REVIEW - PIPELINE

1 komentar

Pipeline ditulis sekaligus disutradarai oleh Yu Ha, yang pernah membuat drama period erotika, A Frozen Flower (2008). Tapi namanya tentu lebih identik dengan film gangster, berkat judul-judul seperti A Dirty Carnival (2006) dan Gangnam Blues (2015). Sehingga dalam Pipeline pun, yang mengetengahkan aksi pencurian, identitas itu masih kental terasa, sementara kekhasan yang jadi daya tarik sebuah caper story/film heist malah gagal ia tampilkan.

Padahal ide dasarnya cukup menarik. Alih-alih uang, permata, emas, atau barang berteknologi tinggi, minyak jadi target pencurian. Sementara protagonis kita, Pin Dol-yi alias "Drill-bit" (Seo In-guk), adalah sosok legendaris yang dikenal mampu mengebor semua jenis pipa minyak. Kemampuannya itu sampai ke telinga Gun-woo (Lee Soo-hyuk), seorang pengusaha yang meminta Pin Dol-yi melakukan pencurian minyak besar-besaran. Tim pun terbentuk. Selain Pin Dol-yi, ada Jeob-sae (Eum Moon-suk) si jago las, Chief Na (Yoo Seung-mok) si ahli geografi, Geun-sab (Tae Hang-ho) dengan ototnya, dan si pengawas (Bae Da-bin). 

Menengok deskripsi di atas, Pipeline sudah punya tim memadai. Penokohan mendalam bukan kewajiban, selama tiap orang memiliki kemampuan beragam, serta beberapa kepala dengan kepribadian berlawanan untuk saling dibenturkan. Tapi dalam penulisannya, Yu Ha seperti belum menguasai karakteristik caper story tersebut, sebab sepanjang durasi, nyaris tidak ada "pertunjukan spesial", di mana keahlian tokohnya jadi sorotan.

Dol-yi hanya sekali memperlihatkan alasan mengapa ia dijuluki "Drill-bit". Sisanya, sekadar pengeboran biasa. Geun-sab cuma pekerja kasar, Chief Na lebih sering melakukan kesalahan analisa sambil begulat dengan penyakit, Jeob-sae praktis tidak berguna dan hadir cuma untuk menambah konflik, sedangkan karakter yang Da-bin perankan hanyalah pemanis semata. 

Kepribadian kelimanya tak cukup kuat melahirkan banter yang mencirikan genrenya. Benar bahwa mereka kerap bertengkar, namun sebatas saling bentak. Bukan gesekan yang berfungsi memperkaya dinamika, atau sumber hiburan (penulisan Yu Ha terlampau kaku). Saat akhirnya nasib seorang karakter mendorong munculnya persatuan, sulit rasanya mempercayai itu, apalagi memedulikan nasib mereka. 

Film bertema pencurian identik dengan gaya, dan itu tak dimiliki sang sutradara. Sebagaimana Dol-yi yang bekerja di terowongan sembari mengenakan setelan, biarpun mengetengahkan aksi pencurian minyak yang penuh kekotoran, sebagai fim heist, Pipeline semestinya tetap tidak kehilangan kesan elegan nan keren. Minimal, kesan tersebut hadir tiap karakternya unjuk gigi memamerkan skill masing-masing. Tapi apa daya, saat karakternya sendiri tidak mempunyai skill untuk dipamerkan. 

Bukannya Yu Ha sama sekali tidak berusaha bergaya. Musik berbasis synth ala film heist, hingga rock pemacu adrenalin sesekali terdengar, pun teknik visual seperti crash zoom terkadang dipakai, tapi dampaknya tak seberapa. Yu Ha bak boomer yang berusaha terlihat kekinian di mata anak muda, dengan cara menggembar-gemborkan istilah "generasi milenial", tanpa tahu arti sesungguhnya, dan apa yang mereka sukai. 

Tetapi pada dasarnya, ia tetaplah sineas berpengalaman. Persoalan gaya berhasil ditutupi oleh pacing solid, sehingga 108 menit durasinya tidak pernah (terlalu) membosankan. Pun aksi baku hantam raw antar geng yang mendefinisikan film gangster, masih bisa ditemui. Tentu saja klimaksnya menampilkan tawuran penuh kekacauan, dengan humor di sana-sini, layaknya kebanyakan suguhan aksi-komedi populer Korea Selatan. Kurang berhasilnya Pipeline patut disayangkan, mengingat Seo In-guk, dengan setelan jas dan pesonanya, jelas mampu menghidupkan protagonis stylish khas film heist. Potensi yang pernah ia tunjukkan melalui drama berjudul Squad 38 (2016). 

1 komentar :

Comment Page:
Anon mengatakan...

Review film "Possessor" bang. Seru tuh