REVIEW - EVIL DEAD BURN

Tidak ada komentar

Evil Dead Burn tidak mendorong formula waralabanya yang mulai usang untuk berevolusi, tapi Sébastien Vaniček selaku sutradara kentara mewarisi semangat Sam Raimi muda, sewaktu membuat filmnya mengolok-olok sembari menertawakan konsep kematian. 

Simak adegan prosesi pemakaman Will (George Pullar) yang jadi salah satu korban pertama Deadites. Kekhidmatan ditiadakan oleh suara bising konstruksi yang menguarkan aroma kecanggungan. Jenazah Will pun tak ditangani dengan hormat oleh petugas krematorium yang menari-nari sambil menyalakan api, setelah sebelumnya hampir menjatuhkan peti. Kematian bukan untuk diratapi di sini.

Kemudian, Alice (Souheila Yacoub), istri Will, terpaksa menghabiskan waktu bersama keluarga sang suami. Joseph (Hunter Doohan), adik Will, dan pacarnya, Thya (Luciane Buchanan), memang bersikap baik, tapi tidak dengan orang tua mereka, Susan (Tandi Wright) dan Edgar (Erroll Shand). Sementara si nenek, Polly (Maude Davey), sudah takluk oleh alzheimer. 

"Haruskah keputusan berkeluarga membuat individu kehilangan jati diri mereka?" jadi tanda tanya yang dilempar oleh Sébastien Vaniček dan Florent Bernard lewat naskah buatan mereka. Semasa hidup, Will adalah suami kasar yang mewajibkan Alice mengikuti pilihannya. Demikian pula Susan dan Edgar yang berperilaku bak hama bagi sang menantu. 

Sehingga ketika nanti Deadites mulai menebar teror dengan merasuki satu per satu keluarga Will, perjuangan Alice untuk selamat pun melahirkan alegori mengenai upaya perempuan lepas dari kungkungan keluarga toksik si mantan suami. 

Jangan mengharapkan eksplorasi mendalam atau sorotan kompleks terkait dinamika psikologis. Di samping alegori tersebut, praktis Evil Dead Burn bergerak tanpa jalinan cerita, dan sebatas hadir untuk memuaskan dahaga penonton yang ingin berfoya-foya tanpa pikir panjang di tengah pesta darah besar-besaran. 

Satu-satunya tanda eksistensi cerita terletak pada selipan mitologi serinya, terutama seputar kitab Necronomicon dan Belati Kandarian yang bentuknya lebih dekat ke arah pengingat ketimbang perluasan. Ditambah beberapa detail seperti pilihan senjata protagonis hingga langit merah darah sebagai latar babak puncak, Evil Dead Burn melahirkan amalgam dari keseluruhan waralabanya, baik trilogi arahan Raimi, versi 2013 karya Fede Álvarez, juga Evil Dead Rise (2023). Kaya akan fan service namun miskin pengembangan. 

Tapi tidak ada keraguan sedikitpun soal kapasitas Sébastien Vaniček menumpahkan kesintingan khas sinema splatter. Vaniček piawai mengeskalasi kekacauan liar dalam serbuan Deadites lewat bahasa visual, dibantu tata kamera penuh gaya arahan Philip Lozano yang seolah mengharamkan kediaman. Berkat visualnya, tiap serangan Deadites bak membikin seisi Bumi gonjang-ganjing. "Neraka dunia" mungkin istilah paling pas.

Hal-hal menyakitkan sekaligus menjijikkan tumpah ruah, yang berfungsi mendorong si protagonis sampai ke batas ketahanan fisik sampai membuatnya terkesan tidak kalah lihai daripada Deadites perihal mencurangi kematian. Tapi amunisi filmnya bukan hanya berupa kekerasan ekstrim semata. Seisi studio serentak mual berjamaah kala menyaksikan pemandangan "sederhana" yang melibatkan gigi palsu. 

Tersisa satu keluhan. Vaniček terlampau bernafsu menginjak pedal gas dari awal hingga akhir, luput menyadari bahwa apabila tingkat intensitas secara konstan bertengger di level teratas, artinya sebuah film minim akan dinamika. Apalagi tanpa dibarengi penceritaan memadai, juga ketergantungan atas formula klasik waralabanya yang mulai terasa memerlukan penyegaran, lambat laun daya kejut gore-nya mulai melemah, bahkan sedikit melelahkan.

Apakah tetap menyenangkan? Tentu! Tidak satu manusia pun lolos dari kebrutalan, pun rangkaian skenario nahas yang menimpa mereka tidak jarang turut diwarnai oleh goresan komedi gelap. Evil Dead Burn memang film jahat (in a good way) yang bersikap masa bodoh di depan kesakralan kematian, menertawakan, bahkan mengacungkan jari tengah ke arahnya. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: