REVIEW - SLAY THE DRAGON

Penonton di luar Amerika Serikat mungkin akan bertanya mengenai bisa atau tidaknya kita menikmati Slay the Dragon, yang bahkan dibandingkan beberapa dokumenter bertema politik lain, punya pokok bahasan jauh lebih asing. Knock Down the House (2019) contohnya, yang meski diisi tetek bengek pemilu, cenderung mengedepankan soal women’s empowerment. Sedangkan film garapan Barak Goodman dan Chris Durrance, walau mengusung tema universal terkait demoktrasi, secara khusus menelusuri praktek gerrymandering.

Sejak film dibuka, musik gubahan Gary Lionelli langsung menyerbu telinga penonton dengan orkestra bak dari film suspense, yang seolah menegaskan tingginya urgensi isunya. Tapi sekali lagi, bisakah penonton di luar Amerika memahami urgensi tersebut? Sebab, jangankan definisi gerrymandering, pemahaman akan sistem pemilu dan atmosfer politiknya saja belum tentu dimiliki. Bahkan filmnya sendiri memperlihatkan bahwa masih banyak warga lokal tak mengerti soal itu.

Di sinilah kualitas penceritaan filmnya teruji. Layaknya pengajar yang tak hanya pintar untuk diri sendiri, namun piawai membagikan ilmunya dengan orang lain, Slay the Dragon mampu menjabarkan gerrymandering secara ringkas dan jelas, berkat narasumber yang jago menyusun kalimat ditambah visualisasi tepat guna. Bukan cuma tentang “apa”, alasan praktek itu merupakan kecurangan yang melukai demokrasi pun tersampaikan dengan baik. 

Penjelasan lengkapnya dapat anda simak langsung dari filmnya, tapi secara singkat, gerrymandering adalah praktek membagi batas-batas daerah pemilihan dengan tujuan mencari keuntungan bagi partai politik tertentu, yang terjadi 10 tahun sekali, sewaktu tiap negara bagian di Amerika Serikat melakukan redistricting. Melalui gerrymandering, pihak pemegang kuasa bisa memastikan, bahwa di pemilu berikutnya, kemenangan tetap jadi milik mereka.

Istilah “gerrymandering” dipakai setelah pada 1812, gubernur Massachusetts, menetapkan peta baru yang berbentuk seperti seekor salamander. Selepas kemenangan Barrack Obama di pemilu 2008, praktek itu menggila, setelah pihak Partai Republik yang tersudut, menjalankan proyek REDMAP. Pembagian daerah pemilihan pun semakin absurd. Ada yang berbentuk seperti naga (asal judul film ini), hingga salah satu yang paling aneh, Goofy menendang Donal Bebek. Rupanya itu hanya awal. 

Selain gerrymandering, Republik menerapkan metode-metode lain guna memperkecil peluang Demokrat, termasuk menerbitkan aturan yang mengharuskan pemilih memiliki Voter Id. Hasilnya adalah kemenangan Trump di pemilu 2016. Sebanyak 45.000 orang di Wisconsin tak diperbolehkan memilih, yang memberikan kemenangan bagi Trump di negara bagian tersebut, di mana ia mengantongi 22.000 suara. 

Masih banyak setumpuk fakta lain disediakan oleh Slay the Dragon, menjadikannya dokumenter informatif, yang bakal membuat penonton awam, khususnya dari luar Amerika Serikat tercengang. Kita tahu kalau politik, termasuk pemilu, dipenuhi intrik kotor, tapi membawa penonton mengetahui sejauh dan sesistematis apa intrik tersebut jadi keunggulan Slay the Dragon. Walau harus diakui, kemungkinan besar tak semua bakal tertampung mengingat begitu banyaknya data hadir dalam waktu singkat, ditambah sekat kultural (baca: budaya politik) yang membatasi proses pengolahan informasi.

Selain informatif, Slay the Dragon juga ingin menjadi dokumenter inspiratif dengan memaparkan perjuangan Katie Fahey, aktivis asal Michigan yang getol menjalankan kampanye akar rumput untuk mengakhiri gerrymandering, bersama organisasi Voters Not Politicians (VNP) yang ia dirikan. Harapannya, perjalanan VNP dari riak kecil yang diragukan mampu mengumpulkan 350.000 tanda tangan di petisi menjadi aksi berskala nasional yang mengguncang sistem korup, dapat menggerakkan hati penonton melalui pesan “Suara rakyat akan menang”.

Tapi ada satu poin penting yang filmnya lupakan. Disebutkan jika VNP sukses membalikkan prediksi pengamat, di mana mayoritas meragukan kapasitas mereka. Pertanyaannya: Bagaimana? Saat bahkan banyak masyarakat belum mengetahui arti gerrymandering, bagaimana kesuksesan itu berhasil digapai? Slay the Dragon memaksa penonton menerima “keajaiban” itu sebagai suatu pencapaian inspiratif, di saat hal itu bukanlah keajaiban. Ada banyak detail yang memerlukan pemahaman. Tapi selaku tontonan penambah pengetahuan, film ini jelas layak disimak.


Available on HULU

REVIEW - LA LLORONA

Walau sama-sama berbasis cerita rakyat La Llorona, film asal Guatemala ini tak punya kaitan apa pun dengan The Curse of La Llorona (2019) yang tergabung dalam seri The Conjuring. Di tangan sutradara Jayro Bustamante, yang juga menulis naskahnya bersama Lisandro Sanchez, subteks mengenai “pembalasan wanita atas kejahatan pria” diperkuat, lalu diimplementasikan pada penderitaan rakyat Guatemala yang hidup di bawah tirani diktator keji.

Momen pembukanya langsung meninggalkan kesan, bahkan sebelum gambar pertama muncul, saat terdengar bisikan wanita yang tengah memanjatkan doa. Pemilik suara itu bernama Carmen (Margarita Kenéfic), yang duduk melingkar bersama sekelompok wanita. Apa yang mereka doakan? Rupanya, suami Carmen, Enrique (Julio Diaz), yang oleh bawahannya dipanggil “Jenderal”, sedang menanti persidangan, guna menentukan apakah benar ia melakukan genosida terhadap suku Maya.

Sang Jenderal bersama pasukannya, dituduh membunuh serta memperkosa orang-orang Maya, sebagai justifikasi aksi memberantas komunisme. Perhatikan wajah Enrique. Rambut putihnya, kumis tebalnya. Kemudian carilah gambar Efraín Ríos Montt. Mirip? Tentu saja, sebab Bustamante dan Sanchez memang ingin menjadikan La Llorona sebagai cerminan realita sekaligus pembalasan atas luka bangsa. Lebih spesifik lagi, luka seorang wanita.

Pengadilan memutuskan Enrique bersalah, namun keputusan tersebut dianulir akibat kurangnya bukti. Alhasil, puluhan (atau ratusan?) warga melakukan demonstrasi di depan rumah Enrique, membuat penghuni rumah, termasuk puteri dan cucu sang Jenderal, Natalia (Sabrina De La Hoz) dan Sara (Ayla-Elea Hurtado), terkurung selama berhari-hari. Sesekali penonton diajak mengintip kondisi di luar gerbang, tapi kita lebih banyak mendengar teriakan tanpa henti para demonstran, sementara aktivitas dalam rumah berlangsung, sebagaimana para penguasa yang menutup telinga atas tangisan rakyat.

Mungkin di mata banyak orang, La Llorona bukanlah horor, dan Bustamante memang tak menerapkan pola arus utama. Tanpa jump scares, tanpa gangguan gaib, setidaknya bukan secara gamblang dan bukan di satu jam pertama. La Llorona cenderung mengedepankan soal ketakutan. Ketakutan seorang diktator yang semasa berkuasa gemar menebar ketakutan. Bahkan sebelum persidangan pun, Enrique sudah dikuasai rasa takut, sewaktu tengah malam, ia mengaku mendengar tangisan wanita, sehingga meyakini ada mata-mata di dalam rumah. Apakah tangisan itu memang teror supernatural atau hanya di kepala Enrique menjadi tidak penting. Poinnya adalah, betapa setelah dilucuti kekuasannya, sang diktator tak lebih dari pria tua lemah nan menyedihkan.

Walau tak mengumbar teror secara terang-terangan, Bustamante memastikan nuansa mencekam tetap terjaga, kala dibantu sinematografi kental creepy imageries arahan Nicolás Wong, ia membangun atmosfer penuh kecemasan dan ketakutan, sebagai representasi isi hati Enrique sekeluarga. Kemudian muncul Alma (María Mercedes Coroy), gadis muda yang datang untuk menggantikan para pelayan yang secara berjamaah memutuskan pergi. Tentu tidak sulit menebak jati diri Alma sesungguhnya, karena seiring kehadirannya, teror pun semakin nyata. Menyusul berikutnya adalah proses menguak detail kebenaran melalui kecermatan naskahnya menebar petunjuk, dari seringnya Alma “melatih” kemampuan Sara menahan napas dalam air, hingga deretan mimpi buruk yang tokohnya alami tiap malam. Tidak ketinggalan juga siratan mengenai rahasia kelam keluarga Enrique.

Begitu sampai di third act, intensitas payoff yang ditawarkan memang tak terlalu kuat pula kuantitasnya terlampau singkat, tapi tak mengurangi kekuatan bercerita La Llorona, khususnya seputar empowerment. Filmnya kembali menegaskan, bahwa dalam aksi pelecehan, dosa bukan saja milik si pelaku, pula mereka yang memilih membiarkan.

Available on SHUDDER

REVIEW - ANELKA: MISUNDERSTOOD

Berbeda dibanding kisah tentang figur bermasalah kebanyakan, Anelka: Misunderstood tidak mengusung alasan “dia bengal karena masa lalunya berat”. Seperti diakui Nicolas Anelka sendiri, keluarganya tak terjerat kemiskinan, harmonis, pun masa kecilnya bahagia. Lalu apa penyebab kepribadian kontroversial sang bintang lapangan hijau? Sayangnya itu urung terjawab. Sebagaimana judulnya, dokumenter ini hanya berusaha menyatakan bahwa Anelka kerap disalahpahami, ketimbang mengeksplorasi lebih jauh sisi personal apalagi psikisnya.

“Salah satu penyerang terbaik sepanjang masa”. Kalau pujian itu terlontar dari mulut seorang Thierry Henry jelas itu tidak main-main. Tapi memang begitulah adanya. Di mata pecinta sepak bola masa kini yang tak menyaksikan langsung lesatan karirnya pada usia muda dan sebatas membaca statistik (210 gol dari 671 penampilan di level klub, 14 gol dari 69 penampilan di timnas), mungkin Anelka terkesan biasa. Tapi penonton era akhir 90an dan awal 2000an pasti tahu, jika tak dibarengi setumpuk kontroversi, Anelka dapat mencapai lebih dari itu.

Anelka adalah journeyman. Selama 19 tahun berkarir, total ia memperkuat 12 tim (terlama di Chelsea, yakni dari 2007 sampai 2012). Otomatis bakal banyak cerita. Bahkan sejak usia 17 tahun, Anelka sudah menyulut masalah melalui transfernya dari Paris Saint-Germain (PSG) ke Arsenal yang menyalahi regulasi Liga Prancis terkait kontrak pemain muda. Nantinya, keributan-keributan senantiasa mengiringi, membuatnya tak pernah bertahan lama di satu tempat, dan hampir semua kepindahannya dibarengi masalah.

Baru dua setengah musim di Arsenal, Anelka angkat koper ke Real Madrid, tempat di mana dia merasakan penolakan dari rekan-rekan setim, juga untuk kali pertama, mengalami gesekan dengan media. Sesuatu yang hingga penghujung karir akan terus terulang. Begitu pula di timnas. Walau berhasil meraih double winners bersama Arsenal, pelatih Aimé Jacquet tak membawanya ke Piala Dunia 1998, tatkala Prancis meraih gelar juara di rumah sendiri. “Ini hal biasa”, kata Jacquet singkat kala mengirim sang penyerang pulang. Anelka sakit hati mendengarnya.

Tapi sekali lagi, talentanya tak diragukan. Penampilannya luar biasa, dengan catatan, situasi dan kondisi mendukung. Di Arsenal, ia berhasil menggantikan peran Ian Wright (salah satu striker terbaik sepanjang masa tim) berkat bimbingan Arsène Wenger, yang menurut Anelka, selalu berada di pihaknya. Sewaktu memperkuat Real Madrid di Piala Dunia Antarklub 2000, Anelka sukses menjadi top skorer, padahal performanya di liga mengecewakan. Mengapa? Karena kompetisi tersebut digelar di Brazil, di mana press tak menguntitnya, sehingga Anelka bisa berkonsentrasi total bermain.

Sepanjang film, Anelka yang kala produksi tingga bersama keluarganya di Dubai, memberian pernyataan sebagai interviewee. Tidak ketinggalan muncul adalah berbagai pesohor lapangan hijau seperti Henry, Wenger, Pires, Evra, Petit, Cissé, dan Dacourt. Pun aktor Omar Sy yang kebetulan merupakan teman masa kecil sang pemain turut hadir. Bagi pecinta sepakbola, kehadiran mereka sudah memberi hiburan tersendiri.

Tapi sebagai studi terkait kompleksitas sesosok individu, Anelka: Misunderstood cuma menyentuh permukaan. Banyak konflik cuma numpang lewat, sebutlah era kedua Anelka di PSG, yang hanya dijabarkan sebagai “satu setengah musim yang bermasalah” lewat teks pendek. Sedangkan para narasumber, ketimbang memberi pemahaman baru, seolah muncul sebatas untuk membela Anelka. Kalimat “Dia sebenarnya baik”, atau “Dia pria berpendirian teguh, makanya sering salah dikira arogan dan keras kepala”, bakal sering anda dengar.

Anelka pun demikian. Memang benar, film ini memperlihatkan sosoknya yang paling jujur dan terbuka, namun itu lebih disebabkan selama ini ia dikenal tertutup. Tapi untuk standar dokumenter, ia terasa masih banyak menahan diri. Belum semua kebenaran dalam hati terungkap, walau sejenak, Anelka sempat mengakui beberapa kesalahannya. Bagaimana dahulu ia masih terlalu muda untuk memahami banyak kesempatan yang terbuang akibat perangainya.

Kurang mendalamnya Anelka: Misunderstood paling terasa ketika membahas kontroversi tahun 2013, tatkala Anelka melakukan selebrasi memakai gestur quenelle yang identik dengan antisemitisme, selepas mencetak gol. Isu tersebut adalah persoalan sensitif nan kompleks, yang takkan cukup dipahami hanya dengan paparan singkat sambil lalu.

Lalu tiba kontroversi Piala Dunia 2010, saat Anelka terlibat perselisihan dengan pelatih timnas Prancis, Raymond Domenech, yang berujung aksi mogok latihan seluruh tim, bahkan kehebohan negara. Berisi intrik dan momen mencengangkan, paruh ini menjalankan tugas utama filmnya, yakni membuat penonton menyetujui perspektif bahwa Anelka memang disalahpahami, bahkan korban dari persoalan lebih besar yang menggerogoti timnas Prancis kala itu.

Politik olahraga, manipulasi media, konspirasi organisasi. Di tangah sineas dokumenter yang lebih berpengalaman (ini adalah debut sutradara Éric Hannezo menggarap dokumenter), konflik Piala Dunia 2010 dapat dijadikan perjalanan penuh intensitas, bahkan bukan mustahil, dokumenter panjang tersendiri. Sedangkan untuk Anelka: Misunderstood, saya tak bisa merekomendasikannya bagi penonton umum, tapi bagi pecinta bola, ini adalah hiburan ringan yang membuat kita berharap, suatu hari, nama-nama lain yang urung menggapai puncak dunia akibat kontroversi meski punya bakat luar biasa (Fowler, Cassano, Adriano, Balotelli, Robinho, atau mungkin sang legenda Freddy Adu), dibuatkan dokumenter yang jauh lebih baik.


Available on NETFLIX

REVIEW - SCOOB!

Tahukah anda kalau Scoob! merupakan animasi layar lebar pertama yang mengadaptasi seri Scooby-Doo? Sebelumnya memang ada 33 film animasi yang pernah dibuat, termasuk saat terjadi crossover antara Scooby dengan Batman (Scooby-Doo! & Batman: The Brave and the Bold) dan WWE (Scooby-Doo! WrestleMania Mystery dan Scooby-Doo! and WWE: Curse of the Speed Demon), tapi semuanya berstatus direct-to-video.

Sudah sewajarnya kisah diawali dengan pertemuan perdana Shaggy (Will Forte) dan Scooby-Doo (Frank Welker, satu-satunya pengisi suara original serial animasi Scooby-Doo, Where Are You! yang kembali), tatkala keduanya masih bocah. Jawaban atas pertanyaan “Mana yang lebih dulu ada? Scooby-Doo atau Scooby Snacks?” pun turut diberikan.  Serial animasi Be Cool, Scooby-Doo! juga pernah menyentuh persoalan itu, walau jawaban yang diberikan berbeda.

Selepas satu momen emosional— yang semestinya mendapat payoff andai konklusinya tidak mengalami simplifikasi— menyusul menit demi menit yang bakal membuat para penggemar bernostalgia lewat kemunculan berbagai ciri khas serialnya. Efek suara, signature humor yang melibatkan aksi menyamar guna mengecoh para “hantu”, kalimat “And I would have gotten away with it too, if it weren't for you meddling kids” yang diucapkan penjahat setelah ditangkap, hingga yang terbaik, adalah reka ulang intro disertai lagu tema ikoniknya.

Paruh awal Scoob! berhasil mengembalikan kenangan masa kecil, sekaligus menyulut antusiasme menantikan misteri macam apa yang bakal diselidiki Mystery Inc. kali ini. Dikisahkan, Fred (Zac Efron), Daphne (Amanda Seyfried), dan Velma (Gina Rodriguez), merasa telah tiba waktunya Mystery Inc. berkembang, dengan mengusut kasus-kasus lebih besar demi mendapat lebih banyak uang. Simon Cowell (diperankan Simon sendiri) siap menjadi investor, dengan satu syarat: Shaggy dan Scooby tidak terlibat. Melalui komentar pedas khasnya, Simon merasa keduanya tak berguna bagi tim.

Sakit hati, Shaggy dan Scooby yang tengah meluapkan kekesalan sambil bermain boling malah diserang sekelompok robot kecil milik Dick Dastardly (Jason Isaacs), yang entah kenapa, berusaha menculik Scooby. Beruntung, mereka diselamatkan oleh pahlawan super idola Shaggy sewaktu kecil, Blue Falcon (Mark Wahlberg), beserta robot anjingnya, Dynomutt (Ken Jeong), dan Dee Dee Skyes (Kiersey Clemons) selaku pilot pesawat kebanggaannya, Falcon Fury.

Para penggemar pasti sadar, kalau tokoh-tokoh tersebut, walau termasuk properti Hanna-Barbera, bukan berasal dari seri Scooby-Doo. Alasannya bisa ditebak. Scoob! memang diniati sebagai pembuka menuju Hanna-Barbera cinematic universe. Sebenarnya, crossover ala Avengers adalah prospek menarik, mengingat keunikan masing-masing tokoh. Sayang, serupa deretan cinematic universe lain, upaya membangun masa depan itu justru merusak masa kini.

Scoob! banting setir menjadi film pahlawan super berskala besar. Di luar perihal cinematic universe, membawa serial animasi berdurasi 20-30 menit berisi investigasi misteri ringan diselingi kejar-kejaran dan penamakan “hantu”, ke medium film panjang 94 menit memang perlu modifikasi. Tapi bukan berarti menjadi film pahlawan super penuh aksi bombastis, dengan hanya sekelumit proses memecahkan misteri, yang bahkan terkesan dirangkum paksa melalui barisan eksposisi verbal berbelit-belit.

Bahkan nantinya elemen fantasi turut dimasukkan, membawa Scooby dan kawan-kawan melawan monster sungguhan alih-alih manusia berkedok hantu. Bukankah itu berlawanan dengan esensi serialnya? Lebih ironis lagi, mengingat lahirnya Scooby Doo, Where Are You! didasari niatan Hanna-Barbera membuat kartun tanpa kekerasan demi memuaskan sekelompok orang tua, yang memprotes gelombang tontonan bertema pahlawan super di pertengahan 1960an.

Mengkhianati pondasi? Mungkin saja, tapi minimal, Scoob! tidak digarap asal-asalan. Visualnya memanjakan mata lewat visual tajam berkontras tinggi, yang turut membungkus klimaks yang tampil seru berkat pengarahan dinamis sutradara Tony Cervone. Andai saja usahanya “membangun masa depan” dilakukan secara lebih cermat.

Available on HBO MAX

REVIEW - ORDINARY LOVE

Tom (Liam Neeson) dan Joan (Lesley Manville) telah menikah selama bertahun-tahun. Keseharian mereka? Berdebat (in a playful way) seputar hal-hal trivial. Contohnya tentang alat pembuat jus yang belum mereka punya. Hal itu justru lebih romantis ketimbang ekspresi cinta lain yang sekilas lebih menggebu, misalnya puisi cinta. Keduanya telah berada dalam fase di mana cinta tak perlu lagi diutarakan tiap hari, sebagai hasil kebersamaan jangka panjang. Tapi bukan berarti cinta itu sudah hilang. Malah sebaliknya.

Tom selalu punya stok humor untuk menjawab perkataan Joan, seolah ia tak pernah serius. “Bisakah kamu bersikap normal sekali saja?”, tanya Joan. Tapi kita tahu, “ketidaknormalan” Tom merupakan alasan sang istri betah bertahan sedemikian lama, bahkan pasca suatu tragedi yang menguji kekuatan mereka. Sampai datanglah ujian berikutnya. Joan didiagnosa menderita kanker payudara. Bakal seberat apa tantangan ke depannya? Bagaimana bila skenario terburuk menghampiri? Kekhawatiran pun menguasai pikiran keduanya.

Benar bahwa cerita berpusat pada kanker yang diderita protagonisnya, namun penonton yang mengharapkan tearjerker seperti biasa, kemungkinan bakal kecewa karena mendapati filmnya terlalu “dingin”. Tentu semakin ke belakang intensitas konflik meninggi, tapi secara keseluruhan, ini bukan disease porn yang mengandalkan emosi hiperbola. Ditulis oleh Owen McCafferty yang selama ini berpengalaman melahirkan naskah teater, tak mengejutkan saat Ordinary Love menjadi film yang “chatty”. Mungkin ini hasilnya kalau ada karakter Before Midnight yang terkena kanker.

Tom dan Joan berbicara lirih, bahkan sesekali berbisik. Kamera pun tak pernah mengambil jarak terlalu jauh dari keduanya, hanya bergerak bila diperlukan, itu pun dalam tempo lambat, seolah duo sutradara Lisa Barros D'Sa dan Glenn Leyburn ingin menempatkan penonton di ruang intim kedua protagonis. Sedangkan musik garapan David Holmes (Ocean’s Eleven, Hunger, Logan Lucky) memperdengarkan nada-nada familiar lewat iringan piano melankolis, sesekali ditambah synth bernuansa dreamy.

Seperti telah disebutkan, Tom dan Joan cenderung membicarakan hal-hal trivial dengan banyak canda. Bahkan setelah proses kemo berjalan, celetukan-celetukan Tom masih setia membuat Joan (dan penonton) tertawa. Semuanya nampak.....ordinary. Sekilas tak ada yang luar biasa, namun bukan berarti tak spesial. Because love, even in its most ordinary form, is already extraordinary.

Biarpun pendekatannya menjauhi keklisean disease porn, Ordinary Love rupanya masih sempat terjebak template. Di tengah perawatan, Joan bertemu Peter (David Wilmot), mantan guru puterinya, yang menderita kanker stadium akhir. Sementara Tom (hanya di satu sekuen), sempat berbagi rasa dengan pasangan Peter, Steve (Amit Shah). Pertemuan dua individu bernasib sama yang berujung saling menguatkan adalah elemen familiar dalam film bertema penyakit. Ordinary Love tak memberi pembeda, pun seolah cuma memasukkannya demi memenuhi kewajiban semata, tanpa menghasilkan dampak signifikan, entah berupa emosi maupun pemahaman lebih terkait menghadapi kanker.

Neeson tampil baik, mengingatkan bahwa meski belakangan lebih dikenal sebagai jagoan laga, ia lebih dulu angkat nama sebagai aktor penuh sensitivitas. Kali ini suara beratnya tak dipakai untuk mengintimidasi kriminal, melainkan meneduhkan hati sang istri lewat ungkapan kasih sayang. Sementara dari Manville, kita mampu merasakan bahwa setumpuk hal berkecamuk di hati Joan, walau dari luar tidak terlihat. Dan ketika— seperti adegan pembukanya —Ordinary Love menutup kisah saat Natal untuk menciptakan satu lingkaran penuh, kita pun tahu bahwa bukan cuma latar waktunya yang “tak berubah”, cinta mereka pun demikian.


Available on HULU

REVIEW - SPACESHIP EARTH

Sebenarnya sah-sah saja ketika sebuah dokumenter hanya mengangkat, atau cenderung memihak pada satu sisi. Menjadi kurang utuh di saat masalah yang diangkat merupakan kontroversi sarat pro-kontra yang tak pernah mencapai titik temu. Karena di situ, dialog antar sisi justru memperkaya pemahaman. Memihak salah satunya, bakal memunculkan kesan kampanye atau propaganda. Tapi sekali lagi, saya tidak memakai kata “salah”, melainkan “kurang utuh”. Bukan sebuah dosa, hanya saja begitu film usai, penonton akan mengharapkan lebih banyak.

Begitulah Spaceship Earth garapan Matt Wolf. Dokumenter tentang proyek Biosphere 2, di mana kubah raksasa sebagai replika ekosistem Bumi diciptakan, selaku eksperimen guna mencari tahu seberapa besar kemungkinan manusia dapat hidup di planet lain. Proyek tersebut berlangsung pada 26 September 1991, ketika delapan partisipan (disebut “biospherians”), harus tinggal di dalam kubah selama dua tahun, sepenuhnya terpisah dari dunia luar. Setidaknya begitulah tujuan awalnya.

Tapi proyek Biosphere 2 baru kita temui saat film menginjak durasi sekitar satu jam. Sebelumnya, penonton dibawa mundur ke tahun 1960-an, melihat bagaimana sekelompok hippies hidup secara komunal di bawah komando John P. Allen. Tapi alih-alih menikmati hidup tanpa beban sambil menghisap ganja, para hippies ini menjalankan misi-misi, yang semakin lama, skalanya semakin besar.

Diawali pendirian grup teater, menjalankan peternakan, berlayar menggunakan kapal buatan sendiri, kemudian menjalankan berbagai bisnis di banyak negara, dari hotel di Kathmandu hingga galeri seni di London. Pertunjukan teater di Antartika pun sempat dilakoni. Menariknya, tak satu pun dari mereka berstatus ekspertis. Tiap misi dijalankan bermodal semangat komunal, bahwa jika dilakukan bersama, kemustahilan dapat ditiadakan.

Pada titik ini Spaceship Earth dipenuhi momen mengagumkan, yang bisa membuat penonton lupa kalau Wolf tak memberi kita kesempatan mengenal lebih jauh deretan narasumbernya, juga dinamika hubungan mereka. Semua bergerak cepat, sampai akhirnya dicetuskanlah misi terbaru sekaligus terbesar: membangun Biosphere 2 (Jika anda mempertanyakan wujud Biosphere 1, jawabannya adalah Bumi itu sendiri). Disokong suntikan dana dari Ed Bass yang konon mencapai 200 juta dollar, dibangunlah replika Bumi. Oksigen, air, tumbuhan, hewan, bahkan miniatur laut lengkap dengan biota-biotanya, semua tersedia.

Wajar bila anda merasa bak tengah menonton film fiksi-ilmiah. Pelakunya pun menyebut misi mereka sebagai “science without fiction”. Dibarengi voice over yang kerap berisi kalimat bernada ambisius, menonton Spaceship Earth terasa seperti sedang mendengarkan dongeng berlatar masa depan, seputar hasrat manusia mencapai keagungan. Kemudian muncul pertanyaan. Apakah ini murni riset ilmiah, atau ambisi manusia bermain Tuhan?

Kontroversi lain turut mencuat, khususnya mengenai keakuratan eksperimen itu dari sudut pandang sains. Belum lagi sewaktu ditengarai terjadi aktivitas yang menyalahi aturan eksperimen begitu kedelapan Biospherians mulai mengalami kesulitan (kurangnya asupan oksigen dan pangan jadi kendala terbesar). Isu-isu tersebut dimunculkan, tapi terkesan hanya sebagai formalitas belaka. Begitu tiba saatnya dua sisi dibenturkan, filmnya masih sibuk memperdengarkan opini narasumber, yang masih berkutat soal “betapa luar biasa misi ini”.

Sudut pandang kontra hanya ditampilkan melalui stok footage berita atau sekilas wawancara dari masa lampau. Sedangkan narasumber yang khusus diwawancari demi film ini, semua berasal dari pelaku misi, alias bawahan John, yang sempat dituduh menciptakan kelompok cult. Setiap mencuat isu baru, filmnya entah buru-buru mengalihkan fokus tanpa membahasnya lebih jauh, atau memberi kesempatan narasumber, termasuk John sendiri, menyampaikan pembenaran.

Sekali lagi, itu bukanlah dosa. Mungkin saja ini memang sebuah branding. Apalagi, ditinjau dari segi teknis, pencapaian Spaceship Earth tidak main-main. Entah berapa ratus (atau mungkin ribu) jam stok rekaman yang mesti diolah David Teague selaku editor untuk menghasilkan susunan rapi semacam ini, walau sempat tersandung masalah pacing. Tapi jangan berharap melalui dokumenter ini bersedia merangkum aneka perspektif. Pada akhirnya, John P. Allen tetaplah sosok revolusioner jenius yang disalahartikan.


Available on HULU

REVIEW - SHAKUNTALA DEVI

Alphabet? So much confusion. Number? No confusion. What you see is what you getting”. Demikian ucap Shakuntala Devi (Vidya Balan). Sayangnya manusia tidak sesederhana itu. Angka bisa dilihat hanya sebagai angka, namun individu jauh lebih kompleks. Melalui biografi garapan sutradara Anu Menon ini, sinema India kembali memperlihatkan kapasitasnya berlaku adil serta mengedepankan hati dalam menangani isu kemanusiaan, meski presentasinya tak senantiasa mulus.

Shakuntala Devi dibuka saat Anupama Banerji (Sanya Malhotra), puteri Shakuntala, bersiap memperkarakan sang ibu ke pengadilan. Mengapa? Guna menjawab itu, filmnya membawa kita jauh ke belakang, tepatnya sejak Shakuntala kecil (Araina Nand) mulai menunjukkan tanda-tanda sebagai seorang jenius di bidang matematika. Melihat bakat Shakuntala, ayahnya, Bishaw Mitra Mani (Prakash Belawadi), membawa puterinya berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain sebagai bentuk pertunjukan. Di sana, Shakuntala bakal menjawab soal-soal rumit yang diajukan guru, dan setiap pertunjukan selalu berujung kesuksesan, tepuk tangan meriah, serta sedikit uang untuk sang ayah.

Sebuah eksploitasi? Mungkin. Pastinya, Shakuntala menikmati itu, biarpun ia harus kehilangan masa kecil. Kehilangan yang memukulnya adalah sewaktu sang kakak, Sharada (Jiya Shah), meninggal. Sharada memang sudah lama sakit-sakitan. Jangankan membawanya ke rumah sakit, uang hasil pertunjukan Shakuntala pun cuma cukup membiayai kebutuhan pokok sehari-hari. Shakuntala menyalahkan orang tuanya atas kematian Sharada, khususnya sang ibu (Ipshita Chakraborty Singh), yang menurutnya, hanya bisa diam. Hari itu Shakuntala bersumpah akan menjadi “a very big woman”.

Menyusul berikutnya adalah perjalanan Shakuntala mewujudkan impian tersebut. Dari bocah kampung miskin yang tak mengenyam pendidikan, ia menjadi jenius matematika terkenal kelas dunia, mendapat julukan “Manusia Komputer” setelah mengalahkan komputer canggih dalam pertandingan hitung menghitung, mencatatkan namanya di buku rekor dunia selepas menyelesaikan perkalian 13 digit angka (7.686.369.774,870 × 2.465.099.745.779) dalam 28 detik, menemukan metode menghitung cepat sebagaimana kini banyak dipakai lembaga bimbingan belajar, menjadi astrologer, menulis buku, bahkan sempat menjajal politik.

Sebagai “bonus”, sepanjang perjalanan protagonisnya, film ini sesekali menyentuh beberapa isu sosial, seperti rasisme hingga peran gender. “Kenapa laki-laki selalu ingin merasa dibutuhkan oleh perempuan?”, tanya Shakuntala. Tapi perjalanan Shakuntala bukan satu-satunya hal yang coba diangkat. Shakuntala Devi berambisi tampil lebih. Sayangnya, lebih dari yang filmnya mampu.

Alurnya terus bergerak bolak-balik antara masa lalu dan kini, di mana kedua masa bak cerminan satu sama lain. Kita sudah melihat bagaimana masa kecil Shakuntala mempengaruhi proses tumbuh kembangnya, membuatnya bersumpah akan menjadi ibu yang lebih baik. Ironisnya, keinginan itu justru menciptakan pengulangan. Shakuntala ingin hadir dalam hidup Anupama. Dia ingin, puterinya tumbuh sebagai “a very big woman”, sama sepertinya. Tapi sebagaimana Shakuntala sendiri, itulah penyebab Anupama membenci dan ingin menjadi sosok yang sama sekali berbeda dari ibunya.

Anu Menon ingin filmnya tampil bertenaga. Tempo cepat ditambah iringan musik rancak pun dipakai. Benar bahwa pilihan gaya tersebut membuat Shakuntala Devi terkesan dinamis, tapi Anu berusaha terlalu keras memacu pergerakan cerita. Akibatnya, kala dipertemukan dengan penyuntingan buruk, aliran alurnya pun terasa buru-buru, liar, dan kasar. Bangunan emosi dari keterkaitan tiap linimasa tak seutuhnya tersalurkan, sebab tiap peristiwa gagal dijembatani dengan baik. Pun naskah yang Anu tulis bersama Nayanika Mahtani dan Ishita Moitra kurang piawai perihal menyeimbangkan fokus, kapan harus menjadi potret seorang Shakuntala Devi (yang mana dapat melahirkan sebuah film tersendiri), kapan menggambarkan bagaimana rasanya menjadi puteri seorang Shakuntala Devi.

Padahal, “balancing” merupakan tujuan film ini. Sebuah intensi yang baik, sebab ketimbang menyalahkan salah satu pihak, Anu berusaha mengajak penonton memahami keduanya tanpa menjustifikasi kesalahan masing-masing. Baik Shakuntala maupun Anupama menyimpan alasan di balik sikap mereka, hanya saja, tersulut benturan akibat kelalaian memandang satu sama lain sebagai individu yang berdiri sendiri dan terpisah dari pengotakkan peran (Ibu mestinya seperti ini, anak harusnya seperti itu). Pesan di atas mungkin takkan semudah itu meresap di otak penonton akibat ketidakmulusan penceritaan, tapi soal menyentuh hati, pengarahan Anu Menon, khususnya di babak konklusi, berhasil melahirkan momen-momen hangat yang melibatkan ibu dan anak.

Satu hal yang saya apresiasi adalah, sebagai biografi, Shakuntala Devi tidak ragu menampilkan deretan kelemahan protagonisnya, dan menjauh dari kesan mengultuskan. Kesan yang turut dibantu oleh penampilan gemilang Vidya Balan, yang secara meyakinkan, memainkan sosok jenius penuh kepercayaan diri dan tak jarang terkesan sombong, yang meski selalu tahu cara menyelesaikan masalah matematika, kerap tenggelam dalam ketidaktahuan bila dihadapkan pada masalah interpersonal, yang coba ia tutupi lewat senyum atau tawa. Shakuntala tidak paham, kenapa orang lain tak melihat dunia sebagaimana dirinya. Karena berbeda dengan angka, realita hidup tak selalu seperti apa yang nampak.


Available on PRIME VIDEO