MOVFREAK ON UC NEWS (LAST UPDATED ON NOVEMBER 14, 2018)

Sejak akhir Juni lalu, saya diundang oleh UC News untuk menyumbangkan tulisan bertema religi...maksud saya film. Awalnya saya hanya mempublikasikan ulang review blog ini, sampai tercetus niat untuk fokus pada pembuatan list film, yang mana sering pembaca blog ini minta tapi karena satu dan lain hal (baca: penulisnya pemalas) jarang terpenuhi. Kenapa tidak sekalian membuat list juga di sini? Tidak lain demi menjaga orisinalitas kedua media, sebab pernah artikel saya ditolak karena sistem menyatakan tulisan itu hasil jiplakan dari web movfreak.blogspot.com (lol).

Maka dari itu, jika ada list yang kalian ingin saya buat, silahkan request, bisa di kolom komentar ini atau artikel saya di UC News. Untuk mengakses tulisan di sana, bisa mengunduh aplikasi UC News di smartphone, lalu cari dan ikuti akun "Movfreak". Atau cukup dengan mengikuti postingan ini yang akan selalu saya update tiap ada artikel baru dan akan selalu disematkan di halaman paling atas blog. Dan karena perbedaan media publikasi, gaya penulisan yang saya pakai pun (mostly) berbeda. Silahkan request sebanyak-banyaknya, makin unik makin baik, agar memudahkan saya membuat judul clickbait daftar menarik. Tenang, review tetap saya publikasikan di sini (afterall, this is my home, and all of you, my readers, are the lovely guests).

Berikut beberapa judul yang sudah ada sejauh ini yang akan rutin diperbaharui (klik untuk menuju tautan):

FANTASTIC BEASTS: THE CRIMES OF GRINDELWALD (2018)

Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald adalah film yang harus disaksikan dalam format 4DX3D. Format ini memaksimalkan pendekatan David Yates—yang termasuk film ini, telah menyutradarai enam installment terakhir Wizarding World—terhadap sekuen aksi, di mana ia menghancurkan berbagai lokasi, entah lewat ilmu sihir atau amukan monster, menggerakkan kamera secara cepat, menampilkan kekacauan yang akan membuat penonton memegang erat kursi agar tak terjatuh. Sementara 3D-nya, walau tak memiliki kedalaman seberapa, dihiasi beberapa efek pop-up.

Apa jadinya jika film ini ditonton di format biasa? Anda akan tenggelam dalam usaha J. K. Rowling memuaskan penggemar seri Harry Potter memakai deretan fan service penuh referensi atau tokoh lama yang muncul acak tanpa urgensi, hanya agar para penggemar berujar “Whoaa ini kan si itu....”. Rowling tahu jika banyak dari mereka terobsesi akan keterkaitan tak terduga, memutuskan mengabulkan harapan tersebut hampir di tiap kesempatan, hingga membuat naskah tulisannya terasa bak fan fiction.

Berjudul The Crimes of Grindelwald, dan benar, sang “penyihir hitam” memang melakukan kejahatan-kejahatan, tapi sulit menampik kesan bahwa judulnya dipilih karena terdengar keren dan supaya Grindelwald (baca: Johnny Depp) jadi jualan utama. Tapi bukan masalah. Kelemahan fatal Rowling dalam bertutur bukan disebabkan tidak menjadikan kejahatan Grindelwald sebagai fokus, melainkan ketiadaan fokus.

The Crimes of Grindelwald dibuka oleh keberhasilan upaya Grindelwald kabur dari penjara berkat pengkhianatan seorang anggota kementrian sihir. Tentu saja pengkhianatan, identitas rahasia, sampai mata-mata ganda merupakan kejutan andalan Rowling, yang di titik ini tak lagi mengejutkan. Tapi jangan khawatir. Sang penulis menemukan cara baru, yang jauh lebih konyol (we’ll get there later).

Bagi si titular character, film ini mengisahkan prosesnya mengumpulkan pengikut sebanyak mungkin, namun target utamanya adalah Credence (Ezra Miller), antagonis film pertama yang rupanya mampu bertahan hidup, dan kini berada di sebuah kelompok sirkus bersama Nagini (Claudia Kim). Keduanya mengarungi perjalanann dengan tujuan menemukan siapa Credence sebenarnya, siapa orang tuanya, dan dari mana ia berasal.  Di paragraf ini saja saya sudah membahas dua subplot, dan belum menyentuh kisah si protagonis, Newt Scamander (Eddie Redmayne).

Newt ditugasi Dumbledore (Jude Law) meringkus Grindelwald, dan sekali lagi bertemu Jacob Kowalski (Dan Fogler), yang mengikuti Newt demi memenangkan lagi hati Queenie (Alison Sudol), yang kecewa akibat keengganan Jacob segera mengucap janji suci, lalu memilih mengunjungi kakaknya, Tina (Katherine Waterston), yang mana hatinya pun coba dimenangkan kembali oleh Newt. Tina sendiri tengah patah hati setelah melihat berita palsu soal pertunangan Newt dengan Leta Lestrange (Zoë Kravitz). Oh Tuhan, begitu banyak cerita. Kalau alasan kemarahan Tina terdengar bak sinetron, tunggu dulu. Anda belum melihat apa-apa.

Jajaran cast tampil baik. Sekali lagi Fogler bukan saja pengundang tawa, pula sumber hati. Konklusi film pertama mengharukan berkatnya, dan Rowling ingin memunculkan dampak serupa namun gagal. Fogler berbuat sebisanya, tapi emosi senantiasa hampa, sebab naskahnya urung menyuguhkan motivasi meyakinkan bagi keputusan salah satu karakternya (Anda akan tahu karakter yang mana). Sedangkan Jude Law sempurna memerankan Dumbledore, selain berkat kemiripan wajah dengan Michael Gambon (tanpa uban, rambut panjang, dan jenggot lebat), ia membuat saya percaya sedang melihat sosok penyihir terkuat di masa jayanya.

Lain halnya Depp. Dipandang dari segi karakterisasi, Voldemort bukan villain luar biasa, tapi pendekatan over-the-top Ralph Fiennnes menjadikannya antagonis menghibur. Sementara Depp mencoba interpretasi lebih serius, kejam, tenang, yang justru membuat Grindelwald membosankan, tak jauh beda dibanding mayoritas antagonis generik film-film blockbuster Hollywood. Eddie Redmayne sebagai Newt dengan mata lembut yang jarang menatap lawan bicaranya adalah protagonis likeable, namun ketidakfokusan naskah menghalangi penonton mencintanya lebih jauh. Newt hanya satu bidak di sebuah papan catur besar nan ramai yang di atasnya cuma terdiri atas bidak-bidak.

Rowling punya setumpuk ide yang cocok dituangkan dalam novel 700 halaman, namun bagi film berdurasi 134 menit, kisahnya bergerak liar tanpa kesan kesatuan. Pada beberapa poin, The Crimes of Grindelwald bagai midseason serial televisi yang meletakkan cabang-cabang narasi dan belum sempat menautkannya satu sama lain, sebelum ditutup oleh konklusi berbumbu kejutan khas opera sabun murahan. Saya takkan terkejut bila kelak terungkap jika rumah produksi di balik film ini adalah Sinemart dan Ezra Miller merupakan Glenn Alinskie yang menyamar.

Cara Rowling bertutur menunjukkan ketidaksiapan menulis naskah film. Rowling bergantung pada tuturan verbal, menyuruh karakternya bicara terlalu banyak, yang malah membuat alurnya bak benang kusut. The Crimes of Grindelwald adalah bentuk penceritaan amburadul. Jadi, sebagaimana Nolan menyarankan IMAX 70mm untuk Dunkirk, saya merekomendasikan 4DX3D, atau setidaknya 4DX guna menyamarkan kelemahan narasi. Aksi-aksi serunya bakal membuai, khususnya amukan Zouwu si kucing berukuran gajah dari Cina. Walau lagi-lagi, Rowling perlu memperbaiki penulisan klimaks, yang sejak era Harry Potter, selalu lebih kuat di pembangunan ketimbang payoff. Klimaks ciptaan Rowling acap kali bukan “puncak”, melainkan sekedar satu lagi aksi yang bahkan bukan spectacle terbesar di sepanjang cerita.

Dan bukankah serupa tajuknya, seri ini mestinya mengeksplorasi mitologi Fantastic Beasts? Mengapa makhluk-makhluk ajaib tersebut hanya berguna mengeskalasi aksi atau senjata komedi namun punya pengaruh minim pada plot? Entahlah. Alurnya datang dari penulis yang menyebut mitologi “Naga” berasal dari Indonesia. So, yeah.....

THE GRINCH (2018)

Dibandingkan live action buatan Ron Howard yang dibintangi Jim Carrey 18 tahun lalu, The Grinch ingin tampil sedekat mungkin dengan materi asalnya, buku anak-anak How the Grinch Stole Christmas! karya Dr. Seuss. Naskah buatan Michael LeSieur (You, Me and Dupree, Keeping Up with the Joneses) dan Tommy Swerdlow (Snow Dogs, Bushwacked) mengambil pendekatan sederhana dalam narasinya, yang tak banyak melakukan perubahan terhadap 69 halaman bukunya (Padahal dua halaman mayoritas hanya diisi satu panel), memaksanya jadi tontonan berdurasi 86 menit.

Bila sudah membaca sumber adaptasinya, anda akan tahu bahwa buku itu “hanya” terdiri atas usaha sekali waktu The Grinch mencuri seluruh pernak-pernik Natal warga Whoville dengan menyamar sebagai Santa Claus, sebelum akhirnya menyadari makna sesungguhnya di balik hari raya tersebut. Bagaimana mengaplikasikan kisah sesingkat itu ke dalam film panjang tanpa mengubah banyak elemen?

Dasarnya, LeSieur dan Swerdlow memilih aspek yang pas untuk ditambahkan, seperti proses The Grinch mempersiapkan rencananya “Mencuri Natal”, hingga terpenting, selipan kisah masa lalu sang titular character. Sayang, semuanya terhapus oleh gaya khas Illumination, yang tak seberapa mempedulikan eksplorasi dan penceritaan, serta lebih menitikberatkan humor repetitif konyol minim kreativitas. Bahkan lelucon tentang “Sulitnya orang pendek meraih barang di ketinggian” dilontarkan sampai dua kali.

The Grinch (Benedict Cumberbatch) konon memiliki ukuran hati dua kali lebih kecil dari kebanyakan orang, dan itulah alasan mengapa ia selalu menderita, penuh kebencian, termasuk pada warga Whoville yang selalu bahagia, khususnya kala Natal tiba. Begitu mendengar arahan Walikota agar Natal tahun ini tiga kali lebih meriah, The Grinch merasa jika ini saatnya ia bertindak.

Dibantu Max si anjing loyal, The Grinch berusaha menghentikan Natal. Bagaimana caranya? Perlu diketahui, The Grinch di sini bukan cuma monster pemarah bertubuh hijau, juga seorang jenius yang mampu menciptakan sederet alat eksentrik. Tambahan penokohan menarik yang gagal dimaksimalkan para penulis naskah. Apa guna karakterisasi itu apabila hanya untuk menampilkan sebuah mesin kopi dan segelintir alat-alat ala kadarnya lain, sementara aksi pencuriannya tak memanfaatkan itu?

Bagi The Grinch, langit adalah batas untuk melakukan eksplorasi gila terhadap aspek di atas, namun yang penulisnya pedulikan hanya melempar karakter-karakternya ke langit atas nama slapstick. Demikian cara film ini menghabiskan mayoritas durasinya. Tidak peduli apa rencana si tokoh utama, eksekusinya selalu sama. Dia akan berlari, meluncur, melompat, terbang, dan jatuh. Apakah penonton anak bakal terhibur? Saya tidak bisa mewakili mereka, tapi reaksi para bocah di studio tempat saya menonton, sedingin Whoville kala disambangi salju tebal.

Elemen dramatiknya pun turut terlemahkan akibat pendekatan dangkalnya. The Grinch padahal punya dua karakter, yang masing-masing menyimpan story arc yang berpotensi merenggut emosi. Pertama tentu saja The Grinch, yang sewaktu kecil tinggal sendirian di panti asuhan, merasa terasing di tengah suka cita warga Whoville. Kedua adalah Cindy Lou Who (Cameron Seely), gadis cilik yang ingin bertemu Santa, guna mengajukan permintaan agar sang ibu—yang selalu coba tampak kuat dan ceria meski sesungguhnya urusan pekerjaan serta merawat tiga anak seorang diri amat merepotkannya—bahagia.

Dua kisah tadi semestinya mampu mengaduk-aduk perasaan penonton dewasa, andai bukan sekedar diletakkan begitu saja sebagai selingan nihil eksplorasi di antara rentetan humor konyolnya. Tapi saya bisa memaafkan itu, dan banyak kekurangan lain milik The Grinch berkat 15 menit terakhirnya. Ya, hanya butuh seperempat jam bagi film ini untuk berevolusi menjadi tontonan menyentuh yang sempurna menangkap semangat Natal.

Diawali adegan “bernyanyi dalam harmoni” yang oleh duo sutradara, Scott Mosier dan Yarrow Cheney (The Secret Life of Pets), dikemas demikian indah, The Grinch mengajarkan esensi Natal yang dapat diaplikasikan di segala situasi dan semua kalangan, termasuk mereka yang tak merayakan, yakni anjuran berbuat baik dan memaafkan alih-alih membalas dendam kepada seseorang yang bertindak jahat kepada kita. Jika konklusinya terasa mendadak atau terlalu “ajaib”, karena memang itulah tujuannya: Menunjukkan keajaiban Natal.

THUGS OF HINDOSTAN (2018)

Thugs of Hindostan begitu besar (Film India termahal kedua sepanjang masa bersama Saaho dengan $42 juta) sampai melupakan hal-hal dasar seperti karakter, cerita, dan kombinasi keduanya, yang merupakan elemen terkuat judul-judul Bollywood arus utama: Rasa. Melihat banyaknya ulasan negatif, rasanya memang itu ekspektasi kebanyakan orang. Melihat Aamir Khan dalam film mengenai pertempuran melawan penjajah, penonton mengharapkan kisah perjuangan menggugah.

Tapi satu hal perlu diingat, bahwa di sini, Aamir bukan bertindak selaku produser, sehingga ekspektasi tersebut sejatinya salah tempat. Walau setelah menyadari itu kelemahan naskah buatan sang sutradara, Vijay Krishna Acharya (Dhoom 3), takkan mendadak lenyap, bakal lebih mudah mengapresiasi Thugs of Hindostan sebagai swashbuckler blockbuster yang menepati janjinnya, yakni spectacle raksasa di tiap sudut. Tidak kurang dan tidak lebih.

Pembukanya menunjukkan bagaimana British East India Company (dipanggil “Company”) berhasil membuat seluruh kerajaan tunduk pada perbudakan mereka. Kekejaman pasukan yang dipimpin John Clive (Lloyd Owen) tersebut diperlihatkann melalui sekuen klise namun efektif untuk memancing kebencian kita kepada sang antagonis. Raja, Ratu, dan Pangeran dibantai, tetapi sang Puteri kecil berhasil kabur bersama seorang prajurit kerajaann, Khudabaksh Azaad (Amitabh Bachchan).

Sebelas tahun berselang, Zafira (Fatima Sana Shaikh) telah tumbuh, dari seorang Puteri menjadi pemanah andal sekaligus anggota kelompok pemberontak yang dipimpin Azaad. Aksi para pemberontak pertama kita saksikan dalam sebuah pertunjukan aksi memukau yang melibatkan salah satu metode penyamaran paling over-the-top pula kreatif dan set-piece raksasa berisi adu pedang, lontaran anak panah, ledakan meriam, hingga guyuran hujan. Amitabh sempurna sebagai pemimpin bandit kharismatik cenderung mythical, pun demikian halnya Fatima yang tampil meyakinkan, tangguh, lincah menembakkan puluhan anak panah.

Di sisi lain ada Firangi (Aamir Khan), penipu ulung yang mengeruk uang berbekal kelicikannya, menipu siapa pun tanpa peduli penjajah asing atau rakyat setempat. Nantinya, tipu daya Firangi membawa banyak twist dan belokan bagi alur Thugs of Hindostan, sebab bukan hanya tokoh-tokohnya, penonton pun dibuat sulit mempercayai Firangi. Beberapa output akal bulus Firangi mungkin mudah ditebak, tapi menantikan pengungkapan detail rencananya tetaplah terasa mengasyikkan.

Misi teranyar Firangi adalah yang terberat, ketika Company memintanya menangkap Azaad. Firangi pun menyusup ke dalam kelompok pemberontak, berusaha mencuri hati sang pemimpin untuk kemudian menjebaknya. Tapi pertemuan dengan Azaad—yang berkebalikan dengannya, selalu menaruh rasa percaya dan enggan kehilangan harapan akan kebebasan—justru menghadirkan dilema di hati Firangi. Dia mulai mempertanyakan posisinya. Haruskah ia turut memperjuangkan kemerdekaan? Atau sebaliknya, apakah kemerdekaan sebatas konsep semu yang tiada artinya tanpa kemakmuran materi?

Walaupun Aamir (seperti biasa) piawai menyeimbangkan eksentrisitas komedik dengan dramatik, proses yang dijalani Firangi kurang mencengkeram akibat kedangkalan dan kekosongan naskah. Ketika Firangi—selaku sosok paling berwarna—saja kebagian deretan dialog miskin kreativitas, tidak mengherankan jika karakter lain hanyalah manusia-manusia membosankan, one-dimensional, dengan interaksi tak kalah membosankan sehingga gagal merenggut hati tatkala momen perlawanan mereka tiba.

Thugs of Hindostan mempunyai pola repetitif sepanjang perjalanan alurnya. Sebuah fase penceritaan akan diawali oleh pembicaraan antara karakter, berpindah ke sekuen musikal, lalu memasuki gelaran aksi, sebelum akhirnya menurunkan tensi dan kembali menampilkan perbincangan sebagai jembatan menuju fase berikutnya, yang dituturkan melalui formula serupa. Pola di atas terasa melelahkan, karena tiap kali melambatkan laju, Thugs of Hindostan seketika menjadi snoozefest tanpa nyawa. Saya bersyukur ada intermission, jika tidak memberi kesempatan “mengisi ulang daya”, durasi 164 menitnya bakal tak tertahankan.

Beruntung, sekalinya atraksi utama dikerahkan, Thugs of Hindostan memperoleh nyawanya lagi. Adegan aksinya mungkin tak seberapa inventif (kecuali momen pemberontakan pertama yang saya sebut sebelumnya), tapi jelas terhampar megah. Acharya sanggup menghindarkan aksi skala besarnya dari kekacauan, sedangkan musik orkestra kental inspirasi Pirates of the Caribbean gubahan John Stewart Eduri turut menebar aura epic yang  ingin sang sutradara bangun.

Sementara musikalnya, terlebih kala Katrina Kaif sebagai Suraiyya menjadi sentral adegan, memamerkan fleksibilitas berbalut energi serta pesona bintang luar biasa, niscaya membuat penonton mana saja terpana. Katrina bergerak seolah mampu melakoni tarian apa pun, menguasai panggung seluas apa pun, merebut hati penonton sebanyak apa pun. Malam perayaan Dussehra jadi puncaknya, mengkombinasikan keliaran koreografi dengan kemeriahan khas Bollywood dalam mengkreasi lokasi. Thugs of Hindostan mungkin takkan mencuri hati anda, tapi sungguh sulit mengalihkan pandangan darinya.

WAHANA RUMAH HANTU (2018)

Urusan pekerjaan kemarin sungguh melelahkan. Segelas es teh manis dan berbatang-batang rokok menemani istirahat sore hari saya. Kemudian saya mendapati, alih-alih Jumat seperti film India biasanya, Thugs of Hindostan telah dirilis. “Capek begini nonton epic action asyik kali ya”, begitu pikir saya. Berharap melepas penat, tiket pun siap dibeli. Tapi sesaat sebelum tulisan “Pay Now” dipencet, masuklah pesan itu. Pesan yang mengubah arah, memberi twist untuk kehidupan saya pada Kamis, 8 November 2018.

Pesan itu dikirim oleh admin Indonesian Film Critics (IDFC). Isinya singkat saja, namun sanggup mengalahkan gelegar guntur yang meraung-raung di langit mendung sore itu. “Oy, Rumah Hantu yaks”, demikian bunyinya. Sejenak tertegun, saya berusaha menenangkan diri. “Saya sanggup bertahan menghadapi Arwah Tumbal Nyai, jadi kali ini pun pasti akan baik-baik saja, ya kan? Ya kan?? Ya kaaaan????”. Oh boy, I’ve never been so wrong.

Selang beberapa jam, kembali saya tertegun. Andai bisa, ingin rasanya menghubungi Rapi Amat, menyuruhnya sungkem pada orang-orang di balik Wahana Rumah Hantu. Bagaimana tidak? Film karya sutradara Anto Lupus ini berhasil menggulingkan horor Go-Pay miliknya dari tahta film Indonesia terburuk 2018. Dan rasanya posisi ini takkan berubah lagi. Film yang lebih jelek dari Wahana Rumah Hantu sebaiknya diungsikan saja ke Planet Pluto. Oh, Pluto bukan planet? Berarti, judul-judul berkualitas di bawah Wahana Rumah Hantu pun bukan film.

Is this a movie though? Ditinjau dari makna literalnya, yakni “moving picture”, ya, Wahana Rumah Hantu berisi gambar bergerak. Bergerak menuju kehancuran. Biasanya saya membuat catatan mengenai kelebihan dan/atau kekurangan film yang sedang ditonton, tapi kali ini, saya menyerah. Terlalu banyak keburukan di tiap momennya, dalam segala aspek. Kalau tetap mencatat, begitu film berakhir, saya akan menyelesaikan skripsi kedua saya.

Wahana Rumah Hantu mengisahkan kakak-beradik, Aurel (Adzwa Aurell) dan Sky (Sky Azhura), yang sama-sama mampu melihat hantu, dan SEPERTINYA dahulu berprofesi sebagai pengusir hantu. Kenapa “sepertinya”? Karena kita hanya mendengar itu dari pernyataan singkat Aurel. Menariknya, begitulah cara film ini—yang naskahnya juga ditulis sang sutradara—bergulir, yaitu melalui cerita yang karakternya tuturkan secara verbal.

Di satu titik, filmnya memperkenalkan subplot tentang arwah penasaran seorang siswi yang mati di kelas. Tanpa aba-aba, mendadak kita melihat kehebohan kelas karena KATANYA sebuah buku (atau lemari?) terbuka sendiri. Kenapa “katanya”? Lagi-lagi karena karakternya mengatakan itu, dan peristiwa mistis yang dimaksud tak muncul di layar. Seolah ada adegan yang hilang (hilang atau lupa di-shoot hayooo??). Pun sebesar apa pun perhatian dicurahkan, besar kemungkinan anda bakal tetap tersesat dalam labirin membingungkan penuh cabang dan jalan buntu, yang disebut “plot” oleh film ini. Lalu kisah si arwah penasaran diakhiri menggunakan voice over.

Ya, VOICE OVER! Bayangkan andai sebelum klimaks di Wakanda, Avengers: Infinity War berakhir, tanpa pertempuran, dan hanya terdengar Tony Stark berkata, “Kami bertempur mati-matian. Satu tim di Titan, tim lain di Wakanda. Sayangnya Thanos berhasil menjentikkan jarinya dan menghapus separuh kehidupan di alam semesta termasuk beberapa jagoan, di antaranya Spider-Man, yang sebelum kematiannya, menangis di dekapanku”. Saya yang bodoh ini cuma bisa plonga-plongo, membayangkan kondisi di balik layar yang kemungkinan seperti ini:

Demikian awal kelahiran film ini, yang meski berjudul Wahana Rumah Hantu, tapi wahananya sendiri baru muncul di pertengahan, sembari melahirkan satu lagi subplot nihil substansi mengenai kecurangan para karyawan yang ingin mengakuisisi tempat tersebut, sebelum selipan reliji turut serta mengakhiri konflik. Tidak perlu kaget, toh sejak awal filmnya sudah menegaskan bahwa derajat setan ada di bawah manusia. Buktinya, setan di sini bisa disuruh mengerjakan PR. Ghost slavery FTW!

Tapi, jika anda manusia bernyali baja, silahkan langkahkan kaki menuju Wahana Rumah Hantu. Setidaknya anda bisa menertawakan akting aneh yang acap kali memancing pertanyaan, “Emosi apa yang aktornya ingin tampilkan?”, penampakan hantu asal-asalan, twist soal identitas karakter yang mundur jauh hingga ke era Kerajaan Majapahit (saya serius), sampai kerumitan alur yang niscaya membuat David Lynch terkesima lalu bersembah sujud. Percayalah, review ini baru menggambarkan sekian persen keburukan Wahana Rumah Hantu. Film jelek, biaya murah, pemain dan kru nihil pengalaman, semua bisa dimaafkan selama ada niat berkarya sebaik mungkin. But this? This is just an act of ingorance.

OVERLORD (2018)

Firasat saya, di satu fase pengembangan, elemen zombie milik Overlord diniati sebagai twist. Cara penanganannya pun serupa gaya “Kotak Misteri” J. J. Abrams seperti biasa, ketika di awal kita mendapat siratan bahwa ada hal tersembunyi, lalu filmnya berusaha membuat kita melupakan keberadaan rahasia itu, sebelum kebenaran mengejutkan akhirnya diungkap, mengubah arah filmnya secara total.

Tapi, mungkin tim marketing merasa sulit atau terlalu berisiko menjual Overlord hanya sebagai “Satu lagi film berlatar Perang Dunia II”, sehingga memutuskan untuk membuka kotak misteri itu sedari pra-rilis, menjadikannya materi jualan utama. Alhasil, wajar saat penonton berharap menyaksikan zombie massacre besar-besaran, hanya untuk mendapati, menu utama baru disuguhkan setelah melewati 45 menit, dan filmnya sendiri berlagak seolah penonton tak mengetahui isi kotak misteri itu.

Overlord dibuka oleh pemandangan khas film peperangan mengenai sekelompok yang dikirim menuju misi mematikan. Ada peperangan udara, ledakan pembawa maut, nuansa klaustrofobia, yang meski tak luar biasa, mampu digarap apik oleh sutradara Julius Avery (Son of a Gun) guna mengawali cerita dengan intensitas memadahi. Para prajurit dibebani misi menghancurkan menara radio Jerman demi membuka jalan pasukan sekutu dalam invasi Normandy alias D-Day yang bersejarah itu.

Jagoan kita adalah Boyce (Jovan Adepo), seorang paratrooper yang enggan mencabut nyawa manusia dengan mudah walau tengah berada di peperangan. Jangankan manusia, Boyce pun menolak membunuh seekor tikus. Melalui protagonis seperti Boyce, mungkin Overlord hendak menyelipkan pesan anti-peperangan dan kemanusiaan, tapi tertelan, bahkan terasa kontradiktif kala filmnya mengajak penonton bersenang-senang menikmati kekerasan ketimbang menyajikannya sebagai pemandangan bak mimpi buruk yang mengganggu, supaya penonton bisa berpihak pada Boyce, si prajurit dengan kompas moral. Justru Kopral Ford (Wyatt Russell) si antihero jauh lebih asyik disimak.

Setelah pesawat mereka ditembak jatuh sebelum mencapai tujuan, para prajurit terpaksa bersembunyi di rumah Chloe (Mathilde Ollivier), yang desanya dikuasai oleh Nazi, yang membunuh serta melampiaskan nafsu pada warga setempat semau mereka. Chloe tinggal bersama adik dan bibinya yang sedang sakit keras. Ini satu lagi wujud kota misteri khas Abrams yang akibat strategi marketingnya, terbuka prematur. Kita tahu bibi Chloe terinfeksi virus dan perlahan-lahan bertransformasi menjadi zombie.

Sejatinya makhluk itu bukan sepenuhnya zombie, dan kata “zombie” tak sekalipun terucap. “A thousand year Reich requires thousand year soldiers”, demikian sebut Wafner (Pilou Asbæk), salah satu anggota Nazi sekaligus antagonis utama film ini. Satu hal yang pasti, tim tata rias dan efek spesialnya bekerja luar biasa. Beberapa “zombie” tampak mengerikan, bahkan cukup menjijikkan untuk menghasilkan sajian body horror. Sayang, teror mereka tak segila penampilannya. Di atas kertas, Overlord dapat menjadi salah satu tontonan tergila tahun ini. Ada zombie dengan wajah yang hilang separuh, zombie dengan tulang-tulang menjulur keluar bak monster dari Resident Evil, zombie yang hanya mempunyai kepala dan tulang belakang, hingga pertarungann zombie melawan zombie.

Semua itu merupakan elemen b-movie, namun Overlord menjauhkan diri dari situ, menekan kadar kebodohan. Ya, gore mengibur tersebar di sana-sini, tapi jauh dari potensi yang tersimpan. Masalah bukan terletak di kekurangan darah, melainkan kreativitas dan urung tampil lepas. Ibarat seseorang mendapat hadiah Ferrari tapi mengendarainya pelan-pelan di jalan pedesaan. Benar bahwa Overlord punya momen apik, khususnya saat Avery membuktikan kapasitasnya menangani spectacle intens. Pun naskah buatan Billy Ray (The Hunger Games, Captain Phillips) dan Mark L. Smith (The Revenant) mengkreasi beberapa hal menarik dengan adegan “ducktape” sebagai contoh terbaik. Tapi tiap momen-momen itu absen, tensi Overlord langsung runtuh. Tonton saja Dead Snow (2009) dan sekuelnya untuk menyaksikan eksekusi premis “zombie Nazi” yang lebih maksimal.

A MAN CALLED AHOK (2018)

Suka/tidak suka itu urusan lain, tapi mayoritas rakyat Indonesia pasti tahu siapa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok beserta ideologi dan segala sepak terjangnya. Tapi A Man Called Ahok bukan sekedar coba memindahkan Ahok yang publik kenal di artikel media cetak atau layar kaca menuju layar lebar, melainkan memanfaatkan familiaritas penonton terhadap Ahok sebagai pondasi guna menuturkan latar belakang watak dan sikapnya. Kita tahu ia keras, dan film ini jelaskan mengapa ia keras. Kita tahu kebenciannya atas oknum korup, dan film ini jabarkan bagaimana masa lalunya, kehidupannya di Belitung, terutama keluarganya, membentuk kebencian tersebut.

A Man Called Ahok memang akhirnya tampil bagai foreshadowing sepanjang 90 menit, khususnya kala tersaji pembicaraan tentang keyakinan sang ayah, Tjung Kim Nam alias Indra Tjahaja Purnama (Denny Sumargo), bahwa kelak puteranya bakal menjadi pejabat, pula pertanyaan soal “Apa bisa orang Cina jadi pejabat?”. Tapi sebagai suguhan yang bertujuan memberi pemahaman akan karakternya, film yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Rudi Valinka ini, telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Satu hal yang dapat langsung kita pelajari, yakni Ahok merupakan “perwujudan” mendiang ayahnya, pemilik tambang timah yang dijuluki “Tauke” alias “bos besar” berkat kesediaannya selalu mengulurkan tangan menolong orang-orang kesusahan, meski itu memaksanya berhutang sana-sini di tengah kondisi bisnis tak menentu akibat praktek korup. Bukan Tjung Kim Nam saja, semua pengusaha di Belitung harus membayar “uang pelicin” apabila tidak ingin proyeknya dipersulit.

Ahok muda (Eric Febrian) melihat ayahnya sebagai pria penyayang, jujur, namun bisa tegas, keras, bahkan tak segan “menyemprot” karyawan yang bertindak curang lalu memecatnya di muka umum. Singkatnya, serupa Ahok yang kita kenal sebagai Gubernur DKI Jakarta. Terasa bagai kumpulan foreshadowing, untungnya naskah hasil tulisan sutradara Putrama Tuta (Catatan Harian Si Boy, Noah Awal Semula) bersama Ilya Sigma (Rectoverso, Sundul Gan: The Story of Kaskus) dan Dani Jaka (Modal Dengkul, Pizza Man), rapi dalam merajut cerita yang poin-poinnya saling mendukung ketimbang sebaran keping-keping acak fase hidup karakternya yang dijahit paksa layaknya kelemahan banyak biopic (setidaknya pada 2/3 awal durasi).

Akting jajaran pemain pun membantu A Man Called Ahok melaju mulus sebagai drama keluarga. Denny Sumargo menghadirkan performa terbaik sepanjang karir sebagai pria penuh kepedulian, bapak penyayang, dan pebisnis tegas. Tiga sisi itu mampu ia satukan untuk membentuk karakter yang utuh. Hal serupa layak dialamatkan pada Eriska Rein—yang kembali ke layar lebar setelah 3 tahun—selaku pemeran Buniarti Nigsih alias Cibun, ibunda Ahok. Respon Cibun kala sang suami mengambil uang dari tangannya untuk diberikan pada para peminta bantuan adalah conton kepiawaian Eriska memainkan emosi kecil namun efektif.

Kemudian filmnya melompat menuju masa dewasa Ahok (diperankan Daniel Mananta), sewaktu ia baru kembali ke Belitung setelah merantau, berkuliah di Jakarta. Ahok ingin membantu ayahnya (kini diperankan Chew Kin Wah) yang mulai sakit-sakitan mengurus tambang, sekaligus coba meruntuhkan sistem korup. Tapi eksekusinya tidak semudah di teori. Terdapat perdebatan menarik antara Ahok dan Indra, di mana naskahnya sanggup mengutarakan perspektif berdasar milik kedua pihak, sehingga dapat memancing pemikiran penonton mengenai “Sudut pandang mana yang benar?”. A Man Called Ahok bukan tengah membenarkan praktek suap, namun mengingatkan betapa ada garis batas abu-abu di antara benar dan salah.

Masalah terbesar fase ini terletak di pergantian pemain. Terasa mengganjal, ketika Indra dan Buniarti (ganti diperankan Sita Nursanti) “berubah wajah”, namun Donny Damara, Ferry Salim, hingga Yayu Unru masih tetap memerankan tokoh masing-masing, dengan hanya sedikit modifikasi tata rias. Dunia dalam A Man Called Ahok pun terasa inkonsisten, apalagi ditambah perubahan karakter Indra. Jangan salah, akting Chew Kin Wah masih sehebat biasanya, masih jago memunculkan haru pada momen dramatis. Tapi Indra versi Denny Sumargo dan versi Chew Kin Wah jelas dua karakter berbeda.

Daniel Mananta melakukan impersonasi untuk Ahok sebaik mungkin (kecuali rambut palsunya yang nampak aneh dari depan), walau ada kalanya ia terlihat seperti karikatur, ada kalanya ia berhasil menangani ciri-ciri mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, dari suara, gestur, hingga tabiat. Inilah kesulitan memerankan individu nyata dengan kekhasan yang dikenal luas. Aktor mesti melakukan pendalaman ekstra, sebab jika tidak, kebebasan interpretasi aktingnya bisa terkekang. Di samping jajaran cast yang lebih luwes karena memperoleh kebebasan menafsirkan karakternya, Daniel kerap terjebak permasalahan itu.

Sedangkan di departemen penyutradaraan, Putrama Tuta kembali unjuk gigi, memamerkan kapasitasnya mengkreasi adegan dramatis efektif, yang sesekali bicara hanya lewat visual (shot dari belakang saat Ahok membesuk ayahnya yang jatuh sakit), sesekali lewat kombinasi visual dengan bahasa verbal (shot dari liang kubur dibarengi kalimat “Makasih Pa” ucapan Ahok, yang sempurna merangkum hubungannya dengan sang ayah).

Sayangnya, Tuta sendiri tak kuasa menahan agar filmnya tak kehilangan pijakan di sepertiga akhir, tatkala kita akhirnya tiba di babak politik kehidupan Ahok. Penceritaan A Man Called Ahok menjadi terburu-buru, melompat-lompat. Karena saat itu, praktis semua yang film ini ingin sampaikan (pembentuk sosok Ahok) telah usai, dan masih berlanjut mungkin karena anggapan “Kamu tidak bisa membuat film tentang politikus tanpa menampilkan karir politiknya”. Bagai sekedar memenuhi obligasi, penuturannya tak lagi menyertakan hati, dan berakhir sekedar melakukan checklist. A Man Called Ahok sama sekali tidak buruk, tetapi tokoh seperti Basuki Tjahaja Purnama layak diberi film yang lebih dari sebatas “tidak buruk”.

THE NUTCRACKER AND THE FOUR REALMS (2018)

Andai The Nutcracker and the Four Realms bersedia memberi lebih banyak balet serupa sumbernya—pertunjukan balet dua babak The Nutcracker karya Marius Petipa yang mengadaptasi cerita The Nutcracker and the Mouse King buatan E. T. A. Hoffmann—atau setidaknya menyelipkan nomor musikal, film ini bakal jadi salah satu favorit saya tahun ini. Saya bukan tengah mengkritisi film karena tidak menjadi hal yang saya harapkan dan bukan tujuannya, tapi sulit disangkal bahwa sekuen balet di tengah (plus satu di kredit) juga kemeriahan visual warna-warni miliknya mampu menutupi kelemahan narasinya.

Formula klasik Disney mengenalkan kita pada tokoh utamanya. Clara Stahlbaum (Mackenzie Foy) sedang berduka, menolak menikmati malam Natal, selepas kematian ibunya, Marie (Anna Madeley). Hubungan dengan sang ayah (Matthew Macfadyen) pun merenggang, sebab Clara merasa, Mr. Stahlbaum hanya peduli soal reputasi alih-alih perasaan sang puteri. Awalnya ia menolak ajakan pesta malam Natal, tapi demi bertemu ayah baptisnya, Drosselmeyer (Morgan Freeman), yang diyakini menyimpan kunci untuk membuka hadiah dari mendiang ibunya (sebuah telur misterius), Clara pun datang.

Syukurlah dia bersedia, karena begitu tiba di lokasi pesta, kita langsung disambut oleh tari ballroom memesona, diisi orang-orang dengan gaun glamor, ruangan mewah, serta orkestra megah. Sebuah keindahan audiovisual yang bagi saya dapat sekuat elemen naratif perihal mengolah emosi. Tapi daya pikat artistiknya belum berhenti. Ketimbang langsung memberikan kuncinya, Drosselmeyer membagikan hadiah pada para hadirin dengan meminta mereka menyusuri tali masing-masing. Tali Clara menuntunnya ke Four Realm, dunia fantasi di mana sang ibu dahulu menjadi Ratu.

Bersama Kapten Phillip Hoffman (Jayden Fowora-Knight), si prajurit nutcracker penjaga jembatan, Clara dibawa menuju kerajaan tempat Marie dahulu memerintah guna menemui tiga dari empat penguasa alam: Sugar Plum (Keira Knightley) dari Land of Sweets, Hawthorne (Eugenio Derbez) dari Land of Flowers, dan Shiver (Richard E. Grant) dari Land of Snowflakes. Kembali kita disuguhi setting serta kostum fantasi pemikat mata. Meski suara bernada tinggi kepunyaan Keira Knightley mungkin kerap terdengar mengganggu, rambut arum manisnya adalah sentuhan apik yang membuat sosoknya penuh daya tarik.

Satu penguasa lain adalah Mother Ginger (Helen Mirren) dari Land of Amusement yang konon jadi penyebab pecahnya perang antara keempat alam akibat usahanya menghancurkan semua yang Marie bangun. Land of Amusement sendiri, seperti ketiga alam lain, diisi makhluk-makhluk berpenampilan unik, walau Mouse King dan lima “Badut Matryoshka” mungkin akan jadi mimpi buruk bagi beberapa orang.

Daripada menerapkan flashback, naskah buatan Ashleigh Powell menuturkan backstory lewat balet. Diawali tribute bagi Fantasia (1940), pertunjukkan yang memasang pebalet Misty Copeland selaku figur sentral ini tak pernah berhenti memukau. Tata setting properti yang mengusung kejayaan dan kemeriahan teater musikal hingga yang sempurna ditangkap oleh kamera Linus Sandgren (La La Land, First Man) versi anyar untuk musik ikonik buatan Pyotr Ilyich Tchaikovsky yang digubah oleh James Newton Howard (King Kong, Batman Begins, The Hunger Games), jadi penyusun capaian artistik fantasi yang amat membuai, dan saya berharap sekuen ini takkan usai.

Balet tersebut saya yakin digarap oleh Lasse Hallström (What’s Eating Gilbert Grape, Hachi: A Dog’s Tale, Dear John), yang berbagi kredit penyutradaraan dengan Joe Johnston (Jumanji, Jurassic Park III, Captain America: The First Avenger), yang mengambil alih proses pengambilan gambar ulang selama sebulan. Kemungkinan besar Johnston diberi tanggung jawab merangkai sekuen aksi, yang sayangnya kurang memikat. Masih dibungkus visual cantik, namun pertarungan antara Mouse King melawan ratusan prajurit mainan timah, atau aksi Helen Mirren melempar pecut, semestinya tersaji seru, bukan aneh dan canggung.

Mackenzie Foy adalah aktris muda berbakat yang sanggup menjadikan Clara sesosok jagoan lovable yang perjalanannya menyenangkan disimak, sehingga mudah menggaet dukungan penonton dalam upayanya menggapai tujuan.....andai saja tujuan yang film ini berikan padanya jelas. Naskahnya kebingungan menentukan garis akhir serta bagaimana cara mencapainya, yang berakibat hambarnnya dampak emosi.

Konflik awal Clara adalah duka ditambah pemikiran bahwa sang ayah tidak mempedulikannya. Masalah dengan ayah tuntas di paruh awal saat Clara belajar melihat dari perspektif berbeda. Sementara dukanya berubah jadi ketidakpercayaan diri. Clara merasa tak sehebat sang ibu. The Nutcracker and the Four Realms kelabakan menyatukan beragam persoalan itu, lalu bersembunyi di balik pesan dari Marie, jika SEMUA yang Clara butuhkan ada dalam telur pemberiannya. Alhasil, SEMUA problematika pun tuntas begitu Clara memahami makna hadiah tersebut. Di tengah kerancuan narasinya, sulit menampik harapan kalau film ini menyelipkan lebih banyak elemen terkuatnya.

TUJUH BIDADARI (2018)

Film jelek kadang bisa tampil menyenangkan, entah sebagai guilty pleasure atau tontonan so-bad-it’s-good. Lain cerita dengan film membosankan, yang takkan menarik ditonton—untuk kemudian dievaluasi—ulang. Tapi itu masih belum ada apa-apanya dibandingkan film jelek sekaligus membosankan. Tujuh Bidadari adalah salah satunya, dan membuat saya bertanya-tanya, “Ada apa dengan Muhammad Yusuf?”.

Sejak 2013 sampai 2015, Yusuf rutin meluncurkan horor tiap tahun, yang seluruhnya, meski jauh dari sempurna, punya kualitas memuaskan. Kemasukan Setan (2013), Angker (2014), dan Misterius (2015) membuktikan kapasitasnya memanfaatkan kesederhanaan guna menciptakan teror. Bukan tumpukan jump scare, melainkan kengerian hakiki. Lalu The Curse (2017) mengubah segalanya, dan kini Yusuf resmi melahirkan dua horor jelek yang membosankan secara beruntun (belum termasuk drama-romantis Bluebell yang tayang April lalu).

Saya sudah mendapat firasat buruk kala filmnya dibuka oleh title card berupa keterangan bahwa Tujuh Bidadari melakukan pengambilan gambar langsung di Aradale Lunatic Asylum yang terletak di Ararat, Australia. Seolah kualitas sebuah film otomatis bertambah jika dibuat di lokasi aslinya. Judulnya sendiri merujuk pada nama band tempat ketujuh tokoh utama film ini tergabung (bukan, bukan 7 Icons), yang sedang melangsungkan proses pembuatan video klip di Australia. Sebuah tantangan besar bagi naskahnya untuk membuat penonton ingat, apalagi peduli terhadap karakter sebanyak itu.

Bagaimana cara filmnya menyiasati itu? Tujuh Bidadari meminta tiap karater menyebut nama beserta posisi mereka di band satu per satu, dan itu dilakukan dua kali (wawancara dan rekaman vlog), alih-alih memberi mereka penokohan solid. Anehnya, bukan itu saja hal yang diulangi secara tidak perlu. Di Australia, Tujuh Bidadari (selanjutnya disebut “7B”) bertemu penyanyi lokal bernama Mark (William D McLennan), yang mengajak mereka mengunjungi Aradale. Mark menyebut bahwa 10 ribu orang tewas di sana. 7B pun terkejut. Keesokan hari, dalam perjalanan menuju Aradale, Mark mengatakan hal serupa, dan 7B kembali terkejut.

Masih ada contoh-contoh lain, seperti cerita Mark bahwa sang kakek dahulu merupakan karyawan Aradale. Saya tak tahu apa yang terjadi di belakang layar. Tapi saya berasumsi, ini akibat kurangnya koordinasi dan/atau pemahaman menyeluruh dalam proses menulis dan/atau menulis ulang, yang dilakukan keempat penulis naskahnya: Muhammad Yusuf, Konfir Kabo (produser eksekutif The Curse), King Javed (Angker), Resika Tikoalu (produser The Curse juga Tujuh Bidadari). Entahlah.

Setelah berkeliling sejenak di rumah sakit, Mark meninggalkan 7B di sebuah ruangan dengan alasan mengambil minum. Tapi, karena beragam alasan, masing-masing anggota 7B mulai meninggalkan ruangan, dan akhirnya tewas satu demi satu. Tersimpan ide menarik di sini, berupa penggabungan slasher yang menekankan atmosfer ketimbang gore, dengan horor supranatural. Masalahnya, tempo lambat yang diterapkan Yusuf nihil intensitas maupun kengerian. Sebagaimana The Curse, sang sutradara hanya melambatkan penuturan, dan itu berbeda dengan membangun atmosfer, yang mana perlu memperhatikan camerawork, mise-en-scène, musik, dan lain-lain.

Pun kita tahu jika sosok yang menghabisi 7B tidaklah menyeramkan, dan sekalinya sosok itu melancarkan serangan, aksinya terjadi off-screen, di mana kita leih sering cuma melihat cipratan darah atau mendengar efek suara tusukan. Artinya, baik penantian atau payoff-nya tak memberi apa pun kecuali rasa bosan. Sulit pula mempedulikan ketujuh gadis itu tatkala para aktris urung memberi performa meyakinkan, antara kurang bernyawa, atau sebaliknya, cringey dan berlebihan. Hanya Dara Warganegara sebagai Stella yang menarik disimak, itu pun karena ia kebagian porsi kesurupan.

Sesekali, Tujuh Bidadari bersedia memperlihatkan sadisme cukup eksplisit, yang sanggup sedikit memudarkan kebosanan, walau lubang-lubang aspek teknis dapat ditemukan di sana-sini. Misalnya satu mayat yang tewas dipenggal, namun kita masih bisa melihat jelas leher dan kepala yang terpasang utuh di tubuh. Tapi saya tidak mengkritisi kurang beraninya Tujuh Bidadari mengumbar kebrutalan. Itu pilihan yang Yusuf beserta timnya ambil, dan sayangnya, pilihan itu gagal dimaksimalkan.

Masalah lain dipicu begitu berantakannya naskah dalam menangani elemen supranatural. Mengapa harus 7B yang diincar? Mengapa Stella sangat mirip Shu Yin si penyihir? Mengapa Shu Yin memerlukan pertolongan manusia biasa jika ia sendiri dapat dengan gampang menghabisi nyawa korban menggunakan ilmu gaibnya? Ketika rangkaian pertanyaan masih berseliweran, Tujuh Bidadari mendadak berakhir setelah memaksakan diri menyampaikan latar belakang soal tragedi 100 tahun lalu. Seolah para penulis kebingungan menentukan kapan, di mana, dan bagaimana mereka mesti menempatkan eksposisi tersebut, lalu memutuskan menaruhnya sembarang tempat. Setidaknya saya suka riasan sederhana untuk hantu Shu Yin yang didominasi warna putih dengan sedikit corak merah di wajah.