MARRIAGE STORY (2019)

Charlie (Adam Driver) menjelaskan alasannya mencintai Nicole (Scarlett Johansson), lalu sejurus kemudian Nicole melakukan hal serupa, menjelaskan alasannya mencintai sang suami. Diiringi orkestra indah gubahan Randy Newman (Toy Story, Cars, The Meyerowitz Stories) yang membuat pendengarnya terbang ke awang-awang dibuai rasa cinta, rasanya seperti tengah menyaksikan awal sebuah romantika bahagia. Lalu begitu dalam sebuah flashback, Charlie berkata, “Let’s stop right there”, kebahagiaan itu ikut berhenti. Rupanya kata-kata pujian tadi berasal dari catatan yang ditulis keduanya atas perintah konselor di tengah proses mediasi karena pernikahan mereka bermasalah.

Sekuen pembuka itu berarti dua hal. Pertama, tentang kehandalan sutradara sekaligus penulis naskah Noah Baumbach (The Squid and the Whale, Frances Ha, The Meyerowitz Stories) membawa penonton ke dalam roller coaster emosi. Kedua, bahwa Marriage Story bukanlah soal betapa mengerikan suatu pernikahan, bukan pula sebatas paparan kepahitan, melainkan keseimbangan antara sisi positif dan negatif yang menegaskan kompleksitas pernikahan juga perasaan misterius bernama “cinta”.

Charlie merupakan sutradara kelompok teater avant garde di New York dengan Nicole menjadi aktrisnya. Nicole pernah merintis karir di industri film komersil, namun memilih mengesampingkannya pasca menikah. Setelah bertahun-tahun, Nicole mulai merasa kehilangan “dirinya”. Segala keputusan rumah tangga didasari pilihan Charlie, bahkan Nicole pelan-pelan “menjadi Charlie”. Bakal terasa aneh bagi Nicole andai Charlie bertanya “Apa yang mau kamu lakukan hari ini?”. Tentu pertanyaan itu tidak pernah terlontar.

Menyewa Nora Fanshaw (Laura Dern) selaku pengacara, Nicole menggugat cerai Charlie, membawa putera tunggal mereka Henry (Azhy Robertson) tinggal di rumah ibunya, Sandra (Julie Hagerty) di Los Angeles. Sedangkan Charlie menyewa jasa Bert Spitz (Alan Alda) setelah kurang puas pada pendekatan kurang manusiawi pengacara sebelumnya, Jay Marotta (Ray Liotta). Seiring para protagonisnya terjebak dilema antara “menang” dan “memanusiakan”, Marriage Story menyajikan perjalanan memilukan kala keduanya berebut hak asuh anak, melewati proses persidangan perceraian menyakitkan, terlibat pertengkaran berujung saling tuduh tentang siapa yang lebih bersalah. Tapi lebih memilukan saat secara subtil, Marriage Story menyiratkan jika mereka masih saling cinta.

Di situ kompleksitasnya bertempat. Mendengungkan ungkapan familiar “cinta saja tidak cukup”, Baumbach memastikan, di setiap langkah yang pasangan itu ambil, selalu ada kekhawatiran akan menyakiti satu sama lain. Tidak terkecuali pada puncak pertengkaran yang banyak dibicarakan itu, di mana Baumbach unjuk kebolehan terkait permainan intensitas, ketika perdebatan yang awalnya merupakan media Charlie dan Nicole meluapkan kejengahan terpendam (menciptakan kontradiksi dengan opening) berubah jadi ajang saling menyakiti.

Adegan tersebut juga merupakan klimaks performa dua pemeran utama. Memakai beberapa long take, Baumbach seolah menantang Johansson dan Driver mengolah rasa. Dan ketika mereka berhasil, kita bisa mengobservasi gradasi emosi yang mengalir natural. Driver yang pasif dan dipenuh ketidaksadaran, Johansson yang lebih agresif meski sejatinya tak kalah gamang, melahirkan sepasang manusia yang menggiring penonton mencicipi rasa sakit keduanya seiring tergerusnya hubungan mereka. Tidak kalah mengesankan adalah Laura Dern dalam penampilan berenergi yang bakal membuat anda takkan melupakan monolog menggelitik yang menautkan isu gender dengan kisah Yesus dan Maria.

Ya, menggelitik. Di samping tuturan menyakitkannya, Marriage Story, sebagaimana karya Baumbach lain, selalu menyertakan elemen komedik, yang terkadang seperti mengajak kita menertawakan kegetiran, misalnya kegaduhan pada proses penyerahan surat gugatan cerai Nicole untuk Charlie. Terkait tuturan drama, Baumbach yang banyak terinspirasi dari karya-karya Ingmar Bergman khususnya Persona (salah satu properti film ini adalah artikel tentang dua tokoh utamanya yang bertajuk Scenes from a Marriage, yang mana merupakan judul film Bergman), berhasil membangun keintiman melalui permainan ruang dalam mise-en-scène.

Performa maksimal tiap departemen memberi sang sutradara kemudahan menyampaikan visi, ibarat sesosok prajurit handal yang disediakan persenjataan lengkap. Akting mumpuni, efisiensi dan efektivitas posisi kamera, hingga ketepatan soal kapan scoring Newman mulai merambat masuk. Hasilnya adalah deretan peristiwa emosional menusuk hati, termasuk fase konklusi yang menyampaikan betapa saat urusan legalitas (pernikahan dan perceraian) tak menghadang, kejujuran rasa serta kebahagiaan individu bisa terungkapkan sebagaimana adanya. Mungkin Marriage Story tidak menyalahkan pihak mana pun, namun kita bisa lihat, siapa yang akibat keegoisannya berakhir jadi “manusia tak terlihat” dan “hantu” yang membayangi orang-orang tercintanya. Sebab cinta, apalagi pernikahan, merupakan dua gelas yang saling mengisi, bukan sebuah gelas mengisi penuh gelas satunya.


Available on NETFLIX

LAST CHRISTMAS (2019)

Last Christmas, yang naskahnya ditulis oleh Emma Thompson (Sense and Sensibility, Nanny McPhee, Bridget Jones’s Baby) dan Bryony Kimmings berdasarkan lagu berjudul sama buatan George Michael, merupakan komedi-romantis berlatar Natal, yang seperti banyak film Natal, “nilai apa yang diangkat” lebih dipentingkan dari penceritaan. Hasilnya klise dan kerap terlalu sentimentil, tapi merupakan kebohongan bila saya mengaku film ini gagal meninggalkan kesan.

Termasuk Last Christmas, ada total 14 lagu duo pop Wham! dan solo George Michael plus satu unreleased track (This Is How (We Want You to Get High)), mengiringi perjalanan Katarina, atau yang lebih suka dipanggil Kate (Emilia Clarke), seorang gadis dari keluarga Yugoslavia yang menetap di London pasca meletusnya perang. Hidup Kate berantakan. Hubungannya dengan keluarga, terutama sang ibu (Emma Thompson) merenggang, pun akibat kecerobohan serta keegoisannya, Kate selalu diusir di mana saja ia tinggal, menjadikannya tunawisma , mondar-mandir di jalanan London membawa koper dengan stiker “George Michael Forever”, mengenakan sepatu Elf selaku seragam kerjanya.

Kate bekerja di toko barang Natal milik Santa (Michelle Yeoh), di mana dia selalu terkena teguran si bos akibat kinerja buruknya. Mimpinya menjadi penyanyi senantiasa kandas akibat deretan kegagalan audisi. Begitu sampai di titik terendah dalam hidupnya, Kate bertemu Tom (Henry Golding). Berkebalikan dengan sinisme Kate, Tom penuh semangat bahkan cenderung eksentrik. Tom gemar menari di tengah jalan, dan ketimbang menatap layar smartphone, dia lebih suka menengadah memperhatikan detail-detail di sekitarnya.

Kate mulai tertarik pada Tom yang mengembalikan kepoitifannya, membuka matanya akan warna-warna dalam hidup yang selama ini tidak Kate acuhkan, dan dari situ, mudah menebak Last Christmas bakal bergerak ke mana. Film ini adalah soal proses Kate memperbaiki diri, menemukan kebahagiaan dengan cara mengurangi egoisme untuk membahagiakan sesama, alias sejalan dengan nilai-nilai Natal perihal kebaikan hati dan kebersamaan.

Sederhana, hanya saja di tengah perjalanan, naskahnya menambahkan beberapa kisah sampingan yang sejalan dengan nilai-nilai di atas, meski signifikansi terhadap konflik utamanya dipertanyakan. Isu rasisme sedikit disentil, sedangkan Santa, yang digambarkan keras dan dingin, rupanya bisa luluh juga karena cinta. Dia terpikat pada seorang pria pemalu pengunjung toko (Peter Mygind), pasca pertemuan pertama yang menunjukkan totalitas Michelle Yeoh mengolah rasa, bahkan untuk adegan komedik ringan sekalipun.

Setumpuk masalah kompleks menimpa Kate, namun seperti tertulis di paragraf pembuka, naskahnya cuma berfokus pada nilai daripada kualitas penceritaan. Berbasis pada konsep keajaiban Natal, filmnya melakukan simplifikasi tatkala seluruh konflik usai begitu saja begitu Kate berhasil memperbaiki diri, yang mana prosesnya juga tidak kalah instan. Beruntung kita takkan keberatan menyaksikan perubahan Kate, sebab dengan semua sifat buruknya, sosoknya tetap simpatik berkat penampilan Emilia Clarke.

Walau tampil apik di Me Before You (2016) dan Solo: A Star Wars Story (2018), di sinilah talenta sang aktris dimanfaatkan seutuhnya. Sesuatu yang sangat Clarke butuhkan guna lepas dari bayang-bayang Game of Thrones. Clarke mampu mengubah sinisme dan sikap apatis jadi kejenakaan loveable, lalu saat akhirnya Kate sukse mengentaskan diri dari jurang kesengsaraan, senyum lebarnya bakal membuatmu ikut merasakan kebahagiaan. Henry Golding jadi tandem sempurna dengan pesona bak Prince Charming dari negeri dongeng sebagaimana telah ditunjukkannya di Crazy Rich Asians.

Membungkus pertemuan dua hati itu adalah penyutradaraan Paul Feig (Bridesmaids, Spy, A Simple Favor) yang tahu caranya menangkap romantisme berlatar kelap-kelip indah hiasan lampu Natal, sembari masih meninggalkan jejak kelihaiannya memvisualisasikan komedi. Euforia serta kehangatan adegan musikal selaku penutup pun mampu dihantarkan Feig, yang efeknya akan lebih kuat andai sebelumnya tidak ada gangguan berupa twist melodramatis ala Nicholas Sparks, yang kemunculannya bisa ditebak hanya dengan membaca dua kalimat dari lirik salah satu lagu George Michael.

EGGNOID: CINTA & PORTAL WAKTU (2019)

Saya yakin, di luar tujuan finansial, salah satu alasan Visinema Pictures mengadaptasi berbagai judul webtoon dengan beragam imajinasi liarnya—yang diawali oleh Terlalu Tampan Januari lalu—adalah memberikan kesegaran bagi tema-tema usang. Demikian pula Eggnoid: Cinta & Portal Waktu yang diadaptasi dari karya Archie The RedCat, di mana elemen fiksi ilmiah disuntukkan dalam tuturan romansa remaja dan drama tentang proses individu menyembuhkan duka.

Tepat di ulang tahunnya yang ke-17, Ran (Sheila Dara), gadis SMA yang hidupnya dipenuhi kesedihan setelah kematian kedua orang tuanya akibat kecelakaan, menemukan sebuah telur bercahaya misterius. Dari telur itu keluar sosok seperti manusia yang disebut Eggnoid. Ternyata, Eggnoid yang olehnya diberi nama Eggy (Morgan Oey) itu dikirim dari masa depan guna membahagiakan Ran, menghilangkan kabut kelam bernama duka yang sudah terlalu lama menyelimuti kesehariannya.

Kalau sudah membaca webtoon-nya, anda tahu naskah buatan sutradara Naya Anindita (Sundul Gan: The Story of Kaskus, Berangkat!), Nurita Anindita (Terlalu Tampan), Yemima Krisantina, dan Indriani Agustina, melewatkan salah satu bagian paling menarik, yakni proses belajar pendewasaan serta pembiasaan Eggy, dari bayi bertubuh pria dewasa yang hanya bisa berkata “mama”, menjadi seperti manusia normal. Bahkan menyelipkan montage pun tidak. Agak disayangkan, karena selain punya potensi tinggi memproduksi tawa, Morgan terbukti mampu mengeluarkan kekonyolan di balik kepolosan kanak-kanak seorang pria dewasa. Bayangkan melihat Eggy miliknya kesulitan belajar memakai baju dan lain sebagainya.

Filmnya memilih langsung lompat menuju dua tahun berikutnya, sewaktu Ran mulai membaik. Dengan kepolosannya, Eggy, yang tinggal bersama Ran dan Diany (Luna Maya), tantenya—yang hanya mau dipanggil “kakak”—bisa mengembalikan tawa sang gadis. Eggy sendiri mulai menyesuaikan diri dengan dunia luar, setelah bekerja di toko es krim kepunyaan Tania (Anggika Bolsterli). Satu hal yang mestinya di titik ini telah dipahami produser dan sineas. Menempatkan Anggika Bolsterli dalam peran komedik dapat mengatrol daya hibur suatu film, yang kembali dibuktikannya di sini melalui reaksi-reaksi komikal lovable, yang membuat kita paham mengapa Zen (Reza Nangin) terpikat pada Tania di pandangan pertama.

Zen dan Zion (Martin Anugrah) merupakan dua orang dari masa depan yang bertugas mengawasi Eggy, menjaga si Eggnoid agar tidak menyalahi aturan. Di situ pangkal permasalahannya. Eggnoid dilarang jatuh cinta apalagi memacari majikannya. Dan Eggy, pasca mendapat kecupan di pipi, sadar bahwa ia mencintai Ran. Mencapai musim keempat yang masih bergulir hingga sekarang, Eggnoid versi Webtoon menyimpan mitologi menarik dan cakupan luas, yang dibangun lewat penceritaan jangka panjang. Bisa diapahami ketika film ini memilih menyederhanakannya.

Penyederhanaan yang naskahnya lakukan cukup banyak, tapi poinnya bukan di “seberapa berbeda”, namun mampu atau tidaknya para penulis mengubah tanpa menghilangkan esensi. Eggnoid: Cinta & Portal Waktu sukses melakukan itu, menjalin sebuah romantika ringan yang menggunakan elemen fiksi ilmiahnya sebagai faktor penyegar guna mengurangi familiaritas dengan deretan film percintaan anak muda yang banyak bertebaran.

Tahun 2019 benar-benar titik lonjakan karir Sheila Dara. Setelah sahabat yang mencuri perhatian di Bridezilla dan wanita misterius dalam Ratu Ilmu Hitam, kali ini ia kembali memikat sebagai gadis kesepian yang seringkali clingy setelah Eggy melenyapkan kesepian tersebut. Membuat kita bersimpati terhadap Ran sehingga memberi nyawa kepada romansanya, Eggnoid: Cinta & Portal Waktu adalah pembuktian dari Sheila, jika ia sudah lebih dari siap mengemban posisi peran utama.

Kembali soal penyederhanaan, mencapai babak konklusi, naskahnya seolah “kaget” ketika coba sedikit menggali perihal latar belakang Eggnoid. Dari kisah cinta ringan, lompatan menuju unsur fiksi ilmiah yang menyelipkan sekelumit filosofi soal ambiguitas benar/salah dalam hidup, gagal berjalan mulus. Merangkum nilai yang sedikit kompleks lewat beberapa baris kalimat dari mulut karakter yang baru muncul di akhir jelas bukan keputusan bijak. Apalagi saat filmnya terkesan ditutup tiba-tiba oleh konklusi yang lebih banyak memancing pertanyaan mengganjal ketimbang dampak emosi, biarpun niatnya memang membuka jalan bagi sekuel.

Setidaknya kekurangan tersebut bisa dimaafkan, sebab Eggnoid: Cinta & Portal Waktu punya salah satu momen paling emosional dalam film Indonesia sepanjang tahun (bukankah ini selalu jadi kebolehan judul produksi Visinema Pictures?), yang turut melibatkan Marissa Anita dalam penampilan singkat namun berkesan lewat penanganan penuh rasa akan kalimat sederhana. Silahkan berusaha menahan haru ketika filmnya mengungkap proses terciptanya foto polaroid yang tergantung di kamar Ran. Melalui momen itu saja, meski melewati banyak penyederhanaan, film ini sudah membuktikan kesuksesannya memanfaatkan elemen fiksi ilmiah demi menunjang paparan drama.

DARAH DAGING (2019)

Menonton Darah Daging meninggalkan rasa gatal luar biasa. Bukan karena kualitasnya hancur-hancuran, malah sebaliknya, debut penyutradaraan Sarjono Sutrisno yang sebelumnya lebih banyak menduduki kursi produser eksekutif ini berpotensi jadi salah satu film Indonesia paling menarik tahun ini, andai ditunjang naskah yang sanggup mewujudkan gagasan apiknya. Konon, proses penulisan Beby Hasibuan (Tebus, Valentine) berjalan sekitar sembilan tahun dan menghasilkan 32 draft! Sayangnya kuantitas tak selalu berbanding lurus dengan kualitas.

Sepuluh hari jelang dieksekusi mati, Salim (Donny Alamsyah) dikunjungi oleh Hanna (Estelle Linden) yang berniat melakukan wawancara sebagai bahan novel terbarunya. Materi wawancaranya adalah kasus perampokan 14 tahun lalu yang menjembloskan Salim ke penjara, di mana nyawa puluhan orang melayang. Kemudian alurnya melompat ke peristiwa tersebut, memperlihatkan Salim bersama Arya (Ario Bayu), Rahmat (Rangga Nattra), Fikri (Arnold Leonard), dan Borne (Tanta Ginting), bersiap menjalankan aksi merampok bank.

Berikutnya kita dibawa menyaksikan flashback dalam flashback, yang berfungsi menjelaskan latar belakang tiap tokoh. Salim bersahabat dengan Rahmat—yang merupakan adik Arya serta kakak Fikri—sejak kecil. Mereka sepakat merampok bank akibat kesulitan finansial, dan demi memperoleh senjata, direkrutlah Borne, sepupu Salim yang justru kerap memancing masalah. Tidak seperti keempat rekannya, Borne bukan “orang bermoral yang melakukan hal tak bermoral akibat himpitan ekonomi”.

Bank tempat Fikri bekerja jadi target. Alasannya? Fikri sakit hati akibat permintaan pinjaman uangnya ditolak, sebab ia masih berada di masa percobaan. Tentu saja ditolak. Di luar fakta yang membuat Fikri terkesan sebagai seorang bocah manja tak tahu diri sehingga kurang simpatik itu, Beby Hasibuan mampu menangani dua lapis flashback-nya dengan rapi. Baik kerancuan timeline maupun lompatan kasar antara latar waktu berhasil dihindari. Sayang, penanganan terhadap gaya alur non-liniernya berujung mengurangi dampak emosi di penghujung kisah.

Masalah terletak pada faktor “kapan”. Darah Daging tersusun atas beberapa tragedi, dan seringkali alurnya terbalik, memunculkan dahulu suatu tragedi tanpa lebih dulu memperkenalkan informasi dasar, seperti detail karakterisasi atau penggambaran hubungan antar tokoh. Penonton diharapkan peduli, bahkan menangisi nasib orang-orang yang belum dikenal baik. Andai persoalan struktur itu dibenahi, saya yakin konklusinya, yang turut menyelipkan sebuah twist, bakal efektif mengaduk-aduk perasaan, tatkala alasan mengapa film ini berjudul Darah Daging terungkap.

Padahal, jajaran pemainnya mampu menampilkan penampilan cukup baik, walau belum pantas disebut luar biasa. Ario Bayu dengan wajah tegas dan perawakan kokohnya tampak meyakinkan sebagai pria ditempa kerasnya realita. Begitu pun Donny Alamsyah yang dituntut secara bertahap, memperlihatkan kehancuran batin Salim. Ada satu kekurangan. Entah karena penghantaran pemain atau buruknya sound mixing, beberapa baris kalimat terdengar kurang jelas, apalagi saat beradu dengan suara-suara sekitar.

Bisa ditebak, perampokan tersebut berujung kekacauan, yang nantinya menyulut baku tembak. Jangan harapkan gelaran aksi menegangkan, sebab kebodohan-kebodohan yang dipaksa masuk demi dramatisasi, beberapa kali ditemui. Manusia mana yang nekat mengendarai mobilnya melewati pusat baku tembak? Mustahil kerusuhan yang pastinya bising itu gagal disadari. Dan bukan cuma sekali, tapi dua kali! Atau saat salah satu karakter menggendong karakter lain yang sedang sekarat ke rumah sakit melewati jalan raya ramai, alih-alih mencoba menghentikan kendaraan untuk menumpang.

Penggarapan adegan aksi Sarjono Sutrisno tidak buruk-buruk amat, meskipun layak disebut medioker. Tapi “dosa” terbesar sang sutradara adalah sewaktu (lagi-lagi) demi efek dramatis, gerak lambat dipakai secara berlebihan. Entah berapa lama. Saya tidak lagi sempat menghitung karena sudah tidak sabar menantikan akhir filmnya, yang seharusnya telah tiba beberapa menit sebelumnya.  

JUMANJI: THE NEXT LEVEL (2019)

Dua tahun lalu, Jumanji: Welcome to the Jungle meruntuhkan segala skeptisme lewat petualangan segar nan menghibur yang juga sukses secara finansial dengan pendapatan $962 juta. Franchise-nya pun mendapat suntikan tenaga sekaligus arah baru. Sekuelnya ini—yang bisa dianggap film ketiga atau keempat di seri Jumanji tergantung apakah anda menghitung Zathura: A Space Adventure (2005) atau tidak—mungkin tak menghadirkan petualangan tingkat lanjut sebagaimana judulnya siratkan, namun petualangan yang familiar ini masih sama menyenangkannya.

Selepas peristiwa film pertama, Fridge (Ser'Darius Blain) si atlet, Martha (Morgan Turner) si pemalu yang cerdas, dan Bethany (Madison Iseman) si gadis populer, masih rutin berkomunikasi lewat grup chat meski sudah tinggal terpisah. Spencer (Alex Wolff) juga tergabung di grup itu, tapi ia lebih banyak diam. Hubungan jarak jauhnya denga Martha pun bermasalah. Spencer kehilangan arah. Kepercayaan dirinya terkikis, dilahap oleh hiruk New York. Saat keempatnya hendak bereuni, Spencer justru punya rencana lain.

Dia rindu menjadi Dr. Bravestone (Dwayne Johnson) yang perkasa. Akhirnya, ia nekat memperbaiki gim Jumanji yang diam-diam dipungutnya, lalu kembali memasuki dunia tersebut. Mengetahui itu, Martha, Fridge, dan Bethany terpaksa menyusul demi menolong Spencer, sampai peristiwa mengejutkan terjadi. Di Jumanji, Martha masihlah Ruby Roundhouse (Karen Gillan) dengan segala keatletisannya. Sial bagi Fridge. Kini avatarnya adalah Professor Sheldon (Jack Black) si arkeologis yang menurutnya tidak berguna.

Tapi bukan itu saja. Kakek Spencer, Eddie (Danny DeVito) serta mantan sahabatnya, Milo (Danny Glover) ikut terhisap ke Jumanji, dan masing-masing menempati avatar Dr. Bravestone dan Mouse (Kevin Hart) si zoologist, sedangkan Bethany tertinggal di dunia nyata. Ke mana perginya Spencer? Pertanyaan itu bakal terjawab bersama paparan filmnya soal penerimaan diri. Nantinya diungkap bahwa avatar Spencer tidak jauh beda dibanding sosoknya di kehidupan nyata. Dari situ, Jumanji: The Next Level memperlihatkan proses Spencer menerima seluruh kekurangan dirinya, lalu berusaha melakukan yang terbaik. Bukan begitu?

Awalnya demikian, sampai naskah buatan sutradara Jake Kasdan (yang turut membidani film sebelumnya) bersama Jeff Pinker dan Scott Rosenberg (keduanya pernah berduet di Jumanji: Welcome to the Jungle dan Venom) merusak pesan tersebut di babak ketiga, sewaktu filmnya menempuh jalur malas guna menyelesaikan masalah tokoh-tokohnya yang terjadi akibat avatar mereka saling tertukar. Bobot emosi justru hadir di tengah konflik Eddie dan Milo, dalam kisah tentang retaknya persahabatan yang awalnya konyol, namun perlahan menemukan hati, kala menyinggung betapa pertemanan dua manusia lanjut usia punya makna lebih, sebab mereka mesti bergulat dengan waktu, juga “akhir”.

Humornya masih mengandalkan kekacauan kala beberapa avatar diisi oleh seseorang dengan karakterisasi berlawanan. Bahkan beberapa humor Welcome to the Jungle, seperti “smoldering intensity” atau “jurus menari” milik Ruby, ditampilkan lagi, seolah Jumanji: The Next Level coba menghadirkan nostalgia dari film yang baru rilis dua tahun lalu. Tidak sesegar dulu? Jelas. Apakah masih lucu? Ternyata iya. Jake Kasdan sanggup memanfaatkan talenta luar biasa jajaran pemainnya, yang dituntut memerankan berbagai macam kepribadian.

Dwayne Johnson sebagai kakek pelupa yang cerewet, Kevin Hart sebagai zoologist dengan tempo bicara super lambat yang kerap menggiring teman-temannya menuju bahaya, dan Jack Black, meski tak lagi mengutamakan kecentilan seperti film sebelumnya, membawa sisi histerikal yang juga menghibur. Karen Gillan masih menggila, apalagi saat di satu titik, avatar Ruby Roundhouse sempat dimasuki karakter lain, sedangkan Awkwafina sebagai Ming, si avatar baru dengan spesialisasi mencuri, bakal membuatmu sakit perut hanya dengan melihat postur dan gesturnya.

Dunia Jumanji mayoritas terbuat dari CGI, tapi itu urung membuat Jake Kasdan terlalu bergantung kepadanya. Sewaktu banyak film setipe cuma asal membentangkan dunia CGI warna-warni yang terasa mati, Kasdan memperhatikan betul tiap set piece aksi, membuatnya bertenaga berkat penempatan sekaligus pergerakan kamera yang sesuai. Dan sewaktu saya mulai khawatir bila film keempatnya kelak bakal repetitif, Jumanji: The Next Level menampilkan mid-credits scene yang menjaga antusiasme untuk menantikan sekuelnya. Bring me the next, more advance level!


THE IRISHMAN (2019)

Goodfellas (1990) dan Casino (1995), ibarat glamorisasi Martin Scorsese terhadap mafia yang ia idolakan sewaktu kecil, walau di akhir, selalu ditunjukkan bagaimana pilihan hidup itu bakal berakhir buruk. Kini, dalam The Irishman, menyentuh usia 77 tahun, Scorsese mungkin telah menemukan closure, menyadari bahwa segala kekuatan dan kekerasan itu tak lagi nampak keren, hanya menyebabkan penderitaan, kesepian, yang hanya bermuara pada satu poin: kematian.

Itulah kenapa, mengiringi pengenalan banyak karakter film ini, selalu tercantum kapan serta bagaimana mereka meregang nyawa, di mana mayoritas (kecuali satu nama), tewas akibat dibunuh. Mengadaptasi buku nonfiksi I Head You Paint Houses karya Charles Brandt yang hingga sekarang kebenarannya diperdebatkan, kisahnya dipaparkan melalui sudut pandang Frank Sheeran (Robert De Niro), veteran Perang Dunia II, yang pada tahun 1950an, bekerja sebagai sopir truk di Philadelphia.

Satu hal yang seketika mencuri perhatian pada era tersebut adalah teknologi de-aging untuk memudakan tampilan fisik De Niro (dan lebih dari satu jam kemudian, Al Pacino). Sempurna? Mungkin belum. Beberapa garis wajah yang terlalu mulus masih nampak bila diperhatikan saksama, tapi cukup sebagai ilusi agar penonton percaya tengah melihat pria berumur 30-40an tahun. Satu hal yang sukar disembunyikan adalah kondisi fisik sang actor. Mustahil De Niro bergestur seolah masih berada di masa jayanya, sehingga sedikit aneh kala menyaksikan Frank menghajar seorang pemilik toko roti.

Tapi itu sebatas kelemahan minor yang nyaris tak mengganggu perjalanan 209 menit (hampir tiga setengah jam) yang filmnya tawarkan. Dari mengantar ikan bagi mafia lokal, reputasi Frank sampai di telinga Russell Bufalino (Joe Pesci), pemimpin kelompok mafia Bufalino. Sebagaimana digambarkan Frank, Russell merupakan “penguasa jalan”. Semua bisnis kotor hingga pembunuhan harus seizing Russell. Frank mulai jadi sosok kepercayaan Russell, menjalankan banyak misi, termasuk “painted houses” dan “carpentry”.

Keduanya adalah istilah mafia. “painted houses” berarti membunuh (karena saat menembak target, darah orang itu akan muncrat seperti cat di tembok), sedangkan “carpentry” berarti menyingkirkan tubuh korban. Beberapa pihak meragukan keabsahan istilah-istilah tersebut, namun di situ terletak salah satu daya tarik The Irishman. Ditulis naskahnya oleh Steven Zaillian (Schindler’s List, Gangs of New York, Moneyball), film ini bak panduan soal dunia mafia. Selain istilah, Frank turut “mengajari” kita soal pemilihan pistol yang tepat. Pastikan pistol itu menimbulkan suara agar para saksi mata kabur dan kesulitan mengenali wajahmu, tapi jangan terlalu keras atau mobil patrol bakal menyatroni lokasi. Apakah realitanya demikian? Tidak jadi soal. Terpenting, The Irishman mendapat kadar hiburan tinggi berkatnya.

Seiring waktu, Frank dan Russell semakin akrab, bahkan keluarga masing-masing kerap menghabiskan waktu bersama. Pembicaraan keduanya senantiasa memikat karena dua hal: akting dan penyutradaraan. De Niro, yang lebih pasif ketimbang mayoritas lawan bicaranya siapa pun itu, mampu menyiratkan kekalutan batin yang makin lama makin kuat, tapi Joe Pesci, yang kembali dari masa pensiun setelah hampir satu dekade, merupakan MVP-nya. Sosoknya berjalan di garis ambigu antara pria pemurah dan gangster keji, lalu dengan mudah menarik atensi lewat senyum maupun tatapan mengintimdasi tanpa harus berusaha melakukannya.

Contohnya ketika Russell menemani Angelo Bruno (Harvey Keitel) mengonfrontasi Frank pasca ia meledakkan sebuah tempat laundry. Pesci hanya duduk diam. Bibirnya menyunggingkan senyum sementara kedua tangannya tersembunyi di balik meja, bagai seorang bocah yang bersemangat menantikan sebungkus hadiah. Apa arti senyum itu? Formalitas? Penenang bagi Frank? Atau ada intensi terselubung? Mana pun itu, saya dibuat merinding ngeri menyaksikannya.

Terkait penyutradaraan, silahkan perhatikan betul tiap pengadeganan, dan lewat beragam detailnya, anda akan mendapati betapa hebat seorang Martin Scorsese. Beberapa tampil subtil, misalnya obrolan Frank dan Russell di sebuah café. Ditemani iringan biola yang samar-samar memainkan Speak Softly Love dari The Godfather, ditambah tempo berlangsungnya pembicaraan (penuturan aktor, perpindahan shot), momen itu memunculkan intensitas elegan, seperti musik jazz yang seseorang dengar sesaat sebelum ajal menjemput.

Sejak debutnya di Who’s That Knocking at My Door (1967), Scorsese memang sudah memperlihatkan kepekaan dalam mengawinkan media audio dengan visual. Pilihan musiknya berhasil menyempurnakan atmosfer adegan. Kali ini, selain scoring garapan komposer langganannya, Robbie Robertson, lagu dari beragam genre, khususnya rock ‘n roll dan jazz rutin menemani, dengan In the Still of the Night milik The Five Satins yang terdengar mistis jadi musik yang bakal terus terngiang di benak penonton untuk waktu lama.

Bukan cuma yang bersifat subtil, penyutradaraan Scorsese juga bersinar kala sang sineas membuktikan bahwa usia sekadar angka, dan tak menghalanginya memamerkan gaya bertenaga. Beberapa kali take panjang diterapkan, di mana penembakan yang Frank lakukan di sebuah restoran bakal membuatmu terkejut, kemudian terpukau. Sementara transisi mulus pagi menuju malam di rumah sakit jelang film berakhir akan memancing pertanyaan tentang trik macam apa yang Scorsese dan timnya pakai.

Scorsese boleh memimpin, namun pencapaian The Irishman takkan terjadi tanpa kontribusi timnya. Penyuntingan Thelma Schoonmaker yang telah jadi kolaboratornya sejak Raging Bull (1980) membantu Scorsese menyampaikan repetisi dalam keseharian Frank kala sebuah rentetan peristiwa dimunculkan berulang kali secara beruntun (mengantar daging, membuang pistol, mengambil uang setoran), juga…..humor!

Ya, biarpun mengusung tema kelam nan kejam, The Irishman di luar dugaan cukup menggelitik. Film ini bukan saja Scorsese dalam fase paling matang dan nyaman, juga playful. Bagaimana ia menggambarkan proses “penghantara pesan” antara pelaku dunia hitam (yang melibatkan banyak bahan peledak) contohnya.

Semakin jauh filmnya berjalan, semakin saya dibuat tercengang oleh seberapa kuat pengaruh gangster dalam berjalannya negara adidaya bernama Amerika. Setumpuk karakter datang dan pergi, tapi Zaillian memastikan penonton dapat memilah “siapa adalah siapa” melalui kejelasan serta kesolidan struktur bercerita. Gerbang menuju konspirasi-konspirasi besar dibuka setelah oleh Russell, Frank diperkenalkan pada Jimmy Hoffa (Al Pacino), ketua serikat buruh International Brotherhood of Teamsters. Jimmy, yang dideskripsikan oleh Frank sebagai “sebesar Elvis”, amat berpengaruh, kekuasaannya saat itu mungkin hanya di bawah Presiden (atau malah lebih?). Serupa kondisinya bersama Russell, Frank mulai mendapat kepercayaan Jimmy, menjadi bodyguard kepercayaannya, bahkan Jimmy menjadi figur ayah yang dirindukan puteri Frank, Peggy (Anna Paquin).

Keluarga merupakan salah satu pokok bahasan utama The Irishman, yang penuturannya kental ironi. Frank ingin melindungi keluarganya, termasuk Peggy, namun semakin jauh ia terlibat dalam dunia bawah tanah—yang ia anggap menambah kekuatan, kekuasaan, dan keamanan—semakin menjauh pula sang puteri. Dari situ awal segala tragedi The Irishman, yang menolak meromantisasi dan mendramatisasi kematian. Bahkan kematian terpenting sepanjang film tak diperlakukan dengan spesial. Itulah poin yang ingin diutarakan Scorsese. Dunia mafia hanya membawa kematian, dan kematian hanya kematian. Sebuah akhir. Tinggal bagaimana, dan dengan siapa seseorang menantikan akhir itu tiba.


Available on NETFLIX

KNIVES OUT (2019)

Knives Out yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Rian Johnson (Looper, Star Wars: The Last Jedi) menunjukkan mengapa acara kumpul keluarga adalah latar sempurna bagi sajian whodunit. Serupa seorang tersangka dalam kisah misteri pembunuhan yang berlagak polos agar tak mengungkap identitasnya sebagai pembunuh, anggota keluarga senantiasa bertingkah ramah, mengeluarkan tutur kata manis, padahal diam-diam memendam kebencian bahkan saling menusuk dari belakang.

Di rumah mewah yang didekorasi sedemikian menawan sampai ke detail terkecil oleh tim artistic filmnya, termasuk singgasana berhiaskan puluhan pisau dan belati ala Game of Thrones, seorang penulis novel kriminal ternama, Harlan Thrombey (Christopher Plummer) merayakan ulang tahunnya yang ke-85. Anak-anak, menantu, cucu, hingga sang ibu yang sudah pikun karena dimakan usia, berkumpul. Mereka tampak berbahagia. Masalahnya, seperti diungkap di adegan pembuka, Harlan ditemukan tewas akibat luka sayatan pisau di leher.

Para keluarga serta pihak kepolisian meyakini itu adalah kasus bunuh diri, lalu hadirlah Benoit Blanc (Daniel Craig), seorang detektif swasta yang disewa oleh orang tak dikenal guna menyelidiki kasus tersebut. Blanc mencium ketidakberesan di sana. Selepas dilakukan interogasi, rupanya hampir tiap anggota keluarga mempunyai masalah dengan Harlan, sehingga punya cukup motif untuk menghabisi nyawa kepala Keluarga Thrombey.

Di luar internal keluarga, ada juga Marta Cabrera (Ana de Armas), perawat sekaligus sosok yang punya hubungan paling dekat dengan Harlan, lebih dekat dibanding anak-cucunya sendiri. Semua orang memperlakukan Marta dengan baik, menganggapnya seperti bagian keluarga. Marta punya sebuah kondisi aneh yang tidak bisa saya sebutkan, tapi kondisi itu nantinya amat berguna, baik untuk proses investigasi maupun memancing tawa. Marta sendiri merupakan puteri seorang imigran ilegal. Dari mana ibunya berasal? Kita tidak pernah tahu pasti.

Sebab tiap karakter melontarkan nama negara Amerika Latin yang berbeda. Ekuador pertama kali disebut, menyusul Paraguay, Uruguay, sampai Brazil. Hal itu adalah cara menggelitik dari Rian Johnson sebagai pemaparan subtil atas subteks filmnya. Di mata karakter-karakternya, semua negara itu sama saja, sebagaimana stereotip banyak pihak terhadap Asia atau Afrika, atau lebih tepatnya bagaimana orang Amerika memandang negara asing.

Secara luas, Knives Out bicara tentang rasisme, tapi di konteks lebih spesifik, filmnya menyentil isu tentang imigran. Begitu alurnya melangkah jauh, dinamika Keluarga Thrombey mulai mencerminkan ketakutan sebagian warga Amerika bahwa imigran datang guna mencuri kekayaan juga menjajah tanah mereka, membentuk satir sosial di dalam misteri pembunuhan. Jangan khawatir filmnya jadi terlalu politis, karena Johnson memastikan sentralnya tetap whodunit. Dan naskah buatannya benar-benar cerdik mengecoh apa pun ekspektasi penonton mengenai sesuatu dan seseorang.

Presentasi misterinya berdaya kejut tinggi tanpa mencurangi, di mana tiap pengungkapan fakta, meski berusaha tampil mencengangkan, selalu mengutamakan kerapian konstruksi cerita. Semua benih sudah ditanam secara konsisten. Hanya saja, kita tidak menyadari kalau suatu elemen yang muncul di layar adalah benih, atau menyadari tanpa tahu maksud sesungguhnya. Satu-satunya kelemahan naskah Johnson yakni ketika berusaha memperlebar cakupan, menghadirkan aksi-aksi lebih besar, menggiring kisahnya keluar dari kediaman Harlan. Tensi di fase itu berkurang, membuat Knives Out sedikit membengkak

Tapi karena Johnson hadir dengan penyutradaraan yang begitu bertenaga, Knives Out selalu bisa bangkit dari keterpurukan apa pun. Dia memahami seni dramatisasi dalam whodunit, menjadikan investigasi dan momen pengungkapan faktanya mengasyikkan. Ada sekuen di pertengahan durasi tatkala salah seorang karakter menjelaskan runtut semua kejadian di malam kematian Harlan. Di situ Johnson tahu cara memacu adrenalin penonton, alhasil sulit rasanya menahan keinginan bertepuk tangan.

Tidak ada whodunit bagus tanpa jajaran ensemble cast memikat. Seluruh penampil memerankan figur eksentrik, bahkan komedi, dan mereka mampu menarik perhatian bak magnet berkekuatan tinggi pada semua kemunculan. Kita bisa menduga bahwa Jamie Lee Curtis dan Michael Shannon bakal berakting kuat, masing-masing memainkan pebisnis wanita tangguh dan penerbit buku yang putus asa (keduanya juga mendapat momen komedik), dan kesenangan bertambah ketika pelakon lain tampil berlawanan dengan karakter dari film lain yang sebelumnya melambungkan nama mereka di mata publik.

Dari ibu dengan jiwa terguncang akibat gangguan iblis, Toni Collette di sini adalah influencer pencari perhatian; dari pahlawan bangsa, Chris Evans menjadi pemuda pemberontak dengan mulut kasar; Daniel Craig bertransformasi dari agen rahasia berkelas menjadi detektif jenius nan aneh yang bak punya hubungan darah dengan Sherlock Holmes dan/atau Hercule Poirot. Knives Out merupakan produk dari sineas yang paham sekaligus mencintai misteri pembunuhan dan whodunit, lalu bersenang-senang membuatnya, sehingga melahirkan salah satu suguhan terbaik tahun ini yang turut menyimpan nilai hiburan tinggi.