Ryland Grace (Ryan Gosling) terbangun di pesawat luar angkasa dalam kondisi amnesia. Dia tidak tahu sudah seberapa jauh dari Bumi, berapa lama ia pergi, pula alasannya berada di sana. Konstelasi bintang yang menyemarakkan langit semesta tidak lagi menyimpan kenangan akan keping-keping identitas dirinya.
Tapi andai ingatannya tak lenyap pun, rasanya kondisi Grace takkan jauh lebih baik. Di Bumi ia bukanlah siapa-siapa, yang juga tak punya siapa-siapa. Seorang ilmuwan biologi molekuler yang dicap gagal dan terpaksa berkarir sebagai guru. Grace sudah tersesat jauh sebelum luar angkasa mengombang-ambingkannya. Jati dirinya telah lenyap tanpa campur tangan amnesia.
Alurnya kemudian bergerak bolak-balik antara masa kini (luar angkasa) dan masa lalu (Bumi). Alkisah, matahari perlahan meredup akibat dikonsumsi oleh mikrob bernama "astrophage" yang secara misterius berkembang biak di Venus. Akibatnya, dalam waktu kurang lebih 30 tahun, Bumi diperkirakan bakal mengalami pendinginan global.
Gabungan negara-negara dunia pun menginisiasi "Project Hail Mary" guna mencari jalan keluar. Grace termasuk salah satu ilmuwan yang terlibat. Bagaimana detail proyek tersebut? Mengapa sebagai ilmuwan Grace malah turut terbang ke luar angkasa? Semakin sedikit kalian tahu perihal detail naskah buatan Drew Goddard, yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Andy Weir, makin baik.
Di Bumi, kendati dikelilingi banyak manusia selama menjalankan proyek, Grace tetap dikuasai sepi. Sebaliknya, tatkala benar-benar seorang diri di luar angkasa, protagonis kita justru nampak lebih hidup. Sinematografi arahan Greig Fraser menangkap komparasi ironis itu. Latar Bumi terkesan lebih "lega" tetapi warnanya cenderung redup. Sedangkan luar angkasa, walau acap kali terlihat sesak karena banyak mengambil latar dalam pesawat, nyatanya lebih royal perihal menumpahkan warna.
Di kursi sutradara, Phil Lord dan Christopher Miller mengeksplorasi penerapan efek praktikal, dari membangun set sungguhan, memakai jasa puppeteer, hingga pemanfaatan layar LED (bukan berarti tanpa keterlibatan efek komputer), guna melahirkan ragam pemandangan semesta megah yang terkesan magis sekaligus immersive.
Pada satu kesempatan, Grace menjelajah keluar pesawat, lalu sekujur tubuhnya dibasuh oleh pancaran cahaya merah yang indah. Grace menikmatinya bak tengah memperoleh berkah. Seolah saat itu angkasa mendengar nyanyian duka Grace, kemudian menghadiahkan keindahan semesta yang masih asing bagi sang ilmuwan.
Bila membicarakan cerita, sejatinya Project Hail Mary amat sederhana. Bahkan ada kalanya, saat-saat yang Grace habiskan seorang diri di pesawat, entah untuk memecahkan misteri tentang ingatannya, mengakali persoalan teknis, atau sekadar bersantai menikmati berlalunya denting waktu, berlangsung lebih lama dari seharusnya.
Nantinya Grace bakal bertemu alien berwujud batu yang ia beri nama Rocky (digerakkan oleh lima puppeteers termasuk James Ortiz, yang turut mengisi suaranya), yang mengarungi angkasa menaiki pesawat berukuran masif dengan wujud bak kerangka raksasa, yang kehadirannya seketika menguarkan misteri semesta yang terlampau luas untuk dapat diproses oleh manusia.
Rocky pun mempunyai wujud abstrak. Tanpa wajah tapi kaya emosi. Penonton diajak menyaksikan langkah demi langkah yang Grace lalui supaya bisa berkomunikasi dengan si alien. Kita dibuat memahami metode yang protagonisnya pakai. Penyertaan elemen saintifik yang cukup kental (meski konon kadarnya tidak sebanyak di novel) memungkinkan penonton menyelami detail masalah serta solusi tiap problematika ilmiahnya. Project Hail Mary enggan memandang penonton sebagai makhluk bodoh, melainkan partner yang terlibat aktif dalam perjalanannya.
Kehadiran Rocky semakin memperkaya sentuhan humor yang tidak pernah malu-malu untuk tampil sebagai sorotan utama. Project Hail Mary memang 156 menit yang ringan, menyenangkan, pula mengandung banyak situasi yang membuat "tantangan tahan tangis" akan sukar dilangsungkan. Terkadang filmnya menuang sakarin terlampau banyak, di mana tiap sudut seolah didesain guna menumpahkan tawa atau air mata , tapi pendekatan tersebut substansial dalam upaya Project Hail Mary membicarakan tentang "harapan".
Semematikan apa pun potensi kehancuran yang Bumi alami, Project Hail Mary menolak mengurung kita dalam sangkar nestapa. Sebaliknya, ia tampil bagai buku petunjuk mengenai cara mengarungi kegelapan dunia tanpa perlu mengorbankan harapan.
Judulnya merujuk pada jenis umpan panjang dalam american football yang biasanya dianggap sebagai upaya putus asa akibat rasio keberhasilan yang demikian minim. Begitu pun misi yang Grace emban. Tapi di sini, alih-alih diidentikkan dengan pertaruhan berisiko, "ketidakpastian" justru dipakai merepresentasikan kemungkinan tanpa batas.
Grace tengah mengarungi petualangan yang mengeliminasi batasan. Dia ingin bebas. Ryan Gosling memerankan si tokoh utama dengan kecanggungan yang membuatnya mudah disukai, pula kepiluan yang seketika memancing simpati. Dia tidak berambisi dipuja layaknya pahlawan. Daripada menjadi penyelamat semesta, Grace lebih tertarik melestarikan kebaikan. Tidak ada aksi kepahlawanan yang lebih besar dari itu.

.png)
wah ada Drew Goddard yg di film Cabin in the Woods...
BalasHapusWow.review yang indah. Jadi excited utk nonton
BalasHapus