LORONG (2019)

Kata “klise” didefinisikan dengan sempurna oleh Lorong, sebuah film yang bergerak sesuai pakem. “Mudah ditebak” tidak serta merta melahirkan dosa, namun ketika dilengkapi pula oleh penggarapan ala kadarnya serta tensi yang datar-datar saja, saya bertanya-tanya, “apa yang coba ditawarkan para pembuatnya?”.

Selepas proses persalinan, Mayang (Prisia Nasution) disambut kabar duka dari sang suami, Reza (Winky Wiryawan), bahwa buah hati mereka—yang hendak dinamai Reno—telah meninggal dunia. Tapi entah mengapa, Mayang yakin Reno masih hidup. Meyakini Mayang menderita depresi, Reza dibantu karyawan rumah sakit termasuk dr. Vera (Nova Eliza), berusaha menyadarkan sang ibu yang malang.

Tapi Mayang tetap ngotot, selalu nekat kabur dari kamar guna mencari Reno, menggiring kisahnya menuju peristiwa berulang di mana Mayang akan terbangun dari mimpi buruk, mencabut infus, bersusah-payah menyusuri lorong rumah sakit, lalu bertemu Darmo (Teuku Rifnu Wikana) si petugas kebersihan.

Pengulangan tersebut seakan membuktikan kebingungan Andy Oesman (The Sacred Riana: Beginning) dalam mengembangkan kisah yang bak diniati jadi versi jauh lebih sederhana dari Rosemary’s Baby-nya Roman Polanski. Begitu sederhana, naskahnya merasa tidak perlu mengangkat ambiguitas soal “apakah Mayang memang mengalami gangguan jiwa?”. Fakta sesungguhnya langsung diungkap di pertengahan durasi.

Sejatinya itu langkah berani, berpotensi membawa proses eksplorasi kisahnya ke arah berbeda. Sayangnya itu urung dilakukan, sehingga Lorong gagal menyediakan alasan mengapa penonton harus terus menaruh perhatian sampai akhir. Sementara sebagai usaha memfasilitasi selera penonton kebanyakan, turut dimasukkan elemen mistis berupa penampakan hantu wanita di beberapa kesempatan.

Naskahnya berniat menjadikan si hantu lebih dari sebatas penebar teror, meski pada akhirnya, kehadirannya tidak signifikan mempengaruhi berhasil atau tidaknya Mayang menyibak segala kebenaran. Pun kemunculannya tak pernah mengerikan akibat lemahnya penyutradaraan Hestu Saputra (Cinta tapi Beda, Hujan Bulan Juni, Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar).

Terbiasa mengarahkan drama, Hestu jelas belum menguasai teknik mengarahkan horor. Pacing maupun pemilihan sudut kamera pilihannya terkesan seadanya, kurang menunjang pembangunan atmosfer dan intensitas. Babak ketiga jadi korban terbesar pengarahan lemah sang sutradara. Padahal konsep klimaksnya menarik, menyimpan kengerian dari suatu peristiwa brutal nan ironis, yang dampaknya bakal menguat andai bersedia menambahkan kadar kekerasan.

Malang bagi Prisia Nasution. Penampilannya solid, cukup meyakinkan mengekspresikan keputusasaan seorang ibu yang hatinya remuk redam, walau cakupan emosi karakter Mayang sebenarnya tidak terlalu luas (ketakutan dan menangis). Prisia mesti lebih cermat memilih peran. Sempat digadang-gadang sebagai calon aktris Indonesia nomor satu, entah sudah berapa tahun ia tidak mendapatkan film berkualitas.

BIKE MAN (2018)

Menceritakan seorang pemuda yang menyembunyikan pekerjaannya sebagai tukang ojek dari kelurga, Bike Man bukan kisah mengada-ada di mana si tokoh utama ingin mempertahankan profesi ala kadarnya untuk selamanya karena cinta. Di luar kemasan konyolnya, Bike Man merupakan tontonan dengan relevansi cukup tinggi terkait penggambaran konflik dan rintangan di dunia (pencarian) kerja.

Sakkarin (Pachara Chirathivat) membuat sang ibu (Jennifer Kim) bangga, karena serupa mendiang ayahnya, ia berhasil bekerja di sebuah bank. Bahkan Sakkarin baru saja dipromosikan menjadi asisten manajer. Tapi siapa sangka, dandanan rapi tiap pagi itu cuma kedok belaka. Sesampainya di kota, Sakkarin langsung berganti atribut, “beraksi” sebagai tukang ojek pangkalan akibat selalu gagal dalam proses melamar kerja di bank.

Sakkarin menyembunyikan fakta tersebut dari sang ibu dan Paman Preecha (Kom Chauncheun), mantan polisi sekaligus teman lama ayahnnya, yang selalu menaruh curiga. Dia takut membuat malu keluarga. Tapi apa takaran suatu pekerjaan disebut baik dan buruk? Uang? Prestise? Definisi baik/buruk itu makin kabur kala Sakkarin bertemu Jai (Sananthachat Thanapatpisal), teman lama sekaligus gadis yang dari dulu diam-diam ia taksir.

Jai bekerja di bank impian Sakkarin, namun kebahagiaannya tak seberapa. Bercita-cita menjadi pilot, Jai merasa terkekang. Terlebih saat mesti menghadapi tingkah A (Pramote Pathan), kekasih sekaligus atasannya yang playboy dan semau sendiri. Dari sinilah Bike Man menyinggung perihal nilai sebuah profesi, yang berbeda-beda tergantung pemiliknya.

Contohnya, bagi Jai, bekerja di bank mungkin buruk dan penuh kepenatan, namun profesi itu tidak serta merta dicap buruk, sebagaimana dilakukan banyak film bertema worklife kebanyakan. Sebaliknya, bagi Sakkarin, bank adalah mimpinya. Karenanya, kita tidak berhak begitu saja menghakimi suatu profesi, mau itu karyawan bank atau tukang ojek.

Di luar urusan pekerjaan, Bike Man juga komedi-romantis menggemaskan, yang dibuat berlandaskan cair dan solidnya chemistry dua pemeran utama. Mengkuti formula romansa Asia, khususnya Thailand dan Korea, hubungan Sakkarin dan Jai adalah kisah cinta berbalut tawa, di mana tidak peduli secantik dan seanggun apa pun si wanita, karakternya selalu mempunyai “cacat” sehingga kerap melakukan kebodohan. Justru di situ inti keberhasilannya melahirkan percintaan membumi yang menyenangkan diikuti.

Secara keseluruhan, komedi Bike Man pun mengikuti formula kekonyolan absurd khas sinema Thailand, yang langsung ditegaskan oleh adegan pembuka ketika Sakkarin mengebut di jalan sembari memboncengkan ibu dan neneknya, melintasi jalanan kota bak pembalap di lintasan. Banyak humornya berasal dari usaha Sakkarin mengelabui keluarganya. Menyenangkan, namun acap kali, kucing-kucingannya terasa tidak perlu. Sering timbul pertanyaan soal dampak andai Sakkarin tertangkap basah di beberapa situasi (contoh: pasar malam).

Bergerak dengan kekonyolan beruntun, Bike Man mendadak menghentak lewat konklusi dramatik, sewaktu tema mengejar mimpi dan keluarga bersinggungan, menciptakan babak akhir mengharukan ketika sutradara Prueksa Amaruji berhasil memadukan tiga elemen: penceritaan (pengungkapan sebuah rahasia), akting emosional Jennifer Kim, dan iringan musik sendu.

WARKOP DKI REBORN (2019)

Selucu-lucunya film klasik Warkop DKI, rasanya semua setuju kalau media audio, yang dulu banyak beredar dalam rekaman kaset, lebih mewadahi kelucuan mereka (silahkan cari di YouTube dan siap-siap sakit perut). Dalam proyek Reborn ketiga—yang tidak mengusung embel-embel “Part 3”—ini, terdapat usaha memvisualisasikan humor verbal Warkop, yang malah menegaskan ketidakcocokan alih media tersebut. Bahkan secara keseluruhan, Warkop DKI Reborn mungkin pertanda bahwa regenerasi Warkop DKI bukan ide yang baik.

Saya selalu tergelak mendengar banyolan “Marga Batak”, tapi kala filmnya menerjemahkan itu ke layar, biarpun intensinya selaku penghormatan patut diapresiasi, tawa tak juga hadir. Selipan humor-humor Warkop lain pun bernasib sama. Apalagi sewaktu secara beruntun, naskah buatan  Anggoro Santoro (Sang Kiai, Bangkit!, Cahaya Cinta Pesantren) bersama sutradara Rako Prijanto (Sang Kiai, Teman Tapi Menikah, Asal Kau Bahagia) bergantung pada lawakan pervert ala film Warkop produksi Soraya era 90-an.

Ide ceritanya sendiri menarik, yaitu perekrutan trio penyiar radio, Dono (Aliando Syarief), Kasino (Adipati Dolken), Indro (Randy Danistha) oleh Komandan Cok (Indro Warkop) untuk menjadi agen rahasia guna menyibak praktek pencucian uang di industri perfilman tanah air. Jadilah mereka terlibat proyek film buatan rumah produksi milik Amir Muka (Ganindra Bimo), menyulut kekacauan di set, lalu bersinggungan dengan aktris cantik bernama Inka (Salshabilla Adriani).

Sampai di sini, semuanya berjalan lancar, hingga Warkop DKI Reborn memutuskan melebarkan sayap dengan memperbesar skala. Tidak main-main, filmnya membawa Dono-Kasino-Indro berpetualang ke Maroko, bahkan membantu melindungi desa asal gadis setempat (Aurora Ribero) yang dihantui ancaman bandit. Sejak dulu plot film Warkop memang selalu bercabang pula dikemas bak sketsa, tapi fokusnya terjaga, alih-alih terkesan melupakan tema besarnya seperti ini.

Pergantian latar ekstrimnya memang memfasiliasi humor klasik menggelitik soal “Bahasa Arab” hingga nomor musikal absurd Ummi, namun di saat bersamaan, melucuti potensi presentasi kritik tentang industri film. Apalagi sewaktu kisahnya dipaksa berakhir di tengah-tengah, karena (lagi-lagi) Falcon Pictures memilih memecah filmnya menjadi dua bagian.

Padahal pergantian pemeran trio Dono-Kasino-Indro di luar dugaan memberi hasil positif. Adipati tampak lebih natural dan santai ketimbang Vino dalam memerankan Kasino si playboy mulut besar, Randy punya tampilan lebih mirip Indro dibanding Tora, sedangkan Aliando—sebagaimana Abimana—muncul sebagai MVP. Riasan giginya memang mengganggu, tapi baik suara maupun gestur, Aliando berhasil mereplikasi anggota Warkop DKI favorit saya itu.

Penyutradaraan Rako Prijanto juga mengungguli Anggy Umbara berkat gaya yang lebih “sederhana”, biarpun banyaknya penggunaan efek suara konyol layaknya sketsa televisi murahan justru melemahkan daya bunuh komedi, selain menurunkan kelas filmnya. Beberapa kreativitas humornya, sebutlah parodi film-film populer Indonesia, memang mampu memancing senyum. Tapi saya butuh lebih dari sekadar senyum. Saya membutuhkan tawa, yang sayangnya jarang diproduksi oleh Warkop DKI Reborn.

MIDSOMMAR (2019)

Setelah keluarga disfungsional dalam Hereditary plus beberapa film pendeknya seperti The Strange Thing About the Johnsons dan Munchausen, sutradara-penulis naskah Ari Aster giliran mengangkat romansa disfungsional berlatar paganisme melalui Midsommar yang memantapkan statusnnya sebagai salah satu sineas horor modern paling mumpuni. Film putus cinta tidak pernah segila, setragis, dan semengerikan ini.

Pasangan yang bermasalah adalah Dani (Florence Pugh) dan Christian (Jack Reynor). Keduanya sama-sama tengah mempertimbangkan mengakhiri hubungan. Dani dengan gangguan kecemasannya khawatir terlalu membebani sang kekasih, sementara Christian pun merasa terperangkap oleh curhatan tanpa henti dari Dani. Tapi selepas tragedi yang merenggut nyawa seluruh keluarga Dani, niatan tersebut diurungkan.

Bahkan Christian berujung mengajak Dani turut serta bersama kedua kawannya, Mark (Will Poulter) dan Josh (William Jackson Harper), menghadiri undangan Pelle (Vilhelm Blomgren) mengunjungi perayaan tengah musim panas di Hälsingland, Swedia, yang diadakan Hårga, komune tempatnya tumbuh. Aster membangun tempat di mana matahari selalu terbit, dan dibantu sinematografi Pawel Pogorzelski (Hereditary, Tragedy Girls) yang mengedepankan pewarnaan lembut, tercipta kehangatan aneh, ketika harmoni berlebih justru mencuatkan rasa ngeri.

Benar saja, keramahan dan kedamaian segera berubah jadi teror kala orang-orang Hårga mulai melangsungkan ritual demi ritual, yang memperlihatkan kejelian Aster selaku penulis dalam melahirkan mitologi berdasarkan tradisi-tradisi masyrakat Eropa masa lalu. Berbanding durasi 147 menit (atau 138 menit versi sensor Indonesia) miliknya, secara kuantitas, sadisme Midsommar sejatinya tak seberapa, namun berdampak tinggi berkat penempatan presisi, ibarat gelegar petir mengejutkan pemecah keheningan.

Mengangkat horor paganisme yang sesekali menyelipkan kritik soal keengganan manusia (dalam konteks film ini, remaja) modern dari kota menghormati adat, Midsommar tetap konsisten membangun penelusuran tentang terkikisnya sebuah hubungan. Apakah Dani bersikap berlebihan, ataukah Christian memang pria egois nihil kepedulian? Nantinya film ini menawarkan jawaban setelah melalui observasi bertahap yang dibungkus alur bertempo medium cenderung lambat.

Menangani perjalanan menyakitkan karakternya yang kerap mengalami serangan kecemasan, Florence Pugh bukan mengekspresikan kesedihan biasa dalam sebuah performa luar bisa. Dia bak tercekik oleh kesedihan itu, yang bahkan dapat membuat penonton ikut dibuat sesak napas. Teriakannya menusuk, tangisannya menggetarkan.

Berdurasi hampir dua setengah jam ditambah pergerakan alur lambat, wajar bila Midsommar terkesan mengalienasi penonton umum. Tapi penyutradaraan Aster memastikan tidak ada momen filler, tatkala adegan sekecil dan sesingkat apa pun ia beri perhatian total lewat konsistensi permainan atmosfer creepy, yang berasal dari perilaku maupun ritual orang-orang Hårga, musik menghantui garapan Bobby Krilic (Triple 9), hingga sentuhan visual sureal bernuansa psikedelik.

Guna menjaga atensi penonton, Aster turut menerapkan misteri yang berhasil secara terus menerus memancing segudang pertanyaan, meski jawaban yang ditawarkan sejatinya kurang sebanding dengan apa yang disiratkan. Masih mengandung kegilaan khas sang sutraara, namun dari perspektif horor, konklusi Midsommar bukan suatu sentuhan baru, bahkan cenderung pengulangan Hereditary (ada lokasi terlarang tempat dilakukannya hal sinting) plus inspirasi dari The Wicker Man. Tapi terkait tuturan mengenai putus cinta, ending-nya merupakan katarsis memuaskan, kala Ari Aster menyamakan mantan kekasih berperangai buruk dengan setan jahat yang mesti dimusnahkan.


NOTE: Walau amat disayangkan, penyuntingan sensor Midsommar yang sebenarnya cukup panjang (adegan kental unsur seks jelang akhir), ternyata dilakukan dengan rapi. Jika tidak tahu soal fakta filmnya disensor, bisa jadi anda takkan menyadarinya. Walau berpengaruh terhadap kegilaan babak ketiga serta studi karakternya, keseluruha substansi film tetap dapat ditangkap. Jadi jangan ragu menyaksikannya di bioskop.

KAPAL GOYANG KAPTEN (2019)

Setelah (gagal) memancing tawa melalui pembajakan pesawat di Flight 555 tahun lalu, Raymond Handaya melahirkan sau lagi komedi seputar pembajakan transportasi, tapi kali ini, latarnya beralih dari udara ke perairan dan pulau terpencil. Perubahan itu rupanya berdampak, karena cakupan kapal dan pulau tidak sesempit pesawat, yang berarti bertambahnya hal untuk dieksplorasi. Walau tidak lebih pintar, Kapal Goyang Kapten jelas lebih lucu.

Kapal tersebut dimiliki Gomgom (Babe Cabita), pemilik usaha wisata kecil di Manado. Begitu kecil, posisi pemandu tur, sopir bus, dan kapten kapal diemban oleh Gomgom seorang, suatu kondisi yang rutin dijadikan bahan banyolan di paruh awal. Turis yang jadi kliennya sekarang adalah Tiara (Yuki Kato),  Burhan (Arief Didu) beserta istri (Asri Welas) dan puterinya (Romaria Simbolon), pasangan suami-istri Darto (Yusril) dan Salma (Naomi Papilaya), serta tiga mahasiswa Noni (Andi Anissa), Cika (Ryma Gembala) dan Agung (Ananta Rispo).

Sementara itu, pemuda kaya asal Jakarta, Daniel (Ge Pamungkas), juga baru tiba di Manado setelah kabur dari rumah guna membuktikan bahwa ia bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada uang ayahnya (Roy Marten). Sementara waktu, Daniel menetap di rumah mantan sopir pribadinya, Cakka (Muhadkly Acho). Cakka sendiri tengah mengalami masalah berupa ketidakmampuan finansial guna mengobati penyakit sang ibu. Bersama Bertus (Mamat Alkatiri), ia berencana membajak kapal Gomgom. Walau awalnya menolak, didorong keinginan membantu Cakka, Daniel memutuskan bergabung.

Bisa ditebak, akibat aksi amatiran ditambah sisi manja Daniel, pembajakan tersebut berantakan. Alih-alih mendapat uang, mereka bertiga, bersama seluruh penumpang, justru terdampar di pulau terpencil setelah kapal kehabisan solar. Kedua belah pihak pun terpaksa mengesampingkan perbedaan, berdamai demi bertahan hidup dann mencari jalan pulang.

Humor recehnya, yang mayoritas berupa kelakar dan plesetan bodoh, tingkah laku bodoh, atau bentuk kebodohan lain, masih sama, namun ketika Flight 555 menyia-nyiakan premis dan latar uniknya, Kapal Goyang Kapten, walau belum bisa disebut maksimal, menanganinya dengan lebih baik. Setidaknya humor datang dari situasi khusus terkait kapal, survival, maupun pembajakan, daripada sekadar kekonyolan acak.

Banyolan semacam itu punya tingkat risiko kegagalan tinggi, tapi duo penulis Muhadkly Acho dan Awwe (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 & 2) memahami itu, memilih menjadikan lelucon garing sebagai sebuah kesengajaan yang disadari. Contohnya sewaktu puteri Burhan kerap mengomentari ketidaklucuan Gomgom. Sebuah win-win solution cerdik. Bagus jika penonton menganggap lawakan Gomgom lucu, tapi jika tidak, mereka akan menertawakan kritik pedas si gadis cilik.

Kapal Goyang Kapten juga dibantu jajaran pemain yang seolah tengah on fire. Kedua penulis menggunakan polah absurd Babe hingga celetukan-celetukan Arief Didu dengan cara yang tepat, di tempat yang tepat, juga dalam dosis memadai. Tentu tidak seluruhnya mengenai sasaran, namun saya mendapati diri lebih sering tertawa daripada memasang wajah datar sambil garuk-garuk kepala.

Menyentuh pertengahan durasi, karakter baru diperkenalkan, yaitu Pak Sentot (Mathias Muchus), yang sudah terperangkan di pulau selama 10 tahun. Pak Sentot lebih terasa sebagai rip-off Chuck Noland di Cast Away ketimbang parodi dari tokoh yang dipopulerkan oleh Tom Hanks itu. Baik nasib atau tampilan fisik mereka serupa. Bahkan Pak Sentot pun berteman dengan bola voli yang diberi nama Mika (dari Mikasa) sebagaimana Chuck dan Wilson. Beruntung, totalitas sang aktor berhasil menjadikan Pak Sentot karakter menarik. Melihat Mathias Muchus bertingkah eksentrik dibalut riasan meyakinkan, menggendong bola voli layaknya puteri sendiri, merupakan hiburan tersendiri.

Kelemahan terbesar film ini adalah tiap kali menampilkan sisi serius. Meski Ge tampak berusaha sebaik mungkin menangani elemen dramatis, perjalanan Daniel membuktikan kapasitasnya, dipaparkan teramat dangkal, sehingga mustahil bersimpati kepadanya. Begitu pula benih cintanya dengan Tiara, yang dipaksa masuk. Di antara penumpang, Yuki paling vokal menyuarakan kebencian terhadap tiga pembajak, sampai tiba-tiba, hatinya berubah secara radikal dengan begitu mudah. Pun di tengah sederet individu absurd, Daniel dan Tiara selaku “sosok serius” merupakan karakter paling kurang menarik yang tak punya cukup daya guna menggoyang hati penonton.

THE BATTLE: ROAR TO VICTORY (2019)

Bayangkan ada orang asing memasuki rumahmu, memakan makananmu, menjadikan anakmu anaknya, meniduri istrimu, lalu berkata, “Ayo hidup bersama”. Kiasan itu dipakai Hwang Hae-cheol (Yoo Hae-jin), seorang ahli pedang anggota pasukan kemerdekaan Korea, guna menggambarkan kemarahannya terhadap para penjajah dari Jepang. Kemarahan itulah, yang menurut The Battle: Roar to Victory, menyulut semangat perlawanan, yang membuat rakyat sipil bersedia angkat senjata, terjun ke medan pertempuran.

Mengambil latar tahun 1920, tepatnya hari-hari jelang Pertempuran Fengwudong, filmnya memposisikan Hae-cheol sebagai sentral cerita. Saat kecil, ia menyaksikan adiknya tewas akibat granat pasukan Jepang, dan kini ia memimpin pasukannya sendiri, yang terdiri atas mantan bandit, mantan nelayan, atau mantan petani, menjalankan misi mengirimkan sejumlah uang untuk menyokong perjuangan kemerdekaan.

Sampai ia bertemu Jang-ha (Ryu Jun-yeol), komandan pasukan muda sekaligus penembak jitu, yang dahulu pernah jadi anak didiknya. Hae-cheol pun tergerak membanu Jang-ha yang tengah mengemban misi memancing pasukan elit Jepang yang dipimpin seorang letnan satu bengis (Kazuki Kitamura), ke pegunungan Bongo-dong. Di sanalah rencananya bakal dilakukan penyergapan oleh pasukan Korea.

The Battle: Roar to Victory punya segalanya untuk jadi film pemancing gelora nasionalisme, namun ketimbang mengedepankan humanisme, naskah buatan Chun Jin-woo (The Hunt) justru terjebak dalam kekacauan penceritaan. Nama-nama baru terus muncul, begitu pula beragam misi dan fakta yang silih berganti mengisi narasi tanpa memberi cukup kesempatan bagi penonton memahaminya satu demi satu. Membingungkan, koneksi emosi terhadap karakternya pun makin sulit terbentuk.

Bukan berarti filmnya sepenuhnya melupakan presentasi drama, sebab selain paparan luas mengenai perjuangan rakyat Korea, secara khusus terdapat banyak subplot seperti usaha Jang-ha mencari kakak perempuannya, nasib tragis gadis cilik bernama Choon-hee (Lee Jae-in) yang kehilangan semua keluarga pasca penyerbuan pasukan Jepang ke desanya, hingga proses Yukio (Kotaro Daigo) si prajurit muda Jepang yang menyadari kekejaman bangsanya sendiri selama menjadi tawanan Hae-cheol.

Sayang, akibat penuturan setengah matang, tak satu pun elemen di atas sanggup menggugah perasaan. Kisah soal Choon-hee maupun Yukio berakhir begitu saja tanpa penebusan berarti pada konklusi, sedangkan Jang-ha kurang mendapat eksplorasi guna dapat memancing simpati. Naskahnya kesulitan membagi fokus, bahkan seringkali muncul kesan bahwa Hae-cheol selaku protagonis justru menghalangi potensi berkembangnya kisah lain, di saat ia sendiri tak memiliki story arc menarik.

Yoo Hae-jin mampu menghidupkan ketangguhan Hae-cheol si prajurit tanpa rasa takut yang gemar memasang sikap “peduli setan”, tapi dia tak dianugerahi cukup kharisma guna memanggul beban pemeran utama. Hae-jin, yang selama ini memang identik dengan peran pendukung, belum punya kapasitas protagonis. Dia bahkan gagal membakar semangat dalam satu momen kala Hae-cheol berorasi di depan pasukannya. Kekurangan ini semakin kentara ketika filmnya memperkenalkan cameo mengejutkan dari seorang bintang besar penuh wibawa jelang akhir.

Beruntung, The Battle: Roar to Victory memiliki senjata pamungkas berupa sekuen aksi. Berlatarkan lokasi-lokasi lapang seperti padang rumput maupun bentangan pegunungan, bentrokan pasukan Korea melawan Jepang dimanfaatkan sutradara Won Shin-yun (Seven Days, The Suspect) sebagai ajang memamerkan kemampuan staging-nya, mengorkestrasi kerusuhan berskala besar menjadi tontonan kompleks yang tertata rapi. Apalagi ditambah elemen kekerasan berdarah yang mewakili horor medan perang, gelaran aksi film ini makin memikat.

Ditangani oleh Kim Young-ho, sinematografinya berhasil menerjemahkan visi sang sutradara akan sebuah pertempuran masif, saat kameranya banyak menerapkan wide shot guna menggambarkan bentangan luas lokasinya, bergerak dinamis menyapu seluruh lanskap, sambil sesekali menggunakan single take demi menguatkan intensitas serta realisme. Bagi film yang mengedepankan kata “battle” pada judul, kesuksesan merangkai pertarugan secara memikat sudah cukup memberi obat penawar atas setumpuk kelemahannya.

IT CHAPTER TWO (2019)

Bujet berlipat ganda, jajaran bintang bertambah, penggunaan CGI meningkat, hingga meluasnya skala cerita dalam durasi mendekati tiga jam (170 menit). Sutradara Andy Muschietti (Mama, It) bersama penulis naskah Gary Dauberman (Annabelle: Creation, It, The Nun) memperlakukan It Chapter Two layaknya even blockbuster ketimbang sekuel horor biasa. Hasilnya tak semengerikan film pertama, namun jelas menutup pertarungan epik puluhan tahun antara The Losers’ Club melawan Pennywise dengan layak.

Pertarungan itu terjadi bukan cuma terjadi secara langsung, karena 27 tahun selepas tragedi di Derry, ketujuh jagoan kita tidak pernah berhenti bergulat dengan dampak psikis teror Pennywise (Bill Skarsgård). Mike (Isaiah Mustafa) bertahan di Derry demi mengantisipasi kembalinya si badut monster, tinggal di perpustakaan, Nampak tenggelam dalam obsesi. Begitu ketakutannya jadi kenyataan, Mike memanggil keenam sahabat masa kecilnya, meminta mereka kembali guna memenuhi janji.

Bill (James McAvoy) sang pemimpin regu adalah penulis novel ternama yang kerap dikritisi akibat ending buruknya, yang mungkin disulut ketidaktuntasan konflik 27 tahun lalu. Beverly (Jessica Chastain) terjebak di pernikahan abusive, Ben (Jay Ryan) si tambun kini jadi seorang arsitek bertubuh atletis yang masih memendam cinta lamanya, Richie (Bill Hader) sukses sebagai komedian stand-up, Eddie (James Ransone) masih seorang paranoid, sedangkan Stanley (Andy Bean) tak kuasa menghadapi ketakutan, lalu memilih bunuh diri daripada kembali pulang.

Ketimbang melemahkan, pertambahan usia para protagonist justru dipakai menguatkan esensi kisah It perihal pertarungan melawan monster, di mana sosok monster itu bukan saja makhluk pembunuh beraneka wujud, pula manifestasi konflik internal. Bahkan Pennywise sendiri kerap dijadikan cerminan masalah sosial kala ia membunuh pasangan gay korban persekusi maupun teror terhadap The Losers’ Club yang menyentil soal perundungan.

Demi menciptakan subteks tersebut, Gary Dauberman tak melupakan dua faktor penting: emosi dan karakter. Selain “melawan ketakutan”, It Chapter Two turut mengangkat tema “memori”. Bahwa individu cenderung mengubur ingatan buruk tapi menyimpan kenangan indah, dan bagaimana kenangan indah itu berperan besar dalam usaha mengalahkan monster-monster di atas. Ending-nya cukup menyentuh berkat keberhasilan memainkan tema tersebut.

Terkait karakter, Dauberman memastikan tiap anggota The Losers’ Club memperoleh porsi seimbang. Bahkan walau fokus utama terletak pada versi dewasa, kita tetap menghabiskan cukup banyak waktu mengunjungi lagi masa kecil The Losers' Club. Positifnya, kita berkesempatan memahami gejolak batin masing-masing. Menangani enam tokoh utama bukan hal mudah, namun Dauberman mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Berkatnya, akting jajaran ensemble cast-nya juga tidak tersia-siakan, biarpun secara mengejutkan, gelar MVP tak jatuh ke tangan James McAvoy atau Jessica Chastain, melainkan Bill Hader.

The funniest people are the saddest ones”, demikian kata Confucius. Kesan serupa berhasil Hader hidupkan. Dia berjasa menyegarkan suasana lewat beragam kelakar menggelitik (menegaskan status filmnya bukan sebagai “fun ride” alih-alih “dreading horror”), tapi Hader pun menjadikan Richie karakter paling sendu, melankolis, dan dipenuhi ironi.

Membagi rata porsi keenam karakter berdampak pada pembengkakan durasi, yang bertanggung jawab melahirkan second act repetitive, saat The Losers’ Club berpencar dan satu per satu mesti menghadapi teror Pennywise. Pada poin ini, It Chapter Two membuat eksplorasi karakter sebagai sampul, sebagai alasan menghantarkan jump scare sesering mungkin. Alhasil, dampaknya melemah dibanding film pertama, namun berkat kecakapan Andy Muschietti, biarpun ketegangan kurang memuncak, setidaknya anda takkan mati bosan.

Sang sutradara masih piawai mengkreasi gambar-gambar seram (hujan balon di adegan pembuka hingga deretan penampakan Pennywise) selain tentunya, kreativitas tinggi dalam memvisualisasikan teror. Peristiwa ikonik macam “tarian Pennywise” di film pertama mungkin gagal diciptakan, tetapi It Chapter Two punya variasi teror yang jauh lebih beragam bila disandingkan dengan kompatriotnya sesama horor.

It Chapter Two juga ibarat proses Muschietti berlatih menangani aksi berbalut CGI sebelum menggarap The Flash (direncanakan rilis 2021). Itulah kenapa filmnya terasa lebih berorientasi membangun wahana aksi ketimbang teror mengerikan. Beruntung, CGI-nya solid. Tanpa itu, klimaksnya mungkin akan terjatuh ke ranah kekonyolan. Membahas klimaks, kemenangan terbesar film Muschietti dibandingkan versi miniserinya adalah keputusan mempertahankan wujud badut Pennywise.

Berkat itu, klimaksnya memiliki dinamika, sebab pertunjukan performa Bill Skarsgård, yang kembali tampil luar biasa menghidupkan beragam wajah menyeramkan si badut iblis, jelas jauh lebih bernyawa ketimbang serangan monster laba-laba raksasa tanpa kepribadian. Pun keberanian naskahnya menampilkan Ritual of Chüd layaknya versi novel garapan Stephen King patut diapresiasi. Di satu sisi, konklusinya mungkin terkesan antiklimaks bagi sebagian penonton, tapi di sisi lain esensi “pertempuran mental” The Losers’ Club melawan Pennywise mampu digambarkan.