Translator

20 Mei 2013

TEXAS CHAINSAW (2013)

The Texas Chainsaw Massacre buatan Tobe Hooper yang dirilis pada tahun 1974 bisa dibilang merupakan salah satu pondasi utama dalam genre film slasher. Mungkin bukan yang pertama, tapi film tersebut termasuk yang memantapkan formula tentang sekelompok remaja bodoh yang berlibur ke tempat terpencil untuk kemudian satu demi satu melakukan hal bodoh yang menyebabkan mereka tewas dibantai oleh sesosok pembunuh berdarah dingin, biasanya makin sadis makin baik. Dalam film slasher, cerita memang di nomor sekiankan. Hal yang paling penting dalam film seperti ini adalah bagaimana cara kematian masing-masing karakternya dikemas dan segila (baca: sekeren) apakah sosok pembunuh yang ditampilkan. TTCM sendiri punya semua hal diatas. Sosok pembunuhnya jelas gila. Siapa tidak kenal Leatherface dengan segala kegilaannya? Memakai topeng kulit manusia, kanibal, senang berdandan seperti perempuan, punya psychological age 8 tahun meski sudah dewasa, dan tentunya bersenjatakan gergaji mesin yang selalu berhasil meneror korban ataupun penonton tiap kali kemunculannya. Belum lagi keberadaan keluarga Sawyer yang sama gila dan juga kanibal makin membuat TTCM terasa begitu mengerikan. Sempat di-remake pada 2003, TTCM berlanjut dengan Texas Chainsaw 3D yang merupakan sekuel langsung dari film originalnya.

Dibuka dengan potongan-potongan dari adegan film aslinya, Texas Chainsaw kemudian memulai kisahnya dengan memperlihatkan apa yang terjadi setelah Sally (protagonis film pertamanya) berhasil kabur dari kejaran Leatherface dan melaporkan kejadian yang baru saja ia alami pada polisi. Tapi ternyata sebelum polisi berhasil melakukan penangkapan, para warga yang tidak terima akan perbuatan keluarga Sawyer memutuskan untuk membakar mereka hidup-hidup termasuk Leatherface yang disini diketahui bernama Jedediah Sawyer. Kemudian kisahnya melompat ke 20 tahun kemudian, dimana narasi berfokus pada Heather Miller (Alexandra Daddario) yang saat itu baru saja mengetahui fakta bahwa dirinya bukan anak kandung kedua orang tuanya. Heather mengetahui hal tersebut setelah mendapat surat warisan dari neneknya yang tinggal di Newt, Texas diamana disitu tertulis bahwa Heather merupakan keturunan terakhir dari keluarga Sawyer. Merasa ingin tahu asal usul yang sebenarnya, Heather bersama teman-temannya memutukan untuk pergi menuju Texas. Disana mereka menemukan bahwa warisan yang diterima oleh Heather adalah berupa mansion yang amat besar. Melihat mansion tersebut, hal wajib yang harus dilakukan oleh para remaja di film slasher tentunya mengadakan pesta di tempat yang masih misterius tersebut. Tentunya kita juga tahu bahwa ternyata di salah satu sudut rumah tersebut,sosok Leatherface dengan gergaji mesin miliknya sudah menanti mangsa.

12 Mei 2013

EVIL DEAD (2013)

Sekilas, remake dari Evil Dead ini memang bagaikan dosa terbesar dalam sejarah film horror. Bagaimana tidak, film aslinya yang dibuat oleh Sam Raimi sudah menjadi legenda dalam dunia film horror, bahkan mengibaratkan film tersebut sebagai sebuah kitab suci bagi penggemar horror rasanya tidak berlebihan. Kemudian kita lihat sudah berapa kali kelancangan Hollywood dalam me-remake horror klasik berujung pada kegagalan. Ada Friday the 13th, A Nightmare on Elm Street, Texas Chainsaw Massacre hingga Halloween (judul terakhir mungkin paling mendingan kualitasnya). Namun satu hal yang berbeda dari Evil Dead, karena remake yang satu ini sudah mendapat persetujuan bahkan dukungan dari orang-orang yang terlibat dalam film aslinya, yakni Sam Raimi dan aktor Bruce Campbell. Fede Alvarez yang baru memulai debutnya disini ditunjuk sebagai sutradara. Alvarez sendiri cukup dikenal lewat film pendeknya yang berjudul Panic Attack yang rilis empat tahun lalu. Meski tetap mengundang kontroversi, namun Alvarez nampaknya tahu benar bagaimana melakukan remake terhadap sebuah film klasik. Dia tidak merusak pondasi film aslinya, dan malah memberikan berbagai penghormatan tanpa terlupa untuk memasukkan visi miliknya sendiri dan membuat remake ini tetap terasa baru tanpa merusak yang lama.

Jalan ceritanya sendiri jelas masih berpatokan pada film aslinya yang juga sudah dipakai oleh ratusan film horror masa kini. Lima orang remaja yang jika huruf depan namanya digabungkan membentuk kata DEMON (David, Eric, Mia, Olivia, Natalie) berkumpul di sebuah kabin di tengah hutan milik orang tua David dan Mia. Disana mereka berkumpul dengan sebuah niatan untuk menyembuhkan Mia yang selama ini kecanduan narkoba. David sendiri merasa bersalah karena sebagai kakak dia tidak pernah ada di sebelah Mia dan kali ini berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka. Tapi malam pertama mereka sudah tidak berjalan lancar disaat mereka menemukan sebuah pintu tersembunyi menuju ruang bawah tanah. Bagi yang sudah menonton film aslinya pasti tahu yang akan terjadi berikutnya dimana kelima remaja ini menemukan Book of the Dead, membaca mantra yang ada di dalamnya yang kemudian membangkitkan iblis jahat yang akan satu per satu merasuki mereka dan membunuh semua yang ada disana. Selain tidak adanya sosok Ash Williams, Alvarez memang tidak melakukan perubahan yang berarti pada jalan ceritanya. Tentu saja hal itu bukanlah hal negatif, karena biar bagaimanapun Alvarez seperti yang saya singgung diatas tetap berhasil memadukan elemen film original dengan visi miliknya.

11 Mei 2013

JACK REACHER (2012)

Ada Jack Reacher, ada Jack Ryan, ada pula Alex Cross. Membaca judul dan premisnya saja saya sudah tidak yakin, karena film-film diatas nampak seperti sebuah suguhan aksi yang sedari awal sudah malas memilih judul (pakai saja nama tokoh utamanya, beres) dan saya pun berasumsi ceritanya ditulis secara malas-malasan. Jack Reacher sendiri adalah sebuah adaptasi terhadap novel One Shot karya Lee Child. Karakter Jack Reacher sendiri pertama muncul pada novel Lee yang berjudul Killing Floor pada 1997. Sejak saat itu sudah ada 17 novel yang memunculkan karakter Jack Reacher dalam ceritanya. Hal itu berarti karakternya punya sejarah yang cukup panjang, tidak kalah dari Jason Bourne bahkan lebih panjang. Namun lagi-lagi materi promosi yang terasa malas-malasan mulai dari judul hingga poster filmnya membuat saya memandang sebelah mata terhadap film ini, sebuah film yang nampaknya hanya akan bersenjatakan rentetan adegan aksi dan kharisma seorang Tom Cruise. Pada akhirnya dugaan saya tidak sepenuhnya salah namun juga tidak 100% benar. Jack Reacher memang bukan film dengan cerita yang brilian tapi ternyata lebih cerdas dari yang saya duga.

Di Pittsburgh, Pennsylvania terjadi sebuah insiden penembakan yang menewaskan lima orang. Dari tempat kejadian perkara ditemukan berbagai barang bukti mulai dari selongsong peluru hingga koin yang digunakan untuk membayar parkir. Dari koin tersebut ditemukan sidik jari milik James Barr (Joseph Sikora) yang merupakan mantan sniper dari angkatan darat Amerika Serikat. Namun sayangnya sebelum ia mengakui perbuatannya, Barr sudah terlanjur dipukuli oleh sesam tahanan hingga koma. Dalam proses interogasi sebelumnya tidak ada pengakuan dari mulut Barr, yang ada hanyalah ia menuliskan pesan yang berbunyi Get Jack Reacher! Jack Reacher (Tom Cruise) sendiri juga merupakan mantan militer Amerika yang kini hidup secara misterius. Dia tidak memiliki alamat ataupun data diri lain yang membuat keberadaannya tidak bisa dilacak. Namun secara tiba-tiba Jack Reacher justru muncul dengan sendirinya untuk membantu penyelidikan. Dia pun akhirnya diminta oleh Helen Rodin (Rosamund Pike) yang merupakan pengacara Barr untuk menjadi penyelidik dalam kasus tersebut. Namun penyelidikan tersebut justru memunculkan berbagai fakta baru yang mengejutkan dan membuat kasus yang seolah mudah tersebut menjadi jauh lebih rumit. Ya, sama seperti cerita dalam Jack Reacher yang awalnya saya kira kosong namun ternyata jauh lebih menarik.

9 Mei 2013

HANSEL & GRETEL: WITCH HUNTERS (2013)

Film yang berkisah tentang twist terhadap sebuah dongeng klasik memang masih menjadi tren. Kali ini giliran dongeng Hansel & Gretel ciptaan Brothers Grimm yang diadaptasi secara lepas. Yang menarik adalah film ini disutradarai oleh Tommy Wirkola yang terkenal lewat film zombie-nazi miliknya, Dead Snow. Dalam Dead Snow saya mengenal Wirkola sebagai sutradara penuh visi gila, dimana ia sanggup mencampurkan horror penuh darah dengan rangkaian komedi hitam yang lucu. Jadi harapan saya tentunya Hansel & Gretel: Witch Hunters juga akan menjadi sebuah film yang gila dan brainless. Dari judulnya sendiri kita sudah bisa membaca bahwa ceritanya akan mendapatkan twist. Bagaimana tidak? Hansel dan Gretel yang dalam dongeng aslinya dikisahkan adalah dua anak kecil yang tersesat di hutan, mengikuti remahan roti sebelum sampai di rumah milik penyihir yang akhirnya mengurung mereka disini keduanya justru dijadikan duo kakak-adik pemburu penyihir. Jalan cerita awal film ini masih mengikuti pakem dongeng aslinya dimana Hansel dan Gretel kecil tersesat di tengah hutan setelah ditinggalkan oleh sang ayah. Kemudian mereka menemukan sebuah rumah yang terbuat dari permen dan ternyata itu adalah rumah seorang penyihir jahat.

Kita semua tahu bahwa Hansel dan Gretel akan dikurung oleh penyihir tersebut sebelum akhirnya mereka berdua berhasil membunuh sang penyihir untuk kemudian hidup bahagia selamanya. Dalam dongeng, disitu adalah akhir cerita, namun dalam film ini semuanya justru baru dimulai saat itu. Selang 15 tahun kemudian, Hansel (Jeremy Renner) dan Gretel (Gemma Arterton) telah dikenal sebagai pemburu penyihir yang tersohor. Dengan bersenjatakan busur panah canggih hingga senapan sampai bazoka mereka berdua berkeliling untuk membunuh penyihir-penyihir jahat yang gemar menculik anak-anak. Sampai mereka tiba di kota Augsburg setelah Walikota meminta mereka untuk memburu penyihir yang telah menculik banyak anak-anak disana. Mereka harus berhadapan dengan sekumpulan penyihir yang dipimpin oleh Muriel (Famke Janssen) seorang penyihir jahat yang sangat kuat. Tanpa diduga Muriel sebenarnya tengah mempersiapkan sebuah rencana rahasia yang kejam. Masih ada beberapa twist pada lanjutan ceritanya, tapi pada dasarnya berbagai perubahan dari cerita aslinya tersebut tidak bisa disebut sebagai twist yang cerdas, karena itu semua hanya pembuka jalan bagi berbagai adegan aksi penuh darah dan tak berotak yang jadi sajian utama film ini.

6 Mei 2013

SIGHTSEERS (2012)

 
Film Kill List yang disutradarai oleh Ben Wheatley pada tahun 2011 cukup menuai sukses dan banyak mendapat respon yang positif. Dengan banyaknya adegan sadis serta twist ending yang gila, film tersebut dianggap berhasil menyuguhkan sebuah tontonan horror yang bagus, namun saya tidak terlalu sependapat. Benar jika terdapat beberapa adegan yang menampilkan kesadisan dengan cukup gamblang, dan benar ending-nya punya kejutan sekaligus tingkat kegilaan yang mungkin nyaris setara dengan A Serbian Film, tapi secara keseluruhan saya merasa Kill List membosankan dan berjalan terlalu lambat. Setahun kemudian Ben Wheatley kembali membuat sebuah film thriller berjudul Sightseers. Bedanya, dalam film yang juga diproduseri oleh Edgar Wright ini, terdapat bumbu komedi hitam. Sightseers bercerita tentang sepasang kekasih, Chris (Steve Oram) dan Tina (Alice Lowe) yang melakukan perjalanan berdua. Chris mengajak Tina dalam perjalanan tersebut untuk menunjukkan pada kekasihnya itu bagaimana dunia yang disukai oleh Chris. Perjalanan yang pada awalnya tidak disetujui oleh ibunda Tina tersebut awalnya berjalan menyenangkan. Keduanya begitu menikmati perjalanan penuh cinta tersebut. Sampai kemudian sebuah kejadian mengerikan membuat perjalanan tersebut perlahan menjadi penuh darah dan diisi oleh rangkaian pembunuhan keji.

Sebenarnya, road movie yang berkisah tentang sebuah perjalanan yang menjadi kacau bukan hal baru karena road movie memang selalu menampilkan konflik semacam itu. Begitu juga film tentang sepasang kekasih yang melakukan atau menemui hal gila bersama-sama juga bukan merupakan hal baru. Namun jika ditelusuri lebih dalam, apa yang terkandung pada Sightseers jauh lebih dalam, gila dan tragis daripada itu. Sedari awal, Chris dan Tina sudah sama-sama bisa dibilang sudah bermasalah. Chris seiring dengan berjalannya film diceritakan punya kehidupan yang tidak terlalu mulus termasuk cita-citanya menjadi penulis, sedangkan Tina masih merasakan kehilangan mendalam setelah kucing kesayangannya tewas setahun lalu. Tidak hanya itu, ibunya yang sakit-sakitan juga sering membuat Tina merasa terganggu dengan sikapnya yang memang sering membuat Tina jengkel. Kemudian kedua orang ini saling jatuh cinta dan menemukan orang yang mereka cari dalam diri pasangan masing-masing, dan pada akhirnya mereka berlibur bersama. Mereka sama-sama menginginkan liburan yang bahagia bersama orang yang mereka cintai. Chris ingin membuat Tina terkesan padanya, sedangkan Tina sudah merasa muak dengan kehidupan yang ia jalani. Pada akhirnya saat liburan mereka "terganggu" keduanya sama-sama mendapatkan hal gila untuk mendapatkan yang mereka mau.