifikasi sebagai kenaifan polah cinta monyet remaja.

Berlangsung selama hampir dua jam (117 menit), Mariposa mengalami stagnansi ketika kisahnya sebatas tersusun atas repetisi-repetisi situasi ketika Acha menggoda Iqbal hanya untuk menerima respon dingin. Jangan pula berharap ada eksplorasi mendalam mengenai metafora metamorfosis ulat jadi kupu-kupu (“mariposa adalah Bahasa Spanyol yang berarti “kupu-kupu”) yang sejatinya cuma gimmick untuk membuai target pasar bocah/remaja awal. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Alim Sudio selaku penulis naskah adaptasinya.

“Perbaikan” yang dilakukan adalah memperlakukan romantikanya tidak terlalu serius, melalui selipan humor-humor segar. Tengok adegan di perpustakaan, atau sekuen menggelitik tentang “perjalanan kue keju Belanda”. Alhasil, walau ceritanya tidak banyak berprogres dan memiliki durasi cukup panjang, Mariposa takkan terasa melelahkan. Apalagi visualnya cukup memanjakan mata, melalui penggunaan warna-warna pastel (khususnya kombinasi biru-merah muda) pada seragam dan properti serta pencahayaan lembut.

Selain stagnansi kisah, muncul juga masalah perihal pembangunan intensitas di babak akhir yang menyoroti pelaksanaan olimpiade. Menyulap aktivitas mengerjakan soal tertulis jadi pemandangan menegangkan bukan perkara mudah, dan pengarahan Fajar Bustomi belum berhasil mencapai titik itu. Dan sewaktu lomba memasuki babak rebutan, pemakaian teknik quick cut guna meningkatkan dinamika justru kerap membuat pusing kepala.

Beruntung Mariposa menyimpan konklusi yang berhasil menjadi puncak emosi. Berpengalaman mengarahkan trilogi Dilan, Fajar tahu cara menciptakan momen menggemaskan berisi pengakuan cinta ala remaja, yang juga menyentuh hati berkat penampilan heartful Zara. Aktris muda ini memang tidak bisa dipandang remeh.

18 komentar :

Comment Page:
Navyna yuniarta mengatakan...

Sempet ragu sih buat nonton film nya
Tapi setelah liat review ini kayak nya perlu di tonton deh nih film
Thanks review nya kak rasyid:)

Mukhlis mengatakan...

Nggak minat nonton, karena adaptasi nya udah ancur gitu. Mungkin filmnya jadi lebih baik, tapi ya, sumber adaptasinya saja gitu. Pernah baca novelnya nggak Mas? Kalau pernah, pasti tahu maksudku

Navyna yuniarta mengatakan...

Emang apa yang salah sama novel nya?

Veeth mengatakan...

Sudah nonton mas Rasyid, walau awalnya agak ragu menonton ini karena novelnya aja udah nyerah duluan mas, gak sanggup nyeleseinnya terlalu bnyak hal yg gak masuk akal. Ternyata selesai nonton ya sama aja mas. Gemes mkn ada, tapi gemes ke arah kasian Ama kedua PUnya. Kalaupu ada yg perlu diubah agar lebih baik ya dengn cara mengubah karakter tokoh utamanya, dan itu tentu ga mkn dilakukan. Filemnya emng pasti membuat baper, sama kayak novelnya, tapi setelahnya membaca atau menonton baru berasa efeknya, ini sebenernya kita lagi baca dongeng atau buku fantasi atau apa ya...hehehe...

Veeth mengatakan...

Tambahan lagi perubahan dari novel, dimana di film Iqbal tertekan dengan orang tuanya, sedang di novel dia belajar dan senang ikut olimpiade, justru memperparah karakter Iqbal di film. Iqbal pun Acha seolah ga dibekali passion apapun sebagai anak pintar,selain hal hal repetitif tentang mengejar cinta sampai dapat.

Sampai saya pernah mereview..tolong jngan membuat saya pusing dengan memfilmkan novel ini..hehehhe...tapi setidaknya saya nyumbng satu tiket:)

Unknown mengatakan...

Kata aku novelnya bagus kok, aku ngikutin dari wattpad hingga novel. Emang sih kayaknya receh tapi kan itu kisah cinta remaja alias drama remaja jadi penuh warna. Lagian masih ada pesan moralnya lewat acha dan Ikbal seperti tidak boleh melupakan kewajiban seorang siswa meski mereka mengejar cintanya. Dan terbukti meski acha ngejar Ikbal tapi dia masih berprestasi persahabatan antara Ikbal, Glen, dan Riyan yang solid. ... Kalo berharap cerita serius ya jangan mariposa karna mariposa targetnya pembaca remaja karna ini teenlit.

Mukhlis mengatakan...

Yang paling fatall sih, hampir 200 halaman lebih, isinya cuma si Aca ngejar Iqbal terus, tanpa ada pengembangan karakter berarti.
Aca Ngejar ikbal, ditolak Iqbal, hampir menyerah, putus asah, bangkit, . Dikejar lagi. Gituuuu aja ceritanya

hilpans mengatakan...

Saya malah pegel liat aktingnya Zara Adisty..masih keliatan overnya..kyk Chelsea Islan d awal awal karirnya.. jadi kurang nyaman ..untung kebantu dan ketutupi sama cast cast lain..dan Angga yunanda..selalu menampilkan aktingnya yg berkembang..dari satu film ke film lain seperti penampilan yg memukau di dua garis biru.. dia mampu menutupi akting Zara ..begitu juga d film ini ..

Anonim mengatakan...

Remaja ABG memang suka cerita2 wattpad ala2. Hadeeehhh. Tapi suka banget sama chemistry angga-zahra.

raka1708 mengatakan...

Uknown character developmentnya kurang,meskipun cuma kisah cinta remaja tpi sya yg remaja biasa aja.200 lebih halaman isinya cuma ngejar2 cinta,lalu ditolak dan terus diulang2

Firdaus mengatakan...

Untuk penambahannya ya...Mariposa kek teh manis tanpa gula terutama di karakter Iqbal,andaikan ada sedikit lagi character development buat Iqbal terutama stress dan frustasi.kek gak kerasa andaikan ada pasti ceritanya bagus sekali

Dony mengatakan...

Bosen zara angga mulu, ini udah kayak jefri amanda dulu dipasangin terus

Rasyidharry mengatakan...

Mulu? Terus? Baru juga 2x. Atau jangan-jangan felem Indonesia yang ditonton cuma yang ada Angga-Zara?

Anonim mengatakan...

Baru dua kali, tapi dalam waktu berdekatan. Ya kita liat aja nanti,bakal dipasangin lagi gak. Kalau film ini laris, feeling saya iya

Abdi_Khaliq mengatakan...

Bukannya sotoy atau gimana ya, ini murni pendapat pribadi...
Syarat cerita wattpad yang diangkat ke film tuh cuman satu… jumlah pembacanya harus jutaan, makin banyak yang baca makin besar kesempatan menang, nggak peduli seancur apapun ceritanya yang penting bisa jadi uang... duit... fulus... dan money! Hahahahaha…
Padahal kalo dipikir pake logika manusia sehat dan matang… “Yaeyalah jutaan pembaca, secara dari cerita gratisan wattpad!” 90% usernya aja ABG-ABG LABIL semua, selera mereka juga gampang banget ditebak, kalau romance bikinlah si karakter cowok harus super ganteng, terkenal seantero sekolah, bad boy, jutek, cuek, sok keren, pendiam, kalau ketemu karakter cewek sering-seringlah berantem, terus ujung-ujungnya jadian dan happy ending deh! DONE.
Nah kalau horror beda lagi, bikinlah karakter utama indigo, bisa melihat hantu, sering dibully, mati suri, berteman dengan hantu, latar belakang hantu mati penasaran, karakter antagonis satu dimensi yang membenci karakter utama dengan alasan gaje ( bisa karena dianggap aneh, sok kecantikan/kegantengan, rebutan pacar), lalu si antagonis kena batunya, terus beri twist ending super syocking, bisa berupa karakter yang baik ternyata jahat or karakter utama ternyata udah mati dari awal!! BOOM... So origina! Selamat anda meraih jutaan pembaca!!
Beberapa bulan kemudian di bioskop...
“Sebuah Film yang diangkat dari cerita fenomenal wattpad dengan jutaan pembaca!” Hahahaha
Saya berani jamin kok cerita-cerita penulis wattpad yang katanya dibaca jutaan pembaca itu nggak bakalan lolos apalagi laku kalo langsung dikirim ke editor penerbit buku professional!!
Buku-buku karya Penulis Professional macam Habiburrahman El-Shirazy, Ika Natassa, Andrea Hirata, Ahmad Fuadi, Dee Lestari, Tere Liye, Asma Nadia, Risa Saraswati dkk, jarang banget kok bisa terjual sampai jutaan copy, kenapa? Karena karya mereka tuh berkelas dan “berharga”!! Karya-karya mereka banyak dipuji pembaca di Goodreads, sangat berbanding terbalik dengan novel-novel hasil adaptasi wattpad yang dibaca berjuta-juta orang (secara gratis) tapi malah dihina di Goodreads!! Miriss nggak tuh!!???

Memang sih meski wattpad gratisan, meraih jutaan pembaca tidaklah gampang... Tapi setidaknya rumus-rumus “Hiburan Jamur” buat remaja Indonesia (atau mungkin masyarakat umum???) bisa kita lihat dengan nyata bukan!?

Oh, Boy... Semoga suatu saat Wattpad bikin bioskop gratis, biar jumlah penonton film-film adaptasi Wattpad sebanding dengan jumlah pembacanya yang meraup puluhan juta remaja! Kita doa’kan saja!

Unknown mengatakan...

Mas Rasyid,

Gimana nih pendapatnya mengenai jumlah penonton Mariposa yang 500K++ selama 4 hari, yang kemudian langsung terjun bebas di hari berikutnya karena kasus Covid 19 ini?

Harusnya Mariposa bisa mendulang pundi² dan masuk daftar film yang di tonton lebih dari satu juta penonton..

Salah waktu penayangan'kah?

Rasyidharry mengatakan...

Ya bukan salah waktu, emang karena corona. Bukan hal yang bisa diprediksi. Kalau nggak ada wabah, 1,5 juta mungkin banget didapat

Kucinggg Edan bukan Kucing biasa mengatakan...

Angga zara baru dipasangkan di 2 film selama 2019-2020. Tau jefri Nichole dan amanda rawles berapa kali selama 2 tahun? Tujuh! Engga apple to apple mau bandingin angga zara sama Jef-amanda mah toh akting angga zara jauh berkembang dari satu film ke film lainnua menurut gue ketimbang harus ngejual chemistri doang.