Crime 101 yang mengadaptasi novela berjudul sama buatan Don Winslow punya jiwa serupa Heat (1995) karya Michael Mann. Bukan aksi yang dikedepankan, melainkan alur pikir para manusia yang melakoninya. Kegundahan batin mereka lebih dipentingkan dari spektakel berbasis kriminalitas.
Seperti Heat, kisahnya berpusat pada pertarungan antara perampok dan polisi yang masing-masing enggan saling merendahkan sang lawan. Si perampok adalah Mike (Chris Hemsworth) yang menjalankan tindak kriminalnya dengan disiplin luar biasa. Alhasil, tak sedikit pun DNA pernah tertinggal di TKP. Chris Hemsworth dengan setelan jas, rambut dipotong pendek rapi, serta kacamata hitam bak personifikasi dari ketelitian Mike.
Sedangkan si penegak hukum adalah Detektif Lou Lubesnick (Mark Ruffalo) yang diasingkan dari kesatuan akibat rasio pemecahan kasusnya rendah. Lou pun ngotot melempar teori yang ditolak oleh rekan-rekan sesama polisi, bahwa serangakaian perampokan di sekitar jalan raya 101 dilakukan oleh satu pelaku.....dan dia benar.
Rumah tangga Lou juga tidak kalah bermasalah, di mana sang istri secara sengaja berkali-kali berselingkuh. Sebaliknya, Mike tengah terpikat pada Maya (Monica Barbaro), kendati ia sadar kalau pekerjaannya menuntut hidup yang teralienasi demi menghindari distraksi.
Tapi jika Heat merupakan "permainan laki-laki", Crime 101 menyediakan ruang bagi perempuan lewat kehadiran Sharon (Halle Berry), yang tak pernah dihargai secara layak di perusahaan asuransi tempatnya bekerja selama 11 tahun. Dunia tiga tokoh utama kita berlainan, namun mereka memiliki kemiripan: baik Mike, Lou, atau Sharon "bermain sesuai aturan" di tengah kekacauan ekosistem yang mengerdilkan keteraturan.
Ketika Mike beraksi serba hati-hati sembari mengusung prinsip untuk tak melukai satu orang pun, Ormon (Barry Keoghan), yang dikirim sebagai penggantinya di salah satu perampokan, justru berlaku membabi-buta. Lou mendapati kesatuannya tak pernah memedulikan kebenaran, bahkan menutupi brutalitas yang diperbuat sesama polisi. Sharon juga terjebak dilema tatkala menyadari pihak perusahaan tega melakukan segala cara guna mencurangi klien mereka.
Naskah buatan sang sutradara, Bart Layton, betul-betul membedah penokohan tiap individu. Sekali lagi elemen aksi memang tidak jadi menu utama Crime 101, tapi bukan berarti diolah setengah matang. Tengok bagaimana Layton menginjeksi deretan adegan kejar-kejaran mobil dengan energi serta efek kejut, alih-alih sekadar melakukannya untuk memenuhi formulasi film aksi.
Alurnya tidak menyediakan lika-liku tak terduga, belum pula mendobrak pakem lama film kriminal sarat drama, tapi Layton memastikan penceritaannya tersaji rapi, kendati selama 140 menit mesti berkali-kali beralih fokus antara tiga tokoh utamanya (plus Ormon sebagai "bonus").
Sebelum sekuel Heat, yang masih berkutat di pra-produksi, resmi diluncurkan, Crime 101 adalah hal terdekat yang bisa kita dapat. Jika Heat merepresentasikan kemurnian aksi khas sinema 90-an, maka Crime 101, dengan konklusinya yang menolak moralitas hitam-putih, menjadi wajah dari kompleksitas masa kini, di mana hukum gagal melindungi kesejahteraan bahkan keselamatan masyarakat.

.png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar