SANG SEKRETARIS (2016)

Setelah sepanjang karirnya menjalin keakraban dengan produser Shankar RS, rupanya Nayato Fio Nuala punya sahabat baru. Beliau adalah Sys NS. Tahun ini keduanya telah berkolaborasi sebanyak tiga kali. Pada "Triangle: The Dark Side", Sys NS menjadi produser, sedangkan Nayato menjabat produser eksekutif. Ketika Sys NS menyutradarai "Pacarku Anak Koruptor", Nayato adalah produsernya. Lewat "Sang Sekretaris", gantian Nayato menyutradarai dan Sys NS memproduseri. Isn't that sweet? Sudah barang tentu saya takkan melewatkan film garapan kombinasi emas baru perfillman Indonesia ini. Apalagi terdapat nama Nikita Mirzani sebagai aktris utama.

Anda pikir film ini sampah kelas berat? Jangan berprasangka buruk terlebih dulu. Karena setidaknya selama setengah jalan, "Sang Sekretaris" masih tidak seberapa memusingkan diikuti. Nikita Mirzani berperan sebagai Tiara, sekretaris baru di kantor Reno (Rico Verald). Semenjak pertemuan pertama di lift langsung terasa benih-benih asmara (atau nafsu?) di antara mereka. Tapi sayang seribu sayang, Reno sudah menikah dengan Clara (Angel Karamoy) dan memutuskan berhenti menjadi playboy. Namun manusia identik dengan khilaf, apalagi dalam kondisi mabuk. Di tengah pesta ulang tahun temannya, Reno tanpa sengaja bertemu Tiara, berjoget bersama sebelum akhirnya berhubungan seks.

Semestinya saya berhenti menuliskan sinopsis sampai di sini, tapi berhubung telah banyak plot point diungkap trailer-nya, saya putuskan untuk lanjut. Ternyata Tiara diam-diam merekam tindak mesumnya dengan si bos. Secara mengejutkan Tiara bukan orang yang materialistis. Daripada memanfaatkannya untuk memeras Reno demi mendapat milyaran rupiah, ia mengancam bakal mengirim video tersebut pada Clara jika Reno enggan menceraikan sang istri dalam waktu sebulan. Seperti nampak di trailer, konflik berujung pada perkelahian maut Reno melawan Tiara (bersenjatakan pisau!!!). 
Seperti saya sebutkan di atas, separuh perjalanan "Sang Sekretaris" tidaklah merusak otak. Berlangsung datar nan predictable tanpa ketegangan maupun plus diisi paparan drama super dangkal, namun naskah garapan Aviv Elham tidak mencoba "aneh-aneh". Kualitasnya memang buruk. Ketimbang memacu ketegangan atau eksplorasi drama psikologis, penonton lebih banyak disuguhi pembicaraan berisi dialog dangkal antar karakter. Minimnya kreatifitas menjalin situasi pula terlihat ketika momen berikut diulang berkali-kali: 

Reno berjalan mendatangi Tiara.
Reno: Apa sih yang kamu mau?! Uang???
Tiara: (menggoda Reno dengan gestur sensual) Aku nggak butuh uang kamu
Reno: (semakin marah, lalu berteriak) Lalu mau kamu apa?!!!
Tiara: Aku mau kamu menceraikan istri kamu.

Tingkat repetisinya nyaris menandingi adegan Cynthiara Alona diantar pulang oleh bosnya di "Diperkosa Setan". Disebut erotic thriller pun, filmnya kurang trashy sekaligus terlalu malu mengumbar sensualitas hanya bermodal satu adegan foreplay dan baju-baju terbuka Nikita Mirzani yang tidak mungkin dikenakan sekretaris di dunia nyata. Tapi sekali lagi, ketiadaan usaha sok pintar membuat saya bisa bertahan menyaksikan paruh pertama "Sang Sekretaris". Sampai tiba paruh kedua.
Di sinilah kegilaan memuncak. Twist bodoh dipaksakan hadir guna menjabarkan motivasi tindakan Tiara. Keputusan menjadikan Tiara sebagai karakter dengan kelainan psikologis justru menggandakan dosis kebodohan akibat ketidakjelasan sebab-akibat serta disorder miliknya. Kita sekedar diperlihatkan sebuah obat dengan label bertuliskan "Obat Depresi"  mana ada label obat seperti itu? Karakterisasi dua tokoh lain sama buruknya. Reno adalah pria menyebalkan yang "play victim", enggan mengakui kesalahan, kerap berbohong pada sang istri dan gemar mabuk. Sedangkan Clara begitu bodoh alih-alih tampak sebagai seorang wanita baik sekaligus istri penyabar. How about the acting? Rico Verald melontarkan tiap kalimat begitu datar, Angel Karamoy terlihat bodoh ketimbang polos, dan Nikita Mirzany...well, there's a difference between a sensual performance and slutty. Kita tahu persis ia bakal memberi penampilan yang mana. But at least she's more entertaining than the other performers.

Masih banyak kebodohan lain termasuk setumpuk plot hole seperti saat salah satu tokoh mencoba bunuh diri, sudah berdarah-darah tapi tidak dibawa ke rumah sakit. Perjalanan menuju puncak juga terburu-buru, di mana Aviv Elham bak kehabisan ide cerita lalu memutuskan segera mengakhirinya. Klimaks yang semestinya menegangkan dan brutal tersaji tumpul, menggelikan dan terlalu cepat usai. Tapi jangan khawatir, bagi para fans Nayato, sederet trade mark Baginda semisal adegan diskotik, sudut kamera aneh, poster film klasik yang terpasang tanpa alasan jelas kecuali membuktikan bagusnya selera film Nayato  poster "Straw Dogs" di living room Reno dan Clara? Really?  masih muncul, just in case penonton lupa tengah menonton film karya siapa. Selamat bagi Nayato dan Sys NS! Kolaborasi kalian masih konsisten menghasilkan film buruk.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

DAERAH TERLARANG (2016)

Saya tahu, pasti kalian semua akan berujar "Ngapain mas mau nonton film ginian?" atau "Dari trailer-nya udah kelihatan bakal jelek". Yes, I know that. Tapi mau bagaimana lagi, sudah jadi tugas saya supaya anda tidak khilaf membuang puluhan ribu rupiah dan 80 menit waktu berharga yang dapat berujung pada ledakan amarah tak terkendali bahkan kegilaan sesaat. Tapi sekali lagi, dengan mengusung slogan "kami tonton supaya kalian tidak menonton", saya  dan sedikit reviewer masokis dari Indonesian Film Critics  bakal selalu meluangkan waktu dan tenaga untuk menonton sajian semacam "Daerah Terlarang" ini. Sajian yang merendahkan nilai-nilai filmmaking.

Bertempat di lokasi syuting film horror, "Daerah Terlarang" bertutur tentang teror pocong di tempat tersebut. Sang pocong bernama Mimin (Mitha Hardiyanti)  jika anda pernah menonton sinetron "Jadi Pocong" yang tayang pada akhir 90-an pasti tahu asal nama Mimin. Pocong Mimin rupanya adalah hantu inkonsisten. Awalnya ia meneror proses pengambilan gambar, muncul di hadapan para pemain seperti duo Hansip, Fico si budek (Fico Fachriza) dan Bedu si tonggos (Bedu), bahkan sempat tertangkap kamera. Namun entah bagaimana Mimin juga menampakkan diri di depan aktor lain yang belum tiba di lokasi. 
Naskahnya ditulis oleh TB Ule Sulaeman ("Bangkit dari Kubur", "Ada Apa dengan Pocong?" yang sejauh ini telah berpengalaman menulis delapan naskah horror termasuk film ini. Tapi nyatanya berbekal pengalaman tersebut, sang penulis masih menghasilkan karya bodoh pula nonsensical. (SPOILER) Modus operandi Mimin adalah muncul, lalu meminta tolong pada korbannya untuk dicarikan cincin miliknya. Lalu di akhir film, Mimin merasuki salah seorang pemain, menunjukkan jalan menuju letak cincin tersebut jatuh. Jadi untuk apa ia meminta tolong kalau tempat hilangnya cincin saja sudah diketahui??? (END OF SPOILER) Bisa jadi saya salah tangkap. Bisa jadi yang merasuki bukan Mimin. Bisa jadi, tapi saya tak peduli. 

TB Ule Sulaeman seperti terlalu malas mengembangkan cerita bagi film berdurasi 80 menit (terasa seperti 180 menit). Bayangkan, film tersusun oleh repetisi sebagai berikut: pocong Mimin menakuti karakter manusia, mereka ketakutan, berteriak lalu pura-pura pingsan, dengan variasi terletak pada tingkah karakter sebelum pingsan. Bisa lari, bisa menambah volume teriakan, bisa langsung pingsan. Begitu seterusnya. Kalau dihitung mungkin sampai 15 kali adegan pingsan baik dengan konteks "pura-pura" maupun sungguhan  walau di tiap situasi para aktor tetap tak sanggup menghadirkan pingsan yang meyakinkan. 
George Hutabarat bertindak selaku sutradara, dan beliau ini pula yang berjasa atas kehadiran satu lagi horror busuk rilisan 2016 berjudul "Video Maut" (read the review here). George memang hebat. Hanya dia sutradara yang mampu dua kali dalam setahun menggerakkan hati saya memberi nilai setengah. Kali ini, sang sutradara mesti menangani horror berbalut komedi, yang mana keduanya gagal berakhir decent. Tanpa memperhatikan timing, hasilnya justru terbalik. Penampakan pocong menghasilkan tawa khususnya akibat desain pocong yang kualitasnya seperti bubur basi, mengingatkan pada "Genderuwo" (2007) milik KKD. Sedangkan gelontoran komedi terdengar mengerikan, membuat saya ingin menutup mata, telinga sampai hidung. Kedua aspek baik penampakan maupun humor hambar hadir bergantian tiap menit tanpa memberi waktu bagi saya untuk menghela nafas.

Menyaksikan akting jajaran pemainnya bak tengah menonton sinetron di layar lebar. Natalie Sarah masih mengandalkan suara pengiris gendang telinga, sedangkan Mohammad Safari paling sempurna membawa gaya sinetron ke film saat diharuskan bicara sendiri mengungkapkan kekesalan hati. Umpatan-umpatan Safari pun kuat memancarkan aura keagungan sinetron. Departemen akting makin kacau nan mengesalkan akibat pembawaan annoying Ryan Febrian terhadap tokoh pria feminin. Paling disayangkan adalah Fico. Komika satu ini nampak berusaha keras mencairkan suasana melalui lawakan-lawakan improvisasi yang sesungguhnya cukup efektif sesekali memancing senyum (the only good thing here). Tapi sebaik apapun Fico, "Daerah Terlarang" memang sudah tak tertolong lagi.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

THE MAGNIFICENT SEVEN (2016)

"The Magnificent Seven" versi 1960  remake "Seven Samurai" milik Akira Kurosawa  garapan sutradara John Struges mengedepankan A-list actors pada masanya, sebutlah Yul Brynner, Charles Bronson, Steve McQueen hingga James Coburn. Sehingga, di samping kualitas yang memang mumpuni, melihat nama-nama besar di atas dalam satu frame jadi hiburan tersendiri. Lompat menuju 2016, remake dari remake yang disutradarai Antoine Fuqua ("Training Day", "Olympus Has Fallen", "The Equalizer") ini masih memakai pendekatan serupa. Denzel Washington, Chris Pratt, Ethan Hawke, Lee Byung-hun, Vincent D'Onofrio sampai Peter Sarsgaard mengisi jajaran cast kelas beratnya. Bukan saja kelas wahid, nama-nama tersebut turut berasal dari bermacam etnis.

Ethnic diversity kentara jadi fokus besar film ini. Tengok saja para anggota The Magnificent Seven: Sam Chisolm (Denzel Washington) si bounty hunter berkulit hitam, Josh Farraday (Chris Pratt) si penjudi kulit putih, Goodnight Robicheaux (Ethan Hawke) sang penembak jitu yang ditemani asisten asal Asia bernama Billy Rocks (Lee Byung-hun), Jack Horne (Vincent D'Onofrio) si pria brutal, buronan asal Meksiko bernama Vasquez (Manuel Garcia-Rulfo) dan seorang native american, Red Harvest (Martin Sensmeier). Tujuannya jelas: pihak studio ingin mengesankan dukungan mereka terhadap persamaan hak, menolak rasisme atau whitewashing

Coba mengikuti zaman, begitulah pendekatan yang dilakukan film ini termasuk dalam naskah karya Nic Pizzolatto dan Richard Wenk. Selain tokoh multiras, cerita pun disesuaikan, bukan lagi pertempuran melawan bandit Meksiko seperti original-nya, atau pencarian "tanah baru" sebagaimana mayoritas western movie masa lampau, melainkan perlawanan terhadap pria kulit putih kapitalis bernama Bartholomew Bogue (Peter Saarsgard). Bartholomew merebut Rose Creek, sebuah kota fiktif demi membangun tambang emas. Tidak hanya itu, ia membantai para warga pula membakar Gereja. Putus asa, Emma Cullen (Haley Bennett) yang turut kehilangan sang suami meminta Sam membantu warga Rose Creek mempertahankan rumah mereka. 
Berbagai treatment di atas menjanjikan kedalaman kisah, namun Pizzolatto dan Wenk sekedar berusaha melemparkan konsep tapi menggalinya lebih jauh. Hal tersebut terjadi pada karakter utama. Ketujuh tokoh punya potensi keunikan masing-masing baik kemampuan maupun kepribadian, termasuk yang dibawa oleh perbedaan etnis. Polanya terjadi berulang: satu tokoh diperkenalkan dengan menarik untuk kemudian dilupakan, berakhir sebagai pengisi jumlah belaka. Mereka hanya maskot, wajah tanpa hati bagi upaya studio membangun image mengenai persamaan hak. Semakin parah karena penonton tak diberi kesempatan mengenal mereka dengan baik.

Sesungguhnya jika menengok setting waktu, cukup menarik menantikan kisah-kisah personal dari mulut para tokoh multiras tersebut. Sayang, hanya sekali itu terjadi, tatkala Goodnigt dan Sam mengenang masa kala keduanya tergabung dalam Uni dan Konfederasi dalam perang sipil. Sisanya sekedar interaksi filler ala kadarnya saat naskah memaksa para tokoh terlibat dalam pembicaraan hampa tanpa sentuhan personal demi merekatkan jarak dengan penonton. Kita tidak pernah sepenuhnya mengenal apalagi peduli pada nasib mereka. Bahkan alasan mengapa beberapa tokoh direkrut dalam tim pun kurang jelas  just look at Farraday and Red Harvest. 
Akting para aktor lebih dari cukup untuk menghalangi kebosanan. Chris Pratt (unsurprisingly) adalah penampil paling mencuri perhatian. He's lively and funny as always, and deserves to be the gang leader instead of Denzel Washington. Kondisi serupa menimpa aktor lain khususnya Hawke, D'Onofrio dan Saarsgard. Goodnight bisa jadi sosok kompleks penuh problema, Horne berpotensi mencuat sebagai tokoh brutal nan aneh, dan Bogue takkan berakhir sebagai villain dua dimensi yang bagai rutin mengkonsumsi narkoba andai ketiganya diberi porsi memadahi untuk eksplorasi karakter. 

Adegan aksi sejatinya well-made, tapi Fuqua bak kekeringan imajinasi, hanya asal melontarkan ledakan dinamit atau desing peluru di sana sini. Tengok saja klimaks yang diniati sebagai penebus pasca buildup selama kurang lebih 90 menit. Ketegangan sudah barang tentu urung hadir akibat nihilnya kepedulian penonton akan para tokoh, dan makin tak tertolong ketika Fuqua terlampau malas mengkreasi deretan sequence supaya tampak menarik, tak tahu cara memaksimalkan daya pikat tiap aktor kala tengah beraksi  Pratt with extreme coolness cocking his guns or Byung-hun expertly swinging his kinives. Final showdown yang semestinya merupakan puncak segalanya berakhir datar. Jangankan menyamai film klasiknya, untuk menghibur saja "The Magnificent Seven" gagal. Memang tidak semua hal butuh modernisasi. 

SON OF SAUL (2015)

Melalui film pemenang Best Foreign Language Film (perwakilan Hungaria) di ajang Oscar 2016 ini, definisi "character-driven movie" dibawa ke tingkatan lebih jauh oleh sutradara Lazlo Nemes  juga menulis naskah bersama Clara Royer. Karakter utamanya bernama Saul Auslander (Geza Rohrig), pria Yahudi asal Hungaria yang tergabung sebagai anggota Sonderkommando dalam kamp konsentrasi di Auschwitz. Para Sonderkommando bertugas menyingkirkan mayat para korban hollocaust dan mendapat beberapa "keistimewaan" seperti barak tersendiri, makanan, hingga rokok karena pihak Nazi membutuhkan mereka untuk selalu bugar. Karena itu pula tentara Nazi tidak asal membunuh anggota Sonderkommando sebagaimana tahanan lainnya.

Di kemunculan pertamanya, kita melihat Saul berjalan perlahan menuju fokus kamera, dan semenjak itu, selama 107 menit durasi film amat jarang dia menghilang dari frame. Camerawork Matyas Erdely didominasi dua jenis shot, yakni close-up sisi depan seolah penonton tengah bertatap muka dengan Saul, atau di belakang bahu, membuntuti ke mana ia melangkah. Matyas Erdely mengeliminasi kehadiran Saul dari layar hanya ketika suatu peristiwa sangat perlu ditekankan. Bukan itu saja, penggunaan aspect ratio 1.37 : 1 (kotak) plus shallow focus (fokus di satu titik, sisanya blur) menyempitkan bidang pandang.
Dampak teknik pengambilan gambar tersebut adalah atensi nyaris sepenuhnya tertuju pada Saul. Penonton diposisikan sebagai observer, bukan sekedar di tataran tingkah laku, namun langsung ke dalam batin sang karakter. Kita melihat tatapan matanya, pula ekspresi mikro yang subtil tapi kuat menyiratkan bagaimana sang tokoh begitu terguncang atas rangkaian pemandangan horor di kesehariannya mengurusi mayat-mayat. Dia tidak ekspresif, lebih sering menatap kosong yang justru menegaskan betapa kengerian tersebut telah mengganggu isi pikirannya. Geza Rohrig menampilkan akting solid, menekankan di ketersiratan rasa ketimbang pengekspresian emosi gamblang. 
Senantiasa di dekat Saul, kita pun tak lebih banyak tahu daripada sang protagonis, sebatas memahami bahwa Saul terenggut perhatiannya oleh mayat seorang bocah yang hendak diautopsi. Merasa sang bocah harus diberikan pemakaman layak sesuai ajaran Yahudi, Saul mempertaruhkan nyawanya, berpindah dari satu unit ke unit lain guna mencari seorang Rabbi. Hanya itu yang ia pikirkan, tanpa mempedulikan carut marut di sekelilingnya termasuk rencana pemberontakan Sonderkommando. Lalu apakah sang bocah benar anak Saul atau sekedar bentuk usahanya menebus rasa bersalah setelah sekian lama membuang mayat rekan-rekan sejawat? Mungkin senyuman simpul di akhir film bisa menjadi jawaban.

Saul tidak memperhatikan (atau peduli) terhadap segala hal di atas, begitu pula penonton, di mana seringkali saya dibuat bingung oleh kekacauan yang mendadak hadir. Kebingungan itu memang sengaja diciptakan Nemes supaya mengerucutkan fokus pada Saul seorang sekaligus meletakkan penonton pada kondisi yang sama dengannya. Tujuan itu tercapai, namun di sisi lain kenyamanan mengikuti alur penceritaan jadi terganggu. It's too chaotic and confusing. Tapi paling tidak "Son of Saul" telah berhasil menyuguhkan temvariasi sudut pandang serta cara penceritaan bagi tema hollocaust.

D.P.O - DETACHEMENT POLICE OPERATION (2016)

Pada 2013 lalu, "Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita" sukses menjadi fenomena. Kualitasnya yang teramat buruk justru memberi hiburan tersendiri, masuk ranah "so bad it's good movie" lalu memunculkan cult following bernama "Xahabat Azrax". Apakah sekuelnya akan dibuat? Kapan DVD-nya rilis? Kegaharan apalagi yang bakal ditawarkan AA Gatot setelah mencabut lampu taman? Pertanyaan-pertanyaan tersebut rutin bergulir, bahkan sampai tiga tahun berselang saat "D.P.O (Detachement Police Operation)" rilis. Kesampingkan fakta bahwa film ini bukan sekuel "Azrax", keterlibatan AA Gatot selaku jagoan aksi sudah cukup memupuk antisipasi. Terlebih kala di dunia nyata sang GURU SPIRITUAL ini ternyata masuk D.P.O alias Daftar Pencarian Orang (ups!). 

Sebagaimana matahari terbit di ufuk Timur lalu tenggelam di Barat alias takdir alam yang sudah tak bisa ditawar-tawar, AA Gatot memerankan seorang jagoan, ahli beladiri, Kapten kepolisian yang sangat dihormati bawahannya. Sang Kapten bernama Sadikin. Ya, bukan Azrax, bukan Drax, bukan Berax. Sederhana saja: Sadikin! Konon, Kapten Sadikin menyimpan dendam kepada Satam (Torro Margens), seorang bandar narkoba yang memilih tinggal di perkampungan kumuh bernama Rawa Keling guna menghindari kecurigaan polisi. Demi membalas kematian orang tercintanya, Kapten Sadikin membentuk satuan khusus, sebuah tim elit berisikan orang-orang kepercayaan yang juga begitu percaya pada Sadikin. Saking percayanya, mereka mau bergabung walau belum mendengar misi secara detail.
Terkumpul lima orang anggota termasuk Sadikin dengan keahlian berbeda-beda: Tatang (Deswyn Pesik) si pria jago beladiri, Julie (Nabila Putri) si wanita jago beladiri, Ganta (Afdhal Yusman) si playboy jago beladiri, dan Andi (Thomas Joseft) si ahli pisau yang juga jago beladiri. Mungkin hanya Sadikin saja yang kurang jago beladiri, karena sepanjang film ia lebih sering memegang pistol, berjalan sendiri meninggalkan tim meski dia selalu menekankan kebersamaan di antara mereka. Tapi bukan masalah, mengingat Kapten satu ini punya senjata lain yang jauh lebih ampuh: KHARISMA! Kharisma ini bahkan mampu menggerakkan hati seorang anak kecil untuk mengorbankan nyawa demi melindungi Sadikin dari tikaman pisau. 

Jurang pembeda antara "D.P.O" dengan "Azrax" adalah ambisi besarnya menjadi film serius. Konsepnya mengingatkan pada "The Raid", yaitu tentang serbuan maut (pun intendeed) sekelompok satuan khusus ke jantung pertahanan musuh yang dipimpin seorang penjahat sinting. Konsep tersebut potensial apabila filmnya mampu menghidupkan perasaan terperangkap yang dialami para protagonis. Usaha membangun intensitas serta keseruan aksi sejatinya nampak, tatkala fighting scene hasil koreografi Deswyn Pesik tersaji solid. Karakter Tatang yang Pesik perankan pun sukses mencuri perhatian. Tatang adalah tokoh badass, mampu menghajar puluhan musuh seorang diri hanya bermodalkan skill beladiri tangan kosong. He's the best and the only good thing in this movie.
Ironisnya, keseriusan itu justru membuat "D.P.O" gagal menandingi "Azrax" dalam kapasitasnya menghibur penonton. Hasilnya tanggung. Dipandang sebagai kekonyolan disengaja jelas sulit mengingat tiap perkelahian dikemas serius. Tapi sebagai action-thriller, film ini jatuh akibat tebaran plot hole, serta dialog menggelikan. Bagaimana bisa saya menganggap serius "D.P.O" saat di sela-sela perkelahian muncul pertanyaan semisal "kalau stasiun televisi saja bisa meliput serbuan kenapa bala bantuan sulit datang?". Atau dialog menggelikan kala Sadikin mendengar dari telepon bahwa salah satu anggota tim telah tewas kemudian merespon "dua orang kita telah mati". Setidaknya kebodohan-kebodohan tersebut masih menyajikan tawa.

Bagaimana dengan akting AA Gatot Brajamusti? Jangan khawatir, anda masih akan menemukan pelafalan dialog yang tidak sinkron antara cara pengucapan  intonasi dan emosi  dengan konten, Bahasa Inggris belepotan, kemampuan beladiri seadanya, juga senyuman mesum nan creepy khas AA. Sayang, porsi sang mega bintang terlampau minim, harus berbagi screentime dengan keempat anak buahnya. Alhasil, canda tawa mengamati penampilan AA Gatot di film ini tak sebanyak "Azrax". Hampir semua formula yang menjadikan "Azrax" cult movie dimiliki "D.P.O", mulai alur di luar nalar, baris dialog menggelikan, hingga performa kelas wahid AA Gatot. Sayang, niatan tampil serius pada pengadeganan aksi bahkan sentuhan atmosfer kelam (kematian salah satu karakter cukup mengejutkan) menjauhkannya dari status "so bad it's good". This one's simply a bad movie


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

COMIC KONG X KONG (2016)

"Comic Kong X Kong" adalah film Indonesia dengan nilai 0 (nol) keempat tahun ini. Tentu butuh lebih dari sekedar kualitas buruk supaya hati saya tergerak memberi angka tersebut, mengingat seburuk apapun suatu karya pasti ada satu sisi layak mendapat apresiasi. Film terbaru karya Yan Senjaya  pembuat masterpiece berjudul "Cin...Tetangga Gue Kuntilanak"  ini tak hanya hancur di setiap sisi, namun menyembunyikan segala kebusukan di balik sambul "film anti-korupsi". Karena yang lebih rendah dari film jelek adalah film jelek yang mengatasnamakan diri sebagai pembawa pesan moral. Ibaratnya ada seseorang kentut sembarangan di tengah keramaian dengan alasan supaya gas tidak mengendap menjadi racun dalam tubuh.

Biasanya butuh beberapa menit sampai tercium aroma sampah milik suatu film, tapi "Comic Kong X Kong" seolah ingin to the point, menolak mengulur waktu, langsung membuktikan kebusukannya. Sedari adegan pembuka saat kedua protagonis, Muslim (Tretan Muslim) dan Gitong (Denny Gitong) tiba di Jakarta guna mencari kerja, telinga saya sudah dibuat sakit akibat Okky Priharmoko sang penata suara malas menghilangkan noise. Hampir sepanjang film, dialog tenggelam di balik kebisingan, seperti berusaha mendengar seseorang bicara di landasan pesawat. Semakin ramai ketika scoring dipaksakan masuk, menambah gemuruh kekacauan perusak indera pendengaran penonton. 
Saya tidak naif mengharapkan "Comic Kong X Kong" memperhatikan logika penceritaan. Komedi berkualitas semisal "Anchorman: The Legend of Ron Burgundy" pun disusun oleh narasi tak masuk akal mengenai sosok-sosok bodoh sebagai pembaca berita. Lalu kenapa ketika Muslim dan Gitong, dua pengangguran tanpa skill mumpuni diminta Detektif Yenny (Nabila Putri) menjadi informan rahasia guna meringkus koruptor bernama Bos Belut (Mo Sidik), saya kesulitan menerima? Tidak lain akibat kegagalan film menciptakan karakter likeable dan lelucon lucu yang dipicu tingkah laku mereka. Sepanjang 87 menit durasi, keduanya selalu mengacaukan situasi, bertingkah bodoh, memasang ekspresi mesum.
This movie filled with some extreme absurdities (in a negative way). Absurditas muncul sejak Muslim dan Gitong kencing sembarangan lalu menyebabkan meledaknya sebuah patung berbalut CGI sekelas sinetron Indosiar  terjadi berulang kali, even worse  sampai film diakhiri oleh carut marut klimaks yang (entah bagaimana) diharapkan memancing tawa penonton. Saya sama sekali tidak tertawa sepanjang durasi, namun bukan soal perbedaan selera humor belaka, melainkan dipicu keengganan film menghargai penontonnya. "Comic Kong X Kong" dibuat dengan production value begitu rendah, komedi bodoh asal masuk, plus tambal sulam alur seenaknya. Jangan berharap filmnya memberi penjelasan memuaskan tentang perubahan drastis alur dari kisah dua pemuda mencari kerja menuju kekacauan investigasi korupsi melibatkan ketok magic bagi manusia hingga boneka teluh. 

Ditambah lagi, film ini masih berusaha menghantarkan pesan anti-korupsi di tengah berbagai kebusukan tadi. Padahal jujur saja, bagaimana cara pembuat "Comic Kong X Kong" mempresentasikan filmnya tidak jauh lebih baik dibanding aksi koruptor. Menyajikan karya asal-asalan dengan kualitas serendah ini tepat sewaktu industri perfilman tanah air tengah merangkak naik berpotensi menciptakan stigma negatif di kalangan masyarakat, menghalangi perbaikan kondisi film Indonesia. Atau mungkin Yan Sanjaya dan rekan sengaja menciptakan kebusukan selaku penyeimbang di antara rangkaian komedi mengesankan seperti "My Stupid Boss" atau "Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1" supaya kita tidak cepat puas. Sungguh niatan mulia. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

PETE'S DRAGON (2016)

Disney tengah getol melakukan adaptasi/remake live action terhadap karya klasik mereka. Berawal dari kesuksesan "Maleficent pada 2014 lalu, "The Jungle Book" yang rilis tahun ini bak puncak, meraup pendapatan $964 juta dan direspon positif oleh kritikus (95% di Rotten Tomatoes). Namun berbeda dibanding serangkaian proyek lain, "Pete's Dragon" kurang bergaung, mungkin disebabkan fakta bahwa film aslinya  hybrid live action dan animasi, rilisan 1977  kurang sukses baik secara komersial maupun kualitas. Mudah menganggap film ini sebagai satu lagi usaha putus asa tanpa kreatifitas Hollywood guna mengeruk pundi-pundi dollar, tapi secara mengejutkan "Pete's Dragon" sangat mendekati sebutan "film yang dibuat dengan hati".

Sang protagonis adalah bocah berusia 11 tahun bernama Pete (Oaks Fegley) sudah selama enam tahun tinggal di hutan pasca kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya. Ditempatkan sebagai opening, kecelakaan itu langsung memperlihatkan sensibilitas sang sutradara, David Lowery. Lowery yang identik dengan sajian indie macam "Ain't Them Bodies Saints" bertutur penuh cinta, sehingga peristiwa tragis berupa kematian di pembuka (berbalut slow-motion sunyi serta ekspresi takjub Levi Alexander sang pemeran Pete kecil) pun meski menyiratkan duka, kuat menonjolkan harap dan keindahan, enggan mengeksploitasi kesedihan. Daripada menguatkan unsur perpisahan, Lowery justru memposisikan momen awalnya laksana awal suatu petualangan.
Kesan di atas konsisten bertahan, termasuk tatkala kita pertama bertemu dengan Ellliot, sang naga hijau berbulu (disuarakan John Kassir). Elliot muncul perlahan dari balik kegelapan hutan, di mana kamera Bojan Bazelli cermat memanfaatkan siraman tipis cahaya matahari untuk memunculkan nuansa magis. Sedangkan di adegan-adegan berikutnya, penggunaan sinar matahari secara lembut pada sinematografinya turut menopang kehangatan atmosfer penceritaan. Begitu pula scoring garapan Daniel Hart. Bukan sekedar usaha duplikasi kemegahan orkestrasi milik John Willams dalam film-film Spielberg, karena Hart juga mengkomposisi beberapa nomor folk, termasuk saat "Nobody Knows" yang dibawakan The Lumineers sempurna mengiringi adegan Pete berlari di tengah kota, melompat dari satu kendaraan ke kendaraan lain. 
Pete adalah bocah likeable, tapi Elliot jadi penebar charm terbesar. Naga yang mirip anjing ini (chases his own tail, cute puppy eyes) bakal mudah mencuri hati penonton berkat tingkah clumsy nan menggemaskan miliknya. Terlebih Elliot memiliki perasaan serupa manusia, di mana saya yakin mayoritas penonton bakal tersentuh melihat adegan saat ia nampak pilu kala mendapati Pete tersenyum bahagia bersama Grace (Bryce Dallas Howard) dan keluarganya. Karakter pendukung seperti Mr. Meacham (Robert Redford) dan Grace punya porsi minim namun sesuai kebutuhan masing-masing. Patut disayangkan karakterisasi Gavin (Karl Urban) urung dimaksimalkan. Motivasi beberapa tindakan sang tokoh patut dipertanyakan, padahal ada potensi kompleksitas mengenai sosoknya yang bukan sepenuhnya jahat. 

Lowery kentara mengambil banyak inspirasi dari Spielberg, dan ironisnya ia berhasil melakukannya secara lebih baik dibanding beberapa effort terakhir sang sutradara. Including the lackluster "The BFG". Kisahnya mengembalikan ingatan pada pertemanan E.T. dan Ellliott, sewaktu dua makhluk beda spesies menjalin persahabatan yang pemaparannya menekankan pada momen kebersamaan intim saling memiliki  duduk bersama melihat bintang dengan senyum menghiasi wajah mereka. Lowery also perfectly crafted the magical feeling as when characters stare wide-eyed at the off-screen dragon. Penonton pun dibawa merasakan perasaan kagum serupa. 

SULLY (2016)

Pada 2012, Robert Zemeckis lewat "Flight" menuturkan kisah kepahlawanan seorang pilot yang mampu secara luar biasa mendaratkan pesawatnya, menyelamatkan banyak nyawa penumpang, namun berujung jadi pesakitan tatkala proses persidangan mengungkap bahwa ia berperan menciptakan kecelakaan tersebut. Setahun kemudian, dalam "Captain Phillips" Tom Hanks memerankan sang titular character, kapten kapal yang harus berjuang menyelamatkan diri sendiri beserta awaknya dari serangan perampok Somalia. Gabungkan kedua judul itu, anda pun mendapatkan "Sully" garapan Clint Eastwood yang tetap produktif menghasilkan karya berkualitas walau usianya telah menginjak 86 tahun.

Diangkat dari autobiografi dari Chesley "Sully" Sullenberg (Tom Hanks) berjudul "Highest Duty", film dibuka oleh adegan mimpi buruk Sully ketika pesawatnya mengalami kecelakaan, menghantam gedung hingga hancur meledak tanpa sisa. Di kehidupan nyata, Sully mampu mendaratkan pesawat tersebut di sungai Hudson meski kedua mesin mengalami kerusakan total, menyelamatkan seluruh penumpang (155 orang). Merupakan keajaiban karena belum pernah ada pilot yang mampu melakukan pendaratan darurat di air dengan selamat. Seketika Sully menghiasi layar televisi, dianggap pahlawan, dielu-elukan namanya oleh seantero Amerika Serikat. Sehingga aneh saat ia justru tampak cemas, dilematis, sama sekali tak menunjukkan ekspresi bahagia.
Kecemasan itu didasari oleh penyelidikan National Transportation Safety Board (NTSB), di mana menurut berbagai data yang mereka kumpulkan, Sully masih punya cukup bahan bakar dan ketinggian untuk mendaratkan pesawatnya di bandara terdekat daripada membahayakan nyawa penumpang dengan pendaratan darurat di Hudson. Berangkat dari situ naskah tulisan Todd Komarnicki mengolah drama kemanusiaan menjadi perenungan dilematis. Dua pertanyaan yakni "Apakah Sully sudah mengambil keputusan tepat?" dan "pasca menyelamatkan ratusan nyawa adilkah bila Sully dipersalahkan?" dihadapkan bagi penonton. Pada kenyataannya, sang protagonis pun turut mempertanyakan hal-hal tersebut. Dia meyakini ketepatan kalkulasinya, tapi pemikiran "what if?" senantiasa menghantui.

Tom Hanks bak tanpa kesulitan menghidupkan kegamangan karakternya. Berhiaskan rambut plus kumis putih, ada kematangan menangani berbagai situasi baik di dalam maupun luar kokpit hasil pengalaman selama 40 tahun. Tapi di saat bersamaan kita dapat merasakan setumpuk kegundahan terpendam yang seolah bisa meledak setiap saat. Hanks hits the right tone perfectly in this low key yet absorbing performance. Bukan sebuah kejutan jika di awal tahun depan nama Tom Hanks kembali menghiasi jajaran peraih nominasi aktor terbaik Oscar untuk keenam kalinya.
Treatment naskah plus sudut pandang Clint Eastwood mengenai heroism  tema yang telah puluhan tahun ia tangani  memang one-sided ketika penonton diarahkan supaya mengakui kepahlawanan sang kapten. Tapi pengungkapan satu demi satu fakta menyudutkan ditambah siratan ketidakyakinan Sully kuat menjaga pemikiran kritis penonton. Saya  pun dibuat mengesampingkan fakta bahwa selama 96 menit durasi, ceritanya cenderung tipis, sekedar bolak-balik antara momen kecelakaan pesawat dan setting masa kini menyoroti kebimbangan Sully menghadapi investigasi. Beberapa subplot semisal konflik Sully dan sang istri (Laura Linney) akibat kekhawatiran akan worst case scenario  Sully dinyatakan bersalah, dilarang terbang, lalu mengalami kesulitan ekonomi  juga flashback masa lalu tersaji dangkal, tanpa signifikansi berarti.

Eastwood masih piawai memainkan dinamika penceritaan, bertutur memakai tempo lambat sambil sesekali menghentak, memunculkan rasa sesak melalui adegan kecelakaan menegangkan. Bukan hamparan bombastis layaknya "Flight", namun setelah menghabiskan sedikit waktu mengamati kegiatan berhiaskan senyum para penumpang sebelum lepas landas, terdapat kesan mencekam bagai kita tengah menjadi saksi mata suatu tragedi (berpotensi) maut. Ketegangan memuncak saat pesawat bergetar hebat, dan para pramugari mulai berteriak "Brace, brace! Heads down, stay down!”. Such a scary situation there. Sayang, filmnya ditutup lemah akibat repetisi adegan plane crash yang sepanjang film ditampilkan berulang kali. Membuatnya terasa dragging, cukup melucuti dampak emosional suatu kisah heroik, bukan saja seorang Sully melainkan seluruh warga New York.