30 Mei 2012

FIKSI. (2008)

Semua film yang ditulis oleh Joko Anwar walaupun ia tidak menjadi sutradara memang selalu menarik dan menjadi suguhan yang berbeda. Tengok saja Quickie Express yang tidak hanya lucu tapi juga penuh ide-ide brilian dan juga sindiran-sindiran sosial. Ada juga Jakarta Undercover yang saya sendiri belum menonton film itu tapi katanya cukup baik dalam menyoroti kehidupan "bawah tanah" Jakarta lewat pendekatan yang unik. Untuk film karya Mouly Surya ini saya memang sangat terlambat menontonnya. Fiksi. (Ingat, judulnya memakai tanda titik (.) diakhir kata) adalah film yang berhasil menyabet empat penghargaan pada FFI 2008 yakni untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Skenario Asli Terbaik dan Musik Terbaik. Ladya Cheryl sendiri mendapat nominasi Aktris Terbaik juga Donny Alamsyah yang dinominasikan sebagai Aktor Terbaik. Jadi akan dibawa kedunia macam apakah kita oleh Joko Anwar kali ini? Akankah masih berupa dunia yang absurd dan diisi oleh karakter-karakter yang tidak kalah unik?

Kita sedari awal akan diperlihatkan pada sosok Alsya (Ladya Cheryl) yang merupakan anak orang kaya namun tidak merasa bahagia dan hidup dalam kesepian. Hubungannya dengan sang ayah amat buruk dan Alisya terlihat jelas sangat membenci sang ayah. Kebencian itu sendiri tercipta akibat perlakuan sang ayah yang terlalu mengekang Alisya dan membuat Alisya seolah kehilangan kebebasannya. Selain itu sebuah kejadian di masa lalu jugalah yang memancing kebencian Alisya terhadap ayahnya. Kekangan itu juga yang membuat Alisya tumbuh menjadi gadis yang kaku dan pemurung. Hidupnya hanya ditemani oleh koleksi boneka dan cello yang rajin ia mainkan. Sampai suatu hari datanglah Bari (Donny Alamsyah) kedalam hidupnya. Bari datang kerumah Alisya untuk bekerja sementara waktu membersihkan kolam renang. Sampai saat akhirnya Bari tidak datang lagi, Alisya mulai mencari tempat tinggal Bari. Setelah menemukan tempat tinggal Bari yang terletak di sebuah rumah susun, Alisya memilih kabur dari rumah dan tinggal tepat di sebelah kamar Bari dan memperkenalkan dirinya sebagai Mia. Tapi ternyata Bari sudah memiliki gadis idaman yang tinggal bersamanya, yaitu Renta (Kinaryoih).

29 Mei 2012

TOMBOY (2011)

Sebuah film bertema LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender) memang sangat menarik dan seringkali menghadirkan sebuah perenungan yang dalam. Tapi akan menjadi lebih unik lagi saat tema tersebut dihadirkan dalam sebuah film yang tokohnya anak-anak dengan usia 10 tahunan. Begitulah Tomboy, sebuah film Prancis yang disutradarai oleh Céline Sciamma yang berhasil meraih Teddy Awards pada Berlin Film Festival 2011 sebagai film bertema LGBT terbaik. Selayaknya sinema Eropa yang pernah saya tonton termasuk Prancis, saya berharap akan mendapatkan suguhan yang sederhana nan realistis dalam film ini seperti yang pernah saya jumpai dalam film macam The Kid With A Bike yang begitu jujur, realistis dan sederhana dalam penuturannya. Pada akhirnya nuansa seperti itulah yang memang ditampilkan dalam Tomboy yang berkisah tentang bocah perempuan berumur 10 tahun bernama Laure (Zoe Heran) yang berpenampilan seperti laki-laki bahkan memperkenalkan dirinya sebagai laki-laki didepan teman-temannya.

Laure selama ini sudah seringkali berpindah rumah bersama keluarganya yang terdiri dari kedua orang tuanya dan seorang adik perempuannya yang masih berumur lima tahun bernama Jeanne (Malonn Levana). Keluarga Laure adalah keluarga yang harmonis bahkan tidak berlebihan jika dikatakan nyaris sempurna. Kedua orang tua Laure amat menyayangi kedua puterinya, namun tetap tidak digambarkan dengan kebaikan yang kelewatan, terbukti dari adanya adegan yang memperlihatkan sang ibu yang tengah hamil memarahi Laure dan adiknya beberapa kali. Tapi dari situ kita bisa melihat bahwa keluarga itu adalah gambaran keluarga harmonis yang benar-benar nyata dan realistis. Tapi dibalik keharmonisan tersebut, Laure menyimpan sebuah keresahan dalam dirinya. Laure yang selama ini memang dandanannya lebih terlihat sebagai bocah laki-laki dengan rambut pendek dan kaos oblong serta celana pendeknya itu didalam hatinya sedang mengalami sebuah krisis identitas. Hal itulah yang akhirnya mendorong dia untuk berpura-pura menjadi laki-laki didepan teman-temannya dan mengaku bernama Mikael. Laure sebagai Mikael dengan mudah berbaur, bermain dan bahkan bertingkah layaknya laki-laki. Tapi keadaan bertambah kompleks saat salah satu teman perempuannya yang bernama Lisa (Jeanne Disson) mulai jatuh cinta pada Laure/Mikael, begitu juga sebaliknya.

28 Mei 2012

3-IRON (2004)

Saya sekarang telah benar-benar jatuh cinta dengan karya Kim Ki-duk walaupun sebelum ini hanya pernah menonton dua filmnya, yaitu Spring, Summer, Fall, Winter...and Spring dan Samaritan Girl tapi kedua film tersebut benar-benar mampu membuat saya terkagum-kagum akan karya sutradara 42 tahun ini. Alur cerita dalam filmnya sama sekali tidaklah rumit bahkan sangat sederhana dan termasuk film-film sepi yang minim dialog. Namun Kim Ki-duk selalu berhasil membuat saya mendapatkan pelajaran dan perenungan baru setelah selesai menonton film-filmnya yang berbalut kesederhanaan tersebut. 3-Iron sendiri rilis hanya berselang tujuh bulan setelah rilisnya Samaritan Girl. Bukti kehebatan Kim Ki-duk terlihat disini. Dalam setahun merilis dua film dan keduanya punya kualitas luar biasa yang juga berjaya di festival-festival film. Jika Samaritan Girl meraih piala di Berlin Film Festival, maka 3-Iron berjaya di Venice Film Festival. Film ini sendiri dikenal lewat minimnya dialog antara kedua tokoh utamanya, yang memang sama sekali tidak ada dialog dua arah antara keduanya.

Ceritanya adalah mengenai seorang pemuda bernama Tae-suk (Jae Hee) yang punya kebiasaan masuk kedalam rumah orang lain. Teknik yang dia pakai adalah dengan menempelkan brosur ke beberapa rumah yang ada, lalu setelah beberapa lama ia akan kembali dan mengecek brosur tersebut dan jika ada rumah yang brosurnya masih menempel ditempat yang sama berarti rumah tersebut kosong dan Tae-suk mulai melancarkan aksinya. Tapi ia tidak masuk kerumah itu untuk mencuri. Dia hanya melakukan kegiatan sehari-hari disana seperti makan, mandi, menonton tv bahkan melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci dan merawat tanaman. Sampai suatu hari ia masuk ke sebuah rumah yang ternyata didalamnya ada seorang gadis muda bernama Sun-hwa (Lee Seung-yeon) yang selalu dikasari oleh suaminya. Merasa saling jatuh cinta, Sun-hwa memutuskan meninggalkan rumah tersebut dan pergi meninggalkan suaminya yang sudah sempat "dihajar" oleh Tae-suk dan mengikuti sang pemuda melakukan kebiasaannya memasuki satu persatu rumah. Begitulah hubungan mereka terus berlangsung sampai suatu hari ada kejutan yang menanti mereka dalam salah satu rumah yang mereka masuki. Kejutan yang nantinya akan menguji kekuatan cinta keduanya.

27 Mei 2012

JACKIE BROWN (1997)

Tarantino dan tema kriminalitas sekaligus gangster jelas tidak bisa dipisahkan. Setelah kesuksesan luar biasa dari Pulp Fiction tiga tahun sebelumnya, Tarantino merilis film ketiganya ini yang merupakan adaptasi sebuah novel berjudul Rum Punch yang ditulis Elmore Leonard. Selain mengadaptasi ceritanya dari sebuah novel, Tarantino juga memberikan homage kepada film-film blaxploitation era 70-an. Sekedar info, blaxploitation adalah sebuah sub-genre bagi film-film eksploitasi. Pada blaxploitation, unsur-unsur yang ada didalamnya sangat kental dengan nuansa dan kultur bangsa kulit hitam Amerika seperti para pemainnya yang semua adalah orang kulit hitam, penggunaan bahasa dan ungkapan khas orang kulit hitam, hingga pemasukkan kultur dan musik-musik khas mereka didalam film. Tarantino memang dikenal suka memasukkan homage dalam film-filmnya dimana selain Jackie Brown, Tarantino pernah memberikan homage untuk film-film silat lewat Kill Bill dan untuk film-film eksploitasi lewat Death Proof. Bahkan dalam Pulp Fiction juga terdapat banyak homage untuk film-film kesukaan Tarantino lainnya.

Tidak seperti dalam Pulp Fiction yang terdiri dari berbagai plot yang sebenarnya saling berhubungan dan disuguhkan dengan alur yang non-linier, Jackie Brown jauh lebih sederhana penyajiannya tapi kisahnya sendiri pada dasarnya sudah cukup rumit. Berkisah tentang seorang pramugari bernama Jackie Brown (Pam Grier) yang baru tiba dari Meksiko yang ditangkap oleh LAPD setelah kedapatan menyimpan uang dalam jumlah besar dan narkoba didalam tasnya. Ditempat lain seorang pedagang senjata bernama Ordell (Samuel L. Jackson) yang baru saja membunuh anak buahnya yang kedapatan menyimpan senjata ternyata tengah meminta bantuan pada seorang "penjamin" bernama Max Cherry (Robert Forster) untuk membantu mengeluarkan Jackie dari penjara. Belakangan diketahui bahwa sesungguhnya Jackie adalah seorang kurir uang milik Ordell. Lalu berbagai konflik lanjutan akan dimulai seperti interogasi pihak kepolisian pada Jackie dan Ordell, konflik antar karakternya yang jika dilihat sebenarnya mereka saling "menusuk" dari belakang. Kurang lebih begitu kisah yang bisa saya tuliskan untuk film ini tanpa harus banyak memberikan spoiler. Memang menuliskan sinopsis untuk film Tarantino sama sulitnya dengan menulis sinopsis film-film Nolan. Untuk menggambarkannya tanpa sedikitpun spoiler bukanlah hal yang mudah.

26 Mei 2012

REMAKE, REUSE DAN REPLAY DALAM PSYCHART

Keluarga Rapat Sebuah Teater kembali mencoba mengadakan sebuah even yang berbeda dan unik. Setelah sebelumnya mengadakan acara Panggung Bebas untuk pertama kalinya, kali ini KRST kembali membuat sebuah acara yang sebelumnya belum pernah kami adakan yakni Psychart. Pada dasarnya Psychart adalah sebuah acara musik. Namun apa keunikan dari acara ini adalah mengenai konsepnya yang mengusung recycle atau daur ulang. Pemikiran dasar acara ini adalah didasari dari obrolan santai kami tentang begitu banyaknya sampah-sampah tak terurus yang ada disekitar kami. Jika hanya menggalakkan "buanglah sampah pada tempatnya" mungkin kami rasa hal itu masih belum cukup kuat untuk bisa mengurangi jumlah sampah. Harus ada suatu hal yang membuat orang-orang tergerak atau kalau bisa tertarik untuk tidak asal membuang sampah tersebut. Dari situ tercetuslah ide untuk membuat sebuah acara yang bertemakan recycle.

Dalam acara ini akan ada dua jenis perlombaan. Perlombaan yang pertama adalah sebuah lomba band namun yang memberikan perbedaan adalah dalam satu grup harus ada alat musik yang dibuat dari barang bekas apapun itu bentuknya. Kemudian masing-masing grup yang maksimal terdiri dari 8 orang harus menampilkan sebuah aransemen musik yang maksimal berdurasi 10 menit dengan catatan dalam aransemen tersebut penggunaan alat musik yang dibuat dari barang bekas harus lebih dominan dibandingkan alat musik lainnya. Untuk perlombaan ini biaya pendaftarannya adalah Rp. 35.000,-/grup. Pemenang akan ditentukan oleh pilihan juri. Sedangkan untuk lomba yang kedua adalah lomba untuk me-recycle barang bekas untuk menjadi sebuah alat musik tanpa harus mereka mainkan. Untuk lomba ini peserta tiap kelompok maksimal 2 orang dan mereka akan memamerkan barang yang mereka buat tanpa memainkannya. Untuk perlombaan yang kedua ini biaya pendaftaraan adalah Rp. 10.000,-/kelompok dan pemenangnya akan ditentukan oleh voting yang dilakukan para penonton. Kemudian adalah mengenai hadiah yang akan diberikan pada pemenang. Untuk lomba pertama (perform musik) Juara pertama akan mendapat hadiah Rp. 500.000,- kemudian juara kedua Rp. 300.000,- dan juara ketiga mendapat Rp. 200.000,-. Sedangkan untuk lomba kedua (pameran alat musik) hadiah akan diberikan kepada SATU kelompok yang mendapat voting terbanyak alias favorit penonton dan akan mendapat hadiah Rp. 100.000,-.