REVIEW - STORY OF KALE: WHEN SOMEONE'S IN LOVE

Suka atau tidak, Kale (Ardhito Pramono) merupakan salah satu karakter paling memorable dari Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Ditambah kesan misterius yang menempel padanya, pembuatan spin-off berjudul Story of Kale: When Someone’s in Love ini sangat beralasan. Masih ditangani Angga Dwimas Sasongko, yang menulis naskahnya bersama M. Irfan Ramli (Surat dari Praha, Love for Sale), ini mungkin bukan karya terkuat sang sutradara, namun kalau penyebab Kale menjadi “fuckboy” adalah apa yang anda cari, filmnya memberikan jawaban memuaskan.....bahkan lebih.

Kita tahu Kale di Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini dibentuk oleh kegagalan hubungan di masa lalu, dan momen pembukanya langsung memperlihatkan berakhirnya hubungan tersebut. Sang gadis bernama Dinda (Aurelie Moeremans). Kalimat pertama yang ia ucapkan berisi ajakan pada Kale untuk putus. Kenapa? Sebelum menjawabnya, kita diajak lebih dahulu mundur ke masa tatkala Dinda masih berstatus manajer band Arah, posisi yang nantinya ditempati oleh Kale.

Dinda berpacaran dengan Argo (Arya Saloka), dalam suatu hubungan tidak sehat, di mana Argo kerap memukuli kekasihnya. Sampai suatu hari, pertengkaran keduanya di belakang panggung mendorong Kale mengambil langkah. Kale menyarankan agar Dinda meninggalkan Argo, dan tidak menerima perlakuan kasarnya. “Lo pantes dapet yang lebih baik”, ucap Kale. Tentu kita tahu, yang Kale maksud dengan “yang lebih baik” adalah dirinya sendiri.

Singkat cerita, Kale dan Dinda akhirnya berpacaran. Apakah Kale sering menyakiti Dinda secara fisik? Tidak. Apakah Kale sepenuhnya berbeda dibanding Argo? Ini yang patut dipertanyakan. Argo manipulatif. Dinda wajib menuruti kemauannya. Jika tidak, ia langsung dicap bersalah, lalu mesti siap menerima teriakan dan pukulan Argo. Tapi bukankah Kale juga manipulatif? Tidak ada teriakan, tidak ada pukulan, namun dengan senyum serta kata-kata yang lebih halus nan tertata, Kale terkesan mendorong Dinda agar tak melakukan apa yang Kale tak ingin Dinda lakukan. Benarkah demikian?

Kita diajak mencari tahu kebenarannya lewat penceritaan non-linear. Gaya penceritaan tersebut membuat penonton terdorong agar menjaga kepekaan mengobservasi, mencari petunjuk-petunjuk, guna memahami alasan keputusan karakternya, yang sudah lebih dulu kita ketahui. Petunjuk itu berasal dari banyak elemen, seperti reaksi subtil karakter hingga kalimat yang mereka ucapkan. Beberapa informasi yang tertanam dalam kalimat sayangnya terkesan repetitif, acap kali mengalami pengulangan dengan hanya sedikit, atau bahkan tanpa modifikasi. Contohnya sewaktu Kale bicara tentang perilaku abusive Argo. Beruntung, kelemahan itu cuma muncul di paruh awal.

Hanya bergulir sekitar 78 menit, durasi pendek itu memang sesuai kebutuhan film, yang berskala kecil, berfokus pada keintiman melalui eksplorasi momen spesifik, yakni berakhirnya sebuah hubungan. Sekali lagi, Angga memang jagonya menangkap keintiman, berkat kemampuannya menyalurkan emosi melalui interaksi sederhana manusia. Sebaliknya, Angga tak terlalu kuat kala menangani adegan berisi lebih banyak aksi, seperti nampak pada staging canggung yang membungkus pertengkaran Kale dan Dinda saat berebut kunci rumah.

Tentu akting memegang peran vital untuk suguhan intim semacam ini. Serupa dengan penampilannya di Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, Ardhito nyaman disaksikan ketika melakoio obrolan kasual. Sebaliknya, di momen lebih dramatis, Ardhito perlu menggali variasi perihal intonasi, juga bentuk luapan amarah yang tetap “menggigit” tanpa harus meledak-ledak. Tapi hal tersebut bakal membaik seiring bertambahnya pengalaman akting.

Aurelie tampil lebih solid, mampu menyampaikan rasa dengan lebih subtil melalui tuturan non-verbal, sebagaimana diperlihatkannya dalam shot penutup adegan “pertengkaran di hotel” jelang akhir film. Melalui sorot mata Aurelie, kita bisa membaca gejolak di hati Dinda. Di situlah awal dari akhir suatu fase, sekaligus titik di mana filmnya, setelah menghabiskan hampir sepanjang durasi menjelaskan soal Kale, akhirnya membuat penonton memahami keputusan Dinda.

Diiringi lagu-lagu Ardhito Pramono, dalam Story of Kale: When Someone’s in Love, musik sebagai pemegang peranan penting di cerita. “Lagu kita udah selesai”, kata Kale, di tengah usahanya membuat Dinda mau bertahan. Sayangnya bukan cuma lagu, hubungan keduanya pun sudah selesai. Di film ini, hubungan romansa ibarat proses penulisan lagu. Kamu mengisinya dengan nada-nada. Beberapa cocok, beberapa tidak. Beragam variasi instrumen pun dicoba demi melahirkan mahakarya. Setelah lagu itu usai, apa yang terjadi selanjutnya? Kamu bisa membuat karya lain, entah dalam jenis berbeda, atau serupa. Apa pun langkah yang diambil, lagu tadi sudah terabadikan, terekam, dan tak pernah mati.


Available on BIOSKOP ONLINE

REVIEW - BORAT SUBSEQUENT MOVIEFILM

Berbeda dengan tahun 2006 saat film pertama Borat rilis, 2020 adalah era di mana prank makin menjamur. Beragam kejahilan dilakukan muda-mudi, tapi semata hanya demi konten, yang dibuat dengan tujuan mendongkrak popularitas di media sosial. Tanpa esensi, bahkan menghibur pun tidak. Melalui Borat Subsequent Moviefilm: Delivery of Prodigious Bribe to American Regime for Make Benefit Once Glorious Nation of Kazakhstan, Sacha Baron Cohen bak mengajari cara melakukan prank, menjadikannya eksperimen sosial nyeleneh dengan tujuan melempar kritik tajam.

Borat Sagdiyev (Sacha Baron Cohen) dihukum penjara seumur hidup di gulag, karena aksinya di “US&A” 14 tahun lalu membuat Kazakhstan jadi bahan olok-olok dunia. Sampai sang pemimpin agung, Premier Nazarbayev (Dani Popescu) memberinya misi untuk mengirimkan seekor monyet bernama Johnny the Monkey kepada Mike Pence, selaku orang kepercayaan Donald Trump, guna membersihkan nama Kazakhstan. Bukan sembarang monyet, sebab Johnnny juga berstatus Menteri Kebudayaan.....dan bintang porno ternama.

Sampai sini saja kita sudah bisa menyimpulkan kalau Borat tidak berubah. Masih gila, absurd, dan politically incorrect. Sesampainya di Amerika, saat kargo yang membawa Johnny dibuka, sang monyet sudah tidak ada di sana. Justru Tutar (Maria Bakalova) yang muncul. Dialah puteri Borat, yang selama ini keberadaannya tak diketahui oleh ayahnya. Tutar menghabiskan seumur hidupnya dalam kandang, karena di Kazakhstan, para wanita hidup layaknya hewan ternak. Semua diatur oleh buku panduan, yang juga menyebut, kalau wanita menyentuh vaginanya, vagina itu bakal mengeluarkan taring, lalu menelan seluruh tubuh mereka bulat-bulat.

Rupanya Tutar memakan Johnny, sehingga rencana pun berubah. Mengetahui bahwa para pemimpin Amerika menyukai wanita, Borat berniat menawarkan puterinya sebagai istri Mike Pence. Perjalanan untuk mengajari Tutar sebagai “wanita yang pantas dinikahi” pun dimulai. Perjalanan yang melibatkan deretan prank, kali ini dalam skala yang tak terbayangkan sebelumnya, dengan kenekatan yang cuma dimiliki Sacha Baron Cohen.

Masih bergaya mockumentary, tim produksi dibebani PR besar mengingat sekarang Borat sudah terkenal, sehingga kesulitan untuk berkeliaran di jalan tanpa ada yang mengenalinya. Elemen itu diaplikasikan ke alur filmnya, di mana protagonis kita lebih banyak mengenakan samaran (pakaian, jenggot, dan aksesoris lain). Begitulah, dan Borat Sagdiyev  siap menelanjangi kebodohan masyarakat negara adidaya, yang konon telah memperoleh kembali kehebatannya sejak “McDonald Trump make America great again”.

Borat merupakan sosok seksis, rasis, dan anti-Yahudi. Semua yang bertentangan dengan asas kemanusiaan melekat padanya. Pun dia luar biasa bodoh. Artinya, saat kita menertawakan tingkahnya, kita tengah menertawakan betapa bodohnya seksisme, rasisme, dan anti-semitis. Dan jika masih menganut hal-hal tersebut, kita sama bodohnya dengan Borat. Hanya saja, kemasan hiperbolis membuat para kaum intoleran tak menyadari sedang menertawakan diri sendiri.

Kebodohannya juga berfungsi membuat para target lengah. Misalnya ketika Borat dan Tutar memesan kue bertuliskan “Jews will not replace us”. Si pemilik toko kue menurut saja, tidak terkejut, tidak terganggu, bahkan merespon dengan begitu ramah. Situasi serupa muncul juga di film pertama, namun keunggulan Borat Subsequent Moviefilm adalah keterikatan antara sketsa dengan gagasan besar cerita yang lebih kuat, di mana tiap prank memiliki konteks yang lebih jelas dan relevan dengan problematika dunia nyata. Urgensi masing-masing kritik juga lebih tinggi, mengingat Amerika Serikat tengah memasuki masa krisis. Krisis keadilan, juga kesehatan di tengah pandemi COVID-19.

Film ini diproduksi di tengah masa karantina, yang sejatinya memancing pertanyaan, “Bukankah berarti Sacha Baron Cohen dan tim juga melanggar protokol kesehatan?”. Nilai minus, tapi harus diakui, dampak yang ditimbulkan memang luar biasa, khususnya di 30 menit terakhir, sewaktu level prank-nya ditingkatkan sampai ke titik tak terbayangkan,

Borat sempat menetap bersama dua pria yang percaya Barrack Obama harus dipenjara, sedangkan COVID adalah konspirasi, sebuah virus yang sengaja disebarkan oleh Cina. Menyaksikan bagaimana keduanya menganggap serius tiap perkataan konyol Borat, membuat kita menyadari betapa bodohnya mereka. Lucunya, ketika membaca buku panduan tentang wanita yang dipunyai Borat, keduanya berkata kalau itu hanya teori konspirasi (di saat mereka sendiri menganut teori konspriasi soal COVID).

Dari situ kegilaan Sacha Baron Cohen tak terbendung. Dia mendatangi demonstrasi March for Our Rights, membawakan lagu yang membuat ratusan peserta ikut bernyanyi tentang kepalsuan COVID, dan Obama serta para ilmuwan yang harus dimusnahkan. Puncaknya adalah wawancara palsu dengan pengacara personal Donald Trump, Rudy Giuliani. Silahkan tonton sendiri momen tersebut (juga keseluruhan filmnya), dan bersiap tercengang, baik oleh keliaran Sacha Baron Cohen, maupun realita yang ia tangkap.


Available on PRIME VIDEO

REVIEW - CLOUDS

Pada salah satu adegan paling menyentuh dalam Clouds, setelah (secara tidak sengaja) menyatakan cinta pada sahabatnya, Zach Sobiech (Fin Argus), yang mengidap kanker stadium akhir, Sammy (Sabrina Carpenter) mengaku sering berandai-andai tentang masa depan, di mana merekaa akan berkuliah, menjalani hidup masing-masing, sama-sama mempunyai pacar, tapi mungkin, suatu hari nanti, bakal bertemu lagi dan menyadari bahwa keduanya saling mencintai. Saya pun dibuat membayangkan skenario-skenario mengenai imajinasi masa depan itu.

Hal serupa, namun dalam konteks berbeda, juga terjadi pada hubungan Zach dengan sang kekasih, Amy (Madison Iseman). Seperti apa kehidupan Amy sepeninggal Zach? Pasti dia akan mempunyai kekasih lain, bahkan mungkin menikah. Seperti apa perasaan Amy, jika di tengah hubungan bersama pasangan baru itu, ia teringat akan Zach? Apakah Amy yang asli juga memikirkan hal yang sama seperti saya, ketika dahulu menemani Zach melewati hari-hari terakhirnya?

Clouds adalah film yang membuat saya begitu memedulikan tokoh-tokohnya, hingga membayangkan kehidupan mereka di luar film. Fakta bahwa ini diangkat dari kisah nyata, membuat bayangan-bayangan di atas menambah dampak emosional. Dibuat berdasarkan memoar Fly a Little Higher: How God Answered a Mom's Small Prayer in a Big Way milik ibunda Zach, Laura Sobiech (diperankan Neve Campbell di film ini), filmnya menuturkan perjuangan Zach melawan kanker stadium akhir, hingga menelurkan lagu fenomenal berjudul Clouds, yang mampu bertengger  di posisi 26 dalam tangga lagu Billboard Hot 11, pun video klipnya sempat viral dan ditonton sebanyak 15 juta kali di Youtube.

Zach tidak kenal menyerah, menolak membiarkan kanker menghalanginya menjalani hidup secara bahagia. Dia gemar melontarkan dark jokes seputar kondisinya. Setiap pagi dia muntah di kamar mandi, lalu berdandan serapi mungkin, melatih senyuman di depan cermin, sebelum muncul di hadapan keluarganya, seolah tak terjadi apa pun.

Sejak kecil Zach bersahabat dengan Sammy, dan seperti tertulis di paragraf pembuka, Sammy diam-diam menyukai Zach. Cinta itu bertepuk sebelah tangan, karena Zach jatuh hati pada Amy, yang kemudian menjadi kekasihnya. Untungnya tidak ada konflik cinta segitiga. Bahkan Sammy berperan mempersatukan Zach dan Amy. Kedua gadis remaja itu akhirnya malah menjadi teman akrab. Berkat itu, Clouds makin bermakna, menuturkan kisah di mana kematian bukan cuma soal perpisahan, tapi bisa juga mempersatukan.

Clouds memang bernuansa positif, namun tak mengesampingkan kerapuhan protagonisnya. Biar bagaimana pun, mengetahu ajal diri sendiri sudah makin dekat tentu menyulut ketakutan dan kekhawatiran. “Apa gunanya menulis college essay kalau aku takkan pernah kuliah?!”, ungkap Zach. Narasi yang dipakai sebagai pembuka sekaligus penutup film membantu kita memahami pergolakan hatinya: “Most teenagers out there feel like they’re invincible. Not the Superman kind of invincible. The kind of invincible that tricks you into thinking tomorrow might be a better day to start chasing your dreams”. Pada usia di mana ia merasa di puncak dunia, Zach mesti menghadapi akhir.

Sulit menahan luapan emosi selama 121 menit durasinya, ketika Clouds silih berganti menyajikan momen-momen manis (Zach meminta Amy menjadi pasangannya untuk prom di konser Jason Mraz, proses penulisan lirik kala Zach dan Sammy bergantian menulis kalimat di buku catatan), menyentuh (konser di Metro saat seluruh penonton menyanyikan Clouds bersama-sama), dan heartbreaking (dokter memberitahu keluarga Zach bahwa usianya tinggal menghitung hari).

Durasinya memang agak terlalu panjang, pun alurnya bertahan terlalu lama di satu fase, sebelum menemukan dinamika baru ketika Zach dan Sammy (sebagai duo A Firm Handshake) mendapatkan kontrak rekaman. Formulanya amat terbaca, yakni kumpulan momen-momen pemancing haru, yang untungnya dieksekusi secara elegan dengan takaran emosi tepat. Serupa lirik-lirik buatan Zach, naskah hasil tulisan Kara Holden mengandung kalimat-kalimat yang mampu menyuarakan keindahan melalui kesederhanaan, tanpa perlu terdengar puitis. Sementara penyutradaraan Justin Baldoni (Five Feet Apart) tak pernah berlebihan memainkan dramatisasi.

Jajaran pemainnya tak kalah hebat. Baik trio penampil muda (Fin Argus, Sabrina Carpenter, Madison Iseman) maupun para senior (Neve Campbell dan Tom Everett Scott) menuangkan rasa secara meyakinkan, memudahkan penonton tertawa, jatuh cinta, dan menangis bersama mereka.


Available on DISNEY+ HOTSTAR

REVIEW - DIL BECHARA

Dil Bechara sangat dinantikan karena dua hal. Alasan pertama adalah statusnya sebagai adaptasi terbaru untuk novel The Fault in Our Stars karya John Green (sebenarnya lebih tepat disebut remake dari versi Hollywood, karena dalam prosesnya, Shashank Khaitan dan Suprotim Sengupta mengadaptasi langsung naskah buatan Scott Neustadter dan Michael Weber). Alasan kedua adalah kematian tragis aktor utamanya, Sushant Singh Rajput bulan Juni lalu.

Peraih dua nominasi Filmfare Awards tersebut kembali mempersembahkan penampilan berkesan, namun filmnya sendiri mengecewakan, terlebih jika anda telah menonton versi Hollywoodnya. Ketika Bollywood makin rajin menelurkan drama yang berhasil mengangkat isu kompleks secara ringan tanpa perlu kehilangan bobot, Dil Bechara adalah kebalikannya. Sebuah simplifikasi terhadap situasi kompleks, di mana banyak substansi dikesampingkan.

Kizie Basu (Sanjana Sanghi) adalah penderita kanker tiroid yang selalu menyendiri, mesti membawa tabung oksigen ke mana-mana, dan sering mendatangi pemakaman orang asing, karena merasa bisa berbagi penderitaan bersama mereka. Satu-satunya “teman” Kizie adalah lagu gubahan Abhimanyu Veer (penampilan spesial Saif Ali Khan) yang belum selesai dibuat. Sampai ia bertemu Manny (Sushant Singh Rajput), pria penuh antusiasme, yang terobsesi pada Rajinikanth, membuatnya bermimpi jadi aktor laga.

Manny bersikeras mengajak Kizie agar mau menjadi aktris di film yang ia buat bersama sahabatnya, JP (Sahil Vaid). Awalnya si gadis menolak, bahkan sedikit risih dengan kengototan Manny. Sampai ia tahu kalau Manny menderita osteosarkoma sehingga kakinya diamputasi, sedangkan akibat glaukoma, salah satu mata JP tak lagi berfungsi. Hati Kizie mulai luluh. Pertanyaannya, “bagaimana bisa?”. Jika Gus di The Fault in Our Stars adalah pria karismatik bergaya bak James Dean yang ingin terlihat kuat, maka Manny adalah pria berdarah panas, agresif, pun terkadang sedikit kurang ajar. Tentu intensinya tidak begitu, namun naskah Dil Bechara memang sering kesulitan menyampaikan tujuannya.

Aliran penceritannya kasar, sesuatu yang gagal diperbaiki oleh penyutradaraan Mukesh Chhabra yang juga kerap terbata-bata. Sebutlah Kizie yang awalnya bersikap dingin pada Manny, lalu sejurus kemudian bagaikan terobsesi. Begitu pula sang ibu (Swastika Mukherjee) yang selalu ketus, seolah menolak keberadaan Manny, namun tiba-tiba hangat setibanya di Paris dalam perjalanan mencari Abhimanyu Veer. Atau tengok momen sewaktu kondisi Kizie memburuk sebelum berangkat ke Paris, di mana ketiadaan “jembatan” dari suasana bahagia menuju rasa sakit melemahkan penghantaran emosinya.

Kucinya terletak di “jembatan”. Transisi antara satu poin dan poin berikutnya. Terkait elemen romansa, masalah ketiadaan transisi itu masih bisa dimaafkan, sebab kedua pemeran utamanya berhasil menjalin chemistry manis, yang bisa memancing senyum tiap mereka berinteraksi. Meski awalnya kurang mulus, seiring waktu, Kizie dan Manny mampu mencuri hati saya, sebagai dua sejoli yang saling menghadirkan tawa di tengah kondisi yang jauh dari "menyenangkan".

Lain cerita jika membahas The Fault in Our Stars, baik buku maupun adaptasi filmnya, sebagai kisah bernada positif yang melawan keklisean formula tearjerker dan disease porn. Dil Bechara bagai adaptasi yang memutilasi materi aslinya. Banyak poin-poin esensial lenyap, membuat filmnya hanya berakhir menjadi kisah cinta dua orang dengan penyakit, di mana penyakit itu terkesan trivial, ketimbang soal dua individu yang menemukan cara menghadapi, melawan, lalu menerima kondisi mereka demi kebahagiaan.

Dil Bechara mempertahankan banyak elemen dalam The Fault in Our Stars, tapi penerapannya seolah tak dibarengi pemahaman, mengapa elemen-elemen itu diciptakan. Simplifikasi pun kerap terjadi. Voice over sang protagonis terdengar sepanjang film, tapi berbeda dengan milik Hazel Grace, narasi Kizie hanya eksposisi belaka, tanpa mampu membawa penonton menyelami kompleksitas isi hati dan pikiran si karakter. Contoh lain adalah soal rokok, yang di sini, penjabarannya cuma berhenti pada “rokok yang tidak menyala tidaklah berbahaya”. Masih banyak deretan simplifikasi lain, yang membuat Dil Bechara turun kelas dibandingkan sumbernya, walau masih layak ditonton sebagai romansa berkat penampilan dua pemain utama.


Available on DISNEY+ HOTSTAR

REVIEW - THE 40-YEAR-OLD VERSION

Semua orang berusaha terus bergerak maju dalam hidup, hingga tiba pada titik di mana kita mempertanyakan arah serta jalan yang ditempuh. Datanglah tekanan yang menyulitkan gerak maju itu. Tapi terkadang, yang perlu kita lakukan justru “bergerak mundur”, mengingat identitas, akar, dan tujuan kita saat dahulu hendak memulai langkah. Mendekati kepala empat, itulah yang melandasi Radha Blank melahirkan suguhan semi-autobiografi ini, yang terinspirasi dari pengalamannya kala berkarir sebagai dramawan di New York.

Radha memproduseri, menyutradarai, menulis naskah, serta memerankan (versi fiktif) dirinya sendiri. Pun pengambilan gambar dilakukan di apartemen Radha, semakin menekankan nuansa personal di The 40-Year-Old Version. Di sini, Radha adalah dramawan berbakat, yang memenangkan penghargaan “Best Playwright Under 30”. Tapi kini usianya hampir menyentuh 40 tahun. Sudah lama sejak ia menulis naskah dan lebih banyak menghabiskan kesehariannya mengajar kelas drama bagi remaja-remaja pemberontak, yang sebagian, tak menaruh minat pada teater.

Dari situlah Radha mengingat masa mudanya, kala ia terobsesi pada rap dan rajin menulis rima. Kata-kata mulai tertuang lagi, kali ini bukan dalam wujud naskah pertunjukan, melainkan bait-bait. Radha ingin membuat album kompilasi rap yang bercerita tentang kesulitannya menyongsong usia 40 tahun. Niatan tersebut mempertemukannya dengan seorang pencipta lagu bernama D (Oswin Benjamin). Muncul dilema, karena di saat bersamaan, melalui sahabat sekaligus manajernya, Archie (Peter Kim), Radha mendapat tawaran menulis naskah dari J. Whitman (Reed Birney), yang kerap memproduseri drama-drama bertemakan wanita dan ras, namun dalam kemasan white male gaze.

Radha harus memilih, antara menjual idealisme (dan kaum sendiri) demi kesuksesan, atau mengunjungi lagi masa muda, budaya, dan keluarganya (DNA seni Radha menurun dari mendiang ibunya), demi sesuatu dan orang-orang yang ia cinta. Konfliknya memang terdengar klise, tapi penulisan Radha yang tajam namun menggelitik dalam melempar kritik, ditambah kentalnya sentuhan keintiman (foto-foto asli Radha dan keluarganya sesekali diselipkan), membuat The 40-Year-Old Version, meski tak sepenuhnya baru, terasa begitu segar.

Humornya mengajak penonton menertawakan beragam situasi tanpa dilebih-lebihkan. Kita tertawa bukan hanya karena situasi tersebut konyol, tapi karena kekonyolan itu benar-benar terjadi di realita. “Apa benar orang kulit hitam yang menulis ini?”, ucap Whitman, si produser kulit putih, mengomentari naskah mengenai kehidupan kulit hitam, yang tak menyertakan poverty porn. Seolah, di mata orang-orang kulit putih berkantong tebal, drama ras yang relevan wajib menyertakan penderitaan dan kemiskinan hingga tingkat tertinggi. Ketika berakting, Radha mampu memerankan sosok yang terjebak di tengah kekonyolan tersebut. Dia pun tertawa. Dia merasa situasi itu menggelitik. Tapi di balik tawanya ada kebingungan, sakit hati, perasaan miris, bahkan keputusasaan.

Sebagai penulis, Radha paham betul apa yang membuat situasi di atas menggelitik, lalu menerapkannya di penyutradaraan, untuk menciptakan timing komedi yang sempurna. Sesekali ia juga mengolok-olok diri sendiri. Seorang wanita 40 tahun yang sendinya berbunyi setiap hendak duduk. Seorang rapper pemula yang terlalu teler di atas panggung (momen lucu yang sayangnya terkesan dipaksakan sebagai cara membuat protagonisnya menghadapi konflik terkait “selling out”), sehingga cuma bisa bernyanyi “yo, yo, yo”, membuatnya dijuluki “frozen yo-ghurt” dan “the human yo-yo”. Kultur rap modern yang lebih banyak bernyanyi soal keseksian wanita dan omong kosong lain ketimbang menuturkan “cerita sungguhan” juga tak lupa disentil.


Available on NETFLIX

REVIEW - THE TRIAL OF THE CHICAGO 7

Pada aksi Black Lives Matter selepas pembunuhan George Floyd beberapa bulan lalu, opini publik Amerika Serikat terbelah, bahkan di antara mereka yang sama-sama mengutuk rasisme serta tindak kekerasan polisi. Pihak yang kontra, mengecam demonstrasi akibat aksi perusakan, sementara yang pro, menganggap bahwa demi menggoyang para pemegang kekuatan yang sudah terlalu nyaman duduk di singgasana penguasa, reaksi keras perlu dilakukan. Ada faktor-faktor lain, tapi pada intinya, dalam suatu pergerakan, acap kali terjadi perbedaan ideologi yang kerap menyulut perpecahan, walau sejatinya, semua pihak punya satu tujuan. Kondisi serupa terjadi pula di Indonesia dalam protes terkait Omnibus Law.

The Trial of the Chicago 7 yang menandai kali kedua Aaron Sorkin menduduki kursi sutradara setelah Molly’s Game (2017), membahas persoalan di atas, melahirkan paralel antara peristiwa tahun 1968 saat kerusuhan pecah di Konvensi Nasional Partai Demokrat dengan masa kini. Film-film period terbaik memang bukan sebatas perjalanan mengarungi masa lalu, juga membuat penonton membandingkan dengan kondisi sekarang, sehingga menciptakan pertanyaan, “Sudah sejauh apa kita melangkah?”.

Sekuen pembukanya dipakai memperkenalkan satu demi satu protagonis, di mana hanya dengan beberapa kalimat singkat, Sorkin berhasil menjabarkan ideologi yang diusung oleh masing-masing figur. Penyuntingannya membuat mereka seolah menyelesaikan kalimat satu sama lain, bak menyiratkan kalau nantinya kedelapan orang ini bakal saling bersinggungan. Tepatnya, dipaksa bersinggungan dalam rangkaian persidangan panjang yang berlangsung kurang lebih satu tahun.

Delapan orang ditangkap atas tuduhan konspirasi pasca pecahnya kerusuhan di tengah aksi memprotes keputusan Amerika Serikat menambah jumlah prajurit yang dikirim ke Vietnam. Mereka adalah: Abbie Hoffman (Sacha Baron Cohen) dan Jerry Rubin (Jeremy Strong) selaku pentolan Yippies (Youth International Party); David Dellinger (John Carroll Lynch) yang memimpin gerakan pasifisme penentang kekerasan; Tom Hayden (Eddie Redmayne) dan Rennie Davis (Alex Sharp) sebagai penggerak National Mobilization Committee to End the War in Vietnam alias the Mobe; Bobby Seale (Yahya Abdul-Mateen II) sang pemimpin Black Panther Party; serta dua aktivis, John Froines (Daniel Flaherty) dan Lee Weiner (Noah Robbins).

Selama sekitar 130 menit, kita diajak mengikuti persidangan yang oleh Abbie disebut “persidangan politis”. Pengacara mereka, William Kunstler (Mark Rylance) awalnya tidak setuju atas sebutan itu. Tapi seiring waktu, sulit bagi kita maupun Kunstler untuk tak mengamini omongan Abbie, setelah pihak penguasa melakukan segala cara untuk mengkriminalisasi para Chicago Eight (baru menjadi Chicago Seven setelah persidangan untuk Bobby Seale dipisah).

Richard Schultz (Joseph Gordon-Levitt) selaku jaksa penuntut sudah merupakan lawan sepadan. Tapi seolah belum cukup, Hakim Julius Hoffman (Frank Langella) terus melakukan ketidakadilan-ketidakadilan konyol. Belum lagi berbagai kecurangan lain, termasuk saat mengirim surat ancaman kepada keluarga salah satu juri dengan memakai nama Black Panther Party sebagai upaya fitnah.

Sorkin justru menggunakan ketidakadilan-ketidakadilan tadi sebagai media pemersatu delapan orang dengan ideologi berbeda (perbedaan yang kerap memancing perselisihan, khususnya antara Abbie dan Tom). Semakin pihak lawan menggelontorkan senjatanya, semakin tersadar pula para protagonis, bahwa di balik perbedaan ideologi, mereka punya musuh yang sama. Tanpa perlu berceramah, Sorkin juga berhasil menyadarkan penonton, bahwa musuh sebenarnya adalah para pemegang kekuatan yang menampik hak-hak minoritas, juga barisan preman berseragam yang malah bersikap brutal kepada orang-orang yang semestinya mereka layani dan lindungi.

The Trial of the Chicago 7 turut menandai upaya Sorkin melahirkan karya yang lebih bersahabat bagi kalangan penonton di luar penggemarnya. Barisan kalimatnya masih kaya, tajam, sesekali menggelitik, dan tentunya memorable. “Martin’s dead. Bobby’s dead. Jesus is dead. They tried it peacefully. We’re going to try something else”, ucap Bobby. Terdengar nyeleneh, tapi memancing perenungan. Tapi berbeda dengan kebiasaan Sorkin selama ini, penghantaran kalimat-kalimat tersebut tidak secepat lesatan peluru senapan otomatis. Penonton awam takkan kesulitan mengikutinya. Pun Sorkin menawarkan konklusi crowd pleasing, yang membuat saya bisa membayangkan, apa jadinya film ini, bila rencana awal di tahun 2007 untuk memberikan posisi sutradara kepada Steven Spielberg jadi dilakukan.

Terkait penyutradaraan, Sorkin makin matang. Sekuen terbaiknya adalah kerusuhan pertama, ketika demonstran berpawai menuju kantor polisi guna membebaskan Tom. Tempo yang meningkat secara bertahap, penyuntingan dinamis yang bergantian memperlihatkan dua pernyataan kontradiktif dari masing-masing pihak, kombinasi adegan reka ulang dan footage asli, ditambah musik pemacu adrenalin gubahan Daniel Pemberton (Steve Jobs, Spider-Man: Into the Spdier-Verse) Sorkin telah menyempurnakan kemampuannya membangun momentum yang begitu kuat menyetir emosi penonton.

Jajaran pemainnya tak kalah bersinar. Seperti biasa, Redmayne solid memerankan pria rapuh yang berusaha kuat. Pria yang mengucapkan kata-kata bernada keyakinan dengan penuh ketidakyakinan. Pria yang seperti bisa runtuh kapan pun namun menolak berhenti di tengah jalan. Langella adalah antagonis yang gampang dibenci, sedangkan Michael Keaton menjadi glorified cameo yang meninggalkan kesan.

Tapi Sacha Baron Cohen adalah yang terbaik. Abbie adalah aktivis, hippie, sekaligus komika. Kombinasi yang membuatnya sekilas hanya pria konyol yang tak bisa diandalkan, namun semakin banyak sarkasme tajam nan cerdas terlontar dari mulutnya, semakin mengagumkan sosoknya, yang turut menjelaskan, bagaimana bisa, di tengah tekanan dari penguasa, demokrasi menolak berjalan mundur pada 1968.


Available on NETFLIX

REVIEW - PELUKIS HANTU

Mengikuti jejak Bene Dion Rajagukguk selaku sesama komika, Arie Kriting melakoni debut penyutradaraan melalui sebuah horor-komedi (sama-sama dibintangi Ge Pamungkas pula). Hasilnya, karya Bene Dion mungkin lebih solid, tapi Arie menggantungkan ambisi lebih tinggi. Ada luka personal dalam lingkup keluarga, ada luka kolektif dalam lingkup kenegaraan, kemanusiaan, dan sosial masyarakat. Arie, yang menulis naskahnya sendiri, menjadikan pertemuan dua alam sebagai metode penyembuh luka.

Ge memerankan Tutur, seorang pelukis muda yang setia memegang idealisme berupa kejujuran. Dia menolak berbohong soal harga serta makna lukisan, membuatnya kesulitan memperoleh uang, baik untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, maupun pengobatan penyakit paru-paru ibunya (Aida Nurmala). Sampai datang tawaran menjadi pelukis hantu di acara televisi horor, yang kita semua tahu, memarodikan program apa.

Awalnya Tutur ragu, karena pekerjaan itu menuntutnya pura-pura bisa melihat hantu. Tapi kesehatan sang ibu yang makin memburuk, membuatnya berubah pikiran. Proses syuting pun tiba. Tutur harus melukis hantu dengan mata tertutup. Di situlah hal mengejutkan terjadi. Tutur dapat melihat hantu. Sesosok kuntilanak (Jenny Zhang), yang juga sempat menampakkan diri di depan Tutur semasa ia kecil. Dibantu Amanda (Michelle Ziudith) si blogger misteri, Tutur coba membongkar alasan di balik kemunculan sang kuntilanak, yang tanpa disangka, berkaitan dengan masa lalunya sendiri.

Salah satu pencapaian terbesar Arie adalah kejelian membagi porsi, kapan harus melucu, kapan tampil serius, dan kapan waktunya meneror. Tidak ada tumpang tindih. Masing-masing genre diberi kesempatan menunjukkan kekuatan, pun tetap terasa sebagai satu kesatuan. Dibantu jajaran komedian dengan porsi kemunculan bervariasi, Arie sanggup menghasilkan komedi yang konsisten memancing tawa. Walau kalau harus disandingkan, humornya belum sepintar Bene Dion di Ghost Writer, yang sanggup menarik kelucuan dari berbagai horror tropes.

Terkait horor, Pelukis Hantu tidak menawarkan banyak keunggulan. Riasan yang dikenakan Jenny Zhang cukup memancing rasa ngeri tiap kamera menaruh fokus di wajahnya, dan Arie berhasil menyelipkan satu jump scare yang efektif menggedor jantung berkat timing kemunculan tak terduga (clue: lukisan), tapi secara keseluruhan, teror sang kuntilanak tak jauh beda dibanding barisan horor lokal formulaik, meski tak bisa disebut buruk.

Sedangkan elemen dramanya, mempertemukan titik terbaik sekaligus terburuk milik Pelukis Hantu. Seperti saya sebutkan di paragraf pembuka, ada ambisi besar dari Arie guna menjadikan debutnya ini lebih dari sekadar hiburan ringan. Ambisi yang melibatkan cabang-cabang penceritaan dengan skala makin membesar seiring bergulirnya kisah, namun Arie memadatkannya secara paksa di paruh akhir, dalam cuplikan-cuplikan singkat yang tak cukup kuat menjalin ikatan emosi antara penonton dengan drama tersebut.

Ge, sebagai salah satu komika yang paling sering diberikan peran dramatis, sayangnya tak cukup mumpuni mengemban kompleksitas dinamika batin Tutur. Apalagi saat dituntut melakoni momen berintensitas emosi tinggi. Dia menangis. Setidaknya ekspresinya terlihat seperti itu. Tapi tidak hatinya. Ge menangis hanya untuk dirinya sendiri. Bukan agar penonton ikut merasakan gejolak serupa. Sedangkan Michelle Ziudith tak cukup diberikan ruang eksplorasi, mengingat naskahnya pun belum cukup matang mengolah penokohan Amanda.

Di balik kejenakaannya, melalui Pelukis Hantu, Arie memaknai mistisisme dari perspektif berbeda. Perihal “arwah dan orang mati” tidak berhenti di ranah menakut-nakuti semata. Ada pertemuan dan perpisahan. Ada tragedi masa lalu dan usaha bangkit demi masa depan. Sensibilitas di gagasan-gagasan tadi belum sepenuhnya muncul di penyutradaraan Arie. Tapi saya rasa ini masalah jam terbang semata. Kelak Arie akan lebih peka, tahu mesti meletakkan fokus kamera di mana, dan bagaimana membungkus detail suatu momen, agar penyaluran rasanya lebih maksimal. Saat hari itu tiba, jalannya sebagai salah satu sineas paling “berbahaya” terbuka lebar.


Available on DISNEY+ HOTSTAR