UNTUK ANGELINE (2016)

Masyarakat Indonesia paling suka dua jenis kisah: kisah inspiratif mengharukan dan kisah tragis menyedihkan. Intinya kita senang dibuat menangis, mengasihani, pula dikasihani, tapi menolak berbuat sesuatu atau setidaknya mengambil sisi untuk bersuara. Itu pula yang terjadi dalam "Untuk Angeline", film debut penyutradaraan Jito Banyu dengan naskah hasil karya Laila "Lele" Nurazizah. Dari judulnya bisa ditebak bahwa film ini mengangkat cerita Angeline, bocah berusia 8 tahun yang kasus kematiannya menghebohkan pada pertengahan 2015 lalu. Sebuah topik yang apabila tidak ditangani dengan sensitifitas hanya akan menjadi eksploitasi tanpa arti.

Dikisahkan sepasang suami istri miskin, Santo (Teuku Rifnu Wikana) dan Samidah (Kinaryosih) tak mampu menangung biaya persalinan anak perempuan mereka. Hal itu mendorong Santo menjual sang puteri kepada pasangan kaya, John (Hans de Kraker) dan Terry (Roweina Umboh) tanpa persetujuan istrinya terlebih dahulu. Bayi perempuan itu kemudian diberi nama Angeline oleh John, dibesarkan penuh kasih sayang bak anak sendiri. Rasa sayang John untuk Angeline (diperankan Naomi Ivo dan Audrey Junicka) nyatanya menimbulkan kecemburuan Terry. Dia menganggap John tidak menyimpan cinta serupa pada hasil pernikahan sebelumnya. 
Membuat film berbasis tragedi nyata boleh saja dilakukan, dan terkait kasus Angeline begitu banyak sisi bisa digali termasuk proses persidangan yang beberapa kali muncul tanpa maksud pasti. "Untuk Angeline" bukan sebuah eksplorasi isu, cerminan realita, ataupun tribute, melainkan eksploitasi cerita sedih demi satu tujuan: mengalirkan air mata penonton. Lagi-lagi suguhan tearjerker pun sifatnya tidak haram, namun eksposisi konflik hingga pendalaman karakter seharusnya jangan dilupakan. Sedangkan dalam film ini, tiap sequence semata-mata dipakai untuk memperlihatkan siksaan demi siksaan yang Angeline terima dari sang ibu tiri dilengkapi iringan musik buatan Joseph S. Djafar yang bombastis, setia menggedor gendang telinga meski adegan di layar tidak menampilkan situasi dramatis.
Suatu ketika, Coen Brothers pernah menyatakan alasan mencantumkan kalimat "based on a true story" dalam "Fargo" adalah supaya penonton lebih bisa menerima keanehan yang dimiliki film tersebut. "Untuk Angeline" bagai mencoba jalur serupa, memanfaatkan status "berdasarkan kisah nyata" supaya kebodohan adegan maupun tingkah karakter dapat penonton toleransi. Lagi-lagi berbagai kesan bodoh hadir akibat upaya dramatisasi berlebihan termasuk supaya tokoh-tokoh semisal Terry dan Kevin nampak sejahat mungkin, tanpa peduli caranya terlihat menggelikan sekalipun. Adegan Kevin bermain piano sembari memasang "senyum iblis" mengiringi penyiksaan Terry terhadap Angeline bisa dijadikan contoh terbaik. Kalau itu sungguh terjadi, film ini sukses membuat hal nyata menjadi tidak bisa dipercaya.

Patut disayankan, karena "Untuk Angeline" bukan film sampah asal jadi tanpa memperhatikan teknis sinematik. Akting beberapa penampil cukup solid khususnya Kinaryosih yang mempunyai kedalaman alih-alih overacting dalam interpretasinya bagi penderitaan Samidah. Letupan emosi Teuku Rifnu Wikana menjelang akhir film berpotensi menyayat hati, sama halnya heartwaring performance dari Naomi Ivo yang bisa saja menggaet simpati andaikan penuturan filmnya lebih memperhatikan pembangunan konflik serta karakter. Menjelang kredit akhir, terdapat pernyataan bahwa "Untuk Angeline" bertujuan membangkitkan kesadaran penonton, tapi sepanjang saya cuma bisa merasakan ambisi mengeruk keuntungan hasil eksploitasi kesedihan nasib tragis seseorang. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

GHOSTBUSTERS (2016)

Merupakan hal biasa jika suatu reboot/remake bagi film klasik menerima tanggapan miring dari penggemar, tapi kebencian untuk "Ghostbusters" karya Paul Feig ini ada di tingkatan berbeda. Sampai review ini ditulis, trailer-nya sudah mendapat lebih dari 966.000 dislikes  terbanyak sepanjang masa. Namun "serangan" itu masih belum seberapa dibanding berbagai komentar kasar bernada sexist mengiringi diubahnya gender keempat protagonis menjadi wanita. I'm not a die-hard fan of the original, but I like it. The international trailer is amazing and more importantly, this is a movie by Paul Feig, the same guy who made "Bridesmaids", "The Heat" and "Spy". Ketiga judul tersebut adalah komedi lucu bersenjatakan interaksi renyah antar protagonis wanita berkarakter kuat.

Dr. Erin Gilbert (Kristen Wiig) terpaksa menemui lagi kawan lamanya, Dr. Abby Yates (Melissa McCarthy) pasca mendapati buku mengenai eksistensi hantu yang dahulu keduanya tulis dijual secara online oleh Abby. Erin yang kini mengajar di Columbia University ingin melepaskan diri dari buku tersebut, tak lagi mempercayai hal berbau paranormal. Sebaliknya, Abby masih menjalankan penelitian serupa dibantu engineer eksentrik Dr. Jillian Holtzmann (Kate McKinnon). Ketika mendadak terjadi serangkaian penampakan hantu secara massal di New York, mereka ditambah seorang karyawan MTA bernama Patty Tolan (Leslie Jones) harus menggabungkan keahlian guna melakukan "pembersihan"....meski selain Holtzmann tidak jelas apa peran masing-masing dalam tim.
Kita kerap melihat Holtzmann merakit persenjataan bagi Ghostbusters, tapi tidak dengan Erin sang ahli fisika kuantum, Patty yang menyebut dirinya paham seluk beluk New York, atau Abby dengan apapun bidangnya selain ilmu paranormal. Sering berkelakar mengenai istilah-istilah asing fisika tidak otomatis menjadikan seseorang ahli bidang tersebut, dan itulah yang sepanjang film dilakukan Erin (khususnya) dan Abby. Untung keempat aktris mampu memberi energi pada setiap kemunculan di layar. Wiig is awkward, Jones is hysterical, McCarthy is hilarious yet charming, and McKinnon is weird  all in a funny way. Kate McKinnon paling mencuri perhatian dengan memaksimalkan seluruh unsur dalam dirinya guna menghidupkan keanehan Holtzmann yang selalu tampak antusias dalam tiap kesempatan.

Sentuhan humor milik naskah garapan Katie Dippold dan Paul Feig jelas tidak secerdas film original-nya (ditulis Dan Aykroyd dan Harold Ramis). Daripada dialog quotable kaya referensi, humornya mengeksploitasi kebodohan tutur sekaligus laku karakter seperti film-film Feig sebelumnya. Seringkali timing pelontaran lelucon kurang diperhatikan dan diseret terlalu lama sehingga kehilangan momentum. Selama 116 menit, Feig ibarat memberondongkan peluru sebanyak mungkin secara asal ke arah target berharap ada satu atau dua mengenai sasaran. Alhasil cukup sering leluconnya miss, namun sekali mencapai target, tawa yang dihasilkan tidak main-main. Maybe not smart, but very funny, and that's enough. 
Bicara soal pintar, apakah reboot ini jadi paparan kuat sekaligus cerdas mengenai isu gender? Potensi itu nyata tersimpan, namun naskahnya urung menggali secara mendalam. Sejatinya tidak masalah mengingat tujuan utama "Ghostbusters" tak lain menghibur, bukan menyuarakan kritik sosial. Tetapi mengubah protagonis menjadi empat sosok wanita tetap memberi penyegaran, warna baru bagi franchise ini, dan menarik pula saat perubahan gender turut diaplikasikan pada karakter sekretaris, yang mana menjadi seorang pria bernama Kevin (Chis Hemsworth) yang karakterisasinya ibarat representasi kebodohan pria. 

Selain para ghostbusters, sosok hantu sendiri merupakan satu lagi poin plus filmnya. Mereka bukan iblis mengerikan layaknya Valak di "The Conjuring 2", tapi variasi bentuk  plus ukuran  berbalut ragam warna aura bak nyala lampu LED cukup membius, mendorong saya untuk selalu menantikan kemunculan mereka. Segala scene berisikan hantu pun konsisten menghadirkan hiburan, termasuk pertempuran di third act. That moment when Holtzmann took out her secret gun, licked it, then beat some ghost ass wasn't just the coolest moment of this movie, but the entire franchise. Seperti filmnya sendiri, adegan itu menyenangkan. "Ghostbusters" gagal menangkap kepintaran film original-nya, tapi masihlah sajian menghibur yang menyimpan nostalgia lewat beberapa easter eggs juga cameo dari original cast

STAR TREK BEYOND (2016)

Pada tahun 2009 J. J. Abrams me-reboot "Star Trek", mengubahnya dari sajian geeky pemuas hasrat para Trekkie (penggemar "Star Trek") menjadi science fiction blockbuster berpangsa pasar lebih luas tanpa merusak esensi kisah aslinya. Tujuh tahun dan satu sekuel berselang, kursi penyutradaraan diserahkan pada Justin Lin yang dikenal selaku penggarap installment ketiga hingga keenam "Fast & Furious". Perpaduan antara kemampuan Lin mengemas kegilaan action dengan naskah tulisan Simon Pegg  a Trekkie himself  nampak seperti kombinasi tepat guna menghadirkan racikan sempurna bagi sebuah film "Star Trek". Unfortunately, this movie doesn't have enough soul or something new inside it.

Cukup kentara usaha Simon Pegg bersama Doug Jung menjadikan "Beyond" bukan semata-mata gelontoran aksi bombastis tatkala film bukan dibuka oleh action set piece megah layaknya summer blockbuster kebanyakan. Setelahnya penonton dibawa mendapati konflik batin tiap-tiap kru Enterprise, seperti Captain Kirk (Chris Pine) yang merasa penjelajahan angkasanya tak punya tujuan pasti atau berakhirnya hubungan Spock (Zachary Quinto) dan Nyota Uhura (Zoe Saldana). Pasca beberapa menit dengan tempo lambat, fokus utama penceritaan hadir tatkala Enterprise menerima misi penyelamatan menuju sebuah planet di Nebula yang ternyata merupakan perangkap dari Krall (Idris Elba), membuat para kru terpencar satu sama lain.
Keunggulan terbesar "Star Trek Beyond" terletak pada karakterisasi kuat, di mana memasuki film ketiga, tiap-tiap dari mereka telah memiliki pondasi kokoh berupa ciri pembeda masing-masing: Kirk makin matang sebagai kapten dengan masih mempertahankan sisi liarnya, Spock tetap kaku dan terlibat love/hate relationship dengan Leonard McCoy (Karl Urban) yang kerap memancing tawa, dan Scotty (Simon Pegg) adalah Scotty sang engineer jenius namun terkadang bertingkah bodoh. Jaylah (Sofia Boutella) selaku tokoh baru pun langsung menemukan pijakannya untuk mampu mengambil spotlight tiap kali ia muncul. Cermatnya pembagian screentime memfasilitasi seluruh karakter menampilkan sisi khas, memberi kesempatan setidaknya sekali dua kali mencuri fokus.

Sebagaimana yang dilakukan dalam "Fast & Furious" Justin Lin mampu memaksimalkan ensemble berkat penguatan unsur kekeluargaan di antara mereka  kru Enterprise saling melengkapi serta lebih kuat saat tengah bersama-sama. Namun di sisi lain, seperti pada "Fast & Furious" pula, Lin kurang piawai merangkum momen drama, menjadikan usaha eksplorasi naskahnya terhadap batin karakter berakhir datar. He lacks of dramatic senstivity, and the only thing that he did was slowing down the tempo everytime the drama kicked in. Alhasil beberapa poin khususnya paruh awal terasa dragging, melelahkan pula membosankan. 
Masalah intensitas turut bersumber dari ambisi Pegg menjadikan "Star Trek Beyond" lebih geeky lewat tebaran scientific mumbo jumbo dialogues. Those kind of dialogues are inevitable in this kind of sci-fi movie, tapi dosisnya berlebihan, terlampau memusingkan untuk dicerna, semakin melemahkan magnet film bagi penonton. Normalnya, momentum dapat kembali diraih ketika adegan aksi menerjang, sayangnya Lin bagai tidak tengah berada di performa terbaik. Eksekusi aksi jauh dari kata buruk, namun kurang memikat guna menarik kembali atensi setelah rentetan kerumitan baris kalimat tadi. Padahal ada Joe Taslim dan Sofia Boutella yang bisa dieksploitasi gerak tubuhnya, tapi Lin justru banyak memakai close up dan quick cut yang menghalangi potensi keseruan fighting scene dengan koreografi memikat. Untung kegilaan khas Lin muncul lewat keseruan klimaks berhiaskan lagu "Sabotage". That scene rocks!

Aspek visualnya sukses memanjakan mata. Walau beberapa CGI tampak clumsy, pengemasan detail berbagai planet asing serta variasi make up bagi bermacam alien menghasilkan pemandangan pemuas mata sekaligus bersinergi dengan tujuan Enterprise  juga "Star Trek"  mengeksplorasi jagat raya, menemukan berbagai hal baru nan menarik di luar sana. In the end, "Star Trek Beyond" is a little bit draggy and chatty because of its overload of tech-heavy dialogues, but still an interesting visualization of space exploration with strong characters and interactions between them. "Star Trek Beyond" is the weakest of the reboot series, and this franchise needs a new direction (again)

JILBAB TRAVELER: LOVE SPARKS IN KOREA (2016)

Guntur Soeharjanto, Alim Sudio dan Asma Nadia. Ketiga nama ini telah berulang kali saling berkolaborasi  bertiga atau hanya dua di antaranya  menghadirkan suguhan religi. Walau tidak kesemuanya bisa dianggap bagus, judul-judul seperti "99 Cahaya di Langit Eropa", "Assalamualaikum Beijing", "Surga yang Tak Dirindukan", hingga "Pesantren Impian" jelas bukan sajian buruk penebar penyakit bagi industri perfilman tanah air. Diadaptasi dari novel "Jilbab Traveler" karya Asma Nadia, filmnya berkisah mengenai Rania Samudra (Bunga Citra Lestari) yang melakukan perjalanan mengelilingi dunia demi mewujudkan harapan sang ayah supaya ia menjadi laksana Ibnu Batutah, penjelajah muslim yang jadi rujukan dunia.

Narasi pembukanya menjabarkan latar belakang tersebut, bagaimana Rania mengunjungi banyak negara kemudian memperoleh nama, dikenal sebagai "Jilbab Traveler" setelah mengabadikan perjalanannya dalam bentuk tulisan. Berbalut sinematografi apik, diperlihatkan pula sepintas momen singgahnya Rania di beberapa tempat. Namun tak pernah hadir paparan menyeluruh tentang apa yang sejatinya didapat sang protagonis selama mengembara. Penonton dipaksa menerima fakta jika mengunjungi berbagai lokasi (bernuansa Islam) telah memberi pencerahan bagi Rania. Ya, exploring the outside world memang bisa begitu bermakna, tapi tatkala makna itu sifatnya off-screen, jalinan emosi pun urung hadir.
Ketika substansi untuk traveling-nya urung digali mendalam, konflik cinta segitiga justru sebaliknya, lebih kuat serta kompleks. Tatkala pulang guna merawat ayahnya yang jatuh sakit, Rania justru diminta mendatangi Baluran, tempat di mana cinta kedua orang tuanya tumbuh. Di sana Rania pertama bertemu dengan Hyun Geun (Morgan Oey), seorang fotografer asal Korea dan sahabatnya, Alvin (Ringgo Agus Rahman). Perlahan benih cinta tumbuh di antara Rania dan Hyun Geun, namun di saat bersamaan keluarga Rania (baca: kakak-kakaknya) tengah mendorong supaya ia menikahi Ilhan (Giring Ganesha). 

Harus diakui romantika Rania dan Hyun Geun hadir terlalu cepat, padahal keduanya baru menghabiskan satu hari pendek bersama tanpa diperlihatkan satu pun quality time. Konflik mulai menarik saat Ilhan muncul. Penonton jelas digiring supaya mendukung Rania dengan Hyun Geun. Pasangan ini adalah protagonisnya, tapi Ilhan bukanlah sosok jahat, tampak pada kesungguhannya mengajari ibu-ibu peserta ujian paket C. Benar Ilhan berusaha menjauhkan Hyun Geun dari Rania, tapi memakai cara wajar dan rasa enggan kehilangan sang wanita pujaan bisa dipahami. Ketika mengetahui Rania bertemu Hyun Geun di Korea, Ilhan pun nekat menyusul meski takut terbang. 
Alhasil yang tersaji bukan konflik "good guy versus bad guy" melainkan "kenyamanan kontra kebahagiaan". Ilhan mewakili kehidupan nyaman pula mapan bagi Rania, sedangkan Hyun Geun adalah kebahagiaan yang membuat Rania bisa mengikuti panggilan jiwa sebagai jilbab traveler. It's all about logic against feeling. Konflik bukan dilandasi gangguan pria lain melainkan murni dilema hati Rania  penonton takkan merasa Ilhan jahat, tapi Rania yang gamang. Hal itu diperkuat oleh campur tangan kakak-kakak Rania, memperumit sekaligus menjadikan kegamangan Rania believable

Seperti biasa Guntur Soeharjanto punya visi kuat supaya mata penonton terpuaskan oleh gambar-gambar indah. Setting pun turut dimanfaatkan supaya beberapa adegan (ex: makan malam di restoran, pengumuman pernikahan di pesta ulang tahun) nampak bagai drama Korea, yang bersinergi pula dengan sisi melodrama kisahnya. Sayang, sebagaimana "99 Cahaya di Langit Eropa", Guntur Soeharjanto cenderung mengemas filmnya bak traveling video minim substansi, melupakan kewajiban bernarasi. Penonton lebih sering dipertontonkan adegan karakternya berjalan-jalan daripada emotional building. Ujungnya, hingga film berakhir mata saya terpuaskan namun hati terasa kosong. 

Cukup mengisi kekosongan rasa adalah akting ketiga cast utama. Baik Bunga Citra Lestari, Morgan Oey maupun Giring Ganesha mampu menangani adegan berisi luapan emosi dengan baik, tapi keunggulan terbesar ketiganya yakni keberhasilan menyalurkan isi perasaan lewat mata dan ekspresi tanpa harus melalui penuturan verbal. Sayang, pembawaan komedik Ringgo Agus Rahman membuat Alvin annoying alih-alih jadi sosok sahabat yang membantu dan menghangatkan suasana. Penonon dapat memahami isi hati tiap karakter dalam berbagai situasi walaupun itu saja masih kurang guna menghindarkan "Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea" sebagai satu lagi tontonan ber-setting luar negeri yang terlihat indah di mata tapi tidak di hati. 

ILY FROM 38.000 FT (2016)

FTV (Film Televisi) eksis sebagai jalan membuat tontonan berdurasi film panjang di layar kaca dengan production value lebih murah plus effort pembuatan yang lebih ringan. Kualitas di berbagai sisi  naskah, penggarapan, akting  pun tidak perlu bagus-bagus amat. Karenanya bakal mengesalkan tatkala muncul film bioskop selevel FTV. Namun tak bisa dipungkiri suguhan serupa punya pasar cukup besar di Indonesia. Keberhasilan mengundang sebagian saja dari mereka ke bioskop dapat berujung keuntungan komersil melimpah. Screenplay Productions memahami potensi itu. "ILY from 38.000 Ft" merupakan karya ketiganya pasca kesuksesan "Magic Hour" dan "London Love Story" yang tak lain adalah bentuk FTV di layar lebar.

Di atas pesawat dengan tujuan Bali, Aletta (Michelle Ziudith) merasa terganggu oleh kehadiran seorang pria asing di kursi sebelah yang terus menggodanya. Untunglah ia mendapat bantuan dari Arga (Rizky Nazar), dan sejurus kemudian kita mendapati gantian Aletta melakukan serupa  menggoda Arga  karena menurut "hukum" FTV, tindakan tersebut bisa ditolerir jika sang pelaku adalah protagonis berparas rupawan. Sesampainya di Bali, Aletta terus berusaha mendekati Arga, bahkan nekat menawarkan bantuan menjadi host dadakan untuk sebuah program eksplorasi alam  ala National Geographic  milik Arga. Sayang, setelah sukses menaklukkan dinginnya sikap Arga, lalu membuatnya jatuh cinta, sebuah tragedi memisahkan mereka berdua.
Setiap sisi naskah karya Sukdev Singh dan Tisa TS maupun penggarapan sutradara Asep Kusnidar hanya memiliki satu tujuan: memuaskan dahaga penonton ABG mengenai khayalan indahnya cinta sejati. Sepasang pria tampan dan wanita cantik bertemu di pesawat, tidak saling kenal, lalu perlahan saling cinta seusai melewati momen-momen manis di Pulau Dewata. Begitu keduanya terpisah pun kekuatan cinta terlampau kuat untuk bisa memudar. Semua disajikan tanpa peduli akan lubang logika berkenaan detail peristiwa atau perbuatan karakter. Semakin anda memikirkan sederet kejanggalan tersebut, niscaya semakin besar pula siksaan yang harus otak anda alami.

Tapi biar bagaimana, kita semua pernah melewati fase remaja penuh kenaifan soal romantika. "ILY from 38.000 Ft" sanggup membangkitkan sisi yang sudah saya lupakan atau lebih tepatnya pendam tersebut. Pasca "Magic Hour" dan "London Love Story", Asep Kusnidar paham betul cara mengemas adegan perangsang senyum yang melelehkan hati penonton. Sebuah montage berisikan Arga dan Aletta menghabiskan waktu bermesraan sambil diiringi lagu "Kiss Me" memang cheesy  lengkap dengan guyuran hujan pula slow motion  tapi tak bisa dipungkiri rentetan visualisasi itu terasa manis. Sisi remaja kita pernah memimpikan semua situasi itu. Baris dialog yang diniati quotable juga punya dosis secukupnya, tidak berlebihan berpuisi tidak pula terdengar setiap menit.
Rizky Nazar punya charm untuk terlihat cool dan digilai penonton wanita walau karakterisasi Arga jelas inkonsisten  jatuh cinta saja tidak mengubah sosok dingin sepertinya menjadi pria gombal pengirim pesan bertuliskan BPUK (Baru pisah udah kangen). Sedangkan Michelle Ziudith membuktikan bahwa dia layak bermain dalam komedi-romantis berkualitas. Ziudith sanggup menutupi fakta jika Aletta adalah seorang wanita "murah" yang berlebihan mengejar pria idamannya. She looks cute and likeable without being annoying. Mampu pula dia menangani adegan komedik semisal saat Aletta sengaja bersikap menyebalkan ketika dipaksa menemui Ditho (Verrell Bramasta), pria yang hendak dijodohkan dengannya. So funny and adorable indeed

Melewati pertengahan durasi, "ILY from 38.000 Ft" sejatinya masih enjoyable di luar berbagai kekurangan tadi, hingga tiba satu twist menjelang akhir, yang memaksakan filmnya berakhir bahagia. Pesan mengenai "kekalnya cinta sejat" berujung hambar. Potensi gejolak emosi mengharu biru pun terenggut, hilang ditelan keinginan film membahagiakan penonton lewat jalan termudah (happy ending means happiness). Tapi paling mengganggu adalah penjelasan mengenai twist-nya. Benar telah banyak kebodohan hadir sepanjang film, but that twist is another level of stupidity. Berbagai fakta mengejutkan ditumpuk dan seluruhnya menghancurkan logika, melukai nalar. Kenaifan sisi remaja saya tak lagi kuasa menutupi kekurangannya.

"ILY from 38.000 Ft" sangat berpotensi menjadi "FTV layar lebar" menghibur. Terlebih production value-nya cukup tinggi, memfasilitasi ambisi para pembuatnya mengusung kisah kelas sinetron ke dalam paparan sinematik yang sejatinya dapat diandalkan memancing minat pangsa pasarnya berbondong-bondong meramaikan bioskop, which is a good thing. Namun ibarat pepatah "nila setitik rusak susu sebelanga", the twist pretty much ruined everything. Jadilah "ILY from 38.000 Ft" cukup memuaskan sisi remaja saya yang menyimpan dahaga khayalan romantika, tapi melukai otak dewasa saya yang dipenuhi tatanan logika. 

PRENJAK (2016)

(THIS REVIEW CONTAINS SPOILER!)
"Apakah perlu?" merupakan pertanyaan yang harus kita lontarkan tatkala sebuah film hadir membawa kontroversi  apapun bentuknya, seberapa tingkatannya. Keperluan mempertanyakan keperluan dapat membawa penonton menemukan kesimpulan subjektif mengenai substansi pengemasan film tersebut. "Prenjak" karya Wregas Bhanuteja yang sukses meraih kemenangan di seksi International Critic's Week Festival Film Cannes tahun ini sempat memunculkan perdebatan mengenai itu. Perlukah mempertontonkan alat kelamin secara vulgar dalam satu karya seni? Perlukah  atau lebih tepatnya pantaskah  filmmaker menyodorkan the ugly truth bangsa ini pada orang asing (juri) di saat banyak sisi kultural "membanggakan" lain?

Wregas mengangkat fenomena "intip kelamin" yang bertempat di pinggiran rel stasiun Tugu, Yogyakarta, di mana para pelacur kelas bawah memfasilitasi konsumen dengan sebatang korek api yang dihargai sekian ribu rupiah untuk mengintip alat kelamin mereka. Tapi protagonis "Prenjak" bukanlah pelacur dan klien, melainkan dua pegawai sebuah rumah makan, Diah (Rosa Winenggar) dan Jarwo (Yohanes Budyambara). Memasuki istirahat makan siang, Diah yang menyatakan sedang butuh uang menawari Jarwo mengintip kelaminnya memakai korek api yang tiap batang dihargai 10.000 rupiah. 
Seingat saya belum ada film Indonesia baik panjang maupun pendek memperlihatkan kelamin segamblang "Prenjak". Kelamin dalam film ini bukan semata-mata alat reproduksi atau ekskresi. Sebagai alat vital yang sifatnya privat, kelamin bisa dipandang sebagai bentuk ketelanjangan. Ketelanjangan rasa pula jati diri. Muncul ketersiratan mengenai perasaan Jarwo pada Diah ketika ia membicarakan perlunya Diah bersuami layaknya "kode", bersedia memberi uang, hingga rasa cemburu saat Diah berniat menawarkan korek api bagi pegawai pria lain. Kemudian Diah pun melakukan hal serupa sewaktu Jarwo menawarinya 60.000 rupiah asal Diah bersedia gantian mengintip miliknya. 

Terdapat bentuk interaksi proses saling mengenal, ketertarikan, lalu pendekatan dalam kegiatan intip mengintip itu. Saat giliran Jarwo, ia bak tengah memulai usaha "mencapai" Diah. Korek api pun sempat secara tak sengaja menyentuh selangkangan Diah yang diresponnya dengan "ojo cedhak-cedhak" sebagaimana timbulnya rasa risih seorang wanita tatkala pria terlampau agresif terhadapnya. Ketika giliran Diah mengintip, awalnya ia menutup mata, namun begitu hitung mundur hampir berakhir (Jarwo memberi waktu 30 detik), ia membuka mata, bagai memilih membuka perasaannya, menolak melewatkan kesempatan.
Nyatanya bukan cuma hubungan pria dan wanita dalam konteks cinta-mencintai atau ketertarikan yang Wregas sajikan. Ada patriarkisme yang disimbolkan oleh kuasa Jarwo membuat Diah mengintip kelaminnya bermodalkan iming-iming 60.000 rupiah. Konklusi yang membuka alasan Diah menawarkan korek api turut menyinggung bentuk kuasa pria atas wanita. Tapi menengok karakterisasi Diah, jelas ia bukan wanita lemah. Mungkin ia tersudut oleh kekuatan pria-pria di sekitarnya, namun sesungguhnya itu dia lakukan sebagai bentuk pengorbanan penuh kekuatan serta kasih sayang teruntuk "seekor prenjak" berukuran kecil. 

Wregas piawai bernarasi, yang mana terlihat dari hidupnya dinamika sepanjang 13 menit durasi. Interaksi dua protagonis amat renyah hingga beberapa kali mengundang tawa. Adegan mengintip juga intens, membuat saya menahan nafas layaknya Diah dan Jarwo di bawah meja berkat nuansa klaustrofobik hasil pencahayaan yang hanya mengandalkan nyala korek api. Kurang tersaji justru dampak emosional akibat hadirnya distraksi dari kegamblangan sensualitas. Fokus (sebagian) penonton akan lebih banyak tersedot ke dalam usaha mengolah paparan metafora ketimbang sepenuhnya terseret aliran emosi kisahnya. Akhirnya, "Prenjak" meski kuat sebagai suguhan metaphorical, tak seberapa selaku paparan dramatik. Bagi mereka yang telah familiar akan praktek "intip kelamin" daya hentak film pun jadi terasa biasa.

Kembali lagi, perlukah kevulgaran? Tentu terdapat setumpuk jalan lain guna menuturkan tema-tema tadi, namun pilihan Wregas tidak keliru, hanya salah satu dari sekian opsi, walau tanpa sentuhan vulgar sekalipun pesan tetap dapat tersampaikan. Namun sentilan "semestinya ada cara lain" sama saja kita meminta Tarantino menghilangan kekerasan, Lynch menanggalkan surealitas, atau Weerasethakul mempercepat tempo film. Selalu ada pilihan lain yang berarti masing-masing pilihan tidak keliru. Soal layak atau tidak membawa sisi kelam ke publik luar jelas bukan urusan Wregas. Sebagai seniman dia sekedar mencurahkan kegelisahan teruntuk tekanan berlebih supaya tunduk pada moralitas semu. Jika output-nya dianggap ekstrim  oleh beberapa kalangan  wajar, sebab gunung berapi pun bakal menggila letusannya semakin lama ia tidur. 

KOALA KUMAL (2016)

Cukup sering saya mendengar publik salah mengartikan "stagnansi" sebagai "signature". Metode akting beserta karakter peranan Johnny Depp bisa dijadikan contoh nyata. Sedangkan untuk perfilman dalam negeri karya-karya Raditya Dika berpotensi menjurus ke arah sana. Mendengar namanya, apa yang terlintas di pikiran orang tentu tak jauh dari lelucon lika-liku percintaan (baca: jomblo). Kita akan (selalu) menemukan sosok Dika sebagai protagonis yang sial soal urusan cinta, diejek karena tampang tidak ganteng serta postur tubuh pendek, sampai perpindahan mendadak menuju adegan absurd selaku visualisasi sebuah joke. Mengingat Koala Kumal juga merupakan adaptasi bukunya, apakah pasca peningkatan lewat Single Dika akan kembali jalan di tempat?

Seperti biasa, Dika berperan sebagai Dika sang penulis novel sukses namun tengah mengalami kebuntuan (sounds pretty much like "Manusia Setengah Salmon" right?) akibat hubungannya dengan Andrea (Acha Septriasa) kandas menjelang hari pernikahan setelah sang gadis berpaling pada James (Nino Fernandez). Setahun berselang, Dika belum juga bisa move on, hingga pertemuannya dengan gadis "aneh" bernama Trisna (Sheryl Sheinafia) yang memintanya menghadiri acara diskusi buku di book club-nya. Pertemanan mereka terus berlanjut tatkala Trisna memaksa ingin membantu Dika melupakan masa lalunya lewat rencana-rencana gila. Di sisi lain, Trisna turut menyimpan kenangan pahit akan kisah cintanya. 
Bicara soal lelucon, Koala Kumal nihil penyegaran dibanding karya-karya Dika lainnya. Mayoritas bukan humor buruk apalagi murahan, hanya saja semakin predictable akibat rasa familiar terhadap gaya Dika: absurd. That's the problem, because comedy is all about timing. Sewaktu penonton sudah dapat menebak kapan apalagi bentuk pasti sebuah humor, "daya bunuhnya" dipastikan berkurang. Belum tentu tidak lucu, namun butuh effort lebih besar guna memancing tawa. Senyuman hadir, tapi diiringi ujaran "I saw that one coming". Tidak bisa dipungkiri beberapa adegan semisal "lemas otot" di penghujung film sanggup membuat saya tergelak, tapi mayoritas humor akan terlupakan begitu keluar dari bioskop walau pada momen kemunculannya terasa menghibur.
Perubahan justru nampak pada gaya bercerita. Jelas berlebihan menyebut Koala Kumal sebagai sajian dewasa apalagi kelam, tapi untuk standar Raditya Dika, ini adalah bentuk pendewasaan. Mengusung tema "merelakan", konflik karakternya bukan sekedar kegalauan mencari pacar. Pergumulan rasa mereka lebih kompleks akibat kesulitan takdir yang juga lebih berat. Perumpamaan (terlalu) gamblang teruntuk pesan utama melalui subplot maupun dialog khas Dika tetap dipertahankan, dan hadir sedikit kedalaman emosi. Memang sedikit, tapi ada. Pemilihan konklusi untuk masing-masing karakter pun sempurna mewakili pendewasaan tutur pula pesan yang coba disampaikan. 

Pendewasaan berarti pula timbul usaha menguatkan sisi dramatik yang mana membutuhkan akting kuat. Keberadaan Acha Septriasa menunjang kebutuhan tersebut. Baik karakter maupun performanya mungkin terkesan ringan bila dibanding beberapa output dramatic-nya belakangan, namun tak berarti dangkal. Still a solid performance, but Sheryl Sheinafia definitely stole the spotlight. Sosok eksentriknya bahkan sedari menit pertama selalu memiliki magnet yang begitu kuat menggaet perhatian untuk kemudian memancing tawa sekaligus kecintaan saya terhadap karakter Trisna. Pada akhirnya penonton turut bisa memahami alasan di balik tingkah laku unik Trisna ketika rahasia mengenai dirinya terungkap. Sheryl Sheinafia feels like a giant meteorid flying at the speed of light through the atmosphere called "Indonesian movie industry". Tapi bagi Raditya Dika, Koala Kumal merupakan batas dan keengganan berkembang setelah ini dapat berpotensi kemunduran teratur. 

SABTU BERSAMA BAPAK (2016)

Film merupakan produk kolektif yang tersusun atas berbagai unsur. Berangkat dari situ dapat terbentuk situasi di mana satu (atau beberapa) aspek tampil begitu baik sehingga mampu menutupi setumpuk kekurangan lainnya. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Adhitya Mulya (turut menjadi penulis naskah), Sabtu Bersama Bapak garapan sutradara Monty Tiwa ini merupakan contoh kesekian untuk situasi di atas. Bermodalkan penampilan memukau jajaran cast-nya pula ikatan personal penonton  termasuk saya  dengan kisahnya, this highly anticipated movie ended up as one of the most satisfying movie of the year so far even with some of its flaws.

Tanpa berbasa-basi, Monty langsung membuka filmnya dengan adegan emosional berbalut musik mendayu gubahan Andhika Triyadi, berharap penonton seketika mengharu biru saat Gunawan Gamida (Abimana Aryasatya) mendapati hidupnya takkan lama lagi akibat kanker. Menyadari dia tidak mendapat kesempatan melihat kedua puteranya, Satya dan Cakra tumbuh dewasa, Gunawan memutuskan merekam banyak video yang satu per satu bakal diputar bagi anak-anaknya tiap hari Sabtu. Awalnya saya bertanya-tanya, apa maksud tindakan dan konten video tersebut. Apakah sekedar demi mengobati rasa rindu atau memberikan pembekalan bagi Satya dan Cakra yang tak sempat Gunawan lakukan?
Seiring cerita bergulir, ternyata jawabannya adalah hal kedua. Satya (Arifin Putra) dan Cakra (Deva Mahenra) tumbuh dewasa berbekal wejangan-wejangan sang bapak yang mereka tonton setiap Sabtu, dan berusaha menerapkan ilmu ajaran Gunawan dalam segala permasalahan mereka. Satya kini telah menikah dengan Rissa (Acha Septriasa), memliki dua anak dan tinggal di Prancis. Sebagaimana sang bapak, Satya turut menyusun rencana jangka panjang terstruktur walau sayangnya ia tak pernah hadir untuk keluarganya akibat pekerjaan. Sedangkan Cakra walau karirnya juga sukses, mengalami kesulitan mencari pacar akibat kecanggungannya yang mana sering jadi bahan ejekan para anak buahnya di kantor. 

Bagaimana seorang anak melakukan mirroring terhadap bapaknya merupakan salah satu pembangun dinamika utama Sabtu Bersama Bapak. Normalnya, kondisi itu wajar terjadi, apalagi pada kondisi dalam film ini, ketika kerinduan atas sosok yang amat mereka cintai mendorong Satya dan Cakra menelan seutuhnya rangkaian pesan sang bapak. Pembangunan karakter jadi believable karena itu meski kurang dipaparkan mengapa Cakra berujung lebih bijak menyikapi pelajaran yang ia terima. Setidaknya kita memperoleh alasan di balik segala keputusan mereka berdua. Pesan mengenai tidak pernah hilangnya sosok bapak walau dia telah tiada pun mampu tersampaikan seutuhnya.
Sayang, sebagai film berjudul Sabtu Bersama Bapak, kuantitas penonton ikut menghabiskan hari Sabtu bersama sosok bapak terasa begitu minim akibat lompatan setting waktu antara masa Satya dan Cakra kecil menuju dewasa terlampau cepat. Kita sekedar diperlihatkan hasil, hasil dan hasil tanpa diajak mengamati prosesnya secara mendetail. Risikonya, penonton bakal berjarak dengan karakter, menghalangi terciptanya keterikatan emosi yang mana penting dimiliki oleh suguhan melodrama semacam ini. Sinematografinya yang berusaha terlalu keras supaya nampak cantik pun berujung kekurangan serupa. Pemakaian lens flare berlebihan tak pada tempatnya acapkali mengganggu hadirnya gejolak emosi. I was really annoyed, it often prevented me from being emotionally invested. 

Untungnya hadir penyelamat berupa kesuksesan akting para pemain menghantarkan rasa. Acha Septriasa kembali capable menghidupkan karakter likeable penggaet simpati sekaligus piawai menangani adegan emosional dengan kokoh tanpa berlebihan. Satu momen berisi pertengkaran Satya dan Rissa yang berkat luapan emosi Acha  dan Arifin Putra  akan membuat penonton tertegun membisu. Sabtu Bersama Bapak juga menghadirkan sentuhan komedi dalam story arc Cakra. Deva Mahenra sempurna menangani awkward-nya Carka kala mesti berhadapan dengan perempuan. Ekspresi, kecanggungan gerak, hingga lontaran kalimatnya konsisten memunculkan gelak tawa. Jennifer Arnelita pun sanggup mencuri perhatian lewat keabsurdan kocak sosoknya, hal yang sudah sering ia capai sebagai supporting actress di banyak film.

Kemudian ada Abimana Aryasatya yang meski dalam kapasitas terbatas (mostly bicara lewat video) berhasil mencuatkan kehangatan seorang bapak. Setiap tutur katanya terdengar penuh kasih sayang yang bahkan sedari awal sudah mengalirkan air mata saya. Kedekatan emosional itu memang lebih mudah dirasakan oleh penonton pemilik "story" dengan sosok bapak, entah pernah terlibat perselisihan atau telah ditinggal pergi untuk selamanya. Terdengar subjektif? Tentu saja, karena menonton film merupakan pengalaman spiritual personal yang akan meninggalkan dampak berbeda pada tiap penonton tergantung kisah hidup masing-masing.