Berbeda dengan karya-karyanya sebelum ini (The Chaser, The Yellow Sea, The Wailing) yang punya lapisan cerita tebal, melalui Hope kita melihat Na Hong-jin membuang jauh-jauh substansi dalam naskah guna memberi ruang baginya memamerkan kecakapan mengarahkan spektakel tak berotak, yang diharapkan dapat merintis waralaba layar lebar baru.
Tanpa basa-basi penonton segera ditarik ke tengah konflik, ketika Ko Bum-seok (Hwang Jung-min), kepala polisi Hope, desa pelabuhan kecil dekat zona demiliterisasi, bersama sepupunya, Ko Sung-ki (Zo In-sung), menyelidiki fenomena aneh berupa penemuan bangkai hewan yang ditengarai jadi korban serangan makhluk berukuran super besar.
Mereka pun berpencar, dan tidak butuh waktu lama sampai Bum-seok dan anak buahnya, Im Sung-ae (Hoyeon), menyadari alasan mengapa Hope nampak bak kota mati. Bukan cuma bangkai hewan, setumpuk mayat warga yang tewas mengenaskan mulai ditemukan.
Darah menggenang, potongan tubuh berceceran, reruntuhan berserakan, teriakan ketakutan dari orang yang bertatapan dengan maut pun sesekali terdengar. Na Hong-jin memaksimalkan ragam elemen audiovisual tersebut untuk menyulut kengerian tanpa perlu buru-buru menampakkan wujud si pembawa teror. Asumsi penonton dipermainkan. "Makhluk macam apa yang sanggup semudah itu meremukkan badan manusia?"
Sepanjang babak pertama yang berlangsung cukup lama, ceritanya menolak berprogres. Tapi siapa berani protes di saat Hwang Jung-min kembali memancarkan pesona "dramedi" khasnya sebagai aparat berdedikasi kendati acap kali kurang bisa diandalkan?
Tapi utamanya, babak pertama Hope adalah panggung bagi Na Hong-jin. Dibantu tata kamera arahan Hong Kyung-pyo yang bergerak kesetanan tanpa mengenal batas, sang sutradara meleburkan seluruh ilmu "action directing 101". Bagaimana mengatur bloking di tengah sekuen aksi, di sudut mana kamera mesti diletakkan dan ke mana harus digerakkan, hingga perihal kapan tepatnya gerak lambat dimulai serta diakhiri supaya memperoleh efek dramatis sempurna.
Banyak kritik pedas menghampiri Hope terkait efek komputernya, terutama begitu si monster akhirnya menampakkan diri. Saya setengah setuju. Momen sewaktu sekumpulan monster berlari ngebut di tengah tanah lapang jelang babak final memang terlihat menyedihkan, tapi sisanya merupakan pemandangan yang jamak ditemui dalam blockbuster Korea Selatan.
Kasar, artifisial, namun wajar, mengingat memang baru sampai di situ tingkat teknologi sinema arus utama mereka. Apalagi Na Hong-jin mampu menebusnya dengan penyutradaraan aksi kelas satu, dengan membuat monsternya rutin bergerak secara agresif saat memburu mangsa. Debaran jantung selalu berhasil dipacu tiap si monster, dengan penuh nafsu membunuh, melempar benda-benda berukuran besar ke arah protagonisnya.
Sementara Bum-seok dkk. berburu monster, penonton diajak mengobservasi paranoia lain di seantero desa yang eksis berdampingan dengan zona demiliterisasi. Tampak setumpuk spanduk mewanti-wanti supaya warga mewaspadai penyusup. Ketakutan akan sosok asing pun disebarkan. Tapi begitu babak pertama usai, perlahan Hope membangun kesadaran penontonnya, bahwa ketimbang makhluk asing dari luar negeri maupun luar Bumi, mungkin saja kitalah ancaman mematikan sesungguhnya.
Sayang, seiring narasi yang terus membesar, naskah buatan Na Hong-jin semakin tidak yakin akan apa yang mau disampaikannya. Kemerosotan kualitas Hope bermula tatkala babak keduanya memberi sorotan lebih terhadap "tim hutan" yang dipimpin Sung-ki, di mana mitologi mengenai para monster dipaparkan dengan cara yang terlampau serius sekaligus generik sehingga ampuh menyulut rasa kantuk.
Aura bersenang-senang dari babak pertama pun lenyap seketika. Na Hong-jin bagai terbutakan oleh ambisi, sehingga belum seutuhnya rela menyerahkan jiwa pada pesona b-movie, kendati jejak-jejaknya (serbuan monster, cerita tipis, barisan tokoh yang tidak bisa bersikap serius terlampau lama, humor toilet) sudah berserakan di sepanjang durasi.
Klimaksnya kembali mengaktifkan "mode dewa" dalam pengarahan aksi sang sutradara, melalui kejar-kejaran sarat gerak akrobatik bak pertunjukan sirkus, yang dipungkasi oleh peristiwa konyol tak terduga, senada dengan cara sinema kelas b mengakhiri cerita (dalam artian tertentu, agak mengingatkan ke Feast III: The Happy Finish). Menyenangkan!
Ending-nya tidak semenyenangkan itu. Bukan karena absurditas miliknya, sebab poin tersebut malah berpotensi memberi hentakan pamungkas guna mengukuhkan status Hope selaku kebodohan menyenangkan yang mengacungkan jari tengah pada keseriusan. Konklusi yang mengaburkan pesan tentang "siapa ancaman sebenarnya?" itu menyisakan kekecewaan karena membuat segalanya jadi serba rumit dengan nuansa yang terlampau serius, didasari ambisi membuka posibilitas bagi terciptanya waralaba.

Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar