LIFE (2017)

"In space, no one can hear you scream". Tagline ikonik milik "Alien" karya Ridley Scott ini menjelaskan alasan mengapa horror yang bertempat di luar angkasa selalu mengerikan. Kegelapan, ketidaktahuan, dan kehampaan tanpa batas setia mengelilingi. Tidak peduli formula sama telah berulang kali digunakan, bayangan bahwa kesalahan kecil bisa berujung kematian, atau lebih buruk lagi, terombang-ambing di tengah ketiadaan tak berujung selalu menghantui tiap kali menyaksikan film serupa. Perasaan itu dihadirkan kembali oleh "Life", karya teranyar sutradara Daniel Espinosa ("Safe House", "Child 44") yang sejatinya formulaik tapi masih efektif.

Pola penceritaannya familiar. Enam awak stasiun luar angkasa internasional tengah mengemban misi meneliti sampel kehidupan Planet Mars yang ditengarai dapat membuktikan keberadaan pertama makhluk extraterrestrial. Bisa ditebak, misi itu menjadi "bumerang" kala organisme yang diteliti (dinamakan Calvin) terus tumbuh, semakin lama semakin besar sekaligus ganas. Sederhana saja, "Life" hanya mengajak penonton menantikan satu demi satu awak jadi mangsa alien. Kepiawaian pengadeganan Espinosa lah penyokong intensitas tinggi di tengah pergerakan predictable alur pula ketiadaan hal baru di ranah horror luar angkasa.
Kualitas CGI hingga desain produksi walau jauh dari buruk, terkesan biasa saja. Melihat aktor-aktor atau properti melayang di gravitasi nol memang tidak lagi mencengangkan. Dibanding beberapa judul belakangan sebutlah "Passengers", "Life" bagai minim kreativitas. Tidak ada gambaran teknologi yang jauh di depan masanya (dipengaruhi pendekatan yang cenderung berusaha realistis) atau pernak-pernik visual lain selaku pemanis. Ditinjau dari sisi teknis, "Life" bukanlah sajian menonjol, namun lain cerita apabila membahas aspek horror

Helplessness merupakan salah satu hal paling saya takuti. Itu sebabnya tatkala teror belum sepenuhnya menggedor di babak awal yang masih didominasi tetek bengek dialog sains rumit, terbayang nasib buruk yang mengintai tokoh-tokohnya, membangun antisipasi. Setelah Calvin mulai beraksi bersenjatakan kecerdasan, kekuatan, plus kemampuan-kemampuan lain yang membuatnya bisa bebas bergerak menuju setiap sudut pesawat, para awak sadar jika tidak banyak hal bisa dilakukan. Mereka terjebak dalam ketakutan akibat rasa tidak berdaya dan ketidaktahuan. Begitu pula saya. Di antara lorong sempit dengan celah-celah kecil yang bisa monster itu masuki, muncul kengerian atmosfer.
Dasarnya, "Life" kental unsur slasher, sehingga eksekusi adegan kematian adalah poin esensial. Metode Calvin menghabisi para manusia sejatinya tak terhitung kreatif, telah sering dijumpai pada bermacam creature feature lain. Desain makhluk extraterrestrial film ini (tersusun atas tentakel-tentakel) juga menyerupai bayi alien dalam "Alien". Untung Espinosa jeli merangkai setumpuk gruesome death scenes yang tak ragu menumpahkan darah, menghancurkan tubuh si korban melalui cara sebrutal dan semenyakitkan mungkin. Mengerikan.

Jangan mengharapkan sajian science-fiction cerdas nan kental usungan drama seputar kehidupan, sebab tujuan utama filmnya sekedar menakuti penonton. Walau demikian, naskah garapan Rhett Reese dan Paul Wernick sempat sesekali berfilosofis mengenai hidup. Misi yang dijalankan bertujuan mencari bukti kehidupan namun berbalik mengancam hidup karakternya. Ironis. Dituturkan pula pembantaian dilakukan Calvin semata-mata proses survival, memposisikan film ini sebagai usaha kedua belah pihak untuk bertahan hidup. Beberapa paparan tersirat lain soal hidup ikut hadir, di mana meski urung digali secara mendalam, cukup menambah layer penceritaan.
Entah sengaja mengikuti tipikal horror khususnya slasher atau murni kelalaian penulis naskah, tokoh-tokoh "Life" yang notabene jenius di bidangnya acap kali mengambil keputuan teramat bodoh. Menariknya, segala kebodohan berbanding lurus dengan meningkatnya intensitas. Reese dan Wernick menggunakan kebodohan tokohnya guna memfasilitasi timbulnya ancaman-ancaman baru. Setiap kematian selalu dipicu kecerobohan. Namun karena kematian merupakan hiburan terbesar filmnya, saya pun tak keberatan memaafkan kecerobohan tersebut. Hanya saja tidak usah berharap mendapati akting memikat dari karakter-karakter macam itu. Ryan Reynolds dan Jake Gyllenhaal memerankan sosok yang sudah jamak keduanya mainkan. Reynolds adalah pria easy going penuh percaya diri, sedangkan Gyllenhaal seorang penyendiri.

Setelah beberapa lama, pola di atas berujung repetitif. Kecerobohan makin mengesalkan dan melelahkan, intensitas pun mengendur. (Spoiler Alert) Sampai tiba ending yang bakal membelah sekaligus mencekik penonton. Some will love it, some will hate it. Pilihan ending-nya mungkin mengkhianati segala hal yang telah karakternya lalui, tapi di sisi lain mencuatkan rasa takut terdalam soal luar angkasa yang diperkuat dengan penggambaran Espinosa terhadap kondisi David (Jake Gyllenhaal) dan Miranda (Rebecca Ferguson). Merupakan keberhasilan sewaktu konklusi suatu film horror terasa menyeramkan. Lagipula bukankah hidup (life) tak selamanya adil? 

POWER RANGERS (2017)

Nuansa campy yang mencirikan serial "Power Rangers" sejak pertama kali ditayangkan pada 1993 (sudah mencapai musim ke-24) tentu sulit menjangkau penonton masa kini. Atmosfer gelap berlebihan layaknya short "Power/Rangers" buatan Joseph Kahn pun bukan jawaban bijak. It's unnecessarily too dark and too violent for this child-friendly show. Dua puluh tahun pasca "Turbo: A Power Rangers Movie", Dean Israelite ("Project Almanac" membawa lagi lima remaja berkostum pelangi ini ke layar lebar dibarengi setumpuk protes dari penggemar, mulai kesan grounded ala "Chronicle" sampai perubahan drastis desain beberapa tokoh seperti Goldar dan Alpha 5. 

Secara mengejutkan, Israelite bersama John Gatins ("Flight", "Kong: Skull Island") sang penulis naskah sanggup mengambil jalan tengah terbaik, menambah sentuhan kelam nan serius tanpa lupa bersenang-senang. Terdapat permasalahan sehari-hari ketika para tokoh utama dianggap bermasalah pula bersinggungan dengan konflik diri maupun sosial sebutlah bullying, sexual identity, gangguan psikologis, dan sebagainya. Namun sebagaimana remaja, tentu semangat memberontak demi kebebasan, hasrat bergembira, serta tingkah polah bodoh pemantik tawa setia mengiringi. Filmnya urung melupakan itu. 
Jason (Dacre Montgomery), Billy (RJ Cyler), Kimberly (Naomi Scott), Zack (Ludi Lin) dan Trini (Becky G) bersama-sama menemukan koin misterius yang memberi kelimanya kekuatan super. Usut punya usut koin tersebut adalah milik Zordon (Bryan Cranston), mantan Ranger merah yang jutaan tahun lalu memimpin Power Rangers melawan Rita Repulsa (Elizabeth Banks), alien sekaligus Ranger hijau yang membelot. Kini Rita bangkit kembali, dan harapan Bumi ada di pundak Jason dan kawan-kawan selaku Power Rangers generasi baru. 

Hampir 90 menit awal (dari total dua jam) dipakai memperkenalkan satu per satu tokoh, kemudian menjabarkan proses mengenali, melatih kekuatan mereka di bawah bimbingan Alpha 5 (Bill Hader) supaya dapat berubah (morphing) menjadi Power Rangers. Sekitar 3/4 durasi nyaris tanpa kemunculan jagoan dalam balutan armor bukan berarti nihil daya tarik, sebab semangat rebellion khas film remaja cukup terasa, mampu menyuntikkan nyawa. Walau selain autisme Billy karakterisasi empat remaja lain kurang memberi ciri, para pemeran utama sanggup mengangkat tensi lewat akting natural pula chemistry solid pencipta interaksi renyah berbumbu humor segar. Terutama RJ Cyler yang menjembatani koneksi penonton dengan karakter-karakternya. Sementara Naomi Scott sempurna sebagai Kimberly yang sedari dulu merupakan crush mayoritas pemirsa.
Beberapa latar karakter cukup kelam namun tidak depresif. They face some serious problems, but they're not gloomy, depressed teenagers, especially after found the power and each others. Serius tanpa harus kelewat melankolis. Mengurangi sentuhan campy bukan berarti film ini menanggalkan kesenangan. Di samping balutan komedi, Israelite mempertahankan keriuhan over-the-top spectacle khususnya kala mengemas klimaks. Meski begitu, sang sutradara masih perlu belajar dari Michael Bay tentang cara merangkai aksi masif melibatkan robot raksasa. Cukup menghibur, hanya kurang bombastis. Israelite belum piawai menghadirkan cool aspect melalui pilihan shots. Contohnya hero shot berupa kelima Rangers berjalan beriringan dibalut slow motion yang cenderung cringe daripada keren. 

Transisi paruh pertama yang lebih membumi menuju kentalnya fantasi paruh kedua berjalan kurang mulus. Seolah sadar tinggal tersisa sedikit waktu, mendadak alurnya melompat dari satu aksi ke aksi Rita Repulsa berikutnya. Patut disayangkan mengingat betapa mulus aliran first act-nya menuturkan hubungan antar-karakter. Kurang cermatnya editing Martin Bernfeld dan Dody Dorn ikut berpengaruh menghasilkan kasarnya pergerakan adegan tersebut. Terkait plot hole, anda bakal menemukan beberapa, sebutlah zord yang entah bagaimana dapat bergabung, dari mana Rangers mengetahui adanya pedang di Megazord, dan sebagainya. Tapi tak perlu dipikirkan. Afterall, this is a movie about five teenagers with rainbow costume, fighting against giant monster inside their giant robot
Pendekatan serius "Power Rangers" sayangnya memakan korban. Elizabeth Banks sebagai Rita dibatasi tuntutan meminimalisir gaya komikal, tak bisa sebebas dan segila Machiko Soga atau Carla Perez di serialnya dahulu. Alhasil Rita menjadi villain membosankan. Usaha menambah bobot penokohan Rita dengan modifikasi latar belakangnya dan Zordon juga terasa mubazir, sebab untuk apa menjadikan keduanya partner masa lalu bila ujungnya tiada ada dampak emosional dalam pertempuran? Sedangkan Zordon yang tidak bijak, meragukan Rangers, bahkan memaksa mereka berlatih guna menghadapi pertarungan berbahaya mencuatkan tanya yang sejak dulu timbul: apakah Zordon seorang pemimpin mulia atau justru sosok egois yang memaksa remaja bertaruh nyawa?

Setidaknya sepercik nostalgia bakal dirasakan oleh penggemar ketika sejumlah momen tampil di layar, mulai terdengarnya bait "Go go Power Rangers" dari lagu tema (semestinya diputar lebih panjang) sampai cameo Jason David Frank dan Amy Jo Johnson selaku pemeran Tommy dan Kimberly di serialnya. This reboot is less-campy than the original series without being too gritty. It's darker yet still very fun to watch. Apabila beberapa perubahan dirasa mengganggu, cobalah berpikiran terbuka karena sederet perubahan tersebut bukan dosa besar yang menyalahi substansi cerita aslinya. Jangan beranjak dulu begitu film berakhir karena ada mid-credit scene menarik berisi tease berkaitan dengan sekuel.

BEAUTY AND THE BEAST (2017)

Poin terpenting dari remake adalah mempertahankan esensi film aslinya, dan bakal makin baik jika mampu menambal kekurangan, menyesuaikan cerita dengan kondisi modern, serta meningkatkan aspek teknis sesuai kemajuan teknologi. "Cinderella" dan "The Jungle Book" merupakan dua contoh live action remake milik Disney yang memenuhi syarat-syarat di atas. Kini giliran Bill Condon ("The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1 & 2", "Dreamgirls") bertugas menghidupkan "Beauty and the Beast" yang lebih dari dua dekade lalu sanggup menjadi film animasi pertama peraih nominasi Best Picture di ajang Oscar. Prepare to feel the magic from this tale as old as time once again. 

Saya percaya anda semua sudah familiar dengan kisah khas fairy tale klasik miliknya, di mana seorang pangeran tampan (Dan Stevens) dikutuk oleh penyihir menjadi makhluk buas mengerikan akibat keangkuhannya. Kutukan itu hanya bisa hilang jika Pangeran mencintai dan dicintai seseorang sebelum kelopak mawar terakhir dari sang penyihir jatuh. Di desa, Belle (Emma Watson) adalah gadis tercantik namun dianggap aneh karena selalu menghabiskan waktu membaca, bahkan menolak cinta Gaston (Luke Evans), pria kuat idola semua wanita. Ketika ayahnya, Maurice (Kevin Kline) tersesat dan ditangkap oleh Beast, Belle bersedia menggantikan posisi sang ayah untuk tinggal selamanya di istana. Lalu seperti anda tahu, itulah awal tumbuhnya benih cinta mereka.
Walau dikukuhkan sebagai klasik, harus diakui animasinya dulu menyimpan beberapa lubang alur yang hingga sekarang kerap diangkat selaku bahan diskusi. Stephen Chbosky dan Evan Spiliotopoulos menyadari persoalan tersebut dalam menulis naskahnya, kemudian melakukan perubahan-perubahan kecil yang berdampak besar, semisal berkenaan timeline yang tak lagi memancing tanya soal usia Pangeran atau asal mula keberadaan Chip (Nathan Mack), si cangkir kecil putera Mrs. Potts (Emma Thompson). Chbosky dan Spiliotopoulos turut menyelipkan fakta jika sang penyihir menghilangkan memori warga kampung tentang Pangeran dan istana supaya ketidaktahuan mereka terasa masuk akal. Secara umum, kualitas narasi film ini jauh lebih baik ketimbang pendahulunya.

Penokohan pun bertambah solid. Serupa Beast, Belle dipandang "berbeda" dan statusnya sebagai misunderstood genius ikut ditekankan. Melihat respon negatif warga yang menganggap tidak sepantasnya wanita banyak belajar membuat sosok Belle kian relevan di masa sekarang. Belle versi baru ini juga berani terang-terangan menolak Gaston yang menegaskan kekuatannya. Hubungan Belle dengan ayahnya diperdalam, menambah bobot emosi lewat selipan kisah masa lalu tentang sang ibu. Demikian pula terkait tokoh-tokoh lain. Ada alasan mengapa Gaston begitu terobsesi pada kekuatan, bukan hanya karena dia pria penuh otot tanpa otak. Sementara paparan singkat mengenai orang tua Beast cukup menjelaskan penyebab sikap kasarnya.
Sepertiga awal penceritaan sejatinya sempat tertatih tatkala filmnya bak kekurangan amunisi di samping tata visual memikat mata termasuk gegap gempita warna-warni nomor musikal "Be Our Guest" yang membuktikan insting Bill Condon merangkai nuansa festive. Namun sebagaimana jalinan asmara Belle dan Beast, momen saat "si buruk rupa" menyelamatkan pujaan hatinya dari serangan serigala bertindak selaku titik balik. Keduanya mulai intens berinteraksi, bertukar tawa dan perhatian, memunculkan kehangatan manis yang bakal memancing senyum penonton mengamati perkembangan natural romansa kedua protagonis. Setelahnya, bersiaplah terhanyut, tak kuasa menahan senyum, tawa, kemudian tersentuh dan meneteskan air mata.

Sudah barang tentu puncak kisah cintanya bertempat di adegan dansa. Bill Condon dan tim berhasil menghidupkan momen tersebut, mulai gaun kuning ikonik Belle, kemegahan dekorasi set, iringan lagu tema, hingga sempurnanya pergerakan kamera menangkap setiap gerakan Belle dan Beast yang mewakili komunikasi rasa antara mereka berdua. Segala aspek berpadu menghasilkan sajian yang akan bisa dikagumi para love skeptic sekalipun. Bagaikan tengah menyaksikan perwujudan kesakralan cinta tatkala dua insan saling jatuh hati, mengekspresikan segenap perasaan tanpa perlu berkata-kata. One of the most romantic musical piece ever put on cinema that perfectly defines what "love" is. 
Belle digambarkan sebagai "the most beautiful girl in town" dan Emma Watson mewakili deskripsi itu. Sosoknya lovable dan tegas bersikap. Penuh kasih sekaligus kuat di saat bersamaan. Watson konsisten mempertahankan charm baik kala melakoni porsi drama serius, romansa, komedi, hingga memamerkan kemampuan bernyanyi ditambah antusiasme ekspresif yang dibutuhkan aktris musikal. Saya sempat khawatir Beast kehilangan pesona sebab transisi media animasi ke live action (biasanya) tampil lebih serius, berpotensi melucuti daya tarik ketika makhluk buas ini canggung menyikapi kehadiran sang pujaan hati. Walau butuh waktu, Dan Stevens menggugurkan kekhawatiran saya. Begitu Beast dan Belle semakin lekat, sang aktor berkesempatan menunjukkan sisi kemanusiaan likeable di balik balutan CGI. 

Beberapa perubahan demi memperbaiki beberapa kekurangan narasi versi animasi tak serta merta menurunkan respect Bill Condon pada film aslinya dengan tetap memberi sentuhan tersendiri supaya tak berujung shot-for-shot remake. Para penggemar niscaya bakal bernostalgia melihat sederet adegan direka ulang. Percintaan Belle dan Beast boleh jadi suguhan utama, tetapi film ini menyertakan bermacam bentuk cinta lain, sebutlah cinta Belle untuk Maurice (ayah dan anak) juga keduanya pada sang ibu/istri. Bahkan para perabot selaku karakter pendukung turut diberi kesempatan (their "last moment" is very touching), menjadikan "Beauty and the Beast" sebuah perayaan menyentuh terhadap keindahan cinta. 

TRINITY, THE NEKAD TRAVELER (2017)

Film jalan-jalan tanpa cerita dan hanya mengobral pemandangan. Mungkin demikian selentingan negatif yang bakal disematkan banyak pihak pada adaptasi buku perjalanan laris "The Naked Traveler" karya Trinity ini. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Bersama penulis naskah Rahabi Mandra ("Hijab", "Air Mata Surga), tujuan sutradara Rizal Mantovani ("Bulan Terbelah di Langit Amerika", "5 cm", "Kuntilanak") memang cuma satu, yaitu membuat traveling movie di mana karakternya singgah dari satu tempat ke tempat lain, menikmati keindahan alam sambil sesekali terlibat (sedikit) konflik yang mengajarinya akan satu-dua makna kehidupan. Sayang, poin kedua gagal dimaksimalkan. 

Kegemaran traveling dan menulis blog perjalanan membuat Trinity (Maudy Ayunda) jeli memanfaatkan uang dan waktu. Demi mengumpulkan biaya, ia terpaksa bekerja kantoran sambil rutin merayu sang bos (Ayu Dewi) agar memberinya tambahan jatah cuti. Trinity sendiri memiliki bucket list berisi kegiatan-kegiatan (dari makan masakan khas daerah sampai nongkrong bareng Tompi) yang ingin ia lakukan di berbagai tempat seluruh dunia. Pemenuhan bucket list itu membawanya pada serangkaian pengalaman menarik, bertemu orang-orang baru, termasuk sesama traveler bernama Paul (Hamish Daud) yang dirasa dapat mengakhiri kesialannya dalam hal menjalin hubungan cinta.
"Trinity, The Nekad Traveler" sebenarnya tidak wajib menyertakan drama kehidupan, karena konflik dalam kegiatan traveling sendiri pada dasarnya beragam, sebutlah kesulitan mengumpulkan dana, adaptasi di tempat baru, atau (paling fatal) tersesat. Naskah Rahabi Mandra sempat menyelipkan rangkaian masalah itu, bahkan tak lupa mencantumkan solusi yang cukup untuk membuat penonton awam bergumam "oh begitu toh caranya". Sayang, ketimbang rutin menghadirkannya di tiap destinasi Trinity, aspek tersebut hanya muncul sesekali, menjadikan mayoritas durasi film tetap didominasi presentasi pemandangan alam. 

Beruntung sinematografi Yadi Sugandi piawai memamerkan keindahan. Memanfaatkan kesempatan mengambil gambar di bermacam surga dunia, Yadi mengemas visualnya dengan ketepatan warna serta sudut kamera yang memfasilitasi penonton ikut menikmati, terbuai oleh kecantikan tiap lokasi khususnya Maldives selaku puncak. Di sinilah keberadaan Rizal Mantovani di kursi penyutradaraan terasa cocok. Sang sutradara mungkin sering keteteran bercerita, namun tidak demikian soal merajut visual (he's one of the best Indonesian music video director). Selain indah, alam pun megah, dan "Trinity, The Nekad Traveler" mampu menonjolkan kemegahan itu, meski seiring waktu berjalan keelokan gambarnya kurang menggigit akibat alur tipis minim gesekan.
Seolah menyadari kekurangan tersebut, paruh akhir perjalanan diisi percikan intrik antara Trinity dengan kedua sahabatnya, Yasmin (Rachel Amanda) dan Nina (Anggika Bolsterli). Andai berkonsentrasi pada paparan nilai persahabatan saja, filmnya berpotensi tampil hangat dan manis. Namun mencapai babak konklusi, film ini berambisi memberi pelajaran lebih "bermakna" seputar kesadaran Trinity akan sikapnya yang malah melemahkan penceritaan saat kemunculannya terkesan mendadak akibat porsi eksplorasi minim. Jangankan menyentuh, saya gagal diyakinkan soal motivasi beberapa keputusan yang Trinity ambil di akhir. Konklusi adalah poin vital. Konklusi lemah dapat meruntuhkan segala keberhasilan yang dicapai suatu film, dan "Trinity, The Nekad Traveler" mengalami hal serupa.

Cerita boleh lemah, kehadiran Maudy Ayunda sebagai lead actress mengangkat daya tarik perjalanannya. She's so charming, funny, and likeable. Entah adegan romantis bersama Hamish Daud atau bersanding dengan Babe Cabita memamerkan kebodohan menggelitik mampu begitu meyakinkan ia lakoni. Maudy juga sukses mengimbangi keliaran Ayu Dewi, menjalin interaksi "renyah" yang selalu menarik setiap kali mengisi layar. Terpenting, kecerdikan sekaligus kesan spiritful dari Trinity sang traveler sanggup ia tampilkan. Saya pun tak keberatan jika harus menghabiskan hampir dua jam melihatnya jalan-jalan menikmati pemandangan walau tanpa diiringi banyak gejolak sekalipun. 

BID'AH CINTA (2017)

Film religi tanah air sering terjebak dalam pola penuturan pesan menggurui atau tokoh utama kelewat sempurna. Daripada merasa damai dan dicerahkan saya justru merasa dibodohi, terlebih ketika dewasa ini banyak konflik didasari agama, membuyarkan sikap toleransi yang semestinya mengiringi. Jangankan antar umat berbeda agama, mereka dengan agama sama namun berlainan aliran pun saling serang dan menyalahkan. Pasca keberhasilan "Mencari Hilal" menebarkan sejuknya perdamaian dua tahun lalu, "Bid'ah Cinta" garapan Nurman Hakim ("3 Doa 3 Cinta", "Khalifah", "The Window") mengusung pesan tak jauh beda: kebersamaan di tengah perbedaan.

"Bid'ah Cinta" membawa penonton ke sebuah kampung di mana masyarakatnya terbelah menjadi dua golongan Islam. H. Rohili (Fuad Idris) beserta murid-muridnya bersikap modern. Mereka merayakan maulid Nabi dengan meriah, berziarah kubur, pula mempersilahkan seorang transgender bernama Sandra (Ade Firman Hakim) beribadah bersama. Sebaliknya, H. Jamat (Ronny P. Tjandra) dan sepupunya, Ustaz Jaiz (Alex Abbad), lebih tradisional dan keras, menganggap semua itu sebagai bid'ah. Tapi layaknya kisah Romeo dan Juliet, putera-puteri kedua belah pihak, Khalida (Ayushita Nugraha) dan Kamal (Dimas Aditya) saling mencintai walau hubungan keduanya terbentur selisih paham penerapan ajaran agama.
"Bid'ah Cinta" mengambil lingkup bukan saja di internal dua keluarga, melainkan sekampung. Trio penulis naskah Nurman Hakim, Zaim Rofiqi dan Ben Sohip solid membangun detail seputar seluk beluk setting-nya termasuk para warga dengan problematika masing-masing. Selain Sandra dengan usahanya diterima masyarakat, ada Faruk (Wawan Cenut) yang kesengsem pada Khalida tapi selalu menghabiskan harinya mabuk oplosan bersama Ketel (Norman Akyuwen). Kedua tokoh ini mengajak kita memasuki sisi lain kampung tersebut, menggambarkan bahwa di tengah gesekan dua kubu alim ulama, nyatanya praktik maksiat kokoh merajalela. Berkatnya, film ini terasa lengkap menangkap kondisi suatu kelompok masyarakat, bukan perseorangan belaka.

Masalahnya, pembengkakan durasi tak bisa dihindari. Apalagi terdapat repetisi dalam beberapa peristiwa seperti pertengkaran Khalida dan sang kakak atau dangdut "dadakan" di tempat minum. Mungkin Nurman Hakim memang berniat menekankan pengulangan peristiwa, tapi sewaktu pengadeganan (sudut pengambilan gambar, tempo, intensitas rasa) turut serupa, filmnya jadi kerap terasa melelahkan. Ditambah lagi keberadaan momen-momen singkat selaku penjelas yang sejatinya tak perlu, membuat pergerakan alurnya kurang nyaman akibat terlampau sering berpindah dari satu titik ke titik berikutnya. 
Pertanyaannya, bisakah "Bid'ah Cinta" bersikap adil menuturkan dua bentuk Islam yang ada? Ternyata bisa. Kedua sisi diberi kesempatan bersuara dan penonton pun digiring untuk merenungkannya. Pihak H. Rohili nampak toleran pula berpikiran terbuka, sedangkan Ustaz Jaiz dan pengikutnya lebih kaku, tegas cenderung kasar. Tapi bukan berarti kelompok kedua selalu disudutkan, sebab H. Rohili yang awalnya menyatakan tidak suka akan model dakwah penuh amarah nyatanya terpancing juga emosinya. Bahkan Ustaz Jaiz sanggup merangkul Faruk dengan caranya sendiri tatkala H. Rohili mengecam sikap Faruk, mematahkan hatinya. Saya pun seketika menaruh hormat pada Jaiz begitu mendengar sang ustaz mengutuk aksi terorisme. 

Walau demikian, sikap adil tak menghalangi Nurman Hakim menyertakan sudut pandangnya. Fakta bahwa penonton lebih banyak diajak menyambangi kerabat-kerabat H. Rohili (termasuk kondisi rumah yang lebih hangat dibanding keluarga H. Jamat) memancing simpati untuk mereka yang otomatis menempatkan Ustaz Jaiz dan kawan-kawan sebagai sosok "asing". Tatkala muncul tindakan ekstrim, sulit untuk tidak mengantagonisasi mereka. Keputusan itu tidak keliru. Artinya sang sutradara lantang menyuarakan prinsip alih-alih bermain aman pada objektivitas tanpa taji. Lagipula, film ini urung mencela golongan kaku, termasuk menolak memberi cap teroris untuknya. Menengok kondisi sosial Indonesia saat ini, definisi toleransi "Bid'ah Cinta" yang sedikit berpihak pada mereka dengan pikiran terbuka merupakan pilihan bijak. 
Alex Abbad dan Fuad Idris menonjol di antara jajaran cast selaku pentolan masing-masing kubu. Alex Abbad bergerak dan bertutur layaknya seseorang yang mantap menjunjung kepercayaannya. Dia tidak kenal ampun melawan apa saja yang dianggap menyalahi aturan agama, namun bukan pula manusia tak berhati. Saat Sandra diusir paksa dari masjid, ia membisu, tapi itu lebih karena ketiadaan pilihan lain, sebab ekspresi Alex memancarkan iba. Khalidah disebut sebagai wanita tercantik pujaan seluruh pria kampung. Selain paras ayu, kelembutan laku Ayushita yang tidak pernah terjerumus pada keklisean tokoh wanita solehah lembut nan luar biasa (sok) suci menguatkan deskripsi tersebut.

Bersenjatakan cinta, "Bid'ah Cinta" berhasil menyuarakan pesan perdamaian juga harmoni yang acap kali disimbolkan oleh tata visual lewat beberapa shot simetris memperlihatkan jendela. Ketika cinta dua insan manusia dipersatukan, terjadi pula "perkawinan" dua sisi berlawanan yang sejatinya dan semestinya bersatu. Terlalu naifkah film ini memposisikan cinta selaku magnet penyatu? Sebagaimana dituturkan Kamal, cinta tidak sesederhana itu. Cinta maha besar. Anugerah terbesar Allah bagi umat manusia. Akhirnya, entah pihak dengan pandangan Islam kaku, terbuka, bahkan pemabuk nihil ibadah sekalipun layak berkumpul, bergembira bersama, meninggalkan sang pelaku terorisme sendirian di luar, menatap penuh benci dan iri.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

THE RED TURTLE (2016)

Wajar bila anda mengira "The Red Turtle" merupakan hasil adaptasi, sebab debut penyutradaraan film panjang Michael Dudok de Wit ini memang bagai berada dalam dimensi serupa folklore, termasuk bagi kita penonton Indonesia di mana kisah seorang pria menjumpai peristiwa magis sudah amat familiar. Tapi rupanya hasil kolaborasi dua rumah produksi, Studio Ghibli dan Wild Bunch ini merupakan hasil buah pikir orisinal Dudok de Wit bersama Pascale Ferran selaku penulis naskah. Sebagaimana cerita rakyat pada umumnya pula, salah satu nominasi film animasi terbaik pada Oscar 2017 ini jeli menyelipkan pesan membumi seputar kehidupan di balik polesan fantasi. 

Mengusung semangat visual storytelling, Dudok de Wit meniadakan bahasa verbal, menggunakan gambar untuk menuturkan cerita seorang pria tanpa nama yang terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Beberapa menit awal berisi perjalanan sang tokoh utama mengelilingi pulau, mencari cara agar dirinya bisa segera keluar dari sana. Pemandangan sekitar diperlihatkan, aktivitas para penghuni (hewan-hewan) diungkap, seperti kepiting mencari makan di bibir pantai sampai kelelawar di angkasa. Hampir tidak ada "hal besar" terjadi, suasana pun terasa sunyi, namun kemasan visual serta musik menghindarkan kekosongan, menjauhkan rasa bosan meski beberapa momen sempat terkesan agak berlama-lama. Tapi toh durasinya pendek (80 menit) sehingga kepadatan alur tak seberapa terganggu. 
Animasinya cenderung mendekati gaya Eropa ketimbang Studio Ghibli. Warna-warni kontras di pagi hingga sore hari serta monochrome tatkala malam setia mengisi dengan tokoh manusia didesain sederhana (mata hanya berupa dua titik hitam) sementara alamnya lebih kaya akan tekstur. Sang sutradara kerap menempatkan tokohnya kecil di tengah, dikelilingi hamparan landscape seolah ingin menekankan ketidakberdayaan manusia di antara kebesaran alam. Musik buatan Laurent Perez del Mar mampu mewakili suasana, memunculkan sense of wonder. Lagu temanya pun bakal terus tertanam di otak walau film telah berakhir sekalipun. 

Setelah beberapa waktu, sang pria memutuskan membuat rakit untuk meninggalkan pulau. Namun upayanya selalu gagal akibat rakitnya dirusak oleh hal tak terlihat yang kemudian diungkap sebagai seekor penyu besar berwarna merah. Merasa kesal, dia berniat membunuh si penyu supaya tidak ada lagi yang mengganggu usahanya. Dari sini "The Red Turtle" mulai menampakkan "wujud aslinya". Selayaknya folklore, di balik elemen fantasi ada kisah sarat pesan yang sejatinya begitu dekat dengan keseharian kita. Dudok de Wit dan Ferran menjadikan hubungan aneh protagonis dengan penyu merah sebagai perlambang proses kehidupan.
It's about us, human, live in a strangeland called "world". Manusia terdampar di keterasingan dunia luas, berusaha bertahan hidup, terlibat hubungan "benci jadi cinta", kemudian memutuskan settling down, berkeluarga dan tak lagi berhasrat menantang dunia, hingga suatu hari setelah melepas buah hatinya yang beranjak dewasa pergi yang tersisa adalah menikmati kedamaian hari tua sebelum ajal menjelang. Perjalanan kehidupan itu juga tak lepas dari kuasa alam yang menyediakan kebutuhan namun dapat pula merenggutnya. Balutan fantasi menyulap kesederhanaan kisah tersebut menjadi semakin indah dan ajaib.

Mungkin bagi sebagian kalangan, ceritanya terlalu naif dan penokohannya tidak kompleks (hanya si A, si B, si C tanpa pencirian khusus), tapi itu bukan masalah besar mengingat "The Red Turtle" memang berkonsentrasi pada merangkai kejaiaban bak dongeng-dongeng masa lalu. Michael Dudok de Wit piawai bertutur memakai visual, membangun bermacam suasana. Ada bahaya menegangkan seperti saat sang protagonis terhimpit di antara tebing sempit bawah air dan momen terjangan tsunami, ada pula cuteness factor hasil tingkah sekelompok kepiting yang ditempatkan sebagai comic relief menggelitik. 

ULAR TANGGA (2017)

"Ular Tangga" punya bekal mencukupi untuk menjadi suguhan horor menarik. Premisnya unik. Keterlibatan Shareefa Daanish pasca lima tahun absen bermain film juga menjadi daya tarik. Fakta di balik layar lain turut pula menyita perhatian, yaitu mengenai Wilson Tirta, produser eksekutif sekaligus pendiri Lingkar Film selaku rumah produksi bagi "Ular Tangga" yang masih berusia 14 tahun, menjadikannya produser film Indonesia termuda. Tidak heran jika gemerlap industri film menarik minat wiraswasta muda ini. Ide cerita Wilson sempat ditawarkan pada Jujur Prananto, namun batal karena proses penulisan naskah Jujur dianggap terlalu lama. Rupanya ini pangkal permasalahannya.

Ketidaksabaran Wilson mendorongnya berpaling pada Mia Amalia ("Luntang Lantung", "Inikah Rasanya Cinta?"). Sedangkan bangku penyutradaraan diisi Arie Azis ("Oops!! Ada Vampir", "Penganten Pocong", "Rumah Hantu Pasar Malam"). Oh Tuhan, mendadak proyek ini terasa mengkhawatirkan. Apakah hasrat mempercepat proses produksi berujung mengesampingkan kualitas? Menengok hasil akhirnya, kecurigaan tersebut jelas beralasan. Bayangkan saja, anda menyaksikan film berjudul "Ular Tangga" lalu mendapati amat minimnya kontribusi permainan itu. Ibarat makan sate ayam dengan porsi daging ayam sangat sedikit. Atau nasi goreng tanpa nasi. Wajar bila sebagai konsumen saya berang, merasa tertipu.
Alkisah, Fina (Vicky Monica) kerap mengalami mimpi buruk yang dicurigainya merupakan pertanda atas kejadian masa depan. Rasa penasaran membuat Fina membaca buku "The Interpretation of Dreams" milik Sigmund Freud sembari berkonsultasi pada seorang dosen (Roy Marten). Saya enggan menyalahkan kebodohan pada film horor mengingat tujuan utamanya adalah menakut-nakuti. Ketidaktepatan ilmu maupun lubang logika bisa dimaklumi. Namun kengawuran "Ular Tangga" sudah kelewatan, menunjukkan kedunguan hasil ketidakpedulian penulisnya. Menyatukan fantasi, mistis, reliji dan sains dalam horor itu lumrah. Namun harus ada poin yang dijadikan pegangan. Seseorang bisa membuat cerita didasari sains lalu melebarkan semaunya berbasis imajinasi ke ranah lain, pun sebaliknya. 

Fokus gambar kerap menyoroti buku "The Interpretation of Dreams" tapi jelas teori Freud (hasrat terpendam, bawah sadar, masa lalu) bukan penopang cerita. Bahkan, setelahnya unsur mimpi tak lagi muncul, beralih sepenuhnya ke mistis. Aneh pula kala Roy Marten selaku dosen awalnya berteori soal sisi terpendam manusia  lewat kalimat yang bak dikutip mentah-mentah dari Wikipedia  sebelum tiba-tiba bicara tentang ilmu lebur sukma, lalu berganti lagi membicarakan agama. Kenapa seorang dosen menggunakan istilah "lebur sukma" ketimbang "astral projection" yang mana lebih scientific? Koreksi jika salah, tapi setahu saya lebur sukma bukan (semata-mata) ajian mengeluarkan roh seseorang dari tubuhnya. 

Tapi sudahlah. Terserah. Semua itu tak penting asal "Ular Tangga" sanggup menghibur. Kembali ke cerita, Fina dan rekan-rekan pecinta alamnya tengah bersiap mendaki Gunung Barong walau ia merasakan firasat buruk. Di tengah pendakian, mereka tak menghiraukan larangan Gina (Shareefa Daanish) sang guide melewati sebuah jalur, dan bisa diduga, teror pun menghampiri. Hantu-hantu bermunculan, ditambah misteri tentang ular tangga berbahan kayu yang terkubur di bawah pohon besar. Mari lupakan fakta betapa bodohnya para tokoh melanggar pesan sosok yang paham seluk beluk daerah setempat. Mana ada pecinta alam berpengalaman melakukan itu? Kenapa pula pecinta alam nekat mengambil barang misterius di suatu tempat apapun alasannya? Lagi-lagi saya bermurah hati memaafkan kelalaian tersebut.
Film ini jadi tak termaafkan ketika permainan ular tangga urung dimanfaatkan. Setelah menanti sekitar 35 menit, daripada hybrid petualangan fantasi dan horor, papan ular tangga hanya dijadikan jalan menghilangkan satu per satu karakter. Setiap dadu bergulir, terjadi gempa, kemudian seseorang hilang. Begitu seterusnya, menciptakan pola berikut:
Lani menggelindingkan dadu
"Hah? Lani hilang! Ke mana Lani?!"
"Lani! Lani!"
Mereka mencari Lani.
Dodoy menggelindingkan dadu.
"Hah? Dodoy hilang! Ke mana Dodoy?!"
"Dodoy! Dodoy!"
Mereka mencari Dodoy.
Bagas menggelindingkan dadu.
"Hah? Bagas hilang! Ke mana Bagas?!"
"Bagas! Bagas!"

Rasa takut juga gagal dipancing akibat penampakan hantu medioker serta hanya satu jump scare berhasil mengejutkan selama 94 menit durasi. Kengerian semakin nihil akibat kerap tak sesuainya pemilihan lagu. Paling menggelikan kala nomor pop balada "Memori Indah" milik Achie membungkus momen mendekati akhir yang diniati emosional tetapi berujung memancing tawa. Ending-nya berpotensi memuaskan (tipikal tragic cliffhanger khas horor) kalau bukan karena tambahan satu adegan yang memaksakan twist sembari berusaha menambah porsi Shareefa Daanish. Ya, jika anda tertarik menonton "Ular Tangga" karena keberadaan sang aktris, urungkan niatan tersebut. Shareefa hanya muncul di awal dan akhir dengan signifikansi minim serupa board game-nya. Padahal kalau ada yang bisa menyelamatkan "Ular Tangga", Shareefa Daanish orangnya.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

MUSIK UNTUK CINTA (2017)

"Musik untuk Cinta" tergabung bersama judul-judul seperti "Terjebak Nostalgia" dan "Multiverse: The 13th Step" sebagai film Indonesia yang perilisannya mundur tahun lalu. Tapi pencapaian film karya Enison Sianaro ("Long Road to Heaven") ini jauh lebih dahsyat. Telah merampungkan pengambilan gambar di tahun 2011 dan siap tayang pada 2012, karena "satu dan lain hal" (demikian ungkap Ian Kasela sang pemeran utama) mundur empat tahun menjadi 14 Januari 2016 sebelum akhirnya benar-benar tayang di Maret 2017. Luar biasa! Jangka waktu penundaannya hampir setara album "Chinese Democracy" milik Guns N' Roses. Tapi sebagaimana kita tahu, album tersebut berakhir busuk. Demikian pula film ini. 

Sejatinya saya sempat optimis kala menyaksikan adegan pembuka berisi Kirab Budaya Cirebon digarap menarik khususnya dari tata visual. Departemen sinematografi yang dipegang Rudy Kurwet (kenapa nama-nama kru film macam ini selalu ajaib?) sejatinya lumayan. Beberapa sudut pengambilan gambar sepanjang film layak disebut menarik. Namun siapa sangka, gelaran cerita filmnya jauh lebih menarik, unik, sekaligus mengherankan. Sambutlah karakter utama kita, Cecep (Ian Kasela), seorang pemuda dari keluarga miskin dengan keseharian menggarap sawah dan berjualan singkong. Cecep digambarkan sebagai sosok lugu, jujur, baik hati, pokoknya calon menantu idaman. Tapi ada lubang dalam hidup protagonis tercinta kita ini. Dia jomblo. 
Cecep pun memutuskan berkeliling Cirebon untuk mencari wanita. Sungguh. Saya tidak mengada-ada. Menunggangi delman, Cecep mulai mendatangi berbagai tempat, mencari wanita yang bersedia ia goda. Sampai akhirnya Cecep yang baik hati nan tampan rupawan ini sampai di sanggar latihan tari di mana ia bertemu Dewi (Arumi Bachsin), puteri keluarga Keraton Kasepuhan. Lalu apa yang Cecep lakukan setelah terpukau oleh kecantikan sang puteri? Dari kejauhan ia memanggil, "neng, neng, neng". Ya, Cecep, protagonis tercinta kita beranggapan bahwa wanita cantik puteri Keraton bisa tergoda oleh pria asing tak sopan yang mendadak memanggilnya bak preman pinggir jalan menggoda orang lewat. 

Tapi anda tahu? Dewi tergoda! Dewi lebih memilih Cecep ketimbang Surya (Ferry Ardiansyah) anak pengusaha besi tua kaya raya dan AA Jimmy (Argo AA Jimmy) sang ulama yang jauh-jauh datang dari Bandung untuk mengajarinya mengaji (baca: PDKT). "Musik untuk Cinta" menunjukkan pada penonton bahwa merupakan kewajaran jika seorang pria ingin mendapat pacar, ia berkeliling kota mencari perempuan yang mau digoda, lalu tanpa basa-basi memanggil "neng, neng, neng", kemudian voila! Puteri Keraton pun didapat. Dewi berkata ia memilih Cecep karena kepribadiannya. Maaf, tapi kepribadian yang mana? 
Singkatnya, karena selalu diremehkan oleh orang tua Dewi, Cecep merantau ke Jakarta. Tanpa uang, tanpa modal kemampuan, tanpa pendidikan. Koreksi kalau saya keliru, tapi bukankah ini salah satu penyebab masalah kependudukan ibukota? Cecep pun harus berjuang keras, menjadi tukang parkir, pramusaji, sampai akhirnya sukses sebagai production management sebuah perusahaan rekaman. WOW! Apakah Cecep ternyata punya kemampuan tersembunyi? Oh, ternyata pekerjaan itu ia dapat dari kawan lamanya, Abun (Philip Jusuf). "Musik untuk Cinta" konon berpesan tentang kegigihan, tapi bagian mana yang menyimbolkan kegigihan dari kenekatan merantau tanpa bekal lalu berhasil karena pemberian teman? Tidak hanya Cecep, seluruh tokoh luar biasa menyebalkan. Entah bodoh, sombong, pemaksa, dan lain sebagainya. 

(Spoiler alert) Cecep akhirnya terlena oleh kesuksesan pemberian teman itu, menjadi konsumtif, sombong, pemabuk lalu dipecat dan kembali melarat. Anehnya, bukannya simpati saya justru puas melihatnya. Cecep dengan segala keluhannya layak mendapatkan itu. Sudah bisa ditebak, nasib akhirnya kembali berpihak pada protagonis tercinta kita, tapi bagaimana caranya? Oh, ternyata Abun berbaik hati memaafkan si kawan lama, memberikan lagi pekerjaannya. Baiklah. Secara keseluruhan "Musik untuk Cinta" punya tokoh utama yang sukses bukan karena usaha tetapi sepenuhnya belas kasih orang lain. Naskah garapan Kadjat Adra'i dan Iman Taufik terlalu menggampangkan resolusi konflik termasuk bagaimana Cecep menengahi permasalahan antara Abun dengan Titiek Puspa. Tunggu, ada Titiek Puspa? Ya, begitu pula Andra & the Backbone yang mendadak menampilkan "Musnah" di penghujung film.
"Musik untuk Cinta" tentu punya musical sequence. Tidak perlu bertanya apakah hasilnya bagus. Sound mixing-nya kacau. Suara bisa mendadak naik, turun, bahkan menghilang secara kasar. Pemilihan lagunya pun absurd. Ketika lagu film musikal umumnya memiliki benang merah satu sama lain, bermodalkan semangat "semau gue" film ini asal memasang lagu. Ada tradisional, tembang kenangan, religi, dan pop soal cinta. Bahkan sekuen musikal hanya muncul dua kali yang semuanya menggelikan. Saya berkesimpulan, maksud kata "musik" pada judulnya bukan merujuk pada genre musikal atau eksplorasi budaya musik, melainkan diputarnya lagu sebanyak mungkin sepanjang durasi. Untuk apa pula Cecep diceritakan pandai menyanyi jika ujung-ujungnya bekerja menjadi manajer produksi ketimbang talent?

Hiburan terbesar film ini adalah menyaksikan Ian Kasela tanpa kacamata yang konsisten memasang tatapan nanar bak memohon belas kasihan. Saya curiga poin utama "Musik untuk Cinta" adalah perjalanan seorang Ian Kasela untuk menemukan kacamata hitam yang merupakan ciri khasnya. Terbukti, menjelang akhir mendadak ia memakai kacamata, memainkan lagu "Jujur" bersama Radja di tengah keramaian jalan raya yang dengan mudah mengalahkan surealisme opening "La La Land". Selain Ian tanpa kacamata, hiburan dapat diperoleh pula lewat rentetan kalimat menggelikan, semisal "dikasih hati malah nginjek kepala" yang dilontarkan oleh aktornya secara serius. Demikianlah, jika ingin menikmati suguhan romansa berbalut unsur musik memikat ada film Indonesia rilisan minggu ini yang bakal memuaskan anda. Judulnya "Galih & Ratna".


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

GALIH & RATNA (2017)

Sebelumnya, Lucky Kuswandi ("Selamat Pagi, Malam", "Madame X", "The Fox Exploits The Tiger's Might") sempat terlibat dalam remake film Indonesia klasik lain, yaitu menulis naskah bagi "Ini Kisah Tiga Dara". Serupa karya Nia Dinata tersebut, "Galih & Ratna" merupakan usaha modernisasi bernuansa hipster bagi materi lama. Lihat saja, di era digital seperti sekarang, karakter utamanya justru mendengarkan musik menggunakan kaset dan walkman. Namun itu bukan semata-mata gimmick supaya nampak keren, melainkan selaras dengan ide filmnya atas proses menyimpan kenangan, mengabadikan momen tatkala seseorang jatuh cinta. 

Ratna (Sheryl Sheinafia) terpaksa menghabiskan tahun terakhir SMA di Bogor, tinggal bersama sang tante (Marissa Anita) kala ayahnya (Hengky Tornando) pindah ke Australia. Di sekolah barunya ini, Ratna bertemu Galih (Refal Hady) yang pendiam dan misterius. Ratna pun terpikat. Tapi Galih berbeda dengan Ratna. Dia berasal dari keluarga kurang mampu di mana ibunya (Ayu Dyah Pasha) mengemban beban menafkahi keluarga seorang diri pasca sang suami meninggal. Apalagi toko kaset "Nada Musik" milik mereka tidak lagi dilirik orang akibat perubahan jaman. Galih dan Ratna bertemu, menjalin cinta yang bersemi dari SMA, seraya bersama menyokong mimpi masing-masing.
Mayoritas publik lebih mengenal lagu "Galih & Ratna" ketimbang sumber filmnya yakni "Gita Cinta dari SMA". Oleh sebab itu keputusan Lucky Kuswandi dan Fathan Todjon selaku penulis naskah memberi peranan penting pada musik bisa dimengerti. Selain alunan lagu-lagu yang tepat menemani bahkan menguatkan rasa dari adegan, terdapat pula presentasi musik sebagai bagian kultural khususnya seputar media kaset. Kaset mixtape menunjukkan pemahaman si pembuat akan "target" dan musik. Terkesan romantis karena selain ungkapan rasa pembuatnya ada effort besar saat mencari dan merekam. Bandingkan dengan sekarang ketika seseorang bisa begitu mudah memasukkan lagu dalam keping CD. Walau bagi penonton yang kurang familiar atas kultur tersebut, paparan itu takkan terlalu relatable

Awal timbulnya benih cinta Galih dan Ratna memang terlalu cepat di mana mereka telah saling suka sebelum penonton sempat jatuh cinta pada keduanya. Kekurangan itu untung ditebus oleh interaksi menarik saat Galih dan Ratna makin intens berhubungan. Daripada buaian kalimat gombal, naskahnya memposisikan kisah cinta tokoh utamanya selaku proses mengenal lebih dalam lewat berbagai obrolan santai. Sebab jatuh cinta tak melulu diekspresikan dengan bertukar puisi. Cukup duduk bersama membicarakan musik, mimpi, dan masa depan. Pada akhirnya meski diawali terburu-buru, mudah meyakini Galih dan Ratna saling cinta. Mereka saling mengenal, memahami dan menyukai "isi" masing-masing, bukan sekedar tampak luar.
Interaksi "renyah" juga tercipta sebab naskahnya tidak berlebihan berusaha tampil romantis, sempat menyelipkan humor penyegar suasana yang sempurna dibawakan oleh jajaran cast. Marissa Anita selalu penuh semangat, heboh, menyuntikkan energi di tiap kemunculannya sehingga kita tak kuasa menahan senyum. Joko Anwar sebagai guru galak penegak aturan pun kerap menggelitik berkat rangkaian celetukan pedas. Kemudian ada kemampuan Sheryl Sheinafia menyeimbangkan sisi manis Ratna dengan kebolehan berkomedi. Ekspresi konyol kala ia menanyakan arti kata "gita" pada sang tante adalah contoh terbaik. Sedangkan Refal Hady punya charm luar biasa, membuktikan bahwa untuk terlihat keren tak perlu berakting kaku atau sok cool

Pemilihan judul "Galih & Ratna" alih-alih "Gita Cinta dari SMA" bukan saja didasari brand image, pula faktor narasi. Kehidupan SMA masih disoroti tapi bukanlah panggung utama. Kisahnya memiliki cakupan lebih luas, bukan pula semata-mata bicara cinta. Poin utamanya adalah kebebasan. Kebebasan bermimpi, kebebasan bertindak, kebebasan memilih masa depan. Galih dan Ratna merupakan perwujudan individu berjiwa bebas di tengah "kekangan". Cita-cita mereka terbentur alasan serupa dari orang tua: materi. Di sekolah, keduanya (dan siswa lain) dihadapkan pada tata tertib yang amat membatasi (larangan berjualan, aturan ketat berpenampilan). Sederet gesekan tersebut hadir menggigit, memancing pergolakan emosi sekaligus pemikiran mengingat sejatinya tidak ada pihak yang salah. 
Ditinjau lebih jauh, sempat ada shot singkat menampilkan semboyan "Bogor Kota Beriman" menggambarkan soal keteguhan masyarakat memegang moral terutama agama. Shot itu dilanjutkan kepulangan Galih tatkala adiknya tengah belajar mengaji. Apa yang Galih lakukan? Dia menyalakan walkman sambil membantu pekerjaan ibunya. Rangkaian momen ini menguatkan penokohan. Bahwa meski hidup di satu lingkungan dalam kondisi tertentu, seseorang tetap bebas, tidak harus mengikuti arus utama yang mana selaras pula dengan pilihan anti-mainstream karakternya pada musik. Yep, sounds hipster indeed

Apabila diibaratkan lagu, pendekatan Lucky Kuswandi bagai balada dengan dominasi petikan gitar akustik. Sebuah romansa low key yang mengalun lembut dan konsisten, serta lirih minim gejolak namun tetap manis berkat komposisi tepat. Nampak cantik nan elegan pula visualnya berkat sinematografi Arifin Cuunk. Untuk penonton yang terbiasa akan suguhan menggelora, keputusan meminimalisir dramatisasi mungkin bakal menurunkan daya bunuh, apalagi meski bittersweet, konklusinya enggan berderai air mata. Tapi jika anda mencari tontonan romantis tanpa perlu menjadi cengeng dan menekankan pada sisi manis kala dua sejoli menjalin hubungan ketimbang tearjerker manipulatif, maka "Galih & Ratna" adalah tontonan tepat.

KONG: SKULL ISLAND (2017)

Ketika banyak creature movie termasuk "Godzilla" (2014) yang hendak dipertemukan dengan King Kong serta kaiju lain di tahun 2020  menyimpan penampakan monsternya hingga third act, "Kong: Skull Island" memilih pendekatan berbeda. Sang raksasa sudah diperlihatkan dalam berbagai materi promosi secara terang-terangan ketimbang di balik kegelapan. Begitu film dimulai pun, belum sampai lima menit Kong langsung beraksi. Tatkala pengemasan gritty realism mulai jadi primadona, sutradara Jordan Vogt-Roberts paham bahwa tak perlu mengusung realisme atau eksplorasi tokoh manusia, toh ini adalah tontonan tentang monyet raksasa. Penonton tak ingin realita pula drama. Kita ingin menyaksikan King Kong menggila.

Di tahun 1973 kala perang Vietnam mendekati akhir, William Randa (John Goodman) dari organisasi Monarch yang punya misi mengungkap keberadaan makhluk langka (baca: monster) menemukan suatu pulau bernama Skull Island yang disinyalir merupakan habitat bagi banyak spesies misterius. Randa pun menginisiasi ekspedisi dengan bantuan skuadron militer Amerika di Vietnam yang dipimpin Preston Packard (Samuel L. Jackson). Turut serta pula mantan anggota British Special Air Service, James Conrad (Tom Hiddleston) selaku tracker dan fotografer jurnalistik (anti) perang, Mason Weaver (Brie Larson). Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mendapat sambutan kurang bersahabat dari Kong, raja sekaligus dewa di pulau tersebut.
"Kong: Skull Island" adalah sebenar-benarnya kaiju movie, menitikberatkan pada pertarungan akbar antara raksasa. Tiada tetek bengek alur kompleks, sebab tujuan Jordan Vogt-Roberts sederhana saja, yakni menghidupkan sebuah pulau berisi sekumpulan hewan berukuran masif dengan Kong sebagai raja. Suatu tujuan yang sukses dilakukan. Mayoritas karakter manusia hanyalah mangsa untuk memfasilitasi para monster memamerkan keganasan masing-masing. Manusia sedemikian tak berdaya, bahkan di pertarungan puncak Kong melawan Skull Crawler sedikit bantuan dapat mereka berikan. Tapi ingat, ini merupakan suguhan soal Kong, bukan drama studi karakter. Ketika sang titular character diberi porsi beraksi memadai itu sudah cukup. Walau romansa antar-spesies yang menggelikan bagi penonton masa kini ditiadakan, ciri Kong yang lembut pada wanita cantik dipertahankan.

Aspek-aspek di atas membuktikan pemahaman Vogt-Roberts akan sosok Kong dan film monster secara umum. Sang sutradara tahu sudut kamera seperti apa yang dapat memunculkan kesan masif tiap kali monsternya menghiasi layar. Penonton pun dibuat merasa kerdil kala menyaksikannya. Imajinasi yang urung dibatasi beban realisme jadi poin utama keberhasilan filmnya menciptakan hiburan seru. Tidak perlu sibuk mempertanyakan logika, cukup nikmati aksi Kong menjadikan rantai dan baling-baling kapal senjata mematikan. 
Sinematografi garapan Larry Fong turut memegang peranan penting termasuk keberaniannya menggunakan warna cerah. Malam hari di Skull Island dihiasi aurora, cahaya senja berwarna jingga begitu mencolok, bahkan selimutan gas beracun tak dibuat kelabu, melainkan hijau sambil sesekali darah biru (literally) milik makhluk setempat ditumpahkan. Ditambah gambaran panorama memikat mata, jadilah film ini bak penyegar di antara blockbuster sekarang yang makin gemar tampil gelap. Sedangkan musik buatan Henry Jackman senada dengan deretan soundtrack bernuansa rock 'n roll khas era 70an, mengukuhkan posisi "Kong: Skull Island" sebagai popcorn movie penuh gairah nan menyenangkan.

Kritikan terbesar mungkin akan disematkan pada naskah hasil tulisan Dan Gilroy, Max Borenstein, dan Sevak Anakhasyan yang lemah terkait jalinan alur pula karakterisasi. Praktis sewaktu monster hilang dari layar, tensi penceritaan menurun drastis, meski poin positifnya, tidak ada keruwetan kisah tak perlu mendistraksi gelaran aksi bombastis. Karakter-karakternya sendiri memang dangkal. Randa sekedar berguna membuka gerbang alur menuju Skull Island, Conrad urung memamerkan kemampuan tracking-nya, sedangkan Jing Tian sebagai San Lin si ahli biologi tak ubahnya pemanis sia-sia. Brie Larson sendiri juga adalah eye candy, namun untungnya bukan damsel in distress yang selalu lemah tidak berdaya.
Tapi ditinjau lebih dalam, sejatinya naskah film ini tidaklah sedangkal itu. Benar bahwa tokoh manusia tidak memegang peranan penting apalagi kuat, namun lebih dikarenakan mereka terlibat perang dengan diri sendiri ketimbang melawan monster. Mengambil setting Perang Vietnam, kegagalan calon eks-militer lepas dari pertumpahan darah jadi sorotan, khususnya melalui sosok Kolonel Packard. Motivasi Packard turut mencerminkan alasan keterlibatan Amerika Serikat di perang tersebut. Mengusung argumen hendak melindungi dan menghentikan pembantaian, mereka justru memancing kebrutalan sekaligus musuh baru. 

Di samping tema, beberapa pengadeganan, atmosfer, hingga tata visual bakal mengingatkan pada film-film seputar Perang Vietnam macam "Apocalypse Now", "Platoon", dan sebagainya. Tapi paling penting, "Kong: Skull Island" telah membawa lagi kegembiraan menyaksikan kaiju movie ketika mengutamakan pameran penampakan monster yang saling adu kekuatan daripada menyia-nyiakan waktu menyuguhkan balutan drama (berisi) manusia tak perlu. Jangan beranjak dari kursi anda selepas film usai, karena penantian sekitar delapan menit akan dibayar lunas oleh post-credit scene seputar kelanjutan menarik dari MonsterVerse. 

LONDON LOVE STORY 2 (2017)

Sewaktu sebuah film romansa membentangkan sekuel, satu aspek yang wajib untuk diperhatikan adalah perkembangan. Bagaimana dua sejoli tokoh utama tumbuh sejalan dengan waktu. Mereka mengalami pendewasaan, demikian pula konflik dalam hubungan keduanya. "Before Trilogy" dan "Bridget Jones  Trilogy" mengajarkan itu. Dari cinta manis masa muda, menuju pernikahan, membentuk keluarga, hingga memiliki anak. Bukan bermaksud membandingkan atau berharap "London Love Story 2" mencapai tingkatan dua seri tersebut, hanya memberi contoh mudah tentang ke mana semestinya sekuel film romansa bergerak. Alih-alih melangkah ke depan "London Love Story 2" justru berjalan mundur, menjadikan tokoh-tokohnya semakin kekanak-kanakan. 

Setahun berlalu pasca Dave (Dimas Anggara) dan Caramel (Michelle Ziudith) kembali bersama. Kini keduanya hidup bahagia di London, tengah bersiap berlibur ke Swiss, tempat di mana Sam (Ramzi) telah menjadi seorang DJ sukses. Jangan tanya bagaimana Sam mendadak adalah DJ dan mengapa tak sekalipun film ini memperlihatkan ia bermusik, memainkan turntable. Kita tahu itu hanya alasan yang dikarang duo penulis naskah, Sukhdev Singh dan Tisa TS supaya filmnya dapat menampilkan gambar indah pegunungan bersalju. Serupa produksi Screenplay lain, penonton bakal disuguhi misteri. Kali ini mengenai masa lalu Caramel yang melibatkan chef bernama Gilang (Rizky Nazar). 
Screenplay punya dua jenis misteri. Pertama, yang melibatkan kedatangan twist tiba-tiba entah dari mana. Kedua, yang akan memancing tanya "untuk apa sok misterius, menyembunyikan fakta kalau sejak awal jawaban dapat dideteksi?". "London Love Story 2" masuk golongan kedua. Kejutan (tak mengejutkan) miliknya bertujuan mendramatisasi, seolah bait demi bait kalimat manis berlebihan dari mulut Dave belum cukup dramatis. Ya, bukan film buatan Screenplay namanya kalau karakternya urung berusaha bicara puitis hampir tiap menit, bukan tatkala merayu atau momen tertentu belaka, melainkan dalam tiap hembusan nafas yang menyuarakan kerinduan akan sosok malaikat kiriman Tuhan yang senantiasa membuatnya mendambakan keindahan bernama cinta. Hell, now I sound like Dave.

Padahal saya cukup menikmati ketika para karakter berinteraksi biasa, memakai bahasa kasual layaknya manusia normal. Bercanda, bersenda gurau, menjalin komunikasi yang nyaman dilihat. Ramzi luwes menjalani peran  comic relief. Sejauh ini balutan komedi milik film-film Screenplay paling sukses bila dibebankan pada Ramzi. Michelle Ziudith menyeimbangkan cute factor dengan kekuatan akting dramatik, membuktikan kapasitasnya sebagai aktris bertalenta andai tak terjebak dalam tontonan begini. Di antara dua lead actor, Rizky Nazar punya charm lebih dibanding Dimas Anggara. Bukan berarti Dimas buruk, tapi aktingnya bak punya dua mode. Ketika normal ia bermain natural, namun kala "berpuisi" matanya selalu menerawang kosong ke depan bagai tengah menatap surga cinta yang entah mengapa selalu menusuk hatinya, menghujam jantungnya dengan belati pengkhianatan! 
Bicara soal development "jalan mundur" bagi cerita serta karakternya, "London Love Story 2" mengusung konflik childish yang sembunyi di balik kisah pendewasaan tentang masa lalu dan proses merelakan. Daripada semakin tertempa, karakter film ini terasa seperti remaja awal kala mengalami cinta monyet, atau bocah manja yang mempermasalahkan masa lalu pacarnya. Come on, mereka telah cukup lama tinggal jauh dari keluarga di luar negeri tapi meributkan hal macam ini? Keputusan merelakan yang karakternya ambil di akhir juga bukan hasil proses bertambahnya kedewasaan, melainkan karena terpaksa, tiada pilihan lain. 

Tentu "London Love Story 2" tetap dipersenjatai sinematografi menawan, mampu memanfaatkan setting luar negeri khususnya pegunungan bersalju di Swiss dengan baik. Begitu pula iringan musik megah karya Joseph S. Djafar yang mengharu biru, takkan sulit merenggut emosi penonton remaja. Ketiadaan alur kusut akibat ambisi tampil kompleks macam "Promise" pun membuatnya tak sampai menyakitkan diikuti. Mempertahankan segala template khas rumah produksinya yang hingga kini masih jadi formula efektif mengundang penonton, begitulah "London Love Story 2". Namun menengok fakta bahwa "Promise" ditonton "hanya" oleh sekitar 655.000 orang (capaian paling sedikit dari film garapan Screenplay") bisa jadi tak hanya saya, target pasarnya pun mungkin mulai bosan dibuatnya. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics