MOVFREAK ON UC NEWS (LAST UPDATED ON OCTOBER 3, 2018)

Sejak akhir Juni lalu, saya diundang oleh UC News untuk menyumbangkan tulisan bertema religi...maksud saya film. Awalnya saya hanya mempublikasikan ulang review blog ini, sampai tercetus niat untuk fokus pada pembuatan list film, yang mana sering pembaca blog ini minta tapi karena satu dan lain hal (baca: penulisnya pemalas) jarang terpenuhi. Kenapa tidak sekalian membuat list juga di sini? Tidak lain demi menjaga orisinalitas kedua media, sebab pernah artikel saya ditolak karena sistem menyatakan tulisan itu hasil jiplakan dari web movfreak.blogspot.com (lol).

Maka dari itu, jika ada list yang kalian ingin saya buat, silahkan request, bisa di kolom komentar ini atau artikel saya di UC News. Untuk mengakses tulisan di sana, bisa mengunduh aplikasi UC News di smartphone, lalu cari dan ikuti akun "Movfreak". Atau cukup dengan mengikuti postingan ini yang akan selalu saya update tiap ada artikel baru dan akan selalu disematkan di halaman paling atas blog. Dan karena perbedaan media publikasi, gaya penulisan yang saya pakai pun (mostly) berbeda. Silahkan request sebanyak-banyaknya, makin unik makin baik, agar memudahkan saya membuat judul clickbait daftar menarik. Tenang, review tetap saya publikasikan di sini (afterall, this is my home, and all of you, my readers, are the lovely guests).

Berikut beberapa judul yang sudah ada sejauh ini yang akan rutin diperbaharui (klik untuk menuju tautan):

A SIMPLE FAVOR (2018)

Paul Feig (Bridesmaids, Spy) bereksperimen lewat A Simple Favor yang merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Darcey Bell. Alih-alih sepenuhnya merambah “sisi gelap” sebagaimana dijadikan materi promosi lewat tagline berbunyi “The Darker Side of Paul Feig” dan mengikuti pola Hitchcockian atau Les Diaboliques (1955)—yang bahkan disebut dalam dialog—sang sutradara, bersama penulis naskah Jessica Sharzer (Nerve), berani menyatukan elemen thriller misteri dengan komedi yang jadi keahliannya. Hasilnya menyenangkan, meski acap kali campur aduk.

Itulah kenapa Anna Kendrick jadi pilihan tepat sebagai Stephanie Smothers, ibu tunggal sekaligus vlogger resep masakan dan kerajinan. Kendrick, serupa mayoritas peran-peran sebelumnya, memerankan wanita muda naif dan canggung, yang kerap membuatnya bertingkah konyol di tengah interaksi sosial. Dan dia bagus. Kendrick, selain tentunya kepiawaian pengadeganan Feig, adalah alasan humornya selalu berhasil, walau kejenakaan A Simple Favor seringkali ada di tempat yang aneh.

Tapi inilah tujuan Feig. Dia tidak ingin mencengkeram jantung penonton layaknya Alfred Hitchcock, atau menampilkan gurat-gurat kengerian bak Les Diaboliques. Feig ingin menghibur. Feig ingin kita tertawa, terjaga, terkejut, dan tentunya terpesona sebagaimana Stephanie kala ia pertama bertemu Emily Nelson (Blake Lively) saat keduanya menjemput putera mereka dari sekolah. Emily adalah wanita elegan dengan dandanan menawan seolah baru tiba dari acara peragaan busana di Paris, selaras dengan lantunan musik jazzy garapan Theodore Shapiro, komposer langganan Feig sejak Spy.

Serupa Kendrick, Lively jelas sempurna sebagai Emily, yang membuat bukan saja Stephanie, tapi juga penonton sulit melepaskan pandangan darinya. Hebatnya, ia pun mulus berkomedi. Kata “brotherfucker” takkan selucu itu kalau bukan berkatnya.

Kedua tokoh utama kita cepat akrab. Stephanie mengagumi betapa elegan Emily, sebaliknya, sang kepala divisi hubungan masyarakat suatu perusahaan mode itu menyukai kelucuan Stephanie. Mungkin Stephanie memberi hiburan bagi Emily, yang kesehariannya hanya ditemani pekerjaan serta suaminya, Sean (Henry Golding), novelis yang telah 10 tahun tak menghasilkan karya baru. Hingga suatu hari, Emily mengajukan sebuah permintaan sederhana agar Stephanie menjemput puteranya dari sekolah. Setelahnya, ia menghilang.

Where’s Emily?” merupakan pertanyaan yang filmnya ingin kita pertanyakan. Asumsi-asumsi mampu dimunculkan, teori-teori berseliweran di kepala, usaha menyatukan keping-keping puzzle pun saya lakukan didasari pengalaman menyaksikan film-film misteri bertema serupa. Kemudian filmnya menampar lewat titik balik di pertengahan durasi. Segala teori dan asumsi tadi pun runtuh.

Saya meyakini, kisah misteri yang baik bukan bergantung pada jawaban atau kejutan di akhir, melainkan proses investigasi. Konklusi yang sukar ditebak sebatas bonus. Dan kelebihan A Simple Favor terletak pada caranya mengombang-ambingkan pemikiran penonton. Setiap kita merasa mulai menemukan titik terang, fakta baru yang kontradiktif langsung dipresentasikan. Alurnya pun bergerak dinamis begitu Stephanie memutuskan memulai penyelidikan ketimbang berdiam diri dikuasai kebingungan. Di sinilah humornya berperan. Sesekali otak kita dibawa rehat sejenak dari pencarian fakta, untuk menertawakan polah Stephanie (plus jajaran tokoh pendukung) yang selalu menemukan jalan bertingkah konyol.

Sayang, mencapai babak akhir, filmnya keteteran akibat penyakit lawas: obesi terhadap twist. Kejutan demi kejutan yang mayoritas punya mekanisme absurd dijajarkan terburu-buru, tanpa memberi penonton waktu mencerna fakta yang terungkap sebelumnya. Ditambah lagi, kapasitas Feig menangani momen pengungkapan kejutan dalam misteri belum mumpuni. Mungkin ia enggan “membesar-besarkan” kejutan, namun dampaknya, beberapa titik sebatas hadir sambil lalu. Untunglah A Simple Favor tidak semata menggantungkan garis finish, pula perjalanan mencapai sana. Dan sungguh perjalanan yang menyenangkan.

THE NIGHT COMES FOR US (2018)

The Night Comes for Us dibuat oleh pria dewasa gila yang mewujudkan mimpi basah masa kecilnya (dan beberapa kalangan penonton). Jagoan kelewat tangguh yang nyaris tak terkalahkan dengan teman-teman yang bersedia pasang badan, karakter-karakter dengan tampilan, kemampuan, serta latar belakang keren, dan tentunya perkelahian demi perkelahian. Sewaktu bocah, kartun dengan formula di atas jadi kegemaran saya. Serahkan kartun itu pada orang di balik Rumah Dara dan Safe Haven, jadilah sajian laga yang hanya setingkat lebih “realistis” dibanding Riki-Oh: The Story of Ricky.

Saya membubuhkan tanda petik pada kata “realistis” karena sejatinya, dari perspektif umum, film kedua Timo Tjahjanto sepanjang 2018 ini jelas tidak memerlukan logika, baik dalam pembuatan maupun proses penonton menikmatinya. Di sini, seseorang masih bisa melancarkan pukulan meski ususnya berhamburan. Dunia yang Timo bangun adalah dunia sarat kekerasan di mana sadisme dan pembunuhan merupakan makanan sehari-hari manusia di dalamnya . Wajar, sebab dalam dunia ini Triad memegang kendali. Bahkan protagonis kita jadi salah satu pentolannya sebelum membelot.

Ito (Joe Taslim) merupakan salah satu anggota Six Seas, enam pria dan wanita pilihan dengan identitas misterius yang bertugas menjaga keteraturan. “Menjaga keteraturan” di sini berarti menghalalkan segala cara agar semua pihak tunduk pada Triad, termasuk membantai seisi kampung. Tapi ketika diharuskan membunuh gadis cilik bernama Reina (Asha Kenyeri Bermudez), Ito menahan pelatukan, lalu berbalik menghabisi anak buahnya. Menolak tinggal diam, Triad mengirim para pembunuh terbaiknya, termasuk Arian (Iko Uwais), yang sudah bagaikan saudara kandung Ito.

Berikutnya adalah 2 jam pertarungan yang hanya sesekali melambat ketika Timo merasa perlu menyelipkan sedikit flashback, sedikit pembangunan karakter, dan lebih banyak kesempatan bagi penonton bernapas. Cerita tulisan Timo tak mendalam. Sebatas eksposisi dingin tanpa emosi, kecuali saat Reina dan Ito duduk bersama selepas lolos dari usaha pembunuhan. Setitik hati film ini muncul ketika sejenak beralih menuju kisah mengenai bocah polos yang menyaksikan kebrutalan dunia tersaji di hadapannya, dan bukan mustahil, bakal mempengaruhi pertumbuhannya.

Tapi itu cerita di lain hari. The Night Comes for Us tak punya, atau tepatnya tak meluangkan waktu, bagi eksplorasi dramatik. Karena ini adalah proses Timo meluapkan visi gilanya sekaligus menguji sejauh mana dia bisa membungkus tiap kematian sekreatif mungkin. Bola-bola biliar, taser pemicu tarikan picu senapan, hingga tulang sapi cuma segelintir contoh. Pastinya semua berujung muncratan darah bahkan potongan tubuh berhamburan. Ketika seseorang terkena ledakan, kita melihat serpihan tubuh mereka.

Gerak kamera Gunnar Nimpuno (Modus Anomali, Pendekar Tongkat Emas, Killers) mungkin belum semumpuni Matt Flannery dalam dwilogi The Raid soal menangkap koreografi buatan Iko Uwais—yang seperti biasa, rumit nan kaya variasi—tapi cukup sebagai pemberi dinamika serta membuat penonton merasakan dampak dari beberapa pukulan dan tusukan. Sementara musik garapan duet maut Fajar Yuskemal-Aria Prayogi  (The Raid, Headshot) yang memadukan nomor elektronik dan klasik ditambah pilihan-pilihan lagu menarik dari Timo (Benci untuk Mencinta dari Naif paling menonjol) setia mengiringi di belakang.

Sulit memilih mana pertarungan terbaik, tapi 3 di antaranya begitu berkesan. Pertama saat Fatih (Abimana Aryasatya), Bobby (Zack Lee), dan Wisnu (Dimas Anggara) menghadapi pasukan suruhan Yohan (Revaldo dalam comeback luar biasa). Zack Lee menggila sedangkan Abimana menambahkan bobot dramatik plus kematangan menangani dialog yang tak terduga muncul di film macam ini.

Kedua, sewaktu duo pembunuh lesbian anggota Lotus (satu lagi sebutan yang menarik digali bila ada film lanjutan), Elena (Hannah Al Rashid) dan Alma (Dian Sastrowardoyo) mengepung The Operator (Julie Estelle). Bermula di kamar lalu berlanjut ke lorong penuh potongan tubuh manusia, sekuen ini membuktikan kebolehan ketiga aktris. Dian lewat kesintingan yang belum pernah ia tampakkan (termasuk improvisasi menjilat tangah Hannah), Hannah yang meyakinkan melakoni koreografi, juga Julie Estelle yang sekali lagi membuktikan bahwa ia aktris laga nomor satu Indonesia saat ini. Karakter yang bisa memutus jari tangannya sedemikian santai seperti The Operator jelas perlu dibuatkan filmnya sendiri.

Ketiga tentu saja klimaks Joe melawan Iko yang bagai rangkuman keseluruhan film: brutal sekaligus berwarna. Joe dengan gaya bertarung lebih eksplosif dan Iko lewat kecepatan taktis yang tak kalah “meledak”, sama-sama  menembus batas, baik dari sisis karakternya yang bertarung hingga titik (atau banjir?) darah penghabisan, maupun perjuangan keduanya selaku aktor. Ketiadaan alur mumpuni berpotensi menjadikan perjalanan filmnya melelahkan khususnya di pengalaman menonton pertama, namun The Night Comes for Us merupakan satu dari sedikit sajian laga modern yang akan dengan senang hati saya kunjungi lagi kala membutuhkan hiburan, baik menyeluruh atau parsial guna menikmati pertarungannya secara terpisah.

DANCING IN THE RAIN (2018)

Sungguh hidup seperti putaran roda yang sulit ditebak arahnya. Baru tiga minggu lalu, Screenplay Films baru saja mempersembahkan karya terbaik mereka lewat Something in Between (review), sekarang muncul Dancing in the Rain sebagai salah satu yang terburuk. Film karya sutradara Rudi Aryanto (Surat Cinta untuk Starla the Movie, The Perfect Husband) ini mendobrak batas kengawuran bertutur disease porn. Setelah sempat beralih ke tangan Titien Wattimena, departemen penulisan naskah dikembalikan pada duo Tisa TS-Sukhdev Singh (Magic Hour, London Love Story) yang beranggapan bahwa penyakit merupakan satu-satunya penghasil penderitaan. Padahal, mereka yang sehat pun bisa menderita. Penonton film ini misalnya.

Saya takkan mengaku paham betul mengenai segala aspek medis film ini. Saya bukan ahli, bukan dokter, bukan pula psikolog. Apalah artinya ilmu saya yang butuh waktu 7,5 tahun menyelesaikan studi psikologi dibanding psikolog profesional yang (konon) jadi konsultan naskah sekaligus pendamping sepanjang proses produksi. Saya hanya bisa menyebut bahwa merujuk pada definisi DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition), akting Dimas Anggara sebagai pengidap gangguan spektrum autisme telah memenuhi simtoma-simtoma yang tertulis. Tapi saya tak bisa mengukur akurasinya secara detail, apalagi kondisi penderita autisme amat beragam. Satu hal pasti, Dimas melakukan yang ia bisa, sesuai keinginan sutradara dan petunjuk sang psikolog dalam proses yang saya yakin cukup singkat.

Pun saya yakin, Tisa dan Sukhdev melakukan wawancara kepada psikolog. Bukan karena naskahnya tersaji mendalam, namun beberapa kalimat terdengar bagai hasil verbatim (menulis ulang kata per kata tanpa pengubahan) dari wawancara formal, ketimbang ucapan manusia normal. Tengok saja voice over Ayu Dyah Pasha yang memerankan psikolog. Itu bukan ucapan psikolog pada klien. Itu pembacaan halaman Wikipedia.

Mari beranjak menuju alurnya, yang mengisahkan penderita spektrum autisme bernama Banyu (Dimas Anggara), yang akibat kondisinya, sulit meneukan teman. Di sekolah ia dijauhi, sementara di lingkungan sekitar rumahnya, ia jadi korban bully. Sampai ia bertemu Radin (Deva Mahenra) yang tumbuh sebagai sahabat sekaligus pelindung bagi Banyu. Kemudian Kinara (Bunga Zainal) turut masuk ke hidup mereka, bahkan saat beranjak memasuki masa kuliah, menjalin cinta dengan Radin. Untunglah film ini urung masuk ke ranah cinta segitiga, sebab kebersamaan Radin-Kinara amat disukai oleh Banyu.

Sebelum kehadiran Radin dan Kinara, Banyu hanya memiliki Eyang Uti (Christine Hakim), yang luar biasa sabar merawat sang cucu pasca ditelantarkan kedua orang tuanya. Tentu Christine Hakim merupakan hal terbaik Dancing in the Rain. Caranya meregulasi emosi luar biasa. Momen favorit saya adalah saat Katrin (Djenar Maesa Ayu), ibu Radin, mendatanginya, memaksa agar ia bersedia memutus pertemanan Banyu dengan Radin. Eyang berusaha sabar, pelan-pelan bicara, mempertahankan senyum, walau kita bisa merasakan amarah siap meledak. Hingga di satu titik ia tak kuat lagi, suaranya “pecah”, namun tak lama. Kembali ia mengatur emosinya. Such a bravura performance.

Tapi itu urung menyembunyikan keburukan naskahnya, termasuk penulisan karakter Eyang Uti. Dia betul-betul menyayangi Banyu, satu dari sedikit orang yang mengerti cara menanganinya, sehingga bagaimana mungkin ia seteledor itu meninggalkan Banyu sendirian di pasar? Tentu keteledoran itu dimaksudkan guna menciptakan momen dramatis, tanpa peduli masuk akal atau tidak. Pola serupa terus diulang. Di cafe, beberapa pria dengan lantang mencela Banyu (yang datang bersama Radin dan Kirana), menyebutnya idiot, mengejek gaya berpakaiannya. That’s a terrible soap opera level of dramatization. Sama halnya dengan penokohan dangkal Katrin, yang tak ubahnya sosok ibu antagonis tanpa nurani di sinetron, yang bicara sendiri di depan kamera mengungkapkan rencana jahatnya.

Saya sering kesal mendengar omongan “Ini film kelas FTV” atau “Sinetron banget deh filmya”. Kalimat-kalimat itu adalah simplifikasi rendahan. Tapi Dancing in the Rain benar-benar cocok akan deskripsi tersebut. Naskahnya eksis di universe yang sama dengan Jenazah Mandor Kejam Mati Terkubur Cor-Coran Dan Tertimpa Meteor. Tisa dan Sukhdev membuat semua karakternya terjangkit penyakit, entah agar hidup mereka lebih menderita, memberi pelajaran pada antagonis, atau menghadirkan haru lewat sebuah pengorbanan. Sekalinya mencoba memancing haru melalui momen tanpa penyakit, hasilnya justru canggung, ketika sang pembantu menyanyikan Lelo Ledhung ketika Banyu tengah menangis di dekapan Eyang Uti.

Menciptakan persamaan nasib di antara ketiga protagonis turut melucuti pesan penting mengenai perbedaan, bahwa kita harus memperlakukan semua orang sama, dan walau kita dianggap “normal” dan lebih sehat, bukan berarti kita berderajat lebih tinggi. Tapi apa peduli film yang seenaknya menggambarkan proses transplantasi jantung (silahkan anda cari dari beragam sumber mengenai detail prosedurnya) mengenai pesan? Setidaknya, saya bersyukur Rudi Aryanto masih mampu membungkus filmnya dalam tempo dinamis, enggan tampil bertele-tele dan membuang waktu. Karena jika tidak, menonton film ini akan semakin terasa membuang waktu.

GENERASI MICIN (2018)

Generasi Micin adalah tontonan menghibur, tapi menilik dari usahanya mengangkat jarak antargenerasi sekaligus observasi terhadap remaja kekinian, film ini kosong. Ibarat hidangan penuh micin, terasa sedap namun kurang bergizi. Bukan masalah andai tujuannya memang sebatas hiburan ringan, tapi bahkan sejak sekuen pembukanya bergulir, karya penyutradaraan teranyar Fajar Nugros (Yowis Ben, Terbang: Menembus Langit) ini mengincar lebih.

Sekuen yang dimaksud menampilkan Anggara muda (Brandon Salim), sebagai keturunan Cina masa lalu, menghabiskan hidupnya bekerja keras belajar berdagang. Bahkan setelah dewasa (diperankan Ferry Salim) dan menikah, ia menjanjikan sang istri (Melissa Karim) ruko mewah di Pantai Indah Kapuk. Fakta-fakta tersebut berlaku sebagai perbandingan begitu kita bertemu putera sulung Anggara, Kevin (Kevin Anggara), si generasi micin yang (katanya) ingin semua berjalan instan, enggan bersosialisasi, memilih berkutat dengan gadget dan video game di kamarnya.

Komparasi lain datang dari Trisno (Morgan Oey), generasi pasca reformasi, yang merujuk pada salah satu dialog, punya ciri berkebalikan dengan generasi micin: lambat. Trisno sempat bermimpi jadi penyanyi, sebelum membuangnya, dan kini hanya menghabiskan waktu bermalas-malasan di rumah. Generasi Trisno tak digali cukup dalam, tapi tak jadi soal. Pertama, ini bukan film tentang mereka. Kedua, Morgan menampilkan salah satu performa terbaik, paling natural, paling asyik disimak sepanjang karirnya. Begitu asyik, saya lupa bahwa sosok Trisno tak seberapa berarti. Dia hanya memberi petuah singkat bagi Kevin, sebuah peran yang sejatinya turut diemban Anggara.

Naskah tulisan Faza Meonk (Si Juki the Movie: Panitia Hari Akhir) kebingugnan hendak menyampaikan apa serta bagaimana. Kadang, Generasi Micin bagai ingin menunjukkan perbedaan remaja-remaja micin dengan generasi sebelumnya. Salah satu elemen komedik dari aspek itu adalah cara bicara Kevin saat menjelaskan sesuatu yang secepat berondongan senapan mesin. Karena, well, sebagai generasi micin, ia identik dengan hal-hal instan dan cepat. Pun film ini menampilkan bagaimana remaja sekarang punya keunggulan yang tak dimiliki pendahulunya, semisal memanfaatkan internet demi kebaikan.

Sedangkan di kesempatan lain, filmnya justru menakankan bila semua generasi sama saja. Mereka yang tua selalu merasa generasi di bawah mereka adalah penurunan. Kondisi itu terjadi sejak dulu dan akan terus berulang. Sebab apa pun generasinya, di usia muda, mereka hanya ingin bersenang-senang, termasuk berbuat kenakalan seperti saat Kevin bersama tiga temannya, Dimas (Joshua Suherman) si penggila K-Pop, Bonbon (Teuku Ryzki) si pelupa, dan Johanna (Kamasean Matthews) melakukan kejahilan-kejahilan di sekolah sebagai pemenuhan tantangan dari sebuah situs misterius. Poin di atas (semua generasi sama) bahkan diucapkan secara gamblang oleh Chelsea (Clairine Clay), si pujaan hati Kevin, di ending, yang (biasanya) berperan selaku perangkum pesan.

Dua tuturan kontradiktif di atas saling bertabrakan. Layaknya banyak tokoh remaja di dalamnya, Generasi Micin mengalami krisis identitas, penuh kebingungan, termasuk ketika mengakhiri kisahnya lewat epilog berkepanjangan yang kelabakan menutup berbagai cabang cerita pada sisa durasinya, dari soal kehidupan sekolah Kevin dan kawan-kawan, kehidupan Trisno, romansa Kevin dan Chelsea, hingga perihal situs misterius tadi.

Namun sekali lagi, bila anda sebatas mengharapkan kelezatan seperti masakan bertabur micin, film ini mungkin memuaskan. Naskah ditambah penyutradaraan Fajar Nugros mengisinya dengan semangat bersenang-senang di tiap momen, menertawakan siapa pun, apa pun, di mana pun. Hampir semua tokoh maupun situasi didesain konyol. Terkadang tawa hadir kala humornya terasa dekat, seperti Ibu Dimas (Cici Tegal) yang tergila-gila menonton drama Korea hingga lupa solat meski berjilbab, hingga kisah “telur dipotong sepuluh”, yang saya percaya, kerap anda dengar. Sayangnya tak jarang juga humornya berlangsung datar, tenggelam dalam absurditasnya sendiri, misalnya tiap hansip bermata juling (Erick Estrada) muncul.

Seperti Kevin dengan penjabaran super cepat yang tak memperhatikan apakah lawan bicaranya paham atau tidak, Generasi Micin terus menerjang, membabat habis hampir semua kesempatan dengan humor tanpa peduli apakah tepat sasaran. Seperti kandungan micin dalam masakan pula, itu bisa menghasilkan kelezatan, tapi alangkah baiknya bila kadarnya dikontrol.

HALLOWEEN (2018)

Begini hasilnya saat sekuel dibuat oleh sineas handal sekaligus pengemar sejati. Tidak mengindahkan installment selain film orisinalnya jelas keputusan berani, sebab, selain elemen-elemen buruk, rumit, sekaligus memalukan (Druid, Busta Rhymes, sampah nuklir buatan Rob Zombie), Halloween II (1981, salah satu sekuel slasher terunik) dan Halloween H20: 20 Years Later (1998, salah satu sekuel slasher terbaik) pun turut terhapus. Pada akhirnya, terbukti keberanian itu merupakan langkah penghormatan terbaik bagi karakter-karakternya, menjadikannya film terbaik Halloween sejak karya John Carpenter 40 tahun lalu.

Apa yang David Gordon Green (George Washington, Pineapple Express, Joe), Danny McBride (Your Highness) dan Jeff Fradley ingin capai melalui naskah yang mereka tulis bukan (cuma) memberi Michael Myers panggung pembantaian, tapi juga kelanjutan natural yang layak bagi kisah Laurie Strode (Jamie Lee Curtis), sembari mengubah modus operandi franchise ini (keluarga), dari alasan membunuh atau kehilangan nyawa, menjadi alasan untuk bertahan hidup.
Mengenyahkan Halloween II berarti tidak lagi menganggap Laurie sebagai saudari Michael, sehingga alasan sang boogeyman alias The Shape mengejar si mantan pengasuh anak kembali ambigu. Kita pun kembali pada ucapan Dr. Loomis (tidak ada stock footage mendiang Donald Pleasence, sebatas gambar di buku dan penyebutan nama) dahulu, bahwa Michael adalah manifestasi iblis. Sesederhana itu. Tidak ada gangguan psikologis, tidak ada alasan pasti.

Dan Green, yang turut menempati kursi sutradra, menekankan itu sejak adegan pembuka mengerikan ketika dua jurnalis, Dana (Rhian Rees) dan Aaron (Jefferson Hall), mengonfrontasi Michael di rumah sakit jiwa. Begitu mereka mengeluarkan topeng Michael, atmosfer seketika berubah. Pasien lain bertingkah manic, anjing menggonggong, seolah sosok iblis tak kasat mata bangun dari tidur panjangnya. Lalu filmnya melompat ke kredit pembuka, dilengkapi gambar labu klasik khas Halloween dan lagu tema ikonik ciptaan Carpenter. Teruntuk para penggemar, momen ini saja sudah cukup memancing sorak sorai.

Laurie sendiri digambarkan tidak jauh berbeda dibanding Michael. Label “gila” disematkan masyarakat. Mengidap PTSD, hidup dalam ketakutan kalau suatu hari Michal bakal kembali, Laurie menghabiskan 40 tahun terakhir menyulap rumahnya menjadi benteng, berlatih teknik membela diri termasuk menggunakan senjata. Apabila Michael dikurung oleh pemerintah, Laurie mengurung dirinya sendiri.

Ketakutan Laurie memaksanya mengalami 2 kegagalan pernikahan plus kehilangan sang puteri, Karen (Judy Greer), yang menghabiskan masa kecilnya berlatih dan membuat perangkap, sementara cucunya, Allyson (Andi Matichak) berusaha meyakinkan orang tuanya untuk tetap menjalin komunikasi dengan sang nenek. Karen menganggap ketakutan Laurie berlebihan. Terlihat demikian selama 4 dekade terakhir, hingga bus yang para pasien termasuk Michael mengalami kecelakaan, dan ia kembali menebar teror bagi warga Haddonfield di malam Halloween.

Pasca tahun-tahun penuh sekuel buruk yang terus membawa franchise-nya bertransformasi dari slasher medioker, slasher dengan unsur supranatural sampai slasher remaja, Green membawa Halloween kembali ke akarnya. Diterapkannya gaya serupa Carpenter, di mana teror berasal dari atmosfer yang mencengkeram perlahan, menahan pembantaian hingga nyaris separuh jalan, walau harus diakui, terkadang Green kehilangan pegangan sehingga beberapa sekuen berakhir draggy.

Tapi Green sadar betul, bahwa sepenuhnya meniadakan sadisme dapat membuat penonton masa kini kebosanan. Alhasil, begitu Michael mengekan topengnya lagi (topeng terbaik sejak 2 film pertama), tubuh tanpa nyawa langsung bertumpuk. Dibandingkan karya Carpenter, jumlah kematian serta kebrutalan digandakan, tetapi mayoritas terjadi di balik layar supaya atmosfer yang hendak dibangun urung terdistraksi oleh gore. Hebatnya, Green bisa menciptakan banyak creative kills tanpa memperlihatkan peristiwanya. Caranya adalah menunjukkan mayat-mayat yang Michael tinggalkan, sehingga nuansa sadisme tetap terasa. Bahkan kali ini Michael tidak segan menghabisi seorang bocah.

Green memahami Halloween luar-dalam, dan itu terlihat. Contohnya, ia mematuhi “aturan” yang Rob Zombie langgar: menampilkan Michael tanpa topeng. Di film ini, sebelum topeng dikenakan, kita hanya melihat punggung, kaki, atau kepala. Ketika menampakkan seluruh tubuh atau wajah pun, kamera menangkapnya dari jauh, di luar fokus, atau dalam kondisi bergerak cepat. Cerdik pula cara Green memainkan visual cues khas Halloween: tubuh yang menghilang, sudut gelap ruangan, lemari. Bukan atas nama nostalgia semata, semuanya jadi bagian pengembangan karakter, termasuk penukaran peran “pemburu” dan “yang diburu”. Laurie bukan sekedar korban tak berdaya, namun aktif mengejar Michael. Jamie Lee Curtis mengerahkan segala kemampuannya sebagai heroine dengan fisik kokoh namun remuk dan rapuh secara mental.

Third act-nya termasuk salah satu yang terbaik di antara jajaran slasher. Ingin rasanya menjerit kegirangan menyaksikan pertarungan terakhir yang turut bertindak selaku konklusi luar biasa memuaskan terhadap segala konflik keluarga di antara tiga generasi Strode, pasca set-up kuat nan panjang. “Happy Halloween, Michael!”.

HELICOPTER EELA (2018)

Helicopter Eela adalah satu lagi sajian women’s empowerment memuaskan asal Bollywood. Alurnya bicara seputar wanita, yang tak semestinya membiarkan ketiadaan pria pendamping hidup menghancurkan mimpinya, juga bagaimana menjadi seorang ibu bukan berarti ikut mengubur mimpi tersebut. Ibu yang hebat tidak harus terobsesi, terlalu protektif kepada anak, hingga membuang sisi lain kehidupannya. Alih-alih demikian, kedua belah pihak (ibu-anak) mesti saling mendukung dan melengkapi.

Judulnya berasal dari istilah “Helicopter Parenting”, sebutan bagi orang tua yang memberi perhatian berlebih kepada anaknya. Demikianlah Eela Raiturkar (Kajol) yang saat pertama kita temui, baru saja memutuskan menyelesaikan kuliah setelah 22 tahun. Menariknya, dia masuk ke kampus bahkan kelas yang sama dengan puteranya, Vivaan (Riddhi Sen). Tapi sebelum kita menyelami lebih dalam hubungan mereka, filmnya mundur ke belakang hingga tahun 1994, ketika Eela muda tengah berjuang mengawali karir di dunia tarik suara dengan bantuan sang kekasih, Arun (Tota Roy Chowdhury).

Bermodalkan suara emas, bersama Arun, Eela pun membentuk duo penyanyi/penulis lagu yang solid. Ketika kesempatan akhirnya tiba, Eela tak menyia-nyiakannya, dan dalam waktu relatif singkat, ia merintis kesuksesan. Single perdananya sukses, bakatnya diakui para pembesar industri musik, bahkan diundang ke acara peluncuran MTV India. Di usianya yang mencapai 44 tahun, Kajol tetap sesuai, mulus menangani Eela versi muda yang penuh antusiasme. Menyenangkan melihat kesuksesannya, namun mengingat ini sebatas flashback, kita tahu di satu titik karir serta hidupnya bakal terjun bebas.

Eela menikahi Arun, melahirkan Vivaan, dan walau karirnya tak begitu mulus akibat permasalahan industri, semua nampak baik-baik saja. Kemudian filmnya banting setir, memberi kita alasan mengejutkan tentang pemantik perubahan hidup Eela, yang menuturkan bahwa mimpi diciptakan oleh masa muda kita yang penuh semangat, harapan, dan cinta.....sebelum realita mengambil alih. Satu keputusan ekstrim dari Arun mempengaruhi Eela, menciptakan “Helicopter Eela”.

Vivaan dewasa merasa privasinya diinvasi oleh sang ibu yang senantiasa memasuki untuk  menggeledah tiap sudut kamarnya, memaksanya selalu pulang cepat, tapi satu hal yang amat mengganggunya adalah keharusan membawa kotak bekal. Benda itu sejatinya simbol perhatian ibu terhadap anaknya semasa kecil, di mana cinta kasih dicurahkan ke tiap makanan yang terbungkus rapi dalam kotak. Tapi bagaimana jika dalam pemberiannya sang ibu tidak dapat mengontrol diri?

Paruh tengahnya mengalami penurunan dan gampang dilupakan karena naskah buatan Mitesh Shah (Tumbbad) dan Anand Gandhi (Ship of Theseus) gagal memaksimalkan situasi unik sewaktu ibu dan anak berkuliah di satu kampus guna menghasilkan kejenakaan. Bobot emosi pun tak seberapa kuat akibat repetisi konflik. Eela dan Vivaan akan bertengkar, berbaikan lewat resolusi yang terlalu mudah (atau bahkan tanpa resolusi alias semua mendadak kembali seperti sedia kala), kemudian bertengkar lagi karena alasan serupa.

Paling tidak, di fase ini, sutradara Pradeep Sarkar (Lafangey Parindey, Mardaani) mampu merangkai satu adegan menyentuh sewaktu Vivaan melihat Eela duduk sendirian di kampus, tanpa teman atau kegiatan untuk dilakukan (Eela berjanji takkan mengikuti puteranya). Adegan tersebut bagai pengingat akan kesepian ibu sewaktu kita meninggalkannya demi hal lain. Pun momen itu penting, berperan selaku titik balik ketika Helicopter Eela mengambil jalan sarat makna sebagai resolusi saat Vivaan juga berniat membantu sang ibu menemukan lagi kehidupannya secara utuh.

Memiliki titular character penyanyi berbakat, sudah pasti Helicopter Eela diisi lagu-lagu catchy, khususnya lagu dari masa lalu Eela dengan lirik dan aransemen yang terdengar “murni” sebelum balutan elektronik mengambil alih (Yaadon Ki Almari adalah favorit saya). Sayang, beberapa kali, Pradeep Sarkar membiarkan sekuen musikalnya berlangsung terlalu lama sehingga melemahkan dinamikanya.

Konklusinya dibarengi berbagai kemustahilan, saat Helicopter Eela memilih mengorbankan logika demi pencapaian artistik pula emosi. Pilihan itu sah-sah saja selama berhasil, dan sang sutradra memastikan “pengorbanan” tersebut tak sia-sia. Musikal penutupnya yang dibarengi lagu Khoya Ujaala tampil meriah setelah diawali momen intim emosional yang dieksekusi dengan baik oleh Pradeep, juga kebolehan Kajol mengolah emosi. Bukti bahwa meski 23 tahun telah berlalu pasca piala Filmfare perdananya lewat Dilwale Dulhania Le Jayenge, ia masih salah satu aktris terbaik di negerinya.

APOSTLE (2018)

Gareth Evans menantang dirinya sendiri melalui Apostle. Setelah tancap gas dengan 3 film termasuk dwilogi The Raid yang mengubah skena film aksi dunia, Evans membuat period horror yang di dalamnya mengalir DNA serupa The Wicker Man (versi 1973, bukan remake konyol Nicolas Cage). Apostle sama-sama menampilkan protagonis pria dengan masalah psikis yang pergi ke sebuah pulau tempat kelompok cult misterius tinggal, guna menyelamatkan seorang wanita. Dan serupa horor klasik karya Robin Hardy tersebut, Evans memilih gaya slow burn.

Pria di balik tontonan pemacu adrenalin membuat horor slow burn adalah sesuatu yang tak pernah saya duga. Menulis naskahnya sendiri, Evans mengisahkan soal Thomas Richardson (Dan Stevens), yang berhenti menjadi misionaris pasca tragedi yang nyaris membunuhnya. Nyawa Thomas selamat, namun keyakinannya kepada Tuhan yang akhirnya terbunuh. Sempat hilang dan disangka tewas, kini Thomas mesti mencari adiknya, Jennifer (Elen Rhys) yang diculik sekelompok cult demi uang tebusan. Thomas harus menemukan Jennifer sebelum cult yang dipimpin Malcolm (Michael Sheen) itu membongkar identitasnya.

Sejam pertamanya bergerak lambat, dengan hanya sekelumit penampakan misterius serta satu sekuen aksi pendek berdarah mengisi di sela-sela. Sisanya, Evans mengajak penonton mengobservasi beberapa sudut pandang—atau tepatnya kritik—di kepalanya perihal sisi gelap agama. Ada mantan misionaris yang membenci Tuhan, juga Nabi palsu yang merepresentasikan keserakahan umat manusia, yang tak pernah ragu merusak semesta demi kepentingan personal, bahkan “mengeksploitasi Tuhan”.

Dan Stevens (The Guest, Beauty and the Beast) memberi performa intens, yang meski takkan membawanya menyabet piala penghargaan, tampak sempurna di tengah bangunan dunia sarat kegilaan milik Evans, meski studi terhadap karakter Thomas yang coba Evans jabarkan tampil terlalu dangkal. Ada pula usaha merangkai misteri terkait kebenaran soal misteri di pulau tersebut yang penyampaiannya kurang mengikat. Pertama, karena rangkaian alurnya tak cukup tricky untuk menggiring penonton terus mengajukan pertanyan. Kedua, sebagaimana telah kita saksikan di The Raid 2: Berandal (2014), Evans bukanlah penulis yang baik, khususnya diakibatkan tendensi bercerita terlalu banyak, membentangkan konflik selebar mungkin tanpa fokus jelas.  

Ketimbang menggali satu-dua konflik lebih jauh, Evans terus membeberkan subplot demi subplot tak perlu, di mana masing-masing tampil tanpa kedalaman, bahkan saling melemahkan karena kurangnya kesempatan eksplorasi, tatkala Evans mengutamakan kuantitas di atas kualitas (durasinya membengkak sampai 130 menit). Beruntung, sewaktu “Gareth Evans si penulis” terbata-bata, “Gareth Evans si sutradara” masih berjaya. Kepekan visualnya sanggup menciptakan atmosfer mengerikan sekaligus disturbing tanpa perlu bergantung pada jump scare.

Keberhasilan tersebut juga jasa sinematografer langganan Evans, Matt Flannery (Merantau, dwilogi The Raid), yang bukan cuma menangkap keindahan panorama Wales, pula teror menggganggu di desa tersembunyinya. Tambahkan musik unik garapan duo Fajar Yuskemal (The Raid, Headshot, Killers) dan Aria Prayogi (The Raid, Headshot, Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212), Apostle mungkin terlampau panjang dan sesekali melelahkan, namun tidak pernah membosankan.

Kemudian kita tiba di satu jam terakhir saat sang sutradara melepaskan segala kegilaan kaya gore yang akan membuat penontonnya antara menutup mata menahan ngilu atau bersorak kegirangan. Seperti biasa camerawork Flannery efektif menyuntikkan intensitas melalui pergerakan dinamis maupun getaran manic yang memunculkan sense of urgency yang rasanya takkan mampu diikuti penata kamera lain. Apostle bukan sadisme indah layaknya The Raid. Ini adalah sajian “tebas-dan-tusuk” dengan kebrutalan mentah. Eksperimen Evans mungkin belum sepenuhnya berjalan mulus, tapi mungkin hanya dia yang cukup berani memadukan dua wajah horor yang berlawanan semacam ini.