REVIEW - CHIIKAWA THE MOVIE: THE SECRET OF THE MERMAID ISLAND
Film ini dibuat berdasarkan manga berjudul sama buatan Nagano (juga duduk selaku penulis naskah), Chiikawa, yang merupakan kependekan dari frasa Jepang, "Nanka Chiisakute Kawaii Yatsu" alias "sesuatu yang kecil dan menggemaskan."
Karena memang tokoh-tokohnya kecil nan menggemaskan. Segudang dagangan pendukung, stiker obrolan, hingga meme berpotensi lahir darinya. Beberapa makhluk mungil ini mampu bicara layaknya manusia, namun ada pula yang hanya mengeluarkan suara-suara imut (termasuk Chiikawa si tokoh utama) serupa Pokémon.
Pembukaannya sarat kepolosan khas kartun bocah yang rutin kalian putar untuk menghentikan kerewelan anak atau adik. Alkisah, Chiikawa beserta kawan-kawannya, Hachiware, Usagi, Momonga, dan Rakko, menerima undangan menyambangi Pulau Mermaid. Mereka dijanjikan santapan lezat, juga upah tinggi bila mampu menuntaskan misi pemberian warga setempat.
Rutinitas awal Chiikawa dkk. di Pulau Mermaid bukanlah suatu petualangan. Mereka menikmati hidangan, bermain-main, bersantai. Mungkin terlalu santai bagi penonton yang haus akan keseruan di layar perak.
Sampai akhirnya kita menemukan alasan mengapa kata "mermaid' disematkan sebagai nama pulau. Sesosok Siren raksasa ditemani dua duyung mungil menampakkan diri di hadapan para protagonisnya, sembari menyanyikan nada-nada lucu disertai lirik mengenai keinginan untuk memakan mereka. Kontradiksi unik film ini pun mulai mengungkap jati dirinya, seiring tersibaknya tirai penutup rentetan rahasia mengerikan pulau tersebut.
Bukan berarti filmnya mendadak bertransformasi jadi kerabat Happy Tree Friends. Chiikawa the Movie: The Secret of the Mermaid Island tetap menjaga keamanannya selaku tontonan semua umur berkat kulit luar yang senantiasa menggemaskan. Visualnya bukan asal cerah, namun dibarengi keputusan cerdik menggambarkan warga Pulau Mermaid sebagai makhluk monokromatik tanpa wajah, guna menghindari sensory overload. Tokoh-tokoh utamanya pun jadi tak perlu berebut sorotan dengan mereka.
Secara visual, hal terdekat dengan "pemandangan dewasa" hanya berasal dari karakter Shimajiro si pemilik restoran sup kerang. Wajahnya nampak galak, tubuh kekarnya pun cuma dibalut selembar apron. Figurnya menonjol di antara makhluk-makhluk menggemaskan lain. Dialah karakter favorit saya di film ini.
Mencapai babak ketiganya, sisi kelam Chiikawa the Movie makin mengental dan membawa penceritaannya menuju tingkatan lebih tinggi. Anak-anak bakal tetap memandangnya sebagai kisah sederhana tentang kebaikan melawan kejahatan, atau jagoan gemas melawan monster seram. Penonton dewasalah yang akan bisa melihat wajah gelap dari ambiguitas moral milik plot twist-nya, yang menunjukkan betapa bentuk cinta satu pihak dapat dipandang sebagai hal keji oleh pihak lain.
Menyusul kemudian adalah momen pesta di depan api unggun yang menguarkan aroma bittersweet perihal konsep "bersama selamanya", sementara lagu Kyou no Hi wa Sayounara (Today is the Time for Goodbye) yang terdengar magis, secara sempurna mewakili perasaan kompleks dari peristiwanya. Akhirnya, Chiikawa the Movie: The Secret of the Mermaid Island pun dipungkasi oleh implikasi kelam mengenai ketakutan terhadap malapetaka yang setia mengintai hidup individu pemilik dosa. Hal-hal di atas tersaji dalam film seputar makhluk-makhluk mungil menggemaskan.

%20(1).png)
1 komentar :
Comment Page:pas baca bagian "Bukan berarti filmnya mendadak bertransformasi jadi kerabat Happy Tree Friends." - aku tiba2 ngakak wkwkwkwk
Posting Komentar