UANG PANAI' = MAHA(R)L (2016)

Uang panai' merupakan budaya yang menarik untuk dikulik. Sejatinya, pembayaran panai' adalah bentuk penghargaan calon mempelai pria terhadap wanita yang hendak ia nikahi. Namun banyak pihak beranggapan nominal uang panai' semakin terasa mencekik, terlalu tinggi dan dimanfaatkan sebagai ajang pamer sehingga melenceng dari esensinya. Mengangkat budaya tersebut, "Uang Panai' = Maha(r)l" yang digawangi oleh para sineas muda Makassar ini jadi menarik menengok potensinya mencuatkan satu isu sosial serta budaya lokal ke khalayak lebih luas. Walaupun timbul keraguan mengingat kualitas "film daerah" yang diputar di jaringan bioskop nasional mayoritas masih di bawah rata-rata. 

Sosok yang harus berurusan dengan uang panai' adalah Anca (Ikram Noer), pemuda Bugis yang baru kembali dari perantauan. Setibanya di kampung halaman, ia tanpa sengaja bertemu dengan Risna (Nur Fadillah) sang mantan kekasih. Meski empat tahun lalu ditinggal tanpa kabar, nyatanya Risna masih mencintai Anca, begitu pula sebaliknya. Keduanya menjalin romansa lagi hingga Risna meminta Anca menikahinya, padahal saat itu Anca belum berhasil mendapat pekerjaan. Anca makin terpojok tatkala keluarga Risna meminta uang panai' sebesar 120 juta rupiah.
Saya cukup dikejutkan dengan kemampuan "Uang Panai' = Maha(r)l" memberi hiburan pada separuh pertama durasi. Susunan lelucon dari naskah Amril Nuryan dan Halim Gani Safia mungkin jauh dari kesan cerdas dan memang tak memiliki intensi ke sana, tapi justru kebodohan berlebih itu daya pikat utamanya. Semangat absurditas di mana para tokoh menunjukkan kebodohan random di luar batas dieksploitasi. Berfokus pada kuantitas ketimbang kualitas membuat banyak humornya meleset, tapi bukankah keanehan hiperbolik selalu menarik disimak? Apalagi bukan cuma Tumming (Tumming) dan Abu (Abu) selaku idiotic comic relief duo yang memperlihatkan itu, pula Anca  saat kebodohan membuatnya sulit mendapat kerja  atau sang ibu dengan sikap antik plus penggunaan Bahasa Inggris seenaknya.

Permasalahan mencuat tatkala film mulai beralih konsentrasi menuju drama-romansa, mengesampingkan komedi. Percintaan Anca dan Risna mungkin salah satu romantika paling tak simpatik yang pernah saya saksikan. Anca tak ubahnya pecundang, mengacaukan berbagai kesempatan dan baru sukses mendapat kerja berkat bantuan (rahasia) Risna. Sulit mendukung perjuangannya mengumpulkan uang panai' saat pria tanpa kemampuan apapun ini kerap meninggikan harga diri daripada menjaga perasaan orang lain. Sedangkan Risna begitu egois, selalu menuntut keinginan tanpa memperhatikan logika dan realita. Sebagai wanita karir, tentu ia tahu keluarganya bakal meminta nominal panai' tinggi. Tapi Risna memaksa Anca menikahinya kala baru sebulan bekerja, lalu meragukan kesungguhan sang kekasih yang kesulitan mengumpulkan 120 juta walau tahu gaji Anca tak seberapa.
Kualitas drama bisa terbantu oleh kekuatan akting, sayangnya hal ini tidak dimiliki "Uang Panai' = Maha(r)l". Sewaktu menangani momen komedik, jajaran cast-nya tampak menikmati keharusan bertingkah bodoh, tapi beda cerita saat melakoni bagian dramatik. Beberapa kali saya dibuat terganggu oleh gestur tidak natural nan kaku dari Ikram Noer. Dia bergerak seolah karena keharusan, bukan refleks sebagai dorongan alami emosi dalam hati. Bahkan aktor pemeran ayah Risna (saya tidak menemukan namanya) sukses menyuguhkan tawa melalui akting marah yang sungguh menggelikan. 

Pesan yang coba diutarakan pun berakhir tidak jelas. Awalnya Amril Nuryan dan Halim Gani Safia nampak ingin melontarkan kritik, rasa tidak setuju akan lonjakan nominal tak masuk akal uang panai'. Namun entah karena takut mengkritisi adat atau kehabisan akal, konklusinya cenderung bermain aman. Alhasil, setelah menghabiskan terlalu banyak waktu  durasi hampir 2 jam jelas kepanjangan  berceramah lewat kata-kata mengenai "orang tua jangan mempersulit pernikahan dengan memahalkan uang panai'" atau "di Islam yang wajib adalah mahar", pemilihan konklusi tersebut membuat rangkaian pesannya terdengar bak omong kosong belaka. Patut disayangkan, "Uang Panai' = Maha(r)l" mengorbankan potensi komedi hanya demi balutan pesan berlarut-larut yang disuarakan penuh keraguan. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

THE SECRET LIFE OF PETS (2016)

Setelah mengisi slot film mereka dengan franchise "Despicable Me" termasuk spin-off malas berjudul "Minions", Illumination Entertainment akhirnya kembali merilis film original yang sesungguhnya not-so-original mengingat kemiripannya dengan "Toy Story". Ya, pada dasarnya "The Secret Life of Pets" serupa karya Pixar tersebut, hanya saja protagonis mainan diganti hewan peliharaan lucu. Materi trailer-nya menarik, mengetengahkan kegiatan para hewan tatkala pemiliknya meninggalkan mereka di rumah. This could be Illumination's best movie since "Despicable Me", unfortunately that's not the case especially when the fast-paced action antics took place all over again, dominating the whole movie like their previous efforts. 

Pasca berkenalan dengan sang protagonis, anjing terrier bernama Max, kita diajak mengamati para hewan peliharaan bertingkah seperti manusia. Sequence menarik ini jadi melelahkan akibat telah dieksploitasi materi promosi, kesalahan sama yang dilakukan juga oleh Illumination lewat "Minions". Max amat menyayangi pemiliknya, Katie, dan merasa cemburu saat ia membawa pulang anjing bernama Duke. Persaingan Max dan Duke segera terjadi, mengingatkan pada perseteruan Woody dengan Buzz di awal perkenalan. Setelahnya, Max dan Duke terlibat petualangan, sempat tertangkap Animal Control, bertemu Snowball, kelinci pemimpin "The Flushed Pets" yang membenci manusia dan merencanakan revolusi.
Banyak hal dialami keduanya, sebanyak film ini memperkenalkan karakter baru beserta konflik masing-masing. Ada Gidget, anjing pomerania yang diam-diam menyukai Max, Tiberius, elang yang ingin berhenti menjadi karnivora, sampai anjing basset cacat bernama Pops. Belum lagi menghitung hewan-hewan peliharaan tetangga Max. Naskah karya Brian Lynch, Cinco Paul dan Ken Daurio berambisi sebanyak mungkin menelusuri isi hati hewan. Terlalu banyak malah, sehingga alurnya overstuffed, berujung kedangkalan eksplorasi akibat kemunculan yang sambil lalu. Praktis beberapa menit setelah diperkenalkan, setumpuk tokoh baru tersebut patut dipertanyakan signifikansinya bagi cerita. 
Setelah sajian rutinitas hewan di awal, sejatinya "The Secret Life of Pets" tinggal mengembangkan itu. Sayang, sebagaimana film-film Illumination sebelum ini, sisa durasi dipakai menghadirkan petualangan berisi gelaran absurditas aksi tempo tinggi. Sesekali masih menyenangkan, tapi semakin lama, melihat Max dan teman-temannya terus berlari, terbang, melompat, semakin terasa repetitif. Beberapa balutan komedi sempat memancing tawa, tapi jelas bukan lelucon cerdas hasil pemanfaatan konsep mengenai the secret life of pets. Karnivora yang ingin berhenti makan daging, hewan pembenci manusia, dan lain sebagainya, berhenti di tataran konsep belaka, menjadikannya serupa dengan film lain bertema talking animals.

"The Secret Life of Pets" memang ibarat dua sisi koin pembuatnya. Bagai ada pertentangan antara idealisme menyusun kisah kompleks dewasa dengan menjaga status sebagai hiburan semua umur. Satu lagi contoh tatkala di sela-sela petualangan ringan kegemaran anak-anak, terselip konten cukup kelam seperti kematian  surprisingly ini bukan film di mana tertimpa reruntuhan tak berdampak vital bagi karakter  pula kekerasan. Di satu sisi bisa dipandang sebagai bentuk kegamangan menentukan tujuan, namun cukup menambah bobot penceritaan meski emotional payoff di akhir tak sekuat yang seharusnya. 

MUNAFIK (2016)

Harus diakui saya asing dengan perfilman Malaysia, terutama untuk genre horor, di mana "Munafik" merupakan pengalaman pertama. Disutradarai (juga ditulis, diedit, dan dibintangi) oleh Syamsul Yusof, "Munafik" sukses meraup pendapatan sebesar RM 19.00 juta, menempatkannya sebagai film Malaysia berpendapatan tertinggi sepanjang masa. Sepintas, film ini tak banyak memiliki perbedaan dibanding sederet horor Indonesia era 80-an yang kental sentuhan religi (baca: Islam). Menjadi spesial tatkala Syamsuk Yusof memperhatikan pondasi cerita pula karakter, membawa filmnya ibarat "The Exorcist" versi Islam, mengganti Pendeta dengan Ustadz, dan exorcism dengan ruqyah.

Adam (Syamsul Yusof) baru mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa sang istri, menghadirkan kesedihan mendalam, membuatnya jauh dari Masjid, bahkan tak lagi bersedia melakukan ruqyah bagi warga sekitar. Namun ketika Maria (Nabila Huda)  gadis yang sedang mengalami depresi  kerasukan, Adam terpaksa melakukan ruqyah lagi walau masih bergulat dalam duka dan krisis iman. Begitulah "Munafik", berjejalkan pesan-pesan agama supaya tidak mudah tergoda bujuk rayu iblis. Tapi saya tak merasa digurui, karena Syamsul Yusof pun tidak berusaha  berceramah atau menghimbau. Dia sekedar memaparkan suatu situasi lewat sudut pandang agama. 
Seolah berkaca dari "The Exorcist", Syamsul Yusof enggan mengesampingkan kualitas naskah. Kata "Munafik" dijadikan kunci bagi pengembangan karakter, tatkala masing-masing dari mereka layak menerima sebutan munafik. Adam adalah ustadz yang tentu rutin mengajak orang supaya berserah diri pada Tuhan, namun semakin lama tiap kata bijak tersebut terdengar kosong kala dendam dan duka semakin menguasainya. Tokoh lain juga mengalami konflik serupa yang takkan saya bahas lebih lanjut demi menghindari spoiler. Dari segi penceritaan, 98 menit film ini merupakan observasi memuaskan terhadap lemahnya hati manusia serta kemunafikan para alim ulama.

Soal pembangunan horor, Syamsul Yusof masih bergantung pada formula jump scare standar  hentakan musik volume tinggi, kesunyian sesaat sebelum mengageti penonton  yang walau terasa repetitif, nyatanya efektif menggedor jantung berkat timing akurat plus kemunculan hantu di sudut mengejutkan. Syamsul Yusof pun tak lupa menjallin rangkaian creepy imageries pengundang kengerian berbasis atmosfer seperti saat Maria terjebak di kamar mayat dan adegan "menggotong pocong". Walau jika membicarakan pocong, belum ada yang mampu memaksimalkan potensi kengeriannya serupa "Keramat" atau "Pocong 2". But still, "Munafik" adalah horor mengesankan bermodal jump scare solid. Aspek religinya substansial memperkuat penceritaan, berpesan tanpa ragu melontarkan kritik pedas, meski balutan religi turut dipakai memunculkan deus ex-machina pada klimaks.

TRIANGLE: THE DARK SIDE (2016)

Saya ingat kerap menghabiskan masa kecil duduk di depan televisi, dibuat terperangah oleh aksi sulap Deddy Corbuzier. Fast forward sekitar lima belas tahun kemudian tepatnya saat ini, image sang mentalist telah berubah begitu banyak. Vakum dari dunia sulap dan lebih dikenal lewat tingkah sekaligus komentar arogan, he's basically the magician version of Ahmad Dhani. Mengundang atensi melalui tiga film pendek "Triangle" yang sempat mencuatkan konflik dengan Gareth Evans akibat ketiadaan honor sekaligus minimnya pengamanan dalam pengemasan adegan fighting, Deddy akhirnya merilis versi film panjang yang memiliki sub-judul "The Dark Side".

Film ini dibuka dengan credit sequence yang cukup stylish dan mengingatkan pada gaya Nayato Fio Nuala. Awalnya saya optimistis. Barangkali itu kebetulan dan Deddy selaku sutradara memang punya visi guna mempercantik tampilan filmnya. Sampai akhirnya nama director of photography terungkap, yang tak lain dan tak bukan adalah Nayato sendiri. Makin was-was ketika saya mendapati bahwa Deddy tidak menyutradarai "Triangle: The Dark Side" sendirian, melainkan berduet bersama Ian Nguyen Lampa, yang sebagaimana kita ketahui merupakan nama alias lain Nayato Fio Nuala. 
DNA Nayato mengalir kencang pada teknik pengadeganan khususnya tata visual dengan setumpuk gaya yang sejatinya tak perlu diaplikasikan  pencahayaan kelewat gelap, freeze transition antar adegan, beberapa camera angle "unik", dan lain sebagainya. Nayato memang selalu style over substance di mana rentetan gaya di atas tak memiliki signifikansi bahkan cenderung menurunkan kualitas film. Koreografi aksi sejatinya cukup baik khususnya kala Deddy memamerkan teknik wing chun. Tapi camerawork Nayato membunuh potensi terciptanya pertarungan memikat. Seolah ingin menjadi Paul Greengrass, shaky cam kerap digunakan. Kombinasikan teknik tersebut dengan gelapnya pencahayaan plus resolusi gambar yang rendah, anda harus siap pusing meski kepala tidak ikut terkena pukulan.

Paling mengecewakan tentunya kemunculan Chris John. Mungkin bermodal teknik bela diri miliknya dan gaya tinju Chris John, Deddy berniat menghadirkan pertarungan serupa Donnie Yen-Mike Tyson di "IP Man 3", namun pengemasannya medioker  terlalu cepat berakhir, tanpa usaha membangun intensitas, koreografi ala kadarnya. Ditambah lagi, bukan Chris "The Dragon" John sang juara tinju dunia dalam kondisi prima yang kita dapat, melainkan Chris John bertubuh tambun yang terlihat awkward baik saat memamerkan jurusnya maupun melontarkan baris kalimat.
Naskah yang ditulis Haqi Achmad, Deddy Corbuzier, Chika Jessica dan Volland Humonggio turut meramaikan parade keburukan "Triangle: The Dark Side". Pada aspek inilah kita bisa merasakan Deddy Corbuzier beserta ambisi besarnya menyuguhkan kompleksitas menjatuhkan kualitas penceritaan. Terlampau banyak karakter diperkenalkan sambil lalu semata-mata demi menggambarkan kacaunya kehidupan sang protagonis  Maya Muaya, Sys NS, Chris John  atau sebagai comic relief tak lucu  Asri Welas, Babe Cabita. Ketiadaan substansi jelas kentara, karena tanpa kehadiran mereka pun alur film takkan terganggu, bahkan besar kemungkinan lebih tertata pula tergali mendalam.

Karakter Deddy digambarkan mengalami trauma akibat kematian sang istri (Sandra Dewi). Itu pula yang mendorongnya ingin berhenti bekerja sebagai pembunuh. Maka dari itu ketika muncul Chika Jessica selaku love interest baru, penonton harus dibuat percaya bahwa sang wanita punya kelebihan sehingga Deddy mau beranjak dari masa lalunya. Tapi yang muncul hanya romansa cheesy penuh dialog dangkal "aku sayang kamu" khas FTV. Bertambah menggelikan melihat Deddy yang sepanjang film berusaha memasang ekspresi "tough guy" mendadak tersenyum, malu-malu kucing di depan Chika. Tidak perlulah terus menerus menekuk muka supaya terlihat macho. Tengok Vin Diesel dan Dwayne Johnson. Keduanya juga botak, kekar, dan tampak kuat tanpa harus memasang muka constipated. 

Twist di ahir memang dipaksakan kemunculannya, hanya memikirkan daya kejut tanpa memperhatikan keterkaitan dengan apa yang telah dibangun sepanjang durasi, namun ending-nya yang membuat saya menurunkan penilaian terhadap film ini. Itu bukan konklusi film, melainkan langkah marketing (a bad one) yang mengkhianati penonton. Bayangkan anda membayar puluhan ribu rupiah dan alih-alih diberikan proper ending malah dipaksa membeli buku karya "the one and only" Damien Dematra. "Triangle: The Dark Side" sebenarnya bisa menjadi sajian aksi menghibur andai dibuat oleh filmmaker yang paham cara mengeksekusi action yang baik.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

HELLO, MY NAME IS DORIS (2015)

Saat menyukai seseorang, kegiatan seperti social media stalking, mencari tahu bahkan berusaha ikut menyukai hal-hal kesukaan orang tersebut barangkali kerap kita semua lakukan. Tindakan-tindakan itu tentunya familiar, sama familiarnya dengan usaha protagonis merebut cinta sang pujaan hati yang terasa sulit digapai dalam sebuah komedi romantis. "Hello, My Name Is Doris" berisikan premis klise serupa, hanya saja karakter utamanya bukanlah remaja atau dewasa awal, melainkan wanita berusia 60-an tahun bernama Doris Miller (Sally Field) yang merepresentasikan segala ciri seorang catlady  introvert, tinggal sendiri di rumah gelap nan pengap, berpenampilan kuno, dan tentunya memelihara kucing.

Setelah sang ibu yang telah ia rawat selama bertahun-tahun meninggal, Doris mendapat tekanan dari adiknya, Todd (Stephen Root) dan sang istri, Cynthia (Wendi McLendon-Covey) supaya mengosongkan onggokan barang-barang di dalam rumah hasil kegemarannya memungut barang bekas. Untuk itu Doris mulai mendatangi sesi terapi bersama Dr. Edwards (Elizabeth Reaser). Di saat bersamaan, rutinitas membosankan Doris di kantor  yang harus ia tempuh menggunakan ferry  berubah tatkala datang karyawan baru, pemuda tampan bernama John (Max Greenfield). Seketika jatuh cinta, Doris mulai melakukan serangkaian usaha guna menarik perhatian John.
Usaha Doris terbentang dari stalking Facebook memakai akun palsu, membeli CD musisi favorit John  band electropop bernama Baby Goya & The Nuclear Winters  sampai mendatangi konser band tersebut sambil memakai pakaian berwarna neon. Karakter Doris berisiko jatuh menjadi creepy stalker kalau bukan karena performa heartwarming Sally Field. She carried the whole movie, made it entertaining even with its tonal inconsistency. Dipandang sebagai tragicomedy kelam tentang nasib percintaan wanita tua berkepribadian tertutup, naskah serta penuturan sutradara Michael Showalter terlampau ringan. Namun sebagai feel-good comedy, tingkah Doris acapkali ekstrim, menghalangi simpati penonton.
Berkat Sally Field, Doris tetap berakhir sebagai likeable character. Ekspresi, khususnya senyuman Field sempurna mewakili awkward behavior karakter yang selalu sukses memancing tawa kala Michael Showalter menyelipkan beberapa spaced out moment saat Doris tenggelam dalam fantasi. Akting dramatiknya pun tak kalah memikat, yang salah satunya ditunjukkan ketika emosi Doris meledak akibat tekanan berlebih guna membersihkan rumahnya. Teriakan Field teramat heartbreaking pada adegan tersebut. Tidak seperti filmnya, sang aktris mampu menyeimbangkan sisi drama dengan komedi lewat penampilannya.

Pemilihan konklusinya memuaskan berkat keberhasilannya menjadi manis sekaligus pahit tergantung dari sudut pandang mana anda melihatnya. Terpenting, konklusi tersebut sanggup menyatukan tone ganda yang mendistraksi sepanjang durasi, merupakan kesimpulan tepat bagi perjalanan tokohnya, baik dipandang sebagai lighthearted romantic comedy maupun tragicomedy. "Hello, My Name Is Doris" sejatinya predictable, tapi penggunaan protagonis seorang wanita lanjut usia menambahkan kompleksitas penokohan meski akhirnya berujung mencuatkan permasalahan tone. Sangat layak disimak walau hanya demi melihat akting Sally Field.

LIGHTS OUT (2016)

Kegelapan kerap diidentikkan dengan kengerian, tempat di mana selubung teror  hantu, monster, etc.  bersemayam. Mitos jika hantu bakal menampakkan diri kala cahaya meredup pun wajar, mengingat manusia cenderung takut pada hal yang tidak dapat kita lihat/ketahui. Kepercayaan tersebut digunakan oleh David F. Sandberg sebagai dasar pembuatan "Lights Out", film pendek berdurasi tiga menit rilisan tahun 2013 yang menciptakan sensasi viral. Film itu pun menarik perhatian James Wan yang merekrut Sandberg guna menyutradarai versi panjang dari "Lights Out". Insting Wan terbukti tepat kala filmnya berujung sebagai salah satu supernatural horror terbaik tahun ini.

Melalui opening yang notabene merupakan ekspansi film pendeknya, kita melihat sesosok makhluk misterius bercakar membunuh Paul (Billy Burke) di tempat kerjanya. Kematian Paul membuat sang istri, Sophie (Maria Bello) terjerumus dalam depresi, menelantarkan puteranya, Martin (Gabriel Bateman) yang masih berusia 10 tahun. Martin sendiri mendapati ibunya sering bicara sendiri dengan sosok tak terlihat bernama Diana. Tatkala Diana mulai meneror Martin, ia mendatangi kakaknya, Rebecca (Teresa Palmer) yang telah bertahun-tahun pergi dari rumah pasca kematian ayahnya (Paul adalah suami kedua Sophie). 
Eric Heisserer selaku penulis naskah tak berlama-lama menyusun introduksi, meminimalisir konflik believer versus skeptical yang acapkali mendominasi first act dari horror bertemakan supranatural. Faktanya, hanya butuh satu malam untuk menempatkan Rebecca dalam teror Diana. Keseluruhan "Lights Out" memang minim basa-basi, langsung menyoroti pokok permasalahan, bergerak cepat selama durasinya yang pendek (81 menit). Walau begitu, filmnya masih sempat menyuntikkan paparan dramatik kuat untuk ukuran mainstream horror mengenai psikis karakter. Sosok Diana ibarat perwujudan duka para tokoh, muncul tatkala mereka berada di titik nadir. Progresi alur pun dapat dilihat sebagai proses karakternya saling menguatkan meski Eric Heisserer tak sampai mencuatkan ambiguitas layaknya "The Babadook"  Diana adalah hantu asli, bukan halusinasi. 

Bersenjatakan keseimbangan antara kerapuhan akibat duka masa lalu dengan kekuatan dari kasih sayang terhadap keluarga, Teresa Palmer memberi kedalaman, sehingga Rebecca punya lebih banyak dimensi ketimbang banyak protagonis horror di luar sana. Maria Bello melakukan usaha terbaik menghidupkan gangguan psikis karakternya walau Sophie sebenarnya pantas mendapat eksplorasi lebih jauh. Kekokohan akting mengejutkan disajikan oleh Gabriel Bateman si aktor cilik yang tampak dewasa tanpa kehilangan sisi kanak-kanaknya. Sewaktu melakoni adegan dramatis ia sukses menghadirkan kadar emosi dengan dosis sempurna. 
Bicara soal tingkat kengerian, "Lights Out" sukses memantapkan status sebagai one of the better mainstream horror in years, serupa pencapaian James Wan sang produser. Dua pertiga durasi khususnya second act memang banyak diisi hal klise  a false alarm followed by a real scare  yang sejatinya terasa malas dan kurang memaksimalkan potensi keunikan konsepnya. Belum lagi kebingungan dalam menjelaskan konsep itu, menciptakan pertanyaan besar: apakah Diana memiliki kemampuan mematikan lampu? Biasanya plot hole serupa bakal saya lupakan, namun untuk kasus "Lights Out" yang coba mengedepankan kesegaran konsep, standar penilaian pun turut saya sesuaikan (baca: tingkatkan). Terkadang kebodohan laku karakter juga timbul (mencari seseorang di basement gelap) meski sesekali kepintaran ikut hadir (memanggil polisi). 

Kekurangan tersebut untungnya mampu dibayar lunas kala film mencapai third act. David F. Sandberg bukan saja sanggup memacu jantung saya melalui kemunculan jump scare yang bertambah efektif berkat kesempurnaan timing serta pembangunan antisipasi, dia berikan pula kreatifitas menarik berupa penggunaan berbagai metode oleh karakternya guna menjaga supaya bermacam jenis cahaya  layar handphone, lampu mobil, lilin, etc.  tetap menyala. Berpadu sinematografi karya Marc Spicer yang mengkombinasikan berbagai jenis suasana remang, "Lights Out" has an amazingly scary, intense, and smartly crafted third act. 

TIGA DARA (1957)

Merupakan film kedua karya Usmar Ismail yang direstorasi dengan bantuan L'Immagine Ritrovata, Bologna, Italia setelah "Lewat Djam Malam" pada 2012 lalu, "Tiga Dara" shows that the best kind of classic movie is the timeless one. Film berkisah mengenai tiga bersaudari  Nunung (Chitra Dewi), Nana (Mieke Wijaya), Nenny (Indriati Iskak)  yang tinggal bersama sang nenek (Fifi Young) dan ayah mereka, Sukandar (Hassan Sanusi). Walau punya sifat berbeda-beda, ketiganya saling erat menyayangi. Hingga saat Nunung tepat berusia 29 tahun, neneknya merasa telah tiba waktunya Nunung menikah, kemudian memaksa Sukandar mencarikan suami bagi si puteri sulung. 

Awalnya, sentral penceritaan memang berkutat pada Nunung, mengenai sosoknya yang "kuno" dibanding kedua adiknya  memakai kebaya, enggan keluar rumah, menghabiskan hari mengurusi pekerjaan rumah tangga  hingga rasa tidak nyaman kala dipaksa menghadiri beberapa pesta bersama Nana supaya menemukan sosok pria pujaan hati. Seiring alur bergerak, Nana dan Nenny mulai banyak terlibat sekaligus menguatkan karakter masing-masing. Naskah garapan Usmar Ismail dan M. Alwi Dahlan adalah contoh sempurna ketika konflik dan penggalian karakter berjalan beriringan saling membangun, sehingga makin dalam alur bergerak, makin pula penonton memahami karakter utama.
Detail merupakan kunci keberhasilan penokohan "Tiga Dara". Baju yang dipakai, motivasi serta respon perbuatan terhadap satu stimulus situasi menciptakan sinergi berupa tokoh yang kokoh. Terlebih, tiap-tiap dari mereka punya ciri sebagai pembeda. Nunung itu kolot dan pendiam, Nana modern dan agresif, Nenny cerdik, usil juga ceria. Akting ketiga aktris pun turut menyokong. Chitra Dewi memancarkan harga diri tinggi seorang wanita sekaligus mampu menyampaikan banyak hal lewat bahasa non-verbal. Mieke Wijaya bermodalkan tatapan tajamnya mencengkeram perhatian penonton serupa ia menggenggam hati pria-pria di sekitarnya. Sedangkan Indriati Iskak adalah gadis manis yang bakal dicintai semua orang lewat polahnya.
Iringan lagu-lagu bernuansa Melayu dikemas oleh Usmar Ismail jadi rangkaian adegan musikal memikat dengan bagian terbaik adalah nomor "Ini Kisah Tiga Dara" yang dipasang pasca adegan pembuka. Benar tariannya tampak awkward, tapi alih-alih mengurangi estetika, kesan itu justru mendukung paparan kisah mengenai kemurnian (baca: kepolosan) cinta protagonisnya. Saya tersenyum lebar, bahkan terharu menyaksikan ketiga dara berlenggak-lengok, menyanyi sembari tersenyum bersama Herman (Bambang Irawan) yang menari dengan kocaknya. It was so beautiful, sweet and pure

Beberapa momen  humor saat Nenek membantu Nunung memakai kebaya, adegan beriringkan lagu "Tamasja"  mungkin agak menggelikan bagi banyak penonton sekarang, namun saya tidak menggapnya sebagai kekurangan, melainkan sebuah perjalanan mengamati kondisi kultural masa itu. Justru sesungguhnya "Tiga Dara" amat relevan bagi kondisi masa kini. Paparan konflik percintaan hingga keharusan menikah berujung perjodohan tetap relatable karena sekarang pun masalah-masalah serupa masih kerap kita temui. Begitu pula presentasi tentang kuatnya sosok wanita. Nunung, Nana, Nenny, bahkan sang nenek mampu membuat para pria bertekuk lutut, menuruti mereka dalam bermacam bentuk. Mereka manis, lembut, lovable tanpa pernah kehilangan kekuatan. I'm in love with them, I'm in love with this classic! 

LASJKAR DI TAPAL BATAS (2016)

“Saya membuat film berdasarkan mood. Cukup 50 persen mood saya menyukai proposal yang diajukan. Baru saya akan memproduksinya," begitu ungkap Letsman Tendy selaku produser eksekutif "Lasjkar di Tapal Batas". Dari kalimat tersebut bisa disimpulkan, jika ada usulan bagus mengenai produksi sebuah film namun mood Letsman buruk, proposal akan ditolak. Sebaliknya, sebusuk apapun proposal apabila hatinya tengah gembira Letsman bakal setuju. Jangan tanya cara mengukur presentase mood karena saya pun dibuat garuk-garuk kepala. Intinya tidak ada pertimbangan dari segi kualitas, yang mana menjawab pertanyaan saya akan kemunculan film dengan production value setara produk keisengan anak SMA ini di bioskop. 

"Lasjkar di Tapal Batas" tidak mencoba "aneh-aneh" dalam merangkai cerita. Premisnya sederhana, yaitu tentang pemuda bernama Tidjan (Gorz Kurniawan) yang menyimpan kebencian terhadap penjajahan Belanda. Sempat beberapa kali nekat melakukan perlawanan bersama para sahabatnya, Tidjan akhirnya ditawari bergabung menjadi anggota Lasjkar. Ada pula kisah percintaan Tidjan dengan Nonon (Tere Gunawan) yang senantiasa mengkhawatirkan keselamatan sang kekasih di medan perang. Paparan klise kisah peperangan berbumbu romansa yang apabila digarap maksimal berpotensi besar menghasilkan drama emosional. 
Tapi penggarapan Bayu Prayogo  sutradara merangkap penulis naskah dan produser  amat kacau. Naskah acak-acakan dapat terselamatkan oleh kemampuan sutradara bernarasi lewat visual. Masalahnya, Bayu bagai asal memvisualisasikan rangkaian deskripsi pada naskah tanpa peduli akan flow saat masing-masing scene disatukan. Teknis penyuntingan pun sama sekali tak menolong, karena Dimas W. selaku editor sama asalnya menyatukan adegan. Perpindahan scene penuh lompatan kasar, seolah sang editor sekedar memasang satu per satu adegan di Windows Movie Maker. Click-drag-click-drag-insert music-render, and voila! Jadilah film panjang. 
Semakin menyakitkan saat mendapati mayoritas kualitas gambar luar biasa buruk, entah pecah, tidak fokus, seperti video dokumentasi acara sekolah yang direkam menggunakan kamera digital murahan oleh siswa yang belum berpengalaman dengan tata kamera. Masih berpendapat film ini tidak asal jadi? Lihat bagaimana aktor-aktor lokal dipaksa memerankan prajurit Belanda berbalut seragam ala kadarnya. Ditambah koreografi baku tembak menggelikan, saya merasa sedang menonton orang bermain perang-perangan di halaman belakang ketimbang film layar lebar. Jangan harap jajaran cast punya akting mumpuni. Dalam satu adegan, orasi seorang tokoh lebih terdengar bak tangisan pria cengeng putus cinta daripada semangat membara prajurit. 

Memang benar film Indonesia tentang perang di masa penjajahan masih jarang. Ditambah upaya menyampaikan kisah perjuangan yang kurang diketahui masyarakat awam, ada niat baik di balik pembuatan "Lasjkar di Tapal Batas". Tapi bukan berarti penonton  yang notabene membayar tiket  harus memaafkan kekurangan film hanya karena intensi baik pemuatnya. Beberapa waktu lalu mencuat perbincangan mengenai perlunya "seleksi" guna memutuskan kelayakan sebuah film tayang di bioskop. Bukan masalah bagus atau jelek mengingat selera tiap orang berbeda, tapi akal sehat siapapun pasti setuju bahwa sajian asal jadi macam "Lasjkar di Tapal Batas" tak semestinya meneror layar lebar kita.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID