MOVFREAK ON UC NEWS (LAST UPDATED ON OCTOBER 20, 2017)

Sejak akhir Juni lalu, saya diundang oleh UC News untuk menyumbangkan tulisan bertema religi...maksud saya film. Awalnya saya hanya mempublikasikan ulang review blog ini, sampai tercetus niat untuk fokus pada pembuatan list film, yang mana sering pembaca blog ini minta tapi karena satu dan lain hal (baca: penulisnya pemalas) jarang terpenuhi. Kenapa tidak sekalian membuat list juga di sini? Tidak lain demi menjaga orisinalitas kedua media, sebab pernah artikel saya ditolak karena sistem menyatakan tulisan itu hasil jiplakan dari web movfreak.blogspot.com (lol).

Maka dari itu, jika ada list yang kalian ingin saya buat, silahkan request, bisa di kolom komentar ini atau artikel saya di UC News. Untuk mengakses tulisan di sana, bisa mengunduh aplikasi UC News di smartphone, lalu cari dan ikuti akun "Movfreak". Atau cukup dengan mengikuti postingan ini yang akan selalu saya update tiap ada artikel baru dan akan selalu disematkan di halaman paling atas blog. Dan karena perbedaan media publikasi, gaya penulisan yang saya pakai pun (mostly) berbeda. Silahkan request sebanyak-banyaknya, makin unik makin baik, agar memudahkan saya membuat judul clickbait daftar menarik. Tenang, review tetap saya publikasikan di sini (afterall, this is my home, and all of you, my readers, are the lovely guests).

Berikut beberapa judul yang sudah ada sejauh ini yang akan rutin diperbaharui (klik untuk menuju tautan):

ONLY THE BRAVE (2017)

Pada era di mana banyak penjahat kemanusiaan menggenggam kekuasaan seperti sekarang, segala bentuk heroisme, tanpa peduli oleh siapa atau sekecil apa, patut diceritakan dan dirayakan. Only the Brave, yang menandai peralihan sutradara Joseph Kosinski dari gelaran fiksi ilmiah (Tron: Legacy, Oblivion) menuju paparan kepahlawanan lebih membumi termasuk salah satunya. Mengangkat kisah nyata tentang pemadam kebakaran hutan Granite Mountain Hotshots kala berjuang menaklukkan api di Yarnell pada 2013, film ini adalah penghormatan menggugah yang tak lupa memanusiakan objeknya.

Dipimpin oleh Eric Marsh (Josh Brolin), Granite Mountain Hotshots mengawali karir mereka dari trainee yang diremehkan, sampai akhirnya berkesempatan membuktikan kapasitas dan mendapat status elit (Hotshots). Turut bergabung belakangan adalah Brendan "Donut" McDonough (Miles Teller), mantan pecandu yang berniat memperbaiki diri pasca sang kekasih mengandung anaknya. Para pria pemberani ini memang tak sendiri. Keluarga, dari kekasih, istri, anak, orang tua, setia berdiri di samping memberi dukungan. Ini bukan saja soal memadamkan api, juga tentang orang-orang terkasih.
Itu sebabnya 133 menit durasi tidak cuma diisi aksi memadamkan api   yang terlihat meyakinkan berkat tata lokasi apik plus CGI tepat guna meski hanya punya bujet $38 juta   juga drama intim terkait keluarga, dengan penempatan fokus untuk Donut dan Eric, yang hidup berdua bersama istrinya, Amanda (Jennifer Connelly). Khususnya hubungan Eric-Amanda, naskah karya Ken Nolan (Black Hawk Down, Transformers: The Last Knight) dan Eric Warren Singer (American Hustle) cermat membangun konflik secara natural. Progres bergerak dari harmoni sepasang suami istri menuju perbedaan pandangan pemicu perdebatan yang disusun bertahap melalui rangkaian pembicaraan.

Akting memegang kunci keberhasilan interaksi. Melihat Brolin si pemimpin tangguh di lapangan bertukar dialog dengan Connelly yang menunjukkan kekuatan seorang wanita mandiri layaknya memasuki ruang personal yang mengikat. Demikian pula ketika dua aktor penuh kematangan, Brolin dan Jeff Bridges menghadirkan aliran perbincangan nikmat. Miles Teller dengan kelembutan non-verbal seperti saat memeluk sang buah hati ditambah luapan emosi yang menyesakkan dada di penghujung film berhasil mengimbangi seniornya. Begitu pula Taylor Kitsch sebagai MacKenzie beberapa kali memancing tawa, membuktikan ia punya jangkauan akting lebih luas.
Solidnya departemen akting dan naskah menutupi fakta bahwa Kosinski belum cukup jago menangani kehangatan situasi dalam drama, apalagi ketika terdapat selipan humor. Beberapa pengadeganan canggung hingga transisi kasar yang menyebabkan kurang lembutnya perpindahan tone. Untungnya, mencapai pertengahan lubang-lubang di atas tak lagi muncul. Narasi bergerak lancar menyatukan sensitivitas kisah kasih keluarga dan kepahlawanan sambil sesekali diselingi gelak tawa penyegar suasana. Kita dibuat mengenal betul para tokoh utama, yang mana jadi bekal menjelang klimaks.

Baik untuk penonton yang telah mengetahui konklusi kejadian nyatanya maupun yang belum, third act film ini sungguh mengobrak-abrik emosi. Selain kepedulian pada karakter, akhirnya penyutradaraan Kosinski menemukan taji, perlahan membangun ketegangan ketika misi pemadaman api di Yarnell yang awalnya dipandang mudah mulai mencuatkan satu demi satu rintangan bagi Granite Mountain Hotshots. Puncaknya yakni satu shot pasca kebakaran berlalu, yang berkat sinematografi Claudio Miranda (Life of Pi, Oblivion), mampu mencabik-cabik perasaan. Sebagaimana jasa Granite Mountain Hotshots yang selalu dikenang, shot tersebut takkan mudah hilang dari ingatan. Heartbreaking.

SECRET SUPERSTAR (2017)

Adalah kekeliruan menganggap melodrama tearjerker berbanding terbalik dengan kualitas. Ada kalanya perasaan perlu diluapkan sejadi-jadinya, seperti paparan kasih sayang dari dan untuk ibu sebagaimana dalam Secret Superstar yang juga mengangkat pesan penting terkait women empowerment. Melebih-lebihkan momen dramatik alih-alih berpijak pada realisme situasi jadi senjata, tetapi sutradara Advait Chandan punya cukup sensibilitas juga (kemungkinan) ikatan personal akan kisahnya, hingga mampu menusuk di titik emosi yang tepat. Durasi sepanjang 150 menit pun bukan suatu perjalanan panjang dibuatnya.

Upaya mengejar mimpi setinggi langit di tengah beragam keterbatasan. Sebuah tema familiar yang takkan pernah usang, sebab sampai kapan pun mimpi memberi motivasi kehidupan manusia. Begitu yang kerap diutarakan Najma (Meher Vij) kepada puterinya, Insia (Zaira Wasim) yang diberkati suara emas dan bercita-cita menjadi penyanyi ternama. Namun impian itu senantiasa terbentur dinding luar biasa tebal dalam sosok sang ayah, Farookh (Raj Arjun). Farookh merupakan segala perwujudan toxic masculinity dan bully. Dilarangnya Insia bermain gitar, sesuka hati memperlakukan Najma layaknya budak, bahkan sampai melakukan kekerasan fisik. 
Chandan tak setengah-setengah menampilkan kekejaman Farookh, memastikan penonton memandangnya sebagai sampah paling menjijikkan yang pantas dibenci, supaya di saat bersamaan, timbul kepedulian pada dua tokoh utama wanita. Tapi lepas dari kekangan Farookh bukan perkara gampang, khususnya bagi Najma yang tetap mempertimbangkan kelangsungan hidup Insia dan sang adik, Guddu (Kabir Sajid). Nantinya konklusi bakal total melunasi seluruh kegeraman kita, tapi sebelum itu ada proses berliku yang harus Insia lalui demi meraih mimpi.

Arah cerita yang Chandan tulis sendiri memang bisa ditebak dari poin terkecil sampai yang signifikan. Misalnya sewaktu Najma mendapat ide agar Insia mampu memamerkan kehebatan bernyanyi ke seluruh dunia melalui kanal YouTube. Agar tak diketahui Farookh, Insia merekam video memakai cadar dan mengusung nama "Secret Superstar". Talentanya cepat tersebar luas, termasuk ke telinga Shakti Kumaar (Aamir Khan), penyanyi/penulis lagu kontroversial yang tengah direcoki urusan perceraian pasca perselingkuhannya dengan tiga wanita di waktu bersamaan terungkap.
Perspektif Secret Superstar sederhana, namun merupakan pondasi sekaligus hal paling sustansial perihal isu yang diangkat, bahwa semua orang termasuk wanita berhak menjalani hidup sesuai keinginan, menggapai mimpi tanpa diganggu represi. Jelas seluruh penontonnya tahu permasalahan tersebut, dan filmnya memang tak bertujuan memancing sudut pandang baru. Tapi faktanya, poin mendasar itu pun masih sering dilanggar. Patriarki menguasai, hak wanita (dan anak) dikebiri. Itulah alasan filmnya penting disimak. Namun Secret Superstar pun enggan serta merta memukul rata sosok pria. Jalan menebus dosa terbuka lapang, seperti yang dialami Shakti kala tergerak menolong Insia.

Bagi beberapa pihak, kesan cheesy mungkin menghalangi tersulutnya emosi, tapi Chandan tak sekedar mendramatisasi. Diselipkan pula hati dalam situasi relatable penggugah rasa siapa saja yang pernah mendapati perjuangan ibu. Meher Vij sempurna sebagai ibu yang tulus tersenyum lebar menyaksikan puterinya bahagia, walau di balik itu terpampang jelas setumpuk penderitaan. Performanya terkoneksi dengan penonton. Dia tersenyum, kita tersenyum. Dia menangis, kita berurai air mata. Dia berdiri tegak, kita bersorak. Pujian serupa patut dialamatkan untuk Zaira Wasim lewat penampilan believable selaku gadis muda yang dipaksa mengambil keputusan dewasa. Sedangkan Aamir Khan melalui kenakalan ekspresi serta keluwesan memamerkan gerakan kocak jadi injeksi yang dibutuhkan guna menyegarkan suasana. Apabila nomor-nomor balada dihidupkan oleh Wasim, Khan mewakili energi Sexy Baliye. Superhit!

DEVIL'S WHISPER (2017)

Hasil kolaborasi MD Pictures dengan Vega, Baby! yang di Amerika dirilis langsung dalam bentuk home video pada 3 Oktober ini sejatinya menyimpan potensi. Naskah tulisan Oliver Robins dan Paul Todisco yang didasari cerita dari Adam Ripp (juga selaku sutradara) coba menonjolkan gejolak psikis sosok religius kala iblis menggoda imannya, ketimbang semata meneror lewat trik murahan. Namun, baik kedangkalan eksplorasi naskah sampai kurang cakapnya sutradara memainkan dinamika menghalangi terlaksananya niat baik tersebut. 

Protaonis kita adalah Alex (Luca Oriel), remaja 15 tahun dari keluarga religius. Maka tak mengherankan apabila ia bercita-cita menjadi Pastor. Walau taat beragama, orang tua Alex tidaklah kolot, seperti tampak pada doa bersama sebelum makan yang diisi canda tawa. Begitu pula Alex, yang di sela-sela kegiatan agama masih sempat nongkrong bersama teman-teman sambil minum bir, atau mengencani gadis pujaannya, Lia (Jasper Polish). Segalanya berubah saat ia menemukan kotak kayu misterius peninggalan mendiang neneknya. Bisa ditebak, iblis bersemayam dalam kotak itu, dan siap menggiring Alex menuju kegelapan.
Devil's Whisper menghabiskan mayoritas waktu menampilkan terkikisnya iman Alex secara bertahap, seiring penampakan sosok misterius yang hanya terlihat oleh dirinya. Sehingga wajar jika kedua orang tuanya yakin kejiwaan putera mereka terganggu. Sayangnya, penonton urung diseret pada pertanyaan "apakah Alex memang diganggu iblis atau punya gangguan mental?". Penonton diposisikan sebagai pihak serba tahu, tanpa dirundung kebingungan serupa karakternya. Pilihan ini melemahkan unsur psikologis kisahnya, pun membuat beberapa paparan poin sia-sia, misalnya soal peristiwa traumatik di masa kecil Alex.

Naskah Robbins dan Todisco gemar melempar fakta atau peristiwa, lalu tak lagi membahasnya. Keputusan Alex menceritakan gangguan iblis pada sahabat-sahabatnya maupun Pastor Cutler  (Rick Ravanello) yang menderita PTSD jadi beberapa di antaranya. Naskahnya berambisi merangkum sebanyak mungkin persoalan tanpa tahu mesti dibawa ke mana. Dampaknya turut mengenai perihal narasi yang gerakannya kurang mulus. Ditambah lagi kegemaran film ini memakai blackout sebagai transisi, terlampau sering menghadapkan penonton pada layar gelap, menjadikan tersendatnya aliran alur.
Keengganan untuk hanya mengandalkan jump scare patut diapresiasi walau urung diimbangi kekuatan naskah serta pengadeganan. Minimnya jump scare memaksa Devil's Whisper bergantung akan aspek lain seperti atmosfer maupun visual mengerikan, namun Adam Ripp sendiri belum piawai menakut-nakuti penonton. Sosok iblis beserta tindak-tanduknya terlalu plain untuk dapat menghasilkan scary imagery, sementara pacing-nya cenderung monoton, bagai tidak memiliki tenaga. Pengaruh paling fatal hadir dalam klimaks canggung, yang hanya mempunyai ketegangan setingkat pertengkaran keluarga daripada konfrontasi melawan iblis.

Para pemain tampil sesuai proporsi termasuk Luna Maya sebagai Dr. Dian, psikolog dengan penokohan klise yang tugasnya sebatas bicara dengan tenang. Beban terbesar diemban Luca Oriel. Setidaknya sang aktor mampu mendukung pendekatan "realis" filmnya atas konsep "kemasukan setan". Alex tak memperlihatkan perilaku absurd layaknya cara mayoritas film menunjukkan fenomena kesurupan. Dia mengalami ketidakstabilan emosi, intensi membunuh dan bunuh diri, tak ubahnya manusia biasa yang menderita gangguan psikis. Inilah mengapa penggalian dangkal Devil's Whisper terhadap sisi psikologis patut disayangkan. Potensi besar pun berakhir sia-sia. 

HAPPY DEATH DAY (2017)

"It's my birthday, and I'm gonna pick up the phone". Lirik nada dering super catchy tersebut niscaya melekat erat, baik di kepala penonton maupun Theresa alias Tree (Jessica Rothe) si tokoh utama. Bagaimana tidak? Lagu itu setia menyambut Tree bangun dari tidurnya, di satu pagi yang sama secara berulang-ulang dalam film yang mempertemukan unsur time loop ala Groundhog Day dengan slasher remaja akhir 90-an macam Scream hingga I Know What You Did Last Summer ini. Dan seperti judul-judul itu melambungkan Neve Campbell dan Jennifer Love Hewitt, Happy Death Day bakal mendorong popularitas Jessica Rothe yang sempat pula memainkan peran kecil di La La Land.

Tree mewakili ciri atau tepatnya stereotip mahasiswi anggota sorority: angkuh, tidak ramah, sangat memperhatikan penampilan. Diperlihatkan jelas oleh adegan pembuka berupa rutinitas Tree, dari terbangun di kamar Carter (Israel Broussard) setelah mabuk berat semalaman, membuang cupcake selaku kejutan ulang tahun untuknya yang dibuat Lori (Ruby Modine) si teman sekamar, sampai berselingkuh dengan dosen. Alhasil ketika di malam hari sosok bertopeng membunuhnya, kita tahu bahwa semua orang adalah tersangka yang punya motif. Bersama Tree yang kembali terbangun dan menjalani hari kematiannya terus menerus, kita digiring pada teka-teki mengenai identitas pelaku.
Tree percaya lingkaran waktu tersebut hanya akan berhenti begitu jati diri pelaku terungkap. Setiap kesempatan dia pakai guna mencari petunjuk sembari berusaha menyelamatkan diri. Tapi naskah garapan Scott Lobdell kurang memanfaatkan konsep time loop, baik dalam perihal pencarian petunjuk atau variasi situasi. Satu per satu kematian seharusnya menjadi proses tokohnya belajar memecahkan misteri sekaligus mengakali sang pembunuh. Namun seolah ikut terjebak di repetisi waktu, Happy Death Day sekedar mengulang kematian Tree dengan modifikasi minim signifikansi yang mayoritas hanya mengubah lokasi kematian. Padahal, terdapat setumpuk probabilitas yang menarik dimainkan secara kreatif.

Filmnya pun cukup lemah soal presentasi slasher dan trik menakut-nakuti. Sutradara Christopher B. Landon yang berpengalaman menulis empat seri Paranormal Activity mengandalkan segelintir jump scare medioker tanpa ketegangan plus metode pembunuhan tak kreatif (salah satu daya tarik slasher) yang makin kehilangan tenaga akibat usaha mendapatkan rating PG-13. Bisa ditebak, eksekusinya terlampau jinak di mana blackout sesaat sebelum Tree terbunuh jadi andalan. Menariknya, Landon dan Lobdell justru lebih piawai bersenang-senang menangani situasi komedik ketimbang ketegangan serius sisi horornya. 
Bergerak lambat di paruh pertama, memasuki 40 menit durasi, diawali montage saat Tree mulai beradaptasi di lingkaran waktu diiringi Confident milik Demi Lovato, Happy Death Day pun mulai menemukan pesonanya. Pengadeganan Landon dibantu penyuntingan oleh Gregory Plotkin berubah dinamis, sementara Lobdell bagai terfasilitasi menuangkan sederet banyolan, semisal "Stop staring at me like I just took a dump on your mom’s head" selaku respon Tree atas kebingungan Carter kala mendengar ceritanya tentang time loop, yang bukan mustahil jadi salah satu kalimat paling lucu tahun ini.

Tapi highlight film ini tentu Jessica Rothe. Melalui ucapan pedas atau lontaran bernada ironi khas komedi gelap lewat gaya deadpan, kemampuan menyulap kata-kata sederhana (contoh: Silence!) terdengar menggelitik pula adorable, hingga ketepatan ekspresi yang membuat adegan mengintip pun nampak begitu lucu, Rothe melapangkan jalan untuk "naik kelas". As a "scream queen", every scream is an over-the-top, hillarious hysteria. Happy Death Day membalut kisahnya dengan drama soal menjadi seseorang yang lebih baik demi masa depan yang lebih baik. Kini masa depan terlihat amat benderang bagi Jessica Rothe. 

BEATRIZ AT DINNER (2017)

Pada sekuen pembuka yang berfungsi memaparkan identitas Beatriz (Salma Hayek) selaku protagonis, pekerjaannya sebagai terapis pijat, serta minggunya yang berat pasca kambing peliharaannya dibunuh oleh seorang tetangga, kita juga diperlihatkan patung Budha dan gambar Maria berdampingan menghiasi mobilnya. Suatu cara gamblang guna menjelaskan bahwa tokoh Beatriz adalah liberal. Filmnya sendiri merupakan usaha sutradara Miguel Arteta bersama penulis naskah Mike White, di kolaborasi kedua mereka setelah Chuck & Buck dan The Good Girl, membuat dramedy yang sayangnya terlampau on-the-nose pula dangkal untuk bisa menggelitik maupun memancing pemikiran.

Seusai melayani kliennya, Kathy (Connie Britton), Beatriz terpaksa menunda kepulangan karena mobilnya rusak. Kathy pun menawarkannya tinggal, mengikuti jamuan makan malam bersama beberapa rekannya, para pebisnis sukses. Berasal dari "dunia berbeda" dan memakai pakaian seadanya, tak mengejutkan kala Beatriz kesulitan berbaur walau Kathy berulang kali memberi puja-puji atas jasa Beatriz membantu kesembuhan sang puteri dari kanker. Kita pernah ada di situasi serupa. Merasa sendiri di antara keramaian saat terjebak di tengah riuh rendah perbincangan sekelompok orang asing yang begitu berbeda dengan kita. 
Kawan-kawan Kathy nampak ramah (setidaknya di awal), namun semakin banyak Beatriz bicara soal pekerjaan dan reinkarnasi, bertambah tebal tembok pemisah, semakin terasing pula Beatriz. Tapi Beatriz at Dinner tidak berhenti sampai presentasi situasi canggung yang familiar itu. Konflik tereskalasi begitu tokoh utama bersinggungan dengan Doug (John Lithgow), pengusaha yang bergerak di bidang pembangunan hotel dan kerap terlibat kontroversi terkait penggusuran juga keengganan memperhatikan kesejahteraan karyawan. Fase ini pun menarik, sebab (lagi-lagi) besar kemungkinan penonton pun pernah (terpaksa) menghadapi sosok yang berlawanan dengan prinsip mereka.

Masalahnya, obrolan yang disusun gagal menjadi observasi memikat yang sanggup mengikat akibat dialog dangkal dari para tokoh, yang seiring durasi makin menjadi dua dimensi. Mana hitam dan putih terpampang terlalu jelas. Alhasil bukan pertukaran opini dinamis yang tersaji, melainkan kemalasan eksplorasi berbentuk eksploitasi akan ketidakberdayaan. Filmnya mengambil cara murahan kala melukiskan Beatriz sebagai "sosok putih" nan polos yang selalu bicara kebaikan dan disudutkan oleh kedigdayaan lawan bicaranya, para kapitalis. Namun Beatriz sendiri, dengan segala omongan yang terkesan tak tentu arah plus timing bicara semaunya, juga bukan tokoh simpatik terlepas dari maksud baiknya.
Melalui naskahnya, White bagai tak merasa perlu memberi Beatriz bobot argumentasi, berharap penonton otomatis mendukung karena tujuan mulianya. Tapi Beatriz at Dinner adalah drama berbasis dialog yang mestinya menggiring persepsi penonton lewat kalimat, bukan semata-mata berharap belas kasih. Isu "kapitalisme versus humanisme" atau secara lebih umum "ego versus hati" merupakan hal kompleks yang penting dibahas demi mencari jalan keluar. Alih-alih menawarkan jalan tersebut, film ini memilih menghadapi kompleksitas dengan pola pikir dangkal, sebatas berhenti pada "bunuh atau dibunuh".

Padahal Salma Hayek menawarkan salah satu performa terbaik sepanjang karirnya. Berpenampilan lusuh, mata yang seolah hanya mengenal kebaikan dan keburukan tanpa keabu-abuan, sampai gerak minimalis semisal tangan yang nyaris tak berubah posisi kala berjalan, sang aktris tenggelam dalam peran yang sungguh berkebalikan dengan glamoritasnya sebagai mega bintang. Tidak seperti filmnya yang menyederhanakan gagasan ceritanya, Hayek total menangani karakter Beatriz.

GEOSTORM (2017)

Apa pemicu utama keberhasilan disaster film? Bukan semata bujet besar. Ingat, The Impossible berhasil secara meyakinkan mereka ulang tsunami tahun 2004 walau hanya punya anggaran 45 juta dollar. Menempatkan bencana di atas unsur lain dan membawa penonton berada di tengahnya adalah poin terpenting. Sehingga saat Geostorm tak pernah merealisasikan situasi maut seperti yang dijanjikan, artinya debut penyutradaraan Dean Devlin ini gagal memenuhi hakikatnya. Tidak mengejutkan, sebab filmnya sudah empat kali berganti tanggal rilis, salah satunya akibat hasil test screening buruk yang memaksa pengambilan gambar ulang dilakukan.

Adegan pembukanya menjanjikan, mengisahkan upaya kerja sama 17 negara menciptakan satelit pengontrol cuaca bernama "Dutch Boy" demi menghentikan bencana global. Jake Lawson (Gerard Butler) merupakan pimpinan proyek tersebut. Tetapi begitu akhirnya kondisi aman, Jake justru "ditendang" dari tim, digantikan oleh adiknya, Max (Jim Sturgess). Sifat manusia yang bersedia bersatu kala dirundung kesusahan hanya untuk mementingkan ego setelah kembali  merasa aman, sekilas disiratkan, walau sayangnya urung benar-benar dieksplorasi. 
Tiga tahun berselang, kejadian aneh mulai menyerang berbagai negara, diawali daerah gurun Afganistan yang membeku. Malfungsi pada Dutch Boy diduga jadi penyebabnya. Jake pun diminta bertugas lagi di stasiun luar angkasa demi mendeteksi kerusakan satelit buatannya sebelum terjadi geostorm, yaitu badai raksasa berskala global yang akan mengakhiri dunia. Terdengar epik, dan filmnya pun menjanjikan itu tatkala sepanjang durasi penonton diperlihatkan tsunami, gempa, hujan es, dan lain-lain. Tapi geostorm sendiri tak pernah diwujudkan. Menyisakan kehancuran berskala non-global yang sekedar muncul sekilas bagi penonton.

Bukankah jika geostorm berlangsung artinya kiamat? Benar, dan bukan masalah. 2012-nya Roland Emmerich jadi contoh sewaktu manusia tak mampu membendung "kiamat", fokus diberikan pada perjuangan bertahan hidup. Sejatinya mengedepankan usaha preventif pun dapat menarik asalkan berkutat di aktivitas menantang maut seperti Michael Bay tunjukkan lewat Armageddon. Dalam Geostorm, protagonis lebih sibuk mengutak-atik komputer yang turut menyia-nyiakan talenta Gerard Butler. Kurang bijak membayar Butler untuk mengucapkan kalimat-kalimat ilmiah alih-alih beraksi menyelamatkan dunia sebagai action hero. Cuma sebuah sekuen aksi ia dapat, itu pun dilakoni dalam balutan spacesuit
Singkatnya, para protagonis jarang ditempatkan langsung di pusat kekacauan. Max dan Sarah (Abbie Cornish), kekasihnya sekaligus anggota secret service sempat terjebak badai halilintar, namun Devlin memilih memusatkan kamera pada mobil yang dipacu ketimbang kerusakan sekitar. Devlin boleh saja menulis naskah lima film Emmerich, tapi dia tak "tertular" kapasitas pengadeganan sang maestro film bencana. Staging Devlin amat buruk. Daripada digiring ke dalamnya, peran penonton sebatas observer akan peristiwa yang tidak terlihat meyakinkan karena CGI buruk. Bahkan CGI penyusun latar kota (khususnya Rusia) pun tampak menggelikan.

Kurangnya eksekusi adegan bencana baik dari kuantitas maupun kualitas, Geostorm nyaris tak punya faktor pemberi kenikmatan. Drama keluarganya gagal menyentuh akibat penggalian dangkal naskah buatan Dean Devlin dan Paul Guyot. Pun performa cast-nya kurang mendukung di mana hanya Talitha Bateman (Annabelle: Creation) melalui kemunculan singkat sebagai puteri Jake yang sanggup menangani momen emosional. Demikian pula selipan humor yang bagai dibawakan setengah hati para pemain, kecuali Zazie Beetz dengan gaya deadpan menggelitik miliknya.

MEREKA YANG TAK TERLIHAT (2017)

Sayang sekali Mereka Yang Tak Terlihat akan lebih ramai dibicarakan karena rekor MURI untuk "Film drama horor dengan pemeran karakter makhluk astral terbanyak" alih-alih sebagai horor terbaik karya Billy Christian (Rumah Malaikat, Tuyul Part 1, Petak Umpet Minako) sejauh ini. Mengesampingkan trik jump scare klise andalannya, Billy merangkai drama coming-of-age berbumbu dunia supernatural di mana penampakan jadi bentuk komunikasi dan hantu bukan semata ancaman, melainkan makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia. Tentu itu dilakukan tanpa melupakan sentuhan horor lewat tampilan mereka.

Saras (Estelle Linden) mampu melihat hantu sedari kecil, tepatnya sejak sang nenek meninggal. Walau awalnya ketakutan, Saras coba terbiasa, apalagi kala beberapa arwah mulai berusaha menjalin komunikasi, entah sekedar curhat sampai meminta bantuan terkait persoalan yang belum tuntas. Di sisi lain kehidupan pribadi Saras jauh dari kemudahan. Bersama sang adik, Laras (Bianca Hello), Saras kerap terlibat perselisihan dengan ibunya (Sophia Latjuba) yang dituntut menghidupi kedua puterinya seorang diri hasil berjualan kue. 
Billy bersama Estelle Linden menyusun naskah Mereka Yang Tak Terlihat sebagai kisah coming-of-age. Bedanya, tumbuh kembang karakter dipengaruhi oleh hal-hal berbau mistis. Di balik itu adalah proses yang kita semua alami, seperti mendapati sisi kelam dunia yang ditunjukkan saat Saras memergoki tuyul sebagai pelaris warung bakso, memanfaatkan kelebihan demi menolong orang lain (atau hantu untuk film ini), hingga yang paling relatable yakni berdamai dengan keluarga. Pun isu seputar pergaulan remaja termasuk pesan anti-bullying turut disuarakan meski presentasinya tergolong standar.

Secara garis besar, film ini terbagi dalam tiga fragmen yang mengetengahkan hubungan Saras dan para arwah: persahabatannya dengan bocah laki-laki di masa kecil, curahan hati Dinda (Frislly Herlind) si korban penindasan, dan usaha penyelamatan yang dilakukan Saras. Ketiganya dijembatani konflik Saras dan ibunya. Masalahnya, dua tuturan awal kekurangan "magnet". Kisah pertama berlalu bagai tengah mendengarkan pembacaan cerita minim rasa akibat kurangnya penonton mengenal mereka yang terlibat, pun minim tensi ketika kejutan diungkap terlebih dahulu. Kisah kedua tertolong saat Dayu Wijanto kembali tampil meyakinkan lewat gestur, ucapan, dan tatapan mata yang penuh pancaran kasih sayang seorang ibu. 
Fragmen terakhir adalah bagaimana semestinya keseluruhan Mereka Yang Tak Terlihat digarap. Ketegangan, kengerian, kejutan, dan terpenting emosi berhasil disatukan. Penyutradaraan Billy mencapai puncaknya di sini, memainkan tensi melalui nuansa kekacauan bertempo dinamis pula mempertahankan kesan realistis berkat bantuan akting Estelle Linden yang meremukkan perasaan. Momen ini berpotensi jadi pengantar sempurna menuju epilog andai konklusinya dikemas rapi. Dengan sisa durasi terbatas, terlalu banyak hal dipaksa menyatu, menghasilkan aliran narasi berantakan. Dan pilihan ending-nya sungguh suatu cara malas guna memancing haru.

Upaya menciptakan sajian atmosferik belum sepenuhnya sukses, tapi keputusan menekan jump scare seminimal mungkin patut diapresiasi, sebab itulah senjata sekaligus kelemahan utama Billy Christian di karya-karya sebelumnya. Juga tidak seutuhnya gagal, karena tata suara yang memperdengarkan tangisan, erangan, sampai tawa hantu nyatanya lumayan mengerikan. Kalau eksploitasi penyiksaan dalam horor disebut "torture porn", maka parade 67 makhluk astral (entah jumlah ini tepat atau tidak) film ini, setidaknya pada setengah durasi awal adalah "ghost porn". Tak seberapa mengerikan, tapi cukup mengasyikkan. 

ONE FINE DAY (2017)

Bertaburan bintang idola kaum remaja, mengusung tumbuhnya asmara di setting luar negeri, wajar apabila banyak pihak skeptis akan produksi teranyar Screenplay Films ini. Terlebih Asep Kusdinar juga Tisa TS masing-masing tetap ada di kursi sutradara dan penulis naskah. Tidak bisa disalahkan. Itulah formula kemenangan yang menghasilkan dua film dengan jumlah penonton di atas sejuta. Andai berubah pun sifatnya takkan ekstrim dan tiba-tiba. Namun ketika beberapa bulan lalu Promise "hanya" meraih sekitar 655 ribu penonton, terendah dibanding film Screenplay lain, sedikit modifikasi rasanya perlu, dan One Fine Day melakukan itu.

Kini giliran Barcelona menjadi panggung sewaktu Mahesa (Jefri Nichol), musisi amatir sekaligus penipu ulung pemeras uang wanita-wanita yang dipacarinya, bertemu Alana (Michelle Ziudith). Mudah bagi Alana menyukai Mahesa yang hangat nan romantis mengingat sikap posesif sang kekasih, Danu (Maxime Bouttier) yang sampai mengirim bodyguard untuk mengawalnya ke mana saja. Berikutnya bisa ditebak, One Fine Day berkutat pada cinta segitiga, tepatnya pertarungan Danu si kaya yang sombong melawan Mahesa yang apa adanya tapi penuh kebebasan. Sesederhana itu.
"Sederhana" sesungguhnya kurang pas disematkan bagi karya Screenplay, pun One Fine Day yang diisi jalan-jalan mengelilingi Barcelona. Namun ketimbang judul-judul sebelumnya, film ini tak lagi disusun oleh barisan kutipan "romantis". Sesekali kalimat bernada puitis terucap tapi dalam kadar normal. Meski harus diakui, jalinan asmaranya tetap bergulir dangkal di mana kebahagiaan identik dengan montage jalan-jalan ditemani lagu Te Amo Mi Amor sambil memaksakan Alana (si pencari kebahagiaan) tertawa menanggapi apapun tingkah Mahesa (si pemberi kebahagiaan). 

Setidaknya dibandingkan Promise atau dwilogi London Love Story, glamoritas berupa mengendarai mobil mewah di luar negeri atau berkencan di restoran mahal bukan pondasi. Didorong pemanfaatan tepat setting di mana kemeriahan kultur serta musik menghadirkan tarian kegembiraan, kedua tokoh utama tampak murni mencari cinta. Kali ini setting luar negeri bukan sekedar memfasilitasi hedonisme karakternya, melainkan usaha mereka mengejar kebahagiaan. Hal ini didukung pula oleh sosok Mahesa yang dari luar tak sesempurna protagonis pria lain milik Screenplay. 
Jefri Nichol jelas piawai melakoni peran bad boy, walau resiko typecast perlu ia perhatikan demi daya tahan karirnya. Satu detail yang agak mengganggu adalah ketika Nichol beberapa kali bermain gitar tanpa memindahkan kunci. Sementara Michelle Ziudith dengan tangisannya niscaya bakal mudah membuat penonton remaja ikut berurai air mata. Walau cukup disayangkan, penokohan Alana yang cenderung pasif kurang memberinya kesempatan unjuk gigi keahlian mencuri perhatian sebagai gadis bersemangat. Padahal barter sindiran antara Ziudith dan Nichol bakal memberi nyawa lebih untuk percikan asmara filmnya.

Kembali menyoal penyederhanaan, memilih tidak lagi memaksakan keberadaan rahasia atau twist "besar" yang senantiasa jadi "penyakit" Screenplay jelas nilai tambah dalam One Fine Day. Pergerakan alur pun berakhir lebih lancar, tanpa terbebani pengungkapan kejutan tak masuk akal selaku konklusi. Lupakan keraguan sembari menyadari tujuan serta target pasar filmnya, maka anda akan menemukan One Fine Day sebagai rilisan terbaik Screenplay Films sejauh ini.