BERLIN SYNDROME (2017)

Seperti telah dipaparkan judulnya, Berlin Syndrome merujuk pada Stockholm Syndrome yang terjadi di ibukota Jerman tersebut, di mana peristiwa masa lalu pernah, bahkan masih memecah populasi di dalamnya. Satu pihak merayakan kebebasan atas represi, sedang lainnya menyimpan romantisasi kehidupan era lampau yang mereka pandang sempurna. Mengadaptasi novel berjudul sama buatan Melanie Joosten, Berlin Syndrome menjauh dari rutinitas thriller bertema penculikan terhadap turis berujung penyiksaan brutal sebagai suguhan utama (Hostel, The Human Centipede, Wolf Creek), memilih eksplorasi psikologis guna menjabarkan dampak pada korban, pula dorongan sang pelaku.

Seorang turis asal Australia bernama Claire (Teresa Palmer) tiba di Berlin, menghabiskan malam bercengkerama sambil minum bersama orang-orang asing di atap gedung. Bukan malam liar, melainkan kehangatan yang cukup menyenangkan bagi seseorang yang tengah seorang diri di negeri asing. Disusul matahari terbit di dinginnya pagi sebelum melanjutkan perjalanan mengambil foto bangunan bekas Jerman Timur. It's a perfect getaway for her. Ditambah lagi pertemuannya dengan Andi (Max Riemelt), guru Bahasa Inggris di suatu sekolah olahraga. One night stand pelengkap kebahagiaan ini rupanya awal bencana yang mengejutkan Claire, tapi tidak untuk penonton.
Sejak awal mudah menebak keramahan beserta romantisme "malu-malu" Andi sekedar topeng. Pun sejatinya berbagai plot point lain sebutlah rahasia Andi, titik balik di pertengahan cerita, sampai konklusinya dapat tercium dari jauh. Sadar bahwa proses adalah porsi terpenting sebuah narasi, naskah tulisan Shaun Grant memang tidak berniat mengumbar twist. Berpadu bersama kesabaran sutradara Cate Shortland memainkan tempo, Grant cerdik menyelipkan momen-momen overshadow begitu kisahnya merayap masuk ke nuansa sensual. Ucapan Andi jika tak ada yang bisa mendengar suara Claire atau ketika ia berkata ingin mengikat si wanita rupanya bukan godaan nakal semata.

Seperti telah disinggung, Berlin Syndrome bukan torture porn bersenjatakan sadisme. Meski sesekali memperlihatkan percobaan Claire kabur, mayoritas durasi justru dipakai sebagai observasi terhadap hidup Andi. Inilah thriller di mana sang pelaku mendapat sorotan lebih mendalam ketimbang korbannya (kita hanya tahu asal dan pekerjaan Claire, selebihnya buram). Penonton melihat keseharian Andi yang kerap mengunjungi ayahnya (Matthias Habich), atau kala mengajar. Metode ini memberi cukup bekal bagi filmnya menjelaskan banyak hal tentang Andi, seperti sang ibu yang pergi meninggalkan keluarganya ke Jerman Barat sebelum Tembok Berlin runtuh hingga keengganannya bersosialisasi. Patriarki, represi demi kesempurnaan satu sisi superioritas, tema-tema tersebut terangkum rapi, walau selain eksposisi informatif, konflik menarik urung hadir mengangkat tensi dalam fase ini.
Secara garis besar, pembangunan dinamika Berlin Syndrome ditopang oleh dua penampil utama yang selama dua minggu sebelum pengambilan gambar tinggal bersama di apartemen kecil serupa lokasi film. Hubungan mereka berawal dari romansa manis, berkembang jadi gesekan pelaku dengan korban, sampai menjurus ke arah kompleks tatkala isi pikiran karakternya semakin ambigu. Riemelt membuat Andi bukan sekedar pria gila berdarah dingin. Sesekali kecanggungan, ketulusan, bahkan kelembutan yang menyiratkan kelemahan timbul. Sementara Palmer menjadikan proses bertahap gangguan psikis pada karakternya bisa dipercaya. Turning point sikap Claire pun terasa sebagai hasil proses yang natural. 

Dibantu sinematografer Germain McMicking, Shortland piawai merangkai gambar-gambar well-made cenderung stylish. Sesekali slow motion ikut merangsek masuk menambah gaya visual yang sesungguhnya nihil substansi, juga acap kali menyeret jalannya alur. Padahal Shortland cukup baik dalam urusan memancing ketegangan termasuk sewaktu kilmaks yang tak ubahnya petak umpet maut mencekam. Teruntuk konklusi, saya selalu beranggapan definisi ending bagus adalah yang layak didapat karakternya, tidak peduli bahagia atau tragis. Berlin Syndrome jelas punya resolusi berupa nasib yang amat sangat layak diterima kedua belah pihak. 

TRANSFORMERS: THE LAST KNIGHT (2017)

Suatu ketika saya membaca wawancara suatu majalah film dengan Michael Bay. Disebutkan bahwa menikmati gelaran eksplosi sang sutradara bagai menjual jiwa pada setan. Penonton tahu filmnya buruk ditinjau dari standar sinematik namun tak kuasa menolak dan akhirnya menerima kegembiraan yang dirasa. Istilah umumnya "guilty pleasure". Saya kurang setuju. Benar Bay bukan jagoan pembangun tensi layaknya Cameron atau ahli mengawinkan aksi dengan hati seperti Spielberg. Tapi ia diberi talenta yang didukung passion dan kecintaan. Talenta berupa menyajikan epic cinema berbasis ledakan "cantik". Bayhem (begitu gayanya disebut) adalah soal spektakel yang saking bombastisnya jadi terasa dramatis, poin yang tidak semua sutradara blockbuster punya.

The Last Knight menawarkan formula familiar, dan mencapai installment kelima seri Transformers memang enggan ke mana-mana. Pasca tease menarik di konklusi Age of Extinction saat Optimus Prime lepas landas menuju Cybertron toh kisahnya tetap berpijak di Bumi, menyoroti invasi robot yang hendak menabrakkan Cybertron ke planet ini (tak jauh beda dibanding Dark of the Moon). Pembuka menjanjikan kala kita diajak ke era medieval menyaksikan Raja Arthur bersama Merlin si penyihir dan 12 Kesatria Meja Bundar berperang dibantu para Transformers pun bertahan sejenak saja. Sekedar prolog, eksposisi singkat bagi cerita selanjutnya di masa kini. Padahal melihat naga robot berkepala sukses mengundang decak kagum sekaligus bukti Transformers bisa bekerja dengan baik di setting waktu dan tempat non-kontemporer. 
Cerita kembali berpusat di Cade Yeager (Mark Wahlberg) yang kini menetap di junkyard penampung Autobots sementara Optimus pergi. Di tengah penelusuran terkait makin banyaknya robot mendarat di Bumi, sesosok Transformers sekarat memberi Yeager sebuah jimat. Tanpa dia tahu, benda itu menggiringnya ke rahasia ribuan tahun mengenai eksistensi robot dan manusia. Bersama Sir Edmund Burton (Anthony Hopkins) sang pemimpin organisasi rahasia, mekanik cilik pemberani bernama Izabella (Isabela Moner), Viviane (Laura Haddock), Profesor dari Oxford, dan tentunya Autobots, Yeager memperjuangkan keselamatan Bumi. Perjuangan berujung semakin berat karena "pengkhianatan" Optimus Prime.

Tuturan bahwa tokoh legendaris semisal Einstein, Galileo, dan Wright Bersaudara tergabung dalam organisasi rahasia yang menyembunyikan keberadaan Transformers, juga keterlibatan robot pada peristiwa sejarah (kematian Hitler misalnya) hanya jadi bumbu penyedap. Menarik di awal kemudian dilupakan. Proses Yeager dan Viviane memecahkan teka-teki soal tongkat Merlin yang bak diambil dari salah satu chapter The Da Vinci Code pun bukan konflik pintar, meski setidaknya menstimulus otak penonton berproses, memancing gejolak naik-turun alur yang lebih menggigit ketimbang sepenuhnya "hit and run" macam film-film sebelumnya. The Last Knight memang penuh pernak-pernik kurang substansif tapi memperkaya warna. Sebutlah pembuatan tokoh Cogman dan Sqweeks selaku "tiruan" C-3PO dan R2-D2 dari Star Wars
Pergantian penulis dari Ehren Kruger menjadi trio Art Marcum, Matt Holloway, dan Ken Nolan mungkin urung menambah bobot, namun sukses memperbaiki kelemahan terkait komedi. Kita ingat betul Revenge of The Fallen dan Dark of the Moon dirusak oleh lelucon menyebalkan, berlebihan nan dipaksakan di waktu tak tepat. The Last Knight bisa menghadirkan beberapa tawa berkat dosis humor secukupnya, entah berbentuk banter karakter maupun situasi absurd (yang sesungguhnya klise) kala Cogman mendadak memainkan musik dramatis mengiringi pembicaraan. Sayangnya, Bay kurang cakap meramu momen komedik. Timing menyelipkan kesunyian tiba-tiba sering meleset, begitu pula transisi kasar antar adegan yang kerap melemahkan daya bunuh humor.

Penampilan jajaran cast turut membaik. Setelah meraba-raba di Age of Extinction, sekarang Wahlberg maksimal melakoni peran sebagai leading hero di antara kepungan robot-robot raksasa, seutuhnya menghapus memori buruk bernama Shia LaBeouf. Walau bukan performa kelas Oscar, Hopknis nampak jelas bersenang-senang di sini. Lalu tatkala Isabela Moner memamerkan kapasitas sebagai bintang muda potensial, Laura Haddock akhirnya mengobati kehilangan atas Megan Fox. Selain paras serupa, sewaktu Rosie Huntington-Whiteley dan Nicola Peltz sekedar berusaha tampak cantik, Haddock memiliki sensual presence tinggi. Haddock dan Wahlerg pun saling mengimbangi, menciptakan interaksi raunchy yang jauh lebih bernyawa dibanding duo tokoh utama lain franchise ini.

Tidak perlu mempertanyakan eksekusi aksi Michael Bay. Ledakan bombastic artistic dengan staging yang dipikir masak-masak atau penggunaan slow-motion tepat guna sehingga aksi Autobots makin badass adalah alat pacu kegembiraan yang hanya bisa diimpikan banyak kompatriotnya sesama blockbuster filmmaker. Hanya ada satu minus, di mana intensitas gagal mencapai titik maksimum akibat set-piece acap kali berlangsung terlampau singkat. Bukan sepenuhnya kekeliruan Bay (the anticlimactic third act was his fault though), sebab terburu-burunya naskah merangkum konklusi ikut jadi penyebab. Tengok resolusi konflik seputar Optimus sebagai contoh. Kekurangan tersebut masih termaafkan, apalagi sensibiltas visual Bay dalam melukiskan massive landscape tetap terjaga. Salah satu momen menampilkan pertarungan Autobots melawan Decepticon di tengah padang rumput hijau dengan Stonehenge sebagai pusat, api bergelora di sana-sini, sementara di angkasa Cybertron berukuran raksasa ikut melatari. What a chaotic beatuy.

KEDI (2016)

Kucing adalah hewan misterius. Sebagian menyebutnya bodoh, sebagian menganggapnya pintar. Bahkan beberapa pihak meyakini bahwa kucing sadar akan eksistensi mereka serupa manusia. Kebenarannya sulit dipastikan, yang jelas, banyak masyarakat Istanbul mengamini hal tersebut. Kedi (dari Bahasa Turki, berarti kucing) karya sutradara Ceyda Torun menyoroti bagaimana interaksi manusia dengan kucing jalanan Istanbul yang jumlahnya mencapai ribuan. Mulai "membanjiri" kota sejak era Ottoman melalui kapal-kapal pelaut Norwegia, mamalia ini awalnya hadir membantu warga mengatasi serangan tikus. Ratusan tahun berselang, simbiosis mutualisme bertahan kemudian berkembang jadi kisah kasih.

Dalam Kedi, kita melihat kucing-kucing liar berkeliling kota, berinteraksi dengan warga yang daripada terganggu, malah bersikap senang hati. Entah sekedar menggoda, membelai, sampai menyediakan makanan walau bukan hewan peliharaan sendiri. Kucing bak sahabat, bahkan cinta bagi orang-orang ini. Jika umat Hindu di India memandang sapi hewan suci, kucing Istanbul amat dicintai karena dianggap membentuk kehidupan di sana. Torun mampu memunculkan suasana damai lewat harmoni antar makhluk hidup, ketika manusia mendapat kebahagiaan berkat kemauan mencintai hal-hal sederhana, termasuk merawat kucing. Begitu hangat dan syahdu Torun menggambarkan Istanbul. Di satu adegan, seorang warga menemukan kucing kecil terluka lalu cepat tanggap membawanya ke rumah sakit. Sebuah momen unscripted yang berdampak besar menyuntikkan emosi. 
Selain suasana, nyatanya kucing turut membentuk manusia di dalam kota ini. Beberapa interviewee sekilas mengungkapkan pernah mengalami gangguan psikis di masa lalu dan kegiatan mengurus kucing menjadi obat mujarab. Misalnya seorang pria yang menyatakan dahulu sempat terserang nervous breakdown, tak mampu bersosialisasi apalagi tersenyum. Sampai aktivitas memberi makan ratusan kucing liar di seluruh penjuru kota mengobatinya, menghadirkan tawa bahagia. Sedangkan kisah warga lain turut menautkan kucing dengan perkembangan beragam sisi sosial Istanbul. Mulai isu feminisme berisi kegundahan sesosok wanita, hingga modernisasi yang mengancam keharmonisan alam dan populasinya.
Penonton diajak mengenal tujuh ekor kucing, yakni Sari, Duman, Bengü, Aslan Parçasi, Gamsiz, Psikopat, dan Deniz, dengan kisah berlainan dari masing-masing warga. Ciri khas, sifat, sampai tingkah polah detail setiap kucing dideskripsikan lengkap. Bahkan memori pertemuan pertama masih tersimpan jelas. Seperti yang kita semua pernah lakukan, mereka gemar melakukan ad-lib, merangkai cerita berdasarkan observasi terhadap situasi dan tingkah laku kucing. Ada betina galak yang "menguasai" sang suami, ada pula perebutan teritori dua ekor kucing. Torun pandai bermain visual, jeli menangkap momen tepat sehingga penonton berujung meyakini peristiwa-peristiwa di atas nyata, benar adanya. Penataan kamera duo sinematografer Alp Korfali dan Charlie Wuppermann juga bergerak lincah sekaligus sanggup menempatkan penonton di bermacam perspektif termasuk sejajar dengan para kucing, bagai tengah membuntuti mereka. 

Kedi jelas sempurna bagi pecinta kucing. Bisa berupa hiburan ringan hasil dari melihat kelucuan mereka, atau proses observasi dan pemahaman lebih dalam mengenai si hewan kesayangan di belahan dunia lain. Bagi penonton umum sejatinya serupa, meski akhirnya berpotensi sedikit melelahkan karena di samping sederet informasi yang mungkin didapat, mayoritas film hanya diisi kucing berkeliaran di tiap sudut kota. Termasuk epilog lima menit tatkala cerita sejatinya telah usai namun Torun memaksa menambahkan scenery shot repetitif yang berkepanjangan. Tapi pada masa di mana cinta kasih antara makhluk hidup seolah makin langka, Kedi yang mendamaikan perasaan ini perlu disimak. 

THE WALL (2017)

Umumnya pada film berlokasi tunggal, protagonis berada di suatu ruangan tertutup karena beragam alasan. Kesan klaustrofobik kerap jadi senjata utama memancing ketegangan. The Wall karya sutradara Doug Liman (The Bourne Identity, Mr. & Mrs. Smith, Edge of Tomorrow) yang berasal dari salah satu naskah dalam Black List (daftar naskah belum diproduksi paling menarik) tahun 2014 tulisan Dwain Worrell mengangkat situasi bertolak belakang. Ketimbang kungkungan ruang tertutup, gurun lapang nan gersang di Irak jadi tempat dengan sebuah tembok rapuh bekas sekolah sebagai pemisah hidup-mati karakternya. 

Di tengah Perang Irak, Sersan Allen Isaac (Aaron Taylor-Johnson) dan Sersan Kepala Shane Matthews (John Cena) sedang menginvestigasi lokasi konstruksi pipa tempat terjadi pembantaian kepada para pekerja dan petugas keamanan. Setelah 22 jam nihil peristiwa, mereka menyatakan situasi aman dan pelaku telah pergi. Namun tatkala Matthews hendak mengambil radio milik salah satu korban, peluru penembak misterius mengenainya. Usaha Isaac menyelamatkan sang rekan justru turut tertembak, bahkan radio dan botol minuman miliknya ikut hancur. Bersembunyi di balik tembok, Isaac menyadari lawannya adalah Juba (disuarakan Laith Nakli), penembak jitu yang telah membawa maut bagi 35 prajurit Amerika.
Menjaga intensitas merupakan tantangan terbesar bagi film satu lokasi. Kesan monoton rawan timbul, apalagi kala amunisi lain berupa tokoh tak seberapa jumlahnya. Dengan Matthews menghabiskan mayoritas waktu terbaring sekarat dan Juba hanya kita dengar suaranya, praktis beban ada di pundak Isaac. Sang aktor, Aaron Taylor-Johnson tampil kuat mengekspresikan keputusasaan, mati-matian berjuang menahan sakit sambil memutar otak mencari cara lepas dari "kurungan". Pasca first act ala kadarnya yang sekedar berfungsi menggiring tokoh utama menuju jebakan, babak kedua The Wall diisi obrolan Isaac dengan Juba sembari sesekali menampilkan Isaac yang berusaha mengatur strategi.

Worrell mendeskripsikan naskahnya sebagai "perbincangan sederhana yang mungkin terjadi di bangku taman New York antara dua orang yang sedang bermain catur". Worrell memakai pembicaraan dua tokohnya guna membangun sisi psikologis, juga menyindir pihak Amerika Serikat selaku penjajah di Irak. Poin kedua cukup berhasil. Kita dibawa melihat apapun rencana Isaac, Juba selalu selangkah di depan, bahkan menyiapkan beberapa kejutan yang selain membuat penonton tersentak, pula menguatkan aura putus asa di perjuangan Isaac. Pun sang penembak jitu yang selalu dipanggil "haji" (sebutan tentara Amerika untuk orang Irak atau Afganistan) ini paham nilai estetika (menyebut istilah militer puitis), gemar membaca bait puisi Edgar Allan Poe kala Isaac hanya tahu nama Shakespeare (yang kemungkinan besar tak ia kenal karyanya). Inilah pemandangan ketika penjajah dibodohi yang dijajah, dan pihak superior terlihat kerdil kecerdasannya di hadapan "teroris" yang dianggap barbar.
Lain halnya soal aspek psikis. Kalimat tulisan Worrell terlampau dangkal guna merangkai permainan pikiran memikat. Belum lagi obrolan bernada kasualnya urung menambah lapisan selain gambaran betapa Juba adalah sosok berdarah dingin yang dapat santai bertutur di medan perang. Namun kelemahan paling besar terletak pada kegagalan melibatkan penonton dalam tiap kalkulasi yang Isaac lakukan, misal sewaktu melakukan perhitungan demi mencari tahu letak persembunyian Juba. Worrell lalai menjabarkan alasan, maksud, pula sasaran bermacam kegiatan tersebut. Padahal penting bagi penonton memahami seluk beluknya supaya alih-alih muncul sambil lalu, menyulut ketegangan, bahkan kalau bisa simpati bagi karakter. 

Pamor Doug Liman sebagai sutradara kelas wahid urusan spectacle besar nan seru tidak usah diragukan lagi, tapi seperti Isaac, ia belum sepenuhnya piawai memaksimalkan kesederhanaan. Ketegangan berhasil timbul sesekali sewaktu mendapat pertolongan berbentuk kejutan dari naskah atau dalam momen "masif" saat peluru ramai berdesing. Itulah mengapa ending-nya sukses mencekat selain didorong hadirnya kejutan "kejam" yang sebenarnya mudah ditebak. Namun Liman bagai minim akal menyiasati keterbatasan. Selain meniadakan iringan musik demi membangun kesan raw dan realistis yang mana tak seberapa berpengaruh, pilihan shot-nya standar, tak sanggup memberi intensitas di lokasi tunggal. Setidaknya penceritaan Liman mengalir dengan rapi sehingga nyaman diikuti.

IN THIS CORNER OF THE WORLD (2016)

Sudah banyak film menunjukkan penderitaan rakyat sipil di Jepang ketika Perang Dunia II pecah, khususnya terkait peristiwa ledakan bom atom di Hiroshima. Untuk jajaran animasi, mungkin Grave of the Fireflies jadi yang paling dikenal. In This Corner of the World selaku adaptasi manga berjudul sama karya Fumiyo Kono juga mengetengahkan kondisi serupa. Bedanya, sekaligus alasan mengapa filmnya spesial, walaupun secara alamiah duka pasti menghampiri narasi (this is a wartime movie afterall), kesengsaraan tanpa akhir bukanlah menu utama. Tidak pula film ini lantang menyatakan diri sebagai sajian anti-war.

Dalam In This Corner of the World, tanpa kesan justifikasi, perang dijadikan medan pengembangan diri Suzu (Rena Nonen) sang tokoh utama, di mana ia menggembleng diri melatih kemampuan bertahan di tengah keterbatasan, kemudian belajar tentang kasih sayang pula rasa syukur. Kisah membentang dari tahun 1930-an, sejak Suzu yang gemar menggambar masih bocah dan tinggal bersama keluarganya di Hiroshima, lalu berkulminasi di era 1940-an (tepatnya 1944-1945) ketika dia pindah ke Kure setelah menikah muda dengan anggota angkatan laut sipil bernama Shusaku (Yoshimasa Hosoya). 
Kehidupan barunya memaksa Suzu bekerja lebih keras guna mengurus kebutuhan rumah tangga, apalagi semenjak perang meletus, Kure kerap dibombardir serangan udara musuh. Alih-alih mengeksploitasi derita, alurnya menekankan bagaimana Suzu  dengan suka hati  memutar otak mengakali situasi. Saat makanan menipis misalnya, penonton bukan dijejali pemandangan keluarga yang kelaparan melainkan cara mereka memanfaatkan apa yang ada. Pun sentuhan humor konsisten dipertahankan hingga makin menguatkan aura positifnya. Suzu yang clumsy dengan senyum kecutnya jadi sosok likeable yang selalu mampu memancing tawa berkat tingkahnya. 

Sunao Katabuchi selaku sutradara sekaligus penulis naskah (bersama Chie Uratani) berusaha menampilkan betapa di tengah tragedi pilu sekalipun, selalu tersimpan keindahan. Animasinya mendukung niat tersebut. Visual yang tersusun atas goresan warna lembut dan gaya sederhana (dalam arti bukan tiga dimensi penuh detail realita kompleks) memberi keintiman pula mewakili kepolosan protagonisnya. Sejak pertama kita bertemu sampai ia tumbuh, Suzu seolah menetap tak beranjak dewasa. Bahkan di satu waktu, prajurit Amerika memberi cokelat karena mengiranya anak-anak. Poin ini disengaja supaya film bak tampil melalui perspektif bocah yang playful dan bisa menemukan keindahan di antara keburukan. Termasuk saat pengeboman terjadi, sewaktu Suzu melihat ledakan di langit serupa cipratan cat air. 
Namun In This Corner of the World juga enggan tampil terlampau naif dengan menampik fakta sisi tragis peperangan. Seiring memanasnya perang dan meningkatnya bahaya, film bergerak makin serius, mulai memeras perasaan penonton. Dan karena kentalnya kebahagiaan yang terus diangkat, begitu kegelapan menaungi dampak emosi yang dihasilkan, pula kengerian menatap terjebaknya rakyat sipil di bawah hujan bom demikian besar. Ditambah lagi Katabuchi tidak ragu memakai visual eksplisit pembangun kesan miris meski (untungnya) belum mencapai taraf eksploitasi, masuk batas wajar gambaran imbas perang. Merupakan proses alami, itulah mengapa aliran tone-nya lancar, suatu kelebihan yang gagal diikuti oleh perjalanan narasi.

Alur acap kali melompat kasar antar potongan-potongan momen pendek yang berlangsung beberapa detik saja. Pun narasi bergerak episodik, merangkum sederet peristiwa singkat di tahun tertentu yang tak seberapa substansial bagi keseluruhan kisah. Banyaknya selipan ini berujung durasi mencapai 128 menit walau dapat dituturkan utuh tidak sampai dua jam. Katabuchi memilih meminimalisir transisi. Metode ini menguatkan komedi melalui kelucuan dengan timing tak terduga, tapi melemahkan penyampaian cerita. Bukan tanpa maksud, sebab sang sutradara hendak mengemas filmnya seperti memori yang sepintas terbersit dalam benak. Masa lalu Suzu, entah kehangatan makan malam bersama keluarga atau pengalaman melihat hantu tersimpan sebagai kenangan yang sesekali "dikunjungi", sementara skenario ideal yang urung terjadi tak ubahnya mimpi indah. Semua sama, membantunya menemukan tujuan hidup berkat cinta kasih.

PREVENGE (2016)

Melanjutkan pencapaian kala sukses menulis komedi hitam brutal dalam Sightseers, Alice Lowe kembali menghasilkan karya serupa melalui Prevenge, yang juga menjadi debut penyutradaraannya. Prevenge diformulasikan sesuai kebanyakan slasher di mana rangkaian pembantaian jadi sorotan. Tapi alih-alih menempatkan sesosok mesin pembunuh tanpa kepribadian, Lowe mengajak penonton memasuki isi pikiran sang pelaku, membeberkan mengapa tindakan gila tersebut dapat terealisasi. Tentunya selera humor absurd nan gelap milik Lowe masih tersebar di tiap penjuru.

Sejak pembuka yang menampilkan ceceran darah di tebing dan Ruth (Alice Lowe) yang sedang hamil tua duduk seorang diri sembari memandang kosong, kita tahu bakal menyaksikan peristiwa berdarah, namun mungkin takkan menduga terjadi begitu cepat. Belum sampai 10 menit durasi bergulir, Ruth  nampak seperti wanita hamil biasa  mengunjungi pet shop, lalu menyayat leher pemilik toko. Pesannya jelas: she means business, so is the movie. Sadisme mendadak itu pun mencuatkan pertanyaan soal motif tindakan Ruth. Satu per satu korban berjatuhan sembari perlahan terungkap tragedi yang jadi penyulut dendamnya. 
Sebagaimana ibu hamil umumnya, Ruth rutin bicara dengan si jabang bayi, bedanya, pembicaraan itu terjadi dua arah, sewaktu janin di kandungan Ruth dapat berbicara dan (in a dark comical manner) gemar melontarkan kata-kata kasar, bahkan mendorong Ruth melakukan pembunuhan. Absurditas tersebut di samping berguna sebagai sentuhan humor, pun menampilkan kecerdikan Lowe mengaitkan kisah mengenai dendam akibat tragedi dengan perasaan negatif yang mempengaruhi kehamilan. Dapat berbicaranya kandungan Ruth mewakili perasaan negatif tersebut, itu sebabnya si janin tak kuat kala Ruth memutar rekaman berisi sugesti meditatif penuh kedamaian. Prevenge pun tidak ketinggalan sedikit menyinggung ketakutan akan kehamilan.

Sejatinya paparan tentang terganggunya kondisi psikis Ruth sekaligus modus operandinya ditampilkan berulang cenderung repetitif (Ruth berpura-pura menjadi orang lain, baru melancarkan aksinya), sehingga butuh sentuhan segar guna mempertahankan minat penonton. Untuk itu Lowe mengandalkan senjata utama slasher, yaitu momen eksekusi. Tetapi Prevenge bukan Friday the 13th atau Hatchet. Kita tidak akan menemukan over-the-top creative kills karena Lowe menjaga kesan "membumi". Biar begitu, aliran deras darah dari sayatan di leher sampai alat kelamin membuatnya tetap brutal pula menghibur. Pun Lowe mampu menghantarkan shock value memadahi lewat ketepatan timing juga pilihan visual menarik termasuk momen sureal creepy yang kentara mengambil inspirasi dari Crime Without Passion yang kerap Ruth tonton hingga terobsesi.
Eksekusi tindak pembunuhan Ruth walau mengasyikkan disimak sebenarnya cukup bermasalah terkait logika. Benar bahwa hal logis tak perlu berlaku dalam sajian slasher, tapi sewaktu Lowe hendak membuat lebih dari sekedar slasher standar, di mana drama psikologis yang berpijak pada sebab-akibat perbuatan karakternya mendominasi, logika cukup penting diperhatikan. Bagaimana bisa Ruth tidak ketahuan? Terlebih saat salah satu pembunuhan bertempat di kantor yang tentunya memasang CCTV. Benang merah antar korban pun mudah terhubung dengan Ruth, dan dia juga tak beraksi bermodalkan rencana cerdas guna menghindari kecurigaan kecuali hidup terasing di hotel plus (entah dengan cara apa) menghilangkan data pribadinya. I dont buy it.

Namun pasca parade sadisme memuaskan, Prevenge justru ditutup antiklimaks. Lowe berfokus merangkai konklusi dramatik melalui suatu twist personal dan resolusi hubungan Ruth dan bayinya, yang mana sah bahkan perlu dilakukan. Sayangnya ia seperti lupa jika slasher wajib berujung konfrontasi puncak ketika kebrutalan dan banjir darah semestinya mencapai titik tertinggi. Setelah segala hiburan berdarah ditambah penampilan meyakinkan Alice Lowe dengan aura aneh nan tak mengenakkan sebagai wanita yang terganggu batinnya di tengah duka berkepanjangan, mengecewakan mendapati Prevenge ditutup nyaris tanpa taji. 

RAW (2016)

Ada beragam cara menggolongkan film horor, dan kali ini saya akan membaginya ke dalam tiga bentuk. Pertama nasty horror. Sesuai namanya, jenis ini mengedepankan momen menjijikkan, sering eksploitatif, menempatkan cerita, akting, dan segala tetek bengek sinematik lain di urutan ke sekian. Kritikus cenderung membabat habis film model begini. Kedua adalah mainstream horror yang dirilis luas, dibuat mengikuti pola demi memuaskan penonton sebanyak mungkin. Ketiga, artsy horror yang gemar bermain alegori, banjir penghargaan dari bermacam festival, namun bagi penonton awam tak selalu memuaskan entah disebabkan tempo lambat atau "pelit" mengumbar teror.

Raw yang disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Julia Ducournau termasuk golongan terakhir, menceritakan hari-hari pertama Justine (Garance Marillier) berkuliah menempuh pendidikan kedokteran hewan. Justine merupakan gadis "lurus" yang cerdas, pendiam, masih perawan, sekaligus seorang vegetarian. Di sana ia bersama sang kakak, Alexia (Ella Rumpf). Berlawanan dengan Justine, Alexia lebih "liar" dan gemar berpesta. Seiring waktu, Justine menyadari ada keanehan pada dirinya ketika mulai timbul hasrat memakan daging mentah yang bahkan bisa menyeruak hadir kala melihat seekor sapi hidup di depan kelas. Hingga saat terjadi sebuah kecelakaan, hasrat Justine berubah ke tingkatan ekstrim.
Kisah coming-of-age memang mangsa empuk bagi sineas horor menyelipkan simbolisme-simbolisme, mengingat pada kenyataannya, fase hidup manusia khususnya remaja dipenuhi berbagai perubahan yang dirasa aneh, entah pengalaman seksual pertama, fisik pula kepribadian juga berubah. Karena itu takkan sulit memberi twist pada perubahan tersebut, misal si karakter menyadari dia adalah monster, kanibal, atau semacamnya. Ducournau pun memanfaatkan itu, menumpahkan setumpuk alegori tentang bangkitnya naluri dasar manusia, seksualitas, kehidupan kampus, sampai perdebatan soal perlakuan terhadap hewan, entah untuk dikonsumsi atau eksperimen akademik.

Tapi keberadaan simbol di atas tidak serta merta menjadikan filmnya suguhan cerdas, sebab kini ketika coming-of-age sudah jamak dijadikan metafora termasuk dalam horor, apa yang Ducournau berikan terlampau familiar. Mudah ditebak ke mana perkembangan karakternya bergerak, walau di beberapa titik terdapat kejutan selaku pemberi shock value. Pula pada pengadeganan, di mana tempo lambat sebagai niat membangun atmosfer ditambah gambar artistik cantik garapan sinematografer Ruben Impens yang sesekali dibalut slow motion mendominasi. Gaya demikian yang dulu termasuk "hipster" telah menjadi klise, membentuk template tersendiri bagi arthouse horror, dan Ducournau sekedar menerapkan, mengulangi template itu.
Eksplorasi dramatik cenderung mengesampingkan porsi horor, yang mana bukan masalah bila terdapat pendalaman paten. Sayangnya, untuk film yang berupaya mengangkat tentang tumbuh kembang manusia secara serius, bukan gimmick semata, presentasinya dangkal. Perubahan demi perubahan Justine tak nampak sebagai proses berkelanjutan yang natural, melainkan hanya alat agar film dapat bergerak dari satu twisted moment ke twisted moment berikutnya. Andai saja fokus banyak terletak pada horor, sebab meski Raw memperlihatkan bahwa Ducournau bukan pencerita solid, ia piawai menebar teror menyakitkan.

Tanpa perlu sadisme berlebihan, sang sutradara sanggup menyulap peristiwa remeh seperti menggaruk luka alergi jadi adegan yang bisa memaksa penonton berpaling dari layar berkat perpaduan visual eksplisit dengan tata suara meyakinkan. Atau bagaimana "menarik rambut dari dalam mulut" yang telah ratusan kali kita lihat tampak begitu menyakitkan. Ducournau punya kejelian tinggi terkait menciptakan pemandangan disturbing tanpa perlu terkesan over-the-top. Selalu mencekam dan mencekat tatkala momen berdarah mengambil alih, Raw sayangnya turut memperlihatkan betapa hipster artistic horror makin repetitif, predictable, mencapai kekliseannya sendiri.

MANTAN (2017)

"Mantan" mungkin menjadi salah satu kata paling mengerikan bagi remaja sekarang. Menariknya, ketika mayoritas dari mereka memilih menghindar, Adi (Gandhi Fernando) yang segera melangsungkan pernikahan justru mengunjungi lima mantan kekasihnya untuk mencari tahu, apakah ada di antara kelimanya yang merupakan soulmate-nya. Mungkin banyak penonton bakal bertanya apa perlunya melakukan itu. Mengapa harus membuka lembaran lama penuh luka jika tengah bersiap mengarungi masa depan? Namun sejatinya demikianlah gambaran generasi masa kini yang gemar mempermasalahkan tetek bengek "mantan" dan "pacaran".

Mengusung hal di atas, debut penyutradaraan Svetlana Dea ini telah menjadi cerminan tepat soal percintaan para millenial, di mana romansa masa lalu kerap memancing keributan dan membebani. Dalam film ini, Adi mengunjungi kelima mantan di berbagai kota. Daniella (Ayudia Bing Slamet) di Bandung, Frida (Karina Nadila) di Yogyakarta, Juliana (Kimberly Ryder) di Bali, Tara (Luna Maya) di Medan, dan Deedee (Citra Scholastica) di Jakarta. Pemilihan beragam tempat tersebut sebenarnya tanpa substansi terkait narasi sebab kita takkan menemui perbedaan yang dipengaruhi kultur (penokohan, konflik). Pun hanya sekilas penonton diperlihatkan lingkungan sekitar mengingat pertemuan selalu terjadi di kamar hotel, yang mungkin bentuk penyiasatan bujet.
Sisi positifnya, kamar hotel mampu membangun ruang personal, sehingga memfasilitasi obrolan intim, jujur, hati ke hati. Kemudian kita dibawa mempelajari bahwa terdapat alasan berbeda-beda yang memicu berakhirnya hubungan Adi dengan masing-masing dari mereka. Semakin banyak kita tahu, semakin sulit bersimpati kepada Adi beserta segala kesalahan juga kengototan memaksa mengembalikan kenangan menyakitkan di benak mantan-mantannya. Tapi toh film ini tak berniat menjustifikasi perbuatan Adi baik dulu maupun sekarang. 

Adi menyatakan ingin "clear the air", namun berulang kali pula ketimbang menyiasati perdamaian, ia mengungkit kesalahan para mantan. Kalimat-kalimat dari mulutnya pun terdengar berlawanan dengan niatan move on. Setiap pertemuan berujung pertengkaran, yang seperti disebut Juliana, berputar di satu titik, tak melangkah maju. Apa tujuan Adi? Seperti telah disebutkan, Adi bak mewakili generasi kekinian yang berlebihan dibingungkan oleh persoalan mantan karena terlampau senang menengok ke belakang. Mencapai destinasi, setumpuk masalah mungkin nihil resolusi, tapi satu hal pasti, Adi merasa tenang, memperoleh kepastian akan pilihannya. Mantan adalah kisah seseorang menempuh perjalanan akibat didorong ketakutan atas masa lalu. Adi tak tentu arah, bingung mesti berbuat apa, sebab sejatinya, tanpa sadar ia "hanya" ingin mendapat penguatan terhadap suatu keputusan.
Ditulis sendiri oleh Gandhi Fernando, naskah Mantan lebih kuat di tataran konsep ketimbang eksekusi. Premis seorang pria mengunjungi lima mantan kekasih memang unik, tapi di sisi lain sulit melakukan penggalian mendalam dengan jumlah tokoh pula konflik sebanyak itu, apalagi lewat durasi 75 menit. Ragam aspek mulai paparan hubungan Adi dan tiap mantan sampai alasan putus kurang solid dijabarkan, tenggelam di tengah dialog yang sesungguhnya berisi banter menarik namun acap kali tumpang tindih. Belum matangnya Svetlana Dea menyusun adegan juga berperan, di mana sang sutradara kerap kerepotan menangani momen pertengkaran secara rapi. Kurang tepatnya beberapa pilihan musik (orkestra dramatis yang tak selaras dengan nuansa low-key film kadang menyeruak) dan transisi adegan kasar  entah disebabkan penyuntingan lemah atau stock footage minim  turut melemahkan momentum.

Didominasi interaksi karakter di satu lokasi, Mantan tentu amat bergantung pada kualitas jajaran cast guna menyulut daya tarik. Ayudia Bing Slamet yang menggelitik melalui amarah tanpa henti dan komentar pedas, terdengar naturalnya lantunan kalimat Kimberly Ryder, Luna Maya dengan sisi glamornya, Citra Scholastica yang penuh semangat, hingga Karina Nadila selaku penampil paling memikat lewat sex appeal didukung interpretasi kompleks yang ia berikan bagi tokohnya, semua saling mengisi, meracik hiburan asyik. Berada di antara wanita tersebut, Gandhi Fernando memberi akting terbaik dalam karirnya sejauh ini, melontarkan kata, humor, serta emosi bersenjatakan antusiasme yang menyenangkan disimak. Begitu film berakhir, jangan buru-buru beranjak, karena ada mid-credit scene singkat yang mengungkap jati diri salah satu sosok penting filmnya.

THE MUMMY (2017)

Shared universe sekarang tengah merajalela di Hollywood. Tren satu ini seolah menandakan kepercayaan diri pihak studio akan franchise mereka, meski seringkali pula sekedar latah tanpa perencanaan jelas. Diawali oleh Marvel, kini DC/Warner Bros, Transformers, sampai MonsterVerse milik Legendary Pictures yang mengadu Godzilla dengan King Kong turut mengikuti. Di antara semuanya, jalan Universal dalam meluncurkan Dark Universe berisi sekumpulan karakter monster klasik terhitung paling terjal. Berniat memulai sejak 2014 lewat Dracula Untold, kualitas mengecewakan ditambah pendapatan biasa-biasa saja membatalkan rencana tersebut. 

Tiga tahun berselang, tugas mengawali franchise diemban The Mummy garapan Alex Kurtzman (People Like Us), di mana Tom Cruise berperan sebagai Nick Morton, seorang militer Amerika Serikat yang tengah bertugas di Irak. Ambisi menemukan harta karun terpendam justru mendorong Nick bersama arkeolog bernama Jenny (Annabelle Wallis) pada penemuan sarkofagus peninggalan kerajaan Mesir. Tanpa keduanya tahu, di dalamnya terdapat kutukan hasil perjanjian Puteri Ahmanet (diperankan dengan kombinasi sempurna antara karisma dan sensualitas milik Sofia Boutella) dengan Seth sang Dewa Kegelapan yang dahulu menciptakan pertumpahan darah akibat perebutan kekuasaan. 
Keseruan, ketegangan, kesenangan. Tiga poin tersebut substansial membangun blockbuster, dan kentara ada usaha menyatukan ketiganya. Namun masalah timbul kala Kurtzman kurang cakap mengatur tone terlebih soal komedi. Kurtzman tak pandai memainkan punchline, membiarkan selipan humor di naskah berlalu tanpa penekanan. Contohnya ketika Jenny mengungkapkan bahwa Nick adalah orang baik karena berkorban menyerahkan satu-satunya parasut pada Jenny, yang lalu dijawab singkat oleh Nick, "aku kira ada dua parasut". Pengadeganan Kurtzman memancing kebingungan. Apakah itu momen komedik? Ataukah serius yang menyatakan jika Nick tak sebaik dugaan Jenny? 

Keberadaan Tom Cruise untungnya lumayan menolong. Sang aktor mampu menyeimbangkan penampilan meyakinkan sebagai action hero tangguh dan pembawaan komedik. Bukan kali pertama Cruise memamerkan bakat tersebut, bukan pula yang tergila (masih dipegang Tropic Thunder), tapi melihatnya dihempaskan oleh Sofia Boutella atau menerima tendangan dari Annabelle Wallis tepat di wajah nyatanya luar biasa menghibur. Pun walau urung dimanfaatkan maksimal, fakta bahwa Nick bukan one-man army layaknya banyak karakter Cruise lain, pula sedikit menyentuh ranah antihero di paruh awal, membuatnya menarik. Masih menghabiskan mayoritas waktu berlarian (like Tom Cruie always does in his movies), Nick lebih sering tak berdaya menghadapi Ahmanet, setidaknya sebelum klimaks.
Kelemahan terbesar The Mummy terletak pada inkonsistensi terkait tensi. Diawali flashback ke Mesir kuno, daya tarik meningkat kala Ahmanet pertama kali beraksi di dunia modern, mengumpulkan pasukan memakai cara yang mengingatkan akan Lifeforce-nya Tobe Hooper. Reference lain bagi horor klasik hadir sewaktu Vail (Jake Johnson) "menghantui" Nick guna mengingatkannya akan teror yang segera menyerang. Situasi absurd itu dikemas menggelitik, sebagaimana situasi serupa di An American Werewolf in London. Lalu tensi menurun, bahkan mencapai titik nadir sewaktu film berkutat di pertemuan Nick dengan Dr. Henry Jekyll (Russell Crowe). Momen itu berlangsung lama tetapi tanpa injeksi emosi maupun tambahan informasi. Apa sebenarnya organisasi yang Jekyll pimpin misalnya, tak pernah diungkap. 

The Mummy gemar memancing antisipasi penonton hanya untuk kemudian memberi payoff mengecewakan. Sewaktu Ahmanet bergerak mengerahkan segenap kekuatannya, kita bak dijanjikan suatu epic finale showdown berisi kehancuran masif London. Namun alih-alih kekacauan berskala besar, klimaks sekedar diisi pertarungan satu lawan satu ala kadarnya antara Nick melawan Ahmanet. Trio penulis naskah kelas wahid David Koepp (Spider-Man, Panic RoomChristopher McQuarrie (The Usual Suspects, Mission: Impossible - Rogue Nation), dan Dylan Kussman pun bagai terlampau malas merangkai resolusi meyakinkan, menambah kesan antiklimaks pergulatan dua tokohnya.