DUNKIRK (2017)

Nolan seringkali bermasalah soal drama. Setidaknya demikian yang dilontarkan para pengkritiknya, bahwa karya-karya sang sutradara tak menyimpan rasa. Saya tidak membantah, sebab baru Interstellar yang memercikkan hati. Namun tidak pula sepenuhnya setuju, toh kebutuhan akan hati baru mencapai urgensi di Interstellar yang menuturkan kisah ayah-anak. Sisanya, Nolan memang sengaja menekankan permainan alur berkonsep tinggi atau gemuruh spectacle. The Dark Knight Rises dan Inception menggedor jantung, tapi rasa yang dimaksud adalah sentuhan kemanusiaan. Dunkirk yang didasari peristiwa nyata evakuasi prajurit sekutu pada Perang Dunia II jelas memberi Nolan modal besar guna "memperbaiki kekurangan" di atas

Naskah tulisan Nolan terbagi menjadi tiga cabang. The Mole mengisahkan usaha angkatan darat Sekutu kabur dari serangan Jerman di bibir pantai Dunkirk melalui sudut pandang Tommy (Fonn Whitehead) si prajurit Inggris. The Sea mengambil persepktif Dawson (Mark Rylance) bersama putranya, Peter (Tom Glynn-Carney) dan remaja bernama George (Barry Keoghan) selaku satu dari sekian banyak warga sipil yang berani menyeberang lautan demi membawa pulang prajurit di Dunkirk. Terakhir adalah The Air, yang seperti judulnya, berlokasi di udara menyoroti tiga pilot Spitfire termasuk Farrier (Tom Hardy). Masing-masing berlangsung selama satu minggu, satu hari, dan satu jam.
Nolan masih gemar bermain-main dengan persepsi waktu. Ketiga cerita dikemas non-linier. Saling bersinggungan namun tak berurutan. Misalnya, kita lebih dulu melihat prajurit tanpa nama (Cillian Murphy) terombang-ambing di tengah lautan, tertekan akibat PTSD dalam The Sea, sebelum menyaksikan penyebab ia sampai ke sana pada The Mole. Tujuannya untuk menyampaikan beragam perspektif terhadap satu peristiwa. Menarik, sebab kerap lahir sudut pandang baru nan berlainan, yang bagi tiap tokoh kelak memproduksi memori berbeda-beda akan peristiwa tersebut. Bagaimana di tengah kekacauan yang melibatkan ratusan ribu manusia, bermacam persepsi berlawanan mungkin tercipta. Pula bagaimana tanpa seseorang sadari, tindakan orang tak dikenal berdampak besar akan dirinya. Pendekatan alur ini cocok mewakili konsep filosofis tersebut.

Masalahnya, ketiadaan penanda pergantian waktu   yang mana disengaja demi menggambarkan ambiguitas pemahaman tokoh akan detail situasi   justru melemahkan narasi. Sulit mengidentifikasi apakah sebuah peristiwa baru kita lihat atau pengulangan dalam sudut pandang baru tanpa keberadaan transisi pasti. Ditambah lagi, mayoritas durasi berisi kekacauan yang mirip. Hitung berapa kali adegan kapal tenggelam. Alhasil sulit terikat oleh rangkaian kejadian itu. 
Kembali soal emosi. Sedari film dimulai saya menantikan Nolan memacu rasa melalui paparan heroisme kental unsur kemanusiaan. Sedari awal scoring Hans Zimmer selalu mengiringi. Sesekali beralih ke gaya biasa berupa hentakan perkusi pemancing detak jantung, tapi mayoritas adalah alunan atmosferik ditambah suara konstan detik jam, bak mengesankan bahaya selalu mengintai, dapat sewaktu-waktu menerjang. Terbukti, acap kali dentuman mengejutkan menyeruak di saat tak terduga, menyiratkan potensi Nolan meramu jump scare efektif dalam horor. Sementara musik non-stop mendukung niat sang sutradara bercerita lewt visual penuh momen sunyi (sampai titik filmnya bagai silent movie) dibungkus sinematografi berkesan ironi karena Hoyte van Hoytema menangkap horor peperangan macam mayat bergelimpangan di pantai secara cantik. Dampaknya, pemandangan itu mengendap di pikiran. 

Otak saya dapat mengolah semua itu, mencerna tujuan-tujuan di baliknya. Seperti ketika saya paham hebatnya Nolan mengemas aksi yang otentik berkat meminimalisir CGI. Mungkin hanya dia yang diberi keleluasaan demikian, termasuk menempatkan kamera di tiap sudut pesawat tempur di angkasa. Sekali lagi, otak saya mengerti betapa dari segi teknis, Dunkirk tiada cela. Namun ada kekosongan ketika totalitas eksekusi itu jarang mengguncang perasaan, baik haru melihat perjuangan umat manusia maupun ketegangan mendapati sederet aksi tanpa henti. Lalu saya sadar jika tidak kenal tokoh-tokohnya sebab Dunkirk disajikan sebagai event ketimbang karakter-sentris. Manusia adalah "sekumpulan makhluk dalam peristiwa" daripada individu unik berkepribadian serta berlatar belakang lengkap. Dampaknya, sulit tercipta kepedulian walau mereka berulang kali tenggelam atau terjebak di tengah hujan bom. Jadilah cerita kemanusiaan yang urung memanusiakan manusia, walau cast-nya solid di porsi masing-masing; kecemasan Cillian Murphy, ketenangan di balik heroisme Tom Hardy, kehangatan sosok ayah Mark Rylance. Harry Styles dalam debut aktingnya pun lancar bermain rasa. 
Faktor lain terkait kesengajaan menekan gejolak emosi, menolak dramatisasi demi kesan realistis. Keputusan yang berlawanan sekaligus melemahkan materinya. Kedatangan menyentuh rakyat sipil "membawakan rumah" bagi para tentara, harap-harap cemas menyaksikan aksi heroik di udara, hingga selipan kisah keluarga, bergulir di nada rendah, enggan diletupkan. Misi Dunkirk adalah soal kepahlawanan menggugah. Nolan melucuti esensi itu demi otentitas yang sesungguhnya layak dipertanyakan ketika kita takkan menemukan darah mengalir. Merupakan inkonsistensi sewaktu usaha merangkai kondisi realistis perang tak dibarengi darah selaku gambaran kebrutalan. Melalui Dunkirk, Nolan membuat film perang realistis yang berakhir tidak realistis, pula menahanemosi dalam interpretasi atas peristiwa nyata emosional. 

Saya keluar dari bioskop dengan kehampaan. Namun ada perasaan aneh yang tak kunjung hilang. Perasaan ingin kembali mengunjungi Dunkirk meski telah dikecewakan. Perasaan yang belum bisa saya pecahkan bahkan setelah tulisan ini selesai. Mungkin di luar ketiadaan rasa, Nolan berhasil menciptakan sesuatu yang jarang dicapai blockbuster belakangan, yakni cinematic experience. Mungkin Dunkirk sejatinya masterpiece andai diihat dari sudut pandang lain sebagaimana perbedaan perspektif yang menimpa tokoh-tokoh di dalamnya. Tapi untuk sementara, Dunkirk merupakan karya terlemah Christopher Nolan.

PLAGIARISME OLEH DAPUR SASTRA DAN TEATER STKS (DSTSKS) BANDUNG


UPDATE: Pihak DSTSTKS sudah menyampaikan permintaan maaf resmi di akun instagramnya.

Saya selalu senang hati membantu siapa pun yang ingin berkarya. Dari hal "remeh" seperti lawan diskusi sampai turun langsung dalam proses. Bagi pembaca blog ini mungkin ingat saya pernah posting soal pementasan teater berjudul Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta (di sini) Sebuah drama musikal yang naskahnya saya tulis sendiri dan dipentaskan oleh Keluarga Rapat Sebuah Teater 4 Maret 2017 lalu. Info mengenai pementasan ini tentunya saya sebarkan pula di Twitter selaku media promosi. Kemudian pada 19 Maret, akun Twitter @yanuarprastito mengirim DM pada saya. Intinya, dia dari UKM Dapur Sastra dan Teater Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (DSTSTKS) Bandung meminta naskah pertunjukan tersebut dengan alasan alat belajar penulisan naskah. Tanpa ragu saya kirimkan, walau berbentuk draft  awal karena naskah final kebetulan saya simpan di Harddisk eksternal. Berikut isi perbincangan yang bagian awal sebagai "permintaan naskah untuk belajar telah dihapus entah kenapa.
Sekedar informasi, permintaan serupa sudah beberapa kali saya terima untuk naskah-naskah lain, baik lewat media sosial atau mendatangi langsung. Selalu saya berikan. Karena apa? Saya dengan senang hati membantu para penulis naskah yang ingin belajar, sebab sebagaimana kita tahu, termasuk di film Indonesia, naskah kerap jadi kelemahan (bukan berarti naskah saya bagus). Tapi alangkah kagetnya, tengah malam tadi, saya menerima pesan dari Afra Imani Nasution yang mana salah satu sutradara drama musikal tersebut (satunya Arswendi Dharmaputra, keduanya juga turut serta menyempurnakan naskah saya) bahwa DSTSTKS telah mementaskan naskah tersebut pada 23 Mei 2017 tanpa meminta izin saya atau dia, tanpa mencantumkan kredit. Lebih parahnya lagi, poster mereka pun menjiplak logo pertunjukan kami dari KRST (di pojok kiri atas poster kami). Gambar didapat dari akun Instagram @dstks dan @dyahnk_ Bisa kalian lihat kesamaan dan ketiadaan kredit untuk penulis naskah (poster DSTKS di kiri, poster kami KRST di kanan). 
Benar pementasan sudah lewat, tapi poinnya adalah ketiadaan izin dan pencantuman kredit, baik untuk naskah maupun poster. Bukan bermaksud berkeluh kesah, tapi asal kalian tahu wahai anggota UKM DSTSTKS  yang saya harap tidak tumbuh jadi pembuat film kacrut macam Hantu Cantik Kok Ngompol?  naskah tersebut adalah hasil proses panjang. Saya mulai menulisnya sekitar bulan Juli 2016 kemudian baru usai sekitar November. Empat bulan. Dan tahap casting hingga pentas berlangsung empat bulan berikutnya. Itu bukan proses mudah kawan. Delapan bulan bukan waktu singkat. Dan kalian seenaknya mencatut naskah dan poster kami, mementaskannya dua bulan pasca menerimanya? 

Saya tidak akan menolak bila secara layak kalian meminta izin mengadaptasi. Hell, saya bahkan bakal membantu kalau diperlukan tanpa bayaran sepeser pun. Kalian masih muda (dari informasi akun Instagram, rata-rata tim berusia 19-21 tahun). Jalan berkarya kalian masih panjang. Dan seperti yang sutradara kalian, Zulfa Rosyida (@zulfarhs) tuturkan, "Sederhana dalam sikap, kaya dalam karya", kekayaan karya seni sangat mungkin kalian raih ke depannya. TAPI PLAGIARISME ADALAH HAL TERENDAH DALAM BERKARYA! Dari beberapa daftar cast saya melihat ada tokoh baru yang berarti kalian melakukan adaptasi, namun bukan berarti bisa meniadakan izin dan kredit. Kredit itu penting kawan. Bayangkan kalian punya anak, kemudian anak tersebut, buah hati kalian, darah daging kalian, diakui orang lain sebagai anaknya. Bilang kalau kalian bakal santai-santai saja. 

Saya ingin sekali bersumpah serapah. Tapi sudahlah. Kalian masih muda, masih tidak berpikir panjang. Mungkin senior kalian lalai mengajarkan soal ini? Entah. Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta berarti banyak bagi saya. Itu naskah terakhir saya bagi Keluarga Rapat Sebuah Teater (KRST) setelah tujuh tahun belajar di sana sebelum saya menyerahkan tugas penulisan pada yang muda. Itu pentas besar (begitu kami menyebut rutinitas tahunan pentas di Taman Budaya Yogyakarta) terakhir saya bersama mereka. Melalui tulisan ini saya hanya berharap respon kalian. Saya tidak akan meminta royalti uang atau apalah. Itu tidak penting. Bukan itu substansinya. Hubungi saya, jelaskan semuanya. Saya mendengarkan dengan kepala dingin. You know where to reach me. Lha minta naskah untuk dijiplak saja bisa, masa mengklarifikasi soal itu tidak? Atau jika pembaca ada yang kebetulan mengenal anggota DSTSTKS mungkin bisa menyampaikan tulisan ini. Kalian "berhutang" bukan pada saya saja, tapi ke lebih dari 50 orang yang terlibat dalam Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta

Salam seni, Salam budaya.

THE DOLL 2 (2017)

Danur: I Can See Ghosts, The Curse, Jailangkung. Ketiganya termasuk horor lokal paling ditunggu karena potensi besar serta digawangi nama-nama tak sembarangan. Sayangnya ada satu persamaan lain yakni sama-sama berkualitas buruk, mengecewakan meski sejatinya digarap sungguh-sungguh. Walau demikian dua di antaranya sukses secara finansial pun nampaknya memancing kembali animo publik terhadap horor. Ikut mencoba peruntungan adalah The Doll 2 yang film pertamanya mengumpulkan lebih dari 550 ribu penonton dan bertengger di posisi 15 film Indonesia terlaris 2016. 

Serupa pendahulunya, film karya sutradara Rocky Soraya ini masih mengumbar kebrutalan, mengandalkan sadisme eksplisit sebagai senjata. Prolognya berurutan menampilkan karakter paranormal Bu Laras (Sara Wijayanto) dari film pertama dan pasangan suami istri Aldo (Herjunot Ali) dan Maira (Luna Maya) beserta puteri tunggal mereka, Kayla (Shofia Shireen). Tanpa basa-basi Rocky memacu filmnya, mengumbar darah sejak menit pertama. Bukan kekerasan kosong, melainkan punya shock value yang salah satu momennya memberi statement tegas: sang roh jahat begitu kejam, bukan hantu narsis yang sekedar doyan muncul tiba-tiba.
Suatu malam kecelakaan lalu lintas yang secara logika mustahil terjadi kecuali ada peranan alkohol merenggut nyawa Kayla, membenamkan Maira dalam depresi. Atas saran sahabatnya yang tidak percaya hal-hal mistis, Elsa (Maria Sabta), Maira mencoba memanggil arwah sang puteri memakai boneka kesayangannya, Sabrina  yang lebih tak masuk akal jadi mainan anak dan membuat Ghawiyah nampak menggemaskan  sebagai medium. Dari situlah teror bermula, menggiring Maira menuju peristiwa-peristiwa mengerikan, seperti salah satunya kemunculan mendadak Sabrina di antara tumpukan cucian yang entah bagaimana, seluruhnya berwarna putih. Menolak percaya cerita sang istri, Aldo membawa Maire bertemu Dini (Mega Caferansa), dokter spesialis kejiwaan yang daripada membimbing justru "menyerang" dan menghakimi "halusinasi" Maira. 
Paragraf di atas mendeskripsikan kelemahan paling fatal The Doll 2 yaitu kebodohan luar biasa naskah garapan Riheam Junianti (Sunshine Becomes You, The Doll, Tarot) dan Fajar Umbara (trilogi Comic 8). Film horor bisa dimaafkan bila tampil bodoh, namun lain cerita saat kebodohan tersebut hadir pada tiap titik penting, menghadirkan ganjalan untuk bisa sepenuhnya menikmati barisan kengerian. Melanjutkan jejak pendahulunya, The Doll 2 menolak eksploitasi jump scare. Kali ini hasilnya lebih baik. Sepanjang second act, ketimbang sekedar melambatkan alur kosong, ada usaha menyelipkan bobot dramatik berupa perjuangan seorang ibu menghadapi duka kehilangan buah hati. Luna Maya pun memberi suntikan nyawa melalui kesanggupan mencurahkan keputusasaan bercampur pilu. Walau akhirnya kesan draggy tetap menyeruak akibat tuturan yang cuma menjangkau permukaan. 

Meski jump scare-nya sempat formulaik, Rocky mampu menyusun beberapa hentakan tak terduga yang efektif memberi daya kejut. Tapi keunggulan terbesarnya adalah teror action-oriented pemicu adrenalin yang berkulminasi di klimaks. Disokong gerak kamera liar Asep Kalila yang mendukung terciptanya suasana chaotic dan gemuruh musik dengan porsi tepat gubahan Anto Hoed, sang sutradara menyajikan puncak intensitas yang acap kali menyinggung ranah kejar-kejaran ala slasher. Membanjiri lokasi dengan darah hasil tusukan berantai atau benturan ke beragam benda, di tangan Rocky tubuh manusia dijadikan target kekerasan tak berujung, seolah memfasilitasi hasrat sadisme dalam diri penonton. Berlangsung cukup lama (sekitar 30 menit), third act-nya adalah sajian bernyali yang jarang ditemui di horor lokal belakangan ini. 

MARS MET VENUS - PART CEWE (2017)

Cewek selalu benar, cowok selalu salah. Cewek menghabiskan waktu berjam-jam berdandan dan memilih baju sebelum pergi, cowok asal mandi dan bersiap secepat kilat. Beragam stereotype gender yang lekat pada dinamika pacaran generasi milenial tersebut merupakan basis Mars Met Venus yang dibagi jadi dua bagian, Part Cewe dan Part Cowo yang menyusul rilis 3 Agustus nanti. Ini bukan satir cerdas. Bukan pula eksplorasi mendalam, yang bahkan membuat teori John Gray sang penulis Men Are from Mars, Women Are from Venus  which is very stereotypical  terkesan kokoh. Ini semata-mata media bagi penonton remaja menertawakan lika-liku romantika mereka sendiri. 

Kelvin (Ge Pamungkas) dan Mila (Pamela Bowie) akhirnya memutuskan siap lanjut ke jenjang berikutnya setelah berpacaran lima tahun. Untuk itu, dibuatlah video pre-wedding di mana keduanya mengisahkan hubungan selama ini, mencurahkan isi perasaan masing-masing. Seiring Kelvin dan Mila bercerita, penonton sesekali dibawa mundur ke belakang, menyaksikan dari awal tumbuhnya benih cinta mereka. Namun proses itu justru memancing konflik demi konflik akibat perbedaan pola pikir, dari hal kecil macam lupa akan momen pertemuan pertama hingga hal serius yang mengancam kelangsungan hubungan. Seperti judulnya, kita lebih dulu dibawa masuk ke dunia Mila yang mayoritas diwakili curhatan pada dua sahabatnya, Icha (Ria Ricis) dan Malia (Rani Ramadhany).
Konsep berupa ironi sewaktu keraguan justru timbul di tengah niat mempererat ikatan sejatinya potensial. Sebab dari situ penelusuran menarik soal cinta dua sejoli dapat tersaji. Tentu saya tak berharap tuturan pintar, tetapi ketimbang narasi propernaskah Nataya Bagya (3 Dara, 7/24) menjadikan momen pembuatan video tak ubahnya checklist untuk tiap stereotip yang ujungnya memancing pertengkaran repetitif. Polanya sama: Kelvin dan Mila bermesraan, berbeda pendapat, salah satu marah (biasanya Mila), menutup hari dengan kekacauan. Apalagi tiada pembagian intensitas. Seluruh pertengkaran bagai puncak konflik. Hasilnya melelahkan. 

Bicara penokohan, Kelvin dan Mila sebatas karikatur terhadap gambaran masing-masing gender. Toh tujuannya memang demikian. Eksistensi dua protagonis ini "hanya" selaku representasi "kekhasan" cewek dan cowok. Amat stereotipikal, tapi jangan lupa, stereotip ibarat asap yang takkan muncul tanpa api. Artinya, sangat mungkin penonton merasa terwakili oleh (meski tak semua) banyak poin. Potensi merasa terikat oleh rangkaian peristiwanya cukup besar baik pada penonton pria maupun wanita. Anda bakal tersenyum, mengangguk-angguk karena pernah mengalami hal serupa, entah kegembiaraan tiada tara kala pertama berboncengan, tegang luar biasa merangkai kata ungkapan cinta, atau membaca kepribadian pujaan hati lewat zodiak. 
Deretan peristiwa di atas dikemas jenaka, dan komedi adalah keunggulan terbesar Mars Met Venus. Pamela Bowie melucu bersenjatakan tingkah manja yang seringkali menggemaskan sembari ditopang totalitas berekspresi. Ketika bahagia ia tak segan menari-nari bagai hilang akal, sebaliknya tatkala dikuasai amarah, teriakan bertubi-tubi terlontar. Ketepatan performa Pamela menjaga Mila  yang super posesif dan sensitif  tetap mudah disukai. Sedangkan Ge Pamungkas tak ubahnya perwujudan laku konyol lelaki saat dibuat frustrasi masalah cinta. Ekspresi berlebihan yang menggelikan (in a good way) ditambah celetukan-celetukan lucu yang sepertinya hasil improvisasi cerdik sungguh menguras tawa. Adegan "sate padang" merupakan comic gold yang takkan sebegitu efektif andai tanpa kesempurnaan timing dan respon Ge. 

Seperti telah disinggung, Mars Met Venus lemah seputar narasi yang rawan mempengaruhi fase dramatik. Untungnya walaupun tidak didukung pondasi mumpuni, sutradara Hadrah Daeng Ratu (Super Didi, Heat Beat) paham betul cara merangkai nuansa manis. Contoh terbaik sewaktu Mila mengenang hadiah pemberian Kelvin. Dihiasi mawar merah dan kejutan-kejutan, Hadrah Daeng Ratu menghidupkan imajinasi manis mengenai kenangan berharga bersama sosok tercinta yang menjadi jembatan solid supaya dampak emosi konklusinya tersampaikan. Iringan lagu Dulu, Kini, Nanti milik Citra Scholastika pun ikut menguatkan. Film ini memang kisah cinta generasi milenial yang bisa saja konfliknya dianggap tidak penting dan lebay. Namun lebay juga berarti lebih. Lebih ekspresif, lebih bergelora, lebih menyenangkan. Dan Mars Met Venus (Part Cewe) sangat menyenangkan.

I, DANIEL BLAKE (2016)

I, Daniel Blake. Terdengar seperti sebuah statement. Kenyataannya sang titular character memang dua kali melontarkan pernyataan menjelang akhir. Filmnya pun sama, melontarkan pernyataan seputar kebobrokan welfare system Inggris yang ketimbang menyejahterakan justru menyulitkan masyarakat kelas pekerja. "Sistem ini mempermainkan rakyat! Pemerintah mempermainkan rakyat!" Begitu kiranya sutradara Ken Loach bersama Paul Laverty selaku penulis naskah hendak berteriak. Filmnya menyodorkan kesulitan-kesulitan yang penonton belahan dunia mana pun pernah alami. Lalu kita mesti berbuat apa? Pada era di mana manusia dituntut lebih pintar menangani masalah yang makin pelik, I, Daniel Blake enggan menawarkan jalan keluar.

Layar gelap, dan hanya terdengar pembicaraan Daniel Blake (Dave Johns) dengan petugas Work Capability Assessment (WCA) bernama Amanda yang tengah menilai kelayakannya bekerja lagi pasca mengalami serangan jantung. Ketiadaan visual dimaksudkan mendorong penonton berkonsentrasi mendengar perbincangan yang terkesan lucu ketika Amanda bicara dengan nada bak robot, sementara kekesalan Daniel memancingnya berkelakar, "We're getting farther and farther away from me heart". Wajar. Perintah Amanda memang tidak menyinggung soal jantung. Setidaknya ia tidak menjelaskan pada Daniel yang awam tentang kesehatan mengapa itu berkaitan. Itu pangkal perselisihan Daniel (beserta pencari kerja lain) dengan pelayanan sistem tersebut.
Daniel memang cukup mudah terpancing amarah. Tatkala tetangganya, China (Kema Sikawze) lalai membuang sampah ia seketika menegur. Bersedia pula dia memarahi petugas Jobcentre Plus akibat enggan memberi toleransi atas keterlambatan Katie (Hayley Squires), ibu muda yang bersama dua anaknya baru pindah ke London setelah dua tahun tinggal di penampungan tuna wisma Newcastle. Walau begitu, sikapnya menunjukkan kepedulian. Dia pemarah, tapi bukan pria tua penggerutu yang menolak kehidupan sosial dan mengutuk tiap sendi kehidupan. Terdapat kehangatan di penokohan ditambah sensibilitas performa Dave Johns yang memudahkan kita mendukung perjuangan Daniel. 

I, Daniel Blake mengetengahkan pertarungan rakyat kelas pekerja melawan sistem menyulitkan. Bukan demi keadilan sosial bersama melainkan semata-mata untuk makan sehari-sehari. Pertarungan yang kelihatannya mustahil dimenangkan. Seolah hendak menguatkan sisi persatuan masyarakat, para tokoh utamanya pun dibuat beragam, antar-generasi, antar-ras, antar-gender. Tanpa dipengaruhi perbedaan tersebut, mereka saling menolong, bahkan bisa jadi terikat secara emosional satu sama lain. Misalnya saat Daniel membereskan rumah Katie bahkan membuatkan mainan kayu untuk kedua anaknya. Pun seiring film berjalan, deretan manusia non-pegawai Jobcentre Plus (kecuali Ann yang rela ditegur atasan karena menolong Daniel) kerap bersedia "mengulurkan tangan" meski sebatas hal kecil macam membantu Danie mengoperasikan komputer. 
Paul Laverty pandai merangkai kata-kata lewat naskahya, baik berupa celotehan menggelitik karakter maupun tuturan dramatik deskripsi Daniel mengenai mendiang istrinya yang menyiratkan kondisi bipolar. "Where'll we sail to tonight, Dan?" Tanya sang istri pada Daniel yang juga menjadi kalimat terindah sepanjang film. Sementara bagi Ken Loach, setelah 50 tahun lebih berkarya, perihal bernarasi bukan lagi kesulitan. Alur melaju tidak terburu-buru tanpa perlu berlama-lama pula. Penyuntingan gambar Jonathan Morris yang memakai fade in/out di beberapa transisi mendukung tercipta aliran mulus. Sampai terjadi lompatan mendadak di 10 menit terakhir. Lompatan kasar yang melangkahi proses penting pengembangan karakter seperti tengah kehabisan ide. 

Pilihan konklusinya menegaskan bahwa I, Daniel Blake hanya pertunjukan derita manusia akibat sistem busuk yang ketimbang membela justru menghancurkan. Benar segalanya tepat dan nyata, namun sekali lagi, kita semua sudah tahu. Sayangnya Loach  yang telah puluhan tahun mengolah tema serupa  berhenti di tataran menjabarkan, berujung menciptakan repetisi akan persoalan familiar. Benar film bisa jadi jendela realita (yang mampu dicapai I, Daniel Blake), tetapi dapat juga lebih dari itu, menawarkan solusi. Dan setelah sekian lama, alangkah baiknya daripada terus menerus memperlihatkan kesusahan, tiba waktunya bagi suguhan populis memberi alternatif jalan keluar. Apa yang harus kami lakukan sekarang Mr. Loach?

'AVENGERS: INFINITY WAR' FOOTAGE DESCRIPTION AND DISCUSSION

Marvel menyebut Avengers: Infinity War sebagai puncak, kulminasi dari cerita yang telah ditanam sejak hampir satu dekade lalu kala Iron Man dirilis. Menggabungkan hampir semua nama di MCU yang telah muncul ditambah beberapa nama baru, diperkirakan tidak kurang dari 75 karakter bakal muncul. It will be the biggest blockbuster ever. Daripada sekedar film, Infinity War adalah sebuah event. Dan semalam, dalam expo dua tahunan Disney, D23, footage perdana telah ditayangkan secara ekslusif. Deskripsi sudah bertebaran tapi saya  yang merinding hebat memandangi linimasa Twitter dinihari tadi  sulit menahan untuk tidak menuliskannya sambil memberi sedikit pendapat bagi siratan tiap-tiap momen yang ada.

Footage dibuka lewat kemunculan Milano milik Guardians of the Galaxy. "We are arriving", sebut Mantis, yang dibalas oleh Quill "Don’t forget this might be dangerous, so let’s put on our mean faces". Sejurus kemudian kapal mereka menabrak tubuh seseorang yang tak lain adalah Thor. Guardians membawa sang dewa petir yang tak sadarkan diri. Thor yang dibangunkan oleh Mantis seketika menunjukkan kebingungan, "Who the hell are you guys?", tanyanya pada Guardians yang serentak mengarahkan senjata mereka. Apakah adegan ini membocorkan akhir dari Thor: Ragnarok? Apakah maksud Kevin Feige bahwa film tersebut mengubah wajah MCU dan terkait langsung dengan Infinity War berarti Thanos bakal muncul setelah third act, mengalahkan Thor, menghancurkan Asgard, memberi cliffhanger pada ending
Berikutnya ada Scarlet Witch menghindari serangan energi yang membelah truk di belakangnya, Loki berdiri di antara reruntuhan sambil memegang Tesseract, dan Peter Parker di bus sekolah, dengan bulu kuduk di tangannya berdiri sambil terdengar voice over "death follows him". Ya, seperti saya singgung di kolom komentar review Spider-Man: Homecoming, Spider-Sense bakal diperkenalkan di Infinity War. Dilanjutkan Iron Man bersiap menuju medan pertarungan bersama Guardians. "We have one advantage. He’s coming to us", sebutnya. Kemudian Thanos mengucapkan line badass "Fun isn’t something one considers when balancing the universe, but this does put a smile on my face", disusul Gamora menangis di tengah puing ruang koleksi The Collector.

Berikutnya adegan bergerak cepat. Thanos muncul penuh kedigdayaan dari portal, Doctor Strange memamerkan ilmu sihirnya, Star-Lord menyerang Thanos, Spider-Man berayun memakai kostum metalik canggih sebagaimana nampak di akhir Homecoming, Bucky bersama Black Panther memimpin barisan prajurit Wakanda, menandakan ini perang global di mana pahlawan super dan manusia bahu membahu menghentikan kiamat. Captain America tampak dengan penampilan baru lewat janggut tebal yang sepertinya hasil pelariannya pasca Civil War, pun Black Widow dengan rambut pirangnya. Hulk Buster muncul lagi, sebab armor biasa takkan berdampak bagi si Titan gila. Vision tampil sejenak, mungkin tengah terkurung. Mungkin saja momen terakhir sang android sebelum Thanos merebut mind stone dari kepalanya. 
Thanos meremas kepala Thor, memukul wajah Iron Man, melemparnya jauh. Spider-Man tergeletak di tangan Tony Stark sambil meminta maaf, "I'm sorry, Tony". Could be one of the most emotional moment right here. Dan sebagai penutup epic, Thanos dengan Infinity Gauntlet mengangkat tangan ke atas, menarik Bulan dari angkasa, menjatuhkan hujan komet ke arah para superhero. Oh, dan di momen ini belum semua Infinity Stone terpasang di Gauntlet. Di komik, ketika Thanos mengumpulkan seluruh batu tersebut, ia mampu menghapus eksistensi setengah penghuni alam semesta hanya dengan (literally) menjentikkan jari. Yeah, probably I'm gonna cry becaue of excitement throughout the whole movie.

Sayangnya, Kevin Feige menyatakan takkan merilis footage atau teaser-nya bagi publik luas sebelum mendekati akhir tahun. Ini bukan sekedar soal rahasia atau mengulur waktu. Marvel sejauh ini memperhatikan betul timing perilisan materi promosi atau pengumuman, yang seringkali (sengaja atau tidak) sukses mematikan momentum pesaingnya, DC. Thor: Ragnarok dirilis 3 November, dan dua minggu kemudian, tepatnya 14 November, disusul Justice League. Apa jadinya kalau beberapa hari sebelum atau setelah Justice League, Marvel mempublikasikan teaser Infinity War menemani Ragnarok yang notabene punya kaitan langsung dengan film tersebut? Kevin Feige memang seorang jenius gila. 

Avengers: Infinity War rilis di Amerika pada 4 Mei 2018.

DESPICABLE ME 3 (2017)

Pada film ini, Gru (Steve Carell) terjebak dilema, bertahan sebagai diri barunya atau kembali menyandang status penjahat super. Kita pun melihat ekspresi licik serta mendengar tawa jahatnya lagi. Dan dalam suatu kesempatan, ia menipu saudara kembarnya, Dru (juga disuarakan Steve Carell) guna mencapai tujuan pribadi  walau tujuan ini sejatinya berguna bagi dunia. Inilah Gru yang penonton kenal pula sukai. Lebih dari itu, juga penokohan yang sejak dulu berusaha dibentuk franchise-nya, yaitu sosok dengan ambiguitas moral, setidaknya untuk ukuran animasi semua umur. Filmnya sendiri adalah yang terbaik sejak installment perdana (termasuk Minions). 

Kali ini Gru bersama sang istri, Lucy (Kristen Wiig) selaku agen Anti-Villain League (AVL) berurusan dengan Balthazar Bratt (Trey Parker) yang hendak mencuri berlian terbesar di dunia. Bratt adalah mantan bintang cilik ternama. Namun pasca serial televisinya dibatalkan akibat kehilangan penonton setelah menginjak masa puber (bayangkan Macaulay Culkin sekarang bermain di Home Alone), Bratt mulai percaya bahwa dia adalah tokoh peranannya di serial tersebut, memutuskan menjadi penjahat super sungguhan. Karakterisasi di atas bak parodi tentang aktor yang tenggelam terlampau jauh dalam karakter yang dimainkan dan/atau aktor cilik yang kehabisan masa jaya begitu beranjak dewasa. 
Besar di 80-an, wajar tatkala Bratt dihiasi gabungan pernak-pernik era tersebut dan benda khas anak. Kostum dengan shoulder pad, gaya rambut mullet, senjata berbentuk yoyo dan permen karet, markas berwujud rubik, sampai yang paling berpengaruh untuk filmnya, kegemaran menyetel musik 80-an. Deretan nomor seperti Bad-nya Michael Jackson hingga Take on Me milik a-ha sesekali menambah keasyikan petualangan yang sayangnya, walau oleh duet sutradara Pierre Coffin dan Kyle Balda konsisten digerakkan secepat kilat, gagal menyamai kreativitas memikat first act-nya. Gru dan Lucy dengan kendaraan canggih bak versi futuristik James Bond melawan bermacam senjata unik berbentuk mainan kepunyaan Bratt jadi keseruan yang gagal terulang, bahkan oleh klimaks yang menampilkan robot raksasa.

Dasar ceritanya masih mempertahankan usungan tema keluarga, meski kini persaudaraan Gru dan Dru mengurangi porsi ayah-anak. Ada usaha Lucy belajar menjadi sosok ibu bagi trio Margo-Edith-Agnes, namun sekedar selipan dangkal ketimbang proses utuh sebagaimana Gru belajar menjadi ayah di film pertama. Tapi Coffin dan Balda selalu menggarap tiap momen kekeluargaan dengan sensitivitas tinggi, menyertakan cukup kasih sayang demi menghasilkan kehangatan. Adegan kala Mel  Minions yang memprovokasi rekan-rekannya agar mendorong Gru kembali berbuat jahat  mengingat masa-masa bersama Gru tersaji manis layaknya memori indah ayah dan anak. 
Lain halnya dengan porsi komedi. Despicable Me 3 berusaha keras melucu di tiap kesempatan. Hampir lima menit sekali humor digelontorkan. Ada adegan ketika Gru dan Dru terpingkal-pingkal menertawakan lelucon mereka sendiri sementara Lucy serta tiga puterinya terdiam, entah bingung harus merespon bagaimana atau sepenuhnya tak peduli. Situasi yang cocok menggambarkan usaha komedi filmnya. Turut digandakan adalah sisi cuteness. Seolah keberadaan Minions dan Agnes belum cukup, hewan-hewan seperti kambing pula babi jadi target, didesain semenggemaskan mungkin. Setidaknya poin ini lebih mencuri hati daripada humornya. 

Despicable Me 3 mengembalikan peran Minions sebagai pendukung yang bahkan tak berbuat satu pun hal signifikan. Keputusan tepat, sebab sejak dulu, tiap kemunculan makhluk kuning ini memakan beberapa menit durasi demi kehadiran situasi komikal random yang sejatinya dapat diluangkan guna menguatkan alur. Begitu juga di sini, walau harus diakui Minions menguasai penjara adalah salah satu momen paling menarik pun terlucu dalam film ini. Ditutup oleh ending yang membuka peluang sekuel, Despicable Me 3 paling tidak membawa lagi sang tokoh utama ke posisi semestinya. This movie makes Gru cool and interesting again

FILOSOFI KOPI 2: BEN & JODY (2017)

Luar biasa apa yang dilakukan Angga Dwimas Sasongko beserta segenap tim dengan Filosofi Kopi. Tatkala film pertama hanya mengumpulkan sekitar 229 ribu penonton, perjalanan tak lantas berhenti. Alih-alih menyatakan gagal, brand Filosofi Kopi dikembangkan lebih jauh. Berangkat dari cerita pendek karya Dewi "Dee" Lestari, kini kita mendapati dibukanya gerai kopi, prekuel berupa web series Ben & Jody, serta sandiwara radio selaku jembatan penghubung film pertama dengan kedua. Hasilnya nyata. Tiket pemutaran hari pertama Filosofi Kopi 2: Ben & Jody ludes di berbagai kota. Ikut berkembang pula kisahnya, dari pemaknaan hidup dalam cerpen Dee menuju soal cinta, sahabat, keluarga, hingga kompleksitas dunia bisnis. 

Berbagai tema diangkat oleh trio penulis naskah Jenny Jusuf, M. Irfan Ramly dan Angga Dwimas Sasongko, termasuk seputar betapa hidup diisi kedatangan dan kepergian, suatu tema yang setia hadir sepanjang durasi, pun berperan memberi momen paling emosional dan intisari konklusinya. Tapi semua berawal kala dua tahun setelah memutuskan mengendarai kombi berkeliling Indonesia menyuguhkan kopi terbaik, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) menemui jalan buntu. Mulai ditinggal karyawan, pemasukan tak seberapa, sampai kegamangan akibat merasa tanpa tujuan jadi beberapa sebab. Poin terakhir sejatinya mengundang kejanggalan.  
Ben meragukan "destinasi" hidup berkeliling menjual kopi, menyebut keduanya perlu meninggalkan zona nyaman. Artinya, semua masalah dipicu pencarian jawaban karakternya atas tujuan. Namun filmnya lalai menawarkan jawaban kecuali "menemukan dirinya", serupa film pertama, mengesankan stagnansi yang sebaiknya tak dimiliki sekuel selaku proses berkelanjutan. Takkan jadi persoalan bila filmnya tegas memposisikan diri sebagai kisah "kepulangan" yang sejatinya turut membentuk resolusi di akhir, sayangnya banyak hal-hal lain ikut campur aduk. Sedangkan ketika Jody berkata bahwa bisnisnya tidak berjalan, kita tak melihat kesulitan finansial dalam Filosofi Kopi. Ditunjang alasan dipaksakan itu, filmnya membawa Ben dan Jody berusaha membuka kembali kedai filosofi kopi, kali ini dibantu investasi dari Tarra (Luna Maya), juga barista baru bernama Brie (Nadine Alexandra). Benturan dua pribadi berbeda (Ben si idealis total dan Jody si pebisnis tulen) jadi ujian seiring masalah pribadi yang turut menghampiri.

Melalui film kedua, Filosofi Kopi tak lagi banyak berfilosofi soal hidup dengan kopi. Tentu kalimat quotable bermakna macam "Setiap hal yang punya rasa selalu punya nyawa" tetap menghiasi, namun serupa judul awalnya yakni Ben & Jody ("Filosofi Kopi" ditambahkan sebagai penegas brand), bromance dua tokoh utama makin dikedepankan. Dinamika persahabatan Ben dan Jody masih digambarkan lewat saling ejek dibarengi rentetan kalimat seenaknya yang mengalir bebas dari mulut mereka. Rio Dewanto dan Chicco Jerikho tampil bersenjatakan chemistry meyakinkan. Chicco membuat keras kepalanya Ben tak menyebalkan berkat gaya asyik, sementara Rio menjaga supaya Jody tidak ditenggelamkan tingkah polah sang sahabat. Di samping keduanya, ada Luna Maya yang solid kala melakoni porsi emosional, juga Nadine Alexandra dengan kekokohan tersembunyi di balik diamnya Brie. 
Persahabatan sejati dibangun oleh pertengkaran yang menyatukan. Naskahnya disusun berdasarkan prinsip itu, tetapi sewaktu film pertama (memenangkan Piala Citra) punya aliran konflik mulus, Ben & Jody menjadikannya obligasi, melemparkan benturan beruntun yang daripada menyatu, baga keping-keping terpisah yang berlebih kuantitasnya. Terlampau seringnya perpindahan lokasi di mana acap kali satu tempat hadir sambil lalu dengan cepat makin menyulitkan pergerakan alur rapi. Pun naskahnya memiliki kesalahan mendasar berbentuk sebuah kebetulan sebagai kejutan sekaligus titik balik perjalanan karakternya. Sebab kebetulan adalah cara paling tak elegan (kalau enggan disebut malas) guna menggerakkan cerita, terlebih jika merupakan fase vital pengembangan karakter. 

Andai bukan karena pengadeganan Angga, sulit menerima kelemahan tuturan drama di atas. Sang sutradara diberkahi sensitivitas merangkai momen dramatis, yang daripada mengandalkan metode manipulatif berupa tangisan meraung ditemani musik bergelora, Angga justru "membisukan" suasana. Keheningan menyengat ini memunculkan nuansa intim yang menggandakan dampak emosi. Bagaimana para tokoh diposisikan sebagai manusia yang sedang "merasakan" ketimbang mesin pengundang haru penonton termasuk salah satu kunci. Angga paham betul seperti apa kehilangan atau sakit hati, sehingga visualisasi momen punya ketepatan di tatanan rasa. Ditemani deretan lagu musisi indie penyegar telinga, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody tetap perjalanan menyenangkan penuh hati, walau kini, kopi itu tak senikmat dulu. 

AFTER THE STORM (2016)

Sambil menyiapkan makan malam, Yoshiko (Kirin Kiki menggelitik nan simpatik, senantiasa menghembuskan nyawa bagi filmnya) bercengkerama dengan puterinya, Chinatsu (Satomi Kobayashi). Bukan kegiatan yang jarang mereka lakukan, tampak dari bagaimana tiada keengganan untuk saling melempar ejekan. "I've always had bad handwriting. I took after you", demikian ungkap Chinatsu yang seketika dijawab oleh sang ibu, "I'm not as bad as you". Pemandangan natural soal kehangatan keluarga tanpa sisi manis yang dibuat-buat. Dalam pembicaraannya, Yoshiko dan Chinatsu sering beda pendapat, namun sepakat akan satu hal, mengenai salah satu anggota keluarga yang menurut mereka cocok dengan istilah "Great talents bloom late".

Seketika adegan berpindah menuju sebuah kereta. Diiringi musik karya Hanaregumi berupa petikan gitar plus siulan yang terdengar bagai melankoli ironis, protagonis kita hadir. Dia adalah Ryota (Hiroshi Abe), seorang penulis novel sekaligus pemenang penghargaan literatur. Ibu dan kakaknya, serta seorang teman masa SMA yang ia temui di jalan menyatakan hal serupa, bahwa Ryota berprestasi di bangku sekolah. Namun semua itu masa lalu. Sejak debutnya, ia tak lagi menulis, terjebak kegemaran berjudi, berujung tumpukan hutang. Ryota telah menjadi sosok yang tidak dia sukai: mendiang ayahnya.
Sebagai modal riset buku terbaru  yang tak kunjung mulai ditulis  Ryota bekerja di kantor detektif swasta. Tapi pekerjaan ini pun urung ia jalankan dengan baik, di mana bersama sang partner, Ryota kerap menghilangkan bukti hingga menyuap klien demi memperoleh uang lebih. Lagi-lagi uang kotor itu juga dihabiskan untuk berjudi. Ryota selalu berkelakar tentang kejayaan masa lalu maupun mimpi besar masa depan, tetapi lupa akan sekarang. Secara mulus, Hirokazu Koreeda (Like Father, Like Son, Our Little Sister) selaku sutradara dan penulis naskah, menautkan gagasan seputar "right here, right now" dengan tema kesukaannya, yakni keluarga.

Di suatu kesempataan, pernah Koreeda berkata, "Families are priceless but troublesome", dan permasalahan pelik juga begitu berharganya keluarga terasa betul dalam After the Storm. Kebiasaan berjudi membuat Ryota kesulitan membayar tunjangan anak pada mantan istrinya, Kyoko (Yoko Maki) yang sudah mulai berkencan dengan pria lain, menyulut kecemburuan Ryota. Padahal pembayaran itu adalah syarat agar ia bisa bertemu puteranya, Shingo (Taiyo Yoshizawa), tiap bulan. Terbuai angan tak pasti berwujud menang judi turut merenggut kesempatan membelikan sarung tangan bisbol bagi Shingo, satu hal yang sejatinya dapat Ryota lakukan seketika itu juga, begitu menerima uang.
Bukan saja terkait penulisan naskah, kelembutan pun aliran mulus ikut hadir pada penyutradaraan Koreeda, yang mementingkan keaslian situasi sekaligus emosi. Rangkaian obrolan sederhana mendominasi, tetapi sensitivitas Koreeda membuat kesan apa adanya jadi penuh rasa ketimbang menjemukan. Tengok momen jalan-jalan Ryota dan Shingo yang mengawali paruh kedua durasi, ketika filmnya mulai membawa penonton menyusuri lebih dalam ruang privasi para tokoh setelah sebelumnya mengobservasi dari luar. Ryota bukan pria jujur. Setiap orang, bahkan sang ibu pernah ia tipu. Berbeda kala bersama anaknya, membelikan sepatu dengan sisa tabungan, mengajak makan enak meski membuatnya tak sanggup ikut makan, kasih sayang jujur seorang ayah terpancar jelas. Kepiawaian Hiroshi Abe bermain emosi kuat secara subtil amat berperan merangkum kelembutan menyengat tersebut.

Pendekatan naturalistik dipertahankan Koreeda sampai konklusi. Ryota (dibantu Yoshiko) mencari rekonsiliasi, berusaha menyatukan lagi perpecahan keluarga mereka, tapi sang sutradara enggan memaksakan peristiwa manis dadakan selaku usaha penyelesaian masalah. Proses mengalir semestinya, sebagaimana seharusnya perasaan remuk yang takkan begitu saja kembali tersusun rapi. Kemudian segalanya memuncak sewaktu ketiganya sejenak bersama sebagai satu keluarga utuh, mencari tiket lotere di tengah gempuran badai layaknya perjuangan menggapai mimpi meski harus diterjang problematika.