Digger termasuk sulit diulas, sebab mustahil mengupas tuntas gagasan serta keresahan yang Alejandro González Iñárritu tumpahkan tanpa menebar spoiler (bahkan tim pemasaran pun kesulitan menentukan strategi). Saya hanya bisa bilang bahwa Iñárritu secara ajaib berhasil merealisasikan visi yang oleh kebanyakan sineas bahkan takkan berani disentuh.
Namanya Digger Rockwell (Tom Cruise). Seorang taipan dunia minyak yang berkongsi dengan pemerintah Amerika Serikat supaya mendapat izin mendirikan kilang di Alaska dan Greenland. Rumah megah Digger dipenuhi hiasan taksidermi, termasuk sekumpulan buaya kecil di langit-langit, bak memproklamasikan kedigdayaan si pebisnis di puncak rantai makanan.
Sampai keserakahan Digger mendatangkan bencana, yang sejatinya bisa ditangkal andai ia mau mendengarkan saran para cendekiawan (terdengar familiar?). Seolah membungkam mulut para penentang teori pemanasan global, sebongkah es berukuran masif terlepas dan siap membuat Eropa porak-poranda.
Rapat darurat yang kekacauan dan kengawurannya hampir sebanding dengan situasi ruang perang dalam Dr. Strangelove (1964) pun segera dilangsungkan. Arogansi pihak Amerika Serikat di bawah pimpinan Presiden Compson (diperankan John Goodman lewat intensitas luar biasa di hadapan sorotan close-up) pun demikian kentara. Ketimbang pasrah akan ketidakmampuan mengontrol alam, mereka berkeras kalau kekuatan militer Amerika bakal menuntaskan segalanya.
Di tengah kekacauan tersebut, Tom Cruise memamerkan kendali tingkat tinggi atas karakternya. Penampilannya komplit, memadupadankan ledakan gestur-gestur besar selaku perwujudan kesombongan sang pebisnis licik, dengan akting mikro yang menyiratkan riak-riak insekuritas dalam hatinya. Monolog Digger di depan puluhan pembencinya menuntut letupan energi yang tak kalah besar dibanding rentetan aksi berbahayanya di waralaba Mission: Impossible.
Kelak twist besar mengubah arah alurnya. Bukan sekali tapi dua kali. Twist yang secara cerdas memberi ruang bagi naskah yang Iñárritu tulis bersama Alexander Dinelaris Jr., Nicolás Giacobone, dan Sabina Berman, guna menangani lebih banyak isu tanpa menjadikannya saling tubruk. Digger terasa padat tapi tidak menyesakkan.
Selaku sutradara pun, selain jago menyusun mise-en-scène momen-momen komedik di mana humor dapat dilempar hanya lewat susunan bloking para aktor di depan kamera, Iñárritu hadir dengan kepresisian bercerita yang mumpuni. Semuanya besar, semuanya masif, namun tidak membengkak tak terkendali. Iñárritu ibarat arsitek gila yang didukung kepercayaan diri tinggi, menyapukan garis demi garis dalam desain bangunannya yang maha kompleks.
Begitu Digger mengubah treknya, perenungan berbeda (tapi tetap menautkan benang merah dengan persoalan alam, kapitalisme, dan penyalahgunaan kekuasaan) dihadirkan oleh kisahnya: Apakah status karya seni, termasuk di dalamnya sinema, sebagai "aksi pura-pura" lantas mengecilkan urgensinya? Antara akurasi dan eksplorasi, mana yang semestinya lebih diutamakan kala berkarya?
Digger pun bertindak selaku pengingat, bahwasanya karya seni memang bisa menjadi medium katarsis dalam belenggu derita, juga perekam peristiwa lampau supaya masyarakat tak terjangkit amnesia sejarah hingga jatuh ke lubang yang sama. Tapi tidakkah lebih baik bila umat manusia tersadar sejak dini supaya penderitaan tersebut tidak perlu menghampiri? Ada kalanya film ini tampil kelam, namun Iñárritu menolak kehilangan harapan terhadap kemampuan generasi masa depan memperbaiki keadaan.
Digger merupakan karya yang menuntut penonton menahan impresi prematur maupun penghakiman buru-buru. Biarkan struktur raksasanya menampakkan wujud nyata secara menyeluruh. Pada masa serba instan di mana publik dengan gampang menarik konklusi tanpa pikir panjang, Digger adalah latihan yang sempurna bagi kemampuan kita merespon dan mengapresiasi kecakapan seniman beserta karyanya.


Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar