REVIEW - THE WHITE TIGER

Sewaktu kecil, Balram (Adarsh Gourav) diibaratkan sebagai harimau putih. Karena sebagai bocah miskin dari daerah kumuh di Laxmangarh, Balram yang pandai membaca juga berbahasa Inggris, adalah "makhluk langka". Selang beberapa tahun, seperti apakah nasib Balram dewasa? Rupanya sama seperti kebanyakan orang miskin dari kasta rendah, ia menjadi pelayan yang setia menjalankan perintah majikan, kemudian tersenyum bahagia setiap merampungkan sebuah tugas, layaknya anjing yang mengibaskan ekor sembari menjulurkan lidah ketika empunya berkata, "good boy".

Mengadaptasi novel berjudul sama karya Aravind Adiga, The White Tiger menyentil perihal privilege. Bagaimana si kaya punya opsi untuk gagal sementara si miskin wajib berhasil di segala kesempatan. Bagaimana tidak peduli sepintar apa pun, mimpi-mimpi bakal terus terbentur jurang kemiskinan. Menariknya, film dibuka dengan memperlihatkan Barlam yang telah sukses sebagai pebisnis. Pertanyaan "Jalan apa yang Barlam tempuh hingga bisa keluar dari jurang kesengsaraan?", membuat alur non-linear miliknya, mampu secara efektif menjaga atensi penonton. Tidak mudah menebak, sebuah peristiwa akan membawa kisahnya bergerak ke mana.

Kesempatan pertama Balram datang, sewaktu ia diterima menjadi sopir Ashok (Rajkummar Rao), putera bungsu "The Stork" (Mahesh Manjrekar) sang tuan tanah di Laxmangarh. Berbeda dengan ayahnya yang bertindak semena-mena, memeras rakyat kecil melalui pajak, serta rutin membayar para politisi demi melancarkan bisnis, Ashok adalah pria jujur nan murah hati. Konon, semua berkat pengaruh ideologi yang didapatkan saat ia tinggal di Amerika Serikat. Di sanalah Ashok bertemu istrinya, Pinky (Priyanka Chopra Jonas). 

Ashok dan Pinky bersikeras agar Balram tak memperlakukan mereka sebagai majikan berkasta lebih tinggi, walau jurang perbedaan tersebut sesungguhnya begitu menganga, baik yang ditampilkan oleh penampilan, pola pikir, juga gerak-gerik. Rao dengan setelan jas tampak berkharisma. Sewaktu ia merokok di kursi penumpang, figurnya memperlihatkan sosok si kaya yang bisa menikmati setiap detik kehidupannya. Sebaliknya, Gourav pun meyakinkan sebagai pelayan yang gemar mengumbar senyum, dan menyetujui seluruh perkataan sang majikan. Entah karena dia tidak tahu apa-apa, atau selaku usaha "menjilat".

Awalnya The White Tiger terkesan hangat, namun ini bukan kisah heartful mengenai persahabatan dua individu beda kelas. Naskah buatan sutradara Ramin Bahrani (At Any Price, 99 Homes) segera menelanjangi realita. Realita bahwa para pemegang kekuatan (dan kekayaan) punya kecenderungan memalsukan kebaikan hati. Ada yang memasang topeng guna menarik hati rakyat jelata, misalnya saat kita mendapati jika politkus idola kaum akar rumput yang dijuluki The Great Socialist (Swaroop Sampat), nyatanya tidak kalah kotor dalam bermain.

Tapi ada pula golongan borjuis dengan standar ganda. Majikan Balram masuk kategori ini, pasca terjadinya suatu insiden, yang membuktikan bahwa ujung-ujungnya, si miskin bakal jadi tumbal si kaya. Golongan kedua ini tak kalah berbahaya. Walau seolah bersikap baik, begitu terancam, mereka tidak segan menampakkan wajah asli. 

Apakah sepenuhnya salah si kaya? Di mayoritas kesempatan, ya, tetapi The White Tiger bersikap adil. Rakyat kelas bawah juga bisa jadi sumber masalah, sebagaimana terlihat sewaktu nenek Balram (Kamlesh Gill) bukan saja memaksa cucunya menikah, pula mengambil hampir semua gaji bulanannya. Egoisme, keserakahan, tendensi mengatur hidup orang lain. Nyatanya sifat alami tersebut ada dalam diri setiap manusia, tidak peduli seberapa tebal kantongnya. 

Babak akhir filmnya agak bermasalah, berlangsung terburu-buru, bagai epilog singkat yang dipaksa merangkum konklusi bagi suatu perjalanan panjang. Tapi kelemahan di penghujung durasi itu tidak sampai merusak The White Tiger, yang berkat penceritaan dinamis Ramin Bahrani, tak sedikitpun menyisakan ruang bagi rasa bosan. 


Available on NETFLIX

REVIEW - AFFLICTION

Tidak semua sineas, bahkan yang punya segudang pengalaman serta bergelimang penghargaan, mampu melahirkan horor berkualitas. Harus ada kecintaan besar (atau malah obsesi), yang menuntun pada pemahaman mendalam mengenai genre tersebut. Selepas trilogy of intimacy yang jadi puncak pencapaiannya sejauh ini, juga Menunggu Pagi (2018) yang underrated, Teddy Soeriaatmadja, bersama sang istri, Raihaanun, melakoni debut horor mereka melalui Affliction, masing-masing sebagai sutradara/penulis naskah dan aktris. Debut yang sayangnya membuktikan kebenaran kalimat pembuka tulisan ini.

Raihaanun memerankan Nina, istri dari Hasan (Ibnu Jamil), seorang psikolog anak yang karirnya tengah meroket. Di awal film, kita menyaksikan Hasan sedang melatih presentasinya di depan cermin. "Jika anak tidak mendapat rasa kasih sayang orang tua dan mendapatkan perlindungan secara positif, maka dapat menimbulkan hal yang membahayakan bagi anak-anak di sekolah dan orang-orang di sekelilingnya", begitu petikan kalimat dari presentasi Hasan. 

Ironisnya, akibat sibuk bekerja, Hasan justru jarang meluangkan waktu bagi kedua anaknya, Tasya (Tasya Putri) dan Ryan (Abiyyu Barakbah). Pun hubungan Hasan dengan sang bunda (Tutie Kirana) tidak berjalan baik. Bertahun-tahun ia tidak pulang, walau mengetahui bundanya mengidap alzheimer. Hingga datanglah Narsih (Dea Panendra) yang mengaku sebagai pengasuh Bunda, meminta Hasan secepatnya pulang karena kondisi Bunda makin memburuk. 

Disokong penampilan mencekam Tutie Kirana, kita akan melihat kalau ada yang tidak beres dalam diri Bunda. Dia kerap berbicara dengan sosok tak terlihat, kepribadiannya bak dapat berubah sewaktu-waktu, dan puncaknya, menyakiti diri sendiri. Apakah itu gejala alzheimer biasa sebagaimana pernyataan Hasan, atau memang ada gangguan kekuatan lain? Tutie Kirana mampu dalam sekejap "mengubah wajah". Di satu kesempatan ia adalah ibu hangat nan murah senyum, lalu sedetik kemudian menjadi sosok penuh paranoid.

Walau tak diberi banyak kesempatan pamer kemampuan, debut horor Raihaanun pun berjalan baik, khsusunya melalui totalitas kala teror mulai menyerbu Nina sekeluarga. Begitu pula Ibnu Jamil. Biarpun di paruh kedua Hasan lebih banyak absen dari narasi, ia sanggup membuktikan kapasitasnya dengan tidak terjebak keklisean overacting pasca kemunculan sebuah twist. 

Departemen akting memang paling berjasa menjaga daya tarik filmnya. Para pencari horor arus utama mungkin bakal kecewa mendapati pendekatan Affliction lebih kental unsur drama. Tentu bukan masalah selama terdapat elemen yang memunculkan rasa takut, entah dari atmosfer maupun dinamika psikologis. Affliction tidak memiliki semua itu. Kandungan misterinya bukan saja klise, pula tanpa dibangun secara layak sehingga gagal memancing rasa penasaran. 

Gagasan besar ceritanya pun kurang jelas. Dinamika macam apa yang coba dibangun? Soal "kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang jalan", atau kritik perihal pola asuh? Jangan juga buat saya membahas bagaimana naskahnya menangani twist mengenai "ari kiba", kata-kata misterius yang kerap diucapkan Bunda. Alih-alih mengejutkan, jawaban yang ditawarkan justru terasa dipaksakan, konyol, dan terkesan mencurangi penonton. 

Penyutradaraan Teddy tidak kalah lemah, dalam menangani beberapa teror yang kuantitasnya minim. Melihat pilihan shot, timing, juga mise-en-scène, tampak betul ia belum siap menangani horor. Apalagi trik-trik murahan seperti pemakaian efek suara berisik hingga false alarm masih dipakai, yang mana tidak sesuai dengan pendekatan filmnya yang berusaha tampil lebih "elegan". Beruntung, pacing penceritaan Teddy tatkala teror absen dari layar, masih nyaman diikuti. Penuh kesaraban, tanpa harus berlarut-larut. Sekali lagi membuktikan, bahwa Teddy Soeriaatmadja merupakan sutradara drama yang baik, namun horor adalah makhluk yang berbeda.


Available on NETFLIX

REVIEW - HAPPY OLD YEAR

Sebuah kantor bernuansa minimalis terlihat. Warna putih mendominasi, dan cuma berisi segelintir perabotan. Sang pemilik, Jean (Chutimon Chuengcharoensukying), menjelaskan bahwa kantor itu dahulu merupakan rumahnya. "Sama seperti filosofi Budha, desain minimalis adalah soal merelakan", ucapnya. Kemudian Happy Old Year, yang merupakan perwakilan Thailand di ajang Academy Awards 2021, memakai 113 menit durasinya guna memperlihatkan perjalanan Jean sebelum melakukan renovasi, menjabarkan perbedaan antara "letting go" dan "throwing away".

Obsesi Jean terhadap minimalisme terinspirasi dari pengalamannya selama tiga tahun di Swedia. Pula bukan kejutan saat Marie Kondo adalah salah satu panutan protagonis kita. Rencananya, Jean akan merombak lantai bawah rumah, membuang semua barang, sementara sang adik, Jay (Thirawat Ngosawang), bersama ibu mereka (Apasiri Chantrasmi) tinggal di lantai atas. Walau niatan tersebut ditentang ibunya (khususnya sewaktu Jean ingin membuat piano milik ayahnya), Jean tidak gentar. Semua dibuang begitu saja, tanpa peduli apakah suatu benda menyimpan kenangan. Apa perlunya memiliki buku kalau sudah ada e-book? Kenapa mendengarkan musik lewat CD jika layanan musik digital mudah diakses? Demikian prinsip Jean.

Naskah buatan sutradara Nawapol Thamrongrattanarit (Heart Attack) membagi kisah dalam enam babak, yang masing-masing dibuka dengan title card bertuliskan beberapa tajuk seperti "Don't Reminiscing the Past" atau "Don't Feel Too Much". Tentu elemen ini sebatas pernak-pernik yang takkan mempengaruhi kualitas penceritaan. Disertai tempo lampat, ditambah lagi first act yang berlangsung agak terlalu lama, butuh waktu bagi Happy Old Year untuk benar-benar mencengkeram, sebagaimana Jean, yang butuh waktu hingga menyadari kalau ia tidak saja membuang barang bekas, juga orang-orang di sekitarnya. 

Kesadaran itu mengubah pola pikir Jean, yang menuntunnya bertemu lagi dengan Aim (Sunny Suwanmethanont), sang mantan kekasih yang ia tinggalkan tanpa kabar selepas kepergian menuju Swedia. Reuni keduanya adalah titik balik dinamika emosi film ini. Chutimon (yang popularitasnya melambung pasca kesuksesan Bad Genius) menuangkan perasaan bersalah karakternya secara emosional, sementara Sunny melengkapi momen yang bakal mengaduk-aduk perasaan penonton itu dengan senyuman hangat. 

Jean pun sadar, banyak hal yang ia sukai hingga sekarang, berasal dari Aim. Dari situlah Happy Old Year menuturkan pesan soal kenangan, yang tersaji emosional berkat sensitivitas Nawapol. Serupa prinsip minalis tokoh utamanya, sang sutradara tidak memerlukan banyak sentuhan besar. Musik cuma terdengar kala diperlukan, dan acap kali keintiman justru diperkuat oleh keheningan, atau suara "natural", seperti saat semilir angin yang menembus dedaunan pohon mengiringi reuni Jean dan Aim. 

Sebagai sutradara sekaligus penulis, Nawapol jeli memilih gambar apa yang mesti ditangkap kamera, juga kalimat yang paling tepat menggambarkan emosi yang hendak dimunculkan suatu momen. Bahkan hanya berbekal sebuah foto yang memenuhi layar, filmnya sanggup memancing rasa haru. "Seemed like ordinary photo, but it's priceless", ucap salah satu karakter. Karena begitulah memori. Kita akan beranjak meninggalkannya, melanjutkan hidup (move on) di tempat lain, bersama orang-orang berbeda, namun jejaknya takkan hilang, pun tidak harus berusaha kita musnahkan.

Tapi ada satu pengecualian, yang hadir apabila kenangan itu terus menyakiti, bahkan menghancurkan pemiliknya. Persoalan itu diwakili oleh subplot mengenai keluarga Jean, yang sayangnya tidak digali secara mumpuni, sehingga tak memberi dampak emosional sebagaimana mestinya, biarpun dalam shot penutup, Chutimon sudah mengerahkan segalanya guna mencabik-cabik hati penonton.

REVIEW - ONE NIGHT IN MIAMI

Pada 25 Februari 1964, Malcolm X, Jim Brown, Sam Cooke, dan Cassius Clay (sebelum memakai nama Muhammad Ali), berkumpul di sebuah kamar hotel guna merayakan keberhasilan Clay menyabet gelar juara dunia tinju kelas berat. Kenyataannya, beberapa orang lain turut bergabung, namun atas nama dramatisasi, One Night in Miami, yang merupakan adaptasi naskah panggung berjudul sama buatan Kemp Powers (Soul), hanya menyertakan mereka berempat. Empat legenda, empat figur larger than life, yang dalam debut penyutradaraan Regina King ini, dimanusiakan sembari tetap mempertahankan mitologi tiap-tiap sosoknya.

Pertemuan tersebut benar adanya, tapi tak ada yang tahu pasti pembicaraan apa yang terjadi. One Night in Miami mengimajinasikan, bahwa di malam tersebut, Malcolm X (Kingsley Ben-Adir) mengumpulkan ketiga kawannya, guna meyakinkan mereka agar lebih terlibat aktif dalam menegakkan hak-hak kulit hitam. Inilah titik di mana Malcolm mulai meragukan kepemimpinan Nation of Islam, sehingga berniat hengkang, lalu mendirikan organisasi baru. Alhasil, dukungan dari nama besar lain pun ia butuhkan.

Cassius Clay (Eli Goree) jelas sosok sempurna untuk itu. Clay sendiri sudah mantap memeluk Islam, bahkan sebelum pertandingan, ia sempat menjalankan salat bersama Malcolm, sebagai cara menenangkan diri. Itu pula alasan Malcolm mengundang Jim Brown (Aldis Hodge) yang dikenal sebagai salah satu atlet NFL terbaik sepanjang masa, dan Sam "King of Soul" Cooke (Leslie Odom Jr.) yang karya-karyanya merajai tangga lagu. Mengira bakal menghadiri pesta perayaan, tentu mereka terkejut kala mengetahui intensi Malcolm, sehingga perdebatan demi perdebatan pun pecah.

One Night in Miami baru benar-benar menemukan pijakan begitu keempat sahabat ini terlibat obrolan di atap gedung. Malcolm yang awalnya tampak bak pria nerdy yang mengkhawatirkan ketiga teman "liarnya" bakal merusak kamera baru miliknya, mulai lebih agresif. Khususnya kepada Cooke, yang menurut Malcolm, punya platform terkuat guna menyuarakan perjuangan kulit hitam, tapi malah memilih bermain aman untuk memuaskan selera pendengar kulit putih. Sebelum momen ini, filmnya tampak kesulitan menentukan fokus, karena belum ada jalur yang mengatur arah pembicaraan.

Setelahnya, intensitas tidak pernah mengendur. Keempat protagonis saling melempar perspektif terkait banyak hal terkait "kepercayaan". Baik kepercayaan bersifat spiritual, maupun kepercayaan atas peran masing-masing dalam perjuangan melawan rasisme, yang otomatis menyenggol kepercayaan soal "purpose", yang juga merupakan pokok bahasan Powers dalam Soul. Hanya saja, konteks "purpose" di film ini lebih spesifik.

Naskah Powers memanusiakan keempat karakternya, tak mengultuskan mereka, dengan melontarkan pernyataan bernada kritik yang mungkin tak pernah publik berani lontarkan secara gamblang. Apakah Clay memeluk Islam dari hati? Apakah Cooke "melacurkan" diri pada kulit putih? Tapi keputusan paling berani adalah kala menyentil pandangan ekstrim Malcolm. Sentilan-sentilan itu disertai upaya memahami alasan di balik tiap perspektif dan pilihan. Malcolm hanyalah manusia biasa yang digelayuti ketakutan, sebaliknya, Cooke tidak se-ignorance itu. "If the goal is for us to be free, to be REALLY free, then the key is economic freedom", ucap Brown mengomentari "serangan" Malcolm terhadap Cooke. Keempatnya tidak ada yang sempurna, namun tidak pula keliru. 

Penyutradaraan King penuh tenaga yang memberi letupan dalam perdebatan, sekaligus sensitivitas untuk membungkus momen yang lebih intim. Keempat aktornya memancarkan energi yang sama. Goree memiliki arogansi Clay, juga "tarian" khasnya di atas ring; Ben-Adir memahami kompleksitas seorang Malcolm X (jika anda merasa ia cocok memerankan Barrack Obama, ya, Ben-Adir pernah menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat it di miniseri The Comey Rule); Odom Jr. menghidupkan pesona Sam Cooke di atas panggung (bukan kejutan, sebab ia merupakan aktor Broadway, termasuk saat memerankan Aaron Burr di Hamilton versi panggung dan film); Hodge, dengan karisma serta suara beratnya, sempurna sebagai figur "jangkar", voice of reason, penyeimbang di tengah malam yang luar biasa.


Available on PRIME VIDEO

REVIEW - PROMISING YOUNG WOMAN

Di sebuah kelab malam, tampak seorang wanita cantik tengah mabuk berat. Cassie (Carey Mulligan) namanya. Jangankan berjalan pulang, membuka mata saja ia sudah kesulitan. Di seberang ruangan, beberapa pria memperhatikannya sambil memasang tatapan penuh nafsu. Salah satu dari mereka "memberanikan diri" untuk menawarkan tumpangan. Di tengah jalan, pria itu mengajak mampir sejenak ke apartemennya, untuk minum sebotol bir. Tentu kita tahu, ia punya niat lebih dari itu. 

Benar saja, sesampainya di apartemen, baru sekali meneguk minuman, tubuh Cassie sudah digerayangi, sebelum dipaksa berhubungan seks di kamar. Satu yang pria itu (dan penonton) tidak tahu, Cassie sepenuhnya sadar. Rupanya Cassie rutin mengunjungi kelab, pura-pura mabuk sebagai cara memancing para predator seksual beraksi, guna menghukum mereka. Ya, baru beberapa menit bergulir, Promising Young Woman sudah melempar kejutan. Satu dari deretan kejutan (beberapa memperkuat penceritaan, beberapa melemahkan) dalam debut penyutradaraan Emerald Fennell ini, yang meningkatkan level unapologetic dari subgenre rape and revenge.

Seperti judulnya, dahulu Cassie adalah wanita muda dengan masa depan cerah, sebagai siswi sekolah kedokteran berprestasi. Hingga ia memutuskan keluar, setelah sahabatnya, Nina, diperkosa oleh salah seorang siswa, sementara pihak sekolah hanya berdiam diri. Tidak lama berselang, Nina bunuh diri. Sekarang Cassie yang masih tinggal di rumah orang tuanya, sembari melakukan pekerjaan bergaji kecil di suatu cafe pada siang hari. Sedangkan malamnya, ia berburu.

Rutinitas Casie itu tak membuat alurnya monoton, sebab naskah yang ditulis sendiri oleh Fennell memberi banyak varian. Biasanya, film rape and revenge berjalan bak slasher yang sebatas diisi pembunuhan demi pembunuhan, di mana variasinya cuma seputar metode si pelaku menghabisi nyawa korban. Promising Young Woman mengambil langkah berlawanan. Tidak sekalipun kita menyaksikan Cassie menghabisi para predator. Pun apakah ia membunuh atau sekadar melukai, tak dijelaskan secara gamblang. 

Varian yang diberikan Fennell terletak pada tipe dosa para korban (atau dalam konteks film ini, lebih pantas disebut "pelaku") serta model pembalasan yang dipilih Cassie. Ya, hukumannya berbeda untuk tiap kasus. Bahkan ia sempat melepaskan pria bernama Neil (Cristopher Mintz-Plasse), yang menurutnya bersikap "lebih baik" karena tidak coba memperkosa Cassie yang tengah (pura-pura) kehilangan kesadaran. Variasinya bertambah, begitu Cassie mendapatkan akses menuju para pendosa yang menghancurkan hidup Nina.

Masing-masing orang melakukan kesalahan berbeda, yang mewakili jenis-jenis pelaku pelecehan seksual. Selain si pemerkosa, ada juga para enabler, baik mereka yang menyaksikan langsung peristiwanya namun membiarkannya, hingga pihak pemegang kekuatan yang menolak memercayai korban dengan alasan praduga tak bersalah. Promising Young Woman mengambil sikap tegas tanpa ampun, menyatakan bahwa seluruh pelaku patut dihukum. Pengecualian mungkin bisa diberikan kepada enabler yang TULUS menyesali kejahatan. Kata "tulus" harus ditekankan, sebab nyatanya, acap kali penyesalan hanya ada di mulut belaka.

Di tengah aksi balas dendamnya, Cassie bertemu Ryan (Bo Burnham), temannya di sekolah kedokteran dulu. Walau awalnya skeptis, kebaikan Ryan yang tak pernah memaksakan aktivitas seksual, perlahan mencuri hati Cassie. Elemen romansa ini turut memperluas jangkauan akting yang mesti Mulligan berikan. Dia bermain luar biasa. Intimidatif nan tidak kenal ampun kala beraksi namun tidak jarang pula tampak rapuh. Sewaktu akhirnya membuka pintu hati, Mulligan membuat saya percaya, bahwa sejatinya Cassie masih menyimpan harapan menemukan kebahagiaan.

(SPOILER ALERT) Sayangnya harapan tersebut dihancurkan sendiri oleh filmnya, melalui twist yang memaksakan pesan bahwa "semua pria sama saja dan tidak bisa dipercaya", sekaligus menggiring kisahnya makin dekat ke ranah tragedi. Sejatinya twist ini tidak perlu. Tanpanya, Promising Young Woman telah membuktikan poin tentang kebusukan para pria. (SPOILER ENDS) Tugas menciptakan kesan tragis pun sudah diemban konklusinya (lewat satu lagi twist), ketika Fennell mengambil langkah yang makin membedakan karyanya dari pola film bertema balas dendam, sembari menciptakan keseimbangan memuaskan antara dua pokok bahasan, yakni "dampak balas dendam" dan "semua predator mesti menerima ganjaran setimpal".

Penceritaannya memang tersandung, tapi daya hiburnya tak berkurang. Visualnya kaya warna, pilihan lagu-lagunya unik (Stars Are Blind, Toxic versi orkestra bernuansa thriller), dan visi sang sutradara mampu melahirkan tontonan bergaya yang tak sampai mencuri fokus dari hal-hal substansial. 


Available on iTUNES

REVIEW - MONSTER HUNTER

Saya tidak pernah memainkan Monster Hunter, apalagi mengetahui alur gimnya. Seperti apa pun ceritanya, saya yakin pasti lebih kaya dibanding adaptasi filmnya, yang disutradarai sekaligus ditulis naskahnya oleh Paul W. S. Anderson. Tapi berbeda dengan seri Resident Evil yang memaksakan jalinan kisah kompleks tanpa dibarengi penulisan memadai, Monster Hunter memang sejak awal diniati menjadi tontonan yang murni menjual pertarungan melawan monster-monster raksasa. Di luar dugaan hasilnya memuaskan, mengingatkan pada awal karir sang sutradara, kala melahirkan deretan judul brainless menyenangkan.

Pasca terjebak badai petir, Kapten Artemis (Milla Jovovich) beserta pasukannya terdampar di New World, sebuah dunia berisi monster-monster buas. Satu per satu dari mereka tewas, hingga hanya menyisakan Artemis. Usaha Artemis bertahan hidup mendapat bantuan dari sesosok pemburu monster (Tony Jaa). Si pemburu tak mempunyai nama, dan kredit hanya menyebutnya sebagai "Hunter". 

Berikutnya, selama kurang lebih 103 menit, Monster Hunter praktis nihil cerita. Sungguh. Saya tidak sedang membesar-besarkan. Satu-satunya yang mendekati definisi "cerita" adalah penjelasan singkat dari Ron Perlman, bahwa Artemis bukan orang pertama yang tersesat di New World. Tapi mengenai penyebab terbukanya portal penghubung dua dunia, asal-usul pedang sakti yang mampu mengeluarkan api yang diberikan untuk Artemis, maupun detail mitologi lain, sama sekali tidak dijamah.

Tapi sekali lagi, dangkalnya alur merupakan kesengajaan, sebagai salah satu bukti bahwa Anderson memahami apa yang mayoritas target penontonnya inginkan. Mereka ingin melihat monster, monster, dan monster. Itulah yang Anderson berikan: pertarungan manusia melawan monster dengan latar siang hari, ditambah dengan pemakaian banyak wide shot, sehingga wujud para makhluk raksasa itu tampak jelas, dan tentu saja, masif. Pun meski cuma bermodalkan $60 juta, kualitas CGI-nya cukup mumpuni. Alhasil, serbuan Diablos si monster subterranean, hingga amukan naga penyembur api bernama Rathalos di klimaks, semua adalah wujud kejayaan kaiju blockbuster.

Anderson kali ini tidak asal melempar aksi. Pengadeganannya bukan sekadar "besar", pun memunculkan intensitas, tiap nyawa protagonisnya terancam, meski kita semua tahu ia bakal selamat. Selain film kaiju, Anderson juga menerapkan formula survival action-horror, khususnya di first act, tatkala Artemis, dengan tubuh penuh luka, masih belum sanggup balik melawan monster-monster yang menyerangnya. Jovovich masih bintang laga yang sangat bisa diandalkan, tampak meyakinkan kala membantai monster berukuran ratusan kali tubuhnya. Chemistry-nya dengan Jaa sayangnya gagal terjalin, di mana beberapa humor yang bertujuan menyegarkan suasana malah berakhir canggung. Bukan semata-mata kesalahan Jovovich atau Jaa. Naskahnya juga bertanggung jawab. Yah, apa pun yang berkaitan dengan naskah di film ini memang tidak pernah berakhir positif.

REVIEW - YANG TAK TERGANTIKAN

Yang Tak Tergantikan merupakan “drama rumah”, di mana hampir semua peristiwa berlatar sebuah rumah, membuat penonton hafal tiap sudutnya, sehingga rumah itu sendiri bak menjadi salah satu karakter. Biasanya meja makan kerap jadi sentral. Di situlah dinamika keluarga banyak terjadi, tempat segala masalah dan perasaan ditumpahkan (motif serupa dipakai film ini). Belakangan, gaya yang sering digunakan dalam drama klasik serta pertunjukan panggung ini sayangnya makin jarang ditemui, karena tendensi tontonan sekarang yang cenderung mengakrabi kompleksitas dan skala besar.

Keluarga yang akan kita kunjungi rumahnya adalah keluarga Aryati (Lulu Tobing), seorang ibu tunggal, yang selepas bercerai, menghidupi ketiga anaknya dengan bekerja sebagai sopir taksi daring. Membiayai sekolah anak, ditambah tagihan kontrakan yang sudah jatuh tempo, membuat perjuangan Aryati tidaklah gampang.

Ketiadaan sang ayah membuat si putera sulung, Bayu, mengambil peran "pria dalam keluarga", walau secara bersamaan ia dipusingkan oleh ancaman PHK dari kantor. Bayu adalah figur yang mengayomi, senantiasa mencoba berkepala dingin menghadapi tiap situasi. Ketimbang terjebak dalam interpretasi klise terhadap tokoh bijaksana (suara diberatkan, tempo bicara diperlambat, dan lain-lain), Dewa Dayana memilih pendekatan lebih natural yang membuat karakternya terasa nyata.

Dua adik Bayu masih duduk di bangku SMA. Ada Tika (Yasamin Jasem) yang memasuki fase remaja yang mulai memberontak dan ingin mengikuti tren, lalu Kinanti (Maisha Kanna), si bungsu yang cerdas dan penuh keingintahuan. Kedua aktris muda ini memperlihatkan chemistry solid sebagai dua saudari yang biarpun sering bertengkar, sejatinya saling menyayangi. Bukan hanya mereka, semua jajaran pemain film ini mampu menjalin ikatan kuat, berujung melahirkan interaksi-interaksi kaya. Terkadang hangat, terkadang menggelitik. 

Sebagaimana seharusnya "drama rumah", fokus penceritaan didominasi dinamika internal para anggota keluarga. Ada kalanya sebuah "drama rumah" tak sekalipun membawa penonton mengunjungi latar lain, maupun bertemu karakter di luar lingkup keluarga. Naskah buatan Herwin Novianto (juga bertindak selaku sutradara) dan Gunawan Raharja (Jingga, 22 Menit) mungkin tidak "seekstrim" itu, tapi tetap berada di jalur serupa. Buktinya, tidak sekalipun kita melihat wajah ayah. Sebab bukan rupa ayah yang penting, melainkan dampak ketiadaan sosoknya. 

Kelamahan naskah terletak pada penuturan yang episodik. Terkadang saya merasa seperti sedang menonton kumpulan film pendek atau serial yang dipaksa menyatu. Mungkin Herwin dan Gunawan berniat menyajikan keping-keping keseharian Aryati sekeluarga bak drama slice of life. Namun akibat banyaknya klimaks dan resolusi, saat klimaks dan resolusi berikutnya hadir, dampak emosinya tidak sekuat yang diharapkan. Itulah kenapa, tuturan slice of life identik dengan pendekatan low-key minim letupan.

Penyutradaraan Herwin Novianto juga tersandung soal penghantaran emosi, ketika terlalu berlebihan menggunakan musik. Sedikit saja intensitas meningkat, musik langsung terdengar. Padahal beberapa momen bisa lebih kuat jika tak diberi terlalu banyak "hiasan". Apalagi Yang Tak Tergantikan punya Lulu Tobing, aktris bertalenta yang saking jarangnya bermain film, tiap kemunculannya patut dirayakan. Monolognya soal sang mantan suami memang menyentuh, menunjukkan bagaimana ibu mengesampingkan ego demi buah hati. Tapi bagi saya, momen terbaiknya hadir saat Aryati mengonfrontasi Bayu terkait rahasia si sulung. Bagaimana Aryati alih-alih menyalahkan justru mengutarakan dukungan sebagai wujud nyata kasih ibu, dibawakan oleh Lulu dengan ketulusan luar biasa, yang menegaskan betapa ibu adalah sosok yang tak tergantikan.


Available on DISNEY+ HOTSTAR