MOVFREAK ON UC NEWS (LAST UPDATED ON SEPTEMBER 17, 2018)

Sejak akhir Juni lalu, saya diundang oleh UC News untuk menyumbangkan tulisan bertema religi...maksud saya film. Awalnya saya hanya mempublikasikan ulang review blog ini, sampai tercetus niat untuk fokus pada pembuatan list film, yang mana sering pembaca blog ini minta tapi karena satu dan lain hal (baca: penulisnya pemalas) jarang terpenuhi. Kenapa tidak sekalian membuat list juga di sini? Tidak lain demi menjaga orisinalitas kedua media, sebab pernah artikel saya ditolak karena sistem menyatakan tulisan itu hasil jiplakan dari web movfreak.blogspot.com (lol).

Maka dari itu, jika ada list yang kalian ingin saya buat, silahkan request, bisa di kolom komentar ini atau artikel saya di UC News. Untuk mengakses tulisan di sana, bisa mengunduh aplikasi UC News di smartphone, lalu cari dan ikuti akun "Movfreak". Atau cukup dengan mengikuti postingan ini yang akan selalu saya update tiap ada artikel baru dan akan selalu disematkan di halaman paling atas blog. Dan karena perbedaan media publikasi, gaya penulisan yang saya pakai pun (mostly) berbeda. Silahkan request sebanyak-banyaknya, makin unik makin baik, agar memudahkan saya membuat judul clickbait daftar menarik. Tenang, review tetap saya publikasikan di sini (afterall, this is my home, and all of you, my readers, are the lovely guests).

Berikut beberapa judul yang sudah ada sejauh ini yang akan rutin diperbaharui (klik untuk menuju tautan):

SAKRAL (2018)

Sakral merupakan kolaborasi kelima (keempat sepanjang 2018) MD Pictures dan Dee Company sekaligus yang terbaik. Kata “terbaik” di sini artinya “paling tidak menyiksa”, karena sejak Gasing Tengkorak tahun lalu, kebersamaan dua rumah produksi ini telah menghasilkan judul-judul yang berpotensi merusak kembali kepercayaan penonton terhadap perfiman Indonesia. Menyebut Sarkal “lebih baik” dibanding filmografi Baginda KK Dheeraj pasca berganti identitas menjadi Dheeraj Kalwani pun layaknya menyatakan terkena flu lebih baik dibanding penyakit lain. Tetap saja menyiksa.

Setidaknya para pembuat film ini belajar dari kesalahan sebelumnya dengan tidak membuat horor yang hanya tersusun atas fragmen-fragmen jump scare yang disusun kasar. Digawangi oleh sutradara Tema Patrosza (Tumbal: The Ritual), Sakral bersedia menahan diri untuk memunculkan hantunya, meminta penonton menunggu agar mampu lebih dulu memaparkan cerita, walau bukan cerita yang solid, menghasilkan penantian melelahkan pula tanpa penebusan yang sepadan di akhir. Tapi sekali lagi, setidaknya mereka belajar. Walau makan waktu lima film dan belum signifikan, Dheeraj Kalwani akhirnya mengalami kemajuan.

Kisahnya dibuka saat sepasang suami istri, Melina (Olla Ramlan) dan Daniel (Teuku Zacky) tengah menanti kelahiran puteri kembar mereka yang akan diberi nama Flora dan Fiona (kenapa bukan “Fauna”???). Malang, hanya Flora yang bertahan hidup. Tapi Flora tumbuh sebagai gadis cilik pendiam, enggan berinteraksi dengan kedua orang tuanya, dan hanya memandangi kotak musik sepanjang hari. Di sisi lain, Melina yang masih dihantui duka justru mulai dihantui juga oleh peristiwa-peristwa misterius. Singkatnya, naskah karya Baskoro Adi Wuryanto (Jailangkung, Ruqyah: The Exorcism, Gasing Tengkorak) ingin membicarakan bagaimana kekuatan cinta milik suami-istri mampu mengalahkan apa pun termasuk duka (dan iblis). Bukan suatu kejutan rasanya kalau kisahnya gagal menjadi observasi mendalam.

Melina terus melihat hal-hal mengerikan seperti penampakan hantu yang kadang berwajah putih pucat kadang hitam pekat bagai versi murahan dari gelandangan setan di Mulholland Drive-nya David Lynch. Daniel meragukan kewarasan sang istri, yang bakal menggiring kita menuju adegan konyol ketika seorang psikolog sekaligus teman Daniel dengan mudah mendiagnosa Melina menderita skizofrenia. Akting jajaran pemain sama sekali tidak membantu. Sewaktu Teuku Zacky kerepotan mengucapkan dialog (yang aslinya memang dangkal) supaya tak terdengar datar, Olla Ramlan sekedar berteriak, bertingkah sehisteris mungkin. Jangan paksa saya membahas akting si pemeran setan dengan caranya memberi penekanan di tiap akhir kata yang luar biasa menggelikan.

Progresi alurnya cukup rapi karena bersedia menanti hingga momen yang tepat guna memunculkan penampakan hantu, menghabiskan satu jam pertama melangkah pelan sebelum tancap gas di 30 menit akhir. Kisahnya—meski tak pernah tampil meyakinkan—mengalir alih-alih asal melompat dari satu titik ke titik berikutnya sembari diselingi jump scare berkuantitas lebih tinggi ketimbang ceritanya. Akhirnya Baskoro Adi tahu bahwa dalam film horor, dibutuhkan cerita untuk menjembatani teror-terornya. Walau sayangnya, ia masih luput memahami jika logika turut dibutuhkan dalam cerita, sebab setelah satu hari berlalu, saya masih kesulitan mencerna logika konklusi ajaibnya.

Jump scare-nya sendiri medioker, jenis yang akan mengejutkan penonton bukan karena disusun begitu baik, melainkan gempuran tata suara luar biasa keras yang sampai membuat studio bergetar hebat. Padahal saya sempat menaruh sedikit (sangat sedikit) harapan saat mendapati penampakan perdana sang hantu tidak dibarengi musik berisik. Di tangan sutradara yang tepat, Sakral berpotensi menghasilkan klimaks seru, namun Tema belum cukup handal dan/atau berpengalaman dalam menyusun puncak kekacauan menegangkan. Ada niat menciptakan klimaks brutal, tapi tak peduli berapa galon pun darah tumpah, seberapa banyak bagian tubuh terpotong gergaji mesin, tanpa sudut kamera tepat (yang makin vital ketika kadar gore ditekan demi menghindari gunting sensor), sekuen demi sekuen sadis hanya akan numpang lewat. Ngomong-ngomong, kenapa di bawah sink tersimpan katana? Apakah Daniel dan Melina diam-diam pasangan ninja Konoha?

BELOK KANAN BARCELONA (2018)

(Review ini mengandung SPOILER)
Belum ada film yang mampu membawa saya dalam hubungan cinta/benci seperti Belok Kanan Barcelona. Saya mencintai caranya menuturkan betapa cinta dapat mendorong seseorang berkorban meski harus menembus batas jarak dan waktu. Saya mencintai caranya mendefinisikan “cinta sejati” sebagai seseorang yang selalu ada di samping pujaan hatinya tanpa memaksa balik dicintai. Saya pun mencintai masing-masing karakter utamanya. Namun saya membenci ketika narasinya mulai terjun ke bab agama bahkan terkesan offensive di beberapa titik.

Mengadaptasi novel Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona karya Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, dan Iman Hidayat, filmnya mengisahkan persahabatan Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Yusuf (Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli) yang kini tinggal terpisah di empat negara berbeda. Francis adalah pianis pemenang Grammy pertama asal Indonesia yang kini menetap di Los Angeles, Retno mengejar impiannya menjadi chef di Copenhagen, Yusuf mulai mendulang sukses di perusahaan di Cape Town, sedangkan Farah bekerja sebagai arsitek di Vietnam. Undangan pernikahan Francis dengan Inez (Millane Fernandez) di Barcelona memberi mereka alasan untuk bertemu lagi, walau satu sama lain tak mengetahui intensi tersebut.

Semua bermula dari masa SMA, tatkala persahabatan keempatnya mulai bersemi, demikian pula cinta. Francis menyukai Retno pun sebaliknya, Farah yang jadi tempat curhat Retno juga tertarik pada Francis, sementara Yusuf, si “penyedia bahu” bagi kesedihan Farah, turut diam-diam memendam rasa kepadanya. Apabila banyak film kita memposisikan kelulusan SMA selaku pembuka, Belok Kanan Barcelona menempatkannya di tengah, setelah terlebih dulu membawa penonton mengarungi flashback yang menyoroti dinamika empat tokoh utama semasa SMA, memantapkan pondasi karakter beserta persahabatan mereka. Naskah yang disusun Adhitya Mulya (Jomblo, Shy Shy Cat) apik dalam mempresentasikan manis sekaligus pahitnya mencintai kawan sendiri, ketika pengungkapan perasaan bak haram hukumnya demi menjaga kelanggengan pertemanan.

Departemen akting merupakan elemen terkuat filmnya. Morgan kharismatik seperti biasa sehingga mudah menerima saat Francis disukai dua gadis cantik walau detail penokohannya tak seberapa digali (baca: dia populer karena ganteng dan keren). Mikha mencurahkan emosi yang cukup meyakinkan untuk menjadkan ini performa terbaik sepanjang karirnya, tatkala Deva akhirnya memperoleh materi yang pas guna memfasilitasi talenta komediknya. Tapi magnet terbesar berasal dari Anggika melalui deretan ekspresi aneh dan ketiadaan urat malu dalam berlagak konyol termasuk merangkak di aspal, Farah merupakan peran yang bakal membuka lapang jalannya meraih status bintang kelas satu.

Sampai sini, Belok Kanan Barcelona bisa jadi salah satu film Indonesia terbaik 2018. Tontonan yang konsisten memberi tawa dalam pengalaman menonton menyenangkan. Penyutradaraan Guntur Soeharjanto (99 Cahaya di Langit Eropa, Ayat-Ayat Cinta 2) pun cukup efektif menciptakan adegan emosional saat melukiskan momen “crack-and-heal” suatu persahabatan.  Berbeda dibanding caranya menangani 2 film 99 Cahaya di Langit Eropa, latar luar negeri urung dieksploitasi sebagai lokasi cuci mata belaka, melainkan panggung pembuktian bahwa kekuatan cinta mampu mendorong seseorang melintasi dunia.

Mengesankan, hingga elemen religi menggedor masuk, yang awalnya dipicu perbedaan keyakinan Francis dan Retno. Saya suka sebaris kalimat ucapan ayah Retno (Cok Simbara) yang kurang lebih berbunyi, “Apa kamu tega membuat Francis harus memilih antara kamu (Retno) atau Tuhannya?”. Itu cara lembut untuk berkata “Jangan memacari orang berbeda agama”. Saya tak menyalahkan perspektif tersebut, sebab kenyataannya, hal itu sulit dijalani di Indonesia. (Spoiler starts hereSaya pun tak mempermasalahkan konklusi sewaktu Francis akhirnya memeluk Islam. Apa pun alasannya (sebatas untuk menikah atau memang keyakinan personal), itu cara paling aman agar bisa menghabiskan hidup bersama.

Masalah mencuat saat Belok Kanan Barcelona melukiskan orang Islam sebagai pemeluk agama luar biasa taat yang enggan berpindah keyakinan demi pernikahan dan bersedia solat di tengah padang pasir, tetapi sebaliknya, Pastor dan Suster di tengah situasi mengancam kala mesin pesawat yang ditumpang meledak, malah bertingkah konyol, saling menyatakan cinta, merengek alih-alih memanjatkan doa, setelah sepanjang perjalanan diperlihatkan sebagai orang-orang menyebalkan yang tak mempedulikan sekitarnya. Apabila cuma memunculkan salah satu (Muslim luar biasa taat atau mengolok-olok Pastor sebagai materi komedi), tidak jadi masalah. Namun ketika dihadirkan bersamaan, secara otomatis tercipta komparasi jomplang yang begitu mengganggu. Sengaja atau tidak, hal itu membuktikan ketidakpekaan para pembuatnya.

THE HOUSE WITH A CLOCK IN ITS WALLS (2018)

Dalam salah satu perubahan jalur karir paling ekstrim sejak George Miller membuat Babe: Pig in the City (1998) dan Happy Feet (2006), Eli Roth (Cabin Fever, Hostel, Death Wish) beralih sejenak (?) dari kegemarannya mandi darah menuju adaptasi novel The House with a Clock in Its Walls, buku pertama dari 12 seri Lewis Barnavelt buatan John Bellairs (diteruskan Brad Strickland sejak buku ketujuh setelah Bellairs meninggal). Seperti banyak produksi klasik Amblin Entertainment, film ini bersahabat bagi penonton anak. Jika biasanya Roth menusuk dan merobek hati, kali ini ia coba menghangatkannya, meski akhirnya sang sutradara total bergantung pada jajaran pemain untuk mencapai itu.

Kasus lain tentang perubahan karir aneh adalah saat Sam Raimi membuat trilogi Spider-Man. Raimi berhasil karena sutradara horor yang baik selalu memiliki sensitivitas dalam menciptakan intensitas, yang mana penting bagi “film popcorn”. Itu sebabnya saya menaruh kepercayaan terhadap Aquaman garapan James Wan.  Berbeda dengan para kompatriotnya, Roth lebih banyak mengandalkan parade kekerasan brutal nan vulgar ketimbang memainkan tensi, yang berujung menciptakan kelemahan terbesar The House with a Clock in Its Walls.

Filmnya menghabiskan mayoritas durasi untuk: 1) Memperkenalkan Lewis Barnavelt (Owen Vaccaro), si bocah tertutup yang dianggap aneh oleh teman sebayanya, kepada dunia sihir ketika sang paman, Jonathan (Jack Black), menampung Lewis pasca kedua orang tuanya meninggal; dan 2) Menyoroti proses Lewis belajar menjadi warlock alias penyihir sebagaimana Jonathan. Tentu skenario buatan Eric Kripke (Boogeyman) kental aroma “underdog story”, lengkap dengan pesan soal “Kamu mempunyai kelebihan walau dipandang sebelah mata”.

Apabila anda perhatikan, dua poin di atas tak mengandung elemen pertempuran kebaikan melawan kejahatan seperti jamaknya film anak-anak. Elemen serupa tetap ada, namun datang begitu kisahnya melewati separuh jalan. Sebelum sampai di sana, Roth sanggup membawa kita mengarungi perjalanan menghibur. Visualnya, yang melibatkan kaca patri yang rutin berubah gambar, perabotan yang dapat bergerak, serta singa dari rumput yang menolak buang air di bak pasir, terlihat menarik  dalam balutan sinematografi Rogier Stoffers (School of Rock, The Vow, Death Wish). Deretan ide imajinatif tersebut memang didasari materi aslinya, tetapi visi kreatif Roth berjasa menghidupkannya.

Mengikuti formula “underdog story”, tentu montage berisi usaha Lewis melatih ilmu sihirnya bisa kita temui. Montage yang berjalan singkat namun memikat lewat humor yang tampil kuat berkat keberadaan Jack Black selaku salah satu keputusan casting yang tepat. Black sempurna menangani peran di dunia fantasi ajaib seperti ini. Vaccaro si aktor cilik pun tampil apik, khususnya saat diminta menangis tanpa perlu terlihat menyebalkan. Tapi bintang terbesar film ini jelas Cate Blanchett sebagai Florence Zimmerman, penyihir wanita tetangga Jonathan dengan obsesi terhadap warna ungu. Pakaiannya berwarna ungu, bahkan ia berusaha mengubah ularnya menjadi ungu.

Blanchett mengajarkan bagaimana cara berakting di tontonan family-friendly. Dia bersenang-senang di adegan-adegan ringan, entah saat bertukar ejekan dengan Black atau ketika secara elegan tetapi playful, terlibat di tengah-tengah aksi. Pun The House with a Clock in Its Wall tak ubahnya film keluarga lain yang mempunyai bagian dramatis, dan sewaktu momen itu tiba, cukup melalui satu monolog pendek, Blanchett berhasil mencengkeram perasaan. Anda akan tahu adegan yang mana saat menontonnya. Dengarkan getaran suaranya, perhatikan tatapan matanya, pula keraguan kala melangkah, yang seperti halnya seseorang ketika dikuasai emosi, tak tahu mesti berbuat apa.

Tanpa kebolehan akting pemainnya, film ini akan menjadi perjalanan yang enak dilihat namun nihil kepekaan akan intensitas. Narasinya terasa draggy, juga nyaris tanpa sentakan, sebab sekali lagi, Roth bukan ahlinya menciptakan ketegangan bahkan saat menggarap horor. Tanpa gore dia kehilangan banyak taring, walau untungnya tidak sampai jadi macan ompong. Roth memanfaatkan kesintingannya demi menghasilkan teror. Dia terbiasa mendobrak batas. Itulah mengapa imajinasinya bergerak liar tatkala menangani hiburan visual, dan rasanya nyaris tak ada sutradara yang bernyali memperlihatkan sosok iblis dalam tampilan se-disturbing Azazel versi Roth di sini.

Akibat sisi lemah penyutradaraan Roth, saya tak sabar guna beralih dari dua poin alur di atas untuk segera mencapai titik di mana bahaya besar, hasil dari jam yang disembunyikan dalam dinding rumah Jonathan oleh seorang penyihir, mulai merangsek masuk. Jam itu terus berdetak tiap malam. Jonathan dan Florence tak tahu ke mana jam itu bakal membawa mereka, walau pastinya bukan menuju hal menyenangkan. Bahaya itu akhirnya menampakkan wujudnya sewaktu Lewis, didorong keputusasaannya untuk mencari teman melalui pembuktian bahwa ia bisa menguasai sihir, nekat melakukan hal terlarang. Timbul pertanyaan, “Kenapa Lewis tak memamerkan kemampuannya menggerakkan barang yang telah dikuasainya saja?”. Saya yakin itu sudah cukup memesona bagi kawan-kawannya.

The House with a Clock in Its Walls bermuara di pertempuran trio protagonis melawan monster labu plus berbagai makhluk aneh lain, yang kembali, gagal menyentuh intensitas maksimum, salah satunya akibat klimaks yang berakhir terlampau mudah. Setidaknya, satu momen konyol (dan agak creepy) yang melibatkan “badan Jack Black” membuktikan bahwasanya Roth, biarpun bukan produsen ketegangan handal, memiliki otak sinting yang dapat memproduksi hiburan.

HEILSTÄTTEN (2018)

Silahkan googlingfound footage haunted hospital horror movie”. Anda akan menemukan setumpuk judul termasuk Gonjiam: Haunted Asylum asal Korea Selatan yang rilis beberapa bulan lalu. Sebab ini adalah lokasi menjemukan di subgenre yang makin menjemukan pula. Mungkin memang ada ketakutan dalam diri kita terhadap rumah sakit maupun sanatorium, di mana koridor gelap mengelilingi sementara aroma kematian tercium pekat bahkan meski belum ditinggalkan atau bukan tempat melangsungkan eksperimen terlarang. Sementara konsep found footage (selain bentuk penghematan biaya) diharapkan menangkap nuansanya secara nyata. Tapi Heilstätten keliru menangkap esensi found footage. Visualnya menyolok, terlampau berusaha terlihat bergaya dan terpoles untuk menciptakan atmosfer tidak nyaman, juga begitu bising ketika penggunaan musik berlebih melucuti realisme alih-alih merayap tanpa penonton sadari selaku ambient.

Jajaran tokoh utamanya adalah para YouTuber. Marnie (Sonja Gerhardt) dari kanal soal mengahadapi ketakutan yang juga “final girl” kita, Betty (Nilam Farooq), seorang daily vlogger (pastinya membicarakan tentang apa entahlah), dan duet prankster, Chris-Finn (Davis Schulz dan Timmi Trinks), yang gemar melawan hukum termasuk menyelinap ke kamar mayat untuk mengambil swafoto bersama jenazah. Singkatnya, mereka adalah 2 remaja tolol yang bahkan tak tahu jika Perang Dunia belum lima kali pecah dan memutuskan menghabiskan malam di rumah sakit angker demi mendongkrak popularitas.

Duo penulis naskahnya, Michael David Pate (juga menyutradarai) dan Ecki Ziedrich jelas ingin menggambarkan mereka sebagai orang-orang bodoh dengan kepedulian nol besar sehingga pantas menerima hukuman dari hantu penunggu rumah sakit yang konon menebar kutukan mematikan pada siapa saja yang menginjakkan kaki di sana. Pada film horor di mana kebodohan karakter dihalalkan atas nama intensitas, intensi tersebut terasa cocok. Ketika di film lain kita terpancing berujar, “Kenapa karakternya begitu bodoh??!!”, di sini kita bisa maklum, “Tentu saja remaja-remaja penggila popularitas ini sebodoh itu”.

Heilstätten kentara menyimpan keinginan agar penonton menertawakan karakternya, pun beberapa poin berpotensi jadi komedi gelap menggelitik saat kebodohan mengakibatkan kecelakaan bahkan kematian. Sayang, Michael David Pate tidak memiliki keberanian melangkah sepenuhnya ke sana. Dia ragu mengajak kita menertawakan kemalangan. Di satu titik, filmnya malah coba memberi pengampunan pada salah seorang tokoh dengan memberinya peran “teman yang setia”. Inkonsistensi tone yang membingungkan pun gagal dihindari.

Beberapa ide menarik terkait cara memunculkan hantu sejatinya bertebaran, namun metode yang Pate pakai membuatnya sulit disaksikan, entah akibat kamera yang bergoyang hebat atau penyuntingan chaotic. Setiap penampakan hadir, kamera bergetar atau adegan berpindah (atau gabungan keduanya) sebelum kita bisa melihat jelas peristiwa di layar. Titik balik jelang akhir berpotensi menyegarkan dan mengangkat keseluruhan film, namun lagi-lagi karena pendekatan “Jangan tunjukkan terornya”, peluang itu gagal dimanfaatkan. Heilstätten melewatkan kesempatan banting setir melangkah ke ranah torture porn brutal banjir darah. Sewaktu kejutan pertama di awal babak ketiga masih selaras dengan tema, momen pamungkasnya membunuh segala harapan Heilstätten menjadi horor layak tonton.

BISIKAN IBLIS (2018)

Seperti apa bunyi bisikan iblis? Kalau dalam banyak horor lokal termasuk karya teranyar sutradara Hanny R. Saputra (Mirror, Heart, Sajen) ini, bunyinya kurang lebih “was wes wos hhhhh hau siang hau siang hashama hashama”. Tapi jika bicara realita, tidak perlu jauh-jauh. Simak saja adaptasi novel Ghost Dormitory buatan Sucia Ramadhani ini. Iblis-iblis neraka bak tengah dikuasai dengki menyaksikan kemajuan perfilman Indonesia, lalu berbisik pada produser dan sutradara Bisikan Iblis agar menciptakan film berkualitas compang-camping demi menjegal pergerakan industri negeri ini, toh penonton bakal tetap berbondong-bondong meramaikan studio.

Perkenalkan Nany (Amanda Manopo), gadis yang selalu dirundung ketakutan, kerap bersembunyi dalam lemari, akibat melihat kematian sang ibu, Sophia (Elsa Diandra), semasa kecil. Nany yakin makhluk yang ia panggil Iblis Hitam merupakan dalang kematian ibunya, meski sang ayah, Frans (Dicky Wahyudi) menolak percaya. Berusaha mengalahkan rasa takut itu, Nany memilih bersekolah di asrama Erly yang dahulu juga jadi pilihan Sophia. TAPI TUNGGU SEBENTAR SAUDARA-SAUDARA!!! Kenapa papan nama asrama menunjukkan tulisan “Erly”, tapi di sekolahnya (yang dibuat memakai CGI pada tahap pasca-produksi) tertulis “Early”?  Saya berniat membahas kesalahan penulisan ini lebih lanjut, tapi terdengar bisikan iblis, “Sssst, nikmati saja filmnya”. Saya pun menurut. Rayuan iblis memang begitu kuat meracuni pikiran korbannya.

Bisa ditebak, rentetan kejadian aneh mulai menimpa asrama Erly...eh, Early....ah, maksudnya Erly....well, apa pun itu namanya. Hantu-hantu menampakkan diri, satu per satu nyawa siswi melayang, lembar demi lembar uang penonton terbuang. Nany yang mampu melihat para hantu tersebut awalnya ketakutan, tapi setelah teman sekamarnya, Gie (Zoe Jackson), memberi tahu bahwa mereka muncul guna menyampaikan pesan, Nany mulai memberanikan diri, walau seringkali, akhirnya berujung lari kocar-kacir juga. Bicara soal lari, para pemain khususnya Amanda Manopo perlu belajar bagaimana berlari dikejar setan secara meyakinkan. Lambat, canggung, mereka berlari bak tokoh film komedi yang kabur karena lupa membawa uang ketika makan bakso.

Sedangkan Hanny R. Saputra perlu belajar cara menakut-nakuti penonton. Setelah sebuah jump scare tergarap baik, yakni sewaktu Nany dikagetkan oleh hantu yang bersandar di pintu kamarnya, Bisikan Iblis kembali pada rutinitas horor medioker di mana para hantu sebatas setor muka dibarengi tata musik berisik. Tapi momen saat kita pertama kali diperlihatkan kematian seorang siswi berhasil menyita perhatian. Diceritakan, sang siswi tewas tercekik selimut kala sedang tidur. Ajaibnya, ia tidur dalam kondisi mengenakan seragam sekolah lengkap dan kalau ingatan saya tepat, masih pula memakai sepatu. Tidak perlu Iblis Hitam turun tangan, dengan kostum tidur demikian, bocah ini akan mati sendiri karena sakit.

Kelak terungkap jika Nany merupakan bocah indigo, sanggup mendeteksi target Iblis Hitam berikutnya berkat simbol mirip garpu tala di jidat mereka. Menurut Bisikan Iblis, itu adalah lambang Necronomicon, padahal di dunia ini hanya ada 2 hal yang memakai garpu tala sebagai lambang: Yamaha dan Psikologi. Artinya, entah Yamaha dianggap sebagai kendaraan iblis, atau para Psikolog adalah pesuruh iblis. Sementara itu, naskah buatan Farhan Noaru (Kembang Kantil, Rumah Belanda) menggiring alur menuju penelusuran misteri mengenai asal muasal teror Iblis Hitam, yang diyakini Nany berkaitan dengan kematian ibunya. Penelusuran yang bermuara di hasil mencengangkan sekaligus amat sangat luar biasa super duper bodoh sekali.

Begitu banyak kebodohan, yang andai dijabarkan satu per satu takkan usai sampai Valak banting setir jadi ustazah sekalipun. Menurut film ini, polisi tidak bisa mendeteksi apakah sebuah racun berasal dari dalam kue atau tidak sengaja terciprat ke permukaannya. Menurut film ini pula, polisi tak sanggup menemukan botol bekas menyimpan racun yang terjatuh di TKP, yang tentunya penuh sidik jari guna mencari tahu siapa pemilik racun itu sebenarnya. Ditambah CGI menggelikan yang membuat sebuah jenazah tampak mengambang alih-alih tergeletak, lengkap sudah elemen yang Bisikan Iblis butuhkan guna mencemari industri film kita. Sampai saya keluar dari studio, mendengar seorang penonton berkata, “Serem yaah filmnya! Hiiiii!!!!”. Rayuan iblis memang begitu kuat meracuni pikiran korbannya

GILA LU NDRO! (2018)

Sebagaimana mestinya komedi satir, Gila Lu Ndro! menyindir realita dengan humor. Diharapkan, penonton tertawa sembari merenungkan peristiwa yang tengah disaksikan. Namun film keempat sutradara Herwin Novianto (Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara, Tanah Surga...Katanya, Jagad X Code) ini di satu titik lupa akan niatnya menyampaikan sesuatu karena terlampau sibuk berusaha sekonyol mungkin, sebaliknya, di titik lain getol berceramah sehingga lalai melucu. Mau yang mana pun, bobot pesannya berujung terlemahkan.

Guna memahami poin utama film ini, kita perlu mengikuti cerita yang dituturkan Indro (Tora Sudiro) kepada sang istri, Nita—nama istri Indro Warkop di dunia nyata—yang diperankan Mieke Amalia, yang cukup beruntung mendapat jatah kalimat-kalimat terlucu dalam naskah garapan Upi (Tusuk Jelangkung, My Stupid Boss, Sweet 20) bersama “anak didiknya”, Aline Djayakusuma. Deretan kalimat tersebut kebanyakan berfungsi mengutarakan keheranan sekaligus kekesalannya terhadap cerita absurd sang suami yang mengaku bertemu Al (Indro Warkop) alias Alien, Raja dari planet Alienus.

Sebagai Raja, Al merasa perlu menemukan jalan menyelesaikan konflik tak berkesudahan antara warga Alienus. Untuk itulah ia mencari “Sumber Damai”, yang konon dimiliki Bumi. Dibantu Indro, Al pun melakukan perjalanan mengitari Bumi (baca: Jakarta), menemui ragam peristiwa yang filmnya pakai sebagai alat menyindir isu-isu sosial di sekitar. Mulai dari yang mereka lihat langsung seperti penyebaran hoax, penerimaan suap oleh polisi, pembeli yang menawar harga semaunya, obrolan singkat soal kegemaran wakil rakyat tidur pulas tatkala sidang, sampai baliho berupa ajakan berdoa (alih-alih mengusahakan jalan keluar) apabila terkena banjir.

Jadi apa yang Gila Lu Ndro! tawarkan demi menyelesaikan segala masalah di atas? Al sebagai Raja merupakan metafora pemimpin bangsa ini, dan filmnya secara gamblang nan lantang menyebut bahwa turun ke jalan menemui rakyat langsung alias blusukan merupakan jalan keluar. Kata “blusukan” bahkan Indro ucapkan, meniadakan ruang bagi kesubtilan. Daripada “merasakan”, rasanya seperti disuapi oleh Indro, yang penokohannya bisa dirangkum dalam 2 kata, “penengah konflik”. Tidak lebih, tetapi bisa kurang. Sebab di beberapa situasi, ia bahkan tak menengahi permasalahan, sebatas berdiri, mengamati, atau malah kabur.

Bagaimana dengan kita? Para manusia biasa, bukan pemimpin bangsa atau alien dengan sumber daya tanpa batas. Sejujurnya sulit dipahami akibat masing-masing problematika tak mempunyai korelasi pasti, seolah tanpa gambaran besar untuk disampaikan. Terkesan, tiap masalah dipilih bukan atas dasar kebutuhan narasi, melainkan dari pertimbangan, “mana yang paling konyol”. Bahkan ada subplot saat Al mendapatkan peran di sebuah film buatan Alex Abbad setelah seluruh pemain menolak hadir di lokasi. Apa kaitannya dengan pencarian kedamaian?

Untunglah, walau membayangi pesannya, komedi film ini mampu memproduksi tawa. Masih terjadi inkonsistensi, meleset di sana-sini khususnya ketika Herwin Novianto tampak kurang cakap mengatur timing, namun berhasil juga tepat sasaran di banyak sisi berkat sederet ide kreatif Aline dan Upi, yang tetap mengedepankan kelucuan ketimbang berusaha seaneh mungkin (like you-know-who). Saya suka setiap kali Nita memotong cerita Indro, yang dibungkus lewat berbagai cara unik.

Berlawanan dengan sang istri, Tora kurang lepas membanyol karena di saat bersamaan dibebani peran selaku penyampai pesan moral. Sebaliknya, Indro melakoni peran layar lebar terlucunya pasca era Warkop DKI, dengan humor cross-dressing di akhir merupakan momen terbaik. Keseluruhan Gila Lu Ndro! memang lucu. Penonton yang mengisi penuh studio tempat saya menonton jelas terpuaskan. Apabila cuma bertujuan memancin tawa, maka film ini sukses. Tapi Gila Lu Ndro! ingin menjadi lebih.....dan gagal. Coba tanyakan pada penonton yang tergelak sepanjang film mengenai intisari filmnya, besar kemungkinan mereka tidak mampu mengutarakan jawaban pasti.

THE PREDATOR (2018)

Di film ini sesosok Predator (the normal one, not the giant Ultimate Predator) mendarat di Bumi berlandaskan suatu tujuan. Tujuan yang terasa berlawanan dengan serangkaian pembantaian yang ia lakukan. Itulah plot hole terbesar filmnya, sebab meski Predator adalah monster berharga diri tinggi, liar, ganas, mereka juga makhluk cerdas. Walau jika sang Predator berpikiran jernih, mampu menahan nafsu membunuh, filmnya akan berakhir bahkan sebelum menginjak second act. Saya menjabarkan lubang tersebut di awal supaya anda bisa bersiap, sehingga tak perlu terlampau memikirkannya dan bisa duduk santai menikmati “slash slash bang bang” persembahan Shane Black (Iron Man 3, The Nice Guys).

Tidak mudah membuat sekuel di seri Predator. Setiap film punya protagonis berbeda tanpa korelasi satu sama lain, menjadikan proses pengembangan karakter mustahil dilakukan. Satu-satunya pilihan hanya memperlebar mitologi para mesin pembunuh berambut dreadlock, dan memang itu yang Black lakukan. Pasca mendarat (darurat) kemudian terlibat konforntasi dengan Quinn McKenna (Boyd Holbrook), penembak jitu Army Rangers yang kebetulan tengah menjalankan misi dan berujung mencuri beberapa teknologi alien, sang Predator dibawa ke fasilitas rahasia untuk diteliti, salah satunya oleh ahli Biologi bernama Casey Bracket (Olivia Munn).

Casey menyadari anomali dalam DNA Predator, yang Black dan Fred Dekker (RoboCop 3) pakai di naskah hasil tulisan mereka guna menjelaskan alasan Predator gemar mendatangi Bumi, sekaligus menegaskan tidak dianggapnya eksistensi dua judul Alien vs. Predator. Anda akan tahu “kenapa” ketika tujuan kedatangan Predator selama ini diungkap. Pembangunan mitologi lain dilakukan lewat pengenalan Ultimate Predator, pemburu para pemburu, yang berburu bersama anjing-anjing raksasa (Predogtor? Predadog?) yang juga berambut dreadlocks. Menurut Casey, rambut tersebut berfungsi sebagai penghantar sinyal. Ultimate Predator lebih besar, lebih kuat, tapi caranya beraki bak monster bodoh ketimbang mesin pembunuh taktis layaknya Predator orisinal. Jadi bila ada pertanyaan apakah ia menyeramkan, jawabannya “Tidak”.

Namun Shane Black berbekal kekhasan penulisannya jelas tak berniat membuat The Predator sebagai horor kelam nan serius. Diperlihatkan kala kita bertemu sekelompok veteran perang bermasalah yang terdiri atas pengidap Tourette, ADHD, PTSD, dan lain-lain. Quinn, yang coba dibungkam sebagai saksi pendaratan Predator, termasuk salah satunya. Bergantian mereka melontarkan lelucon, khususnya Coyle (Keegan-Michael Key) dengan “mulut busuknya”. Tanpa penokohan mendalam, tidak pula memorable, setidaknya kehadiran mereka menghasilkan momen-momen menyenangkan. Trevante Rhodes paling menonjol, piawai menangani kalimat demi kalimat, membuat karakter Nebraska bagai kawan yang bisa diajak bicara hati-ke-hati di malam hari sembari menenggak sebotol bir dengan nyaman.

Keputusan Black memacu kencang The Predator sayangnya kerap menghalangi beberapa humor—yang dibawakan dengan apik oleh jajaran pemain—mencapai potensi puncak akibat comedic timing-nya sering berantakan, buru-buru melaju sebelum penonton mampu memproses banyolannya secara menyeluruh. Tapi ketika berhasil, tawa yang dihasilkan tidak tanggung-tanggung, apalagi Black menolak malu-malu mengumbar kekonyolan, termasuk melalui komedi slapstick.

Serupa film aksi popcorn masa lalu, khususnya era 80an, The Predator digeber kencang, diiringi baku tembak serta kejar-kejaran pesawat yang semuanya gaduh, tanpa pernah berniat menginjak rem. Sebuah keputusan tepat melihat tipisnya alur yang cuma diisi segelintir eksposisi mitologi, yang apabila dijajarkan, takkan berjalan sampai 15 menit. Singkatnya, seperti film aksi oldskul ketika seorang jagoan masuk hutan dan menghabisi sepasukan lawan seorang diri. Tapi seperti film aksi oldskul pula, Black menyimpan amunisi sebagai ganti ketiadaan jalinan cerita solid, yaitu gore. Predator mengunyah kepala manusia, menyayat perut hingga segala isinya berhamburan, mencabik-cabik wajah mereka, menyemburkan darah ke segala penjuru ruangan. Kebrutalan The Predator akan memuaskan para pencari sadisme over-the-top, termasuk berkat kepiawaian Black merangkai deretan momen kematian kreatif. Mungkin sulit mengingat detail penokohan tiap orang, tapi tidak dengan cara mereka meregang nyawa.

Boyd Holbrook adalah leading man yang solid, meyakinkan mengangkat senjata pula menebar senyum kharismatik. Begitu pun Olivia Munn yang dapat berdiri tegak dalam franchise yang selama ini identik, atau tepatnya diawali dengan parade machismo Arnold Schwarzenegger dan kawan-kawan 31 tahun lalu. Turut tampil adalah Jacob Tremblay, memerankan putera Quinn, Rory McKenna, pengidap autisme sekaligus seorang bocah jenius yang sanggup mengakali peralatan canggih milik Predator. Tremblay sebagaimana biasa tampil apik, dan rasanya bakal memainkan peran besar di kelanjutan seri ini (jika dibuat), mengingat benih yang ditanam pada konklusi The Predator merujuk pada sekuel yang lebih futuristik.

CRAZY RICH ASIANS (2018)

Di luar menjadi film berlatar modern produksi studio besar Hollywood pertama yang mayoritas pemainnya diisi jajaran pemain Asia sejak The Joy Luck Club (1993), Crazy Rich Asians tidak berusaha membongkar pakem. Filmnya menerapkan formula komedi-romantis mengenai jatuh-bangun hubungan romansa, mencampurnya dengan formula lain tentang “Cerita Cinderella” lengkap dengan momen makeover  yang bakal membuatmu berharap didatangi ibu peri beserta kereta labu ajaib. Adaptasi novel bestseller berjudul sama karya Kevin Kwan ini tak berusaha menjauh, tapi memperkaya, memperdalam, sekaligus mempercantik formula yang telah paten. Demikian, Crazy Rich Asians berpeluang membangkitkan komedi-romantis arus utama dari mati suri.

Aksi kucing-kucingan untuk mendapatkan pria/gadis idaman ditiadakan (setidaknya sampai babak akhir), diganti usaha merebut hati calon mertua. Rachel Chu (Constance Wu), gadis Cina-Amerika yang menjabat profesor ekonomi di New York University menerima ajakan sang kekasih, Nick Young (Henry Golding) menghadiri pernikahan sahabatnya, Colin Khoo (Chris Pang) dengan Araminta (Sonoya Mizuno) di Singapura, sekaligus bertemu ibunya, Eleanor (Michelle Yeoh). Satu hal yang Rachel belum ketahui, Nick merupakan anak sulung salah satu keluarga terkaya di sana.

Pesona Golding membuatnya tampak meyakinkan sebagai pewaris tahta dinasti keluarga terpandang dan figur publik idola, sementara Wu, menampilkan kepolosan yang seiring waktu berkembang jadi kepercayaan diri. Berdua, mereka menciptakan pasangan komedi-romantis sempurna, tapi tidak di mata Eleanor yang menyatakan keengganan menerima Rachel lewat kesopnanan tutur yang menusuk. Tapi Eleanor bukan antagonis dangkal berupa sosok ibu kejam. Dia menyayangi Nick dan sebagai orang tua, sepenuhnya berhak meragukan Rachel. Eleanor tidak jahat, melainkan tradisional.

Karena di samping kemewahan lokasi, properti, pula busananya, Crazy Rich Asians bicara soal tradisi masyarakat Asia (termasuk Indonesia), yang mementingkan restu keluarga sebelum membawa hubungan ke tingkat lanjut. Sementara pihak keluarga menimbang “bibit, bebet, bobot”. Petuah “Menikahlah dengan orang yang satu ras/daerah /agama” seolah bergema sepanjang film. Rachel dianggap berbeda karena merupakan Cina-Amerika, tidak “murni”, dan Amerika, atau negeri Barat secara umum, terlihat negatif bagi Eleanor. Mereka rela mengorbankan keluarga demi impian. Kata “mandiri” pun bak bersinonim dengan “membuang keluarga”. Maka saat Nick berkata, “I’ll figure it out ON MY OWN”, Eleanor merespon sinis, menyebutnya sebagai “aksen Amerika”.

Crazy Rich Asians tidak berusaha mencela perspektif Eleanor, melainkan mengajak penonton mengobservasi pemicunya, yakni tradisi panjang nan mengakar, yang mau tidak mau wajib Eleanor terima dan internalisasikan sebagai kepercayaannya sendiri. Michelle Yeoh memastikan di setiap respon dingin atau keheningan dengan senyum yang terasa intimidatif untuk calon menantu mana pun, terdapat lapisan lain. Eleanor tenang di luar, namun pembawaan Yeoh membuat saya yakin bahwa di dalam, otaknya sibuk bekerja, mengkalkulasikan tiap opsi langkah layaknya pemain mahjong berpengalaman.

Mahjonng turut memainkan peran di sebuah momen penting yang berguna menyampaikan salah satu pesan utama filmnya: proses mengenali. Pertama kali kita bertemu Rachel, ia sedang mengajar di kelas, memperlihatkan kepada murid-muridnya jika kunci kemenangan dalam permainan apa pun adalah mengenali lawan. Itu pula yang terjadi sepanjang film. Permainan. Guna memenangkannya, Rachel—atau siapa saja yang mencari kelanggengan hubungan—mesti mengenali sang lawan, entah itu si calon mertua, atau sang kekasih sendiri. Crazy Rich Asians dipenuhi konflik serupa, ketika rahasia dan ketidaktahuan berujung menciptakan masalah.

Di Singapura, bukan Eleanor saja lawan Rachel, wanita-wanita sosialita pemuja Nick yang cemburu melihat si pangeran idola jatuh ke pelukannya pun jadi rintangan. Beruntung, Rachel ditemani beberapa kawan yang selalu siap sedia memberi dukungan. Salah satunya Peik Lin, sahabat Rachel semasa kuliah, yang berkat keeksentrikan Awkwafina, menjadi sumber tawa. Apabila Peik Lin adalah “Asian Ellen”, maka Gemma Chan sebagai Astrid, saudari Nick sekaligus ikon fashion Singapura, bagaikan “Asian Audrey Hepburn”. Glamor, memesona, mengenakan gaun serta perhiasan mewah ketimbang “dikenakan” oleh mereka. Keduanya, juga tokoh pendukung lain termasuk ibunda Rachel, Kerry (Tan Kheng Hua), memegang peran penting dalam perjalanan protagonis kita memahami kalau ia harus bangga akan dirinya, lalu memanfaatkan seluruh talentanya agar menjadi kekuatan. The Cinderella doesn’t needs a fairy in this fairy tale.

Anda mungkin sudah mendengar puja-puji bagi adegan pernikahan film. Saya pastikan puja-puji tersebut tidaklah berlebihan. Pernikahan Colin-Araminta  adalah adegan terbaik Crazy Rich Asians, pula salah satu momen film terindah sepanjang tahun. Pertama, tentu saja berkat hasil kerja menakjubkan departemen artistik yang turut melibatkan talenta lokal, Teddy Setiawan (Beirut) sebagai drafter. Diceritakan pernikahan itu memakan biaya $40 juta, lebih mahal dari bujet $30 juta milik filmnya. Namun saat kreativitas mengambil alih, tiada yang mustahil. Rerumputan dan bunga-bunga di kapel hingga tongkat bercahaya yang digenggam masing-masing tamu menghasilkan nuansa surgawi. Hasil karya di momen-momen lain tak kalah memikat, termasuk dekorasi ruang kelas satu pesawat yang mesti dibangun dari nol akibat maskapai Singapore Airlines menolak tawaran kerja sama.

Sutradara Jon M. Chu (Step Up 3D, Justin Bieber: Never Say Never, G.I. Joe: Retaliation) sudah terbiasa menangani film berbasis parade visual, tapi pada pengikatan janji suci Colin-Araminta, Chu membuktikan ia bukan saja jago mengkreasi gambar cantik. Penyutradaraannya mewakili keyakinan bahwa pernikahan itu sakral. Chu menghasilkan nuansa yang nyaris mystical (dan pastinya magical). Puncaknya saat kapel dialiri air dan Chu menghentikan semua sumber suara termasuk iringan manis Can’t Help Falling in Love versi Kina Grannis. Keheningan magis yang sulit ditandingi film lain tahun ini pun merobohkan pertahanan emosi saya. Pernikahan ini tidak hanya perihal pameran visual, juga interaksi karakter, dari bisikan “I love you” dua protagonis sampai kedatangan Astrid bersama sang nenek (Lisa Lu), menampakkan ragam wujud cinta, baik antar-kekasih juga keluarga.

Crazy Rich Asians adalah film yang bertujuan menyebarkan kebahagiaan, entah melalui romansa manis dan uplifting-nya, komedi segar, enegi, maupun keglamoran yang bersinar terang berkat kerja luar biasa departemen artistiknya. Mengikuti formula, di atas permukaan kisahnya takkan terlihat spesial, namun sebagaimana karakternya lakukan, cobalah mencari tahu, mengenali lebih lanjut. Amati, dapatkan pemahaman lebih lanjut, dan anda bakal menemukan berlian yang sama menyilaukannya dengan koleksi Astrid.


Note: Setelah menonton untuk kedua kali, nilai diubah dari 4 menjadi 4,5 bintang.