MOVFREAK ON UC NEWS (LAST UPDATED ON NOVEMBER 15, 2017)

Sejak akhir Juni lalu, saya diundang oleh UC News untuk menyumbangkan tulisan bertema religi...maksud saya film. Awalnya saya hanya mempublikasikan ulang review blog ini, sampai tercetus niat untuk fokus pada pembuatan list film, yang mana sering pembaca blog ini minta tapi karena satu dan lain hal (baca: penulisnya pemalas) jarang terpenuhi. Kenapa tidak sekalian membuat list juga di sini? Tidak lain demi menjaga orisinalitas kedua media, sebab pernah artikel saya ditolak karena sistem menyatakan tulisan itu hasil jiplakan dari web movfreak.blogspot.com (lol).

Maka dari itu, jika ada list yang kalian ingin saya buat, silahkan request, bisa di kolom komentar ini atau artikel saya di UC News. Untuk mengakses tulisan di sana, bisa mengunduh aplikasi UC News di smartphone, lalu cari dan ikuti akun "Movfreak". Atau cukup dengan mengikuti postingan ini yang akan selalu saya update tiap ada artikel baru dan akan selalu disematkan di halaman paling atas blog. Dan karena perbedaan media publikasi, gaya penulisan yang saya pakai pun (mostly) berbeda. Silahkan request sebanyak-banyaknya, makin unik makin baik, agar memudahkan saya membuat judul clickbait daftar menarik. Tenang, review tetap saya publikasikan di sini (afterall, this is my home, and all of you, my readers, are the lovely guests).

Berikut beberapa judul yang sudah ada sejauh ini yang akan rutin diperbaharui (klik untuk menuju tautan):

THE LITTLE HOURS / THE TRANSFIGURATION / THE VILLAINESS

The Little Hours, selaku film pertama adalah adaptasi The Decameron, novella dari abad 14 karya penulis asal Italia, Giovanni Boccaccio. Terdiri dari 100 cerita pendek yang dituturkan tokoh-tokohnya selama 10 hari, sutradara sekaligus penulis naskah Jeff Baena mengangkat dua kisah pertama di hari ketiga. Selanjutnya ada The Transfiguration, drama gelap yang mengaitkan kesulitan karakternya menjalani kehidupan sosial dengan cerita vampir ala Nosferatu, sembari memindahkan konteks dongeng vampir dari lingkup kultural kulit putih menuju kulit hitam. Terakhir adalah The Villainess yang pada Festival Film Cannes 2017 mendapat empat menit standing ovation.
The Little Hours (2017)
Film dengan Aubrey Plaza memerankan suster di biara terpencil tentu takkan berlangsung normal. Nyatanya, suster di sana memang unik, kalau bukan nakal. Fernanda (Aubrey Plaza) yang galak kerap berbohong agar bisa kabur di pagi hari, Ginevra (Kate Micucci) gemar bergosip, dan Alessandra (Alison Brie) berharap dapat pergi demi memperbaiki hidup. Mengolok-olok tukang kebun, meludahi, bahkan memukulinya jadi rutinitas mereka. Baena menggambarkan para "pelayan Tuhan" sebagai manusia dengan hasrat terpendam, termasuk si pendeta, Tommasso (John C. Reilly) yang doyan mabuk. Meski provokatif pula erotis, Baena mengedepankan komedi yang seluruhnya didasari improvisasi mumpuni jajaran cast, khususnya Plaza lewat deadpan khasnya yang di sini condong pada sikap kasar ketimbang canggung. Bangunan dunianya menarik, dengan akurasi setting abad pertengahan namun dialog plus perilaku tokohnya modern. Kegilaan berlipat begitu Massetto (Dave Franco), pelayan yang kabur setelah berselingkuh dengan istri majikannya, memasuki sentral cerita. Seiring konflik meninggi dan kejutan merangsek, Baena keteteran menyusun tone, meninggalkan kebingungan, apakah harus tertawa, tercengang, atau terjerat oleh drama tentang represi nafsu duniawi manusia. Namun tak menghalangi The Little Hours memberi 90 menit keliaran padat nan menyenangkan. (3.5/5)

The Transfiguration (2016)
Milo (Eric Ruffin) menganggap Nosferatu yang buruk rupa, hidup terasing di kegelapan lebih realistis daripada ketampanan serta tubuh berkilau Edward Cullen. Bagi Milo, istilah "realistis" bisa diterapkan sebab vampir konvensional mencerminkan dirinya yang terasing, punya kepercayaan diri rendah, korban bully, dan ingin menjadi karnivora puncak rantai makanan, di mana Milo berburu di malam hari, menghisap darah sekaligus merampas uang korban. Demikian film ini cerdik membangun metafora lewat naskah Michael O'Shea (juga sutradara). O'Shea memaparkan dampak kesulitan sosialisasi remaja yang memancing krisis identitas, sehingga coping terhadap sosok idola pun dipakai mencari jati diri. Tapi bukan selebritis atau figur pahlawan yang Milo puja, melainkan vampir. Pertemuan Milo dengan Sophie (Chloe Levine) yang juga teralienasi tanpa disadari menariknya dari lubang persembunyian. Ibarat vampir menemukan penawar atau manusia yang mendapatkan arti. Sebagai horor, The Transfiguration menyajikan beberapa pemandangan menjijikkan, walau dalam kuantitas terbatas. Tempo lambat ditambah alur tipis ketika sedang tak bermain analogi bisa menjauhkan penonton umum, tapi sungguh observasi mendalam untuk problematika sosial kelam, termasuk tendensi bunuh diri. (3.5/5)

The Villainess (2017)
Penonton tak lagi menghendaki film laga generik berisi pamer otot si pahlawan dan peluru yang asal dimuntahkan sebanyak mungkin. Diawali dwilogi The Raid, Hollywood menjawab lewat John Wick, dan kini Korea Selatan punya jagoan sendiri. Langsung menggebrak lewat sekuen panjang yang bagai tanpa cut selama enam menit (empat menit sudut pandang orang pertama, dua menit orang ketiga), The Villainess merupakan ambisi Jung Byung-gil menjauhi keklisean. Long take dan gerak kamera yang sekilas semrawut tapi terencana membungkus hampir semua adegan aksi. Alurnya mengetengahkan kehidupan Sok-hee (Kim Ok-bin) yang sejak kecil dilatih sebagai mesin pembunuh dan sekarang menjalankan misi untuk intelijen Korea Selatan. Guna menceritakan masa lalu kelam Sok-hee, flashback kerap dipakai, yang mana menyimpan banyak rahasia, acap kali muncul mendadak, bahkan sempat hadir flashback dalam flashback, membuktikan ambisi Byung-gil tampil beda dan bergaya. Kurang substansif sekaligus berisiko membingungkan, sang sutradara mampu meminimalkan kekacauan sehingga tatanan alur tetap setia dalam jalur. Sempat pula diselipkan sekilas momen manis di bawah guyuran hujan yang berguna mengikat hati penonton, memudahkan kita berpihak pada protagonis. Ok-bin berada di jajaran atas tokoh wanita perkasa, membantai puluhan lawan seorang diri, termasuk di kegilaan klimaks kala laju kencang bus tidak kuasa menahan aksinya. (4/5) 

MARROWBONE (2017)

Memasuki sekitar 20 menit durasi, ketika karakter dalam Marrowbone pertama kali menemui peristiwa misterius, salah seorang penonton berujar, "nah, mulai ini, mulai". Sebuah ungkapan kelegaan karena penampakan hantu tak kunjung muncul. Ekspresi yang wajar, terutama bila anda berharap disuguhi konsep haunted house sesuai formula. Tapi bagi penonton yang menaruh perhatian lebih, atau tahu bahwa debut penyutradaraan Sergio G. Sanchez (sebelumnya menulis naskah The Orphanage dan The Impossible) ini menonjolkan drama, teror itu telah berlangsung beberapa saat. Teror tersebut bernama duka, yang menguji ikatan kekeluargaan empat bersaudara Marrowbone.

Jack (George MacKay), Billy (Charlie Heaton), Jane (Mia Goth), dan Sam (Matthew Stagg) terpaksa merahasiakan kematian ibu mereka supaya dapat tetap hidup bersama seiring persoalan hukum dan kejaran sang ayah. Apa perbuatan ayah urung seketika dijabarkan, kecuali pernyataan betapa kejam dirinya. Turut mampir dalam kehidupan keluarga Marrowbone adalah Allie (Anya Taylor-Joy) yang dengan cepat memikat hati Jack, si sulung. Terjadinya sebuah peristiwa membawa alurnya melompat maju enam bulan, ketika makhluk tak kasat mata sudah menghantui kehidupan karakternya. 
Marrowbone bukan cuma tentang menakut-nakuti, tepatnya tidak melalui cara "tradisional". Dalam kekosongan ruang dan kain putih yang membungkus cermin rapa-rapat, Sergio G. Sanchez menyulut ketakutan terhadap ketiadaan serta ketidaktahuan. Tanpa tahu bentuk pastinya, penonton dibuat yakin sosok mengerikan siap menyergap dari balik sudut-sudut gelap rumah keluarga Marrowbone, yang berkat sinematografi garapan Xavi Gimenez, punya atmosfer mencekam. Sayangnya, saat Sergio mulai memperlihatkan hantu walau sedikit, pesona atmosferik filmnya agak menguap. Jump scare yang jumlahnya bisa dihitung jari sesekali menyentak, diiringi tata suara mengejutkan plus scoring "memburu" ala thriller lawas buatan Fernando Velazquez.

Kejadian sebelum lompatan waktu alurnya, gangguan hantu, perbuatan sang ayah, semua disimpan hingga third act, termasuk lewat keberadaan twist. Jika anda menggemari horor, tentu tak sulit menebak arahnya. Tapi ketimbang "seberapa mengejutkan", lebih penting memperhatikan seberapa cerdik penulis naskah menebar petunjuk subtil agar kejutannya tak terkesan membohongi. Di situ naskahnya cukup sukses, sebab begitu fakta diungkap, hal-hal yang tadinya nampak remeh mulai saling bertautan membentuk arti, walau jawaban yang disiapkan termasuk menggampangkan, memanfaatkan kondisi yang kerap jadi jalan pintas horor/thriller menjelaskan rangkaian kejanggalan. 
Terasa spesial tatkala twist, bahkan segala elemen horor dipakai mewakili tema-tema seperti duka dan penyesalan dalam lingkup keluarga. Skenario milik Sergio ditulis dengan indah, melontarkan puncak emosi seiring tersibaknya tabir kebenaran, di mana setiap kengerian berujung mengandung makna lebih. Sergio menyadarkan bahwasanya substansi drama dan horor saling terkait. Apabila drama disusun atas dinamika yang melibatkan emosi negatif (sedih, marah, takut), maka horor menerjemahkan emosi tersebut ke dalam hal-hal seram. Marrowbone mengawinkan keduanya, menghasilkan horor dengan hati yang menyeimbangkan teror supernatural dan kisah keluarga menyentuh. 

Keempat pemeran utama sama-sama solid. MacKay tampil meyakinkan sebagai pemuda dengan timbunan beban yang terus berlipat secara gradual akibat tekanan untuk menjadi kepala keluarga. Goth sebagai Jane tak kalah bermasalah, begitu rapuh apalagi ditambah mata sayunya. Heaton berani melawan typecast pasca dua musim Stranger Things, memerankan Billy yang lebih "gampang panas" dibanding saudara-saudaranya. Sementara Stagg, meski paling muda justru kerap menjembatani penyaluran perasaan film kepada penonton. Jalinan chemistry mereka berempat sangat kuat, sehingga bakal sulit menahan haru sewaktu Marrowbone menampilkan shot terakhirnya.

NAURA & GENK JUARA THE MOVIE (2017)

Adyla Rafa Naura Ayu. Baru berusia 12 tahun, puteri Nola Be3 ini telah merilis dua album sekaligus menjadi idola yang tepat di kalangan anak. Dikatakan tepat karena lagu-lagu Naura bukan bicara cinta, melainkan dunia masa kecil dari mimpi, persahabatan, sampai pesan penting soal anti-bullying. Jadi tepat pula ketika debut layar lebarnya ini diharapkan mampu mengobati kerinduan akan film musikal anak yang belum tentu setahun sekali menghiasi bioskop tanah air. Ditangani oleh Eugene Panji (Cita-citaku Setinggi Tanah), Naura & Genk Juara The Movie mengikuti pakem Petualangan Sherina, menghadapkan karakternya pada konflik pertemanan, adu kepintaran, juga ancaman para penjahat konyol.

Naura (Adyla Rafa Naura Ayu), Bimo (Vickram Abdul Faqih Priyono) dan Okky (Joshua Yorie Rundengan) terpilih mewakili sekolahnya mengikuti kompetisi sains pada acara Kemah Kreatif di Situ Gunung. Perselisihan timbul karena Bimo merasa modifikasi drone miliknya adalah yang terbaik sehingga lebih pantas memimpin tim daripada Naura. Tapi masalah lebih besar hadir dalam bentuk Trio Licik (Panjul Williams, Alfian, Dedy Ilyas) yang berniat mencuri hewan-hewan di penangkaran Situ Gunung. Bersama Kipli (Andryan Sulaiman Bima) si ranger cilik, Naura, Bimo, dan Okky mesti mengesampingkan perpecahan guna menggagalkan aksi Trio Licik.
Naura & Genk Juara The Movie bergerak sederhana sesuai formula, tapi serupa dinamika dunia anak, kompleksitas bukan bagian dari kebutuhan. Rasa riang gembira dibumbui beberapa nilai kehidupan mendasar. Skenario buatan Bagus Bramanti, Dendie Archenius Hutauruk, dan Asaf Antariksa memang menyisakan lubang problematika, semisal saat empat protagonis memilih menyerang Trio Licik alih-alih melapor pada ranger, yang dipaksa ada, semata demi peningkatan konflik utama sembari merampungkan konflik interpersonal. Di luar itu, naskahnya cerdik merangkum pesan-pesan guna membantu orang tua menyampaikan berbagai nilai bagi anak. 

Jika Naura-Bimo-Okky mewakili unsur persahabatan yang mengesampingkan ego sampai kecerdikan, maka Kipli, satu-satunya bocah di antara ranger mengajarkan perlunya kepedulian terhadap hewan. Rangkaian pembelajaran tersebut cukup jelas untuk diserap penonton anak, namun lembut tanpa kesan menggurui. Naura & Genk Juara The Movie adalah tentang proses belajar dari pengalaman nyata di dunia luar yang bersifat praktikal, menjadikannya penting mengingat kesempatan anak berinteraksi dengan alam menipis kala sistem pendidikan teoritis kurang aplikatif makin gencar dijejalkan. Klimaks berisi perlawanan bocah-bocah atas Trio Licik menggunakan karya mereka pun bisa dipakai memancing minat anak bekreasi dalam kegiatan belajar sambil bermain.
Di departemen musik, kolaborasi Andi Rianto bersama duo kakak-beradik, Mhala dan Tantra Numata berhasil mengkreasi deretan lagu yang takkan mudah hilang dari ingatan penonton seusai menonton. Dari keceriaan dalam Juara dan Mendengarkan Alam, Jangan Jangan yang bersemangat, sampai Bawakan Cerita Untukku yang hangat selaku ungkapan kasih seorang ibu berkat performa penuh rasa dari Nola Be3, semuanya catchy nan memorable. Walau eksekusi momen musikal tidak sepenuhnya mulus akibat kurang luasnya eksplorasi pengadeganan Eugene Panji. Karena semua nomor tarian didominasi anak kecil, patut dimaklumi saat tatanan koreografi tersaji belum begitu rapi, dan di sinilah kejelian sang sutradara mestinya lebih berperan, seperti saat menyelipkan satu sekuen animasi.

Harus berbagi porsi dengan para "Genk Juara" urung menghambat sinar Naura. Khususnya ketika melakoni nomor musikal, ia mengerahkan semua daya upaya, total baik dalam gerak maupun ekspresi. Bahkan kelemahan mixing suara yang tidak melebur natural, yang mana merupakan kekurangan terbesar film kita dalam mengemas adegan musik, tak kuasa menahan hentakan berenergi Naura. Bukanlah kejutan apabila suatu hari nanti, bocah ini bertransformasi dari bintang cilik menuju mega bintang, entah di industri musik, perfilman, atau keduanya. Naura & Genk Juara The Movie mungkin tidak akan menjadi fenomena layaknya Petualangan Sherina dulu, namun jelas salah satu musikal anak terbaik di masanya.

JUSTICE LEAGUE (2017)

Sejak adegan pembuka ketika beberapa bocah merekam wawancara mereka dengan Superman (Henry Cavill), Justice League kentara berpindah dari jalur yang dipasang Man of Steel kemudian dipatenkan Batman v Superman: Dawn of Justice. Si Manusia Baja tersenyum ramah bahkan mau bercanda tentang lambang di dadanya yang mirip huruf "S". Momen singkat itu seketika memperbaiki gambaran Superman sebagai sosok pemanggul harapan pujaan publik. Filmnya pun serupa, mengedepankan harapan, mencerahkan suasana melalui balutan humor, dan mengeliminasi alur rumit tak perlu. Justice League menggiring DCEU (atau apapun namanya) ke jalan yang benar.

Penulisan naskah Chris Terrio sejatinya masih bermasalah. Mengemban obligasi mengenalkan Flash (Ezra Miller), Aquaman (Jason Momoa) dan Cyborg (Ray Fisher), serta memaparkan usaha Batman (Ben Affleck) dan Wonder Woman (Gal Gadot) menyatukan mereka, mengakibatkan lompatan alur kasar (juga kekurangan Batman v Superman) kembali menghantui. Sementara kurang mampunya Zack Snyder menggarap adegan non-aksi menghasilkan pace melelahkan, khususnya sebelum kelima pahlawan bersatu. Satu-satunya fase dramatis kuat adalah reuni Clark dengan sang ibu (Diane Lane), itu pun berkat kepiawaian Lane bermain emosi ketimbang sensitivitas Snyder. Setidaknya, pemberian porsi mengenai duka/masalah personal tiap tokoh sedikit menambah bobot penokohan.
Untungnya ambisi menyusun alur berlapis berbalut filosofi kini ditiadakan. Ini penting, karena kelemahan penceritaan, bobot emosi, atau ancaman medioker dari Steppenwolf (Ciaran Hinds) dan rencananya mengumpulkan Mother Boxes terjadi dalam lingkup kemurnian blockbuster selaku media senang-senang, sehingga pantas ditoleransi. Berlawanan dengan niat Batman v Superman membangun dunia (sok) serius. Dari sini pula, Terrio, dengan sedikit bantuan Joss Whedon diberi jalan menghembuskan nyawa lewat bumbu humor. Belum sepenuhnya mulus, lagi-lagi akibat kecanggungan Snyder mengemas adegan tanpa baku hantam, namun cukup sebagai penghasil dinamika.

Keenam pahlawan kita tidak ragu bersenda gurau selama atau di sela-sela pertempuran. Flash tentu paling mencuri perhatian. Layaknya bocah di antara lima orang dewasa, ia berulang kali melempar celetukan menggelitik sampai sederet tingkah konyol yang sempurna dijalankan oleh Ezra Miller, termasuk "momen intim" dengan Gal Gadot yang rasanya berasal dari otak Joss Whedon. Pahlawan super mana lagi yang memutar video musik K-Pop di markasnya? Momoa lancar memamerkan machismo pewaris tahta Atlantis arogan yang menikmati berada di medan perang, sedangkan Gal Gadot selalu menonjol bersenjatakan pesona dan ketangguhan meyakinkan. Dua nama terbesar, Batman dan Superman justru mengalami nasib saling berlawanan.
Batman bak bahan olok-olok. Tidak memiliki kekuatan super, perannya selaku otak dan ahli teknologi turut tertutup keberadaan Cyborg. Affleck yang makin sering mengutarakan keinginan "gantung jubah" pun tampak malas. Gaya komedi deadpan-nya jelas dihempaskan antusiasme penuh energi Miller, sedangkan karisma sebagai Bruce Wayne yang menonjol di Batman v Superman juga lenyap. Sebaliknya, Superman kini layak menjadi simbol harapan sekaligus ujung tombak tim. Selain ikut bercanda tawa, setelah sekian lama akhirnya kita bisa melihat sisi badass Superman yang menghindari pukulan Steppenwolf sambil tersenyum. Walau sebelumnya, saat ia mengungguli kekuatan Wonder Woman, Aquaman, dan Cyborg, juga kecepatan Flash, sudah cukup memberi penegasan.

Merupakan film DCEU tersingkat sejauh ini (120 menit), ditambah klimaks singkat nan generik, Justice League mungkin bukan epic seperti dugaan banyak pihak. Toh gelaran laga Snyder masih solid, apalagi terkait penggambaran para meta-human kelas berat setingkat dewa yang aksinya sanggup mengobrak-abrik seisi dunia. Film superhero tidak wajib tenggelam di penderitaan atau kisah kompleks guna memikat, dan blockbuster tidak melulu mesti berbentuk epic cinema. Di samping sederet kekurangan penghasil jalan terjal, Justice League memenuhi hakikatnya selaku hiburan ringan menyenangkan sembari membawa franchise-nya ke masa depan yang menarik melalui pengembangan mitologi sebagaimana diperlihatkan lewat sebuah cameo superhero DC lain dan post-credits scene

UNBREAKABLE KIMMY SCHMIDT SEASON 2 - TOP 10 BEST MOMENTS

Melanjutkan 10 momen terbaik dari musim pertama Unbreakable Kimmy Schmidts, sesuai janji saya pun membuat daftar lanjutan. Masih mengandalkan humor absurd yang acap kali merupakan satir tepat sasaran, sayangnya musim kedua ini tidak sesegar pendahulunya, terlebih karena Kimmy (Ellie Kemper) perlahan telah mampu beradaptasi dengan dunia luar. Menariknya, pasokan drama jauh lebih kuat, khususnya seputar para tokoh pendukung. Titus (Titus Burgess) merasakan cinta pertama sementara Jacueline (Jane Krakowski) mulai memahami cara menjadi ibu. Itu sebabnya 10 momen terbaik musim kedua bukan saja soal humor, pula drama hangat. These women are still as strong as hell, though
Titus Falls for Mikey

Mentos Tooth Replacement


Monkey Jesus

Baby No Go Nite Nite


Weird Panicked Noises

Kimmy Goes Happy Tree Friends

Lillian's Heartwarming Speech About Parenting

Dyziplen

Mikey's "Weird" Grandmother


Titus's Geisha Song

GERALD'S GAME / BRAWL IN CELL BLOCK 99 / GOOD TIME

Karena serangkaian kesibukan, banyak sekali film yang belum ditonton dan ditulis. Permintaan mengulas judul-judul di luar rilisan bioskop mendorong saya merasa perlu tetap membuat review, tapi karena penulisan review penuh seperti biasa butuh waktu 2-4 jam, mustahil rasanya menerapkan itu di semua film. Akhirnya saya memilih review pendek khusus bagi FILM NON-BIOSKOP, di mana tiap artikel memuat tiga judul, walau tak menutup peluang review panjang bakal sesekali dibuat, tergantung filmnya. 
GERALD'S GAME (2017)
Merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Stephen King, Gerald's Game mengisahkan sepasang suami istri, Gerald (Bruce Greenwood) dan Jessie (Carla Gugino) yang menghabiskan akhir pekan di kawasan terpencil, dengan tujuan menyelamatkan pernikahan mereka. Permainan seks nakal yang direncanakan Gerald berujung ancaman maut begitu kisahnya secara cerdik menghasilkan teror dari jalur tak terduga. Ini bukti ketajaman insting horor King yang oleh Mike Flanagan dan Jeff Howard mampu diterjemahkan dengan baik, termasuk beragam metafora, semisal soal kekangan pria terhadap wanita yang tertuang rapi. Horor psikologis, thriller satu lokasi, sampai sedikit bumbu supernatural tumpah ruah. Pada unsur supernatural, Flanagan mumpuni menyusun kesan atmosferik. Sementara jelang akhir, sang sutradara tidak ragu memberi gore eksplisit nan detail yang dapat membuat penonton mengalihkan tatapan. Gugino memikat, nyaris seorang diri memanggul beban menyampaikan ketegangan hingga rasa sakit. Dia pun tak kalah solid melakoni fase dialogue-based filmnya, tatkala naskah Gerald's Game jeli mengolah psikis Jessie dalam presentasi tentang kematian, pernikahan, dan masa lalu traumatik. (4/5)

BRAWL IN CELL BLOCK 99 (2017)
This is a weird movie for some reasons. Pertama karena Vince Vaughn melawan typecasttampil intimidatif, bahkan saat kamera menyoroti sisi belakangnya, memperlihatkan kepala botak berhiaskan tato salib. Kedua, terkait tone. Brawl in Cell Block 99 dibuka bagai drama realis kelam mengenai Bradley Thomas (Vince Vaughn) yang dihantam pemecatan lalu perselingkuhnya sang istri (Jennifer Carpenter). Sutradara S. Craig Zahler (Bone Tomahawk) merangkai tempo lambat plus nuansa low-key. Namun begitu setting berganti, filmnya bertransformasi, menampilkan penjara maximum security tak masuk akal dengan Tuggs (Don Johnson) sebagai kepala penjara keji nan komikal, sampai kekerasan over-the-top saat kepala manusia dengan mudahnya remuk seperti kue. Uniknya, aura kontemplatif bertahan sepanjang film, yang akan seketika menguap sewaktu Bradley terlibat baku hantam. Brawl in Cell Block 99 tak ubahnya Riki-Oh versi gritty. Kisah Bradley terasa ironis, sebab sejak awal ia berniat memperbaiki hidupnya dan sang istri, hanya untuk dipaksa berjuang pindah dari sel "nyaman" menuju "lubang neraka". Sempat muncul inkonsistensi tone, tapi hawa menusuk penjara kumuh, kekerasan tinggi, pula terjaganya intensitas, berujung menghasilkan b-movie menyenangkan. (3.5/5)

GOOD TIME (2017)
Disutradarai Safdie Brothers, Good Time merupakan drama spesial karena bisa tampil kritis tanpa perlu menjadi ekstrimis. Karakternya melanggar hukum atas nama persaudaraan, namun kriminalitas tidak dijustifikasi. Si karakter adalah Connie (Robert Pattinson), yang mengajak adiknya, Nick (Ben Safdie), selaku penderita gangguan mental untuk merampok bank. Connie mendukung Nick, membuatnya merasa berharga dan berguna, memanusiakannya. Tatkala terjadi kekacauan dan Nick tertangkap polisi, Connie bersedia menempuh segala cara demi membebaskannya. Kisah kasih persaudaraan ditekankan, tapi tanpa glorifikasi tindak kejahatan, memastikan ada harga yang wajib dibayar. Estetika "hipster" pada scoring synth ala 80-an serta pencahayaan warna-warni yang kini makin klise masih diandalkan, namun setidaknya, di departemen musik Oneohtrix Point Never memberi modifikasi berupa aransemen liar pula trippy. Serupa karakternya, Good Time bergerak bak tengah berlari berkat pengarahan chaotic nan dinamis Safide Brothers. Tidak melulu sprint, tapi cukup menjaga kerapatan intensitas. Sementara Robert Pattinson dengan jenggot berantakan langsung menggebrak sejak awal kemunculan, senantiasa menggoncang situasi lewat performa paling powerful sepanjang karirnya. (4/5)

DAFTAR PEMENANG FESTIVAL FILM INDONESIA 2017

Malam penghargaan Festival Film Indonesia 2017 akhirnya digelar malam tadi, Sabtu (11/11/2017) di Grand Kawanua, Manado. Berlangsung sekitar pukul 20:00 hingga 23:00 WIB, acaranya cukup menyiksa untuk diikuti. Bagaimana tidak? Setengah jam pertama diisi sambutan-sambutan membosankan. Duet host, Denny Chandra dan Kezia Warouw pun nihil chemistry, saling melempar lelucon hambar yang tak sanggup direspon oleh pasangannya. Untung di jajaran pemenang, hasilnya memuaskan. Night Bus menjadi film terbaik, dan total membawa pulang enam Piala Citra. Pengabdi Setan pun berpesta setelah memenangkan tujuh piala, terbanyak di malam itu. Muhammad Adhiyat alias Ian jadi MVP ketika naik panggung bersama dua "kakaknya" guna menerima penghargaan "Pemeran Anak Terbaik", lalu memberi speech paling adorable sepanjang sejarah FFI. 

Sementara Posesif beserta segala kontroversinya meraih tiga penghargaan, yang jika bicara kualitas saja, layak didapat. Putri Marino sukses memenangkan "Pemeran Utama Wanita Terbaik" lewat debutnya, mengalahkan nama-nama senior, khususnya Dian Sastrowardoyo yang jadi unggulan. Pencapaian ini serupa Christine Hakim, yang pada 1974 menjadi aktris terbaik melalui debutnya di Cinta Pertama buatan Teguh Karya. Menarik pula melihat berjayanya Night Bus dan Pengabdi Setan, menegaskan bahwa thriller dan horor punya tempat di ajang penghargaan negeri ini. Semoga bukan fenomena sesaat. Mari berharap juga penyelenggaraan FFI semakin baik, dari soal aturan, penjurian, transparansi, dan jalannya acara. Karena dibanding tahun 2016 yang mulai tampak asyik, FFI 2017, khususnya di awal, bagai acara Kecamatan yang membosankan. Berikut daftar lengkap pemenang FFI 2017

Film Terbaik: Night Bus
Sutradara Terbaik: Edwin (Posesif)
Pemeran Utama Pria Terbaik: Teuku Rifnu Wikana (Night Bus)
Pemeran Utama Wanita Terbaik: Putri Marino (Posesif)
Pemeran Pendukung Wanita Terbaik: Christine Hakim (Kartini)
Pemeran Pendukung Pria Terbaik: Yayu Unru (Posesif)
Penulis Skenario Adaptasi Terbaik: Rahabi Mandra & Teuku Rifnu Wikana (Night Bus)
Penulis Skenario Asli Terbaik: Ernest Prakasa (Cek Toko Sebelah)
Film Dokumenter Panjang Terbaik: Bulu Mata
Penata Efek Visual Terbaik: Finalize Studios - Heri Kuntoro & Abby Eldipie (Pengabdi Setan)
Penyunting Gambar Terbaik: Kelvin Nugroho & Sentot Sahit (Night Bus)
Pemeran Anak Terbaik: Muhammad Adhiyat (Pengabdi Setan)
Pencipta Lagu Tema Terbaik: The Spouse - Kelam Malam (Pengabdi Setan)
Pengarah Artistik Terbaik: Allan Sebastian (Pengabdi Setan)
Pengarah Sinematografi Terbaik: Ical Tanjung (Pengabdi Setan)
Penata Musik Terbaik: Aghi Narottama, Tomy Merle, Bemby Gusti (Pengabdi Setan)
Penata Suara Terbaik: Khikmawan Santosa & Anhar Moha (Pengabdi Setan)
Penata Rias Terbaik: Cherry Wirawan (Night Bus)
Penata Busana Terbaik: Gemailla Gea Geriantiana (Night Bus) 
Film Animasi Pendek Terbaik: Lukisan Nafas
Film Pendek Terbaik: Ruah 
Film Dokumenter Pendek Terbaik: The Unseen Words
Lifetime Achievement Award: Budiyati Abiyoga

UNBREAKABLE KIMMY SCHMIDT SEASON 1 - TOP 10 BEST MOMENTS

Beberapa minggu terakhir fokus saya teralih ke serial televisi. Ada Mindhunter yang luar biasa, musim kedua Stranger Things yang asyik walau tak sekuat pendahulunya, tapi yang paling mencuri perhatian justru Unbreakable Kimmy Schmidt yang tayang di Netflix sejak 2015. Sitcom buatan Tina Fey dan Robert Carlock yang sempat berkolaborasi dalam 30 Rock ini mengisahkan usaha Kimmy Schmidt (Ellie Kemper) menyesuaikan diri dengan dunia luar pasca diculik oleh Richard Wayne Gary Wayne (Jon Hamm) untuk bergabung dalam sekte yang percaya kiamat segera datang. Bersama tiga wanita lain, Kimmy tinggal di bunker itu selama 15 tahun. Lucu dan adiktif, Unbreakable Kimmy Schmidt sejauh ini sudah mengoleksi 9 nominasi Emmy berkat kepiawaian menyampaikan beragam isu terkait feminisme hingga rasisme. Berikut saya menyusun 10 momen terbaik dari musim pertama yang disusun secara acak. Daftar serupa untuk musim kedua dan ketiga akan segera menyusul. Females are strong as hell!

Kimmy and Titus Speaking "French"

Titus is A Supportive Friend

Every Jackie Lynn Moment


Korean Funeral


Titus Goes Viral


I Can't Fix America


Lion King One-Man Show


That Super Catchy Opening


Society Treats Werewolf Better Than Black Guy


PEENO NOIR!