REVIEW - THE WHITE TIGER

2 komentar

Sewaktu kecil, Balram (Adarsh Gourav) diibaratkan sebagai harimau putih. Karena sebagai bocah miskin dari daerah kumuh di Laxmangarh, Balram yang pandai membaca juga berbahasa Inggris, adalah "makhluk langka". Selang beberapa tahun, seperti apakah nasib Balram dewasa? Rupanya sama seperti kebanyakan orang miskin dari kasta rendah, ia menjadi pelayan yang setia menjalankan perintah majikan, kemudian tersenyum bahagia setiap merampungkan sebuah tugas, layaknya anjing yang mengibaskan ekor sembari menjulurkan lidah ketika empunya berkata, "good boy".

Mengadaptasi novel berjudul sama karya Aravind Adiga, The White Tiger menyentil perihal privilege. Bagaimana si kaya punya opsi untuk gagal sementara si miskin wajib berhasil di segala kesempatan. Bagaimana tidak peduli sepintar apa pun, mimpi-mimpi bakal terus terbentur jurang kemiskinan. Menariknya, film dibuka dengan memperlihatkan Barlam yang telah sukses sebagai pebisnis. Pertanyaan "Jalan apa yang Barlam tempuh hingga bisa keluar dari jurang kesengsaraan?", membuat alur non-linear miliknya, mampu secara efektif menjaga atensi penonton. Tidak mudah menebak, sebuah peristiwa akan membawa kisahnya bergerak ke mana.

Kesempatan pertama Balram datang, sewaktu ia diterima menjadi sopir Ashok (Rajkummar Rao), putera bungsu "The Stork" (Mahesh Manjrekar) sang tuan tanah di Laxmangarh. Berbeda dengan ayahnya yang bertindak semena-mena, memeras rakyat kecil melalui pajak, serta rutin membayar para politisi demi melancarkan bisnis, Ashok adalah pria jujur nan murah hati. Konon, semua berkat pengaruh ideologi yang didapatkan saat ia tinggal di Amerika Serikat. Di sanalah Ashok bertemu istrinya, Pinky (Priyanka Chopra Jonas). 

Ashok dan Pinky bersikeras agar Balram tak memperlakukan mereka sebagai majikan berkasta lebih tinggi, walau jurang perbedaan tersebut sesungguhnya begitu menganga, baik yang ditampilkan oleh penampilan, pola pikir, juga gerak-gerik. Rao dengan setelan jas tampak berkharisma. Sewaktu ia merokok di kursi penumpang, figurnya memperlihatkan sosok si kaya yang bisa menikmati setiap detik kehidupannya. Sebaliknya, Gourav pun meyakinkan sebagai pelayan yang gemar mengumbar senyum, dan menyetujui seluruh perkataan sang majikan. Entah karena dia tidak tahu apa-apa, atau selaku usaha "menjilat".

Awalnya The White Tiger terkesan hangat, namun ini bukan kisah heartful mengenai persahabatan dua individu beda kelas. Naskah buatan sutradara Ramin Bahrani (At Any Price, 99 Homes) segera menelanjangi realita. Realita bahwa para pemegang kekuatan (dan kekayaan) punya kecenderungan memalsukan kebaikan hati. Ada yang memasang topeng guna menarik hati rakyat jelata, misalnya saat kita mendapati jika politkus idola kaum akar rumput yang dijuluki The Great Socialist (Swaroop Sampat), nyatanya tidak kalah kotor dalam bermain.

Tapi ada pula golongan borjuis dengan standar ganda. Majikan Balram masuk kategori ini, pasca terjadinya suatu insiden, yang membuktikan bahwa ujung-ujungnya, si miskin bakal jadi tumbal si kaya. Golongan kedua ini tak kalah berbahaya. Walau seolah bersikap baik, begitu terancam, mereka tidak segan menampakkan wajah asli. 

Apakah sepenuhnya salah si kaya? Di mayoritas kesempatan, ya, tetapi The White Tiger bersikap adil. Rakyat kelas bawah juga bisa jadi sumber masalah, sebagaimana terlihat sewaktu nenek Balram (Kamlesh Gill) bukan saja memaksa cucunya menikah, pula mengambil hampir semua gaji bulanannya. Egoisme, keserakahan, tendensi mengatur hidup orang lain. Nyatanya sifat alami tersebut ada dalam diri setiap manusia, tidak peduli seberapa tebal kantongnya. 

Babak akhir filmnya agak bermasalah, berlangsung terburu-buru, bagai epilog singkat yang dipaksa merangkum konklusi bagi suatu perjalanan panjang. Tapi kelemahan di penghujung durasi itu tidak sampai merusak The White Tiger, yang berkat penceritaan dinamis Ramin Bahrani, tak sedikitpun menyisakan ruang bagi rasa bosan. 


Available on NETFLIX

2 komentar :

Comment Page:
Anonim mengatakan...

Kalo saya jadi balram yang jadi target pembunuhan adalah nenek sendiri. Bener bener toxic parenting.

Anon mengatakan...

Review "The Little Things" nya denzel washington dan jared leto mas rasyid..