10/04/26

REVIEW - THE KING'S WARDEN

0 View

Sewaktu menonton The King's Warden, saya duduk di samping dua perempuan lanjut usia asal Korea, yang sebelum film dimulai, terlibat obrolan panjang. Entah apa yang dibicarakan. Ada sekat bahasa tebal di antara kami. Selang beberapa menit, filmnya mengawali narasi dengan teks mengenai Danjong, raja era Joseon di tahun 1450-an yang diasingkan. Nama yang belum pernah saya dengar sebelumnya. 

Kemudian kita diajak berkenalan dengan Eom Heung-do (Yoo Hae-jin) yang mengepalai sebuah desa miskin di daerah Cheongnyeongpo. Begitu miskin serta lapar rakyatnya, tatkala Heung-do mendengar rumor bahwa suatu desa bakal makmur bila dijadikan tempat pengasingan pejabat negara, dia tidak berpikir dua kali untuk menyabet peluang tersebut. 

Tanpa Heung-do tahu, figur yang hendak diasingkan ke Cheongnyeongpo bukanlah pejabat biasa, melainkan Yi Hong-wi (Park Ji-hoon) alias Pangeran Nosan alias Raja Danjong yang baru saja dikudeta oleh pamannya sendiri. Nosan baru berusia 16 tahun. Kebengisan politik kerajaan yang tak mengenal belas kasih bahkan di antara keluarga telah merenggut semangatnya. Nosan enggan makan, matanya pun hampa, seolah keputusasaan enggan berhenti bertandang. 

Penceritaan sang sutradara, Jang Hang-jun, yang turut menulis naskah bersama Hwang Seong-gu, mengalir dengan mulus. Kisahnya mungkin tak punya cengkeraman intensitas luar biasa maupun "bumbu penyedap" berlebih, tapi penonton dibuat paham betul soal kekisruhan beraroma politis di dalam tembok istana, pula penderitaan rakyat jelata di luar. 

Kita pun mendapat sosok karakter utama menarik dalam diri Eom Heung-do. Terselip ambiguitas moral khas protagonis sinema Korea Selatan. Dia bukan orang suci. Si kepala desa tidak ragu mengakali aturan, menjilat penguasa, pula merumuskan sedikit kebohongan demi mengenyangkan perutnya serta warga desa, yang sudah sekian lama tak diisi semangkuk nasi hangat. Kadang metodenya patut dipertanyakan, namun intensinya tulus. 

Heung-do dan para warga terus menyediakan makanan bagi Nosan, dan si pangeran selalu menolaknya akibat keputusasaan yang sempat memantik niat untuk mengakhiri hidup. Titik balik terjadi kala si raja remaja menolong warga dari serangan harimau. Sayang, dampak emosional momen tersebut dilemahkan oleh pemanfaatan teknologi secara kurang bijak, saat sang sutradara memaksakan diri memunculkan "harimau CGI" dengan gamblang kendati kualitasnya serba terbatas. 

Sejak itulah Nosan mulai bersedia mencicipi masakan warga. Ada poin menarik tatkala Heung-do mempresentasikan masakan tersebut di hadapan Nosan. Berbeda dengan suguhan buatan koki istana yang serba mewah sekaligus mudah diperoleh, di Cheongnyeongpo, masing-masing varian menu didapat dari hasil perjuangan (buah yang susah payah dipetik, ikan yang dipancing memakai trik rumit, dll.) Bukankah makanan buah kerja keras memang lebih lezat? 

Sebagai bentuk balas budi, Nosan mulai rutin mengajak seluruh warga makan bersama, bahkan mengajari baca tulis anak-anak setempat. The King's Warden mengambil latar lebih dari 500 tahun lalu, namun permasalahannya masih relevan hingga kini: figur yang tulus memedulikan rakyat akan selalu coba disingkirkan oleh gerombolan penguasa haus harta. 

Filmnya ditutup oleh konklusi yang luar biasa efektif memeras air mata penonton. Selain karena skenario tragis nan mengharukan di dalamnya, totalitas akting Yoo Hae-jin, yang matanya dipenuhi deburan sakit hati dan oleh sang sutradara diberi sorotan utama, berkontribusi besar memaksimalkan potensi adegan tersebut. 

Saya meneteskan air mata melihatnya, begitu pula dua perempuan Korea di sebelah. Saya tetap tidak mengerti obrolan keduanya sewaktu kredit bergulir, tapi rasanya saya mulai sedikit memahami sekelumit perasaan mereka. Perasaan rakyat biasa yang merindukan kebaikan hati pemimpin negara. Begitu hebat kekuatan sinema, ia mampu meniadakan sekat bahasa juga budaya. 

Tidak ada komentar :

Comment Page:

Posting Komentar