MOVFREAK ON UC NEWS (LAST UPDATED ON JUNE 4, 2018)

Sejak akhir Juni lalu, saya diundang oleh UC News untuk menyumbangkan tulisan bertema religi...maksud saya film. Awalnya saya hanya mempublikasikan ulang review blog ini, sampai tercetus niat untuk fokus pada pembuatan list film, yang mana sering pembaca blog ini minta tapi karena satu dan lain hal (baca: penulisnya pemalas) jarang terpenuhi. Kenapa tidak sekalian membuat list juga di sini? Tidak lain demi menjaga orisinalitas kedua media, sebab pernah artikel saya ditolak karena sistem menyatakan tulisan itu hasil jiplakan dari web movfreak.blogspot.com (lol).

Maka dari itu, jika ada list yang kalian ingin saya buat, silahkan request, bisa di kolom komentar ini atau artikel saya di UC News. Untuk mengakses tulisan di sana, bisa mengunduh aplikasi UC News di smartphone, lalu cari dan ikuti akun "Movfreak". Atau cukup dengan mengikuti postingan ini yang akan selalu saya update tiap ada artikel baru dan akan selalu disematkan di halaman paling atas blog. Dan karena perbedaan media publikasi, gaya penulisan yang saya pakai pun (mostly) berbeda. Silahkan request sebanyak-banyaknya, makin unik makin baik, agar memudahkan saya membuat judul clickbait daftar menarik. Tenang, review tetap saya publikasikan di sini (afterall, this is my home, and all of you, my readers, are the lovely guests).

Berikut beberapa judul yang sudah ada sejauh ini yang akan rutin diperbaharui (klik untuk menuju tautan):

JAILANGKUNG 2 (2018)

Jailangkung 2 diawali dengan meyakinkan, memberi penyegaran dengan membawa kisahnya mundur jauh ke belakang, tepatnya pada 1947 untuk mengaitkan Matianak dengan legenda SS Ourang Medan, kapal yang konon karam akibat kecelakaan misterius berbau mistis. Sekuen—yang sayangnya terlampau singkat—itu bukan cuma menghadirkan suasana berbeda, pula berpotensi melebarkan mitologi cerita, di mana Matianak dikurung dalam kargo SS Ourang Medan. Untuk apa? Pertanyaan-pertanyaan logika serupa terulang berkali-kali, tapi tanya yang lebih besar adalah “kenapa sekuel ini dibuat jika orang-orang yang terlibat tampak setengah hati?”. Demi uang tentu saja. Bodohnya saya bertanya.

Padahal menengok konsepnya, Jailangkung 2 jelas sekuel ambisius. Lebih mahal, lebih besar, punya lingkup lebih luas. Dimulai di tengah samudera, kisahnya berlanjut menceritakan nasib tokoh-tokohnya pasca film pertama. Bella (Amanda Rawles) mendapati keluarganya masih diteror Matianak. Ayahnya, Ferdi (Lukman Sardi) tetap dihinggapi rasa tidak tenang, sementara sang kakak, Angel (Hannah Al Rashid) berada di bawah pengaruh Matianak dalam wujud bayi yang ia lahirkan di film sebelumnya. Kedua mata bayi itu berwarna putih, menyeramkan, tapi entah bagaimana pihak rumah sakit seolah tak merasa ada kejanggalan.

Si puteri bungsu, Tasya (Gabriella Quinlyn), secara tak sengaja menyaksikan video ayahnya bermain jailangkung, lalu terinspirasi membuat jailangkung sendiri guna berkomunikasi dengan mendiang sang ibu. Tindakan inilah awal segala teror yang memicu Bella, bersama Rama (Jefri Nichol), melakukan perjalanan mencari jimat Kurungsukmo yang dipercaya bisa membendung kekuatan Matianak, setelah memperoleh informasi dari Bram (Naufal Samudra) si mahasiswa baru. Perjalanan ini diisi ragam tindakan karakter yang terjadi semata sebagai pembuka jalan menyelipkan jump scare alih-alih didasari motivasi logis. Bella misalnya, mendadak bergegas ke WC untuk cuci tangan. Bisa jadi dia menjunjung tinggi kebersihan, meski saya yakin ini sekedar cara malas Ve Handoyo dan Baskoro Adi Wuryanto (Gasing Tengkorak, Ruqyah: The Exorcism) dari departemen penulisan naskah supaya Bella seorang diri di ruangan gelap. Begitu lampu WC padam, daripada kabur, ia justru nekat menyelidiki.

Di saat bersamaan Ferdi tinggal di rumah, berusaha mencari Tasya yang hilang setelah bermain jailangkung. Selaras dengan tema kekeluargaan yang diusung, Ferdi pun coba digambarkan sebagai seorang ayah dengan kepedulian tinggi pada ketiga puterinya, walau tatkala Bella pamit ingin mencari jimat,—yang jelas sebuah perjalanan berbahaya—Ferdi tak merasa perlu menanyakan destinasinya. Benar saja, gangguan makhluk halus setia mengintai Bella dan kawan-kawan. Bram berkata, bahwa semakin tinggi niat mereka menyingkirkan Matianak, semakin banyak pula setan mengganggu demi menggagalkan usaha itu. Satu momen singkat sempat memperlihatkan para hantu merangkak di depan Matianak layaknya rakyat jelata memuja sang raja. Setidaknya poin itu cukup sebagai “rules”, penjabaran mengapa hantu-hantu selain Matianak ikut meneror.

Samudera ganas baik di permukaan maupun kedalaman hingga Keraton gaib Alas Ketonggo jadi contoh lokasi yang disinggahi petualangan Jailangkung 2. Cenderung nampak seperti ajang unjuk gigi bujet besar ketimbang parade kengerian, untungnya variasi lokasi serta cukup baiknya kualitas CGI menjadikan film ini tidak semelelahkan mayoritas horor lokal buruk yang hanya bertahan di lokasi tunggal nan monoton. Petualangan berskala besar ini sayangnya berakhir ala kadarnya, sewaktu jimat Kurungsukmo yang telah tersembunyi selama puluhan tahun dalam reruntuhan kapal di dasar laut jauh lebih mudah ditemukan ketimbang remote televisi yang hilang.

Setelah berpetualang sedemikian jauh bersama karakternya, tentu saya mengharapkan puncak yang sepadan, bukannya konfrontasi canggung yang bak dikemas tanpa perencanaan, tanpa koreografi matang, tanpa totalitas. Beberapa horor terakhir karya duo sutradaranya, Jose Purnomo (Alas Pati, Ruqyah: The Exorcism, Gasing Tengkorak) dan Rizal Mantovani (Kuntilanak, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati) memang buruk, tapi setidaknya ada energi. Jump scare-nya memiliki tenaga meski berhenti di taraf trik mengagetkan murahan. Jailangkung 2 bagai anak kurang gizi yang dipaksa berlari. Begitu pula jajaran pemainnya. Menyaksikan Amanda Rawles-Jefir Nichol bersama di layar lebar tak pernah sedatar dan semembosankan ini. 

INSYA ALLAH SAH 2 (2018)

Seorang wanita yang hamil sebelum menikah dan seorang perampok yang kabur dari penjara demi menikahinya. Film pertama Insya Allah Sah (2017) takkan menempatkan Raka (Pandji Pragiwaksono) di antara kedua sosok tersebut, karena filmnya sendiri rasanya takkan mau menjustifikasi mereka. Saya tidak tahu bagaimana jalan cerita novel karya Achi TM selaku sumber adaptasinya, tapi Insya Allah Sah 2 jelas tampil lebih baik ketimbang pendahulunya karena kesediaan memandang tokoh-tokohnya sebagai manusia biasa yang jauh dari kesempurnaan. Raka lebih toleran pada dua protagonis yang punya pandangan hidup berbeda dengannya, untuk itu saya mesti bersikap sama terhadapnya dan film ini.

Mungkin anda ingat betapa saya membenci film pertamanya. Pembaca reguler blog ini pun rasanya tahu betapa saya membenci polisi moral seperti Raka. Sebagai karakter, ia tidak berproses, hanya muncul mendadak layaknya hantu, kemudian berceramah. Fakta bahwa Raka adalah sosok manchild tidak menjadikannya lebih baik. Karena berbeda dibanding para manchild dalam komedi berkualitas, sebutlah Will Ferrell dalam Elf (2003), meski berdandan dan bicara bagai bocah, Raka memahami konsep-konsep yang cuma dipahami orang dewasa. Sehingga ketika ia mencampuri urusan orang-orang di sekitarnya, itu bukan hasil kepolosan bocah yang memandang dunia secara hitam-putih.

Kali ini Raka masih gemar berpetuah, namun ia mampu, atau tepatnya mau melihat kebaikan dalam keputusan (yang menurutnya) buruk dari seseorang. Pun acap kali di tengah ceramahnya, Raka mendapat todongan pistol di kepala, seolah Anggy Umbara (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Tiga) dan Herry B. Arissa (Generasi Kocak: 90-an vs Komika, Selebgram) selaku penata skrip berkata, “diem lo!”. Tapi Raka memang sulit didiamkan, bahkan ketika terlibat baku tembak bersama Gani (Donny Alamsyah), yang baru saja nekat kabur dari penjara lalu merampok uang Freddy Coughar (Ray Sahetapy) si mafia, semua demi menikahi Mutia (Luna Maya) yang sedang hamil tua. Untuk itu, uang sebesar 250 juta dibutuhkan.

Mungkin alasan mengapa ceramah Raka terasa tidak segencar sebelumnya karena sekuel ini cenderung berorientasi pada aksi. Sekali lagi, saya belum membaca sumber adaptasinya, sehingga tidak tahu apakah Achi TM memang menggeser pendekatan novelnya ke arah laga. Tapi pemilihan Anggy Umbara dan Bounty Umbara (Mama Cake, Rafathar) guna duduk di kursi sutradara jelas tepat. Gaya-gayaan di antara rentetan momen aksi seolah mendarah daging dalam diri Umbara Bersaudara, dan meski Insya Allah Sah 2 tak punya gelaran aksi luar biasa, elemen tersebut jelas jauh lebih menghibur daripada menyaksikan ceramah agama selama 90 menit.

Raka (dan agama) sekedar jembatan dalam proses Gani belajar bahwa tidak semua masalah dapat terselesaikan lewat kekerasan dan amarah. Bukan studi permasalahan mendalam, tapi Insya Allah Sah 2 setidaknya menampilkan pergulatan personal. Saya bisa membayangkan kisah Gani-Mutia dieksekusi tanpa unsur agama dan tetap dapat bekerja dengan baik (bahkan mungkin lebih), sebab ini kisah manusia yang berdamai dengan dirinya, bukan menemukan cahaya agama atau Tuhan. Gani ingin berubah bagi orang-orang tercintanya, juga demi nazar, demi janji, yang tanpa memakai perspektif agama pun, memang wajib ditepati.

Ada satu momen khusus yang seketika membuat Gani menjadi protagonis yang likeable serta layak didukung, yakni ketika Mutia menceritakan beberapa rahasia pada Raka di suatu restoran. Sebelumnya, kita pun sempat diajak mengintip masa lalu kelam nan berat miliknya, yang turut memberi Donny Alamsyah kesempatan memamerkan akting dramatis, melalui lontaran amarah menusuk yang mampu mendiamkan semua orang di ruangan. Kesukaran menggelayuti hidup tokoh-tokohnya, tapi tentu saja senjata utama Insya Allah Sah 2 tetap komedi. Beberapa humor bekerja efektif, sebutlah absurditas yang melibatkan telepon genggam dan suara tangis bayi, Jingga (Nirina Zubir) si polisi cantik yang mudah terbuai oleh pujian, atau bila anda tetap membenci penokohan Raka, anda akan bahagia melihatnya jadi korban serbuan bersin bertubi-tubi.

DIMSUM MARTABAK (2018)

Meniliki judulnya, wajar mengira Dimsum Martabak adalah suguhan foodporn penuh pertunjukan masak-memasak dan menyajikan makanan, yang berkat estetikanya, tak cuma menyegarkan mata, juga memancing kucuran air liur. Tapi tidak. Sutradara Andreas Sullivan (Revan & Reina, Sawadikap) enggan mengedepankan itu, atau mungkin telah berusaha, namun karena ia dan Fachmi J. Saad (Hongkong Kasarung, Winter in Tokyo) selaku penata kamera kurang mumpuni, target yang dicanangkan urung tercapai. Dimsum dibuat, martabak disajikan, tapi seluk beluk pengolahan hanya terjadi di belakang layar, membuat produksi kedua RA Pictures ini belum layak disebut foodporn.

Dimsum Martabak cenderung menyusuri jalur yang dibentangkan formula klasik “Kisah Cinderella”, di mana gadis (atau puteri) miskin bertemu lelaki (atau pangeran) kaya, meski ketimbang kuda putih, sang pangeran kini menunggangi truk martabak kuning kemudian Ferrari merah. Walau untuk menyebut Mona yang diperankan Ayu Ting Ting, dengan riasan lengkap apik, bukan norak, yang senantiasa menghiasi wajahnya sebagai “gadis miskin” terasa sulit dipercaya. Tidak peduli ia sekedar pelayan terpercaya di restoran milik Koh Ah Yong (Chew Kin Wah) yang menyajikan dimsum sebagai menu andalan.

Jika Mona adalah “si dimsum”, maka siapakah “si martabak”? Perkenalkan Soga (Boy William) yang menjual martabak memakai truknya bersama Dudi (Muhadkly Acho). Dodi, sebagaimana contoh sidekick yang baik, mampu mencuri perhatian melalui celotehan-celotehan serta tingkah menggelitik, yang jadi motor paruh pertama filmnya, menghadirkan hiburan ringan menyenangkan sebelum dimsum dan martabak bersatu. Pada romansa berbasis “kisah Cinderella” begini, tiga fase patut diperhatikan: 1) Bagaimana kedua protagonis mulai saling terpikat walau ada jurang perbedaan, 2) Bagaimana cinta keduanya menguat, 3) Bagaimana perbedaan tadi membuat keduanya ragu bisa terus bersama sebelum dipersatukan kekuatan cinta. Penonton harus dibuat yakin oleh ketiga fase di atas.

Fase pertama terjadi kala Mona, yang kebetulan di suatu malam mengenakan baju yang lebih bagus dari biasanya, menyeberang jalan dan nyaris tertabrak truk milik Soga yang hanya mampu diam terpukau, sementara Mona, meski terkejut karena nyaris celaka, merespon setenang mungkin, sembari tersenyum memasang lirikan cantik. Tidak mengherankan. Dia adalah gadis yang terbangun pukul 1 dinihari memakai riasan lengkap termasuk bulu mata lentik. Dibalut gerak lambat, pertemuan pertama dua sejoli tak bisa “lebih sinetron” dari ini.

Singkat cerita, kecemburuan istri kedua Koh Ah Yong menyebabkan Mona dipecat, dan karena Soga telah terpikat, mudah baginya menerima Mona bekerja di warung martabaknya sebagai perancang sistem. Dalam sebuah adegan yang jelas terinspirasi (kalau enggan disebut mengambil) dari The Founder (2016), Mona mengajarkan sistem buatannya di tengah lapangan yang digambari menggunakan kapur. Bedanya dengan film biografi Ray Kroc itu, adegan versi Dimsum Martabak takkan membuatmu terpukau, karena ide Mona sekedar common sense ketimbang terobosan jenius, pun pengemasan Andreas gagal menjadikannya momen intens yang melibatkan penonton dalam proses perencanaan.

Rasanya tidak mengejutkan saat saya menyebut duet Ayu-Boy kekurangan chemistry. Keduanya sebatas pasangan berparas rupawan tanpa jangkauan emosi luas yang diperparah penokohan dangkal dari naskah buatan Alim Sudio (Kuntilanak, Ayat-Ayat Cinta 2). Mona adalah gadis sederhana yang memahami sistem warung makanan, Soga adalah bocah kaya yang menolak meneruskan bisnis ayahnya (Ferry Salim) demi impian pribadi. Itu saja. Nihil karakterisasi spesifik pemberi daya tarik kala berinteraksi. Memang sulit berharap pada naskah yang dalam dialognya menulis “pesan order” dan “paling terberat”. Walau bukan tak mungkin dua istilah ajaib itu dikarang sendiri oleh Ayu, sebagai contoh betapa ia masih kerepotan menangani kalimat-kalimat pada debut layar lebarnya.

Konflik puncaknya sederhana, bahkan berjalan datar hasil penyutradaraan Andreas yang kurang piawai membangun dinamika dramatis juga ketidakmampuan naskah menyelipkan permasalahan kompleks yang ditutup oleh resolusi kental penggambangan. Babak akhirnya berpindah ke setting berbeda, tapi saat itu saya sudah kesulitan membuka mata. Ya, ini lebih pantas ditayangkan di televisi, tapi kalau anda tak mengharapkan tontonan bergizi, filmnya masih menjadi hiburan yang layak dengan segala keklisean dan elemen cheesy miliknya. Masalah terbesar bukan terletak di kedangkalan maupun kebodohan cerita, melainkan ketiadaan dinamika. Dimsum Martabak bukan bencana. Cuma santapan membosankan.

INCREDIBLES 2 (2018)

Jika The Incredibles (2004) merupakan parodi film pahlawan super bertemu drama keluarga kelas menengah di pinggiran kota—pekerjaan membosankan sang ayah, ibu rumah tangga—dengan keseharian monoton mereka, maka Incredibles 2, walau tetap menyoroti nilai kekeluargaan dan aksi para pemilik kekuatan super, menyentil isu yang mengikuti zaman, yakni peran gender. Bagaimana jika ibu mempunyai pekerjaan mapan di luar sedangkan ayah mengurus rumah? Pria pemegang teguh nilai patriarki bakal kelabakan bahkan merasa terhina. Itu sebabnya ada relevansi pula urgensi tinggi di sini.

Melanjutkan akhir film pertama tatkala Mr. Incredible alias Bob Parr (Craig T. Nelson), Elastigirl alias Helen Parr (Holly Hunter), bersama ketiga anak mereka menghadapi Underminer, meski hukum masih melarang aksi pahlawan super berkostum. Mereka yakin aksi tersebut baik, tapi ketika berujung melanggar hukum, apakah definisi baik masih layak disematkan? Secercah harapan muncul dari Winston Deavor (Bob Odenkirk), pemilik perusahaan telekomunikasi sekaligus penggemar berat pahlawan super, yang menawarkan jalan agar petinggi-petingi dunia bersedia menghentikan pelarangan terhadap pahlawan super. Kuncinya tak lain menggaet dukungan publik.

Rencana Winston dan adiknya, Evelyn (Catherine Keener) si ahli teknologi, adalah memasang kamera di tubuh pahlawan super, supaya publik dapat memahami lebih jauh seluk beluk di tengah pertarungan melawan kejahatan. Supaya publik tahu, betapa keselamatan mereka jadi prioritas utama para jagoan. Mengacu pada data soal “seberapa destruktif” tiap-tiap jagoan kala beraksi, Elastigirl, yang memiliki tingkat terendah pun dipilih. Data tersebut membawa kita sedikit mengintip tentang tema gender yang diangkat. Mr. Incredibles (pria) cenderung mengandalkan otot, tanpa pikir panjang, sementara Elastigirl (wanita) lebih taktis dan mengedepankan otak. Pekerjaan bagi sang istri mengharuskan Bob tinggal di rumah menjaga ketiga buah hati.

Seperti kebanyakan suami, Bob yakin tetek bengek rumah tangga bukan perkara sulit dan akan mudah dijalankan. Bob tak tahu apa yang menantinya. Menangani Violet (Sarah Vowell) dan urusan cinta monyetnya, tugas matematika Dash (Huck Milner), dan Jack-Jack yang memberi masalah lebih dari sekedar mengganti popok. Sulit bagi Bob. Dia lelah, mengeluh, tapi bukan karena sisi machonya terancam, melainkan rasa “gatal” untuk kembali beraksi. Semacam post-power syndrome, yang juga dialami Helen, meski kontrol diri sang istri lebih kuat. Bob mencoba melakukan yang terbaik, memberi contoh mengenai heroisme seorang ayah. Bagi orang tua yang bekerja, konsekuensinya yakni melewatkan tumbuh kembang anak. “Aku melewatkan kekuatan super pertama Jack-Jack”, ungkap Helen, sebagaimana keluhan orang tua yang melewatkan langkah pertama anaknya.

Intensitas Incredibles 2 tidak sepadat film pertama akibat kesan lebih “cerewet” dari setumpuk obrolan. Ada perdebatan panjang ayah-ibu sampai pembicaraan hati ke hati para wanita tentang peran gender, yang bakal sulit diikuti penonton bocah, namun cukup menyadarkan penonton dewasa, dan bukan mustahil memberi mereka bahan tentang parenting maupun pemberdayaan wanita untuk diajarkan ke anak mereka suatu hari kelak. Jangan khawatir elemen tersebut menurunkan daya hibur filmnya. Layaknya film pertama, Incredibles 2, dipandu penyutradaraan berenergi Brad Bird (The Incredibles, Mission: Impssible – Ghost Protocol) masih sajian pendobrak batas terkait urusan aksi pahlawan super.

Ditemani musik epic garapan Michael Giacchino, seri The Incredibles selalu sanggup menggelontorkan aksi yang akan tampak terlalu konyol atau membutuhkan CGI terlampau banyak di medium live action. Lihat aksi pembukanya, kala kamera bergerak amat dinamis, memakai tracking shot, mengikuti satu demi satu pameran kekuatan keluarga super kita, sebelum Frozone (Samuel L. Jackson) memasuki arena pertempuran, bak menari lincah di atas lintasan es buatannya. Atau ketika Elastigirl berusaha menghentikan upaya supervillain Screenslayer, yang mampu menghipnotis korbannya melalui berbagai jenis layar, dengan merenggangkan tubuhnya sementara motornya “terbelah” dua. Butuh kreativitas tinggi guna mengeksekusi sekuen macam itu.

Incredibles 2 masih berperan selaku parodi film-film pahlawan super. Kunjungan kita ke rumah Tony Stark (tidak diungkap secara gamblang) jadi contoh. Pun jika anda familiar dengan komik Fantastic Four, yang memberi inspirasi besar bagi pondasi The Incredibles sejak dulu, maka Jack-Jack mungkin mengingatkan kepada Franklin Richards, putera Reed Richards dan Susan Storm yang memiliki kekuatan tanpa batas, bahkan dianggap sebagai makhluk terkuat di seluruh alam semesta. Jack-Jack sendiri merupakan sumber tawa terbesar film ini yang takkan sulit mencuri hati penonton mana saja.


Note: Jangan lewatkan film pendek Bao yang diputar di awal, satu lagi animasi indah Pixar yang menguras air mata. 

TARGET (2018)

Target lebih bagus daripada Hangout (2016). Sesama komedi meta di mana para aktor memerankan diri sendiri bercampur misteri whodunit, proses Raditya Dika mempermainkan image jajaran pemainnya di Target jauh lebih berhasil. Dia memberi Cinta Laura kesempatan jadi sosok paling tangguh. Dia memberi penokohan tak terduga kepada Willy Dozan dan Samuel Rizal  yang tak pernah kita kira ingin kita lihat. Tapi kita ingin melihat Ria Ricis kena batunya akibat lawakan-lawakan tak lucu ciri khasnya, dan Radit pun memberikan itu. Walau Hangout juga bermain-main dengan image dunia nyata itu, dalam Target peran mereka signifikan dan punya momen puncak masing-masing. Radit menepi, membiarkan sorotan terbagi rata, membuka kesempatan bagi humor yang lebih variatif. Alhasil, jadilah film soal ensemble cast, bukan “Radit dan kawan-kawan”.

Kredit pembukanya langsung menggigit lewat desain grafis yang mengingatkan akan karya-karya Saul Bass yang jadi langganan Alfred Hitchcock. Pun ditambah musik suspense garapan Andhika Triyadi (Dear Nathan, Dilan 1990, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss) aroma Hitichcockian seketika merebak, mengawali pertemuan sembilan selebritis yang bermain bersama dalam film berjudul Target: Raditya Dika, Cinta Laura Kiehl, Samuel Rizal, Willy Dozan, Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir, Ria Ricis, Romy Rafael, Anggika Bolsterli. Mengharapkan proses cepat nan mudah selama sehari, para pesohor ini justru mendapati diri mereka tengah dikurung sosok misterius bertopeng bernama Game Master di sebuah gedung kosong. Bukan itu saja, mereka dipaksa melakukan berbagai permainan maut sembari direkam gerak-geriknya melalui kamera yang tersebar di tiap sudut gedung. Game Master ingin menciptakan film yang nyata, dengan konflik nyata, serta kematian nyata.

Penjahat bertopeng, perangkap dengan perintah dilematis yang memaksa para korban mengorbankan diri sendiri atau orang lain, praktis Target adalah modifikasi dari Saw. Hanya saja tiada peralatan canggih dengan cara kerja rumit, karena perangkapnya monoton, cuma “lubang lantai” dan pistol. Hanya ada hidup atau mati, tanpa ada kehilangan bersifat parsial. Dampaknya, saat seseorang meregang nyawa, momen itu cuma numpang lewat. Apalagi karakternya menganggap kematian-kematian itu bak angin lalu. Terdapat beberapa adegan perkelahian dengan eksekusi kurang meyakinkan, canggung, meski salah satunya membuat Cinta Laura terlihat badass sementara satu momen lain bakal membuat penonton bersorak, khususnya bagi yang menghabiskan masa kecil bermain peran sebagai tokoh-tokoh dalam sinetron laga Deru Debu (1994-1996) seperti saya.

Perangkapnya memang bersifat sekunder. Bagaimana para korban menyikapi perangkap itulah yang diutamakan. Karena bukan slasher yang bergerak secara “kill-and-run”, Target mampu menjalin dinamika tersebut. Willy Dozan si legenda laga diubah jadi pria genit yang membenci kekerasan dan berjualan obat anti-wasir. Samuel Rizal yang rasanya seumur hidup terjebak oleh typecast Adit si pria keren dalam dua film Eiffel...I’m In Love tampil memparodikan image itu, sebagai pria yang bangga atas status selebritisnya dan acap kali bertingkah bodoh karenanya. Dari situ komedinya bisa bekerja. Kita suka melihat seseorang memerankan sosok yang berlawanan dengan tipenya. Ada satu potensi lain, yakni Anggika Bolsterli sebagai aktris yang mengkhawatirkan tampang selaku asetnya, sayang opsi itu urung dimanfaatkan. Menyenangkan melihat nama-nama di atas memperoleh fokus besar, sebab “dick jokes” murahan jelas terdengar lebih lucu saat dilontarkan Samuel Rizal ketimbang Raditya Dika dengan gaya yang kita sudah hafal betul.

Apakah Target film pintar? Tentu tidak. Beberapa permainan mautnya tidak diberi aturan pasti, yang mengakibatkan intensitas minimalis, dan saat permainan itu dikaitkan dengan motif pelaku yang diungkap di paruh akhir, modus operandinya menyisakan setumpuk pertanyaan di ranah logika pula menghadirkan kesan penggampangan. Radit enggan repot-repot memikirkan segenap detail tadi, terpenting ada permainan misterius plus twist soal pelaku. Mungkin kesederhanaan pikir itu yang ada di kepalanya. Tapi berkat kesederhanaan itu, Radit lebih mudah menjalin konstruksi yang rapi. Dia menyempatkan diri menebar petunjuk, sehingga walau ditempatkan bukan dengan cara yang memancing keterlibatan penonton memecahkan teka-teki, tatkala jawaban diungkap, poin-poinnya saling terhubung, meninggalkan saya dengan rasa puas ketimbang kesan tiba-tiba nan dipaksakan.

Mengapa lagi-lagi Raditya Dika membuat meta whodunit? Entahlah. Mungkin ia tidak puas dengan eksperimen perdananya dua tahun lalu, mungkin dia memang mencintai konsep itu, atau mungkin sekedar “cari gampang” karena dia tidak perlu menciptakan karakter (plus lelucon) yang sepenuhnya baru, melainkan cukup sedikit menggali lalu memparodikan image jajaran nama-nama tenar. Namun berapa banyak sineas kita berani menjamah ranah itu? Tidak banyak. Berapa banyak film liburan secara umum, atau lebaran secara khusus, yang bersedia melangkah ke sana alih-alih mengangkat konsep familiar macam horor dan sajian religius? Jauh lebih sedikit. Saya akan menyambut gembira jika Raditya Dika terus kembali lewat eksperimennya.

OCEAN'S 8 (2018)

Genre heist caper punya formula klasik, aturan-aturan yang diawali dengan (1) perkenalan benteng yang mustahil ditembus (brankas, kasino, museum), lalu kita (2) bertemu sekelompok pria necis yang berencana membobolnya, (3) melihat mereka membeberkan rencana mengenai siapa harus melakukan apa serta bagaimana. Ocean’s 8 sepenuhnya berjalan mengikuti pakem kecuali pada poin kedua, di mana alih-alih pria necis, kita berkenalan dengan para wanita berkelas. Sandra Bullock dengan ketenangan elegannya, Cate Blanchett dalam lagak semaunya, sikap eksentrik Helena Bonham Carter sebagaimana biasa, Rihanna yang melambungkan level “keren” peretas beberapa tingkat lebih tinggi, Anna Hathaway dengan senyum yang mewakili definisi “selebritis bodoh”.

Ocean’s 8 adalah sepenuhnya soal star power. Ditambah Sarah Paulson, Awkwafina, dan Mindy Kaling, tercipta kombinasi menarik yang bukan cuma tentang multikultural, juga beragam kepribadian. Walau bertindak selaku spin-off untuk remake dari Ocean’s 11 (1960) yang juga mengandalkan star power kelima Rat Pack (Peter Lawford, Frank Sinatra, Dean Martin, Sammy Davis, Jr., dan Joey Bishop), toh naskah garapan Gary Ross bersama Olivia Milch bergerak layaknya reka ulang dari versi Steven Soderbergh (di sini bertindak selaku produser). Debbie Ocean (Sandra Bullock) baru keluar dari penjara, menemui partner sekaligus sahabatnya, Lou (Cate Blanchett), menyusun rencana merampok Toussaint, kalung berlian senilai $150 juta, lalu membentuk tim guna menjalankan perampokan.

Seperti saat Rusty Ryan (Brad Pitt) menentang niatan Danny Ocean (George Clooney) menyelipkan usaha balas dendam personal di tengah misi, Lou pun bakal menyatakan hal serupa pada Debbie, yang dijebloskan ke penjara akibat pengkhianatan Claude Becker (Richard Armitage), mantan kekasih sekaligus rekan dalam praktek penipuan benda seni. Dari konsep, persamaan dengan Ocean’s Eleven (2001) memang tak terhindarkan, sayang, detail eksekusinya justru mengingatkan akan Ocean’s Thirteen (2007), yang notabene film terburuk dalam triloginya. Sebelum perampokan utama, penipuan, sabotase, dan penyusupan dilakukan terlebih dahulu sebagai persiapan. Di fase ini, cuma para karakter yang tahu apa rencananya, sementara penonton dibiarkan buta hingga misi berakhir, tapi filmnya berharap kita terpukau oleh eksekusi rencana yang disusun di balik layar itu. Bagaimana bisa jika penonton diasingkan dan tidak merasa terlibat?

Tidak peduli seberapa mustahil rencananya, penonton mesti diyakinkan bahwa itu bisa dilakukan, setidaknya oleh jajaran protagonisnya. Filmnya perlu memperlihatkan keberhasilan misi terjadi berkat kapasitas karakternya, bukan akibat kebodohan korban seperti saat Rose Weil (Helena Bonham-Carter) sang desainer dan Amita (Mindy Kalling) si pembuat berlian berusaha memindai barang target perampokan. Keduanya bersikap konyol, bodoh, aneh, mencurigakan, namun urung dicurigai. Ketika karakternya lolos semudah itu, hilang pula tensi filmnya. Praktis sebelum sajian utama di klimaks, kenikmatan hidangan pembukanya sebatas menyaksikan kepiawaian aktris-aktris kelas satu memerankan sederet tokoh tanpa kedalaman penokohan. Tapi siapa peduli? Film macam ini bukan studi karakter. Kemampuan khusus masing-masing jadi kepribadian pengganti yang mendefinisikan dan membedakan mereka.

Puncak aksinya berjalan cukup singkat, tapi dikemas penuh gaya kala Ross mengkreasi ulang Met Gala secara otentik di Metropolitan Museum of Art selaku lokasi asli, lengkap dengan barang-barang seni asli pula, yang semuanya mampu diperoleh berkat restu Anna Wintour, pimpinan redaksi Vogue sekaligus kurator Met Gala sejak 1995 yang juga menjadi cameo. Tentu cameo para pesohor diperlukan demi menjaga otentitas, sehingga nama-nama seperti Zayn Malik, Katie Holmes, Maria Sharapova, Serena Williams, Kim Kardashian, Adriana Lima, Kylie Jenner, Kendall Jenner, Olivia Munn, dan lain-lain turut hadir di antara keglamoran yang mampu membuat penonton berteriak “oooohh”. Itu juga respon saya tatkala Rihanna, pasca menghabiskan sepanjang film memakai pakaian kasual, mendadak memasuki lantai Met Gala dalam balutan gaun merah menawan.

Apalah artinya heist tanpa twist yang bertempat pasca perampokan ketika kita merasa segalanya telah usai. Kejutan yang hadir semata untuk menghentak ketimbang memperkuat jalinan cerita, walau beberapa dari penonton mungkin telah menyadarinya, mengingat film ini bukan berjudul Ocean’s 7. Kejutan yang justru menambah pertanyaan terkait logika serta detail daripada menjawab. Dalam Ocean’s 8, star power, setting megah dan gaun mewah jauh lebih mencuri perhatian dibanding aksi perampokannya sendiri. Kalau cuma itu, tidak perlu rasanya menyaksikan film heist, cukup karpet merah Met Gala sungguhan, walau di sana kita takkan melihat keluwesan Sandra Bullock mengutil, terlibat pembicaraan renyah dengan Cate Blanchett, atau Rihanna bersenang-senang mengakali sistem keamanan melalui laptop miliknya. Ocean's 8 adalah aksi perampokan biasa oleh para wanita luar biasa.

KUNTILANAK (2018)

Dalam horor, momen ketika kamera dan/atau karakter bergerak lambat menghampiri sumber suara atau bayangan misterius atau apa pun yang takkan didekati manusia normal di dunia nyata, berfungsi memupuk ketegangan dan antisipasi. Sebagai ganti tempo lambat itu, mesti disiapkan penebusan, di mana jump scare kerap jadi primadona. Apabila gagal memberi penebusan setimpal, penonton hanya akan ditinggalkan bersama rasa bosan, yang makin melelahkan jika kegagalan terjadi berulang kali, kemudian berkembang jadi kekesalan sewaktu kuantitasnya melebihi batas normal. Sutradara Rizal Mantovani (trilogi Kuntilanak, Jelangkung, Bayi Gaib: Bayi Tumbal, Bayi Mati) dan tim memahami poin di atas, sehingga Kuntilanak sedikit lebih baik dari rentetan horor busuk belakangan, meski kalau melihat judul-judul pembanding, “sedikit lebih baik” bukan prestasi membanggakan.

Lima anak penghuni panti asuhan, Dinda (Sandrinna M Skornicki), Kresna (Andryan Bima), Ambar (Ciara Nadine Brosnan), Panji (Adlu Fahrezy), dan Miko (Ali Fikry) harus berpisah sejenak dengan ibu asuh mereka, Donna (Nena Rosier) yang mesti bepergian ke Amerika selama 3 minggu. Sebagai pengganti, Lydia (Aurelie Moeremans) diminta menjaga mereka. Jangan berharap Lydia maupun kekasihnya, Glenn (Fero Walandouw), si pembaca acara horor di televisi—yang bertanggung jawab membawa cermin terkutuk tempat kuntilanak bersemayam ke panti asuhan—mendapat porsi banyak. Kuntilanak memang berpusat pada tokoh anak, layaknya IT (2017) atau karya-karya klasik Steven Spielberg.

Cermin penebar teror tersebut berasal dari sebuah rumah bernama “rumah kuntilanak”, yang dipercaya ditinggali sesosok kuntilanak yang menyebabkan hilangnya seorang bocah 4 bulan lalu. 4 bulan yang bagaikan 4 tahun melihat kondisi rumah yang bahkan telah diselimuti akar-akar besar entah dari mana. Tentu rumah ini terbengkalai, walau fakta itu terasa membingungkan saat pemilik lamanya tiba-tiba muncul memergoki kelima protagonis kita yang tengah masuk guna membuktikan keberadaan kuntilanak. Kebingungan lain: siapa hantu-hantu selain kuntilanak yang rutin mengganggu anak-anak itu tiap malam? Misalnya Hantu Penari yang muncul di tengah upaya Rizal memberi homage bagi Poltergeist. Wujud serta modus operandinya jelas berbeda dibanding kuntilanak yang mitologinya diperkenalkan ke penonton.

Beberapa momen jump scares sanggup dikemas cukup solid oleh Rizal dengan segelintir di antaranya memiliki daya kejut lumayan berkat timing tidak terduga. Kebanyakan berujung datar, tanpa penebusan setimpal sebaimana telah dibahas di awal tulisan, tapi setidaknya kita bisa melihat bahwa Rizal bukan sineas horor malas yang asal melemparkan hantu sedekat mungkin ke layar. Sayangnya, tatkala film versi lama yang dibintangi Julie Estelle dahulu memperkenalkan penonton akan desain kuntilanak dengan rasa fantasi, di sini sang titular ghost tampak medioker, kurang mengerikan, mudah dilupakan. Pernyataan yang disebut terakhir bisa didebat, karena paling tidak saya bakal selalu mengingat kuntilanak di sini sebagai “hantu wanita berjidat lebar itu”.

Alim Sudio (Guru Ngaji, Ananta, Ayat-Ayat Cinta 2) selaku penulis naskah mungkin urung membangun pondasi cerita kokoh. Misterinya tak meninggalkan penasaran dan antusiasme, unsur drama keluarganya berlangsung hambar. Tapi berkatnya, Kuntilanak bukanlah satu lagi horor yang tersusun atas fragmen-fragmen jump scare overdosis yang digabungkan paksa. Ada jembatan berbentuk usaha memantapkan hubungan antara bocah-bocah panti asuhan melalui sederet humor yang lebih efekif memancing tawa ketimbang jump scare-nya dalam memancing kengerian, khususnya celetukan-celetukan “semaunya” dari Ciara Nadine Brosnan selaku pemeran Ambar si bungsu, walau keputusan Rizal menyelipkan efek suara plus musik konyol khas sinetron tiap humor tersaji terasa mengganggu. Ini bukan Tukang Ojek Pengkolan.

Ada kepolosan menggelitik dalam celetukan Ambar, berbeda dengan di banyak kesempatan ketika naskahnya memaksa anak-anak ini bicara, menjelaskan mitologi kuntilanak bagai orang dewasa. Klimaksnya (baca: penebusan terhadap keseluruhan film) juga terganggu masalah serupa. Bermaksud menghadirkan kekacauan menyenangkan, kilmaks film ini justru berakhir sebagai kekacauan murni akibat percakapan-percakapan—atau tepatnya teriakan-teriakan—tak perlu yang dilontarkan para protagonis selaku penjelas verbal bagi seluruh hal yang tengah terjadi. Tidak, kalimat yang terlontar dari mulut anak-anak tidak semestinya kaku dan membosankan. Sebaliknya, acap kali menarik, tak terduga, absurd, menggelitik, pastinya lebih menghibur dari (film) ini.

JURASSIC WORLD: FALLEN KINGDOM (2018)

Di titik ini saya sudah tak lagi mengharapkan “sense of wonder” dari seri Jurassic Park, apalagi dari installment yang memilih seminimal mungkin memakai variasi lagu tema gubahan John Williams. Rasa itu biarkan eksklusif jadi milik film pertamanya. Jurassic Park berevolusi menjadi film monster secara total lebih cepat ketimbang proses Dr. Henry Wu (B. D. Wong) mengkreasi ulang DNA dinosaurus. Tapi sebagai film monster, apabila mengikuti jalur tradisional, Jurassic World dan sekuel-sekuelnya cuma punya sedikit opsi guna melanjutkan kisah. Itu pun kental repetisi: taman dibangun-dihancurkan dinosaurus-taman ditutup-mengunjungi taman lagi-kembali ke awal. Fallen Kingdom dibuat untuk membuka pintu alternatif, walau akhirnya cuma berakhir sebatas “jembatan pendek” yang dipaksa berjalan selama 2 jam lebih.

Aspek penting hanya terletak di paruh awal, saat alurnya dibuat menyerupai film bencana, kemudian pada konklusi. Babak pertengahan bermain-main di pesan lama yang kita sudah hafal betul, mengenai keserakahan manusia dan bagaimana tindakan “bermain Tuhan” menghasilkan hukuman setimpal, supaya mereka belajar agar tidak mencampuri proses alam. Terlampau familiar, walau salah satu elemen cukup mampu memancing dilema. Dinosaurus terancam punah (lagi) akibat letusan gunung berapi di Isla Nublar tempat ekosistem mereka berkembang secara natural. Haruskah manusia turun tangan menyelamatkan dinosaurus? Haruskah manusia kembali mengganggu seleksi alam? Apalagi menyelamatkan dinosaurus berarti mengancam keberlangsungan hidup umat manusia sendiri.

Dr. Ian Malcolm (Jeff Goldblum dalam peran sebatas cameo) berargumen bahwa itu cara Tuhan mengembalikan stabilitas ekosistem, dan manusia tak perlu ikut campur. Artinya, membiarkan dinosaurus (yang mereka hidupkan lagi) punah. Claire (Bryce Dallas Howard) yang kini seorang aktivis hak dinosaurus berpikiran sebaliknya. Fallen Kingdom mengambil langkah tepat saat enggan memberi jawaban konklusif atas isu tersebut, karena memang tidak ada. Tapi Claire, yang diam-diam merasa bersalah telah berkontribusi menciptakan Indominus Rex, kukuh pada prinsipnya. Harapannya terjawab kala Sir Benjamin Lockwood (James Cromwell), mantan partner John Hammond (Richard Attenborough), memintanya memimpin misi penyelamatan, memindahkan beberapa spesies dinosaurus ke pulau kosong lain.

Bisa ditebak, misi itu membuatnya bereuni dengan Owen (Chris Pratt), yang antara film ini dan Jurassic World (2015) rupanya telah memutuskan hubungan asmaranya dengan Claire. Kenapa Owen mesti ikut? Pertama, karena Blue si Velociraptor terakhir yang dahulu ia latih termasuk salah satu prioritas misi penyelamatan. Kedua, karena Pratt adalah action hero semua kalangan yang bisa diandalkan. Dia mampu melompat di antara gigi-gigi tajam Tyrannousaurus maupun lari dari letusan gunung berapi selincah Indiana Jones. Pun sebagaimana kita tahu, kemampuannya menangani komedi jadi jualan utama, termasuk komedi fisik, seperti ia perlihatkan dalam adegan ketika Owen, yang badannya tengah lumpuh akibat bius, mesti menghindari aliran lava.

Tapi apa guna jagoan tangguh tanpa musuh seimbang? Kini ada Indoraptor, dinosaurus hibrida perpaduan DNA antara, well, INDOminus dan VelociRAPTOR. Sanggup mendeteksi pancaran laser, menipu manusia, merusak pintu lift, membuka jendela, dan lain-lain, Indoraptor adalah dinosaurus cerdas yang didesain sebagai senjata perang dan berpotensi menjadi musuh menarik walau dari perspektif desain, sosoknya mudah dilupakan pula tanpa kekhasan. Tugas menangani teror sang monster kini diemban J. A. Bayona (The Impossible, A Monster Calls), yang kembali membuktikan bahwa ia punya insting visual mumpuni yang membuat para dinosaurus tampak megah layaknya raja yang berkuasa di puncak rantai makanan. Pun beberapa jump scares tampil lumayan efektif. Sayang, Fallen Kingdom tak memiliki cukup momen “Dino Madness”. Letusan gunung sampai pertarungan Blue melawan Indoraptor tampil menghibur, tapi film ini kekurangan satu kegilaan besar sebagaimana Jurassic World berikan lewat threesome Tyrannosaurus-Blue-Indominus Rex.

Ditulis oleh Colin Trevorrorw (Jurassic World) dan Derek Connolly (Jurassic World, Kong: Skull Island), naskahnya mengandung dua pilihan narasi berani, yang baru mengisi menjelang konklusi, meninggalkan mayoritas durasi dalam balutan cerita setipis kertas. Keduanya mengejutkan, secara ekstrim mengubah jalur yang dibangun Jurassic Park, namun sejatinya merupakan progres natural. Fallen Kingdom “menipu” penonton agar berpikir film ini sebatas mengulangi The Lost World (1997) lalu berakhir layaknya kebanyakan film monster. Tidak sepenuhnya keliru. Beberapa plot poin memang serupa dengan sekuel mengecewakan itu. Bedanya, Fallen Kingdom menghasilkan posibilitas menarik bagi masa depan franchise-nya sembari membawa kita mengintip “lingkaran kehidupan”, di mana suatu hari, tatkala manusia kurang berhati-hati, termakan ketamakan lalu terkena dampak aksinya sendiri, peradaban bakal runtuh dan kembali ke zaman pra-sejarah.


Note: Ada post-credits scene, tapi kecuali anda punya waktu luang, melewatkannya takkan jadi masalah.  

VEERE DI WEDDING (2018)

Tentu deretan pertanyaan berikut terdengar familiar: Kapan punya pacar? Kapan nikah? Susah cari pasangan? Nikah sama si A mau? Atau sama si B? Pengen deh gendong cucu. Kapan punya anak? Kok anaknya baru satu? Kapan punya momongan lagi?  Mengesalkan, tapi bagi perempuan, seluruh pertanyaan (baca: tuntutan halus) di atas memberi beban sosial lebih besar. Karena sayangnya, di kultur kita, wanita bagai diberi “tanggal kedaluwarsa”, dan diberi panggilan tak menyenangkan yakni “perawan tua” kala tidak kunjung melangsungkan pernikahan. Veere Di Wedding dibuat berdasarkan semangat “girls just wanna have fun”, sehingga meski isu-isu tadi tetap dibahas, tujuan film ini cuma satu: bersenang-senang tanpa kungkungan.

Para wanita tokoh utamanya minum-minum sampai mabuk, menari di kelab malam Thailand bersama para stripper, menghisap mariyuana, dan tentu, mengucapkan kata-kata kasar semaunya. Naskah buatan Nidhi Mehra dan Mehul Suri memang enggan menjauh dari formula chick flick bertema pernikahan macam Bridesmaids (2011) atau Bachelorette (2012). Pun resolusi atas romansa maupun konflik keluarganya mudah diduga. Tapi siapa peduli? Sebab dalam dunia di mana hidup karakternya diisi kesedihan tidak terduga, kebahagiaan yang mudah diduga layak disambut hangat. Karena sekali lagi, Veere Di Wedding bukan mengenai kompleksitas atau kritik pedas, melainkan bersenang-senang, menari di atas kekangan.

Empat protagonisnya adalah sahabat karib sejak masa sekolah, dan masih menjalin kedekatan meski 10 tahun telah berselang, dan salah satu dari mereka, Kalindi (Kareena Kapoor) menetap di Australia. Kalindi menerima pinangan kekasihnya, Rishabh (Sumeet Vyas), walau trauma akan kegagalan pernikahan orang tuanya masih membayangi. Tapi bahkan sebelum mahligai rumah tangga resmi dijalani, Kalinda sudah dibuat pusing oleh tetek bengek pesta perkawinan sebagaimana diminta oleh keluarga Rishabh. Saya sendiri kerap terlibat perdebatan serupa dengan orang tua, yang selalu diakhiri oleh pernyataan “sebenarnya siapa yang mau menikah?!”. Beruntung bagi Kalindi, ketiga sahabatnya setia menemani meski sama-sama menyimpan problematika pribadi.

Avni (Sonam Kapoor) adalah pengacara perceraian yang tiap hari selalu didorong untuk segera menikah oleh ibunya. Sebagai wanita mandiri, ketika salah satu calon dari sang ibu berkata bahwa Avni tak perlu lagi bekerja karena aspek finansial sudah ditanggung pihak pria, sudah pasti dia menolak. Sementara Sakshi (Swara Bhaskar), dikarenakan perilakunya yang berlawanan dengan persepsi kesopanan umum (berpakaian terbuka, merokok, pemabuk), begitu pernikahannya goyah, langsung diterpa gosip buruk. Karena di budaya “ketimuran” ini, jika pasangan suami-istri terdiri dari pria mapan berpakaian necis dan wanita yang bersikap semaunya, kita tahu siapa yang disalahkan bila timbul masalah. Terakhir ada Meera (Shikha Talsania), yang mendapati tubuhnya mengembang pasca melahirkan lalu kerepotan merawat anak. Suaminya yang berasal dari Amerika tampak santai, lantaran seperti Meera ucapkan, ia tidak terlibat dalam kerepotan sehari-hari mengurus si buah hati.

Naskah Veere Di Wedding sejatinya berantakan, melompat liar dari satu kegilaan menuju kegilaan berikutnya, di mana di tiap destinasi, protagonisnya selalu mengenakan baju-baju berbeda, yang bakal membuat banyak penonton wanita iri, sedangkan penonton pria terdiam mengagumi kecantikan mereka. Sekali lagi, ini soal “girls just wanna have fun”. Bagaimana bisa bersenang-senang tanpa terlihat cantik dalam balutan baju bagus, bukan? Masalahnya, film ini menyimpan begitu banyak konflik (keempat tokoh punya urusan masing-masing) dan titik balik, yang oleh sutradara Shashanka Ghosh (Quick Gun Murugun, Khoobsurat) coba diatasi melalui tempo cepat, penyuntingan kilat, plus penyampaian dialog bak senapan mesin. Ya, durasi berhasil dipadatkan sampai 125 menit, tapi dampaknya, kalimat-kalimat sulit diikuti, penyampaian fakta berpotensi terlewat, daya bunuh komedi atau sentilan-sentilan tajam pun menurun.

Kemampuan Veere Di Wedding memancing tawa bukan berasal dari naskah yang memang kurang menggigit, melainkan penampilan jajaran pemain. Kita takkan mengingat apa humornya, tapi bagaimana para cast menyampaikannya. Shikha Talsania bisa diandalkan guna melontarkan lelucon, sedangkan Kareena solid memerankan wanita kebingungan yang likeable, dan itu cukup membuat kita mendukungnya mendapatkan hal terbaik. Namun ini jadi film “kepunyaan” Swara Bhaskar dan Sonam Kapoor. Swara tampil lucu nan liar, menggilas segala tatanan norma yang niscaya akan membuat para konservatif meradang. Sonam Kapoor bagaikan Dewi yang seperti diciptakan Tuhan sambil tersenyum. Sesosok dewi modern yang bukan cuma mengandalkan paras ayu luar biasa, juga kekokohan, kepintaran, serta kemampuan memberkati film lewat tarian-tariannya.

BHAVESH JOSHI SUPERHERO (2018)

Pada dasarnya Bhavesh Joshi Superhero merupakan origin story, sebagaimana telah berulang kali kita saksikan dalam film bertema pahlawan super. Bedanya, menyentil isu sosial lebih dikedepankan ketimbang mengulik ruang personal si calon pahlawan. Bayangkan film Batman, tapi pendalaman karakter Bruce Wayne kalah dominan dibanding paparan korupnya Gotham. Saya menyebut “Batman” karena Bhavesh Joshi mengusung pendekatan “realistis”, serupa Batman Begins (2005). Di sebuah sekuen menarik—yang mestinya lebih sering ditampilkan—protagonisnya merangkai sendiri beragam alat bermodalkan barang bekas seadanya. Pemandangan macam itu ibarat obligasi jika ingin membuat film pahlawan super bernuansa realistis.

Pun serupa babak pembuka trilogi The Dark Knight, plotnya melibatkan rencana jahat untuk menguasai saluran air. Sementara melihat tongkat sebagai senjata si jagoan plus pengembangan poin alur di paruh akhir, inspirasi lain besar kemungkinan datang dari serial Daredevil. Dua judul itu memiliki satu kesamaan: kelam dan berusaha membumi. Di saat bersamaan, kisah vigilante bertopeng yang nekat terjun ke jalan tanpa kemampuan bela diri apalagi kekuatan super jelas mengingatkan pada Kick-Ass (2010), yang meski brutal, punya unsur komedi kental. Pendekatan mana yang lebih tepat? Pertanyaan yang sepertinya juga kesulitan dijawab oleh empunya film.

Mari simak cara filmnya dibuka. Tiga sahabat, Bhavesh Joshi (Priyanshu Painyuli), Siku (Harshvardhan Kapoor), dan Rana (Nishikant Kamat) tengah berkumpul membahas kejengahan atas pemerintahan korup serta kecintaan Rana terhadap pahlawan super sejak kecil. Rana juga yang membuka narasi. Padahal, dibanding Bhavesh maupun Siku, perannya teramat kecil. Sebelum konklusi, pratis dia cuma spekator dalam aksi Bhavesh-Siku membentuk duo pembasmi kejahatan bernama “Insaaf” yang memberantas ketidakdilan di lingkungan, dari penebang liar pohon kota sampai penyedia layanan internet busuk. Poin ini jadi salah satu wujud kebingungan pembuatnya, entah terkait pengembangan narasi atau nuansa film.

Sutradara Vikramaditya Motwane (Udaan, Trapped) memang kurang jeli membungkus timing humor, tapi paruh awalnya jelas penuh kekonyolan yang cocok mewakili ceritanya. Betapa tidak? Duo Insaaf bak pahlawan kesiangan yang memakai topeng dari tas kertas serta menyebarkan aksi mereka melalui video meriah (kalau bukan norak) di internet. Mereka menghentikan penerobos jalur satu arah hanya untuk dipukuli. Hingga aksi mereka mulai menyentuh para pemegang kekuasaan sehingga ancaman bertambah serius, demikian pula filmnya. Tapi perlu diingat, Kick-Ass juga menampilkan ancaman mematikan, tapi urung menanggalkan guyonan. Bukti kalau konflik serius tak wajib dibawakan serius pula. Sesuatu yang mestinya jadi keahlian sineas India kini. Setidaknya, jadilah konsisten. Di paruh kedua, kala rasa kelam telah mengambil alih, filmnya masih sempat menampilkan  sikap taat aturan si jagoan yang berhenti saat lampu merah meskipun musuh-musuhnya tengah mengejar.

Sedangkan paruh pertamanya coba menggali motivasi, alasan di balik keputusan tokoh utamanya mengenakan kostum pahlawan super. Tujuan ini akhirnya gagal terpenuhi akibat kurangnya keintiman dalam naskah buatan Vikramaditya Motwane, Anurag Kashyap, dan Abhay Koranne. Fokusnya bukan mengenai “hati” di antara relasi karakter, melainkan pembahasan isu sosial. Sejatinya pilihan ini turut memberikan nilai positif. Pemikiran saya sempat terprovokasi terkait perdebatan: Apakah aksi Insaaf memberi dampak? Apakah bersikap selurus mungkin bakal mengubah dunia? Perdebatan yang sayangnya berujung inkonklusif, sebab Bhavesh Joshi Superhero terbentur obligasi untuk banting setir mempresentasikan film pahlawan super, karena terlanjur menjual filmnya demikian.

Penonton yang berharap disuguhi baku hantam ala blockbuster mungkin akan kebingungan tatkala mencapai lebih dari satu jam dari total durasi 153 menit, filmnya tak kunjung menghidangkan laga. Begitu yang dijanjikan tiba, saya justru mendapati potensi yang gagal termaksimalkan. Beberapa perpindahan adegan kasar nan canggung, teknik pengambilan gambarnya urung menangkap baku hantam brutal berisi pukulan-pukulan peremuk tulang, koreografi yang walau tak buruk jelas tidak seberapa dinamis, semua itu adalah setumpuk kekurangan yang menghalangi Bhavesh Joshi mencapai puncak potensi. Padahal dengan tubuh kekar, jenggot lebat, juga wajah tampan dan tegas yang mengingatkan akan John Krasinski, Harshvardhan Kapoor punya kapasitas memerankan vigilante tangguh. Sudahkah saya menyebut ending-nya bagai cerminan  ketergesa-gesaan pembuatnya sewaktu menyadari jatah durasi menipis tapi masih terdapat banyak hal untuk dirangkum? Sebuah momen menampilkan karakternya menceritakan kisah mengenai Icarus. Saya justru melihat Bhavesh Joshi Superhero-lah si Icarus.