MOVFREAK ON UC NEWS (LAST UPDATED ON DECEMBER 27, 2017)

Sejak akhir Juni lalu, saya diundang oleh UC News untuk menyumbangkan tulisan bertema religi...maksud saya film. Awalnya saya hanya mempublikasikan ulang review blog ini, sampai tercetus niat untuk fokus pada pembuatan list film, yang mana sering pembaca blog ini minta tapi karena satu dan lain hal (baca: penulisnya pemalas) jarang terpenuhi. Kenapa tidak sekalian membuat list juga di sini? Tidak lain demi menjaga orisinalitas kedua media, sebab pernah artikel saya ditolak karena sistem menyatakan tulisan itu hasil jiplakan dari web movfreak.blogspot.com (lol).

Maka dari itu, jika ada list yang kalian ingin saya buat, silahkan request, bisa di kolom komentar ini atau artikel saya di UC News. Untuk mengakses tulisan di sana, bisa mengunduh aplikasi UC News di smartphone, lalu cari dan ikuti akun "Movfreak". Atau cukup dengan mengikuti postingan ini yang akan selalu saya update tiap ada artikel baru dan akan selalu disematkan di halaman paling atas blog. Dan karena perbedaan media publikasi, gaya penulisan yang saya pakai pun (mostly) berbeda. Silahkan request sebanyak-banyaknya, makin unik makin baik, agar memudahkan saya membuat judul clickbait daftar menarik. Tenang, review tetap saya publikasikan di sini (afterall, this is my home, and all of you, my readers, are the lovely guests).

Berikut beberapa judul yang sudah ada sejauh ini yang akan rutin diperbaharui (klik untuk menuju tautan):

DARKEST HOUR (2017)

Orasi dalam film sering dipakai selaku alat penyulut emosi, dan Darkest Hour adalah film di mana orasi mendominasi, menjadi pondasi alur. Masuk akal, mengingat karya teranyar Joe Wright (Pride & Prejudice, Atonement, Anna Karenina) ini mengisahkan sosok Winston Churchill (Gary Oldman) yang dikenal sebagai orator handal. Tidak ada yang bisa merangkai kata sebaik dirinya. Setidaknya menurut sang sekretaris, Elizabeth Layton (Lily James). Pernyataan itu sulit disangkal. Suatu ketika Lord Privy Seal menelepon kala Churchill sedang berada di toilet. Responnya menggelitik: “Please tell the Privy Seal that I’m sealed in the privy and I can only deal with one shit at a time”. 

Anthony McCarten menyelipkan humor dalam naskahnya, entah permainan kata seperti di atas atau comedy of manners sebagaimana nampak di pertemuan  canggung Churchill dan Raja George VI (Ben Mendelsohn) pasca ia ditunjuk selaku Perdana Menteri menggantikan Neville Chamberlain (Ronald Pickup) di masa Perang Dunia II . Neville mungkin Perdana Menteri yang baik kala damai, namun lain cerita di tengah peperangan. Churchill dengan kegigihan untuk maju menghadang Nazi pun dipilih, meski banyak pihak meragukan kapasitasnya, terlebih pasca Gallipoli yang memakan korban ratusan ribu pasukan Inggris.
Darkest Hour bersedia menyibak kelemahan Churchill. Ketika Viscount Halifax (Stephen Dillane) terang-terangan menyebut tragedi Gallipoli diakibatkan keputusan Churchill tepat di depan matanya, terbersit keraguan di respon sang Perdana Menteri, walau ia tetap berkelit menolak disalahkan. Mungkin jauh dalam hati kecilnya, Churchill menyadari telah berbuat salah. Dia bermental baja, pantang menyerah, keras kepala, tapi bukannya mustahil dirobohkan. Mencapai satu titik, Churchill sempat terjerembab ke lubang gelap, ketakutan, meragu, bahkan kehilangan kata-kata yang mana adalah keahliannya.

Churchill terbentur dilema. Terus melawan dengan resiko makin banyak nyawa prajurit melayang, atau setuju berdamai yang berarti membuka jalan Nazi makin berkuasa, dan kemungkinan besar melucuti kemerdekaan Inggris. Banyak film membawa kita ke tengah medan perang. Di sana, wajah politikus dan pemegang tampuk kekuasaan selalu sama: orang-orang tanpa hati yang mengirim prajurit untuk mati sedangkan mereka bersembunyi di balik benteng tebal di rumah sendiri. Darkest Hour menyuguhkan perspektif lain, menyoroti yang terjadi di ruang Parlemen, apa yang dilakukan pria-pria berjas selaku pemilik kekuasaan.
Persoalan di balik layar ini mampu mengaduk rasa lewat pidato Churchill yang seolah mampu menggerakkan api perjuangan rakyat. Wright, dalam salah satu penyutradaraan terbaiknya, menyulap orasi di rapat Parlemen yang remang-remang atau siaran radio di bawah siraman lampu merah jadi momen mencengkeram dada. Musik Dario Marianelli membantu mengangkat emosi sembari tetap menjadi keping estetika yang dapat dinikmati sendiri, sementara sinematografi Bruno Delbonnel menghadirkan sekuen luar biasa kuat yang kemunculannya tak terduga (petunjuk: melibatkan mata jenazah). Dramatisasi Wright efektif, keputusan menyelipkan adegan fiktif manipulatif sewaktu Churchill menemui rakyat di kereta bawah tanah pun bisa dimaklumi. Bahkan adegan itu adalah poros emosi yang memberi cukup latar belakang terkait keputusan Churchill.

Selain Wright, Gary Oldman turut melakukan dramatisasi. Bila anda mendengar rekamannya, orasi Churchill menggugah namun tak sedemikian berapi-api layaknya Oldman. Dampaknya sempurna. Tiap kali ia mulai bertutur, seketika itu pula hati ini seperti diremas-remas, terhanyut oleh kecerdikannya menyusun kata sekaligus tersulut berkat semangatnya. Bukan itu saja, Oldman sampai pada tingkat teratas seni peran, di mana ia merasuk begitu dalam, menyatu dengan tokoh yang dimainkan, hingga gestur-gestur kecil macam getaran bibir (beberapa kali ditonjolkan oleh Wright melalui close up) muncul secara alami selaku bagian dirinya. This is a performance so good it makes me cry. Wanita-wanita di sekitar Churchill pun memikat, dari Lily James si sekretaris sampai Kristin Scott Thomas sebagai istri Churchill, Clementine, yang meniupkan sepintas romantisme hangat.

FLIGHT 555 (2018)

Membuat komedi itu susah. Apalagi kalau spesifik, khusus menyasar persoalan atau setting tertentu. Seperti namanya, Flight 555 (seharusnya) merupakan komedi penerbangan dengan humor yang terfokus pada benda, peristiwa, dan orang-orang di pesawat. Adegan pembukanya melakukan itu, menggelitik lewat parodi terhadap ragam ciri penumpang: wakil rakyat sombong, orang yang baru pertama terbang dan bertingkah norak, pramugari yang bergerak hiperbolis kala menunjukkan arah bangku. Melihat Meriza Febriani yang anggun dalam balutan seragam pramugari bertingkah demikian jadi anomali menyenangkan.

Memang perlu usaha ekstra bagi duo penulis naskah, Isman HS dan Raymond Handaya (juga sutradara) mengkreasi opening-nya. Dituntut berpikir keras sepertinya membuat pikiran mereka terforsir lalu kering ide. Humor yang menyusul, khususnya setelah pembajakan dimulai, tak lebih dari kebodohan seragam nan reptitif. Pembajakannya absurd. Putu (Tarra Budiman) yang pulang ke Bali demi menemui sang ayah yang sakit keras menemukan pistol di toilet pesawat, tepat sebelum seorang Sunda dengan koteka (Anyun Cadel) dan seorang Papua (Abdur Arsyad) membajak pesawat menggunakan panah. Tidak lama kemudian muncul satu lagi pembajak yang mengenakan bom. 
Merasa perlu bertindak, Putu memakai pistol yang ia temukan untuk berpura-pura ikut membajak pesawat guna mengkonfrontasi ketiga pelaku. Absurd dan penuh usaha melucu, namun skenarionya bukan menitikberatkan pada situasi, melainkan karakter. Ketimbang menciptakan absurditas berdasarkan rutinitas penerbangan seperti dilakukan Airplane! yang sepertinya memberi pengaruh besar (romansa dengan pramugari, konflik terkait mantan kekasih, keracunan makanan, pembersih kaca pesawat, kemiripan pilot dengan sosok ternama), Flight 555 mengutamakan agar beberapa tokohnya bertindak sebodoh mungkin.
Anyun Cadel misalnya, diminta melontarkan pernyataan ngawur terus menerus hingga ke titik membosankan, bahkan menyebalkan. Sebaliknya, begitu banyak karakter malah sama sekali tidak berstatus tokoh komedik. Rusmedie Agus adalah antagonis super serius, Tarra Budiman selaku protagonis hanya konyol di awal sewaktu status jomblonya jadi bahan olok-olok, pula Mikha Tambayong yang tersia-siakan talentanya. Raymond urung memahami potensi Mikha melakoni komedi deadpan serupa yang ditunjukkan saat merespon kecerobohan supir yang membuat lipstiknya berantakan di awal kemunculan.

Terlalu banyaknya karakter plus situasi serius menyiratkan hilang arahnya film ini. Pembajakan diposisikan bak kenyataan selaku situasi hidup-mati alih-alih sekedar parodi pengundang tawa di tengah premis absurd. Tapi di saat bersamaan, Flight 555 juga menggelontorkan lelucon di luar nalar. Inkonsistensi tone pun hadir. Absurditas komikal yang tak mempedulikan logika bertabrakan, gagal membaur dengan komponen suspens dan dramatik. Anda pun bisa memindahkan setting Flight 555 ke mana saja. Bus, perahu, kapal selam. tinggal pilih. Pertanda filmnya gagal memanfaatkan kekhasan setting. 

THE COMMUTER (2018)

Sebagai whodunit, The Commuter punya destinasi yang telah nampak bahkan sebelum karakter utamanya melangkahkan kaki memasuki kereta menuju perjalanan panjang yang memaksanya berpacu dengan waktu. Kita cuma perlu memberi sedikit perhatian terhadap detail remeh sambil memasang kecurigaan. Tapi whodunit bukan melulu soal twist mengejutkan. Proses yang mengandung unsur “5W 1H” merupakan komponen penting, kalau bukan yang terpenting. Sayangnya, itu pun gagal dipenuhi oleh film kolaborasi keempat Liam Neeson dan sutradara Jaume Collet-Serra ini.

Neeson memerankan Michael MacCauley, karyawan perusahaan asuransi jiwa yang rutin menaiki kereta saat berangkat dan pulang kerja. Alhasil, ia pun mengenal beberapa orang sesama komuter, begitu pula sebaliknya. Tentu ia bukan pria tua sembarangan. Michael adalah mantan polisi. Sang aktor masih bisa diandalkan menjadi action hero. Fisiknya mungkin tak lagi prima melakoni adegan perkelahian, namun wibawanya membuat penonton percaya Neeson bisa melakukan semuanya. Malang bagi Michael, ketangguhan yang dimiliki tak kuasa menghindarkannya dari pemecatan.
Di tengah perjalanan pulang, tatkala rasa gamang karena mesti menceritakan pemecatan itu pada istrinya ketika tanggungan membayar iuran kuliah putera mereka sedang menghantui, Michael didatangi oleh Joanna (Vera Farmiga). Joanna menawarkan $100 ribu untuk Michael, asalkan ia bersedia memakai pengetahuannya tentang para komuter guna mencari sosok misterius bernama Prynne yang tak semestinya berada di atas kereta. Kenapa harus Michael? The Commuter menawarkan jawaban yang sekilas masuk akal tapi jika ditilik lebih lanjut, meninggalkan kejanggalan.

Kalau saya memiliki cukup uang, akses, dan kekuasaan untuk mengendalikan aparat dan menyabotase kereta, takkan sulit melenyapkan apalagi menemukan seseorang. Tidak perlu repot-repot menempuh langkah kompleks yang peluang keberhasilannya tak seberapa. Collet-Serra jelas mengidolakan Alfred Hitchcock. Sejak Unknown, filmnya melibatkan unsur teror ruang sempit, identitas rahasia, atau karakter “wrong man in the wrong place”. Di berbagai film tersebut Collet-Serra bekerja sama dengan penulis berlainan, kecuali Ryan Engle yang menulis The Commuter dan Non-Stop. Lalu bagaimana bisa seluruhnya menyimpan permasalahan serupa? Rasanya kalimat “jodoh tidak ke mana” memang benar adanya.
Karya sang sutradara acap kali lemah di konklusi. Seperti The Shallow, The Commuter melompat menuju klimaks bombastis pasca menghabiskan durasi membangun misteri. Tidak keliru. Collet-Serra hendak membuat Hitchcockian modern yang menggabungkan misteri dan aksi dahsyat. Tapi klimaks The Commuter, yang menerapkan CGI berkualitas medioker, urung menyimpan ketegangan. Penonton urung diajak merasakan kecemasan layaknya sebuah momen sewaktu Michael nyaris terlindas kereta api. Adegan tersebut efektif, karena memberi penekanan akan bahaya yang dialami si tokoh, sedangkan klimaksnya lalai. 

Skenario milik Byron Willinger, Philip de Blasi, dan Ryan Engle kurang mumpuni membagi fase, kapan mesti menebar pertanyaan, kapan mesti membagi jawaban sedikit demi sedikit. Naskahnya menggantungkan tanda tanya untuk penonton jawab tanpa memiliki teka-teki menarik untuk memancing antusiasme mencari jawaban.  Jaume Collet-Serra jelas diberkahi visi memadahi dalam hal meramu aksi. Dia hanya harus mencari pasangan penulis naskah yang tepat. 

1987: WHEN THE DAY COMES (2017)

Represi pemerintah terhadap media, persekusi pemegang kekuasaan terhadap rakyat sipil oposisi, hingga dalih pemberantasan antek komunis selaku kambing hitam dalam upaya membungkam pihak yang kritis. Kita di Indonesia telah familiar akan semua itu, sehingga saat banyak kisah menyeruak dan sederet karakter keluar-masuk dalam 1987: When the Day Comes, rasanya tidak sulit mencerna garis besar peristiwanya. Bahkan sekalipun naskah buatan Kim Kyung-chan kerepotan menangani skala ambisius filmnya, kita takkan tersesat jauh. Karena kita sudah hafal, sampai dibuat muak oleh modus operandi di atas.

Filmnya dibuka lewat tragedi yang acap kali terjadi dalam sebuah upaya revolusi, khususnya yang menyertakan pemuda sebagai tulang punggung. Mahasiswa sekaligus aktivis bernama Park Jong-chul (Yeo Jin-goo) tewas akibat penyiksaan keji kala diinterogasi pasca terlibat dalam demonstrasi menentang rezim diktator Presiden Chun Doo-hwan. Komisaris Park (Kim Yoon-seok) bertugas menutupi fakta tersebut, menyatakan bahwa Jong-chul, yang ditangkap karena pro-komunis, tewas akibat serangan jantung ketika interogasi. Demi menghindari autopsi, jenazah Jong-chul akan dikremasi tanpa persetujuan keluarga.
Di sinilah perlawanan mulai terjadi. Jaksa Choi (Ha Jung-woo) menolak memberi izin kremasi. Choi adalah tipikal protagonis populer sinema Korea. Bermoral, menjunjung tinggi aturan, walau kerap bersikap semaunya. 1987: When the Day Comes semestinya bertahan memberi sorotan utama pada Choi yang dimainkan dengan penuh energi oleh Ha Jung-woo. Alih-alih demikian, ambisi tinggi membawa kisahnya melebar, melompat ke tokoh-tokoh lain, dari reporter Yoon Sang-sam (Lee Hee-joon), sipir Han Byung-yong (Yoo Hae-jin) dan keponakannya, Yeon-hee (Kim Tae-ri), hingga nama-nama yang tidak bisa saya sebutkan karena gagal terekam di memori. Bahkan halaman Wikipedia tak membantu mengingat. 

Jaksa Choi menarik karena tingkah serampangannya. Byung-yong relatable berkat kebolehan Hae-jin mewakili sisi rakyat sipil yang tidak berdaya di hadapan penguasa layaknya kita. Sang keponakan mudah mencuri hati sebab Tae-ri menyuntikkan keceriaan di antara situasi mencekam filmnya. Di pihak berlawanan, Kim Yoon-seok tampil begitu intimidatif. Karakter lainnya urung bernasib sama. Kurang berkesan, dan sejatinya tanpa sumbangan signifikan untuk alur. Berniat mengambil cakupan perspektif seluas mungkin (rakyat, mahasiswa, aktivis, jurnalis, aparat, politikus), 1987: When the Day Comes melangkah menuju kerumitan tak perlu.
Berbagai dialog penjelas cukup membantu mengatasi kerumitan benang kusut kisahnya tetapi tak membantu mengikat perasaan dengan jajaran tokohnya. Padahal dalam beberapa kesempatan, sutradara Jang Joon-hwan berhasil memunculkan komponen khas sinema Korea Selatan, yakni luapan emosional yang otentik. Seperti kita tahu bersama, film Korea jago menumpahkan air mata menyayat, seolah sutradara dan aktor Negeri Ginseng paham betul tangis seperti apa yang efektif menusuk hati penonton. 

1987: When the Day Comes mampu menjungkalkan Along with the Gods: The Two Worlds dari singgasana puncak Box Office Korea Selata setelah tiga minggu bertahta. Prestasi ini menandakan betapa penonton di sana merasa terikat akan perjuangan merubuhkan kediktatoran para penjahat kemanusiaan. Perjuangan itu ditutup melalui shot yang menghadirkan paralel dengan adegan pamungkas Les Misérables-nya Tom Hooper, selaku sesama film tentang revolusi. Sebuah pilihan visual tepat, berbeda dengan momen cringey tatkala imagery Kristus dipakai untuk menggambarkan Kim Jeong-nam laksana mesias. Api yang disulut film ini tidak membara sebesar keinginan pembuatnya.

ALL THE MONEY IN THE WORLD (2017)

J. Paul Getty (Christopher Plummer) tak bergeming, teguh pada keputusannya menolak membayar uang tebusan bagi penculik cucunya, Paul Getty III (Charlie Plummer), meski mendapat tekanan berbagai pihak termasuk sang menantu, Gail (Michelle Williams). Sutradara Ridley Scott, kukuh pada keputusan melakukan pengambilan gambar ulang demi menendang Kevin Spacey dari film pasca tertimpa kasus pelecehan seksual, meski hanya punya waktu sembilan hari yang bagi banyak orang adalah misi bunuh diri. Baik Getty maupun Scott yakin akan keputusan mereka karena menyimpan satu modal penting: pengalaman.

Pengalaman Scott yang telah 40 tahun berkecimpung di industri film, selain nampak dari caranya menangani masalah di balik layar, terlihat juga dari hasil di atas layar. All the Money in the World, selaku adaptasi buku Painfully Rich: The Outrageous Fortunes and Misfortunes of the Heirs of J. Paul Getty karya John Pearson, dikemas lewat ketepatan pacing dan dinamika. Scott menguasai betul dasar-dasar bercerita. Kapan alur harus dibawa berlari, kapan berjalan perlahan, kapan diam sejenak untuk memberi penonton kesempatan mencerna fakta. 
Semua soal kematangan, yang mana turut dimiliki Plummer, sehingga persiapan mepet tak menghalanginya memberi performa yang bagi banyak aktor mungkin memerlukan waktu panjang untuk mendalami peran. Di tangan Plummer, Getty bagai medan magnet kuat yang menarik segala atensi tatkala mengisi layar. Dialah taipan minyak sukses sekaligus orang terkaya kala itu (1973) yang bersedia menawar selama satu jam untuk mendapatkan patung murahan dan menjabat tangan sang putera layaknya rekan bisnis setelah berpisah bertahun-tahun ketimbang memeluk hangat. Beberapa dari penonton (termasuk saya) mungkin akan iseng bertanya dalam hati, “apakah Getty mempunyai gudang tempat ia berenang di kolam uang logam?”. 

Sewaktu Paul diculik, dan para penculik meminta tebusan $17 juta, Getty cuma tertawa di hadapan awak media sambil menyatakan enggan membayar. Lalu masuklah Gail yang coba membujuk mertuanya agar mau mengesampingkan keserakahan demi sang cucu. Ketika usaha tersebut sia-sia, dibantu oleh Fletcher Chase (Mark Wahlberg) selaku penasihat Getty plus mantan anggota CIA serta kepolisian, Gail coba mencari cara sendiri guna menyelamatkan Paul. Gail menolak hancur. Ketegaran yang malah memancing opini negatif media. Menurut salah satu wartawan, seorang ibu semestinya menangisi nasib putera yang diculik. 
Tapi Gail enggan bersikap sebagaimana ekspektasi umum. Dia melawan ekspektasi dan berani bertindak seorang diri. Keberanian yang terpancar dari tatapan menyengat dan selorohan sinis Williams. Mata sang aktris bicara begitu banyak. Serupa filmnya yang tidak pernah meledak-ledak namun mengikat melalui investigasi dan studi karakter, Williams mengekspresikan setumpuk rasa tanpa luapan besar. Obrolan Gail dengan Fletcher di penghujung film menyiratkan setumpuk interpretasi. Apakah ia mengingkan lelaki itu menetap? Apakah ia diam-diam jatuh cinta? 

Di luar investigasi, intensitas All the Money in the World bersumber dari ajakan untuk penonton mempertanyakan intensi Getty sesungguhnya. Benarkah ia sekedar kikir ataukah tengah menjalankan permainan pikiran terselubung? Inilah teka-teki sesungguhnya, yang hadir sambil diselimuti musik megah nan misterius buatan Daniel Pemberton. All the Money in the World merupakan sajian yang dikemas memakai gaya dasar minim terobosan. Dan Scott begitu menguasai dasar, sehingga film ini tersaji sedemikian solid. Tidak mendobrak batas, tidak pula meninggalkan banyak cacat.  

SILARIANG: CINTA YANG (TAK) DIRESTUI (2018)

Dress code untuk gala premiere Silariang Cinta yang (Tak) Direstui adalah hijau. Tidak aneh. "Mungkin menyesuaikan poster yang didominasi hijau", begitu pikir saya. Lalu filmnya bergulir, terlihat minuman, kasur, pakaian, mayoritas berwarna hijau. Dibantu tata cahaya, putih pun menjurus kehijauan. Kemudian saya tahu, baju bodo (pakaian adat Bugis) hijau khusus diperuntukkan bagi kaum bangsawan. Dengan meminta penonton mengenakan baju hijau serta menjadikan hijau warna umum di filmnya, sutradara Wisnu Adi dan tim bagai tengah menghapus batas strata, yang merupakan pemicu konflik Silariang Cinta yang (TakDirestui. 

Strata menghalangi percintaan Yusuf (Bisma Karisma) dan Zulaika (Andania Suri). Yusuf putera pengusaha kaya, tetapi hanya rakyat biasa. Sedangkan Zulaika adalah keturunan bangsawan. Niat mereka melangsungkan pernikahan pun tak direstui, khususnya oleh Rabiah (Dewi Irawan), ibu Zulaika. Satu pihak mementingkan gengsi sebagai konglomerat, pihak lain menjunjung harga diri tinggi golongan darah biru. Sungguh manusia melupakan kemanusiaan atas nama martabat.
Gagal memperoleh restu, dua protagonis kita nekat untuk silariang alias kawin lari meski nyawa jadi taruhan. Sebab pihak keluarga Zulaika yang diwakili Puang Ridwan (Sese Lawing) mencari keduanya tanpa henti, pula bertekad menghunuskan badik ke tubuh Yusuf. Sungguh situasi genting, tetapi skenario buatan Oka Aurora (Dear Love, Hijabers in Love) enggan terlampau serius maupun bergelora atas nama dramatisasi, satu kelemahan terbesar Silariang: Menggapai Keabadian Cinta tahun lalu. Di tengah pelarian, Zulaika sempat mengeluh kelelahan akibat jauhnya perjalanan. Yusuf pun menjawab "namanya juga Silariang". 

Syukurlah film ini bersedia menyelipkan interaksi santai. Kisahnya jadi lebih membumi. Di tangan tim yang kurang kompeten, romansa bakal selalu dijejali kalimat puitis yang oleh para pemain dibawakan layaknya bocah SD tengah belajar baca puisi. Demikian juga paparan konflik yang tidak lupa menyentuh hal-hal mendasar seperti kesulitan ekonomi sekaligus ego yang secara alami akan sesekali menguasai Yusuf dan Zulaika. Yusuf meragukan kejujuran sang istri membuat Zulaika tersinggung, merasa harga diri sebagai keturunan bangsawan diinjak-injak. 
Keduanya sampai ke pertengkaran tersebut merupakan proses natural. Wajar jika di satu titik Zulaika membawa-bawa tentang strata. Artinya ia manusia. Andania Suri memberikan penampilan dewasa yang sama manusiawinya, sedangkan Bisma, pasca tampil mengesankan di Juara, kini beberapa kali memperlihatkan ekspresi yang kurang cocok pada momen serius meski pesona kala melakoni adegan kasual tak perlu diragukan. Tapi sebagaimana Ayat-Ayat Cinta 2, Dewi Irawan dalam kemunculan singkat mencuat sebagai penampil terbaik. Perasaan bergemuruh tanpa harus memasang raut wajah maupun gestur besar. 

Silariang Cinta yang (TakDirestui sayangnya urung menyentuh titik emosi tertinggi akibat lemahnya klimaks permasalahan. Bahkan, secara keseluruhan, untuk cerita soal keberanian melawan adat yang dapat berujung maut, filmnya bergulir terlampau damai, menyebabkan minimnya dinamika serta persoalan menarik. Konklusi yang sejatinya menyimpan harapan, sebuah bentuk doa terkait solusi ideal guna mengakhiri gesekan mengenai adat yang sering terjadi di dunia nyata, terkesan bak jalan pintas menyelesaikan masalah. Silariang Cinta yang (TakDirestui tidak buruk. Hanya datar nan mudah dilupakan.

THREE BILLBOARDS OUTSIDE EBBING, MISSOURI / THE SHAPE OF WATER / LOVING VINCENT

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri dan The Shape of Water akan bersaing ketat di ajang Oscar 2018 nanti, khususnya pada kategori Best Actress di mana Frances McDormand dan Sally Hawkins jadi dua unggulan utama. Sementara keberadaan Coco menyulitkan Loving Vincent berbicara banyak, namun film animasi pertama yang seluruhnya dibuat dengan lukisan ini jelas pantas mendapat perhatian anda.

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)
Inilah film di mana sulit bagi kita menebak apa yang akan segera terjadi maupun diutarakan. Sekali waktu misteri pembunuhan merambat. Berikunya giliran drama keluarga, komedi hitam, tragedi, sebelum kembali menyuguhkan misteri. Agama, rasisme, kekerasan oleh polisi, sampai kekejaman militer di negeri orang, semua disinggung. Banyak hal terjadi, kerap melompat antar genre, menyimpan kejutan-kejutan, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri nyatanya bergerak rapi, enak diikuti, pula mudah dimengerti berkat skenario cermat Martin McDonagh (In Bruges, Seven Psychopath). Semua diawali kenekatan Mildred Hayes (Frances McDormand) menyewa tiga billboard yang mempertanyakan kapasitas Sheriff Bill Willoughby (Woody Harrelson) dalam mengusut kasus pembunuhan dan pemerkosaan puterinya. Masyarakat bersimpati kepada Mildred, tetapi Bill adalah polisi teladan yang disukai. Beberapa pihak pun menentang tindakan Mildred, termasuk Dixon (Sam Rockwell), polisi rasis yang tak segan memakai kekerasan. Kesenduan Harrelson mampu mencengkeram, sementara arogansi bercampur kebodohan Rockwell, yang bertransformasi jelang akhir, menghibur, mengundang benci untuk kemudian memancing simpati. Namun McDormand adalah pemimpin ensemble-nya. Ekspresi jarang berganti (wajah keras, tatapan tajam), irit gestur, tapi kehadirannya nyata. Bahkan kala mengebor jari seorang pria, mimiknya tidak banyak berubah. McDorman dan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri sama-sama brilian, liar, membara, sensitif. Seolah tengah menelusuri labirin dengan beragam gempuran yang mustahil diantisipasi di tiap belokan. Pun ketimbang mencari sang pelaku, McDonagh menekankan proses saling mengobati antara mereka yang dirundung duka. Salah satu film paling komplet selama beberapa tahun terakhir. (5/5)

The Shape of Water (2017)
Terinspirasi dari Creature from the Black Lagoon (1954) yang sempat coba ia remake, Guillermo del Toro mempersembahkan film monster yang enggan ketinggalan menyinggun ragam isu sosial. Rasisme dan homofobia menjadi subteks, praktik segregasi dikritisi. Percintaan beda spesies dalam The Shape of Water merupakan bentuk dukungan del Toro atas kesetaraan. Tokoh utamanya, Elisa Esposito (Sally Hawkins) adalah tunawicara yang tinggal bersama seniman gay (Richard Jenkins), bersahabatan dengan wanita kulit hitam bernama Zelda (Octavia Spencer), jatuh cinta pada monster amfibi (Doug Jones) yang dikurung di laboratorium rahasia tempatnya bekerja. The Shape of Water merupakan usaha mewakili kaum marginal lewat paparan dongeng. Bahkan sejak pertama terdengar, musik gubahan Alexandre Desplat seketika memancarkan sihir fantasi. Di tangan del Toro, keseharian monoton Elisa, dari bangun tidur, masturbasi, menanti bus, sampai bekerja sebagai petugas kebersihan, terlihat bak dunia khayal yang membuai, walau keindahan sesungguhnya baru tampil tatkala del Toro menyelipkan momen musikal hitam-putih layaknya sajian klasik Hollywood yang berguna mengekspresikan isi hati sang tokoh utama. Demikian pula shot terakhirnya yang memadukan sinematografi menawan Dan Laustsen dan sensibilitas sang sutradara menyusun romantisme. Di antara kelembutan penuh rasa del Toro, Sally Hawkins menyeruak. Nihil tuturan verbal, Hawkins menampilkan kemurnian serta ketulusan yang memudahkan guna mencintai sosoknya. Namun kualitas The Shape of Water sayangnya kurang merata. Sewaktu adegan spesial yang del Toro siapkan tengah absen dari layar, naskah tulisannya bersama Vanessa Taylor tidak punya cukup magnet guna menahan antusiasme penonton. (3.5/5)

Loving Vincent (2017)
Kalimat pernyataan sebelum film dimulai menegaskan bahwa Loving Vincent memang lebih mementingkan gaya. Style over substance. Dan memang sulit dipungkiri, goresan cat air ala lukisan Vincent van Gogh menjadikan film ini tiada duanya. Walau sebagaimana teknik visualnya membuat tokoh-tokoh yang ada terkesan artificial, penelusuran alurnya soal kehidupan serta kematian sang pelukis ternama takkan merenggut emosi. Menarik melihat karya-karya macam Sorrowing Old Man atau Young Man with Cornflowers bermanifestasi jadi tokoh-tokoh yang mengisi alur. Ketika seringkali kita mengenal seniman melalui karya ketimbang jati diri personalnya (sudah semestinya begitu), Loving Vincent mengajak mengenal titular character-nya lebih jauh bersamaan dengan usaha Armand Roulin (Douglas Booth) mengantar surat yang Vincent (Robert Gulaczyk) tulis untuk saudaranya, Theo, sebelum ia tewas bunuh diri. Fakta yang tadinya terang benderang di mata Armand perlahan berubah ambigu seiring pertemuannya dengan orang-orang dalam hidup Vincent, membuatnya makin memahami “si pelukis gila”. Skenario buatan Dorota Kobiela, Hugh Welchman, dan Jacek Dehnel kurang mulus memaparkan pergantian sikap Armand. Dari persepsi negatif terhadap Vincent, mendadak ia amat peduli, bahkan rela melalui perjalanan jauh meski ancaman pemecatan menghantui. Misteri seputar kematian (dan kehidupan) Vincent mengundang rasa penasaran, namun lemahnya duo sutradara Dorota Kobiela dan Hugh Welchman menjaga tempo menghalangi efektivitas teka-tekinya mencengkeram atensi. (3.5/5)

FOREVER HOLIDAY IN BALI (2018)

Si pria adalah bintang K-Pop ternama. Si wanita gadis Bali biasa, terhimpit masalah ekonomi pula. Mereka bertemu di Pulau Dewata. Diawali pertengkaran, lama-lama cinta keduanya tak tertahan. Terdengar bagai dongeng idaman orang-orang yang berharap terlibat dalam pertemuan puteri cantik dengan pangeran tampan berkuda putih. Namun Forever Holiday in Bali memang sengaja bermain di ranah itu, setidaknya ingin menyerupai deretan drama Korea yang juga mengusung formula serupa. Apakah salah? Sebaliknya, orang-orang di balik film ini paham betul kiblat yang jadi acuan: dongeng dan drama Korea.

Dibanding film Indonesia bergaya Korea lain, Forever Holiday in Bali menang soal autentisitas. Penyusunan adegan seperti drama Korea, karakter Korea pun bicara Bahasa Korea, juga diperankan orang Korea. Tidak main-main, Thunder eks-MBLAQ pun digaet sebagai bintang utama bernama Kay. Berkat kehadiran sosok idola sungguhan, unsur fairy tale-nya terpancar nyata. Apalagi Thunder berakting jauh dari kesan kaku. Mungkin karena tuntutan akting film ini tak begitu berat, setara drama televisi yang kerap ia lakoni. Atau mungkin, Caitlin Halderman selaku lawan mainnya menebar cukup pesona guna menambal segala kekurangan yang ada.
Caitlin adalah Putri (Princess, like in a fairy tale), gadis Bali yang mengalami kesulitan keuangan sehingga menerima tawaran sahabatnya, Indra (Reza Aditya) untuk membantu meliput kedatangan Kay yang membuat video klip secara rahasia di Bali. Tapi serahasia apapun, tidak mungkin bandara sepi fans. Hanya ada dua wartawan termasuk Indra. Kemustahilan yang sebaiknya kita terima, mengingat dalam dongeng logika perlu sedikit dikesampingkan. Walau akibatnya, Forever Holiday in Bali tampil kurang relatable, menghalangi dampak emosi. 

Skenario tulisan Kennt Kim bersama Titien Wattimena bukannya lupa menyulut rasa. Kay diberi kisah personal mengenai duka pasca sang ibu meninggal. Kay pun teringat ucapan ibunya tentang Bali yang memiliki banyak bidadari. Andai filmnya memberi penekanan bahwa Kay menemukan bidadari yang disebut mendiang ibunya dalam diri Putri pernyataan itu bisa menjadi pondasi emosi luar biasa kuat. Terlebih, mengulangi pencapaian di Sweet 20, Ody C. Harahap jago mempresentasikan interaksi menyentuh ibu-anak. 
Sayangnya tidak. Forever Holiday in Bali memilih berpijak pada rangkaian alur yang memfasilitasi kejutan kurang esensial di penghujung durasi ketimbang memaparkan drama sederhana tetapi mencengkeram hati. Filmnya urung mencapai tingkat perasaan yang tinggi, tetapi efektif sebagai pemancing senyum. Bukan terbatas senyum geli mendapati humor yang sesekali mengisi perjalanan berkeliling Bali mencari pantai kenangan masa kecil Kay, pula senyum yang berasal dari manisnya interaksi dua tokoh utama.

Khususnya untuk Caitlin Halderman, saya kehabisan kata-kata pujian. Cantik, lucu, berenergi, pandai mengatur ekspresi supaya tiap momen menyenangkan disaksikan. Penampilan yang bisa mewajarkan seorang idola jatuh cinta pada gadis biasa. Asal cerdik memilih film serta berani sesekali mengambil peran berbeda, suatu hari namanya akan bertengger di jajaran puncak aktris negeri ini. Gaun merah Caitlin, vespa jingga, bentangan alam hijau, Forever Holiday in Bali terlihat cerah nan berwarna, sanggup mengundang keceriaan selama anda tidak anti terhadap romantika kental khayalan di luar nalar ala dunia dongeng.