10/08/26

REVIEW - DEAR YOU

0 View

Dear You arahan Lan Hongchun adalah film tentang kesetiaan serta kerinduan terhadap rumah. Baik rumah berwujud bangunan tempat berteduh, pasangan yang mencintai, keluarga yang mengasihi, kawan-kawan serumpun yang senasib, juga tanah air yang mendengar tangisan pertama kita di dunia. 

Semua berawal dari pencarian Hiou-ui (Zheng Runqi) terhadap kakek yang tak pernah dikenalnya. Sang kakek, Den Bhagseng, dipercaya menetap sebagai orang sukses di Tailan, setelah berpuluh-puluh tahun lalu meninggalkan istrinya saat kabur guna menghindari wajib militer di tengah Perang Saudara Tiongkok. Butuh waktu agar bisa menikmati keruwetan perjalanan Hiou-ui, yang kerap terlampau liar menggerakkan alurnya. 

Istri Bhagseng, Sogriu (Wu Shaoqing), menghabiskan puluhan tahun menyeka sisa-sisa kenangan perihal sang suami. Pasalnya, qiaopi (istilah bagi sepucuk surat yang dikirim para diaspora untuk keluarga mereka di Tiongkok, biasanya disertai sejumlah uang) terakhir Bhagseng hanya berisi selembar foto berisi sosoknya bersama seorang perempuan dan beberapa bocah. Hati Sogriu tersayat. Kekasih hidup yang sudah puluhan tahun dinanti kepulangannya telah menemukan "rumah baru". 

Sampai hasil investigasi Hiou-ui mengungkap lembar-lembar masa lalu lain yang sempat terkubur, dan membawa Dear You bertransformasi dari melodrama keluarga berbumbu romansa klise menjadi drama epik tentang upaya merawat ingatan. 

Kilas balik segera mengambil alih. Bhagseng muda (Wang Yantong) kita ikuti rutinitasnya. Penghasilan bulanan pas-pasan sebagai penarik angkong yang semuanya ia kirim guna menghidupi Sogriu dan anak-anaknya, mengharuskan Bhagseng tinggal di gudang kumuh dalam penginapan kepunyaan Zia Lamgi (Li Sitong memerankan versi muda, Usha Seamkhum yang angkat nama lewat How to Make Millions Before Grandma Dies memerankan versi tua), perempuan yang wajahnya tercetak di foto. Kedekatan keduanya segera terjalin.

Qiaopi yang tak pernah absen Bhagseng layangkan tiap bulan mewakili peran Dear You selaku surat cinta untuk surat cinta. Betapa rapuh secarik kertas. Kombinasi cuaca buruk dan nasib sial sudah bisa memusnahkan eksistensinya. Tapi itulah kenapa, sebagaimana memori manusia, surat begitu bermakna. Sifatnya tak selamanya, luar biasa ringkih, namun dapat menghilangkan sekat tebal berbahan baku samudra membasuh kerinduan akan rumah. 

Perjuangan Lamgi dan Bhagseng mencuatkan komparasi menarik. Sebagai anak perempuan, yang dalam dialek Tiochiu disebut "zao-gian" alias "anak yang pergi", Lamgi seolah ditakdirkan meninggalkan rumah untuk mengabdi pada suami. Sedangkan selaku laki-laki, Bhagseng juga dituntut meninggalkan rumah dalam rangka wajib militer. Disatukan benang merah berupa kecintaan pada aneka rupa rumah masing-masing, keduanya melancarkan pemberontakan. 

Penginapan milik Lamgi turut jadi rumah sementara bagi para diaspora Tiochiu (termasuk Bhagseng), yang di sela-sela kerinduan akan rumah, tak henti-hentinya saling menjaga. Sebab di tanah asing, solidaritas tersebut bak pengganti rumah untuk masing-masing dari mereka. 

Saya tidak bisa membayangkan betapa bermaknanya Dear You di mata orang-orang Tiochiu. Tapi bisa saya pastikan, filmnya efektif perihal memberi pencerahan terkait setumpuk konteks budaya dan politik kepada penonton awam. Dear You berhasil dipresentasikan sedemikian rupa supaya gampang diakses oleh segala kalangan dengan menyisipkan unsur drama keluarga, percintaan, dan tentunya humor.

Komedinya mengedepankan absurditas sarat sentuhan deadpan khas sinema Cina (juga Tailan). Sebagai taktik meniadakan tubrukan tone dengan sisi dramatiknya, para penulis naskah membelah penceritaannya ke dalam dua wajah. Paruh awal kaya akan taburan humor, yang porsinya makin ditekan seiring eksplorasi atas masa lalu Bhagseng diperdalam. Upaya tersebut berhasil, kendati lahir masalah baru: terkadang Dear You terasa bak disusun oleh dua film berbeda. 

Tapi jika yang anda nantikan adalah banjir air mata, tidak perlu khawatir. Dear You adalah ahlinya. Lan Hongchun tidak merasa perlu mengeksploitasi adegan melodrama secara berlebihan. Rasa haru bakal merambat seiring twist-nya, yang kaya akan bobot emosi, mulai mengupas lapisan-lapisan masa lalu sang protagonis, dan kita pun perlahan menyadari kebenaran yang selama puluhan tahun luput dirawat, dan kerinduan terhadap rumah akhirnya disembuhkan oleh kepulangan. 

2 komentar :

  1. Apakah alurnya seperti Film Ziarah Bang Rasyid?

    BalasHapus
  2. seperti biasa.. kata demi kata yang Rasyid rangkai selalu indah den menyentuh hati.

    BalasHapus