MOVFREAK ON UC NEWS (LAST UPDATED ON AUGUST 13, 2018)

Sejak akhir Juni lalu, saya diundang oleh UC News untuk menyumbangkan tulisan bertema religi...maksud saya film. Awalnya saya hanya mempublikasikan ulang review blog ini, sampai tercetus niat untuk fokus pada pembuatan list film, yang mana sering pembaca blog ini minta tapi karena satu dan lain hal (baca: penulisnya pemalas) jarang terpenuhi. Kenapa tidak sekalian membuat list juga di sini? Tidak lain demi menjaga orisinalitas kedua media, sebab pernah artikel saya ditolak karena sistem menyatakan tulisan itu hasil jiplakan dari web movfreak.blogspot.com (lol).

Maka dari itu, jika ada list yang kalian ingin saya buat, silahkan request, bisa di kolom komentar ini atau artikel saya di UC News. Untuk mengakses tulisan di sana, bisa mengunduh aplikasi UC News di smartphone, lalu cari dan ikuti akun "Movfreak". Atau cukup dengan mengikuti postingan ini yang akan selalu saya update tiap ada artikel baru dan akan selalu disematkan di halaman paling atas blog. Dan karena perbedaan media publikasi, gaya penulisan yang saya pakai pun (mostly) berbeda. Silahkan request sebanyak-banyaknya, makin unik makin baik, agar memudahkan saya membuat judul clickbait daftar menarik. Tenang, review tetap saya publikasikan di sini (afterall, this is my home, and all of you, my readers, are the lovely guests).

Berikut beberapa judul yang sudah ada sejauh ini yang akan rutin diperbaharui (klik untuk menuju tautan):

DUKUN (2018)

Di tengah persidangan, Karim (Faizal Hussein) selaku pengacara, bertanya, “Siapa di sini percaya ilmu hitam?”. Hampir semua peserta sidang mengangkat tangan. Sebagaimana kita, perihal mistis memang lekat dengan kehidupan masyarakat Malaysia. Beberapa menyebutnya kepandiran dalam era modern, tapi saya melihatnya sebagai aspek kultural unik yang mempunyai fungsi. Seperti saat Dain Said (Bunohan: Return to Murder, Interchange) menjadikan Dukun karya “eksklusif” yang takkan bisa direplika sineas negeri Barat sehebat apa pun. Aspek supranatural bukan jadi alat penghasil teror saja, melainkan bagian penting narasi, pula bagian kehidupan karakternya.

Dukun sendiri terinspirasi dari kasus nyata pembunuhan Mona Fandey, dukun sekaligus mantan penyanyi yang membunuh kemudian memutilasi tubuh salah satu kliennya, politikus Mazlan Idri, menjadi 18 bagian pada 1993 selaku bagian ritual. Selepas proses persidangan yang menarik animo seantero negeri, Mona dihukum gantung tahun 2001. Keterlibatan nama-nama besar serta konten kontroversial tersebut membuat Dukun terhalang perilisannya yang awalnya dijadwalkan pada 2007. Setelah 11 tahun tanpa kejelasan, Dukun akhirnya tayang.

Skenario buatan Huzir Sulaiman sejatinya hanya mengadaptasi lepas, walau beberapa unsur jelas masih serupa. Pilihan itu akhirnya membuka jalan kisahnya mencampurkan elemen tiga genre: investigasi kasus pembunuhan, thriller ruang persidangan, dan horor supranatural. Menariknya, elemen yang disebut terakhir justru porsinya paling minim, meski nuansa supranatural kental menyelimuti tiap sisi cerita, sehingga membuat tiap cabang alur tetap saling terikat.

Nama Mona Fandey diganti Diana Dahlan (Umie Aida). Jauh berbeda? Tidak saat anda tahu jika album debut Mona dahulu mengusung judul Diana I. Sejak awal kita bertemu Diana, ia telah mendekam di penjara pasca menghabisi sang klien, Datuk Jefri (Adlin Aman Ramlie), dengan tenang menanti dakwaan, sembari selalu menolak jasa pengacara. Sampai pengacara ke-24, Karim, menawarkan diri demi memperoleh informasi soal puterinya yang hilang. Kali ini Diana beredia. Di tempat lain, Talib (Nam Ron) dan bawahannya, Shah (Bront Palarae) dari kepolisian, sedang menyelidiki kasus tersebut lalu menemukan setumpuk rahasia kelam nan mengerikan.

Perlahan ketiga cabang itu bertemu, memuncak di suatu twist seputar hubungan terselubung antar-karakter yang terasa beralasan juga masuk akal, berbeda dengan kebanyakan film yang cuma mengandalkan kebetulan dipaksakan. Satu lagi bukti solidnya penulisan Huzir Sulaiman, meski di banyak kesempatan, selipan adegan-adegan pendek yang muncul sambil lalu, menyebabkan aliran alur kurang nyaman diikuti.

Besar kemungkinan anda takkan menganggap Dukun sebuah horor menyeramkan, walau melihat dari penyutradaraan Dain Said, itu memang pilihan. Dia enggan berusaha keras menakut-nakuti penonton lewat unsur supranatural, namun melukiskannya sebagai pemandangan tidak wajar. Seram atau tidak urusan belakangan. Ketika Diana melakukan ritual di sel misalnya, yang jadi wahana Dain Said bermain-main memanfaatkan ruang gelap gulita untuk mengkreasi trik visual. It’s scary for some but not for the others. But I think we can agree that it feels unnatural.

Babak persidangan adalah fase terbaik Dukun. Satu per satu saksi hadir, tiap keterangan divisualisasikan, menggiring kita menuju reka ulang peristiwa yang menjelaskan kengerian dalam ruang praktek Diana. Semakin banyak protagonisnya belajar tentang kasus itu dari para saksi, semakin kita memahami latar belakang kisanya. Di situ terjadi “pertarungan”  Karim melawan jaksa penutut (Chew Kin Wah). Jaksa bersikukuh Diana bersalah, sebaliknya, Karim menyanggah. Argumen mereka berdasar, saya pun tertarik mempertimbangkan versi kebenaran masing-masing, termasuk Karim, di mana kematian Datuk Jefri hanya kecelakaan. Setidaknya hingga kasus digali lebih jauh.

Bagi drama ruang sidang, kemampuan memprovokasi penonton, menghadirkan dilema mengenai dua perspektif berlawanan yang diperdebatkan dalam konfliknya, merupakan wujud kesuksesan. Tapi sulit menyangkal argumen bahwa kesuksesan terbesar film ini adalah penampilan Umie Aida. Terlihat mengerikan, mematikan, dengan senyum yang menolak memudar walau berada di persidangan yang mempertaruhkan nyawanya. Pun dia tambahkan sensualitas melalui gestur kecil seperti memilin rambut atau gerakan kepala yang menyiratkan kontrol penuh sarat kepercayaan diri atas segala situasi.

“Aku tidak akan mati”. Demikian kalimat terakhir Mona Fandey sebelum lehernya dijerat tali gantungan. Walau tak dimasukkan di film, namun baik di atas atau di balik layar, kalimat itu terus menggema. Terkait narasi, Dain Said cerdik menggunakannya guna menyusun konklusi supranatural yang sepenuhnya baru, tidak terikat kejadian nyatanya. Sementara di balik layar, seiring kontroversi yang membanjiri filmnya, Mona takkan mati. Namanya, riwayatnya, selalu hidup dalam ingatan publik sebagai bomoh (dukun) penebar teror berdarah.

SLENDER MAN (2018)

Slender Man yang bermula dari creepypasta mampu memancing rasa ngeri memanfaatkan ketakutan manusia akan hal misterius, yang dikuatkan oleh desain tanpa wajah miliknya. Dibantu beberapa foto buram hasil editan, imajinasi kita melayang-layang, dan mitos baru pun tercipta. Permainannya, Slender: The Eight Pages, juga viral. Bukan sepenuhnya karena menyeramkan, melainkan sebagaimana video game lain, kita selaku pemain, benci kalah. Ditambah nuansa atmosferik serta kesendirian (kita satu-satunya tokoh), semakin total adrenalin dipacu.

Sementara dalam filmnya, Slender Man adalah makhluk CGI yang bukan saja tak seram, bahkan konyol. Kesan kesendirian pun lenyap, digantikan kebisingan dari kecerewetan para tokoh utama yang sulit disukai. Hallie (Julia Goldani Telles), Wren (Joey King), Chloe (Jaz Sinclair), dan Katie (Annalise Basso) merupakan empat serangkai yang pada suatu malam, terpancing membuka situs soal ritual memanggil Slender Man dengan cara menonton video terkutuk. Seminggu berselang, dampak mengerikan terjadi, mulai dari penampakan aneh, hingga akhirnya memuncak ketika Katie menghilang.

Tersisa tiga gadis remaja, dan Hallie jelas karakter utama film ini. Dia satu-satunya yang sempat penonton singgahi lingkup personalnya, mengenal anggota keluarganya. Sekilas pun mudah ditebak bahwa dialah pengisi peran “Final Girl” yang keberadaannya bagai aturan tak tertulis di film horor. Tapi, Hallie justru paling skeptis perihal dunia mistis dibanding ketiga rekannya. Tidak peduli berapa banyak keanehan ia alami, temannya menghilang dan jadi gila tanpa alasan, Hallie bersikukuh enggah terlibat, menutup mata, berharap dapat menjalani hidup secara normal. Karakter skeptis dalam horor selalu menjadi sosok paling menyebalkan, begitu pula Hallie. Di sini kegagalan filmnya berasal. Tokoh utamanya mudah dibenci, menciptakan jurang besar dengan kepedulian penonton.

Pasca menonton video pemanggilan Slender Man, mereka berempat kerap bermimpi dan melihat keanehan. Konon, hal tersebut merupakan tanda-tanda hilangnya kewarasan akibat kutukan si hantu muka rata. Di tangan Sylvain White (I’ll Always Know What You Did Last Summer, The Losers) sekuen yang mewakili kegilaan tokohnya dikemas lewat surreal imageries yang mengisi mayoritas bagian trailer-nya sehingga terlihat menarik. Sekuen sureal yang terlihat bak mimpi buruk yang cantik, merupakan elemen paling menarik film ini, yang jika seluruhnya digabung, total takkan mencapai 2 menit lamanya. White jelas berbakat menciptakan video klip bagi musisi gothic, tapi tidak dengan film horor.

White menganggap, semakin temaram cahaya, semakin mengerikan suatu adegan. Alhasil, mayoritas teror terjadi di tengah kegelapan. Begitu gelap, sulit mendeskripsikan peristiwa di atas layar. Terkadang, entah ide brilian dari mana, White memakai shaky cam tatkala suasana gelap gulita. Jump scare-nya berkutat pada Slender Man yang diam berdiri bagai pria mabuk di ujung gang. Terdapat satu jump scare yang luar biasa mengagetkan. Bukan karena eksekusinya baik—bisa disebut konyol malah—namun, campur tangan sensor yang memotong momen sensual sebelum itu, justru menambah kesan tiba-tiba pada jump scare-nya.

Bicara potong-memotong, Slender Man mestinya dipotong sekitar 60-70 menit, jadikan film pendek, yang mana lebih cocok, baik dari sisi teror maupun cerita. Alurnya menjabarkan misteri soal latar belakang legenda Slender Man yang jadi bahan penyelidikan karakternya untuk mencari jalan keluar dari maut. Tapi penyelidikan itu gagal menghadirkan jawaban memuaskan, pula gagal menyusun satu kesatuan mitologi. Begitu usai, pengetahuan kita tentang Slender Man takkan bertambah signifikan dibanding saat film baru dimulai. Sementara konklusinya bagai ekspresi kemalasan David Birke menutup naskah secara layak, memilih berkata “Fuck it, I’m done!” lalu menyerah. Saya berharap ia melakukannya lebih cepat supaya filmnya selesai lebih awal, alhasil saya tak perlu lama tersiksa. Karena Slender Man merupakan salah satu pengalaman menonton paling menyiksa tahun ini.

KASINEM IS COMING (2018)

Kasinem is Coming bukan produk berkualitas kancut, karena filmnya sendiri tidak layak disejajarkan dengan kancut yang masih memiliki fungsi penting dalam hidup manusia di seluruh semesta Indonesia. Bukan saya tidak menghargai perjuangan tim produksi, khususnya kru yang bekerja banting tulang (skor setengah yang saya berikan dipersembahkan bagi mereka), tapi filmnya sendiri seolah tak menghargai waktu, tenaga, serta uang yang diluangkan penonton. Di luar gedung bioskop biasanya berjejer beberapa warung makanan. Jika saat membaca review ini anda sedang berjalan memasuki bioskop untuk menonton Kasinem is Coming, segera berbalik, masuk ke salah satu warung, pakai uang 35 ribu rupiah itu demi menghapuskan lapar dan dahaga.

Kasinem yang konon segera datang itu adalah gadis cantik kembang desa (Naysila Mirdad), yang tengah bimbang ketika secara mendadak, sang ibu (Yanti Yaseer) meminta meneruskan pekerjaannya sebagai pembantu di Jakarta. Kasinem bimbang karena di saat bersamaan, ia telah diterima bekerja sebagai sekretaris di Singapura. Kabar itu baru Kasinem terima setelah sang ibu meneleponnya dari kereta dalam perjalanan pulang. Mengapa tidak sejak jauh-jauh hari? Sebaliknya, mengapa pula Kasinem tak menghubungi ibunya perihal pekerjaan di Singapura? Semua masalah di film ini takkan terjadi andai karakternya berkomunikasi sebagaimana manusia normal.

Kasinem nekat diam-diam berangkat ke Singapura bersama Luna Asmara alias Lunas (Nadya Pasha), penyalurnya. Kasinem is Coming pun memulai proses selaku road movie, yang sesuai aturan tak tertulis, wajib menghadirkan sederet konflik pengacau perjalanan. Kekacauan-kekacauan milik Kasinem is Coming sungguh tidak terduga. Bukan disebabkan twist cerdik, melainkan keputusan naskah hasil tulisan Bagus Laksono berdasarkan ide cerita sang produser, Letsman Tendy, menantang akal sehat. Deretan filmografi Letsman Tendy sendiri terdiri atas judul-judul macam Missing You (2016) sampai Lasjkar di Tapal Batas (2016), sehingga saya tak terkejut mendapati hasil karya terbarunya ini.

Kasinem bak wanita terkutuk pembawa sial. Bus yang ditumpangi terhalang jembatan yang terendam banjir, terhenti setelah menabrak seorang nenek, lalu mesinnya mati.  Bus kedua mengalami kebocoran ban. Sebelumnya, kereta yang dinaiki terpaksa menghentikan laju akibat rel tertutup air bah. Kualitas CGI-nya bakal membawamu terbang ke langit ketujuh, di mana rel kereta asal dipasang pada latar sungai tempat warga desa biasa buang air besar. Satu-satunya pelajaran yang bisa dipetik dari road trip Kasinem dan Lunas hanya gambaran buruknya transportasi negeri ini. Bahkan realitanya tak separah itu. Setidaknya, takkan terjadi dalam satu rangkaian perjalanan seseorang. Jadi, satu-satunya penjelasan masuk akal adalah: Kasinem terkutuk!

Jika anda rindu paras ayu Naysila Mirdad yang menjalani debut layar lebarnya di sini, Kasinem is Coming akan cukup mengobati, walau aktingnya tak pernah beranjak dari stereotip gadis kampung yang bicara selembut sutra, selambat siput, selembek kotoran ayam. Namun itu lebih baik dibanding menyaksikan Limbad, oh maaf, MASTER Limbad. Ingat aksi pertamanya di layar kaca yang misterius, mengerikan, sewaktu berjalan di atas belati? Sosok tersebut sudah lama hilang, dan mencapai titik nadir di film ini, ketika ia tampil bak memparodikan diri sendiri. Memerankan bodyguard yang senantiasa membisu, konyol, tidak mampu berbuat apa pun kecuali menggerutu sambil menjaga pintu. Rupanya “Master of Fakir Magician” itu kini sebatas satpam yang tak lucu.

Bukan cuma Limbad yang gagal melucu. Keseluruhan filmnya pun demikian. Sepanjang durasi hanya 2 kali saya tertawa: Dalam sebuah momen slapstick di pesawat dan saat Kasinem menyebut minuman keras sebagai wedang jahe. Keduanya efektif berkat kesempurnaan timing. Dinamis, langsung menerjang di titik yang tepat, tanpa diulur-ulur seolah menggoda penonton, “Hayoo ternyata yang lucu apa hayooo???” sebagaimana humor lainnya dikemas oleh Hasto Broto (Surga Menanti, Jembatan Pensil) di kursi sutradara. Belum sempat punchline-nya muncul, saya terlanjur dibuat kesal akibat metode itu.

Komedi Kasinem is Coming memang mengesalkan kala menghabiskan 100 menit mengolok-olok ukuran tubuh Nadya Pasha. Ke mana pun destinasinya, apa pun masalah yang dihadapi, leluconnya urung beranjak dari “sulitnya orang gemuk beraktivitas”. Satu-dua kali “main fisik” wajar. Saya tak seekstrim itu soal bodyshaming. Namun melakukannya hampir di setiap kesempatan menandakan kemalasan penulis. Sudah ofensif, repetitif pula. Humor menurut Bagus Laksono hanya berkutat di 2 hal: ekspresi mesum lelaki melihat kecantikan Naysila serta tubuh Nadya Pasha. Sekalinya mencoba gaya berbeda, kita disuguhi tiga orang, termasuk cameo Cassandra Lee, mengenakan topi bertuliskan “Kasinem is Coming Film”. Was that supposed to be a meta jokes? Was that supposed to be a joke at all???

Tanpa klimaks, konflik diakhiri semudah menggaruk ketiak. Kasinem sampai di Singapura, menyadari ia adalah korban penipuan dan dijual hanya untuk memuaskan hasrat sang bos, berhasil kabur dengan alasan kembali sejenak ke kamar, bertemu gadis asal Indonesia yang ternyata merupakan sepupu Radit (Randy Martin), anak majikan tempat sang ibu bekerja dulu, lalu bertemu lagi dengan ibunya. Mereka berbahagia, penonton bermuram durja. Saya baru saja membocorkan ending filmnya supaya anda tidak perlu buang-buang uang, tenaga, dan waktu menonton kekacauan memalukan nan mengesalkan ini. Thank me later.

THE MEG (2018)

Bujet $150 juta, premis tentang serangan Megalodon yang diangkat dari novel Meg: A Novel of Deep Terror buatan Steve Alten, serta kehadiran Jason Statham si “Raja b-movie modern” selaku bintang utama. Modal-modal tersebut tentu memfasilitasi pembuat filmnya untuk berbuat apa saja, tampil segila dan sekonyol mungkin, dengan dasar laut terdalam sebagai batas. Oh, dan juga kreativitas.  Sebab ketika para ilmuwan film ini mampu menembus apa yang selama ini dianggap lautan paling dalam, orang-orang di balik The Meg gagal memaksimalkan potensi filmnya akibat terjebak kreativitas terbatas.

The Meg jelas tidak cukup bagus, tapi juga tidak cukup jelek dan bodoh untuk tampil menghibur.  Seperti Deep Blue Sea (1999) yang juga mengemas serbuan hiu lewat sampul film kelas b, fasilitas riset kelautan pun memegang peranan penting pada kisah film ini. Dipimpin Dr. Minway Zhang (Winston Chao) dan puterinya, Suyin (Li Bingbing), serta dibiayai Jack Morris (Rainn Wilson), diadakanlah penelitian guna menyingkap kehidupan makhluk dasar laut yang belum ditemukan. Menjadi bencana tatkala salah satu makhluk itu adalah Megalodon, hiu prasejarah yang diyakini telah punah.

Sampai di sini, sinopsis di atas mungkin menggiring imajinasi liar anda. Saya pun demikian, apalagi saat satu per satu materi promosi diluncurkan, yang menjanjikan tontonan yang enggan menganggap dirinya terlampau serius. Tapi sutradara Jon Turteltaub (National Treasure, The Sorcerer’s Apprentice) bak malu-malu untuk menghadirkan hiburan yang tidak tahu malu. Hingga 45 menit berlalu, setelah melalui segelintir serangan, The Meg belum juga menampakkan wujud utuhnya. Kita sekedar diperlihatkan kapal yang bergoncang, terlempar, mengalami kerusakan. Turteltaub menyuntikkan terlalu banyak DNA Jaws (1975) ke filmnya.

Tapi The Meg bukan Jaws. Tidak seharusnya dikemas demikian. Tidak ada yang mengharapkan kengerian atau ketegangan berupa teror tak terlihat dalam film soal “Jason Statham vs Megalodon”. Statham sendiri mengerahkan segenap kemampuannya memerankan penyelam gila tanpa rasa takut yang berenang ke arah Megalodon sambil menyenandungkan “Just Keep Swimming”. Statham meyakinkan, dan tiap kali ia beradu satu lawan satu melawan Megalodon, termasuk pada klimaks, The Meg mencapai tingkat hiburan tertingginya.

Andai saja film ini hanya berisi pertarungan keduanya. Namun tidak. The Meg merupakan film 113 menit yang berisi setumpuk peristiwa dan karakter lain yang dibungkus teramat serius sewaktu konsep dasarnya meneriakkan kebodohan yang tak juga dilepaskan. Konon ukuran terbesar Megalodon adalah 18 meter. Menghidupkan lagi Megalodon di era modern sudah melawan sains, lalu apa perlunya menuruti fakta keilmuwan soal ukuran? Turteltaub dan tim urung memanfaatkan kebebasan yang didapat, saat mereka bisa saja berkata, “Ternyata 18 meter hanya ukuran bayi Megalodon”, misal. Tapi saya takkan lebih jauh membahas apa yang tidak ada di filmnya.

Apa yang ada dalam The Meg dan ingin dicapai pembuatnya adalah, “teror serangan hiu raksasa yang bodoh nan menyenangkan”. Pengadeganan Turteltaub tak mampu membuat Meg menonjol dibanding para kompatriotnya yang lebih dulu memangsa di layar lebar ketika sang sutradara gagal menangkap kesan “masif” setiap sang monster tampak. Belum lagi perihal deretan adegan kematian medioker minim imajinasi yang turut tampil malu-malu. Saya tidak tertarik melihat seseorang tewas karena kapalnya tenggelam atau meledak. Seseorang ditelan bulat-bulat, bahkan tanpa harus dikunyah dikarenakan ukuran hiu satu ini begitu besar. Itulah yang mestinya dipamerkan. Setumpuk posternya yang kaya kreativitas jauh lebih menyenangkan ketimbang menonton filmnya sendiri. "The Meh" is a more suitable title for this.

FANNEY KHAN (2018)

Banyak anak (termasuk saya dulu), berpikir bahwa orang tua, atau dalam konteks di sini ayah, tidak mengerti mereka dengan segala impian dan kemauannya. Ayah bak sosok menyebalkan yang gemar melemparkan pertanyaan yang menurut sang anak tidak penting. Mereka tak tahu, jika berkebalikan dengan persepsi negatif tersebut, satu-satunya yang ayah inginkan tak lain memenuhi kemauan sang anak. Perbedaan zaman menciptakan jurangkultural sehingga ayah-anak sering berjarak kala berkomunikasi, dan pertanyaan-pertanyaan tidak penting itu sejatinya adalah usaha memahami untuk memangkas jarak tersebut.

Para ayah bekerja luar biasa keras, namun enggan memamerkan kesulitan-kesulitan di tiap langkahnya, karena terpenting baginya, si anak memperoleh apa yang diinginkan, bila perlu, tanpa bersusah-susah dahulu. Kondisi itu sebagaimana penampil tidak mengutarakan proses jatuh-bangun di belakang panggung kepada penonton, yang tidak butuh dan/atau tidak mau tahu. Walau  pengetahuan akan fase itu niscaya membuat mereka lebih mengapresiasi sang penampil. Fanney Khan, selaku remake dari Everybody’s Famous! (2000) yang berhasil meraih nominasi Best Foreign Language Film sebagai perwakilan Belgia di ajang Oscar tahun 2000, mengajak kita mengintip suasana di belakang panggung.

Prashant Sharma (Anil Kapoor) merupakan vokalis grup orkestra kelas kampung. Memakai nama panggung “Fanney Khan”, ia bermimpi menjadi penyanyi tenar, sampai realita memaksanya menjejak bumi. Tapi mimpinya tak pernah kandas. Fanney berharap sang puter kelak dapat meneruskan impian itu, namun ia bukan ayah yang melampiaskan kegagalannya dengan memaksa puterinya meneruskan jejaknya. Sebab Lata (Pihu Sand) pun memiliki hasrat serupa. Sayang, tubuh tambun menghalangi cita-citanya, akibat tiap beraksi di atas panggung, caci maki penonton perihal bentuk tubuhnya selalu terdengar.

Lata merupakan korban ketidakadilan standar kecantikan, tetapi Fanney Khan tidak berusaha mengeruk simpati dari situ. Sebaliknya, Lata digambarkan sebagai tokoh yang kurang simpatik. Siapnya terhadap Fanney seringkali kasar. Misal saat Fanney begitu bersemangat memperdengarkan lagu yang khusus ia ciptakan bagi Lata, namun Lata justru mengenakan earphone. Menyebalkan, tapi sikap kebanyakan anak di masa remaja memang demikian. Apabila anda merasa kesal melihatnya, mari berkaca sejenak, apakah kita pun bertindak begitu terhadap orang tua?

Skenario garapan Atul Manjrekar (juga sutradara), Hussain Dalal, dan Abbas Dalal mengusung formula tearjerker tradisional, bahkan lebih konvensional ketimbang kebanyakan drama mengharu biru buatan arus utama Bollywood belakangan. Berbagai momen penghinaan terhadap Lata disajikan berlebihan, terkesan manipulatif, dan berpotensi mengalineasi penonton yang telah lelah dengan formula demikian. Maka hadirlah Anil Kapoor, yang melalui performanya, memastikan penonton dari kelompok mana pun, bakal tersentuh oleh perjuangan Fanney Khan.

Raut wajah Anil memancarkan kemurnian, cenderung mengarah pada kepolosan. Sewaktu terlibat pertengkaran dengan Lata, Fanney tak memahami kesalahannya. Wajahnya, memperlihatkan kebingungan sekaligus kesedihan. Hatinya terluka. Tapi elemen paling menyentuh adalah setiap Fanney melihat mimpi puterinya sedikit demi sedikit mendekati kenyataan. Mata Anil bersinar, senyumnya mengembang lebar, menunjukkan seperti apa perwujudan kasih sayang tulus seorang ayah. Kepolosannya, ditambah keputusasaan yang dipicu kesulitan uang dan ambisi memenuhi mimpi sang puteri, menjadikan segala keputusan bodoh atau langkah gila yang Fanney ambil dapat dipercaya. Tidak bisa dibenarkan, namun bisa dipahami.

Langkah gila di atas berupa aksinya menculik Baby Singh (Aishwarya Rai), megabintang sekaligus idola Lata. Apa yang Fanney minta selaku tebusan takkan saya sebut, sebab merupakan pondasi konflik kompleks serta puncak emosi di paruh akhir. Tapi saya bisa menyebutkan betapa memesona Aishwarya, dengan rambut merah, mata hijau, kepercayaan diri setinggi langit, ia jelas mendefinisikan “Megabintang”, status yang juga ia sandang di kehidupan nyata. Dia pun bersinar dalam momen komedik. Seluruh adegan yang melibatkan interaksi konyol nan canggung antara Fanney dan Adhir (Rajkummar Rao) si penculik amatir dengan korbannya yang jauh lebih cerdik adalah komedi brilian. Bertugas sebagai “perespon”, sang aktris tidak pasif, merespon lewat kelucuan yang mengeskalasi kualitas humornya.

Keputusan Fanney menculi Baby jelas elemen problematik dalam naskahnya, yang berbeda dari film sumber inspirasinya, bukan berwujud satir. Penonton terang-terangan diajak membenarkan kegilaan Fanney. Belum lagi keterlibatan unsur Stockholm Syndrome di penculikan tersebut. Fanney Khan memilih menyederhanakan semuanya, termasuk caranya menutup konflik yang melibatkan kriminalitas serta skandal berskala nasional. Film ini memang sederhana, formulaik, layaknya lagu pop yang mengalun mengikuti pola sarat nada-nada kegemaran pasar yang gampang dimainkan pula diingat plus refrain uplifting.  Namun bukankah lagu seperti itu yang mudah tertinggal di perasaan? Fanney Khan jelas demikian.

SEBELUM IBLIS MENJEMPUT (2018)

Kenapa kualitas horor lokal tak berbanding lurus seiring dengan peningkatan kuantitasnya belakangan? Kemungkinan besar karena mayoritas pembuatnya, meski sering menonton horor (who doesn’t?), tidak menaruh rasa cinta terhadapnya, sehingga kurang memahami seluk beluknya akibat miskin referensi. Sebab horor sendiri beraneka ragam cabangnya. Dari trashy sampai artsy, dari slasher sampai supranatural. Selain Joko Anwar yang sudah kita saksikan pembuktiannya lewat Pengabdi Setan, ada Timo Tjahjanto yang sebelumnya mempersembahkan Rumah Dara (sebagai Mo Brothers bersama Kimo Stamboel) juga Safe Haven (berduet dengan Gareth Evans) selaku segmen dalam antologi V/H/S/2 (2013).

Harapan publik, termasuk saya, kepada karya terbaru Timo, Sebelum Iblis Menjemput, luar biasa besar. Apalagi setelah menanti hampir setahun, belum ada horor lokal mumpuni penerus prestasi Pengabdi Setan. Sebelum Iblis Menjemput dibuat atas dasar kekaguman Timo atas Sam Raimi, khususnya trilogi Evil Dead. Teror datang dari entitas jahat yang merasuki manusia, mengubah mereka jadi makhluk buas seperti Deadite, lengkap dengan riasan serupa (plus sedikit pengaruh dari Pazuzu-nya The Exorcist?), yang pada salah satu serangannya, melompat dalam balutan POV shot sebagaimana gemar dipakai Raimi.

Ceritanya masih memakai formula “cabin in the wood”, tapi alih-alih sekelompok remaja penuh hasrat, tokohnya terdiri atas anggota keluarga disfungsional. Ketika Lesmana (Ray Sahetapy), mantan pengusaha sukses yang telah bangkrut terbaring di rumah sakit akibat penyakit misterius, puteri dari pernikahan pertamanya, Alfie (Chelsea Islan) terpaksa kembali pulang. Alfie masih terluka karena dahulu Lesmana meninggalkan ia dan ibunya, yang kemudian tewas bunuh diri, untuk menikahi artis ternama, Laksmi (Karina Suwandi). Pernikahan kedua ini memberi Lesmana tiga buah hati: Maya (Pevita Pearce), Ruben (Samo Rafael), dan si bungsu Nara (Hadijah Shahab).

Berniat menguasai harta sang suami, Laksmi mengajak ketiga anaknya mengunjungi vila milik Lesmana guna mencari barang berharga yang bisa “diamankan”. Tapi mereka, termasuk Alfie yang datang karena enggan membiarkan Laksmi berbuat seenaknya, justru menemukan rahasia mengerikan serta teror mematikan yang disembunyikan sang ayah. Jangan berharap rekonsiliasi emosional di antara mereka. Melalui Sebelum Iblis Menjemput, Timo hanya ingin memindahkan neraka dan segala isinya ke dunia manusia. Menghadirkan kengerian audiovisual merupakan tujuan tunggal film ini.

Departemen audio, selain lagu bernuansa lawas berjudul Hampa, diisi scoring karya Fajar Yuskemal (The Raid, Killers) yang mengkombinasikan denting piano ritmis bernada tinggi di satu kesempatan, dengan bunyi synth yang memunculkan kesan serupa music score era 70-80an macam Tubular Bells (lagu tema The Exorcist) di kesempatan lain. Tidak heran, sebab sengaja atau tidak, Sebelum Iblis Menjemput juga mengingatkan pada film buatan William Friedkin itu. Apabila Friedkin sesekali menyelipkan “wajah iblis” secara sembunyi-sembunyi, Timo pun sempat memasukkan sekilas penampakan yang mungkin penonton lewatkan (hint: Chelsea Islan dan bus).

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan seputar film ini tentu terkait kadar gore. Sebab berkat itulah karya Timo banyak digandrungi pecinta horor. Sebelum Iblis Menjemput boleh tidak seeksplisit Rumah Dara, pun tak menumpahkan darah sebanyak itu, namun cukup untuk membuat anda meringis ngeri sambil menutup mata. Beberapa elemen gore juga berfungsi melengkapi jump scare, yang Timo kemas agar tidak asal mengageti, pula berdampak. Saat iblis menyeret tubuh karakternya, kita melihat kuku-kuku si karakter terlepas, berdarah, sebagai akibat usaha melarikan diri. Iblis muncul bukan cuma untuk “setor muka”, melainkan ada usaha nyata mendatangkan maut bagi korbannya.

Timo, seperti sutradara horor bertalenta lain, pandai memainkan ekspektasi. Salah satu sekuen paling menegangkan, melibatkan Nara di kamar tidur. Timo paham kapan penonton menduga jump scare bakal menyerbu. Berbekal itu, saya dipaksa menahan nafas, terombang-ambing di tengah penantian tidak pasti, sambil secara perlahan, dibarengi keheningan, wajah asli teror diungkap. Sedangkan alur berjalan penuh kesabaran, terkadang pelan, tetapi tak pernah melepakan cengkeraman berkat ketelatenan Timo, yang turut menulis naskahnya, menjabarkan poin-poin kisah secara bertahap. Pemilihan timing-nya tepat, kapan mesti menggeber kengerian, kapan mesti berhenti sejenak guna bernarasi. Begitu teror diluncurkan, hadrilah pertunjukan mengenai cara memacu adrenalin berbekal kekacauan situasi.

Pujian wajib diberikan untuk tiga pemeran wanitanya. Berkat mereka, “Neraka Dunia” ciptaan Timo tampak meyakinkan. Chelsea Islan akhirnya menemukan film yang sempurna memfasilitasi gaya aktingnya, yang acap kali terkesan berlebihan di berbagai drama. Di sini luapan emosinya sesuai dengan kengerian yang karakternya hadapi. Pevita, walau belum sekuat rekannya, mampu mengangkat tensi klimaks di mana sosok Maya berperan besar. Walau menyaksikan keduanya berbagi layar bagai impian yang jadi kenyataan, Karina Suwandi muncul sebagai kekuatan tak terduga. Sang aktris menggila, bak pelayan buas Bafomet yang bertugas mengacaukan seisi dunia.

Kelemahan Sebelum Iblis Menjemput terletak di third act yang gagal menandingi dinamika parade teror sebelumnya. Timo menolak menginjak pedal gas lebih kencang, menjadikannya terkesan diulur. Lagipula, durasi 110 menit bagi horor berskala kecil macam ini memang agak terlalu lama, ketika 90an menit saja rasanya cukup. Bukan berarti klimaksnya buruk. Adegan-adegan yang muncul sebelumnya lah yang levelnya sukar dikejar. Sama seperti keseluruhan filmnya, yang meneruskan tongkat estafet dari Pengabdi Setan untuk menempatkan standar tinggi terhdap film horor Indonesia. Semoga tidak perlu menunggu satu tahun lagi sampai judul memikat berikutnya menjemput.  

AIB: #CYBERBULLY (2018)

Masalah Aib: #Cyberbully bukan pemakaian konsep found footage berbasis Skype serupa Unfriended (2014). Konsep sama tidak berarti menjiplak selama elemen-elemen di dalamnya berbeda. Searching yang bakal rilis bulan ini pun mengusung gaya setipe. Masalah timbul bagi Aib: #Cyberbully ketika terdapat kesamaan di berbagai detail dengan film garapan Levan Gabriadze tersebut. #JanganDianggapRemeh, demikian bunyi hashtag perihal perundungan di internet yang coba film ini populerkan. Tapi sepertinya, Amar Mukhi selaku sutradara, penulis naskah, sekaligus produser, menganggap remeh plagiarisme.

Pertama, mari bicarakan premisnya. Tujuh orang sahabat dihubungi via Skype oleh teman mereka, Caca (Ade Ayu), yang beberapa tahun lalu, semasa SMA, meninggal bunuh diri setelah tertekan akibat berita pemerkosaan terhadapnya disebarkan di situs sekolah. Pelakunya salah satu dari mereka bertujuh. Arwah Caca pun melibatkan mereka dalam permainan maut untuk mengungkap aib diri sendiri, teman, dan keluarga. Menolak berarti mati. Permainan itulah yang mendorong mereka “saling tusuk” satu sama lain. Unfriended, punya kisah serupa. Bedanya, karakternya memainkan “Never Have I Ever”, yang intinya juga soal membuka rahasia.

Sekarang karakternya. Ada sepasang kekasih, Sarah (Yuniza Icha) dan Antoni (Harris Illano) yang mengawali obrolan. Apabila pasangan di Unfrieded berniat melepas keperjakaan di malam prom, Sarah dan Antoni hendak melakukan cybersex, yang berjalan terlalu lama (lebih dari 5 menit), sampai saya merasa sedang menyaksikan rekaman tindak mesum remaja di Camfrog yang bocor. Pun di kedua film sama-sama ada karakter bertubuh tambun yang jago mengoperasikan komputer. Kemiripannya terus bertambah, tapi jika saya lanjutkan, ulasan ini akan menjadi checklist.

Menariknya, di luar kemiripan (baca: plagiarisme) itu, pasca kecanggungan tanpa henti “rekaman Camfrog” tersebut, Aib: #Cyberbully ternyata merupakan tontonan intens. Benar bahwa tersimpan kelemahan aspek teknis, semisal judul rekaman bunuh diri Caca yang berbunyi “Girl Committed Suicide in Hostel in Bihar”,  yang video aslinya akan mudah anda temukan di Google. Kelalaian yang semestinya tak terjadi mengingat ukuran judul itu cukup besar mengisi layar. Selain itu, pertukaran dialog, pertengkaran, yang membawa kita menuju terungkapnya satu per satu aib yang mayoritas datang dari video yang mereka bagikan di Facebook, dituturkan secara dinamis.

Aib yang dibagikan tidak beranjak dari seputaran melacurkan diri, perselingkuhan, seks antar teman, hingga LGBT. Hal-hal itu memang paling mudah dijadikan kambing hitam, yang membantu kebuntuan ide penulis naskahnya. Untunglah proses menuju terbongkarnya tiap aib cukup seru, pun mampu menjaga atensi. Bahkan secara mengejutkan, film ini tidak preachy terkait penuturan pesan sosialnya. Tidak ada petuah berulang soal larangan cyberbully. Tanpa banyak berceramah, filmnya langsung menghadirkan konsekuensi atas tindakan tersebut.

Pun Amar Mukhi cukup baik mengeksplorasi kesemuan persahabatan remaja melalui kisahnya. Mereka bertujuh mendeklarasikan “Sahabat selamanya!”, tapi tak butuh waktu lama untuk saling serang, saling menyalahkan, saling membuka rahasia kelam. Seiring permainan berjalan, semakin kentara bahwa karakternya melakukan itu bukan demi bertahan hidup dalam permainan maut Caca, melainkan didorong amarah serta hasrat balas dendam. Sayang, naskahnya lemah soal penulisan dialog. Pertengkaran pun berkutat tidak jauh-jauh dari kata-kata seperti “anjing”, “bangsat”, dan umpatan klise lain. Hal ini diperparah oleh akting monoton jajaran cast, yang sekedar berteriak di volume tertinggi. Memasuki pertengahan, telinga saya semakin lelah mendengar histeria itu.

Kalau Unfriended mengandung adegan memorable saat salah satu tokoh tewas karena blender, maka Aib: #Cyberbully punya...well, saya tidak tahu apa yang terjadi. Dicekoki tuts keyboard? Tertusuk tuts keyboard? Sudut pengambilan gambarnya tak membantu. Sebagai cara menjangkau penonton lebih luas, film ini bukan saja mengandalkan pembantaian, juga formula jump scare sebagaimana biasa, yang sayangnya, gagal tampil mengerikan akibat riasan pula metode kemunculan hantu yang begitu ala kadarnya.

Ditambah lagi, jika Aib: #Cyberbully memang ingin meniru Unfriended, ada satu poin penting yang dilupakan, yakni tidak munculnya sosok hantu, bahkan lewat foto profil Skype sekalipun. Hal itu menghasilkan tensi dari ketakutan atas teror tak terlihat, sekaligus misteri seputar kebenaran teror itu—sebatas prank orang usil atau aksi hantu—yang diungkap secara bertahap. Walau harus diakui, di samping berbagai kekurangannya,  Aib: #Cyberbully masih cukup menghibur. Namun saya tidak bisa memberikan nilai positif terhadap film yang terang-terangan meniru karya lain, tidak peduli seberapa bagus hasilnya. Sebab urusan orisinalitas #JanganDianggapRemeh.

KAFIR: BERSEKUTU DENGAN SETAN (2018)

Kalau anda mencari horor yang tidak semata bergantung pada jump scare berisik dan mengandung kisah untuk dituturkan, maka Kafir: Bersekutu dengan Setan menawarkan alternatif tersebut. Tanpa kaitan dengan Kafir (2002) kecuali pada kemiripan judul dan penampilan Sujiwo Tejo sebagai dukun santet, film yang naskahnya digarap oleh Upi (#TemanTapiMenikah, Sweet 20, My Stupid Boss) dan Rafki Hidayat ini akan diingat selaku film yang berani mencoba pendekatan berbeda di tengah badai horor yang minim variasi, baik perihal gaya maupun kualitas. Perlu diapresiasi, meski menyimpan setumpuk kelemahan sehingga memperpanjang penantian atas “horor bagus” pasca Pengabdi Setan.

Kafir: Bersekutu dengan Setan dibuka oleh atmosfer menjanjikan. Terasa tidak nyaman, berbekal nuansa lawas hasil pewarnaan, tata artistik, serta musik, yang  tak pelak memunculkan komparasi dengan Pengabdi Setan. Sri (Putri Ayudya), bersama sang suami, Herman (Teddy Syach) dan puterinya, Dina (Nadya Arina) sedang makan malam bersama, sembari menanti kepulangan si anak laki-laki, Andi (Rangga Azof). Mendadak Herman muntah darah. Dia tewas dengan beling keluar dari mulutnya. Tidak salah lagi, Herman merupakan korban santet. Siapa pun pelakunya ia benar-benar ingin menghancurkan keluarga ini sampai ke akarnya. Itulah mengapa meja makan dipilih jadi panggung pembunuhan.

Mengapa meja makan? Karena di situ, beserta aktivitas makan bersama, seringkali jadi ajang bertukar rasa antar anggota keluarga. Mematikannya, berarti mematikan suatu keluarga. Benar saja, sepeninggal Herman, kehangatan memudar. Kafir: Bersekutu dengan Setan memakai bentuk horor psikologis guna membungkus paruh awalnya. Trauma yang dialami Sri jadi sorotan. Lagu kesukaan Herman dilarang diputar, pun enggan ia memasak opor ayam kesukaan mendiang suaminya itu. Sewaktu Andi—yang membawa pacar barunya, Hanum (Indah Permatasari)—tersedak kala makan, wajah Sri langsung dipenuhi teror. Memori kematian tragis Herman muncul, dan Putri Ayudya tampil meyakinkan memerankan wanita yang terluka luar-dalam.

Sri melihat panci yang terjatuh sendiri, “kembaran” Andi, sampai noda hitam yang tak kunjung hilang di langit-langit. Apakah itu semua nyata atau sebatas produk trauma mendalam? Naskahnya tak pernah menyelami pertanyaan itu lebih jauh, meninggalkan banyak kekosongan berwujud observasi tanpa eksplorasi dalam alur bertempo lambat. Jangan harapkan jump scare bombastis. Beberapa usaha mengageti penonton tetap dilakukan, tapi tak dieksploitasi. “Atmosferik” adalah kesan yang ingin diciptakan, walau ketidakmampuan sutradara Azhar Kinoy Lubis (Jokowi, Surat Cinta untuk Kartini) mengkreasi tensi, khususnya kala tiada peristiwa besar terjadi, menghalangi tercapainya tujuan tersebut.

Penonton hampir tidak pernah ditempatkan di posisi karakterya. Sri ketakutan, saya tidak. Sebabnya sederhana: keanehan-keanehan di sekitar Sri tak nampak mengerikan di layar. Benda-benda bergerak, alat musik berbunyi sendiri, semua itu menyeramkan apabila terjadi di realita. Namun di film, anda tidak bisa sekedar menangkap peristiwa itu di kamera lalu berharap ketakutan otomatis timbul di hati penonton. Butuh ketrampilan juga sensitivitas guna melukis gambar-gambar menyeramkan, supaya ketakutan karakternya tersalurkan ke penonton. Azhar tidak (atau belum) mempunyai itu.

Dinamika meningkat saat Jarwo (Sujiwo Tejo) masuk, menampilkan gaya creepy nan eksentrik miliknya. Di sini terjadi “hal besar” ketimbang sekedar peristiwa poltergeist, sehingga Azhar memperoleh amunisi berlebih. Adegan yang melibatkan api di kediaman Jarwo tersaji mendebarkan pula mencengangkan. Selain itu, filmnya mulai memasuki babak penelusuran misteri. Berkutat pada pertanyaan “Siapa pelaku santet?”, pengenalan misterinya menarik. Jika berhenti di perihal “siapa”, jawabannya mudah ditebak bahkan sejak setengah jam pertama, tapi dalam jenis cerita whodunit, proes pun penting.

Penelusuran fakta yang tersibak satu demi satu merupakan pondasi yang wajib dibangun lebih dulu. Namun Kafir: Bersekutu dengan Setan lalai melibatkan penonton dalam penyelidikan. Terlihat saat beberapa kali karakternya menemukan petunjuk yang urung diungkap kepada penonton. Dengan demikian, durasi bergulir dan alur terus bergerak maju, tapi bak tanpa progres. Seluruhnya ditimbun, disimpan bagi third act yang terasa tidak sinkron dengan keseluruhan film, khususnya terkait pembawaan over the top Indah Permatasari dan Nova Eliza. Penampilan keduanya di klimaks bak berasal dari horor yang mengedepankan unsur “fun” atau bahkan b-movie. Tidak buruk, hanya bukan di sini tempatnya. Their performance don’t belong here.

Paling tidak klimaksnya menyimpan momen lumayan menegangkan yang melibatkan darah dan kekerasan. Sayang, kelebihan itu lagi-lagi tidak berlangsung lama, tepatnya sampai film ini melakukan simplifikasi terkait cara mengakhiri konflik. Perkelahian yang ditangani begitu canggung oleh Azhar adalah cara yang dimaksud. “Beat ‘em upis the easiest (read: the laziest) way to ends a conflict in any movie. Ingin sekali rasanya berkata “Saya mengagumi film ini”, dan jelas saya mengapresiasi usahanya ampil beda. Tapi setelah horor buruk gentayangan silih berganti di bioskop, saya, dan rasanya mayoritas penonton, ingin segera menyaksikan hasil lebih tinggi.