JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - ISTIRAHATLAH KATA-KATA (2016)

Saya menyaksikan "Istirahatlah Kata-kata" karya Yosep Anggi Noen dengan ekspektasi tinggi. Kemudian film dimulai, kesunyian mencekat bergulir, gambar-gambar berbicara, suara-suara bersenandung, terdengar silih berganti termasuk dibacakannya sederet puisi berisi keresahan seorang Wiji Thukul. Emosi tidak pernah dipacu kencang namun bagai pelukan kasih sayang, dijamah pelan sampai tanpa sadar ada gejolak yang merambat perlahan dan akhirnya menguasai perasaan. Ketika usai, kredit bergulir ditemani sisa isak tangis Sipon (Marissa Anita), saya duduk diam. Mengistirahatkan kata-kata, membiarkan rasa bermain, lalu menyadari baru saja menyaksikan film Indonesia terbaik tahun ini yang jauh meninggalkan pencapaian para "pesaing".

Bertindak juga selaku penulis naskah, Anggi menyoroti masa saat Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) bersembunyi dari kejaran pemerintah di Pontianak pada 1996. Keterasingan itu digunakan Anggi untuk mengajak penonton memasuki sisi personal Wiji Thukul, bagaimana ia bersembunyi di balik kegelapan sembari tetap berusaha menulis meski dikuasai ketakutan akibat teror aparat dan kerinduan akan sang istri, Sipon beserta kedua anaknya. Rasa takut tersebut seringkali menyulitkan proses berkarya, membawanya pada pertempuran melawan opresi walau kali ini pergolakan hati menjadi salah satu musuh terbesar Wiji. Kita takkan mendapati Wiji Thukul sang aktivis perlawanan, melainkan manusia biasa yang takut, ragu, rapuh, menghabiskan waktu di malam hari minum tuak bersama teman-temannya. Dia tidak sempurna.
Daripada lantang penuh kobaran semangat perjuangan, semua puisi dibacakan lirih cenderung sendu. Justru karena itulah tiap kalimat terasa personal dan jujur. Bahkan tatkala membicarakan penindasan maupun pergolakan politik, puisinya tetap terdengar intim. Sekali lagi, fokus film memang kepada Wiji Thukul sebagai manusia. Sesekali kondisi politik mencuat tapi sekedar lewat pembicaraan singkat atau siaran radio. Pemaparan situasi politik dan negara berfungsi memperkuat latar saja, bukan fokus utama, yang mana pilihan tepat sebab banyak film biografi kita kehilangan hati, bak visualisasi buku sejarah lalu melupakan observasi karakter akibat ambisi berlebihan merangkum seluruh sisi kehidupan sang tokoh.

Kata-kata memang cenderung diistirahatkan. Bukan seutuhnya dihilangkan melainkan dipakai tepat guna, muncul sewaktu diperlukan. Alhasil timbul dampak signifikan, entah membangun dinamuka cerita atau karakter. Teknisnya dikemas menggunakan pendekatan serupa. Penataan kamera Bayu Prihantoro Filemon lebih banyak statis menangkap peristiwa minim pergerakan. Begitu pula jarangnya musik karya Yennu Ariendra menyeruak masuk. Namun kediaman gambarnya nampak puitis juga menyimpan setumpuk kisah. Adegan close-up di tengah kegelapan kamar kala Wiji berulang kali menutup lalu membuka mata memunculkan probabilitas kisah tanpa batas dalam benaknya. Sedangkan musiknya cerdik membaurkan efek suara selaku lantunan musik (berubahnya gema suara shuttlecock menjadi ketukan ritmis jadi contoh terbaik).
Yosep Anggi Noen jeli menyelipkan simbol (semut di air gula, lukisan perjamuan terakhir) untuk menyiratkan kejadian yang kelak hadir. Selain simbolisme, kematangan penyutradaraan Anggi terbukti melalui terciptanya kesunyian suasana tanpa harus berujung datar. Ada ketegangan merambat kala di tempat pangkas rambut, seorang tentara (Arswendi Nasution) menanyakan identitas Wiji dan rekannya, Martin (Eduwart Boang Manalu). Bahkan pada situasi santai, aparat bersikap pongah, intimidatif, menekan. Anggi tak lupa menghantarkan romantisme ketika Wiji Thukul dan Sipon kembali bertemu (pertama kali sepanjang film), di mana kehangatan terasa lewat kesederhanaan macam senyum simpul, pemberian oleh-oleh, bahkan pengucapan nama Wiji Thukul oleh sang istri setelah sebelumnya ia selalu dipanggil menggunakan nama samarannya, Paul. 

Suguhan akting kelas wahid diberikan oleh Gunawan Maryanto dan Marissa Anita. Gunawan bukan sekedar berusaha memiripkan tampilan fisiknya dengan Wiji, tapi meresapi untuk kemudian mampu mengungkapkan sisi terdalam sang tokoh memakai ekspresi mikro, sehingga dalam diam pun terdapat variasi emosi yang teramat kaya. Marissa Anita yang baru banyak berperan di paruh kedua pun sama baiknya memamerkan kesubtilan olah rasa yang bisa tercurah hanya oleh mimik muka. Keduanya kuat berinteraksi, bertukar emosi hingga mencapai akhir durasi saat Anggi menutup film dengan metafora penuh makna. Di situ Sipon mencurahkan segala kekalutan hatinya, dan sejurus kemudian tanpa kita sadari Wiji Thukul menghilang tanpa pernah nampak lagi. Saya terpana. Hati teriris-iris, air mata mengalir deras mendapati ending terkuat yang dimiliki sinema negeri ini. "Tidurlah kata-kata. Kita bangkit nanti". 

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - MOAMMAR EMKA'S JAKARTA UNDERCOVER (2016)

Pada awal penerbitannya tahun 2003, "Jakarta Undercover" karya Moammar Emka memancing kontroversi, bahkan masih berdampak sampai beberapa waktu setelahnya. Saya ingat kala duduk di bangku kelas satu SMP (2004) menyebut judul bukunya saja sudah dianggap tabu, tapi di saat bersamaan semua anak diam-diam mencari. Mungkin situasinya serupa fenomena "Bandung Lautan Asmara" dahulu. Namun selang 13 tahun kemudian, tatkala informasi tentang keliaran dunia seks "bawah tanah" begitu gampang diakses, tentu "Jakarta Undercover" tak lagi memberi efek kejut yang sama, sehingga keputusan Fajar Nugros tidak berfokus pada seks  selain demi menghindari gunting LSF  sejatinya sudah tepat.

Selain topeng-topeng kepalsuan warga ibukota, melalui naskah tulisannya bersama Piu Syarif, Fajar turut menyelipkan curahan personal mengenai anak daerah yang merantau ke Jakarta demi mengejar mimpi (Fajar berasal dari Jogja) dalam diri tokoh utamanya, Pras (Oka Antara). Pras berasal dari Jombang, pergi ke Jakarta dengan harapan menjadi jurnalis di bawah bimbingan Djarwo (Lukman Sardi), pimpinan redaksi suatu majalah. Perkenalannya dengan penari striptease bernama Awink (diperankan Ganindra Bimo yang tak hanya sukses berkomedi, turut pula memberi hati) membawa Pras memasuki dunia gelap Jakarta yang berisi aneka macam party, prostitusi sistematis, sashimi girl dan lain sebagainya, memancingnya diam-diam menulis artikel tentang semua itu. 
Walau beberapa kali menunjukkan sisi norak seputar kebutaannya atas gaya hidup bebas, sedari awal kita telah melihat Pras lupa menelepon sang ibu, meninggalkan solat dan kecanduan bir, bukan sepenuhnya bocah kampung polos, sehingga proses realisasinya terhadap kenyataan tidak berdampak kuat. Naskahnya kurang kuat soal penggalian karakter termasuk interaksi antara mereka. Akibat harus membagi fokus penceritaan dengan banyak subplot, pertemanan Pras dan Yoga (Baim Wong) sang raja pesta hingga romansanya dengan Laura (Tiara Eve) model merangkap pelacur milik Mama San (Agus Kuncoro) berakhir hambar, meniadakan dampak emosional kala kekacauan memuncak di penghujung durasi. 

Paparan investigasi jurnalistik pun lemah, di mana penyelidikan rahasia Pras nyaris tanpa perbedaan dibanding jika protagonisnya sebatas orang biasa yang terjerumus ke dunia gelap. Filmnya lebih menekankan pada "petualangan" Pras ketimbang usahanya mengolah pengalaman tersebut menjadi suatu berita. Secara keseluruhan, penceritaan milik "Moammar Emka's Jakarta Undercover" kurang mendalam, tapi Fajar sendiri tampak sengaja memposisikan filmnya bukan sebagai observasi kompleks melainkan hiburan ringan. Dunia yang disoroti memang kelam, tapi filmnya menolak tampil depresif, di mana komedi senantiasa mengiringi. Bahkan hampir setiap Pras dan Laura bertemu di minimarket, sesosok orang gila setia "menemani" keduanya sembari konsisten memancing tawa penonton.
Meski tak sampai eksploitatif, Fajar nyatanya tidak ragu menampilkan momen vulgar seperti alat kelamin wanita maupun seks tanpa busana (Nikita Mirzani and Vicky Burky scene that looks like the parody of "The Raid: Berandal" is the wildest). Dibantu sinematografi gemerlap penuh warna garapan Padri Nadeak, Fajar sukses memvisualisasikan dunia malam underground penuh euforia nan menyilaukan mata, memberikan penonton sensasi, pula kekaguman serupa yang dialami oleh Pras. Kita bak dibawa memasuki dunia lain, dibuat ingin memejamkan mata, menari, terhanyut oleh dentuman musik seraya melupakan realita.

Sayang, memasuki babak akhir penceritaannya keteteran. Di samping ketiadaan dampak emosional, pilihan konklusinya bermain aman, memaksa menjalin kebahagiaan. Resolusi seputar hubungan Pras dan Laura pun dipaparkan terlampau panjang, diisi banyak dialog repetitif. Namun setidaknya pilihan menaruh harapan sekaligus teriakan "Kangeeen!" Oka Antara yang memancing gemuruh tawa penonton (entah disengaja atau tidak) sejalan dengan apa yang dibangun sepanjang "Moammar Emka's Jakarta Undercover" bergulir: dumb yet fun and playful entertainment. Apabila anda tidak mampu (atau ingin) menjadikan seks selaku bahan observasi mendalam, menjadikannya hiburan ringan merupakan keputusan tepat. 

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - SIHUNG (2016)

Apapun usungan temanya, meski sensitif sekalipun, saya selalu beranggapan sudah semestinya dokumenter berlaku jujur, terbuka, apa adanya merangkum kenyataan. Namun sebuah karya merupakan curahan rasa pula pikir yang menjadi alat bagi penciptanya menyuarakan sesuatu baik keresahan maupun opini. Dokumenter pun memiliki permasalahan, dan mengingat dalam tiap permasalahan selalu ada setidaknya dua sisi, seorang sineas mesti jelas menyampaikan ada di sisi mana dirinya berpijak (bisa juga menciptakan sisi dan perspektif baru). Bukan bermaksud memihak, tapi karya seni dalam perannya sebagai ekspresi personal sang pengkarya bakal kehilangan bobot, kosong tanpa hal tersebut. Sayangnya begitulah "Sihung" karya Esa Hari Akbar.

Dewasa ini kesadaran masyarakat seputar perlindungan terhadap hewan semakin meningkat, sehingga "Sihung" yang mengetengahkan kebiasaan "ngadu bagong" warga pinggiran Kota Bandung sejatinya merupakan karya penting. "Ngadu bagong" adalah kegiatan di mana beberapa anjing diharuskan melawan seekor babi hutan. Adegan pembukanya sudah cukup gamblang menjelaskan betapa mengerikannya adu tersebut. Taring anjing mencengkeram leher babi dan sebaliknya, tubuh anjing juga ditembus tanduk sang babi. Keduanya sama-sama menjerit, jatuh bersimbah darah. Tentu para penonton memasang taruhan untuk pertarungan itu. Mudah mengutuk tindakan brutal manusia tersebut, namun menjadi dilematis tatkala alasan kultural telah dikemukakan pelaku.
Bagaimana "Sihung" mengambil sikap? Jawabannya kurang jelas. Konklusinya saat keluarga tokoh utama terdiam meratapi nasib bagai Esa pakai sebagai pernyataan bahwa mereka menerima hukuman atas perilakunya. Masalahnya, butuh dilakukan pengolahan fakta demi mendukung suatu simpulan, yang mana tak dimiliki "Sihung" tatkala paruh tengahnya (babak kedua biasanya berfungsi memperdalam cerita) terasa kosong, minim momen signifikan. Esa seperti kehabisan ide yang nampak pula dari pendeknya durasi (65 menit) walau terdapat setumpuk poin lain yang menarik untuk dipaparkan (Esa berniat membuat dua sekuel). Sesekali kita melihat perburuan babi atau proses melatih anjing, tapi mayoritas waktu dihabiskan mengamati proses tawar menawar atau tokoh utama mengajak anjing jalan-jalan. 
Jangan salah, sorotan menuju kegiatan sehari-hari juga dapat membangun dinamika khususnya kedekatan penonton dan tokoh. Namun sebagaimana Esa yang menyatakan kesulitannya menjalin hubungan dengan subjek, kamera hanya sebatas mengikuti ke mana mereka pergi tanpa sekalipun masuk lebih dalam, menelusuri sisi personal. Akhirnya, tertinggal dinding psikologis tebal, memisahkan jauh penonton dan subjek. Saya pun kurang mendapati sensitivitas Eka sewaktu dia hampir tidak pernah membiarkan para anjing "berbicara". Kamera beberapa kali ditempatkan di samping dan belakang, tapi tak sekalipun di depan mata anjing (mereka tak bisa bicara jadi mata merupakan jendela perasaan yang bisa dimasuki), lalai membiarkan penonton terhubung dengan mereka. 

Momen-momen terkuat "Sihung" bertempat kala menyoroti luka-luka anjing maupun jeritan babi saat ditangkap, tertangkap oleh perangkap warga. Begitu pula ending berdarah pengiris perasaan. Esa Hari Akbar punya insting kuat soal gambar-gambar impactful, tapi berujung percuma sebab ia gagal memberi pernyataan lantang. Pada sesi Q&A, Esa menuturkan bahwa demi menjalin kedekatan dengan warga, ia ikut membeli anjing, melatihnya untuk "ngadu bagong". Apakah sesunggunya ia tidak bermasalah atau bahkan mendukung praktik ini? Bila benar begitu, maka berbagai bentuk kebrutalan milik "Sihung" tak lebih dari sekedar shock value, eksploitasi kekerasan ketimbang curahan kecemasan suatu isu sosial. Setidaknya persepsi saya tergiring ke arah sana.

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - KNIFE IN THE CLEAR WATER (2016)

Berdasarkan survei tahun 2010, penganut Islam di China sebesar 1,7%, hanya lebih tinggi dari Taoism (0,8%). Tidak mengherankan apabila media film masih jarang menjadikannya sentral cerita, sehingga debut penyutradaraan Wang Xuebo ini terasa menyegarkan, menyoroti sudut Negeri Tirai Bambu yang jarang diangkat ke permukaan. Bertempat di kawasan pegunungan di Provinsi Ningxia, "Knife in the Clear Water" berkisah mengenai Ma Zishan (Yang Shengcang), seorang pria tua yang istrinya baru meninggal dunia. Tentu ia berduka, namun ada alasan lain di balik kegamangan hati Ma Zishan, yakni persiapan peringatan 40 hari meninggalnya sang istri.

Bukan masalah ekonomi yang mengganggu Ma Zishan, melainkan kehendak anaknya (Yang Shengcang, aktor berbeda) menyembelih kerbau kesayangannya sebagai suguhan untuk para tamu. Setelahnya penonton diajak mengamati sang tokoh utama menenggelamkan diri dalam kesendirian, merenungi situasi. Naskah hasil tulisan Shi Shuqing, Wang Xuebo, Ma Jinlian, dan Ma Yue selaku adaptasi novel karya Shi Shuqing tak hanya menampilkan kesendirian karakter secara literal, tapi juga di tataran batin, sewaktu interaksinya dengan orang-orang di sekitar selalu berisi pertanyaan perihal acara peringatan. Tidak heran hati Ma Zishan makin tak menentu.
"Knife in the Clear Water" bukan ingin menggugat tradisi keagamaan, tapi memancing pertanyaan melalui ironi. Putra Ma Zishan begitu sibuk menyiapkan peringatan 40 hari, mencurahkan segala daya upaya bahkan meluangkan uang cukup banyak meski bukan tergolong keluarga berada. Kondisi kampung pun digambarkan tengah dilanda kekeringan. Timbul tanda tanya soal mereka yang hidup dan yang telah mati. Tepatkah segala pengorbanan bagi almarhumah dilakukan kala kehidupan sendiri sedang sulit? Pertanyaan lembut tapi tajam yang pantas direnungkan. 

Sayang, gagasan tentang hidup-mati tersebut  yang semestinya jadi poin utama  dituangkan terlampau minim, mendangkalkan eksplorasi. Filmnya justru lebih sering mengetengahkan kesendirian Ma Zishan, berusaha menyatukan penonton dengan rasa itu lewat penyampaian kesehariannya seperti mandi, berjalan seorang diri, atau sesekali merawat kerbau. Namun kedekatan sang protagonis dengan peliharaan kesayangannya itu hadir ala kadarnya, tidak cukup membuat penonton percaya apalagi turut merasakan ikatan keduanya. Kita hanya dibuat yakin Ma Zishan tengah dirundung kemuraman.
Wang Xuebo bertutur menggunakan gaya khas arthouse. Alur bergerak dalam tempo sangat pelan, penuh keheningan minim dialog, kamera statis, serta emosi "tertahan" nihil dramatisasi. Selain melelahkan, gaya ini adalah klise bagi sinema sidestream. Wang bagai terjebak klise, bahwa paparan "film seni" harus lambat dan berisi kontemplasi mengenai kesepian. That kind of treatment is getting repetitive and predictable. Untung konklusinya kuat berkat semburat emosi yang terpancar kuat dari mata berkaca-kaca Yang Shengcang saat karakternya membaca Al Qur'an di tengah kegelapan, semalam sebelum penyembelihan. Suatu momen sederhana yang intim sekaligus lebih efektif mempresentasikan isi hati sang tokoh ketimbang kehampaan sepanjang film.

Setting bukan sekedar panorama menghibur mata, melainkan serupa karakter yang ikut menyokong keseluruhan penceritaan. Sinematografi garapan Wang Weihua merangkum dua jenis setting. Indoor memaksimalkan pencahayaan ala pertunjukkan panggung lewat spotlight, menempatkan fokus di tengah layar, membiarkan sekelilingnya gelap supaya penonton memahami kesan terisolir Ma Zishan. Sedangkan outdoor banyak memunculkan kabut dan lahan kering guna memvisualisasikan buruknya kondisi tempat tinggal mereka yang masih hidup. 

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - TURAH (2016)

Kita menjadikan film sebagai escapism. Ledakan bombastis, aksi pahlawan super hingga romantika penuh kesempurnaan jadi alat pelarian dari kepenatan hidup sehari-hari. Tapi di sisi berlawanan, film memiliki fungsi lain yakni jendela bagi penonton guna menilik realita, entah yang biasa ditemui, terlupakan atau memang jarang diungkap ke permukaan. "Turah" selaku karya debut sutradara/penulis naskah Wicaksono Wisnu Legowo menyuguhkan fungsi kedua, tepatnya menuturkan kisah hidup warga sebuah kampung yang berdiri di atas tanah timbul di Tegal bernama Kampung Tirang. Jangankan masyarakat luas, warga Tegal pun banyak yang tak tahu keberadaan kampung tersebut.

Judulnya merujuk pada nama protagonis, Turah (Ubaidillah), yang seperti penduduk Kampung Tirang lain adalah orang miskin dan mencari nafkah sebagai bawahan Darso (Yono Daryono) juragan setempat. Turah diposisikan menjadi jembatan antara penonton dengan penghuni kampung lain, ada Kanti (Narti Diono), istri Turah yang enggan memiliki anak, Kandar (Bontot Sukandar) si pengurus kambing, Pakel (Rudi Iteng) tangan kanan Darso, Sulis (Siti Khalimatus Sadiyah) gadis cilik yang sendirian merawat neneknya, hingga Jadag (Slamet Ambari) yang doyan mabuk, berjudi, dan main perempuan. Wisnu cermat menggerakkan alur, mengajak mampir ke tiap rumah secara bergiliran (konon hanya ada 10 keluarga di sana), menciptakan pemahaman menyeluruh akan kondisi serta dinamika sosial latarnya bagi penonton.
Jadag beserta emosi meluap-luap dan ambisinya melawan Darso memang mendominasi, bahkan punya peranan lebih ketimbang tokoh utamanya sendiri (poin minus filmnya), tapi bukan berarti keberadaan Turah tidak signifikan. Selain menjembatani penonton dan film, Turah yang digambarkan baik hati dan penyabar merupakan hati bagi film ini. Di tengah kemiskinan, kerap ditemukannya mayat selaku penguat beratnya kehidupan penduduk (di suatu adegan miris nan creepy Turah menemukan mayat busuk bayi tengah mengambang), sampai dominasi amarah tanpa henti Jadag, Turah bak penyeimbang, angin segar yang membuatnya tidak nampak terlampau suci. Rasa peduli kepada sang tokoh pun mudah tercipta.

Teknik sinematiknya tanpa gimmick, tapi sang sutradara yang berasal dari Tegal kentara punya pemahaman mendalam soal kehidupan juga kultural setempat. Alhasil bagi saya yang sempat tinggal tak jauh dari perkampungan miskin dengan bahasa Jawa ngapak sebagai logat merasa familiar dengan suguhan di layar. Bagaimana pola pikir mereka dalam menyikapi situasi  seperti saat Jadag mempertanyakan mengapa tidak naik jabatan walau sudah bekerja selama belasan tahun  pula kondisi ketika terjalin interaksi termasuk pertengkaran, semua tampak nyata, dikemas dalam realisme tinggi bermodal kedekatan plus kecintaan sineas akan objek penceritaan.
Para aktor berperan besar atas terciptanya realita. Contohnya pertengkaran Jadag dengan istrinya, Rum (Cartiwi). Totalitas ekspresi dan sumpah serapah Slamet Ambari ditambah luapan emosi serta "tantangan" Cartiwi agar sang suami membunuhnya lah alasan mengapa momen tersebut begitu intens, seolah saya tengah menyaksikan langsung sebuah pertengkaran dahsyat suami-istri. Obrolan Jadag dan Turah pun selalu menghadirkan tontonan menarik berupa barter dialog yang saling melengkapi antar dua pembawaan berbeda. Slamet berapi-api, sedangkan Ubaidillah penuh ketenangan menghanyutkan. 

Deretan cast-nya merupakan aktor teater. Wisnu tidak menyia-nyiakan fakta ini, merangkum beberapa obrolan dalam satu take panjang tanpa putus layaknya pertunjukan panggung. Konteks adegan berupa obrolan masyarakat kelas bawah di tempat kerja atau rumah pun memang cukup identik dengan panggung teater. Para aktor piawai menangani gaya pengadeganan tersebut, bersenjatakan emosi konsisten nan kontinu, dinamika pun hidup. Semakin dinamis tatkala Wisnu tak lupa menyuntikkan humor, mengerti bahwa pendekatan realis memerlukan kejenakaan, sebab di antara beratnya kehidupan dunia nyata canda tawa tetap sesekali menyeruak hadir. Gerakan kamera dan kebocoran suara yang disengaja selaku momen penutup membaurkan fiksi film dengan dunia nyata, seolah menyatakan bahwa apa yang penonton saksikan adalah realita. 

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - HARMONIUM (2016)

Bersama tapi tidak bersatu, begitulah bentuk keluarga yang coba Koji Fukada perlihatkan di "Harmonium" karya terbarunya yang berhasil memenangkan Jury Prize dalam seksi Un Certain Regard, Cannes Film Festival. Film dibuka dengan aktivitas makan malam Toshio (Kanji Furutachi) bersama sang istri, Akie (Mariko Tsutsui) dan putrinya, Hotaru (Momone Shinokawa). Makan bersama merupakan salah satu situasi di mana hubungan keluarga dapat diamati. Toshio sekeluarga memang berkumpul, namun Fukada menunjukkan ada "ketidakberesan". Ketika Aike dan Hotaru berdoa (penganut Protestan), sang ayah tak ikut serta, asyik menyantap makanan. Saat putrinya bercerita panjang lebar pun, nihil respon dari Toshio.

Suatu hari Toshio kedatangan Yasaka (Tadanobu Asano), kawan lamanya yang meminta diberi pekerjaan di machine shop miliknya dan tempat tinggal sementara. Toshio langsung menyanggupi tanpa berunding dahulu dengan Akie. Bahkan ia tidak memberi tahu sang istri jika Yasaka baru keluar dari penjara akibat kasus pembunuhan, juga rahasia kelam lain mengenai pertemanan keduanya dulu. Ketertutupan ini dipakai Fukada untuk menanam benih konflik, perlahan meruntuhkan keluarga tersebut. Yasaka cepat membangun impresi baik, bersedia membantu Hotaru berlatih memainkan harmonium sekaligus jadi lawan bicara menyenangkan bagi Akie, dua hal yang tidak pernah diperbuat Toshio.
Awalnya alur "Harmonium" terkesan predictable: kedatangan sosok asing yang merebut keluarga seorang pria. Namun Koji Fukada menolak mengikuti pola paparan klise perjuangan suami mendapatkan kembali keluarganya, sebab hingga akhir kita takkan melihat Toshio memperjuangkan itu. Justru sisi egois dan pengecutnya makin nampak, menggiring filmnya ke arah lebih kelam. Tapi "Harmonium" tak pernah menjadi depresif berkat pilihan Fukada sesekali menyelipkan humor efektif berbasis situasi awkward menggelitik. Keputusan itu meringankan suasan film, membuat drama "Harmonium" mudah dinikmati setiap penonton.
Kemunculan twist di pertengahan babak bukan saja mengejutkan, pula memberi arah baru, dinamika baru untuk diobservasi. Bicara soal kejutan, Fukada begitu mahir mempermainkan asumsi lewat kesuksesan beberapa "alarm palsu" untuk memancing dugaan demi dugaan, mencuatkan ketegangan (keheningan sejenak Toshio di belakang Takashi sampai selimut jatuh dari atap gedung). Koji Fukada memang cerdik, tak hanya di pengadeganan, pula perihal penulisan naskah. Berulang kali Yasaka berkata "kebiasaan lama" sebagai penjelasan terhadap berbagai perilaku uniknya, seperti kecepatan makan atau keluar dari kamar mandi tanpa pakaian. Siapa sangka perkataan tersebut bertindak selaku tease bagi kejutan kelam nantinya.

Poin di atas adalah bentuk kepiawaian Fukada membangun karakterisasi, yang juga ia tunjukkan dalam membangun kejelasan motivasi. Keputusan Toshio menyimpan rapat sejumlah fakta serta fobia Akie terhadap bakteri sama-sama didorong oleh ketakutan dan perasaan bersalah masing-masing. Keberadaan paparan tersebut meskipun subtil makin menguatkan "Harmonium" dalam perannya selaku observasi karakter. Serupa judulnya, Koji Fukada melibatkan alat musik harmonium pada observasi ini, sebagai (salah satu) faktor yang "menjembatani" runtuhnya hubungan sebuah keluarga. 

THE WAILING (2016)

Serupa "The Chaser" selaku karya perdananya, Na Hong-jin kembali mengusung jalinan investigasi kasus pembunuhan sebagai sentral cerita. Hanya saja kali ini berhiaskan supranatural, memfasilitasinya menumpahkan berbagai unsur sub-genre horor mulai zombie, demonic, possession, occult, hingga psikologis, yang tersusun rapi berkat solidnya penulisan naskah Na. Menjadikan sebuah area rural yang terasa dingin sebagai panggung dan memiliki protagonis seorang polisi inkompeten, inspirasi dari "Memories of Murder" begitu kentara, bedanya, "The Wailing" menyimpan kemungkinan akan keterlibatan entitas gaib dalam kasusnya.

Jong-Goo (Kwak Do-won) terbangun di pagi hari oleh panggilan tugas setelah terjadi kasus pembunuhan. Tapi ia memilih menyantap sarapan dulu sehingga terlambat tiba di TKP, suatu sikap yang beberapa kali dia ulangi, menegaskan ketakcakapannya. Jong-Goo memang kerap berbuat bodoh dan selalu ragu, hanya bisa ternganga kala dihadapkan pada situasi genting, tak tahu mesti berbuat apa. Karakterisasinya sesuai dengan usungan tema keraguan dan ketidakberdayaan yang diangkat. Inkompetensi Jong-Goo menguatkan kesan helplessness dan hopelessness kala kondisi semakin gawat. Kwak Do-won memberi transformasi halus dari sosok polisi unrelieable yang tak serius dan kebodohannya mengundang kejenakaan menjadi pria yang dikuasai amarah dan keputusasaan.  
Ternyata kasus di awal bukanlah yang terakhir. Lalu rentetan pembunuhan berlanjut dengan satu kesamaan, yakni pembunuhnya menjadi gila dan memiliki luka di tubuh. Media berasumsi telah terjadi wabah virus akibat jamur beracun, sedangkan warga yakin pria Jepang misterius (Jun Kunimura) yang tinggal menyendiri di hutan merupakan dalangnya, mengingat "wabah" tersebut mulai menjangkiti sejak kedatangannya. Warga memanggil pria ini "the Jap", menunjukkan adanya pengaruh memori kolonialisme masa lalu di balik tuduhan tersebut. Walau awalnya tidak percaya akan keterlibatan sang pria Jepang (ditengarai sebagai hantu), Jong-Goo mulai melakukan investigasi setelah mendapati berbagai keanehan, termasuk yang menimpa puterinya, Hyo-jin (Kim Hwan-hee). 

Selaras dengan kutipan kalimat pembuka yang mengambil dari ayat Alkitab, "The Wailing" kental nuansa spiritualitas. Iblis bukan sekedar menakut-nakuti di sini, melainkan menebar tipu daya, memfitnah, guna mencelakai makhluk penuh rasa ragu bernama manusia. Na turut menyatukan unsur shamanisme tradisional lewat kehadiran Il-Gwang (Hwang Jung-min) di pertengahan film serta simbolisme Kristen mengenai pertentangan sang messiah melawan iblis di babak akhir, menempatkan karakternya di tengah, menguji keimanannya saat diharuskan memilih sisi, menggambarkan bagaimana lemahnya hati seorang manusia.
Mengetengahkan topik supranatural, Na tidak lantas terjebak dalam penyajian jump scare klise  hanya ada satu adegan yang mendekati, itu pun tanpa hentakan musik mengejutkan atau kemunculan tiba-tiba. Na berfokus membangun atmosfer tak mengenakkan yang terdiri atas ruangan-ruangan sempit berisi foto mayat, kepala kambing dan alat ritual lain, serta kondisi mengenaskan para korban pembunuhan. Dibantu editing dinamis Kim Sun-min, Na juga mampu menciptakan ketegangan yang mencengkeram kuat seperti saat adegan berpindah konstan menyoroti ritual Il-Gwang dan si pria Jepang atau third act 30 menit yang menampilkan tiga karakter di tempat berbeda secara bergiliran.

Sayang, keputusan Na menumpuk twist dalam waktu berdekatan menjelang akhir menimbulkan perasaan dibohongi. Padahal sedari awal Na sudah sukses menebar potongan petunjuk subtil yang menyesatkan persepsi penonton. Selain cacat pada konklusi tersebut, "The Wailing" adalah satu perjalanan panjang (durasi mencapai 156 menit) yang bakal terus membenamkan penonton dalam misteri penuh tanya, membuat kita  seperti karakternya  tersesat, dikuasai oleh keraguan. 

MOANA (2016)

Saya tahu sedang menyaksikan suatu tontonan spesial saat durasi baru bergulir selama 10 menit dan air mata telah mengalir deras, bukan disebabkan kesedihan melainkan rasa haru mendapati keindahan yang mendiamkan semua kata-kata, meniadakan ekspresi verbal. Sederhananya: magis. "Moana", selaku animasi ke-56 Disney sanggup melakukan itu melalui adegan sederhana ketika sang titular character berjalan di bibir pantai, dipilih oleh laut untuk menjadi penyelamat kebajikan dunia. Diiringi lagu "An Innocent Warrior" milik Opetaia Foa'i, visual cantik, serta sensitivitas rasa penyutradaraan John Musker dan Ron Clements, momen tersebut menggambarkan perjalanan yang akan penonton arungi.

Ber-setting di pulau tempat sebuah suku Polinesia bermukim, "Moana" dibuka dengan dongeng mengenai demigod bernama Maui (Dwayne Johnson) yang mengambil jantung Te Fiti, dewi berwujud pulau yang menyebarkan kehidupan di seluruh dunia. Akibatnya tercipta kutukan yang menebarkan kejahatan. Moana (Auli'i Cravalho) terpikat oleh kisah tersebut, berambisi mengarungi samudera saat dewasa nanti. Tapi sang ayah sekaligus kepala suku (Temuera Morrison) melarangnya, menganggap laut lepas terlalu berbahaya dan Moana harus berfokus pada kesejahteraan rakyat mengingat kelak ia akan mewarisi gelar kepala suku. 
Disney di era modern telah bertransformasi, mengedepankan sosok puteri yang kuat, mandiri, tidak memerlukan kehadiran prince charming untuk melengkapi hidupnya. Maka tak heran sewaktu sumber daya alam pulaunya mulai menipis akibat kegelapan yang semakin menggelayuti, Moana nekat sendirian  berdua jika menghitung Heihei si ayam yang menjadi scene stealer berkat tingkah bodohnya  mengarungi laut guna mencari Maui supaya sang demigod bersedia membantu mengembalikan jantung Te Fiti. Bersanding dengan manusia setengah dewa, Moana tidak inferior, bahkan kerap lebih unggul. Salah satu dialog pun menyatakan keengganan Moana disebut "puteri", bak coba menjauh dari karakteristik Disney princess masa lalu yang dituding seksis. 

Tuturan cerita pada naskah karya Jared Bush tampak sederhana di permukaan, tipikal usaha pembuktian diri karakter utama. Namun kaya akan sentuhan budaya suku Polinesia yang mewarnai jalannya penceritaan, juga subteks berisi hubungan manusia dengan alam. Suku tempat asal Moana hidup bergantung dari sumber alam dan ketika mother nature murka akibat jantungnya dicuri, mereka pun kelabakan (serupa dunia nyata). Sementara dalam perjalanannya, Moana sering mendapat bantuan alam di berbagai wujud, sebutlah lautan atau salah seorang sosok tercinta yang hadir dalam bentuk lain, membantu Moana memecahkan dilema hatinya. Timbul kekurangan perihal nihilnya penjelasan sejauh apa laut bersedia membantu Moana. Pertanyaan ini mengganggu khususnya di klimaks, tapi tak seberapa melukai keseluruhan film.
Selain penuh makna, petualangan Moana dan Maui teramat menghibur berkat sumbangsih banyak aspek. Gelaran aksi memunculkan keseruan yang tak kalah dibanding live action blockbuster dengan pertempuran Moana dan Maui melawan Te Ka si monster lava sebagai puncak. Adegan yang melibatkan Kakamora, para bajak laut batok kelapa pun tak kalah menghentak dibanding sequence dari "Mad Max: Fury Road" (adegan ini merupakan homage bagi film tersebut). Humornya pintar, efektif memancing tawa lewat barter dialog dua tokoh utama maupun berbagai polah Heihei. Berbekal semua itu, tercipta keseimbangan antara kisah mendalam berperasaan dengan hiburan menyenangkan.

Visual luar biasa memikat, baik tatkala mengemas keindahan panorama alam atau masifnya dua adegan aksi di atas. Deretan musiknya sempurna mewakili guratan emosi, entah balada melankolis hingga nomor upbeat menggelora. John Musker dan Ron Clements memaksimalkan dua aspek tersebut, meramunya dengan kreatifitas tinggi, menghindarkan kesan klise melalui sinergi yang unik. Tengok musikal beriringkan "Where You Are" yang bertempo cepat, penuh canda tawa karakter, plus keceriaan visual namun menyimpan ironi mengingat konteksnya sebagai usaha menghalangi mimpi Moana menemukan luasnya dunia. Atau bagaimana "Shniny" selaku pop berlirik menggelitik disandingkan dengan momen intens sewaktu Maui kerepotan menghadapi Tamatoa (Jemaine Clement) si kepiting raksasa. John Musker dan Ron Clements merangkum musik, visual dan cerita penuh mitologi sebagai satu kesatuan utuh, dan berkat sensibilitas keduanya saya dibuat memahami seperti apa rasanya melihat keajaiban secara nyata. "Moana" adalah keajaiban yang memantapkan masa renaissance kedua Disney. 

MAJU KENA MUNDUR KENA RETURNS (2016)

Dirilis pada 1983, "Maju Kena Mundur Kena" tak persembahan tersukses Warkop DKI, pula film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak (658.000) sebelum dilewati oleh "Pengkhianatan G-30-S PKI" setahun kemudian. Maju ke 2016 ketika "Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1" sanggup menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa, Multivision Plus (MVP, dahulu bernama PT. Parkit Films) selaku pemegang lisensi beberapa film Warkop pun tak ingin kecolongan  mengingat "Jangkrik Boss" bukan produksi MVP  dan memutuskan menggarap sekuel bertajuk "Maju Kena Mundur Kena Returns" yang sama sekali tidak berisikan anggota Warkop DKI atau aktor yang memerankan mereka.

Digarap oleh Cuk FK ("Komedi Moderen Gokil", "Komedi Gokil 2"), film ini menampilkan trio baru bernama "WOW", terdiri dari Wira (Wira Nagara), Ozie (Rafael Tan), dan Wulu (Lolox). Akibat bertindak ceroboh, ketiganya dipecat dari pekerjaan mereka di rumah sakit. Beruntung, nasib baik masih menaungi sehingga trio WOW bisa bekerja di suatu minimarket. Di sisi lain ada Gadis (Adinda Thomas) yang setelah memecahkan guci bernilai miliaran rupiah kepunyaan sang ayah, Jarwo (Jarwo Kwat), memutuskan kabur ke asrama puteri milik Bu Norma (Maya Wulan), tempat di mana trio WOW sering menyelinap masuk guna menemui pacar masing-masing.
Mempertahankan gayanya dalam dua film "Komedi Gokil", Cuk FK menghujani filmnya dengan "lawakan mesum" khas Warkop era 90-an. Tapi berbeda dengan Arizal sang pengarah film-film Warkop, penggarapan Cuk FK lebih terkesan murah dan miskin imajinasi. Bahkan di titik terendahnya, guyonan Warkop masih menyimpan usaha lebih merangkai pengadeganan, mengkreasi setting komedi unik nan menggelitik. Sedangkan film ini cenderung mengambil dari slapstick formulaik (Wulu jatuh menimpa pasien), gaya klise Warkop (kasur pasien meluncur kencang), hingga titik nadir film berupa ekspresi mesum menjijikkan trio WOW kala terpana memandangi tubuh wanita. Sensual comedy at its lowest.

Namun begitu cerita (baca: segmen-segmen komikal) bergulir jauh, "Maju Kena Mundur Kena Returns" ternyata tidak se-annoying karya-karya sang sutradara sebelumnya berkat satu sentuhan: kesialan bak hukuman bagi protagonis. Saya beberapa kali tertawa kecil melihat ketiganya tertimpa kesialan bagai mendapat hukuman atas tindakan buruk dan mesum yang diperbuat. Jarwo diinjak-injak seisi asrama sewaktu coba menyelinap, Wira ketahuan berselingkuh, dan lain sebagainya. Trio WOW bukan sosok simpatik, sehingga rangkaian kesialan tersebut menimbulkan kepuasan bagi penonton. Beberapa situasi misal wanita yang mendadak menjadi boneka dan bisa dilipat pun walau tak seberapa efetif mengundang tawa, meninggalkan absurditas cukup menghibur.
Porsi Lolox merengek yang notabene sisi paling menyebalkan dari sang komedian untungnya diminimalisir. Wira, bermodalkan ekspresi bodoh berlebihan, logat ngapak, serta catchphrase "anak kadal" bakal paling disukai penonton, walau saya tahu talenta aktingnya lebih dari sekedar wajah konyol dan one-liner (tiga tahun lalu komunitas teater kami sempat berkolaborasi). Rafael gagal mengikuti jejak dua rekannya (Bisma melakoni debut solid di "Juara" dan Morgan adalah salah satu aktor paling reliable saat ini). Dia sudah berusaha sebisanya, namun talenta komedinya memang belum terasah, berakhir datar kala dituntut bertingkah konyol.

Film ini memposisikan trio WOW selaku penggemar berat "Maju Kena Mundur Kena", di mana dalam berbagai kesempatan ketiganya menonton film tersebut. Tidak ada substansi di balik kegiatan tersebut kecuali usaha tak kreatif menjalin ikatan dengan film aslinya, sekaligus pemberian tribute (is it?) yang tidak terkesan menghormati mengingat hasil akhir film tak mencerminkan kualitas pendahulunya tersebut. Alur penceritaan pun sama, ketika film Warkop DKI masih punya sinergi sebab-akibat walau alurnya berbentuk sketsa, sekuel ini mengesampingkan itu, sewaktu sejumlah konflik macam perselingkuhan Wira, kegagalan WOW mencuri cincin, Jarwo tertangkap basah sepenuhnya dilupakan tanpa menghadirkan konsekuensi. While funnier and less-annoying than Cuk FK's previous works, this is still a lazy, forgettable comedy. Watch the original instead.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

RUMAH MALAIKAT (2016)

Saya sering menyebut bahwa hal terpenting dari horor adalah filmnya menyeramkan, tapi bukan berarti naskah sama sekali tak dibutuhkan. Berbeda dengan drama, poin utama naskah dalam horor tidak perlu sampai menggali cerita dan karakter melainkan cukup sebagai motor penggerak alur, sehingga penonton memiliki sesuatu untuk diikuti sembari menunggu kehadiran teror. Karena selain horor eksploitasi dan slasher (they only need extreme exploitation and creative kills) ketiadaan motor tersebut berpotensi menghasilkan repetisi, apalagi jika mengandalkan sosok hantu selaku sumber teror. Kekurangan serupa sayangnya menimpa "Rumah Malaikat".

Film terbaru sutradara sekaligus penulis naskah Billy Christian ("Tuyul", "Kampung Zombie") ini merupakan film horor paling saya tunggu tahun ini. Poster, trailer, dan usungan premisnya telah menjelaskan alasannya. Judul film merujuk pada nama panti asuhan dengan Ibu Maria (Roweina Umboh) sebagai kepala pengurus. Di sanalah Alex (Mentari De Marelle) tengah melakukan penelitian bagi skripsinya. Demi memperoleh waktu lebih bersama anak-anak panti (subjek skripsi), Alex menawarkan diri bekerja menggantikan seorang pegawai yang tidak tahan menghadapi keanehan panti tersebut. Tidak butuh waktu lama sampai Alex menemui kejanggalan serupa.
Anak-anak di "Rumah Malaikat" banyak yang berpenampilan aneh (memakai kain penutup mata sampai paper bag sebagai topeng) begitu pula perilakunya. Mulai dari cara bicara misterius, mendadak muntah, atau bercerita mengenai masa lalu panti asuhan lewat cara mengerikan. Tentu hiperbolis, namun demikian kebutuhan film bertema creepy children. Berbekal mannerism tersebut serta rumah tua berisi sekumpulan lukisan bernuansa "zaman Belanda", semestinya film ini dapat membangkitkan bulu kuduk melalui pembangunan atmosfer, sayangnya Billy Christian terjebak dalam pengemasan jump scare klise.

"Rumah Malaikat" tersusun atas sekumpulan sequence, di mana setiap sequence hanya berfungsi menjadi set-up bagi deretan jump scare beriringkan musik berisik milik Rizal Peterson. Pola yang paling sering diulang adalah Alex melihat penampakan hantu, terdiam, Bi Arum (Dayu Wijanto) datang mencuri perhatiannya, lalu begitu berbalik lagi, hantu telah menghilang. Situasi ini terus berulang, semakin melelahkan, menyebalkan dan repetitif seiring bergulirnya durasi. Sangat disayangkan, sebab di beberapa adegan, Billy Christian  dibantu sinematografi Joel F. Zola plus tata artistik Ferry Macan yang senantiasa membuat "Rumah Malaikat" enak dipandang  kentara punya insting merangkai creepy imagery, sebut saja ayunan kaki anak-anak di bawah meja makan atau sosok di bathtub. 
Akibat cara pengemasan di atas dan penyuntingan Andhy Pulung yang membuat lompatan antar momen tersaji terlampau cepat, sulit bisa terserap oleh adegannya. Billy Christian pun bagai kekurangan ide dalam pengembangan cerita, menjadikan jalannya alur terasa kosong, sekedar berisikan jump scare. Padahal melihat third act-nya, terdapat begitu banyak sisi mampu digali, sebutlah motivasi Alex, karakter Ibu Maria dan Ario (Agung Saga), putera Bi Arum yang difabel, dan tentunya mengenai Rumah Malaikat sendiri yang menyimpan disturbing backstory. Bahkan anak-anak penghuni panti berbekal ciri unik masing-masing juga layak mendapat sorotan lebih. 

Terdapat cukup bekal untuk menyajikan investigasi sederhana, menebar benih misteri beserta petunjuknya perlahan demi menghindarkan kehampaan cerita daripada menumpahkan semua di third act. Bayangkan, "Rumah Malaikat" berusaha (tiba-tiba) memaparkan, lalu menjelaskan setumpuk plot point dalam waktu sekitar 20 menit. Alhasil ketimbang menjelaskan apalagi menguatkan, konklusinya justru membingungkan, meninggalkan lubang. Penutupnya semakin mengecewakan akibat klimaks berupa perkelahian yang clumsy. Saya tetap merekomendasikan anda menonton "Rumah Malaikat" karena penggarapan well-made dan potensi besar yang tersimpan, hanya jangan berharap filmnya berhasil menakut-nakuti.