REVIEW - SEND HELP

Terdampar di pulau terpencil, bertahan hidup memanfaatkan hal-hal seadanya, tensi yang perlahan tumbuh di antara penyintas seiring eskalasi terhadap rasa rasa frustrasi. Semua sudah amat sering kita temui di layar sinema hingga pesona genrenya mulai mengendur. Send Help, selaku horor pertama Sam Raimi sejak Drag Me to Hell 17 tahun lalu, membuat saya merasa tengah menyaksikan presentasi baru tanpa harus kabur dari pakem. 

Di satu kesempatan, salah satu karakternya tenggelam dan mesti diberi CPR oleh karakter lain. Sebuah pemandangan familiar dalam film survival, setidaknya sampai si pemberi CPR muntah di mulut rekannya berulang kali. Send Help adalah soal ketidakterdugaan, baik terkait gerak alur maupun bagaimana adegan ditangani. Filmnya bermain-main dengan ekspektasi penonton, menggiring kita yakin telah mengetahui segalanya, sembari mengendap-endap di belakang menyiapkan kejutan. 

Protagonisnya bernama Linda Liddle (Rachel McAdams), karyawan teladan yang canggung perihal kehidupan sosial. Setelah bertahun-tahun, promosi jabatan pun dijanjikan padanya. Tapi impian tersebut runtuh kala Bradley Preston (Dylan O'Brien) ditunjuk sebagai CEO baru. Alih-alih Linda, karyawan lain lah yang memperoleh promosi, hanya karena ia teman Bradley semasa kuliah, kendati baru bekerja beberapa bulan. 

Naskah buatan Damian Shannon dan Mark Swift memberi cerminan realita, saat perempuan bertalenta dikesampingkan demi memberi jalan untuk laki-laki miskin kualitas. Kondisi yang kerap nampak di lingkungan yang tunduk di bawah kuasa berlebih laki-laki seksis. Tapi semua berubah sewaktu pesawat yang ditumpangi Linda dan Bradley dalam perjalanan bisnis ke Bangkok jatuh, sehingga keduanya terdampar di pulau terpencil. 

Di pulau tersebut tak ada pemegang kuasa. Individu yang lebih berbakat bakal unggul. Ketika Bradley si anak manja cuma bisa mengeluh, Linda, berkat obsesinya pada acara realitas televisi mengenai upaya pesertanya bertahan hidup di alam liar, begitu gampang beradaptasi. Sementara Bradley kelabakan mencari makanan, Linda bersantai menyantap susyi sambil mengoleskan tabir surya bikinan sendiri. 

Bersama alam liar yang gerak-geriknya mustahil diprediksi manusia, alurnya turut berjalan liar ke banyak titik tak terduga dengan efek kejut tinggi. Diiringi musik gubahan Danny Elfman yang rasanya tepat dideskripsikan sebagai "alunan misteri megah khas 90-an", Send Help merangkum persoalan dinamika gender (kerapuhan ego maskulin laki-laki, ketangkasan perempuan yang luput diapresiasi) lewat presentasi yang seolah memodernisasi subgenre screwball dengan meniadakan elemen romansa dan menebalkan sentuhan komedi gelap. 

Untungnya, menyuarakan keresahan atas ketidakadilan bagi perempuan tak membuat Send Help merasa perlu menyempurnakan sosok Linda yang tetap penuh sisi problematik. Pada suatu malam, Bradley menceritakan masa lalunya menyakitkan yang diyakini jadi penyebab tabiat buruknya kini. "Monster tidak lahir begitu saja, melainkan dibuat", ucap Linda. 

Linda yang perlahan menampakkan wajah liarnya pun ibarat monster yang diciptakan oleh perlakuan Bradley. Bedanya, jika Bradley adalah monster yang meneror semua kalangan, Linda cuma menjadi monster bagi si (mantan) bos. Linda menjadi monster sebagai caranya berbicara memakai bahasa yang bisa Bradley mengerti. Bahasa kekejaman. 

Rachel McAdams sempurna memerankan Linda melalui keseimbangan performa dramatik yang memantik simpati, gaya komedik yang selalu efektif menyulut tawa, sekaligus keliaran yang sempat membuat saya curiga Send Help bakal berevolusi menjadi versi masa kini bagi Misery (1990). 

Mengenai horornya, Sam Raimi memaksimalkan rating "R" pertama yang ia dapat dalam 26 tahun (The Gift jadi yang terakhir). Send Help adalah tontonan brutal yang menyakitkan sekaligus menjijikkan. Raimi tahu cara mengganggu kenyamanan penonton lewat pengarahannya yang serba hiperbolis. Cairan dari tubuh serangga yang dikunyah muncrat dengan begitu deras, demikian pula darah babi hutan yang bak mengalir lewat pompa pendorong berkekuatan tinggi. 

Sebagaimana guliran ceritanya, pengadeganan Raimi, terutama terkait timing kehadiran sebuah teror, juga piawai mengecoh ekspektasi. Dibarengi setumpuk humor gelap yang belakangan memudar dalam karya-karyanya, lewat Send Help, Sam Raimi kembali berbicara memakai bahasa yang dipahami serta digemari para penggemarnya. 

REVIEW - SEBELUM DIJEMPUT NENEK

Hantu di horor Indonesia seringkali lucu. Para lelembut ini berhenti nampak mengerikan seiring terdongkraknya popularitas horor yang kini hadir minimal sekali seminggu, sehingga memaksa mereka muncul sesering mungkin di layar bak sosok narsis. Di Sebelum Dijemput Nenek, setidaknya hantu-hantu memang disengaja melucu, tanpa peduli lagi akan citra selaku figur penebar teror. 

Semua berawal dari kematian Mbah Siyem (Sri Isworowati), salah satu penghuni Dusun Wangun. Akibatnya, dua cucu kembar simbah yang telah lama berseteru, Hestu (Angga Yunanda) dan Akbar (Dodit Mulyanto) kembali berkumpul. Biarpun kembar, paras keduanya sungguh amat berlainan. Tidak perlu saya jabarkan siapa yang dianggap lebih rupawan. 

Perbedaan muka tersebut tidak dijelaskan, tapi sejak kapan komedi perlu penjelasan logis? Naskah yang ditulis oleh sang sutradara, Fajar Martha Santosa, bersama Sandi Paputungan, tidak memiliki kewajiban tersebut, kendati mereka melewatkan kesempatan untuk melipatgandakan keabsurdan dengan membuat publik menganggap Hestu sebagai si buruk rupa. 

Selepas pemakaman, bukannya kedamaian yang si kembar rasakan, melainkan ketakutan, karena hantu Mbah Siyem menampakkan diri sembari berpesan bakal menjemput mereka dalam tujuh hari. Dibantu Kotrek (Oki Rengga) si preman kampung dan Nisa (Wavi Zihan) yang semasa kecil pernah membuat Hestu jatuh hati, mereka pun mencari cara menggagalkan penjemputan si nenek.

Presentasi horor yang dipenuhi penampakan berisik nan generik tentunya sudah bisa kita duga, tapi memodifikasi pakem horor memang bukan tujuan Sebelum Dijemput Nenek. Kelemahan tersebut ditambal oleh banyolan kreatif yang datang dengan gaya "semau sendiri" khas "komedi tongkrongan" Jawa. Bahkan credits-scene miliknya pun mempertahankan kreativitas menggelitik yang acap kali mengecoh ekspektasi tersebut.

Cukup disayangkan, film ini terjebak dalam tabiat buruk sinema arus utama Indonesia yang memaksa pelakon non-Jawa melafalkan dialog Bahasa Jawa secara ala kadarnya. Oki Rengga sudah berusaha sekuat tenaga, namun logatnya tetap terkesan janggal. Begitu pula Wavi Zihan yang membawa gaya "Jawa FTV" kala berdialog secara dramatis (tutur katanya membaik di situasi yang lebih tenang). 

Untunglah sang aktris sanggup melunasi kealpaan itu saat berhasil menghidupkan karakter paling lucu dan berwarna dalam film ini. Dihempaskannya segala wujud keeleganan, tatkala Nisa yang awalnya terlihat seperti tipikal gadis kampung baik-baik, mendadak berubah 180 derajat pasca sebuah twist yang jadi satu lagi bentuk kreativitas filmnya. 

Twist lain kelak bakal kita temukan di penghujung durasi, yang turut dipakai untuk memberi resolusi bagi elemen dramanya, namun sayangnya tidak secara solid. Naskahnya menerapkan flashback yang luput mengungkap fakta baru maupun menguatkan penokohan, tidak pula menjustifikasi sikap keras salah satu karakternya di masa lalu. Penonton dipaksa menerima bahwa semuanya baik-baik saja. 

Tapi toh humornya senantiasa jadi penolong, dengan puncak keabsurdan terjadi saat Dusun Wangun terjebak dalam suatu serbuan maut yang eksekusinya meminjam formula film zombi, lalu menggesernya ke ranah mistisisme Indonesia. Di momen tersebut harga diri para hantu dilucuti sepenuhnya, tapi setidaknya, mereka bukan lagi sosok-sosok membosankan dengan kehadiran menjemukan sebagaimana di deretan horor medioker tanah air. 

REVIEW - PRIMATE

Jika membicarakan kebrutalan simpanse, peristiwa yang pertama muncul di ingatan adalah penyerangan Travis, simpanse peliharaan Sandra Herold, terhadap Charla Nash, yang membuatnya cacat permanen, termasuk mengalami kerusakan parah di area wajah. Kasus itu mencuatkan ragam pokok bahasan, dari persoalan psikis hewan, proses mengatasi duka, hingga etika eksperimen. Primate tidak tertarik mengupas hal-hal di atas.  

Film karya Johannes Roberts ini lebih tertarik pada fakta bahwa simpanse, bermodalkan kekuatan otot yang 1,35 kali lebih kuat dari manusia serta kemampuan bergelantungan di mana saja, merupakan mesin pembunuh yang efektif. Sebuah nostalgia untuk era 80-an dan 90-an sewaktu natural horror dan slasher mencapai puncak kejayaan dengan menjadikan pembantaian sebagai komoditas hiburan. 

Sang simpanse bernama Ben. Dia bukan karakter CGI, bukan pula hewan sungguhan biarpun nampak begitu nyata. Miguel Torres Umba berakting dalam balutan kostum dan tata efek prostetik yang seluruhnya luar biasa. Ben tinggal di rumah mewah di Hawaii bersama keluarga Lucy (Johnny Sequoyah) yang memperlakukannya bak anak kandung. 

Setelah bertahun-tahun meninggalkan rumah, Lucy membawa beberapa temannya ke rumah untuk menghabiskan liburan. Ben pun nampak bahagia menyambut kepulangan "si kakak", sampai perlahan diketahui ia telah terjangkit rabies yang mengubahnya dari figur adik menggemaskan jadi monster pembunuh brutal.

Sehari-hari, Ben dirawat oleh Adam (Troy Kotsur), ayah Lucy, seorang novelis ternama yang juga seorang kawan tuli. Komunikasi dilakukan memakai bahasa isyarat, yang oleh Johannes Roberts dibiarkan mengalir dalam kesunyian. Selalu menyenangkan tiap mendapati "film studio" yang tak merasa perlu menciptakan kebisingan demi meniadakan kantuk penonton kasual. 

Pendekatan tersebut dipertahankan kala teror Ben dimulai, di mana banyak jumpscare tak memerlukan suara berisik guna mengumumkan kehadirannya. Musik bernuansa 80-an garapan Adrian Johnston lebih berfungsi sebagai alat pembangun suasana daripada senjata penggedor jantung. 

Atmosfer mencekam pun tercipta. Terutama saat kita berkesempatan menatap Ben, yang di satu titik menampakkan seringai yang seolah menggaungkan sajak kematian, sementara bulu acak-acakan di tubuhnya menguarkan aroma darah memuakkan. 

Sayang, pengolahan ketegangannya cenderung inkonsisten, saat Roberts kerap berlama-lama menggulirkan jalannya adegan, seperti tengah mengulur waktu karena menyadari naskah buatannya bersama Ernest Riera mengandung cerita setipis tisu. Inilah dampak ketiadaan eksplorasi psikologis, entah bagi karakter manusia maupun simpanse. Penonton hanya dibuat menunggu kematian-kematian yang dijembatani oleh kekosongan. 

Tapi memang begitulah cara kerja horor old-school yang filmnya jadikan rujukan utama. Setidaknya Primate senantiasa mendatangkan kepuasan tatkala Ben merenggut nyawa korbannya. Ada kecerdikan dalam pengarahan sang sutradara. Di tangan sineas minim kompetensi, deretan kematian film ini bakal penuh ketidakjelasan, entah karena terlalu gelap, atau akibat kamera yang terlalu bergoyang maupun diposisikan terlalu dekat dari objek. 

Roberts tahu cara memperoleh keseimbangan dengan tidak mengumbar terlampau banyak, namun tetap membuat penonton merasa sudah diajak mengintip kekerasan yang terjadi dalam takaran memadai. Apakah perlu? Sebenarnya tidak, mengingat kekerasan berlebih termasuk ciri subgenre yang dijadikan kiblat, namun kecerdikan penyutradaraannya tetap layak diakui.

REVIEW - 28 YEARS LATER: THE BONE TEMPLE

Penting untuk diingat bahwa di waralaba satu ini, infeksi bukan mengubah manusia menjadi zombi tak berotak biasa, tapi menstimulus amarah mereka. Kalau 28 Days Later (2003) adalah tentang amukan yang membawa kehancuran, maka melanjutkan 28 Years Later (2025), The Bone Temple merupakan progresi natural yang membicarakan upaya menyembuhkan kekacauan batin lewat proses mencari kedamaian. 

Melanjutkan akhir menggantung film sebelumnya, kita kembali bertemu Spike (Alfie Williams) yang ditangkap oleh kelompok pemuja setan milik Sir Lord Jimmy Crystal (Jack O'Connell). Mengenakan wig panjang pirang dalam tampilan yang dimodelkan berdasarkan Jimmy Savile si predator seksual serta memanggil satu sama lain "Jimmy", mereka percaya sang pemimpin adalah keturunan setan yang diutus untuk menyulut kehancuran dunia.

Di sisi lain, Dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes), masih di kuil tulang manusia ciptaannya, membangun hubungan pertemanan aneh dengan Samson (Chi Lewis-Parry) si zombi alfa. Jika kultus Jimmy Crystal berkeliaran menguliti para penyintas, maka Samson bakal mencabut tulang belakang mereka kemudian memakan otaknya. 

Kuantitas aksi The Bone Temple tidak seberapa banyak, bahkan untuk ukuran seri 28 Days Later yang cenderung mengetengahkan drama humanis, tapi bukan berarti Nia DaCosta selaku sutradara tak piawai merumuskan teror. Dua momen yang saya sebut di atas mampu menghadirkan parade gore menjijikkan nan menyakitkan, hanya saja, elemen kekerasan film ini tak dieksploitasi atas nama hiburan, namun jadi penggambaran esensial atas dunia post-apocalyptic-nya.

DaCosta mengganti "sinematografi iPhone" penuh gaya khas Danny Boyle dengan bahasa visual puitis yang mengajak penonton mengobservasi masih adanya sisa-sisa keindahan alam kendati kiamat telah menghampiri dunia 28 tahun lalu. 

Sebagai landasan, naskah buatan Alex Garland menggiring tokoh-tokohnya perlahan mengingat keindahan tersebut, lalu memanfaatkan unsur psikedelik guna membuat mereka menyadari bahwa "tidak ada salahnya mendambakan kedamaian di tengah dunia yang penuh amarah."

Subteks "manusia lebih menyeramkan dari mayat hidup" khas film zombi masih dipertahankan, tapi Garland mengolahnya lebih jauh dengan memanusiakan seluruh karakternya, dari Samson hingga Jimmy, sama-sama memotret keduanya sebagai figur tragis alih-alih sekadar setan tanpa kepribadian. 

Jika ada ciri penyutradaraan Danny Boyle yang dipertahankan oleh Nia DaCosta, itu adalah kejelian memilih daftar putar lagu. Satu yang paling menonjol tentu The Number of the Beast kepunyaan Iron Maiden selaku pengiring momen megah di babak ketiga. 

Klimaksnya memang spesial. Disokong keliaran tindak-tanduk Ralph Fiennes, momen tersebut makin menegaskan keberanian seri 28 Days Later melawan pakem film zombi arus utama, dengan menyeriusi sebuah lelucon (ya, film ini lebih punya sense of humor dibanding para pendahulunya), menjadikannya babak puncak, lalu sebagaimana ucapan Dr. Kelson, "turn this up to eleven."

REVIEW - THE PERIOD OF HER

"Tiap menstruasi rasanya seperti dihukum", ucap salah satu protagonis The Period of Her, omnibus berisi empat cerita seputar perempuan karya empat sutradara. Kalimat di atas bertindak selaku benang merah. Bukan semata soal menstruasi, tapi bagaimana di Indonesia, keperempuanan seolah merupakan bentuk hukuman. 

Di Serixad Patah Hati karya Linda Andriyani yang jadi segmen pembuka, dibarengi take panjang yang menghasilkan gambaran utuh atas latar lokasinya, yakni keriuhan persiapan acara kuda lumping, kita melihat keriuhan lain berupa patahnya hati Shela (Ika Dihardjo) kala menangkap basah perselingkuhan sang kekasih, Rendi (Rindang Arga). 

Alih-alih dibanjiri penyesalan, Rendi justru menyebut Shela murahan karena "wis ora segelan". Biarpun pertengkaran pasangan ini dikemas dengan diksi banal yang terlampau menyuapi penonton, efektivitasnya dalam menyampaikan pesan terbukti efektif. Di mata masyarakat, hilangnya keperawanan melucuti harga diri perempuan, sedangkan tanpa keperjakaan, laki-laki malah mendapat puja-puji akan maskulinitasnya. 

Sebagai anggota kelompok kuda lumping yang bertugas kesurupan, Shela pun mencetuskan ide unik guna membalas kelakuan Rendi. Ketika dunia nyata punya tendensi membungkam para perempuan, mistisisme memberi ruang aman untuk bersuara, biarpun ujungnya, slut-shaming terhadap mereka sering jadi efek samping kala kebejatan laki-laki diungkap. Pada akhirnya perempuan hanya memiliki satu sama lain guna bertukar manis-pahit kehidupan. 

Sedangkan Romansa Keparat karya Praditha Blifa menyoroti keinginan Wati (Claresta Taufan) memiliki momongan, yang selama ini senantiasa berujung kekecewaan sewaktu menstruasi menyambanginya lagi dan lagi. Suaminya, Aan (Ben Bening), terus menyalahkan Wati, sembari menampik adanya kemungkinan bahwa dirinya mandul. 

Terciptalah komparasi. Jika Wati (perempuan) ingin punya anak demi membagi cinta, maka Aan (laki-laki) hanya berhasrat memamerkan kejantanan. Sebagaimana yang ia tampilkan di Pangku, Claresta Taufan memamerkan kesubtilan seni peran, dengan ekspresi yang mengajak penonton bertandang memasuki isi kepala Wati yang diisi penolakan untuk tunduk pada ego laki-laki, bahkan takdir semesta. 

Swim Swimming to the Shore karya Sarah Adilah membawa kita sejenak beralih dari latar Jawa ke Sulawesi, mengamati kegundahan yang dirasakan Annisa (Afiqa Kirana), tatkala keikutsertaannya dalam turnamen renang terancam pasca mendapatkan menstruasi pertama. Pasalnya, pihak sekolah mewajibkan siswi yang sudah balig untuk memakai hijab, yang mana bertentangan dengan standar pakaian turnamen tersebut. 

"Terbuka salah, tertutup juga salah", keluh Annisa di satu kesempatan, yang menunjukkan keseimbangan perspektif filmnya. Kekangan sekolah atas tubuh perempuan mendapat kritik, begitu pula diskriminasi aturan turnamen terhadap pemakai hijab. Sekali lagi, menjadi perempuan di Indonesia terasa serba salah. 

Tapi tidak ada yang salah dalam performa Afiqa Kirana, yang bersama Omara Esteghlal (Tinggal Meninggal), menyabet piala Best Performance di JAFF 2025 untuk seksi Indonesian Screen Awards. Kendati bibirnya lebih banyak membisu, sorot matanya menyuarakan perlawanan atas penyegelan kebebasan oleh kunci bernama seksisme. 

Not Dead Enough garapan Erlina Rakhmawati hadir sebagai penutup menyenangkan lewat presentasi komedi gender-swap absurd miliknya. Alkisah, Kempes (Rendra Bagus Pamungkas) si suami mokondo, mendapati dirinya bertukar peran gender dengan sang istri, Watik (Yessy Yoanne). Kini, Kempes lah yang harus terkurung di rumah sementara sang istri kelayapan, terkekang perihal cara berpakaian, dan dipusingkan oleh "men" yang datang tiap bulan. 

Segmen inilah yang paling sesuai dipresentasikan selaku bagian dari omnibus, mengingat humornya bakal segera terasa monoton andai dialihkan ke format feature. Tapi sebagai film pendek berdurasi sekitar 25 menit kejenakaannya luar biasa menghibur. Musiknya menambahkan bumbu penyedap melalui peleburan bunyi-bunyian gamelan dengan vokalisasi unik yang mewakili keheranan dalam benak protagonis (dan penonton) terhadap deretan peristiwa aneh yang filmnya munculkan. 

Harus diakui, keterbatasan durasi berujung membatasi eksplorasi mayoritas segmen, pula dampak emosional yang mungkin dihasilkan. Tapi setidaknya keempat cerita The Period of Her berhasil mencapai tujuan paling mendasar, yaitu memberi ruang bersuara bagi perempuan ketika paham patriarki negeri ini acap kali membisukan mereka. 

(KlikFilm) 

REVIEW - BEAUTY AND THE BEAT

Plaifun (Jacqueline Muench) adalah tipikal diva konvensional. Dipuja berkat kepiawaian menyanyikan balada sendu bernada tinggi, memegang standar kecantikan sebagai syarat mutlak, pula masih memakai samaran lengkap kala makan di tempat umum. Masihkah ada tempat bagi diva masa lalu sepertinya, di tengah era media sosial yang getol menelanjangi kepalsuan para bintang?

Setelah tujuh tahun absen dari belantika musik, Plaifun ingin menjajal peruntungan lagi dengan menggelar konser tunggal. Tapi kini Plaifun ibarat kaset di zaman layanan streaming. Beberapa masih mengidolakan dirinya atas nama nostalgia, namun telah dilupakan kebanyakan orang serta dianggap kuno. Di dalam hatinya ada pita yang secara tersendat memutar lagu kejayaan masa lalu yang sudah ogah didengar publik.

Karenanya, sang manajer, Kob (Bobby Nimit Lugsamepong), memberi saran supaya berkolaborasi dengan trio Gang Takhli—Pitta P. (Thongchai Thongkanthom) si "Ratu Rap", Copter (NuNew Chawarin Perdpiriyawong) si "Pangeran T-pop", dan Laila (Ninew Phetdankaeo) si bintang folk dengan kemampuan mistis—yang tengah menggemparkan internet lewat musik ceria dan aksi panggung heboh.

Citra liar nan apa adanya milik Gang Takhli, yang amat berkebalikan dengan Plaifun, justru jadi alasan ketiganya digemari Gen Z. Gesekan didasari kecemburuan, yang juga dipakai mewakili konflik perspektif antar generasi pun pecah. Apalagi setelah bintang K-pop yang sedang naik daun, Alex Kim (Keng Harit Buayoi), turut bergabung dalam konser tersebut. 

Melalui Beauty and the Beat (atau yang punya judul asli Diva, la Vie), Kittiphak Thong-Uam selaku sutradara bak menggelar 125 menit pertunjukan semarak para diva, yang diwarnai barisan kostum meriah kaya warna, juga aksi panggung berdaya hibur tinggi penuh keliaran aksi jajaran pelakon serta lagu pop elektronik yang mustahil dihapus dari otak pendengarnya. 

Bagaikan diva ambisius yang saling berebut lampu sorot, tidak satu pun aktornya tampil setengah-setengah, terutama dalam menghantarkan komedi. Jacqueline Muench mengenyahkan segala wujud keanggunan tiap memaksimalkan gestur dan ekspresi miliknya hingga mencapai titik hiperbolis, demikian pula trio Gang Takhli yang tak pernah kehabisan energi dalam upaya menyulut tawa. 

Kendati di beberapa titik komedinya seperti peluru yang ditembakkan secara serampangan sehingga tidak selalu menemui sasaran, naskah buatan Kittiphak Thong-Uam, Parames Samranrom, dan Waneepan Ounphoklang tidak pernah lalai menyuntukkan kreativitas, yang acap kali menciptakan kelucuan melalui jalan tak terduga. 

Sebagai penonton kita hanya perlu pasrah menyerap segala situasi absurd khas sinema Thailand yang bertebaran. Jangan melawannya dengan memaksakan gagasan-gagasan logis. Terima saja bagaimana alurnya menggiring kita memasuki area mengejutkan di babak ketiga, tatkala Beauty and the Beat secara brilian meleburkan elemen horor ke dalam kisahnya, yang jadi ajang bagi Keng Harit Buayoi menandingi pesona komedik jajaran pemain lain. 

Melegakan pula mendapati konklusinya enggan menutup penceritaannya secara naif. Perubahan era yang protagohadapi takkan bisa diakali. Mustahil baginya (serta diva-diva lain setelahnya, bahkan Gang Takhli di kemudian hari) untuk membuat sinar kebintangan selalu menyala seterang mungkin. Satu yang bisa ia lakukan adalah menjaga sinar itu agar tak sepenuhnya luruh ditelan kegelapan, biarpun cuma berupa pendar-pendar kecil.