BUKA'AN 8 (2017)

Setelah membesut tim sepak bola muda Maluku, mencari resep kopi terbaik, hingga mengantar surat cinta masa lalu ke Praha, Angga Dwimas Sasongko akhirnya "pulang", berkarya berdasarkan pengalaman pertamanya menjadi seorang ayah. "Buka'an 8" yang mempertemukan lagi sang sutradara dengan Salman Aristo selaku penulis naskah sejak "Hari Untuk Amanda" (2010) juga adalah kali pertama Angga menggarap komedi. Bagi saya, Angga termasuk filmmaker yang wajib didukung berkat kemampuannya mengemas film komersil sambil tetap memperhatikan kualitas tutur. Keseimbangan tersebut kembali diperlihatkan meski kali ini perjalanan kisah tak semulus biasanya

Mengambil mayoritas setting di rumah sakit, "Buka'an 8" bercerita mengenai Alam (Chicco Jerikho) yang tengah mengantar sang istri, Mia (Lala Karmela) mempersiapkan kelahiran anak pertama mereka. Momen semacam itu pastilah penuh kecemasan, apalagi berbagai permasalahan ikut menghadang. Mulai dari uang yang tidak cukup untuk menetap di kamar VIP, juga kedatangan orang tua Mia, Ambu (Sarah Sechan) dan Abah (Tyo Pakusadewo) yang tidak menyukai sang menantu, menganggapnya kurang dapat diandalkan karena hanya sibuk di media sosial. Perjuangan Alam selama sehari penuh demi menyambut kelahiran si buah hati pun dimulai. 

Menengok aktivitas keduanya di Twitter, Angga dan Salman jelas paham betul pergerakan generasi milenial di media sosial, lalu menuangkannya dalam karakterisasi Alam yang kerap terlibat twitwar meributkan soal kecurangan politik. Alhasil Alam terasa dekat dan bukan tidak mungkin anda bisa melihat cerminan diri anda padanya. Naskah Salman Aristo memanfaatkan fenomena masa kini saat banyak pihak melampiaskan kejengahan terhadap situasi politik (termasuk politisasi khotbah solat Jumat) secara kurang tepat akibat dikuasai amarah. Ada pula sepintas sindiran soal kemunafikan mengiringi "tanggung jawab" selaku pokok bahasan utama di mana Alam sibuk membahas isu politik namun kelabakan mengurusi kehamilan Mia. Kritikan Salman Aristo kepada segala aspek di atas lembut tetapi menusuk tepat sasaran sembari menawarkan solusi bijak. 
Sayang kepiawaian naskahnya menyodorkan isu kekinian tak dibarengi resolusi konflik memadahi. Alam dihadapkan bermacam permasalahan pelik. Biaya rumah sakit belum terbayar lunas, terlibat hutang dengan lintah darat, Ambu begitu meragukan kapasitasnya sebagai suami, demikian pula Abah yang dulu terserang stroke tatkala mendengar Mia dihamili oleh Alam (sengaja dia lakukan demi mendapat restu nikah). Semua itu masalah serius yang penyelesaiannya terkesan menggampangkan. Saya tahu tawa dapat menjalin kebersamaan, internet banyak menawarkan bantuan, dan kehadiran bayi bisa mendamaikan pertentangan, namun butuh paparan proses kuat untuk mengundang simpati atas perjuangan karakternya, dan "Buka'an 8" tak memiliki itu.

Angga Dwimas Sasongko masih solid dalam urusan bercerita, bahkan ketika filmnya dipenuhi nuansa chaotic, penyutradaraan Angga menjaga supaya adegan demi adegan dalam pergerakan alur tetap nyaman diikuti. Alhasil penonton mampu menikmati kekacauan tersebut tanpa merasa terganggu akibat pengadeganan yang terbawa kacau. Pencapaian spesial mengingat bukan hal mudah merangkum rentetan keriuhan situasi secara rapi. Meski begitu, Angga perlu belajar lagi cara berkomedi, sebab balutan humor film ini kerap meleset karena minimnya punchline, tidak ada penegasan bagi lelucon yang dilontarkan. Sentilan perilaku "social media sharing" (selfie, tweeting, etc.) pun dieksploitasi terlampau sering. Tujuannya memang menggambarkan betapa masyarakat sekarang berlebihan melakukan itu, tapi makin lama makin terasa repetitif. 
Jajaran cast-nya bermain memikat. Chicco Jerikho punya energi dan antusiasme tinggi memerankan Alam yang kerepotan kesana kemari sekaligus memiliki charm, menjaga tokohnya urung berujung menyebalkan walau selalu marah-marah. Lala Karmela boleh menghabiskan mayoritas kemunculannya berbaring, namun itu tak menghalanginya berakting kuat termasuk satu momen luapan kemarahan yang tidak hanya mendiamkan karakter filmnya, pula saya di kursi penonton. Sarah Sechan dengan kebolehannya berkelakar cepat tanpa henti bersama Tyo Pakusadewo dan gestur strokenya mendukung kejenakaan. Dayu Wijanto sekali lagi sanggup menyulap momen hati ke hati sederhana menjadi kehangatan mengharukan. Belum lagi sisi badass yang (tak biasanya) ia tampilkan amat mencuri perhatian. Seluruh cast memang tampil baik bahkan kehadiran singkat para pemeran suster.

Departemen artistik lain tak ada yang benar-benar mencuat kecuali kelembutan petikan gitar milik iringan musik McAnderson ("Wonderful Life") yang senada dengan syahdunya "Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan" dari Payung Teduh selaku lagu tema. Alunan nada-nada tersebut sempurna, setia menemani pencarian Alam akan makna pendewasaan. Bahwa dewasa berarti bertanggung jawab, sabar, tahu bagaimana mengambil sikap terbaik. "Buka'an 8" mungkin karya terlemah Angga Dwimas Sasongko di beberapa tahun terakhir, tapi masih satu suguhan memikat berisi gambaran sesuai terhadap masyarakat Indonesia dewasa sekarang, membuktikan betapa mengesankan karir sutradara satu ini. 


2017 OSCAR WINNER PREDICTIONS

Tak sampai seminggu lagi Academy Awards alias Oscar 2017 bakal menentukan pemenangnya, dan sudah merupakan rutinitas bagi penggila film membuat prediksi siapa saja yang bakal membawa pulang piala. Baik di kolom komentar blog sampai media sosial, banyak pembaca sejak jauh hari bertanya kapan prediksi saya dibuat. Kenapa baru sekarang? Agar saya berkesempatan menonton mayoritas nominee serta menunggu hasil ajang penghargaan lain (PGA, WGA, DGA, dan sebagainya) sebagai alat bantu. Dua tahun terakhir, dari 21 kategori saya hanya sanggup menebak tepat 15 di antaranya. Semoga tahun ini lebih baik. Perlu diingat bahwa Oscar bukan sekedar mana yang terbaik. Ada unsur politik (negara dan industri), selera juri, dan masih banyak lagi faktor di samping kualitas. Yep, Oscar isn't just about qualityBerikut daftar prediksi pemenang Oscar 2017 versi Movfreak.

Will Win: Prediksi saya untuk pemenang sebuah kategori.
Could Win: Kuda hitam yang punya potensi menang.
Should Win: Pilihan pribadi yang saya anggap terbaik untuk sebuah kategori.

BEST VISUAL EFFECTS
"The Jungle Book" adalah breakthrough bagi efek visual di mana CGI sempurna menghidupkan hewan serta setting senyata mungkin. "Doctor Strange" punya visual unik, tapi mengingat "The Jungle Book" hampir seutuhnya CGI (and it's amazing), peluangnya jauh lebih besar.
Will Win: The Jungle Book
Could Win: Doctor Strange
Should Win: The Jungle Book

BEST FILM EDITING
Penyuntingan gambar "Arrival" mulus dan menghanyutkan, tapi lihat bagaimana transisi "La La Land" khususnya pada epilog yang bak visualisasi mimpi. 
Will Win: La La Land
Could Win: Arrival
Should Win: La La Land

BEST COSTUME DESIGN
Oscar cenderung memenangkan period drama di kategori ini, memberi kans pada "Jackie" dan glamoritasnya. Tapi juri amat mencintai "La La Land" dan siapa bisa menyangkal keindahan warna-warni kostumnya?
Will Win: La La Land
Could Win: Jackie
Should Win: La La Land

BEST MAKEUP AND HAIRSTYLING
Kecil kemungkinan juri memberi "Suicide Squad" kehormatan menyandang status pemenang Oscar. "Star Trek Beyond" yang didominasi riasan alien berpeluang mengungguli naturalistik "A Man Called Ove".
Will Win: Star Trek Beyond
Could Win: A Man Called Ove
Should Win: Star Trek Beyond

BEST CINEMATOGRAPHY
"Lion" di luar dugaan memenangkan penghargaan dari ASC (American Society of Cinematographers). "Arrival" punya gambar magis. Tapi sekali lagi, "La La Land" lewat permainan warnanya takkan terbendung.
Will Win: La La Land
Could Win: Lion
Should Win: La La Land

BEST PRODUCTION DESIGN
Hollywood menggemari surat cinta akan era keemasan mereka, dan "Hail, Caesar!" sukses menghidupkan masa itu. Namun kemeriahan tata artistik David Wasco and Sandy Reynolds-Wasco masih yang terbaik.
Will Win: La La Land
Could Win: Hail, Caesar!
Should Win: La La Land

BEST SOUND MIXING
Musikal cenderung menjadi favorit di kategori ini, dan tata suara "La La Land" berpadu harmonis, meski gemuruh "Hacksaw Ridge" sejatinya lebih mumpuni.
Will Win: La La Land
Could Win: Hacksaw Ridge
Should Win: Hacksaw Ridge

BEST SOUND EDITING
Sebaliknya, kategori Sound Editing condong ke blockbuster bombastis. Kebingungan yang kerap terjadi pada juri Oscar mengenai definisi dua kategori tata suara dapat menguntungkan "La La Land".
Will Win: Hacksaw Ridge
Could Win: La La Land
Should Win: Hacksaw Ridge

BEST ORIGINAL SONG
Seluruh lagu "La La Land" pantas mendapat nominasi. "City of Stars" selaku lagu tema yang dikenal luas tentu jadi unggulan.
Will Win: City of Stars 
Could Win: Audition
Should Win: City of Stars

BEST ORIGINAL SCORE
Tidak peduli orkestra "Jackie" menghipnotis dan "Lion" mampu menggabungkan unsur tradisional dan modern, saat musikal jadi unggulan utama, kategori macam ini takkan berpeluang direbut film lain.
Will Win: La La Land
Could Win: -
Should Win: La La Land

BEST DOCUMENTARY - FEATURE
Kebetulan dari sekian banyak dokumenter yang saya tonton di 2016, satupun tak masuk nominasi. Kelima nominee belum sempat saya tonton. Tapi isu rasial melancarkan kemenangan "O.J.: Made in America".
Will Win: O.J.: Made in America
Could Win: I Am Not Your Negro
Should Win: -

BEST FOREIGN LANGUAGE FILM
Pertarungan "The Salesman" melawan "Toni Erdmann". Larangan Asghar Farhadi memasuki Amerika justru memberi momentum bagi filmnya, tak peduli "Toni Erdmann" demikian populer dan hendak di-remake dengan Jack Nicholson sebagai aktor utama.
Will Win: The Salesman
Could Win: Toni Erdmann
Should Win: The Salesman

BEST ANIMATED FEATURE FILM
Kecuali para juri lebih terpukau pada sisi artistik "Kubo and the Two Strings" ketimbang cerita kaya "Zootopia", pemenang sudah bisa dipastikan. Walau bagi saya "Moana" tetaplah paling menyihir.
Will Win: Zootopia
Could Win: Kubo & the Two Strings
Should Win: Moana

BEST ADAPTED SCREENPLAY
Satu dari dua kategori yang berpeluang direbut "Moonlight". Juri tentu takkan melewatkannya kecuali siap dihujat para penggemar film itu. Kemenangan di WGA pun menguatkan peluang. "Arrival" yang juga memenangkan WGA dan cerdik meramu kisah kehidupan "berkedok" invasi alien sejatinya lebih pantas.
Will Win: Moonlight
Could Win: Arrival
Should Win: Arrival

BEST ORIGINAL SCREENPLAY
"Manchester by the Sea" telah memenangkan setumpuk penghargaan bagi naskah. "La La Land" punya kans andai juri begitu terpikat padanya.
Will Win: Manchester by the Sea
Could Win: La La Land
Should Win: Manchester by the Sea

BEST SUPPORTING ACTRESS
Sejatinya Viola Davis adalah lead, dan masuknya ia di kategori pendukung membuatnya tak tertandingi.
Will Win: Viola Davis 
Could Win:
Should Win: Viola Davis

BEST SUPPORTING ACTOR
Kemenangan Mahershala Ali sudah bisa dipastikan, kecuali Dev Patel yang memenangkan BAFTA menggeliat. Jeff Bridges dengan lontaran dialog memikat jadi yang terbaik. Ketiadaan Aaron Taylor-Johnson amat disayangkan.
Will Win: Mahershala Ali
Could Win: Dev Patel
Should Win: Jeff Bridges

BEST ACTRESS
Emma Stone melakoni dua tugas sulit di dua momen audisi: mencurahkan emosi sambil bernyanyi dan mengekspresikan rasa yang tertahan. Kemenangan Isabelle Huppert di Golden Globe menjadikannya kuda hitam.
Will Win: Emma Stone
Could Win: Isabelle Huppert
Should Win: Emma Stone

BEST ACTOR
Casey Affleck awalnya diunggulkan, namun pasca kasus sexual abuse serta kemenangan Denzel Washington di SAG, momentum condong ke Denzel. Apalagi ia sosok yang dihormati di Hollywood dan sukses melakoni tugas ganda, menyutradarai dan berakting.
Will Win: Denzel Washington
Could Win: Casey Affleck
Should Win: Denzel Washington

BEST DIRECTOR
Hanya orang super jenius yang sanggup mengkreasi rentetan musikal kompleks di "La La Land". Barry Jenkis berpeluang karena filmnya salah satu kontender terkuat.
Will Win: Damien Chazelle
Could Win: Barry Jenkins
Should Win: Damien Chazelle

BEST PICTURE
Langkah "La La Land" sukar dibendung. Memenangkan PGA dan DGA serta Golden Globe dan BAFTA merupakan jaminan. "Moonlight" bisa jadi batu sandungan karena dianggap film penting (which for me, isn't). Film penting sesungguhnya adalah "Hidden Figures" yang sedikit punya kans setelah menang di WGA.
Will Win: La La Land
Could Win: Moonlight
Should Win: La La Land

Berikut adalah ranking saya bagi sembilan nominee film terbaik:
1. La La Land
2. Arrival
3. Fences
4. Manchester by the Sea
5. Hacksaw Ridge
6. Hidden Figures
7. Hell or High Water
8. Lion
9. Moonlight

THE SALESMAN (2016)

Diceritakan, protagonis dalam "The Salesman" adalah aktor teater yang tengah memainkan naskah "Death of a Salesman" buatan Arthur Miller. Akibat sensor ketat pemerintah Iran, salah satu aktris mesti berpakaian lengkap (jilbab dan coat) walau melakoni adegan telanjang, memancing tawa para aktornya. Di kehidupan nyata, film ini mendapat nominasi Oscar untuk Best Foreign Language Film, namun Asghar Farhadi selaku sutradara sekaligus penulis naskah dilarang hadir akibat kebijakan imigrasi kontroversial Donald Trump (Farhadi kemudian memboikot). Terciptanya paralel antara fantasi dan realita ini semakin menegaskan bahwa kritik yang Farhadi lontarkan lewat karyanya memang relevan.

Tapi intrik sosial-politik bukanlah topik utama "The Salesman", tidak dituturkan gamblang melainkan bangunan latar kuat pembentuk lingkungan tempat tokohnya tinggal yang otomatis mempengaruhi sikap serta pola pikir. Adegan pembuka memperlihatkan apartemen milik pasangan suami istri Emad (Shahab Hosseini) dan Rana (Taraneh Alidoosti) bergetar hebat, perlahan runtuh akibat kegiatan konstruksi di sebelah yang tak hati-hati. Tanpa keduanya maupun penonton sadari, momen itu bak siratan akan rumah tangga mereka yang kelak turut tergoncang dan terancam runtuh. Untungnya, berkat bantuan rekan sesama pemain teater, Babak (Babak Karimi), Emad dan Rana mendapat rumah baru. 
Kemudian mereka mulai mendengar selentingan dari tetangga jika wanita penghuni sebelumnya adalah pelacur yang kerap melayani klien di rumah itu. Sang wanita sendiri menimbulkan masalah saat tak kunjung datang mengambil barang yang masih tertinggal, namun melarang siapa pun menyentuhnya. Menyebalkan, tapi tak meresahkan bagi Emad dan Rana, sampai suatu malam, Rana mendengar bel pintu berbunyi. Mengira sang suami telah pulang, ia membuka pintu begitu saja. Saya takkan mengungkap peristiwa yang menyusul. Dari situlah ketegangan menyeruak, memfasilitasi Asghar Farhadi menyuguhkan pertentangan gender, modern versus traditional, dan gesekan dua pihak terkait trauma. 

Kelebihan Farhadi menulis naskah tampak dari kemampuannya menuturkan isu secara solid tanpa perlu meneriakkannya. Emad dan Rana awalnya terlihat sebagai dua sosok berpikiran terbuka pula modern. Mereka menggemari kesenian, terjun di dunia seni peran. Di pagi hari, Emad adalah guru yang tidak menerapkan teknik mengajar ortodoks, bersedia bercanda bersama murid-murid, menjadikan sensor selaku bahan lelucon. Namun begitu kejadian mengagetkan tersebut menerjang, Emad mulai merasa harga dirinya diserang. Tidak perlu menuding langsung, Farhadi sudah menciptakan pemahaman bagi penonton soal patriarki konservatif di mana istri dianggap barang milik pria saat tindakan Emad cenderung ungkapan kemarahan akibat "kepunyaannya" diinvasi ketimbang demi melindungi Rana.
Keberadaan poin "life imitates art" (dan sebaliknya) bukan hal baru, tetapi Farhadi tidak semata memperlihatkan kemiripan atas dasar kebetulan antara kenyataan dengan pementasan yang dilakoni dua protagonis. Daripada "memalsukan", akting lebih merupakan manifestasi atas keseharian sang pemeran. Kehidupan sehari-hari mempengaruhi interpretasi mereka terhadap tokoh yang diperankan. Selipan pengalaman personal (sengaja maupun tidak) justru bisa menguatkan performa, dan itu nampak di sini, baik ketika Emad meluapkan amarah pada Babak atau tergerusnya hubungan dia dan Rana, serupa karakter mereka di atas panggung. 

Begitu kokohnya presentasi drama "The Salesman", perspektif penonton bakal ditantang, pemikiran kita diprovokasi. Mungkin anda pernah menemui orang terdekat anda paranoid apabila bersinggungan dengan hal yang mengembalikan ingatan akan insiden traumatik. Tentu anda bersimpati, ingin membantu. Tetapi hampir pasti timbul ketidaknyamanan akibat merasa sikap orang itu berlebihan dan sebagainya. Farhadi merangkum konflik serupa dengan presisi sempurna, didukung kemampuan menyulap pertengkaran minim teriakan (berbeda dengan "The Past") jadi gejolak menggetarkan, pula mendorong penonton berpikir pihak mana yang benar. Bukan mustahil ujungnya anda bakal bersimpati atau sebaliknya, menyalahkan mereka berdua.
Baik Shahap Hosseini dan Taraneh Alidoosti cakap memunculkan dua sisi tokoh peranan masing-masing. Setelah memainkan pasangan likeable di awal, transformasi sama-sama dilakukan. Dari pria, suami, dan guru ramah, Hosseini berubah, tampak dikuasai amarah yang senantiasa mengganggu pikirannya dalam segala situasi. Melihat Hosseini, kita dibuat percaya bahwa Emad dapat "meledak" setiap saat. Sementara Alidoosti mengubah Rana yang awalnya ceria dan banyak bicara menjadi penuh kegamangan serta ketakutan. Matanya kosong, menerawang, seolah tak henti menyaksikan kejadian malam itu. Farid Sajadhosseini meski muncul baru di sepertiga akhir nyatanya amat berkesan. Tatapan hampanya memberi dampak luar biasa untuk konklusi cerita.

Sebagaimana beberapa karya lain miliknya, Farhadi menyelipkan misteri yang ambigu karena penonton tak pernah melihat langsung peristiwanya. Layaknya suguhan "Hitchcockian" terbaik, petunjuk dilemparkan dengan subtil guna mempermainkan asumsi penonton, acap kali mengejutkan lewat sederet fakta tersirat yang diungkap melalui dialog, meninggalkan antusiasme pada pencarian jawaban. Memasuki paruh kedua, "The Salesman" menyentuh ranah revenge thriller yang Farhadi bangun tanpa mengikuti formula. Kamera cenderung statis, tempo medium, iringan musik pun minimalis, enggan menggedor jantung. Ketegangan terhampar secara alamiah, bukti seorang Asghar Farhadi tak hanya ahli mengangkat isu, pula master dalam membentuk intensitas di tengah keheningan. 

YANG TERUCAPKAN SAAT KITA MENGUCAPKAN CINTA

Tulisan berikut bukanlah sebuah review, bukan pula terkait film. Kali ini izinkan saya mempromosikan, beriklan tentang pertunjukkan drama musikal produksi Keluarga Rapat Sebuah Teater (KRST), badan kegiatan mahasiswa di Fakultas Psikologi UGM yang telah menjadi bagian penting hidup saya selama hampir tujuh tahun terakhir. Kebetulan, musikal berjudul "Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta" ini dibuat berdasarkan naskah tulisan saya bersama dua orang lain selaku duet sutradara pementasan. Sebelumnya saya hendak bercerita seputar latar belakang serta sedikit membahas kandungan naskahnya.

Proses awal dimulai sekitar akhir 2015 sewaktu KRST tengah memilih ketua baru (disebut Kepala Keluarga). Kita sepakat ingin membuat pentas ringan, menghibur, dan mampu mewadahi minat mahasiswa seluas mungkin (aktor, tari, musik, tata lampu, make-up, kostum, properti, dan sebagainya). Karena itulah genre musikal yang belum pernah kami pentaskan pun dipilih. Saya mengajukan diri menulis naskahnya karena merasa tertantang mencoba ranah baru. Sebelumnya sudah dua naskah karya saya dipentaskan. Surealisme ala David Lynch berjudul "Romantika dalam Gelap" (saya juga menyutradarai) dan "Keluarga Bahagia", sebuah drama soal keluarga disfungsional. 

Keduanya bernuansa gelap, mengandung pokok bahasan sensitif termasuk seksualitas. Maka dari itu, saya ingin sesekali mengeksplorasi jalur berbeda, dan musikal ringan, ceria pula mengusung kisah cinta dua sejoli sebagai sentral adalah pilihan tepat. Sekitar bulan Februari 2016, naskah usai, lalu sempat mengalami sedikit penyesuaian oleh dua sutradara (Afra Imani Nasution dan Arswendi Dharmaputra). Judul "Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta" mendapat inspirasi dari koleksi cerita-cerita pendek "What We Talk About When We Talk About Love" (1981) milik Raymond Carver. Saya merasa tak ada judul lain untuk mewakili ceritanya yang banyak mengandung kegombalan tutur yang sekilas terdengar menggelikan, namun sejujurnya, memang kegombalan itulah yang terucapkan saat kita dimabuk cinta dan ingin mengungkapkannya. 

Kisahnya sederhana saja, menyoroti pertemuan dua muda-mudi, Hendrik, seorang anak band yang kerap bertingkah seenaknya dan Nurlela, gadis berparas ayu yang sulit ditaklukkan hatinya. Cita-cita Hendrik untuk hidup dari musik mendapat tentangan keras dari sang ayah, sementara Nurlela yang gemar melukis berharap rutinitas membantu usaha jahit ibunya dapat membantu mewujudkan mimpinya menjadi desainer. Keduanya perlahan saling jatuh hati tanpa menyadari ada gejolak tengah mengintai. Latarnya mengambil "sebuah negeri yang dekat dan menyerupai tanah tempat kita tinggal". Beberapa film memberi inspirasi, terutama "Sound of Music", "Aach...Aku Jatuh Cinta", dan "Singin' in the Rain". Para aktor dan penari yang terlibat mayoritas berasal dari angkatan 2015 dan 2016. Ya, darah-darah segar. Bukan tua bangka seperti saya. 

Pementasan digelar pada Sabtu, 4 Maret 2017 pukul 19:30 di Gedung Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta. Harga tiket sudah tertera pada poster di atas. Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi contact person (Ninda: 081227155416, Besti: 081228475321) atau kolom komentar tulisan ini. Jika "La La Land" masih menyisakan rasa haus akan kisah cinta berbalut nyanyian dan tarian yang menyenangkan, ringan namun romantis silahkan menonton "Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta". Selamat bersenang-senang dan jatuh cinta. 

JACKIE (2016)

Pada 14 Februari 1962, Jacqueline "Jackie" Kennedy lewat acara "A Tour of the White House with Mrs. John F. Kennedy" mengajak pemirsa televisi berkeliling Gedung Putih supaya publik tahu seperti apa rupa tiap sudut kediaman Presiden Amerika Serikat tersebut. Kini giliran Pablo Larrain membawa kita memasuki ruang personal Jackie, menyingkap isi hati Ibu Negara termuda ketiga ini pasca pembunuhan terhadap John F. Kennedy. Ketimbang merangkum seluruh perjalanan hidup sang titular character, "Jackie" mengetengahkan bagaimana ia menghadapi duka atas kematian sang suami yang oleh filmnya dikemas jujur, apa adanya, menghormati tanpa pernah mengultuskan. 

Keabsahan cerita film ini mungkin bisa diperdebatkan, namun layaknya catatan sejarah mana pun, tiada kebenaran hakiki melainkan satu versi yang disepakati bersama. Di awal film, Jackie (Natalie Portman) menegaskan pada seorang jurnalis (Billy Crudup) yang hendak melakukan wawancara bahwa kisah yang akan si jurnalis dengar dan tulis adalah versinya. Kalimat itu seolah digunakan Noah Oppenheim selaku penulis naskah guna menegaskan perspektifnya kepada penonton. This is a story about Jackie Kennedy from Jackie Kennedy herself. Beberapa bagian naskah sendiri dibangun berdasarkan wawancara Theodore H. White dari majalah Life dengan Jackie. 
Pendekatan konvensional akan memposisikan kisah ini sebagai setup dengan puncak berupa pembunuhan John F. Kennedy. Oppenheim memilih jalan lain. Peristiwa tersebut tetap ditampilkan, tapi sekilas saja. Bukan untuk tujuan akhir melainkan pemicu gejolak yang mesti ditemui protagonis. Alurnya bergerak acak memperlihatkan Jackie sebelum kematian John (pengambilan gambar tur Gedung Putih) sampai setelah, ketika status First Lady memaksanya berurusan dengan tetek bengek urusan seremonial, kenegaraan, serta intensi beragam dari bermacam pihak alih-alih bebas membenamkan diri dalam kesedihan. Semua menghampiri Jackie begitu cepat, dengan jangka waktu teramat singkat. Poin ini jadi titik penting naskahnya, menjelaskan mengapa dia sangat terpuruk. 

Keterpurukan Jackie menghasilkan observasi kompleks seputar pilu akibat kehilangan orang tercinta. Umumnya, ketika seseorang meninggal, kerabat yang ditinggalkan bakal bermulut manis, mendeskripsikan sosok almarhum bak manusia sempurna. Jackie awalnya mengembangkan kesan serupa termasuk kala kukuh memaksakan prosesi pemakaman besar-besaran demi menghormati jasa John sebagai Presiden. Tapi seiring waktu berjalan, semakin sering Jackie mengungkapkan perasaan baik verbal maupun respon dalam keheningan, timbul ambiguitas. Apakah Jackie melakukan semua bagi mendiang sang suami, atau untuk dirinya sendiri yang mencintai glamoritas? "Jackie" tidak ragu memancing pertanyaan tersebut, membungkusnya jadi studi terang-terangan tanpa perlu terkesan menyerang objek penceritaannya. She's lovable but not a saint. She loves her late husband but doesn't think that he was perfect. 
Jacqueline Kennedy bukan saja Ibu Negara. Berkat figur feminin, paras cantik dan busana modis, ia juga merupakan fashion icon, membuat para pria tersenyum jatuh hati pula diidolakan wanita. Termasuk melalui program "A Tour of the White House with Mrs. John F. Kennedy", figur politik tak lagi membosankan karenanya. Sehingga menarik ketika wanita yang dikenal mempesona dan menghembuskan nyawa ke Gedung Putih ini ditampilkan dalam fase sedemikian berbeda, diselimuti amarah, kesedihan, putus asa, hilang arah. Walau untuk penonton di luar Amerika yang kurang familiar dan tidak merasa "memiliki" Jackie, penggambaran itu takkan seberapa menusuk.

Mewakili kesan glamor dan kegemaran Jackie kepada seni, filmnya menonjolkan estetika tiap sisi departemen artistik. Desain produksi buatan Jean Rabasse piawai mereplikasi interior mewah Gedung Putih termasuk detail ornamen yang apabila anda bandingkan dengan footage "A Tour of the White House with Mrs. John F. Kennedy" nampak persis. Scoring orkestra gubahan Mica Levi (mendapat nominasi Oscar) mengiringi nyaris di tiap situasi, berfungsi mendramatisasi, megah, sanggup menyiratkan ironi suatu tragedi. Sedangkan desain kostum dari Madeline Fontaine (also an Oscar nominee) sukses mereka ulang busana-busana Jackie Kennedy yang khas berhiaskan warna-warni memikat mata.
Pengadeganan Pablo Larrain kerap mengandalkan close-up agar mendekatkan penonton pada ekspresi Jackie, memaksimalkan observasi. "Jackie" lebih banyak disusun oleh presentasi momen-momen personal saat sang tokoh utama membenamkan diri dalam beragam rasa daripada suguhan narasi linier konvensional di mana keheningan sering mendominasi ketimbang paparan aksi. Bahkan kalau mau, Larrain bisa saja menjadikan film ini tontonan kontemplatif "Malick-esque". Larrain memamerkan kapasitasnya bertutur mengandalkan gambar tanpa perlu deskripsi verbal gamblang atas sebuah situasi. Pergerakan alur acak pun dapat ia tangani, tersusun rapi, walau keputusan berfokus pada curahan emosi Jackie makin lama terasa repetitif. 

Disokong jajaran nama besar yang bermain baik sesuai porsi masing-masing seperti Peter Sarsgaard, Greta Gerwig, sampai John Hurt dalam salah satu peran terakhirnya sebelum meninggal awal tahun ini, "Jackie" tetaplah panggungnya Natalie Portman. Sang aktris mampu "menghidupkan kembali" Jacqueline Kennedy. Coba saksikan footage lawas yang menampilkan Jackie, maka anda bakal melihat ketepatan Portman berekspresi dan bergerak, bahkan hingga gestur kecil semisal gerakan kepala. Cara bicaranya pada adegan tur Gedung Putih mungkin terdengar bagai imitasi belaka, namun tak sampai jatuh ke ranah parodi. Seringnya kamera menyoroti wajahnya dari dekat Portman manfaatkan sebagai sarana berbicara memakai mimik wajah kuat, membuat penonton mudah menangkap betapa kalut dan rumitnya isi hati Jackie. Karena duka dan kematian bukan hal sederhana, terlebih jika anda wanita nomor satu negara adidaya.  

RINGS (2017)

Let's admit that "Ring" is product from the past. Konsep penyebaran kutukan melalui VHS hanya bisa efektif di masa ketika transfer informasi belum secepat dan semudah era digital. Sekarang, kecuali mengambil setting masa lalu, kesulitan karakter melepaskan diri dari kutukan terasa konyol daripada mengerikan. Tinggal unggah video ke media sosial atau YouTube, dalam sekejap masalah terselesaikan. "Sadako 3D" (plus sekuel yang sama buruknya) coba melangkah ke tahap itu namun gagal, sebab poin utama franchise buatan Koji Suzuki ini terletak pada kecemasan korban mencari "tumbal" ditambah ketidaktahuan atas video tersebut. Ditambah lagi, Sadako  atau Samara dalam versi remake Amerika  sudah kerap jadi bahan parodi.

Pergantian jadwal rilis mencapai tiga kali (November 2015 ke April 2016, ke Oktober 2016, hingga akhirnya Februari 2017) tentu merupakan sinyal buruk bagi "Rings" yang bertempat 13 tahun pasca film pertama, tak menganggap keberadaan "The Ring Two" (2005). Bagai membuktikan kekhawatiran itu, opening yang menampilkan teror Samara Morgan (Bonnie Morgan) di atas pesawat langsung menyalahi rule. Aturan ini penting. Tanpanya, kemunculan sesosok entity selaku villain dapat tak berarti, melucuti intensitas. Coba bayangkan mendadak Freddy Krueger bisa membunuh di dunia nyata. Aturan main Samara jelas; calon korban menonton video, tujuh hari kemudian mati apabila tidak menyalin video dan mempertontonkannya pada orang lain. 
Mengapa seluruh penumpang yang baru saat itu menonton video seketika terkena kutukan Samara lalu tewas? Adegan ini eksis hanya demi satu tujuan, yakni menciptakan pembuka bombastis. Celakanya, F. Javier Gutierrez gagal menghadirkan kengerian akibat kurang memahami pemicu rasa takut. Kenapa kecelakaan pesawat, kutukan Samara, dan secara umum kematian, dianggap menakutkan. Dia sekedar menyuguhkan, lalai menyeret penonton dalam rasa takut serupa yang dialami tokoh-tokohnya. Kegagalan ini bertahan hingga film berakhir, menjadikan 102 menit durasi "Rings" sebagai obat tidur mujarab meski sejatinya Gutierrez mengusung niat mulia untuk membuat horor tanpa eksploitasi jump scare berlebihan. 

Naskah tulisan David Loucka, Jacob Aaron Estes, dan Akiva Goldsman punya niatan serupa, hendak menekankan investigasi berbalut twisted drama seputar keluarga bahkan agama. Julia (Matilda Lutz) menjadi tokoh sentral sewaktu ia mendapati sang kekasih, Holt (Alex Roe) yang tiba-tiba tidak memberi kabar telah terjebak dalam lingkaran setan kutukan Samara pasca mengikuti "eksperimen" sang dosen, Gabriel (Johnny Galecki). Demi menghentikan kutukan tersebut, Julia dan Holt melakukan penyelidikan yang membawa mereka pada masa lalu Samara serta kasus hilangnya wanita misterius bernama Evelyn (Kayli Carter). 
"Rings" tersusun atas rangkaian investigasi seputar misteri amat sederhana tapi terlalu berusaha tampil kompleks hingga menjadi "bumerang" tatkala trio penulis naskahnya kewalahan menangani benang kusut alurnya. Bahkan nihil substansi, tanpa ikatan pasti dengan first act serta konklusi yang bak berdiri sendiri-sendiri. Para penulis nampak terbebani merangkai tiga poin; teror video kutukan selaku ciri franchise-nya, masa lalu Samara, dan menjembatani sekuel. Begitu asal cara penyatuannya, motivasi tiap karakter pun mengundang pertanyaan, termasuk Samara. Perlukah makhluk macam dia mempunyai motivasi? Baik Samara maupun Sadako bergerak didasari dendam, bertujuan menebar ketakutan memakai banyak cara, bukan sekedar mesin pembunuh. Di sini, Samara bagai anak bodoh yang bertindak serampangan pula gemar pamer kekuatan. 

Proses investigasi suatu film bertujuan mengundang rasa penasaran penonton, dan "Rings" tak memilikinya karena kita pun tidak dipancing supaya ingin tahu. Filmnya membeberkan fakta demi fakta, namun tidak demikian alasan mengapa itu diungkap, ke mana semuanya bakal bermuara dan kenapa penonton mesti peduli. Terlebih dalam perjalanan Julia dan Holt unsur kecemasan kala berpacu dengan waktu sebelum kutukan menghampiri  yang mana merupakan pondasi utama seri "The Ring"  malah dilupakan. Paparan mengenai keluarga disfungsional yang esensial menyokong kisah Samara (dan Sadako) urung mencengkeram sebab naskahnya terlampau jinak, takut melewati batasan rating PG-13. Padahal terdapat daya tarik di penceritaan soal figur agamawan yang didukung performa kuat Vincent D'Onofrio. 
Ada niat baik menggiring "Rings" ke ranah psychological horror-mystery yang tak hanya gemar mengageti, tetapi selain penelusuran teka-teki hambar sekaligus karakterisasi dangkal, Gutierrez juga tak piawai membangun kesan atmosferik, di mana usaha sang sutradara justru berakhir menyeret jalannya tempo adegan, menciptakan kebosanan. Sederet jump scare yang semestinya jadi hentakan penawar kantuk berlalu begitu saja akibat kesan repetisi adegan mimpi atau halusinasi. Saat penonton tahu sebuah kengerian merupakan kepalsuan, jangan harap rasa takut sanggup menjalar. 

Gutierrez sesungguhnya memiliki insting visual mumpuni. Dibantu sinematografi garapan Sharone Meir, beberapa peristiwa unnatural tampak memikat di layar, begitu pula footage video berisi creepy imageries yang tetap menghipnotis. Namun sewaktu rasa takut gagal dibangun di sisa momen lainnya, visual tersebut sekedar menjadi parade gambar memikat mata belaka. It could be a creepy, fascinating surreal clips or horror music video though. "Rings" adalah usaha putus asa mengais kejayaan masa lalu yang makin mencoreng kebesaran namanya. Butuh kreatifitas ekstra untuk modernisasi, lebih dari sekedar transformasi VHS ke video digital, menyertakan internet selaku penyesuaian bagi generasi millenial atau upaya menangkis olok-olok kemunculan Samara melalui smartphone (baca: media elektronik berlayar mini) yang justru memancing kekonyolan serupa parodi tersebut.

JOURNEY TO THE WEST: THE DEMONS STRIKE BACK (2017)

Sekuel bagi "Journey to the West: Conquering the Demons"  film terlaris China tahun 2013 sekaligus salah satu yang terbaik  ini mempertemukan Tsui Hark si "Raja Wuxia" dan "Raja Komedi", Stephen Chow. Sebelumnya, Hark sempat muncul selaku cameo di "The Mermaid" buatan Chow yang juga merupakan film berpendapatan terbesar sepanjang masa di "Negeri Bambu" tersebut. Kelihaian Hark mengkreasi adegan aksi dipadukan absurditas komedi Chow yang kali ini sendirian menulis naskahnya tentu menjadi magnet kuat. Terbukti lewat keberhasilan melampaui pendapatan film pertama. It's definitely bigger, but is it better?

Kisahnya melanjutkan perjalanan Tang Seng (Kris Wu) mencari kitab suci ke India bersama ketiga muridnya, Sun Wukong si Raja Kera (Lin Gengxin), siluman babi Zhu Bajie (Yang Yiwei) dan siluman air Sha Wujing (Mengke Bateer). Guna bertahan hidup mereka menawarkan jasa mengusir siluman dan memamerkan atraksi di kelompok sirkus. Namun perselisihan antara Wukong dan Tang Seng kerap menyulitkan perjalanan. Wukong jengah atas perlakuan seenaknya dari sang guru (memanggilnya "kera nakal", mencambuk dan menyanyikan lagu anak sebagai hukuman). Tang Seng pun kewalahan menghadapi kenakalan Wukong, dan masih menyimpan amarah akibat murid pertamanya itu membunuh Duan (Shu Qi), cinta sejati Tang.
Meneruskan jejak "Conquering the Demons", "The Demons Strike Back" walau kental komedi merupakan presentasi versi kelam "Journey to the West". Unsur kekerasan dan kematian tidak sekental film pertama, namun ada kompleksitas soal hubungan guru-murid khususnya Tang Seng dan Sun Wukong. Sebagai bekas siluman kejam, tentu logikanya mereka takkan semudah itu patuh. Chow menekankan itu ketika Wukong benar-benar membenci Tang, bahkan sekali waktu berniat membunuhnya dengan Bajie dan Wujing memberi dukungan. Layaknya proses alamiah, ketika "Conquering the Demons" adalah pertemuan, maka sekuelnya ini berfungsi menyatukan keempat protagonis, hingga apabila kelak ada installment ketiga, kita akan bertemu dengan tim yang telah solid. 

Chow menempatkan banyak pertengkaran sebagai rintangan, alat memaparkan konflik. Masalahnya, pemaknaan Chow pada istilah "konflik" terlampau dangkal, yaitu saling berteriak, mengeluh, dan dilakukan berulang kali, berujung repetitif pula menyebalkan ketimbang menghasilkan cengkeraman kuat drama seputar love/hate relationship. Biksu Tang versi Chow adalah sosok kompleks. Penyebar ajaran Buddha, tetapi bodoh dan terjebak dalam duka duniawi akibat cinta. Berbeda dibanding Wen Zhang pada film pertama yang simpatik, akting Kris Wu membuatnya bagai pemuda manja, hanya bisa merengek, tak berguna, seperti minta dihajar habis-habisan. The relatable, more human version of Tang Sen from the previous movie is gone, replaced by this spoiled brat
Tidak biasanya pula Chow miskin ide merangkai narasi ringan. "The Demons Strike Back" ibarat gabungan kasar dari berbagai story arc perjalanan Biksu Tang ketimbang satu skema besar yang saling berkaitan meski bagi penonton yang familiar terhadap kisahnya, kemunculan Siluman Laba-Laba dan Siluman Tengkorak dapat memunculkan nostalgia. Chow nampak memaksakan diri memanjangkan cerita dengan setumpuk filler tak substansial dan membosankan seperti beberapa sekuen pasca pertempuran di istana. Tapi bukan semata-mata kesalahan naskah, sebab penyutradaraan Tsui Hark turut berpengaruh. 

Penonton masih disuguhi kekonyolan komedi khas Stephen Chow dan beberapa momen sanggup memproduksi tawa, hanya saja urung mencapai titik tertinggi serta banyak humor berakhir datar. Lagi-lagi kegagalan tersebut disebabkan interpretasi dangkal. Hark sekedar mengundang kekacauan dan keramaian sebanyak mungkin dalam menangani komedi, tanpa ketepatan timing atau pilihan shot mendukung. Tidak seperti Chow, Hark kurang pandai bermain komedi visual, alhasil yang penonton dapatkan tak lebih dari slapstick konyol yang mudah terlupakan. 
Battle sequence-nya didominasi CGI yang mengemas seluruh aspek, mulai karakter sampai setting. Pertempuran di istana dan klimaks hampir 100% memakai CGI. Kesan cartoonish akibat kualitas tak seberapa bisa dimaklumi mengingat ini bukan produksi Hollywood, walau pilihan full CGI mengundang dipertanyakan mengingat bujet film ini setara pendahulunya ($64 juta dollar). Di sini barulah Tsui Hark unjuk gigi mempertontonkan kepiawaian merangkai hiburan penuh warna. Dibantu desain produksi mumpuni, Hark sukses mewujudkan visi menghadirkan visual spectacle berisi kostum pula tata set dan properti meriah sebagaimana diperlihatkan opening dan setting istana, bak membawa keramaian produksi Bollywood berskala besar. 

Skala pertarungan pun lebih besar dan pengemasan Hark terbukti kreatif. Berbagai adegan aksi khususnya klimaks memiliki apa yang jarang kita temui pada Hollywood blockbuster, yakni imajinasi. Bayangkan pertempuran Wukong dan Tang Seng melawan "tiga Buddha" di tengah samudera itu didukung efek visual mahal Hollywood. Epic. Sayangnya rangkaian action sequence-nya terasa artificial karena Hark sekedar menaruh fokus pada menumpahkan visual semeriah mungkin tanpa membangun ketegangan atau meyakinkan penonton bahwa yang tersaji di layar adalah makhluk hidup, bukan saling serang antar tokoh kartun. It looks cool, but nothing at stake there, no life. 

GUNUNG KAWI (2017)

Kita tahu track record Nayato Fio Nuala. Sepanjang karirnya selama hampir 14 tahun, telah 83 kredit penyutradaraan didapat (plus berbagai posisi lain). Bersama Sultan KK Dheeraj, Baginda Nayato selalu jadi bahan bulan-bulanan akibat karya mereka yang selalu "aneh bin ajaib". Tapi kita sering lupa bahwa sejatinya Nayato menyimpan passion besar terhadap sinema. Seleranya pun bagus, setidaknya dibanding sutradara-sutradara penghasil film buruk lain. Saya cukup yakin, mayoritas sutradara tersebut jangankan suka, belum tentu mereka pernah menonton karya-karya Wong Kar-wai, influence terbesar Baginda Nayato khususnya dari segi teknis. Dia tak menyukai "The Godfather" karena cara bertuturnya, tapi itu lain cerita.

"Gunung Kawi" ditinjau lewat aspek mana pun bukanlah film bagus. Merupakan sekuel bagi "Dilarang Masuk..!" (review di sini). "Gunung Kawi" membawa konsep komedi-horor serupa film pendahulunya menerapkannya pada formula klasik berupa para remaja yang diteror makhluk gaib di tengah hutan. Tentu naskah garapan Ery Sofid ("Kastil Tua", "Pocong Pasti Berlalu", "Di Sini Ada Yang Mati") sama sekali belum layak disebut solid merajut cerita pula menggampangkan resolusi konflik, tapi setidaknya enggan mencoba sok pintar dengan kejutan dipaksakan misalnya. Semua disusun seperlunya walau logika bertutur kerap dipertanyakan. 
Adit (Maxime Bouttier) mendapati sang ayah, Drajat (Roy Marten) bertingkah aneh, sering berhalusinasi akibat tak lagi memberi tumbal sebagai syarat pesugihan yang ia dapat di Gunung Kawi. Pabrik rokok selaku sumber mata pencahariannya pun bangkrut seketika. Merasa iba, Adit memilih mengajak teman-temannya pergi ke Kawi guna mencari obat bagi Drajat. Kenapa ia repot-repot menantang bahaya alih-alih mencari dukun sakti di sekitar? Karena kalau begitu filmnya takkan bisa dibuat. Sebagaimana manusia waras pada umumnya, teman-teman Adit awalnya menolak, terlebih trauma kejadian di film pertama belum hilang. Namun didorong rasa setia kawan, mereka memutuskan bersedia menemani Adit ketimbang meyakinkan ada cara lain yang lebih mudah dan aman. 

Serupa film pertama, kebanyakan sentuhan komedinya cenderung mengesalkan daripada menyenangkan, khususnya saat melibatkan karakter Bang Jono (Reymon Knuliqh), satpam sekolah yang tak pernah serius, selalu asal bicara. Film ini total berkomedi, di mana para hantu pun tak ketinggalan mengumbar aksi konyol. Menurunkan kadar kengerian, namun Nayato seperti sadar akan ketidakmampuan mengemas penampakan seram, lalu memilih pendekatan "so-bad-and-stupid-it's-good". Berhasil? Pastinya tidak. Sepertiga akhir durasi ketika filmnya mengembalikan setting ke perkotaan jadi rutinitas jump scare berisik yang diperparah tata suara perusak gendang telinga. Paling tidak Nayato dan rekan sudah jujur, sadar, dan tahu film macam apa ini.
"Gunung Kawi" walau dipenuhi sinematografi gelap tak kreatif standar suguhan horor berlokasi di hutan, sempat mengembalikan ingatan atas kepiawaian Nayato mengemas gambar apik. Cuma sekali, tepatnya sewaktu Roro (Roro Fitria) menari. Adegan itu menggelikan akibat akting over-the-top layaknya sinetron kolosal Indosiar dari sang aktris, tetapi warna-warni tata artistiknya cukup menghibur mata. Sekilas potensi Nayato turut tampak kala protagonis mulai memasuki area Gunung Kawi. Kamera menangkap sedikit suasana hutan diiringi versi lambat lagu "Aku Tak Biasa". Menggarap ulang lagu lama dengan tempo lambat tengah menjadi tren di Hollywood. Bukan fakta mencengangkan bagi pembuat film, tapi membuktikan Nayato "melek" akan perkembangan film. Adegannya sendiri sejenak terkesan creepy, menyiratkan misteri yang segera menghampiri walau segera dirusak oleh dipaksakannya humor hadir di segala situasi.

Ditutup oleh ending yang memperlihatkan kebingungan penulisnya menutup cerita, "Gunung Kawi" meski buruk merupakan peningkatan kecil dibanding beberapa film terakhir Nayato yang mengingatkan betapa ia bukan seutuhnya sutradara nihil talenta, berpotensi menghasilkan karya mengesankan apabila didukung naskah kuat. Nayato bisa membuat film bagus. Usahanya di awal karir dahulu kentara mengarah ke sana. Sayang, deretan karya buruk dan pengaruh industri semakin mengikis potensi serta usaha tersebut. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

GENERASI KOCAK: 90AN VS KOMIKA (2017)

Bayangkan anda membeli sarden, lalu begitu kalengnya dibuka isinya ikan teri, cuma seekor pula. Sama-sama ada ikan di dalamnya tapi pasti anda kesal, merasa tertipu. Bukan saja berbeda, kualitasnya pun di bawah barang yang seharusnya. Begitulah rasanya menonton mayoritas film produksi Sultan KK Dheeraj (KKD) misal "Pocong Mandi Goyang Pinggul", "Rintihan Kuntilanak Perawan", sampai yang paling menghebohkan, "Mr Bean Kesurupan Depe". Hal sama terulang pada "Generasi Kocak: 90an vs Komika" yang bagaikan penghinaan untuk kata "kocak", era 90an dan para komika. 

Mungkin KKD membenci istilah "kocak" sebab karyanya tak pernah layak mendapat sebutan itu. Dia pun bak membenci 90an karena begitu dikenang hingga membuat film-filmnya terlupakan, juga komika yang dewasa ini meraih kesuksesan, dipuja melebihi dirinya. Seperti Dewa yang tidak lagi disembah, lalai diberi sajen, wajar beliau marah kemudian bersabda "Wahai rakyatku dan saudara-saudaraku. Janganlah kita larut dalam demokrasi yang menyesatkan (fitnah). Masih banyak cara yang lebih ksatria menuju satu tujuan". Ah, maaf. Sepertinya saya keliru mengutip sabda dari Sultan berbeda.
Siapkan mental anda, karena saya segera membeberkan salah satu sinopsis paling absurd semenjak kata "sinopsis" pertama kali diperkenalkan. Allan (Afif Xavi) adalah anggota Gangster Komika yang dipimpin Naga Komika (Anyun Cadel), sementara teman masa kecilnya, Dellon (Adi Bing Slamet) berasal dari kelompok musuh, Gangster 90an milik Si Naga 90an (Kadir). Keduanya bekerja sama mengkhianati geng masing-masing, mencuri emas batangan kepunyaan Si Naga 90an, membuat mereka menjadi buronan. Suatu hari Allan kelimpungan saat kedua orang tuanya (Jaja Miharja dan Hj. Tonah) datang ke Jakarta, sebab ia mengaku berprofesi sebagai dokter. Dibantu Dellon serta pacar masing-masing, Susi (Arafah Rianti) dan Mia (Resti Wulandari), Allan menciptakan sandiwara guna menipu ayah dan ibunya. 

Menyebut lubang logika bodoh dalam naskah garapan Herry B. Arissa ("Hantu Juga Selfie", "Pelet Kuntilanak") seperti mencari banci di Taman Lawang. Mudah ditemukan, tapi saya enggan melakukannya. Walau demikian beberapa poin mesti diutarakan. Pertama dan paling utama tentu ketiadaan momen Gangster 90an melawan Gangster Komika sebagaimana tertuang di judul. Ya, mereka diceritakan bermusuhan, tetapi cuma sekali berbagi screentime, Konteksnya pun bukan pertempuran. Dalam interpretasi "versus" paling asal sejak "Batman v Superman" ini, keduanya justru memburu Allan dan Dellon, dua gangster yang sama sekali tak pernah diperlihatkan beraksi sebagai gangster. Saya gagal pula memahami definisi "gangster" film ini. Kegiatan pihak komika sepanjang film hanya mendengar lawakan tak lucu sang bos, sedangkan Si Naga 90an asyik bermain arcade "Street Fighter". 
Jangan harap menemukan paparan menarik soal gesekan dua generasi di saat referensi budaya populer 90-an yang ada ditempatkan sedemikian asal. Herry B. Arissa dan sutradara Wishnu Kuncoro ("Dendam Arwah Rel Bintaro", "Jeritan Danau Terlarang Situ Gintung") sekedar membuat checklist barang populer di masa itu (tazos, game boy, walkman, yoyo, telepon umum dan lain-lain), menampilkannya tanpa substansi. Bagi pembuat film ini, seorang gangster bermain tazos di cafe, atau memainkan walkman di mobil yang di dalamnya pasti terdapat pemutar kaset adalah hal wajar. 

Berkedok nostalgia, "Generasi Kocak: 90an vs Komika" mengumpulkan sosok komedian tersohor yang lagi-lagi hanya bertugas melontarkan referensi. Sebutlah Mandra sebagai supir taksi. Kehadirannya sekedar untuk memfasilitasi dialog tentang Munaroh dan oplet (referensi perannya di "Si Doel"). Kadir urung bertutur memakai logat Madura ciri khasnya. Sementara Jaja Miharja kebagian satu adegan yang paling mendekati taraf lucu, namun gagal memancing tawa akibat telah diungkap dalam trailer. Satu poin positif dari para legenda tersebut yakni mereka berusaha sekuat tenaga melucu, memberi effort yang harus dicontoh komika junior. They belong to something better and more respectful than this.
Ketimbang nostalgia, "Generasi Kocak: 90an vs Komika" cenderung membuat gila. Apalagi kala caranya mengakhiri kisah menganut ilmu yang tertuang pada kitab storytelling Sultan KKD, yang berbunyi "Jika ceritamu belum usai ketika durasi mencapai 80 menit, alangkah baiknya engkau selesaikan saja memakai narasi singkat, dengan begitu penghematan biaya mampu didapat." Apabila anda belum dan hendak menonton film ini, jangan baca kalimat di bawah, sebab saya akan menuliskan SPOILER berupa ending. Tetapi jika tidak, selamat menikmati dan mencerna absurditas yang ditawarkan. SPOILER DIMULAI. Setelah klimaks saat Allan dan Dellon tertembak oleh geng 90an dan komika, keduanya dirawat di rumah sakit. Lalu kita mendengar voice over yang menuturkan bahwa mereka mengembalikan emas curian, bertobat, dan Allan akhirnya benar-benar lulus sebagai dokter, sedangkan Dellon menjadi polisi. SPOILER BERAKHIR

Anu, maaf, bagaimana? Saya kurang paham. SPOILER DIULANG. Kita mendengar voice over yang menuturkan bahwa mereka mengembalikan emas curian, bertobat, dan Allan akhirnya benar-benar lulus sebagai dokter, sedangkan Dellon menjadi polisi. SPOILER BERAKHIR. Maaf, saya pasti salah dengar, bisa diulang sekali lagi? SPOILER DIULANG SEKALI LAGI. Kita mendengar voice over yang menuturkan bahwa mereka mengembalikan emas curian, bertobat, dan Allan akhirnya benar-benar lulus sebagai dokter, sedangkan Dellon menjadi polisi. SPOILER BERAKHIR LAGI. Ya. Terserah kau sajalah Sultan. Hamba bukan apa-apa dibandingkan Sultan. 

Beberapa penonton (sekitar tujuh sampai delapan orang) yang memenuhi baris di belakang saya kerap tertawa sepanjang durasi. Mereka memasuki studio sambil berteriak, tertawa sendiri, bicara menggunakan bahasa kasar, bahkan ketika film telah dimulai, juga duduk sembari mengangkat kaki ke sandaran kursi di depannya. Tidak ada sopan santun. Seenaknya. Begitu pula cara film ini melontarkan humornya. Asyik bergurau sendiri tanpa mempedulikan ketepatan penempatan, melontarkan komedi-komedi tasteless nan menyakitkan. Lucu atau tidaknya komedi memang subjektif. Sah-sah saja apabila anda terhibur oleh "Generasi Kocak: 90an vs Komika". Silahkan bergabung dengan golongan penonton seperti di atas selaku target pasar film ini. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

MANCHESTER BY THE SEA (2016)

"Life is a comedy written by a sadistic comedy writer". Baris kalimat dari "Cafe Society" milik Woody Allen tersebut cocok menggambarkan perjalanan Lee Chandler (Casey Affleck), protagonis dalam "Manchester by the Sea". Film yang disutradarai sekaligus ditulis naskahnya oleh Kenneth Lonergan ("You Can Count On Me", "Margaret") ini sejatinya bukan komedi. Sebaliknya, sarat akan tragedi. Namun layaknya kisah tragicomedy kebanyakan, penderitaan dan situasi tak nyaman justru sumber kejenakaan. Lonergan memang "kejam" menempatkan karakter di tengah kepedihan, menggiring pada kesadaran bahwa posisi kita selaku observer, pihak ketiga yang tak terlibat langsung dengan satu peristiwa dapat memancing perspektif berlainan.

Filmnya mengawali narasi dengan memperlihatkan keseharian Lee Chandler yang bertanggungjawab merawat apartemen tempatnya menetap, mulai membersihkan salju, memperbaiki keran bocor, hingga sedot WC. Walau sigap bekerja, kita (dan para tetangga) mendapati Lee sebagai pria yang pendiam dan tidak ramah. Bahkan ia sempat berucap kasar pada pemilik apartemen, juga memicu perkelahian di bar. Suatu hari ia menerima kabar duka yang mengharuskannya pulang ke kampung halaman di Manchester-by-the-Sea, Massachusetts. Di sana Lee mesti menatap trauma akibat tragedi masa lalu sembari membantu keponakannya, Patrick (Lucas Hedges) menghadapi hal serupa.
Harmonisasi vokal sopran pada adegan pembuka mengingatkan saya akan cara quirky comedy ala Wes Anderson mengawali kisah (kelak juga terdengar megah menguatkan dramatisasi), dan sungguh "Manchester by the Sea" dipenuhi kecanggungan menggelitik. Lonergan membawa penonton memandang situasi "sulit" seperti pewartaan berita duka atau pemberitahuan jika seseorang menderita penyakit fatal dari kacamata berbeda. Tentu segala situasi itu tidak nyaman dan Lonergan berniat menunjukkan betapa kesan awkward menyimpan nuansa begitu kaya, bukan sedih belaka. It could be funny, dramatic, tragic, heartbreaking, lovely. Butuh kepekaan plus kejelian tinggi untuk menyulap tragedi menjadi tawa, dan keduanya dipunyai Kenneth Lonergan. 

Penonton dibuat ikut merasakan tapi dibatasi supaya tak merasuk terlampau dalam agar tetap bertindak selaku pengamat (tidak terlibat langsung), menjaga objektifitas, memungkinkan kita menangkap beragam rasa tersebut. Demi menghasilkan itu, Lonergan kerap menggunakan medium long shot (seluruh badan aktor terlihat) dan mid-shot (setengah badan) dipadukan kamera statis juga pengambilan gambar tanpa putus yang memfasilitasi observasi penonton secara jelas nan menyeluruh. 
Lonergan memakai quick cuts mendadak untuk menyusun pergerakan alur yang bisa tiba-tiba pindah dari masa kini menuju flashback, menampilkan perbedaan dalam diri Lee. Dahulu ia adalah bad boy, hidup bahagia bersama sang istri, Randi (Michelle Williams) dan tiga buah hati. Apa yang mendorongnya berubah menjadi sosok tak ramah merupakan misteri, keping demi keping puzzle yang perlahan mulai terisi lengkap, menjaga atensi penonton melalui pertanyaan. Quick cuts-nya memiliki beberapa fungsi lain: menguatkan dinamika, intensitas, bahkan kejenakaan. Gaya itu turut menyebabkan pergerakan alur terasa chaotic, suatu kesengajaan guna mewakili kekacauan hidup Lee. 

Naskahnya membentuk studi kokoh seputar proses karakter berurusan dengan trauma. Lee harus membantu Patrick melewati tragedi, tapi ia pun dipaksa menghadapi kepedihan masa lalunya. Lee menyamakan kondisi sang keponakan dengan dirinya, menyeret Patrick pergi, bersembunyi, menjauh sebisa mungkin dari sumber duka. Suatu hal yang selama ini ia perbuat. Padahal Patrick ingin menjalani hari seperti biasa, bermain band, hockey, dan bercinta dengan dua kekasihnya. Sadar atau tidak, Lee bukan menolong Patrick, melainkan dirinya sendiri. Lee ingin membawa Patrick pergi supaya ia pun dapat menjauh dari duka. Walau menyiratkan harapan termasuk dalam dua kalimat terakhir saat Lee dan Patrick saling melempar bola ("Just let it go", "Heads up"), konklusinya enggan memaksakan akhir bahagia, bergerak natural sebagai hasil yang pantas didapat dari proses sang tokoh utama. 
Di balik paparan mengenai duka dan tragedi, "Manchester by the Sea" juga merupakan studi manusia sebagai makhluk sosial yang takkan pernah lepas dari interaksi antar sesamanya. Apa pun kondisinya kita pasti menemui itu, harus menjalaninya. Karenanya kecanggungan sebagaimana banyak muncul dalam film ini acap kali tercipta. 

Cara bicara menggumam, mata sendu, sampai aura kerapuhan adalah beberapa aspek yang jamak dijumpai dari performa Casey Affleck. Typical from Casey, but he's so good at those things. Penampilan Casey di sini bagai kulminasi atas gaya aktingnya tersebut, tampak alamiah, kaya akan gestur dan ekspresi wajah yang meski kecil, teramat kuat mewakili emosi. Lancar pula Casey memainkan dua sisi berlawanan (sebelum dan sesudah tragedi) milik Lee. Punya porsi sedikit, Michelle Williams tetap mencuri perhatian, menyentuh hati ketika Randi mengungkapkan kepedihan terpendamnya pada Lee secara emosional. Kyle Chandler sebagai Joe, kakak Lee, mungkin tak banyak mendapat sorotan di award season, namun kemunculannya memenuhi tugas selaku peran pendukung, membuat penonton mudah percaya akan kasih sayang dan ikatan kuat dua saudara.