THE SPECIALS (2019)

Berangkat dari kisah nyata Stephane Benhamou dan Daoud Tatou yang mendedikasikan hidup mereka guna membantu anak-anak kurang beruntung yang ditelantarkan sistem, The Specials menuturkan kisah orang-orang spesial dengan layak, solid, walau tidak secara spesial. Diarahkan sekaligus ditulis oleh Olivier Nakache dan Éric Toledano, serupa karya terbesar mereka, The Intouchables (2011), The Specials juga tampil ringan, cukup informatif, meski kualitas naskah masih jadi permasalahan terbesar.

Tokoh sentralnya adalah Bruno (Vincent Cassel) yang menjalankan organisasi Voice of the Righteous, selaku suaka bagi para penderita autis yang ditolak oleh masyarakat. Bahkan sistem pun tak bersahabat pada mereka. Selama 15 tahun, Voice of the Righteous beroperasi tanpa sertifikat resmi. Pemegang otoritas mulai melakukan investigasi yang kemungkinan besar bakal berujung pembubaran organisasi itu. Kalau benar demikian, bagaimana nasib anak-anak asuh Bruno?

Padahal pihak rumah sakit, yang mengakui bahwa keharusan mereka mematuhi protokol acap kali menghalangi penderita autis menerima bantuan, sering merujuk pasien ke organisasi milik Bruno yang tak segan menerapkan metode “out of the box”. Pemerintah berusaha menegakkan peraturan tanpa menyediakan solusi alternatif. Berbeda dengan Bruno yang selalu berkata “I will find a solution”, bahkan tatkala sebenarnya ia sangat kerepotan.

The Specials menggambarkan betapa chaotic keseharian Bruno. Biarpun mendapat bantuan dari sahabatnya, Malik (Reda Kateb), yang mengelola organisasi bernama The Hatch yang berfungsi mendidik anak-anak jalanan, segalanya tidak terasa mudah bagi Bruno. Teleponnya selalu berbunyi, menghalanginya menikmati hal-hal personal termasuk berkencan. Kekacauan tersebut diwakili momen menggelitik saat seorang tetangga protes karena suara berisik dari apartemen tempat Voice of the Righteous merawat bocah-bocah autis.

Kekacauan yang sayangnya turut menular ke cara naskahnya bercerita. Kata “specials” di judulnya tidak hanya merujuk pada penderita autis, pula Bruno, Malik, dan remaja-remaja pengasuh lain, yang kebanyakan juga memiliki latar belakang kurang beruntung. The Specials berusaha menyoroti semua figur tersebut, yang malah menjadikan fokusnya berserakan. Tidak ada karakter yang benar-benar digali mendalam.

Dylan (Bryan Mialoundama) si anak didik Malik yang paling bermasalah sesungguhnya cukup menarik dalam prosesnya memahami autism sembari memperbaiki diri sendiri, tapi ia ibarat teman yang hanya kita temui di kantor. Tidak sedikit pun kita tahu kehidupan personalnya. Bruno otomatis mendapat porsi lebih, tapi nasibnya tidak jauh beda. Sebagaimana sang karakter yang tidak sempat memperhatikan urusan personal, penonton juga akan kesulitan membangun keintiman dengannya. Kelemahan film ini terkait fokus sebenarnya sudah tercium sejak adegan pembuka yang memperlihatkan seorang gadis penderita autis berlari histeris di tengah kota. Beberapa pekerja sosial berusaha mengejarnya. Setelahnya si gadis tak pernah tampak lagi.

Jajaran cast-nya bermain baik, khususnya mengingat fakta karakter mereka tidak diberikan pondasi memadai oleh naskahnya. Cassell merupakan protagonis yang mudah menarik simpati lewat kepedulian dan kasih sayangnya, lewat bagaimana ia berusaha memendam perasaan tertekan demi anak-anak asuh, lewat kecanggungannya di depan wanita. The Specials turut menampilkan aktor dengan autisme, yaitu Benjamin Lesieur sebagai Joseph, bocah yang menginspirasi Bruno mendirikan Voice of the Righteous. Nominasi Most Promising Actor di ajang César Awards Februari lalu memang pantas didapatkannya.

The Specials sempat membahas beberapa isu, sebutlah ketakutan publik kepada penderita autis, persepsi keliru tentang gangguan perkembangan itu (seorang ibu meyakini puteranya dikutuk), dan seperti telah disebut, perihal sistem yang kurang mendukung. Kebanyakan sebatas pernak-pernik sambil lalu, tapi bila dipandang selaku wadah informasi baru untuk penonton awam, film ini telah menjalankan fungsinya.  Dan serupa The Intouchables, Olivier Nakache dan Éric Toledano mampu menghangatkan hati penonton lewat beberapa montage yang dibarengi music garapan Grandbrothers, juga konklusi uplifting yang memberi ganjaran atas kesediaan kita menghabiskan waktu bersama tokoh-tokohnya selama hampir dua jam.


Available on KLIK FILM

METAMORPHOSIS (2019)

Setan dapat menyerupai manusia, memecah belah, lalu membawa kegelapan yang membuat manusia bertindak layaknya setan. Metamorphosis menyampaikan gagasan tersebut lewat cara kelam nan kejam, yang seringkali mencengangkan walau pada mayoritas kesempatan, film arahan sutradara Kim Hong-sun (Traffickers, Broker) ini berkutat dalam keklisean elemen-elemen horor bertema eksorsisme.

Pengusiran setan, gerakan akrobatik saat dirasuki setan, pendeta dengan krisis iman. Metamorphosis punya semua ciri formulaik tersebut, yang bahkan sudah dimunculkan sedari adegan pembuka, kala ritual eksorsisme yang dilakukan Joong-soo (Bae Sung-woo) berujung kegagalan dan memakan korban. Seorang gadis remaja tewas mengenaskan. Sejak itu reputasi Joong-soo tercoreng, dan trauma membuatnya berhenti melakukan eksorsisme.

Keluarga sang pendeta turut kena batunya. Kakak Joong-soo, Gang-goo (Sung Dong-il), beserta istri dan tiga anaknya, terpaksa pindah rumah. Anak-anak Gang-goo menerima ejekan di sekolah akibat kegagalan sang paman. Tapi baru sehari, keanehan mulai terjadi. Mayat kucing yang dikuliti, hingga suara-suara aneh dari rumah tetangga misterius di malam hari. Puncaknya ketika setan mulai meniru sosok satu demi satu anggota keluarga untuk melakukan hal-hal mengerikan.

Ketimbang pemandangan yang jamak ditemui di horor rumah berhantu dan/atau eksorisme seperti penampakan atau korban kesurupan berjalan sambil kayang, premis shapeshifter yang diusung Metamorphosis menciptakan bentuk teror lebih segar. Belum lagi, gangguan si setan peniru terhadap keluarga korban cukup mengerikan. Filmnya bermain-main dengan simbol kasih sayang orang tua pada anak. Kecupan hangat ayah pada anak perempuan sebelum tidur diubah jadi perversi, sementara alih-alih cinta, sang ibu memasak dibarengi kegilaan. Orang tua selaku figur pelindung dijadikan sumber teror. Zona nyaman dan rasa aman anak-anak mereka pun lenyap.

Metamorphosis juga bukan horor yang ragu-ragu mengumbar kekerasan. Dibantu tata efek spesial praktikal yang mumpuni, Kim Hong-sun mampu memvisualkan pemandangan menyeramkan nan menjijikkan bak neraka. Salah satunya saat Gang-goo menyambangi rumah si tetangga misterius, kemudian mendapati setumpuk bangkai hewan dalam kondisi mengenaskan. Organ tubuh berserakan, darah bukan cuma mengalir, bahkan sempat menghujani ruangan.

Menjembatani momen-momen gruesome tersebut adalah jalinan alur termasuk misteri dan paparan mengenai krisis iman yang terlampau familiar, tanpa dibarengi modifikasi atau penelusuran mendalam. Rasanya seperti menyaksikan pertunjukan sulap yang trik, hasil, maupun presentasinya sudah kita hafal betul, sehingga ketertarikan untuk menaruh perhatian pun tak begitu tinggi.

Tapi kembali lagi, walau secara kesatuan utuh kurang mengikat, Metamorphosis punya beberapa momen-momen terpisah yang solid urusan meneror. Hong-sun cukup cerdik membungkus jump scare melalui perpaduan timing serta gerak kamera tak terduga, yang efektif memberi daya kejut. Pun sebuah sekuen menegangkan mampu ia lahirkan, sewaktu modus operandi shapeshifting sang hantu mulai mengancam nyawa karakternya. Sayang, pencapaian itu gagal diulangi saat mengeksekusi klimaks draggy yang berlarut-larut, walau telah diawali kejutan dan shock value.

Ya, shock value. Itulah senjata lain Metamorphosis guna mengatasi alur formulaiknya. Suatu keputusan mencengangkan diambil naskahnya untuk menekankan tragedi yang menimpa para protagonis, sekaligus menunjukkan bahwa sang setan tidak main-main. Ketidakberdayaan Gang-goo sekeluarga diperkuat, sampai mencapai titik di mana penonton mungkin juga akan merasakan ketiadaan harapan, karena di film ini, tidak ada satu figur pun yang sepenuhnya bisa dijadikan sumber harapan.


Available on KLIK FILM

THE PLATFORM (2019)

Tempat bertingkat sebagai gambaran sistem kasta, human nature, halusinasi protagonis tentang sosok yang telah tiada akibat rasa bersalah. The Platform punya semua elemen familiar tersebut. Tapi yang menjadikannya lebih dari sebatas repetisi adalah keseimbangan perspektif, yang bukan sebatas mengkritik golongan atas karena “memakan” golongan bawah, pula mengobservasi bagaimana golongan bawah juga saling “makan”. Hanya saja, pada film ini, aktivitas “saling makan” juga terjadi secara literal.

Kisahnya mengenai penjara berbentuk menara, dengan jumlah tingkat tidak diketahui, setidaknya sebelum memasuki third act. Seluruh tingkat dipenuhi amarah dan frustrasi, namun ketika golongan atas tersulut emosinya karena tampilan panna cotta yang kurang sempurna, golongan bawah tertekan, sebab ada kemungkinan mereka sama sekali tidak bisa makan. Mendapat makanan sisa 100 orang sudah merupakan keberuntungan.

Protagonis kita, Goreng (Iván Massagué), terbangun di tingkat 48. Rekan satu selnya adalah pria tua bernama Trimagasi (Zorion Eguileor). Jangan kaget mendengar nama-nama karakternya yang terdengar seperti kata dalam Bahasa Indonesia. Selain keduanya, masih ada Imoguiri (dari “Imogiri”) hingga Brambang (Bahasa Jawa untuk “bawang merah”). Melalui penjabaran Trimagasi, Goreng (juga penonton) belajar tentang berbagai aturan di penjara itu.

Soal mimbar berisi makanan yang disajikan tingkat per tingkat sehingga semakin rendah tingkat seseorang semakin kecil peluangnya memperoleh jatah, sampai perihal tingkat yang berubah tiap bulan. Dari tingkat atas yang penuh keuntungan, bisa saja seorang tahanan dipindah ke tingkat bawah di bulan berikutnya. Pun nyaris mustahil kabur dari sana, walau jelang akhir, terungkap bahwa sebenarnya ada cara, yang akhirnya memancing pertanyaan, “Mengapa tidak ada yang terpikir melakukan itu sebelumnya?”.

Naskah buatan David Desola dan Pedro Rivero mampu mendetailkan aturan-aturan serta sistem di penjara, yang berfungsi sebagai pengikat atensi, karena bersama Goreng, kita selalu mempelajari hal baru yang tak jarang melahirkan kejutan. Ditambah permainan pacing yang mumpuni dari sutradara Galder Gaztelu-Urrutia, dinamika The Platform sama sekali tidak terganggu oleh keterbatasan latarnya.

Di luar ambiguitas konklusi yang sedikit menyimpan alegori keagamaan, tidak ada banyak ruang bagi kesubtilan di film ini. The Platform bukan Parasite, yang paparan isu sosialnya dapat menenggelamkan penonton dalam diskusi berkepanjangan. The Platform adalah tamparan, bahkan pukulan brutal yang bukan untuk memancing perenungan, melainkan kesadaran hasil dari keterkejutan.

Grotesque. Kesan itu yang langsung terasa, tatkala darah dan isi perut manusia ditumpahkan, lewat pemandangan yang bakal memuaskan para penggemar film genre. Terbukti, filmnya berhasil memenangkan kategori Midnight Madness pada Toronto International Film Festival tahun lalu. Sinematografi arahan Jon D. Domínguez menekankan kegilaan, termasuk melalui penggunaan lampu-lampu merah, yang bahkan membuat sebuah adegan seks imajiner menghadirkan ketidaknyamanan.

Terkai presentasi isu kelas sosial maupun human nature, sudut pandang film ini adil, tanpa pemanis untuk memuaskan para aktivis pembela proletar (sederhananya, ini bukan “film SJW”), dan itulah mengapa perspektifnya tampil segar. Benar bahwa golongan atas menolak menghormati mereka yang di bawah, menganggap dirinya terlalu tinggi untuk sekadar menyapa. Alhasil para petinggi tak tahu betapa kacau kondisi di bawah. Tapi di waktu bersamaan, golongan bawah terlanjur bersikap apatis, menyimpan sentimen negatif yang penuh generalisasi terhadap golongan atas.

Kedua pihak sama-sama cuma memedulikan cara mengenyangkan diri sendiri dan dikuasi ketidakpedulian. Golongan atas menolak berbagi makanan, sedangkan yang di bawah menolak mengakui kesalahan dan melimpahkannya pada mereka yang di atas. “Semua salah orang kaya! Kalau mereka peduli, kami pasti tidak akan berbuat buruk!”, begitu katanya. Sebuah lingkaran setan. Akhirnya, sewaktu pertukaran peran dilakukan, sama sekali tiada perubahan, sebab yang tersisa hanya hasrat balas dendam dan prasangka.

Di tengah pandemi seperti sekarang, ada sebuah momen yang menarik perhatian saya karena relevansinya yang tinggi. Imoguiri (Antonia San Juan), mantan pengelola yang secara sukarela mendekam dalam penjara, berusaha mengajak tahanan lain agar menjatah makanan mereka, supaya tahanan di tingkat bahwa mendapat bagian. Mereka menolak. Mereka tak peduli akan soladaritas semacam itu. Tapi begitu Goreng mengancam bakal mengencingi makanan, mereka menurut. Sama seperti masyarakat kita yang tak memahami istilah “tinggi” seperti social distancing dan semacamnya. Mereka perlu dipersuasi menggunakan metode sederhana dengan kata-kata to the point yang menekankan pada hukuman, atau dampak buruk mengerikan yang bakal menimpa jika tidak patuh.


Available on NETFLIX

COLOR OUT OF SPACE (2019)

Color out of Space dibuka dengan memperlihatkan gadis bernama Lavinia (Madeleine Arthur) sedang melakukan ritual Wicca, sebuah kepercayaan paganisme modern. Terlihat aneh, tapi beberapa menit kemudian keanehan itu bisa dimaklumi, setelah kita tahu bahwa Lavinia adalah puteri Nathan Gardner, yang diperankan oleh Nicolas Cage. Kata “aneh” dan Nicolas Cage sudah seperti gula dan semut. Ditambah lagi, film ini merupakan adaptasi cerita pendek karya H. P. Lovecraft (The Colour out of Space), di mana kenormalan bersifat langka.

Selepas istrinya, Theresa (Joely Richardson), menjalani mastektomi, Nathan membawa keluarganya pindah ke peternakan milik ayahnya di pinggiran kota kecil fiktif bernama Arkham. Di sana Nathan hidup sebagai petani tomat dan memerah susu alpaka (karena Nicolas Cage bebas melakukan apa saja). Selain Lavinia, Nathan dan Theresa punya dua putera: Benny (Brendan Meyer) yang gemar mengisap ganja bersama Ezra (Tommy Chong), seorang hippie yang tinggal di tengah hutan; dan si bungsu Jack (Julian Hilliard).

Mereka berlima ditambah Ward (Elliot Knight ), seorang hidrolog yang seketika menarik perhatian Lavinia, tidak menyadari kalau kedamaian di area pedesaan itu takkan bertahan lama. Suatu malam, cahaya ungu yang menyilaukan menerangi sekitaran rumah Keluarga Gardner, bersamaan dengan jatuhnya sebuah meteorit. Itulah awal peristiwa-peristiwa di luar nalar, yang akan membuat Nicolas Cage melakukan rutinitasnya: berteriak sambil memukul-mukul mobil dan melempar tomat ke tempat sampah bak pebasket tengah unjuk gigi memamerkan slam dunk. Sebuah hiburan tersendiri bagi yang familiar dengan gaya aktingnya.

Mencapai pertengahan—dari durasi 111 menit yang sejatinya terlalu panjang untuk adaptasi cerita pendek Lovecraft yang tak bertele-tele—Color out of Space hanya paparan anomali demi anomali, yang sekadar melempar tanda tanya tanpa mengikutsertakan penonton dalam investigasi misteri. Bukan berarti tiada petunjuk ditebar, hanya saja, proses memecahkan misteri tak dijadikan pilar cerita.

Sejatinya itu selaras dengan kekhasan karya Lovecraft, di mana tokoh-tokohnya terjebak dalam situasi di luar kontrol yang tak memberi peluang bagi mereka untuk sebatas memahaminya. Tapi durasi yang terlalu lama memunculkan kesan monoton tatkala penonton hanya bisa pasrah terbawa arus, walau sutradara Richard Stanley—yang kembali setelah pemecatan kontroversialnya dari proyek The Island of Dr. Moreau (1996)—bersama Steve Annis (I Am Mother) selaku sinematografer mampu melahirkan deretan visual flashy menghipnotis yang terkesan “otherwordly”, sebagaimana seharusnya adaptasi karya Lovecraft dilakukan. Pancaran cahaya dan aura ungu, mata serta mulut manusia yang bersinar, Color out of Space bagai komik cosmic yang aneh.

Kemudian pesona (baca: kesintingan) filmnya mulai meningkat kala Stanley mulai merambah ranah body horror, menghadirkan parade efek praktikal disturbing memikat yang memberi makna lain terhadap pernyataan “family stick together”. Anda akan terkejut, terperangah, merasa jijik, dan mengeluarkan respon-respon lain yang menggambarkan ketidakpercayaan mengenai peristiwa tak masuk akal, yang semakin mendekati akhir, semakin terasa sureal.

Tapi apa yang sesungguhnya terjadi? Meski tidak secara langsung melakukan investigasi misteri, naskah buatan Richard Stanley dan Scarlett Amaris menawarkan beberapa subteks. Pertama soal pemimpin inkompeten sekaligus tak bertanggungjawab, yang di film ini diwakili oleh dua sosok, yaitu Walikota Tooma (Q'orianka Kilcher) yang cuma peduli pada pembangunan infrastruktur serta elektabilitas ketimbang menangani kontaminasi air, dan Nathan selaku kepala keluarga.

Nathan memaksakan otoritas, membentak anak-anaknya jika dirasa tidak becus menjalankan perintah, tetapi ketika salah satu dari mereka terluka, yang ia lakukan cuma duduk diam, menenggelamkan diri dalam alkohol sambil mengamuk sendiri meluapkan frustrasi. Seiring waktu, ucapan“semua bakal baik-baik saja” atau “segalanya terkendali” dari Nathan semakin terdengar hampa.

Perihal kontaminasi air, Color out of Space juga sebuah tuturan enviromentalist terselubung tentang usaha alam mengembalikan kondisinya seperti sedia kala sebelum dicemari manusia, dengan sosok “color” sebagai perpanjangan tangan. Karya-karya Lovecraft memang mengenal figur yang disebut “Great Old Ones”, yakni dewa-dewa yang dahulu menguasai Bumi. Jadi siapa sebenarnya kanker yang menggerogoti? Apakah mereka atau kita (manusia)?


Available on KLIK FILM

BUKU HARIANKU (2020)

Saya selalu mengapresiasi film anak dalam negeri. Generasi muda kita membutuhkannya. Termasuk Buku Harianku, walau plot maupun deretan lagunya kental nuansa recycle. Musikal dalam kisah tentang anak kota menyambangi desa dan/atau berlibur ke rumah kakek, sudah jadi pola berulang sejak era Petualangan Sherina dua dekade lalu hingga kini. Bahkan sebagaimana di Petualangan Menangkap Petir (2018), tokoh kakek juga diperankan Slamet Rahardjo.

Kila (Kila Putri Alam) merindukan mendiang ayahnya, Arya (Dwi Sasono) yang gugur saat bertugas sebagai tentara. Walau amat menyayangi Kila, sang ibu, Riska (Widi Mulia), selalu sibuk bekerja. Pun rencana liburan ke Bali mesti diundur karena Riska mendapat tugas dadakan dari kantor. Kila pun terpaksa menghabiskan liburan sementara waktu di rumah Kakek Prapto (Slamet Rahardjo), yang terletak di Desa Goalpara, Sukabumi.

Figur kakek identik dengan rasa sayang luar biasa kepada cucu, tapi tidak dengan Kakek Prapto. Sebagai pensiunan tentara, ia begitu keras, bahkan menganggap bocah seperti Kila hanya merepotkan saja. Walau dibuat kesal, Kila juga menemukan sahabat baru di Goalpara. Namanya Rintik (Widuri Putri), puteri Keling (Ence Bagus) dan Neneng (Wina Marrino) yang bekerja untuk Kakek Prapto. Biarpun Rintik memiliki disabilitas (bisu), hubungan mereka sama sekali tidak terhalang.

Disabilitas memang tak seharusnya menghalangi pertemanan. Itu merupakan satu dari sekian banyak pesan bernilai yang dituturkan oleh naskah buatan Alim Sudio. Perihal belajar bahasa isyarat, anjuran makan sayur, ajakan mencintai alam, dan pastinya nilai kekeluargaan merupakan hal-hal penting yang dapat anda ajarkan saat membawa anak/adik/keponakan menonton Buku Harianku.

Setidaknya berkat pesan-pesan di atas, anda takkan pulang dengan tangan kosong, mengingat sebagai musikal, film ini kurang berhasil. Walau semakin membaik seiring durasi, tata suara pada menit-menit awal seperti tanpa melewati proses mixing, yang mana merupakan kelemahan fatal bagi sebuah musikal. Deretan lagunya catchy, pun mengandung lirik ringan mengenai kehidupan sehari-hari yang mudah dicerna penonton anak. Tapi akibat kemiripan di sana-sini, lagu-lagunya bagai “pengulangan” dari lagu-lagu populer yang sudah lebih dulu muncul.

Apalagi belum semua momen musikalnya mencapai standar tontonan layar lebar. Disutradarai oleh Angling Sagaran (From London to Bali, Tabu) dengan tim dari EKI (Eksotika Karmawibangga Indonesia) sebagai pengarah tari, sekuen musikal Buku Harianku sering kekurangan tenaga, seolah tak melalui proses rehearsal (banyak musikal anak kita yang punya hasil jauh lebih baik), walau musikalnya melahirkan satu pemandangan hangat ketika Rintik dan Kila berdiri di panggung 17-an.

Terkait penceritaan, terdapat beberapa lubang. Pertama soal perubahan sikap karakter. Kakek Prapto semestinya dibawa melewati transformasi dari seorang kakek ketus menjadi lebih ramah, tapi gradasi itu tak nampak karena ambiguitas penokohan. Kadang ia galak, kadang melembut, sehingga saat titik balik sesungguhnya terjadi, dampaknya tidak terlalu besar. Sedangkan di kesempatan lain, Neneng sempat memarahi Kila yang dianggapnya membahayakan Rintik. Tapi keesokan harinya, semua kembali seperti semula, seolah tidak terjadi apa-apa. Permintaan maaf dari Neneng kepada Kila sebenarnya sudah cukup untuk menambal lubang itu.

Terdapat subplot lain mengenai Samsudi (Gary Iskak), seorang pebisnis yang berniat membangun resor dengan kedok memajukan pertanian Desa Goalpara. Konflik ini muncul hanya untuk memenuhi obligasi dalam aturan tak tertulis film anak, di mana keberadaan sosok penjahat merupakan kewajiban. Tapi selain nihil substansi dan takkan berdampak sedikit pun andai dihilangkan, pilihan konklusinya terkesan malas. Ini bukan simplifikasi guna memudahkan penonton anak, melainkan “simply lazy”.

Beruntung, Buku Harianku masih memiliki jajaran pemain yang tampil cukup solid. Di luar inkonsistensi penokohannya, Slamet Rahardjo tidak pernah gagal menambahkan hati. Begitu juga Ence Bagus, yang layak mendapat pengakuan lebih dari “sekadar” seorang komedian. Sementara Kila Putri Alam tidak terbebani kala melakoni peran utama dalam debut layar lebarnya. Santai, luwes, dan natural untuk ukuran aktris cilik, ia adalah figur yang pas untuk memimpin penonton anak mengarungi petualangan bernama Buku Harianku, yang sayangnya berjalan tidak terlalu mulus ini.

MARIPOSA (2020)

Seperti sempat saya singgung di ulasan Teman tapi Menikah 2, penonton kita sedang jatuh hati pada adaptasi Wattpad bertema romansa remaja yang membawa ciri-ciri seperti judul “asing”, gombalan unik (baca: absurd), dan tipikal bad boy yang cenderung brengsek ketimbang keren. Mariposa, yang diangkat dari kisah buatan Luluk HF, sebenarnya turut mengusung formula serupa, tapi pendekatan ringan lewat sentuhan humor dan kemasan artistik yang diberi perhatian, membuatnya unggul dibanding banyak kompatriotnya.

Acha (Adhisty Zara) menyukai teman sekolahnya, Iqbal (Angga Yunanda). Tapi seperti sudah disinggung di atas, tentu saja Iqbal tidak membalas cinta Acha, bersikap dingin bahkan sedikit kasar padanya. Iqbal sangat kaku. Kekakuan yang dipicu tuntutan tinggi sang ayah (Ariyo Wahab), agar Iqbal selalu jadi nomor satu di bidang akademis, termasuk menjuarai olimpiade sains tingkat nasional. Tujuannya adalah memperoleh beasiswa untuk berkuliah di Inggris. Iqbal punya alasan kuat menghindari urusan percintaan. Kondisi tersebut berlawanan dengan keluarga Acha. Sang ibu (Ersa Mayori), yang seorang Army (penggemar BTS) sekaligus pengagum hal-hal berbau budaya populer Korea Selatan, ibarat sahabat bagi Acha, yang bisa ia ajak berbagi banyak hal termasuk tentang cinta.

Pun meski sesekali kelewatan, penolakan Iqbal sebenarnya bisa cukup dipahami. Obsesi Acha sebenarnya sering kelewatan. Dia selalu mengikuti Iqbal, terus menghubunginya, bersikap seolah keduanya berpacaran. Penanganan keliru dapat menjadikan Acha karakter creepy, namun Zara adalah figur likeable yang mampu memberi kepolosan, sehingga bentuk obsesinya bisa dijustifikasi sebagai kenaifan polah cinta monyet remaja.

Berlangsung selama hampir dua jam (117 menit), Mariposa mengalami stagnansi ketika kisahnya sebatas tersusun atas repetisi-repetisi situasi ketika Acha menggoda Iqbal hanya untuk menerima respon dingin. Jangan pula berharap ada eksplorasi mendalam mengenai metafora metamorfosis ulat jadi kupu-kupu (“mariposa adalah Bahasa Spanyol yang berarti “kupu-kupu”) yang sejatinya cuma gimmick untuk membuai target pasar bocah/remaja awal. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Alim Sudio selaku penulis naskah adaptasinya.

“Perbaikan” yang dilakukan adalah memperlakukan romantikanya tidak terlalu serius, melalui selipan humor-humor segar. Tengok adegan di perpustakaan, atau sekuen menggelitik tentang “perjalanan kue keju Belanda”. Alhasil, walau ceritanya tidak banyak berprogres dan memiliki durasi cukup panjang, Mariposa takkan terasa melelahkan. Apalagi visualnya cukup memanjakan mata, melalui penggunaan warna-warna pastel (khususnya kombinasi biru-merah muda) pada seragam dan properti serta pencahayaan lembut.

Selain stagnansi kisah, muncul juga masalah perihal pembangunan intensitas di babak akhir yang menyoroti pelaksanaan olimpiade. Menyulap aktivitas mengerjakan soal tertulis jadi pemandangan menegangkan bukan perkara mudah, dan pengarahan Fajar Bustomi belum berhasil mencapai titik itu. Dan sewaktu lomba memasuki babak rebutan, pemakaian teknik quick cut guna meningkatkan dinamika justru kerap membuat pusing kepala.

Beruntung Mariposa menyimpan konklusi yang berhasil menjadi puncak emosi. Berpengalaman mengarahkan trilogi Dilan, Fajar tahu cara menciptakan momen menggemaskan berisi pengakuan cinta ala remaja, yang juga menyentuh hati berkat penampilan heartful Zara. Aktris muda ini memang tidak bisa dipandang remeh.

BLOODSHOT (2020)

Vin Diesel merupakan salah satu aktor paling membosankan. Bukan cuma akting dan pilihan peran, dandanannya pun selalu tipikal. Hanya beberapa menit setelah membuka film dengan atribut tentara lengkap, Diesel langsung menanggalkannya, untuk lagi-lagi memperlihatkan singlet putih kegemarannya, yang tak kuasa menutupi otot-otot besarnya. Merupakan kewajaran jika di beberapa titik, anda lupa bahwa Bloodshot adalah satu lagi adaptasi komik pahlawan super.

Diesel memerankan Ray Garrison, seorang tentara yang hidupnya berakhir tragis. Sang istri, Gina (Talulah Riley) tewas di depan matanya. Ray sendiri dibunuh oleh orang yang sama tidak lama kemudian. Anehnya, Ray hidup kembali. Dia terbangun di laboratorium milik Dr. Emil Harting (Guy Pearce) tanpa satu pun memori tertinggal. Rupanya, jasad Ray disumbangkan oleh Angkatan bersenjata Amerika Serikat guna dijadikan bahan eksperimen nanoteknologi.

Berkatnya, Ray punya kemampuan penyembuhan super cepat terhadap luka. Singkatnya, dia (nyaris) tidak bisa mati. Efek lainnya adalah peningkatan kekuatan fisik yang jauh di atas manusia normal. Hingga akhirnya ingatan Ray kembali, menjadikannya mesin pembunuh yang digerakkan oleh satu tujuan: balas dendam. Tapi kisah Bloodshot tidak sesederhana itu. Dalam satu lagi tuturan berisi subteks “kemerdekaan diri” yang acap kali dipakai film berpremis serupa, Jeff Wadlow (Kick-Ass 2. Fantasy Island) dan Eric Heisserer (Arrival, Bird Box) selaku penulis naskah, melempar kejutan di akhir first act yang sepenuhnya mengubah arah cerita.

Kejutan yang harus diakui cukup pintar, khususnya mengingat Bloodshot merupakan “film-superhero-Vin-Diesel”. Pintar, karena twist tersebut mampu mengecoh tanpa menipu, dan secara meyakinkan menggiring persepsi penonton. Bukan kecurangan, sebab sejak menit awal, kita melihat semuanya lewat kacamata Ray. Kita tidak lebih tahu dari sang protagonis. Mudah pula menerima kemustahilan di baliknya, sebab Bloodshot secara jelas menegaskan statusnya sebagai suguhan fiksi-ilmiah yang mengedepankan penggunaan berbagai teknologi canggih.

Sayangnya tidak semua teknologi itu berhasil dimanfaatkan. Banyak potensi alat/senjata terbuang percuma akibat lemahnya sutradara debutan David S. F. Wilson mengarahkan adegan aksi. Sebagai film penuh kecanggihan, deretan aksi Bloodshot tampak medioker dan miskin kreativitas. Apalagi rating PG-13 miliknya menghalangi pemaksimalan premis tentang jagoan yang tidak bisa mati. Filmnya butuh lebih banyak momen seperti saat wajah Ray remuk dihantam peluru. ‘Bloodshot needs more blood.

Penyuntingan kilat yang memudarkan koreografi, gerak lambat membosankan yang memudarkan intensitas, sampai klimaks penuh pemaksaan eksploitas CGI buruk sekelas video game, membuat Bloodshot bahkan tidak cukup menyenangkan sebagai film popcorn sekali tonton. Dan sewaktu ketangguhan Eiza González sebagai prajurit wanita bernama KT gagal dieksplorasi, sementara Vin Diesel hanya meyakinkan kala memperdengarkan suara dan ekspresi "gahar" sedangkan permainan emosi lainnya tampak menggelikan, semakin sedikit pula alasan meluangkan waktu demi film ini.