MOVFREAK ON UC NEWS (LAST UPDATED ON MARCH 18, 2019)

Sejak akhir Juni lalu, saya diundang oleh UC News untuk menyumbangkan tulisan bertema religi...maksud saya film. Awalnya saya hanya mempublikasikan ulang review blog ini, sampai tercetus niat untuk fokus pada pembuatan list film, yang mana sering pembaca blog ini minta tapi karena satu dan lain hal (baca: penulisnya pemalas) jarang terpenuhi. Kenapa tidak sekalian membuat list juga di sini? Tidak lain demi menjaga orisinalitas kedua media, sebab pernah artikel saya ditolak karena sistem menyatakan tulisan itu hasil jiplakan dari web movfreak.blogspot.com (lol).

Maka dari itu, jika ada list yang kalian ingin saya buat, silahkan request, bisa di kolom komentar ini atau artikel saya di UC News. Untuk mengakses tulisan di sana, bisa mengunduh aplikasi UC News di smartphone, lalu cari dan ikuti akun "Movfreak". Atau cukup dengan mengikuti postingan ini yang akan selalu saya update tiap ada artikel baru dan akan selalu disematkan di halaman paling atas blog. Dan karena perbedaan media publikasi, gaya penulisan yang saya pakai pun (mostly) berbeda. Silahkan request sebanyak-banyaknya, makin unik makin baik, agar memudahkan saya membuat judul clickbait daftar menarik. Tenang, review tetap saya publikasikan di sini (afterall, this is my home, and all of you, my readers, are the lovely guests).

Berikut beberapa judul yang sudah ada sejauh ini yang akan rutin diperbaharui (klik untuk menuju tautan):

KUAMBIL LAGI HATIKU (2019)

Produksi pertama PFN (Produksi Film Negara) selama 27 tahun setelah kali terakhir menelurkan Pelangi di Nusa Laut karya MT Risyaf pada 1992 ini sebenarnya berpeluang menghembuskan angin segar bagi film lokal bertema keluarga, khususnya berkat suntikkan unsur asimilasi budaya antara India dengan Jawa. Apalagi melihat jajaran pemain papan atas miliknya. Sayang, kekacauan naskahnya dalam menyatukan berbagai cabang cerita berujung melahirkan sebuah film yang kebingungan menentukan arah.

Sinta (Lala Karmela), puteri pasangan pria India dan wanita Indonesia, menjalani hidup bahagia di Agra bersama sang ibu, Widhi (Cut Mini). Karirnya melesat, dan ia pun sedang mempersiapkan pernikahan dengan Vikash (Sahil Shah) yang tinggal menghitung hari. Tapi mendekati Hari-H, Widhi mendadak pulang ke kampung halamannya di Desa Borobudur, Magelang, setelah mendengar kabar bahwa ayahnya telah wafat sejak tiga bulan lalu.

Masalahnya, Widhi selama ini mengaku sudah tak lagi memiliki kerabat di Indonesia. Sinta yang kebingungan akhirnya nekat menyusul ibunya ke Magelang, hanya untuk menyaksikan ketidakharmonisan sebuah keluarga. Widhi bersetigang dengan kakaknya, Dewi (Ria Irawan), sementara Dimas (Dian Sidik) terlilit hutang yang mengancam keberlangsungan penginapan yang ia kelola.

Kuambil Lagi Hatiku diawali secara menjanjikan. Meski terkadang usaha Lala berbicara Bahasa Indonesia memakai logat India terdengar mengganggu, cukup jarang kita melihat karakter dalam film lokal yang bukan sekadar tinggal sementara atau jalan-jalan di luar negeri, namun menetap, bahkan mengimplementasikan kultur setempat dalam keseharian. Setibanya Sinta di Borobudur, ia sempat membantu peneliti muda (atau mahasiswa?) bernama Panji (Dimas Aditya), menjelaskan makna relief Candi Borobudur kepada wisatawan asal India, sebagai simbol penyatuan dua budaya. Tapi asimilasinya berhenti di situ. Setelahnya, tak ada lagi eksplorasi lanjutan yang dapat memperkaya filmnya.

Akhirnya Sinta bertemu Widhi. Dia menuntut jawaban, tetapi sang ibu malah bersikap tak acuh. Dari sinilah naskah karya Arief Ash Shiddiq dan Rino Sarjono (Negeri 5 Menara, Pintu Harmonika) mulai menumpuk kelemahan, yang kebanyakan melibatkan turnover dadakan dan ketidakjelasan motivasi karakter. Cut Mini kembali menghantarkan performa sarat emosi yang dengan gampangnya menjadi aspek terbaik film ini, tapi itu pun tak kuasa menjustifikasi respon dingin Widhi kepada puterinya. Bahkan pasca kebenaran terungkap saya tetap bertanya, “Kenapa?”.

Kata “Kenapa” memang terus mencuat sepanjang durasi, karena tiap karakternya membuat keputusan besar, termasuk titik balik di mana terjadi perubahan sikap, sulit memahami alasan di balik tindakan mereka. Selalu timbul kesan dadakan dan dipaksakan. Serupa Cut Mini, Ria Irawan pun tampil baik, memberi dimensi lebih pada sosok Dewi yang dari luar tampak kejam namun sejatinya berhati lapang. Perselisihan Dewi dengan Widhi menghasilkan problematika keluarga kompleks, sampai filmnya menyelesaikan konflik tersebut melalui sebuah simplifikasi yang akan sulit diterima nalar maupun hati.

Salah satu benda yang memegang peranan penting dalam cerita adalah foto masa kecil yang disimpan Widhi. Di foto itu, ia, Dewi, dan Dimas duduk di Candi Borobudur. Kelak terungkap, itu merupakan foto favorit mendiang ayah mereka, karena di sanalah ketiganya berkumpul sambil tersenyum bersama sebagai satu keluarga bahagia. Andai Kuambil Lagi Hatiku mau berfokus pada unsur satu ini, potensi menjadi drama keluarga yang menyentuh hati sangatlah tinggi. Tapi tidak. Naskahnya selalu hadir dengan konflik baru yang mayoritas tak perlu, yang ironisnya, muncul untuk menyelesaikan konflik lain.

Etos kerja “gali lubang tutup lubang” ini melahirkan problematika yang tidak logis (masalah Sinta di kantor), kekurangan pondasi (kisah cinta Sinta), out-of-place (subplot kasus pencurian dan penculikan), maupun yang cuma numpang lewat tanpa dampak (Widhi melarang Sinta menari). Bicara soal menari, melihat nomor tarian yang kasar dan canggung, rasanya sutradara Azhar ‘Kinoi’ Lubis (Surat Cinta Untuk Kartini, Kafir: Bersekutu Dengan Setan) kekurangan referensi film Bollywood atau belum memahami inti kekuatan estetikanya.

ROY KIYOSHI: THE UNTOLD STORY (2019)

Ingat saat internet dibanjiri meme soal bentuk dagu Roy Kiyoshi? Salah satunya mengedit kepala Roy menjadi sebaris gigi seri. Saya tidak suka mengolok-olok fisik seseorang, tapi aktingnya di film ini memang tampak seperti gigi: keras, kaku, datar. Seperti anda tahu, saya sering menonton film buruk berisi akting tak kalah buruk, namun buruknya akting Roy di sini bahkan berhasil membuat saya terkesima.

Memerankan sosok fiktif dari dirinya, Roy menghabiskan mayoritas paruh awal Roy Kiyoshi: The Untold Story nyaris tanpa berbicara, banyak berdiri diam dikuasai lamunan, tenggelam dalam adiksi alkohol akibat rasa bersalah pasca sang adik, Rani (Clarice Cutie) diculik sosok iblis bernama Banaspati. Tapi jangan khawatir para pecinta suara Roy Kiyoshi, sebab ada banyak porsi voice over dilimpahkan kepada pria indigo kebanggaan Indonesia ini, yang terdengar layaknya anak SD kala pertama kali diminta membaca puisi.

Ketika Roy sibuk mabuk-mabukkan, Sheila (Angel Karamoy), lulusan S2 jurusan psikologi yang bekerja di suatu LSM tengah melangsungkan investigasi terhadap kasus hilangnya anak-anak. Menyandang gelar “Master of Psychology” tak membuat Sheila lupa daratan. Dia enggan pamer ilmu, sehingga tak sedikit pun ia nampak seperti psikolog.

Sebaliknya, Sheila terbuka akan sumber keilmuan lain. Apabila karakter psikolog dalam film umumnya bersikap skeptis pada hal mistis, Sheila langsung percaya bahwa anak-anak itu hilang diculik setan setelah melihat rekaman milik seorang wanita mantan karyawan LSM tempatnya bekerja yang tewas bunuh diri. Lucunya, ruang kerja wanita itu dibiarkan berantakan dengan seluruh barang teronggok begitu saja, memudahkan Sheila menemukan berbagai arsip dan kamera kepunyaannya.

Walau saya mengapresiasi keengganan naskah karya Jose Purnomo (Pulau Hantu, Alas Pati, Gasing Tengkorak) dan Aviv Elham (Tali Pocong Perawan, Reva: Guna Guna) menciptakan satu lagi kompilasi jump scare dan memilih mengutamakan elemen misteri, penyelidikan yang Sheila lakukan amat jauh dari menarik, sebab kita tahu semuanya bakal bermuara di satu kesimpulan: Banaspati adalah pelaku penculikan tersebut. Ada bagian menjanjikan ketika Sheila coba mencari korelasi antara tiap kasus, tapi teka-teki itu langsung terpecahkan selang beberapa detik setelah diperkenalkan.

Berikutnya, Sheila menemukan laporan di kepolisian soal hilangnya Rani, yang ia yakini merupakan keping yang bakal melengkapi keseluruhan misteri. Laporan itu dilayangkan oleh Tante Riska (Olga Lydia). Saya menyimpan setumpuk tanda tanya tentang karater Tante Riska. Pertama, siapa dia??? Apakah tante Roy (adik dari ibu/ayahnya), ataukah “tante”?  Kedua, jika Tante Riska tahu Rani adalah korban Banaspati, buat apa repot-repot lapor ke polisi? Jawaban pertanyaan kedua sederhana. Para penulis naskahnya terlampau malas mencari jalan yang lebih baik guna mempertemukan Sheila dengan Roy.

Saat mengunjungi rumah Roy, Sheila diam-diam mengambil secarik kertas bertuliskan cara memanggil Banaspati. Saya mulai mengkhawatirkan Sheila. Apakah dia pengidap kleptomania? Di hari pertama kerja, ia mengambil kamera dari kantor. Sekarang, di kunjungan pertamanya ke rumah orang asing, ia mengambil catatan. Entahlah, pastinya Sheila orang bodoh. Dia memanggil Banaspati tanpa alasan maupun rencana yang jelas.

Rasanya mental Sheila terganggu akibat tinggal di apartemen yang tak mengenal teknologi bernama “lampu”. Kamarnya remang-remang, bahkan satpam di sana tampak membaca di ruang tanpa penerangan. Hal paling terang justru tubuh penuh urat urat yang menyala layaknya dialiri api milik Banaspati. Setidaknya film ini punya sosok hantu berpenampilan mumpuni, dengan Kabuto (helm samurai) di kepala serta riasan creepy. Itulah satu-satunya elemen positif Roy Kiyoshi: The Untold Story.

Hiburan sesungguhnya baru bermula begitu Roy menyadari kesalahannya, berhenti minum, memutukan membantu Sheila.....lalu mulai banyak bicara. OH TUHAN. Akting Angel Karamoy, yang penuh antusiasme salah tempat dan/atau waktu, sudah cukup buruk, tetapi Roy......Semoga Tuhan mengampuni akting memalukan ini.

Penampilan Roy bukan saja buruk, tapi tampak nihil usaha, bahkan untuk sekedar mengucapkan kalimat senatural mungkin agar tak terdengar seperti sedang pertama kali membaca naskah. Kekakuan Roy mengingatkan saya kepada para pemenang Ale-Ale, dan itu cukup sebagai pemicu ledakan tawa para penonton tiap kali mulutnya melantunkan kalimat-kalimat bernada surgawi. Saya sempat bingung mesti menganugerahi film ini berapa bintang, sebelum memutuskan memberinya sejumlah ekspresi wajah yang Roy Kiyoshi tampilkan sepanjang durasi, yaitu.....

THE QUAKE (2018)

Sewaktu protagonis dalam sekuel untuk The Wave (2015) ini meluncur menuruni reruntuhan gedung landai banyak penonton berteriak. Kenapa penonton (termasuk saya) bisa setegang itu menyaksikan pemandangan yang sebenarnya sama sekali tidak baru? Karena, The Quake tak memiliki Dwayne Johnson atau jagoan lain yang membuat aksi bergelantungan di ketinggian puluhan meter dari tanah tampak seperti kegiatan senang-senang di taman hiburan.

Karakter film ini, meski dielu-elukan sebagai pahlawan, tak punya kapasitas fisik sekelas superhero. Kristian Eikjord (Kristoffer Joner) hanya pakar geologi paruh baya biasa, yang tiga tahun selepas peristiwa tsunami film pertama, memilih hidup terisolasi, dikuasai rasa bersalah karena ia merasa semestinya dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa. Akibatnya, sang istri, Idun (Ane Dahl Torp), menceraikannya, membuat Kristian terpisah dari kedua anaknya, Sondre (Jonas Hoff Oftebro) dan Julia (Edith Haagenrud-Sande).

Kristian berusaha menebus dosanya dengan terlibat membangun Geiranger lagi, dan membuat sebuah kamar untuk mengenang 250 korban tsunami di sana. Sampai suatu hari, kematian seorang rekan menggiringnya pada kesimpulan bahwa Oslo bakal segera diguncang gempa masif berkekuatan 8,5 skala richter. Dibantu Marit (Kathrine Thorborg Johansen), puteri mendiang rekannya itu, Kristian coba memperingatkan pihak berwenang akan gempa yang segera menerjang. Tentu, seperti film pertama, peringatannya tak digubris.

Kejanggalan apabila sekuel film bencana menampilkan tokoh yang sama adalah, kesan bahwa ia sungguh sial harus menghadapi bencana lagi. Naskah buatan John Kåre Raake (The Wave, Ragnarok) dan  Harald Rosenløw-Eeg (The Wave, The King’s Choice) memastikan ada alasan logis di balik kembali terseretnya Kristian daripada sekadar “diikuti nasib buruk”. Tentu masih ada unsur kebetulan, contohnya fakta jika keluarga Kristian kini menetap di Oslo, tapi tanpa itu pun, Kristian tetap akan menyatroni pusat gempa di mana pun letaknya.

The Quake praktis dibagi menjadi dua babak, di mana seperti selalu kita temukan dalam film serupa, babak pertama bertugas membangun pengetahuan penonton soal bencana seperti apa yang siap menyerang. Getaran-getaran kecil, listrik yang padam, saluran air yang terganggu, hingga keluarnya tikus-tikus dari sarang jadi beberapa pemandangan yang menghiasi layar sebelum gempa menggembur di separuh akhir.

Dibungkus dalam tempo medium oleh sutradara John Andreas Andersen yang sebelumnya dikenal selaku sinematografer (Headhunters, King of Devil’s Island), The Quake memang awalnya tampil bagai uji kesabaran bagi penonton. Meski Kristoffer Joner menampilkan gestur meyakinkan sebagai pria pengidap gangguan kecemasan, eksplorasi akan unsur itu tak seberapa mendalam, ditutupi oleh investigasi Kristian yang jarang menyuguhkan fakta menarik, kecuali saat ia mengungkap banyaknya gempa “bersembunyi” di balik aktivitas proyek pembangunan di seantero Oslo.

Pelan-pelan intensitas merambat naik seiring karakternya mulai merasakan kejanggalan aktivitas alam yang menandakan bencana makin dekat. Dan tatkala John Andreas Andersen akhirnya menghantamkan kehancuran ke tiap sudut Oslo, percayalah, kesabaran anda menanti seketika terbayar lunas. Bisa dipastikan filmnya membutuhkan bantuan CGI, tetapi The Quake bukan film bencana ala Hollywood yang semata mengandalkan skala kehancuran.

Walau cuma bermodalkan biaya tak sampai $6 juta, efek visualnya tampil meyakinkan, sebab pemakaian CGI bersifat ekstensif hanya dilakukan sesekali, saat wide shot dipakai untuk memberitahu penonton sejauh apa gempa sudah mengobrak-abrik Oslo, atau setiap gempa susulan terjadi. Sisanya, film ini cenderung menghabiskan waktu di dalam ruangan, memperlihatkan perjuangan empat tokoh utamanya bertahan hidup.

The Quake menolak melepaskan cengkeramannya terhadap penonton dengan membagi karakternya menjadi dua kelompok yang selalu menghadapi rintangan yang ditampilkan secara simultan. Tidak ada kesempatan bagi kita bernapas. Ketika satu kelompok berhasil menyelamatkan diri dari gedung yang mulai runtuh, kelompok lainnya mesti berurusan dengan lift yang segera jatuh. John Andreas Andersen menangkap segala perjuangan karakternya lewat perspektif yang menekankan bahwa mereka adalah manusia biasa yang butuh satu sama lain (plus keberuntungan) agar selamat, dan bahwa satu kesalahan kecil bisa membawa maut.

US (2019)

Setelah menyentak lewat isu rasisme melalui debutnya yang sukses baik secara komersial maupun critical, kali ini Jordan Peele mengajak untuk mempertanyakan siapa diri kita (Us) sembari mengkritisi kondisi sosial Amerika Serikat (United States, US), dalam film yang memantapkan statusnya sebagai salah satu sutradara film genre paling berbakat masa kini, meski selaku pencerita, beberapa pekerjaan rumah masih harus ia tangani.

Dalam Us, Peele ingin menampilkan karakter kulit hitam yang bukanlah korban ketidakadilan sosial atau alat menuturkan kisah bertema rasisme, melainkan sebuah keluarga biasa yang hidup bahagia, bertamasya ke pantai saat liburan, lalu bersenang-senang dengan membeli kapal. Keluarga ini terdiri atas empat anggota: pasangan suami-istri Gabe Wilson (Winston Duke) dan Adelaide Wilson (Lupita Nyong’o), beserta dua buah hati, Zora (Shahadi Wright Joseph) dan Jason (Evan Alex).

Mereka adalah apa yang kita sebut keluarga harmonis. Tertawa bersama, saling goda, dan saling ejek merupakan makanan sehari-hari. Tapi tanpa sepengetahuan siapa pun, Adelaide menyimpan rapat-rapat suatu kejadian traumatis dari masa kecilnya. Hal itu terjadi tahun 1986, kala Adelaide kecil, yang tengah mengunjungi taman bermain sebuah pantai bersama orang tuanya, tersesat kemudian bertemu kembarannya (disebut “The Tethered”). Peristiwa itu amat mengguncangnya, Adelaide membisu selama beberapa waktu.

Sekarang, bersama keluarganya sendiri, Adelaide mesti mengunjungi lokasi yang sama. Ketakutannya jadi kenyataan ketika suatu malam, muncul empat Tethered dengan wujud menyerupai ia dan keluarganya. Bedanya, alih-alih cuma berdiri diam, para Tethered berusaha membunuh Adelaide sekeluarga.

Siapa The Tethered dan apa motivasi mereka adalah beberapa contoh pertanyaan yang akan menggelayuti pikiran kita sepanjang durasi. Tapi berbeda dengan Get Out, meski Us menyimpan beragam subteks (yang akan saya bahas nanti), Peele tak seberapa banyak meluangkan fokus pada alur, khususnya di babak kedua. Sebelum klimaks, praktis Us tak lebih dari sajian “kucing-kucingan” berdarah. Sebuah langkah berisiko, namun Peele nampak percaya diri akan kapasitas penyutradaraannya untuk memaksimalkan formula home invasion menjadi intensitas tanpa henti.

Sebagai genre afficionado, Peele paham betul cara menciptakan atmosfer dan gambar mengerikan lewat beraneka metode, dari pemanfaatan siluet, permainan fokus kamera di mana ancaman diam-diam mengintip di belakang karakternya, hingga membuat jajaran pemainnya bertingkah laku ganjil. Khusus elemen terakhir, Lupita Nyong’o paling menonjol. Memerankan wanita yang terluka psikis dan villain keji dengan senyum mengerikan ditambah tatapan hampa, performa sang aktris bakal diingat sebagai salah satu yang terbaik di antara deretan horor modern.

Bahkan soal trik klise seperti jump scare, Peele senantiasa memamerkan efektivitas dan kreativitas. Peele telah menguasai perihal timing, sedangkan sumber teror kerap dimunculkan dari sudut tak terduga, yang ditangkap oleh gerak kamera dinamis. Kreativitas Peele turut menyentuh ranah pemakaian musik. Siapa sangka lagu Fuck Tha Police milik N.W.A. bakal menambah keseruan dalam sekuen “petak umpet”?

Jordan Peele kentara sedang bersenang-senang tanpa mengkhawatirkan risiko, termasuk dalam menyelipkan komedi, yang diinjeksikan tepat waktu tanpa perlu mendistraksi bangunan ketegangan. Apabila anda kerap menyaksikan sketsa Key & Peele garapannya bersama Keegan-Michael Key, perpaduan mulus dua kutub berlawanan (horor-komedi) itu takkan terasa mengejutkan.

Terkait cerita, seperti sempat saya singgung, terdapat banyak subteks. Paling jelas tentunya terkait identitas diri. “Bagaimana jika kita sendirilah iblis itu?”. Peele memposisikan The Tethered selaku perwakilan hasrat terpendam atau wajah lain karakternya yang urung mereka sadari. Pada lingkup lebih luas, Peele menyinggung kondisi Amerika, negara makmur yang ironisnya masih kelabakan mengurusi masalah kelaparan maupun hoomelessness. Itulah mengapa Peele memilih mengawali kisahnya di tahun 1986, tepat saat even Hand Across America—di mana 6,5 juta orang bergandengan tangan selama 15 menit sebagai kegiatan amal untuk membantu tunawisma dan penderita kasus kelaparan—dilangsungkan.

Us sejatinya nyaris tanpa cela sampai mendekati akhir. Klimaks berupa pertarungan brutal yang dieksekusi bagai nomor tarian penuh darah dan kekacauan sambil diiringi musik mencekam garapan Michael Abels (Get Out, Detroit) pun tampil solid. Sayang, Peele cukup kewalahan merangkum penjelasan tentang misteri seputar The Tethered, kemudian memaksa merangkumnya ke dalam eksposisi berbelit melalui tuturan verbal. Namun titik yang nyaris merobohkan pondasi Us adalah kejutan penutupnya. Andai paruh sebelumnya tak sedemikian kuat, film ini bisa saja luluh lantah. Guna menyampaikan metafora mengenai “identitas”, Peele mengorbankan logika, meski harus diakui ada aroma kengerian tragis tercium dari twist besarnya.

UPDATE: Setelah melewati beberapa pemikiran ulang (thanks to some questions on comment section below), saya sadar telah mempersepsi twist penutupnya secara keliru. Jordan Peele tidak luput dalam berlogika. Saya kurang jeli memproses dan mengaitkan informasi yang filmnya sampaikan, meski tetap merasa keputusan Peele bereksposisi lewat monolog bukan pilihan jitu. Karena itu saya mengubah rating-nya.

FRIEND ZONE (2019)

Friend Zone adalah barang langka. Sebuah tontonan ringan, bahkan tampak bodoh di permukaan, namun di balik itu, sangat menghargai inteligensi penonton. Romansanya ditampilkan serta terus dibangun via momen demi momen ketimbang kalimat puitis, sedangkan motivasi karakternya ditanam kuat-kuat meski secara subtil.

Saya pernah mendengar ungkapan berbunyi, “Pasangan bisa disebut saling mencintai jika sudah berani kentut di depan satu sama lain”. Palm (Naphat Siangsomboon) dan Gink (Pimchanok Leuwisetpaiboo a.k.a. Baifern) telah melangkah lebih jauh. Jangankan buang angin, Gink buang air besar di hadapan Palm dalam salah satu momen terlucu film ini, yang memproduksi salah satu kalimat terlucu tahun ini (“What’s wrong with your butthole?”).

Saya percaya ungkapan di atas. Terdengar konyol, tapi ada benarnya. Berarti keduanya merasa nyaman bersikap apa adanya. Kurang lebih begitulah hubungan Palm dan Gink, hanya saja, mereka bukan sepasang kekasih. Selama 10 tahun Palm terjebak di zona pertemanan setelah menggali kuburnya sendiri dengan berkata bahwa ia mencintai Gink sebagai teman.

Jadilah Palm menghabiskan satu dekade menemani Gink ke mana-mana walau tanpa status hubungan cinta, termasuk ikut mengarungi beberapa negara guna menguntit kekasih Gink, Ted (Jason Young), yang dicurigai tengah berselingkuh di tengah perjalanan bisnisnya sebagai produser musik. Kenapa Gink bertindak senekat itu seolah terobsesi pada sang kekasih? Ini bukan semata usaha filmnya melucu. Demi memahami itu, kita perlu kembali ke sekuen pembuka.

Semasa SMA, Gink, dengan bantuan Palm, memergoki perselingkuhan sang ayah. Tidak lama berselang, kekasih Gink berbuat hal sama kepadanya. Merujuk pada dua peristiwa tersebut, wajar jika kini Gink bersikap paranoid. Saya suka bagaimana naskah buatan Pattaranad Bhiboonsawade, Thodsapon Thiptinnakorn (SuckSeed, May Who?), dan sang sutradara, Chayanop Boonprakob (SuckSeed, A Gift, May Who?) urung meneriakkan alasan itu keras-keras. Bisa saja Gink tak menyadari bahwa trauma itu memantik ketidakpercayaannya. Penonton dibiarkan melihatnya sebagai respon bawah sadar karakternya.

Kemudian Friend Zone mengajak kita mengikuti perjalanan penuh tawa kedua tokoh utama. Palm mampu membuat Gink tertawa guna menghapus kesedihannya, Gink berbuat banyak kebodohan yang membuat Palm tertawa (sambil kerepotan luar biasa), lalu tawa tersebut bertransformasi menjadi cinta. Cinta di antara Gink dan Palm, juga saya kepada mereka.

Terasa romantis justru karena Friend Zone menolak berusaha secara berlebihan agar tampil romantis. Terasa romantis karena Friend Zone memperlihatkan dua manusia yang saling bertindak selaku sumber kebahagiaan masing-masing. Terasa romantis karena apabila kita ditempatkan di tengah situasi serupa, besar kemungkinan kita pun akan jatuh hati.

Baik Naphat maupun Baifern sama-sama sempurna melakoni peran mereka. Dalam film yang dipenuhi humor over-the-top termasuk “momen imajinasi” ketika salah satu karakter membayangkan sedang meluapkan amarahnya terhadap karakter lain yang kerap kita saksikan di film setipe, keduanya tak pernah gagal memancing tawa lewat chemistry komikal yang menyambar sekuat petir. Tentu suplai materi kreatif dari naskah, juga ketepatan timing dalam penyutradaraan Chayanop berperan besar, tapi tanpa Naphat dan Baifern yang tidak pernah takut mempermalukan diri sendiri di depan kamera, hati saya takkan tercuri, dan aksi saling goda yang akhirnya terjadi bakal kurang menggemaskan.

Kelebihan lain Friend Zone terletak pada penggambaran Ted sebagai sosok orang ketiga. Dia pria baik sekaligus bertalenta, yang dengan kerennya sanggup mengatasi permasalahan rumit di proses rekaman hanya dalam hitungan menit. Melihat itu, saya pun paham mengapa Gink terpikat padanya. Sebagai pesaing cinta, Ted bukan “karakter karikatur”, dan walau Gink senantiasa menaruh curiga, benar atau tidaknya ia berselingkuh tidak bisa dipastikan sebelum filmnya mencapai paruh akhir.

Kita bisa menebak kalau Palm nantinya akan mengakui perasaannya untuk akhirnya berhasil merebut hati si wanita idaman. Tapi momen itu hadir dengan sedikit modifikasi, pula tanpa kesan terburu-buru serta simplifikasi. Semuanya mengalir penuh kesabaran guna memaksimalkan dampak emosi, yang muncul setelah Gink menyadari bahwa ada suatu “hal tertentu” (tidak bisa saya sebutkan pastinya) yang mengingatkannya kepada dua rasa berlawanan: kebahagiaan dan rasa sakit. Alhasil, mudah memahami pilihan yang akhirnya ia ambil. Satu lagi kecakapan Friend Zone mempresentasikan motivasi karakternya.  

YOWIS BEN 2 (2019)

Sebuah band merantau dari kampung halaman dan/atau mengganti manajer “asli” karena dianggap kurang kompeten memfasilitasi ambisi mereka melompat lebih jauh adalah perkara umum. Biar demikian, situasi itu sungguh rumit. Tapi dalam Yowis Ben 2, pesannya sederhana: Tindakan tersebut tidaklah bijak, karena kita tidak seharusnya meninggalkan keluarga yang tumbuh bersama kita sedari nol.

Tapi apakah anda mengharapkan olahan cerita kompleks dari film begini? Rasanya tidak. Serupa keceriaan lagu-lagu synth-pop berbahasa Jawa milik Yowis Ben, filmnya pun tercipta demi menyulut keceriaan penonton. Kedalaman dan kesubtilan mungkin tetap dirindukan, tapi takkan menghancurkan Yowis Ben 2. Sebab memasuki film kedua, pijakannya makin mantap, sementara humor mengalir nyaman dan penuh percaya diri.

Alkisah, setelah lulus SMA, para personil Yowi Ben dihadapkan pada rentetan masalah. Bayu (Bayu Skak) ditinggalkan kekasihnya, Susan (Cut Meyriska), yang memilih berkuliah di Jerman bersama Roy (Indra Widjaya). Konflik yang dipresentasikan sambil lalu ini sejatinya membuat segala perjalanan film pertamanya sedikit sia-sia. Bukan itu saja, ia mesti membantu sang ibu (Tri Yudiman) melunasi kontrakan rumah.

Lalu ada Yayan (Tutus Thomson), yang selepas menikahi Mia (Anggika Bolsterli) via taaruf, dituntut menanggung perekonimian keluarga. Nando (Brandon Salim) masih kesulitan menerima papanya (Richard Oh) berpacaran lagi, tapi hal ini tak berdampak besar akan keseluruhan kisah, sedangkan Doni (Joshua Suherman).....well, he’s just there.

Berangkat dari beberapa kegundahan itu, Yowis Ben merasa Cak Jon (Arief Didu) tak lagi cocok menjadi manajer, karena ia berulang kali memberi mereka gig absurd (sunatan massal, lapas, dan lain-lain) yang gagal menghasilkan bayaran. Secara bersamaan, datanglah Cak Jim (Timo Scheunemann) dan asistennya, Marion (Laura Theux), menawarikan diri memanajeri Yows Ben asalkan mereka mau pindah ke Bandung. Cak Jim menjanjikan kehidupan mewah serta kesuksesan kilat. Yows Ben tergiur.

Sesampainya di Bandung, semangat keempatnya diuji, pula kebersamaan mereka tatkala idealisme dan tali kekeluargaan berbenturan dengan kebutuhan material. Kembali, situasi tersebut lebih kompleks dari sekedar “Jika memilih uang artinya kamu rakus dan tidak berperasaan”. Tapi memang itulah pesan usungan film ini. Mau tidak mau kita mesti menerimanya. Setidaknya itu pesan yang baik.

Seperti beberapa komedi yang juga ditulis Bagus Bramanti belakangan ini (Yowis Ben, Benyamin Biang Kerok, Love Reborn: Komik, Musik, & Kisah Masa Lalu), jalinan ceritanya berceceran di segala penjuru bagai tak terstruktur. Kisahnya penuh sesak—termasuk romansa Bayu dengan Asih (Anya Geraldine) si gadis Bandung—dan bukan mustahil penonton melupakan intisari kisahnya, sebelum diingatkan lagi oleh third act yang menyelesaikan konflik dengan begitu sederhana, cenderung menggampangkan.

Walau menyoroti perjalanan sebuah band, dan kita masih sering melihat mereka memainkan lagu-lagu yang tak kalah catchy dibanding film pertama, substansi kisah Yowis Ben 2 adalah bagaimana sebuah keluarga menghadapi perbedaan di antara mereka. Ujian itu juga saya rasakan saat mendapati Yayan melakukan taaruf, suatu praktek yang saya kurang sependapat. Tapi naskah Bagus Bramanti bukan propaganda taaruf (atau hal lain), melainkan sekadar presentasi realita. Karena itu, saya pun tergerak untuk menghormati karakter berbeda keyakinan seperti Yayan, membuktikan bahwa filmnya cukup berhasil menyampaikan pesan.

Pesan baik tersebut (dan elemen cerita lain) bakal makin berdampak andai penyampaian komedi dan dramanya tidak terkesan berdiri sendiri-sendiri. Seolah saya bisa mendengar filmnya “ganti gigi” kala melompat dari komedi menuju drama, dan sebaliknya. Pada mode komedi, karakternya bersikap sekonyol mungkin, namun begitu menginjakkan kaki di area drama, karakter yang sama mendadak bisa  bicara luar biasa serius, bahkan melontarkan petuah-petuah bijak yang bepotensi membuat Yowis Ben 2 terdengar preachy bagi sebagian penonton.

Beruntung, keceriaan “gojek kere” film ini mampu mengangkangi kelemahannya. Bukan cuma materi yang makin segar, penyutradaraan Fajar Nugros (Yowis Ben, Moammar Emka’s Jakarta Undercover) pun makin baik berkat kesediaan memperhatikan timing kala menghantarkan humor. Jajaran cast pun masih bersinar. Arief Didu berkesempatan memamerkan kapasitas mengolah rasa, Bayu Skak makin nyaman menampilkan talenta komikal lewat ekspresi dan penyampaian hiperbolis, sedangkan Anggika Bolsterli sekali lagi membuktikan bahwa ia salah satu aktris paling “gila” saat ini.

THE SACRED RIANA: BEGINNING (2019)

The Sacred Riana: Beginning adalah film khas Billy Christian (Rumah Malaikat, Petak Umpet Minako, Mereka Yang Tak Terlihat), tidak kurang, tidak lebih: Tata artistik menawan dan konsep segar yang gagal mencapai potensi akibat kombinasi penulisan dan penyutradaraan lemah, khususnya perihal adegan bertensi tinggi.

Terinspirasi dari karakter The Sacred Riana, sang pesulap pemenang Asia’s Got Talent 2017, filmnya mengisahkan bagaimana Riana kecil (Jessiana Marriera Pariston) yang pendiam selalu dianggap aneh orang teman-temannya. Fakta bahwa kedua orang tuanya (Prabu Revolusi dan Citra Prima) menjalankan usaha pemakaman membuat ejekan terhadapnya makin deras. Seolah belum cukup, kehidupan Riana dipenuhi bencana. Pasca rumahnya habis terbakar, Riana sekeluarga tinggal di kediaman Oom Johan (Willem Bevers). Tidak berapa lama, Oom Johan tewas dalam kecelakaan pesawat.

Sebagai kolektor barang antik bernuansa mistis dari seluruh dunia, rumah Oom Johan pun banyak diisi benda-benda mengerikan, termasuk boneka yang Riana temukan dan ia beri nama Riani. Bagi Riana, Riani merupakan satu-satunya teman. Tapi sejak keberadaan Riani, sikap Riana berubah aneh. Dia tak lagi bicara, kerap melakukan gestur aneh, bahkan mampu menggerakkan barang-barang. Kondisi tersebut berlanjut hingga ia dewasa.

Saya lega ketika filmnya melompat ke masa remaja Riana, sebab sosok Riana kecil benar-benar sulit disaksikan. Saya takkan menyalahkan Jessiana, karena jangankan aktris cilik sepertinya, pelakon berpengalaman pun akan kesulitan menyampaikan deretan dialog kaku milik naskah buatan Billy bersama Andy Oesman. Ketika pemain cilik berakting buruk, maka bobot kesalahan terbesar ada di dua aspek: Naskah yang tak memahami bagaimana anak kecil bersikap dan sutradara yang kurang jeli mengarahkan. Bukan berarti Riana remaja (The Sacred Riana) tampil superior, sebab ia tertolong kekhasan karakternya, yang lebih banyak diam.

Suatu hari, setelah absen beberapa waktu dari sekolah, Riana dikunjungi guru BP-nya, Klara (Aura Kasih). Lega rasanya mendapati Klara bukan satu lagi tokoh psikolog klise yang skeptis akan fenomena mistis. Tidak hanya percaya, Klara bahkan familiar dengan hal berbau supranatural. Di kunjungan berikutnya, dia mengajak serta tiga anak didiknya, Lusi (Agatha Chelsea), Hendro (Angrean Ken), dan Anggi (Ciara Nadine Brosnan). Kelak diketahui, ketiganya pun memiliki kelebihan, yang sebelum bertemu Klara, sempat membuat mereka dikucilkan layaknya Riana.

Mengumpulkan sederet remaja indigo berkemampuan berbeda berpotensi melahirkan kesegaran. The Sacred Riana: Beginning bisa saja dibungkus layaknya X-Men dengan sentuhan horor supranatural (Ya, seperti film “satu itu” yang kemungkinan takkan pernah dirilis). Didukung musik gubahan Andi Rianto (30 Hari Mencari Cinta, Arisan!, Critical Eleven), film ini kadang terasa bagai kisah fantasi kelam khususnya Billy beberapa kali memilih menekankan aura keajaiban ketimbang kengerian.

Sungguh sayang, di mayoritas waktu, The Sacred Riana: Beginning masih tergoda untuk berjalan di jalur horor lokal formulaik, tepatnya pasca pengenalan Bava Gogh (Carlos Camelo), pembunuh berantai dengan korban anak-anak, yang tak berhenti menebar teror bahkan setelah meregang nyawa. Bava Gogh punya tampilan unik berkat dandanan ala Eropa dari period era, namun kemunculannya gagal menebar teror akibat gaya akting over-the-top konyol sang aktor.

Dari cerita menjanjikan soal remaja korban perundungan yang bergulat dengan bakatnya, film ini beralih menuju repetisi melelahkan, ketika satu demi satu karakter jadi korban teror Bava Gogh (serta hantu-hantu lain), berteriak, jatuh ketakutan, sebelum dihampiri karakter lain yang hendak menolong sambil meneriakkan namanya. Satu lagi adegan “andalan” The Sacred Riana: Beginning adalah “sesi curhat” penuh pilihan kalimat membosankan, selaku wujud terapi dari Klara terhadap keempat anak didiknya. Pola itu terus diulang, hingga mencapai pertengahan durasi, saya curiga bahwa para penulisnya lupa kalau film ini berjudul The Sacred Riana, karena Riana sendiri menghilang cukup lama dan baru kembali beberapa saat jelang babak ketiga.

Jurang pembeda The Sacred Riana: Beginning dengan horor lokal beralur tipis kebanyakan adalah saat Billy konsisten mempresentasikan ide menarik seputar metode menakut-nakuti. Tidak selalu mengerikan atau mengejutkan, tapi paling tidak saya beberapa kali dibuat tersenyum, terhibur oleh kreativitas Billy, sebagaimana dicontohkan satu momen yang memanfaatkan sebuah lukisan.

Ironisnya, penyebab kegagalan film ini menelurkan teror mengerikan juga Billy sendiri, tepatnya ketidakmampuan sang sutradara menangani sekuen beroktan tinggi. Kebanyakan gambarnya cantik, pun mudah mengambil banyak photo still menarik dari film ini. Tapi kondisi berubah kala terjadi pergerakan, baik dari kamera maupun objek (termasuk manusia) di layar. Nyaris tiada intensitas, entah disebabkan gerak kamera yang terlampau pelan atau terlambat menangkap momentum. Sederhananya, Billy jago mengambil gambar diam daripada gambar bergerak. Tunggu, tapi bukankah film sendiri merupakan "gambar bergerak"? 

WONDER PARK (2019)

Wonder Park hadir di antara tren film keluarga (animasi dan live action) yang berpesan supaya kita tak kehilangan imajinasi masa muda yang penuh kebahagiaan, meski beratnya realita mulai merambat masuk. “Keep that little light in you shining bright”, demikian ucap ibunda sang protagonis. Kalimat yang berfungsi sebagai poros tuturan drama milik animasi produksi bersama tiga studio (Paramount Animation, Nickelodeon Movies, Ilion Animation Studios) ini.

Membangun taman bermain imajiner bernama Wonderland merupakan hal yang June (Brianna Denski) selalu lakukan bersama ibunya (Jennifer Garner). Wonderland adalah taman penuh wahana fantastis dan dikelola oleh hewan-hewan berkemampuan bicara layaknya manusia, yang “hidup” dari boneka June. Simpanse bernama Peanut (Norbert Leo Butz) menjadi maskot taman tersebut. Dia bisa membuat wahana apa pun memakai spidol ajaib tiap kali June dan sang ibu berbisik di telinganya.

Waktu berlalu dan rumah June dipenuhi taman bermain mini yang disusun menggunakan barang seadanya. Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama, sebab sang ibu menderita sakit keras dan mesti meninggalkan rumah demi mendapat perawatan. Kita bisa menerka apa penyakitnya (kemungkinan kanker), namun Wonder Park tak pernah mengucapkannya secara gamblang, karena film ini diceritakan lewat perspektif June, si gadis cilik yang hanya mengetahui satu hal: Tanpa sang ibu, cahaya kehidupannya meredup.

June mulai menyingkirkan Wonderland, diganggu kecemasan dan ketakutan berlebih akan semua hal, kemudian menjadi (terlalu) dewasa sebelum waktunya. Sampai lewat sebuah kebetulan, ia menemukan pintu masuk menuju Wonderland, mendapati taman ajaib itu telah porak-poranda dikuasai kegelapan, sementara para hewan mesti bersembunyi dari serbuan Chimpanzombie, boneka simpanse menggemaskan yang berubah jadi pasukan buas.

Mengejutkan kala mengetahui filmnya enggan terburu-buru menyeret kita memasuki Wonderland. Naskah garapan duet Josh Applebaum dan André Nemec  (Mission: Impossible – Ghost Protocol, Teenage Mutant Ninja Turtles) bersedia bersabar mengembangkan elemen dramatik dari kehangatan hubungan ibu-anak yang takkan sulit menyedot air mata penonton dewasa, setidaknya sepanjang 30 menit pertama yang begitu emosional.

Keputusan di atas tepat, karena kita tahu apa yang menanti di Wonderland: Petualangan sarat komedi slapstick yang berisik dan chaotic. Bahkan kita langsung disambut banter bernuansa rusuh antara karakter hewan, yang dikemas sedemikian rupa supaya petualangannya terkesan bertenaga, tapi justru hanya melahirkan kekacauan yang sukar dinikmati, bahkan nyaris menelan habis potensi humornya.

Bermodalkan bujet $80-100 juta, Wonder Park memang tak semewah produksi Dinsey, Pixar, atau DreamWorks, dan itu nampak jelas pada kualitas visualnya. Animasi Wonder Park  bukan suguhan photo realistic kelas wahid, tapi serupa esensi filmnya, visi serta imajinasi adalah yang terpenting. Beruntung, visualnya memiliki dua elemen tersebut. Dibungkus warna-warni juga cahaya gemerlap, mata kita bakal dipuaskan meski tak sampai dibuat terpana.

Awalnya Wonder Park disutradarai oleh Dylan Brown, animator bagi film-film Pixar seperti Finding Nemo, The Incredibles, hingga Ratatouille. Tapi ia dipecat akibat skandal pelecehan seksual, kemudian posisinya digantikan oleh David Feiss (Open Season: Scared Silly), Clare Kilner (American Virgin, The Wedding Date), dan Robert Iscove (From Justin to Kelly, She’s All That). Entah sejauh apa progres film ini sebelum pemecatan Brown, tapi pastinya, penyutradaraan merupakan salah satu kelemahan besar Wonder Park.

Ya, beberapa adegan sanggup menyentuh hati, namun itu keberhasilan naskahnya, dan semestinya jauh lebih emosional kalau bukan gara-gara lemahnya (para) sutradara membangun momentum. Khususnya momen jelang akhir yang seharusnya jadi puncak penebusan dari segala proses yang June lalui. Hangat, tapi ada potensi untuk mengolah rasa lebih jauh lagi.

Berkat pondasi dari naskahnya, Wonder Park urung porak poranda layaknya Wonderland. Applebaum dan Nemec cukup rapi mengaitkan problematika kehidupan nyata dengan konflik di Wonderland. Kuncinya adalah, konsisten menjadikan hubungan ibu-anak sebagai inti segalanya, baik itu penyebab permasalahan, maupun cara menyelesaikannya. Alhasil, di luar sederet kekurangannya, Wonder park tetap perjalanan memuaskan tentang menghadapi kegelapan demi mengembalikan cahaya.