17/10/26

REVIEW - WHALEFALL

0 View

Mungkin benar bahwa hidup bergerak secara misterius. Kita pun dapat menemukan pelajaran tentangnya dalam tempat dan rupa yang acap kali tak terduga.....termasuk film mengenai seorang laki-laki yang tertelan oleh paus sperma, sembari berjibaku melawan cumi-cumi raksasa dalam perut predator bergigi terbesar di dunia tersebut. 

Jay (Austin Abrams) baru kehilangan ayahnya, Mitt (Josh Brolin), yang mati menceburkan diri ke laut guna lepas dari penyakit kronis yang menggerogotinya. Mitt adalah penyelam handal yang di kalangan warga lokal dipandang bak legenda. Tapi di mata Jay, ia hanyalah sosok ayah yang ogah memandang sesuatu dari sudut pandang putranya. Sudah lama hubungan keduanya merenggang.

Tapi Jay, yang seumur hidupnya selalu merasa dikerdilkan, bertekad menyelesaikan sebuah misi nekat, yakni menemukan jenazah sang ayah di dasar laut sebagai pembuktian akan kapasitasnya. Perairan gelap pun ia selami, sampai terdengar gemuruh pemecah keheningan kala seekor paus sperma muncul di hadapannya. 

Whalefall mengubah kata-kata dalam novel berjudul sama karya Daniel Kraus yang diadaptasinya menjadi presentasi audiovisual dengan apik, berbekal gelegar tata suara mencekam serta penerapan CGI tepat guna (khususnya tiap wide shot dipakai memotret tubuh masif para makhluk laut) yang sama-sama melukiskan betapa kecil nan ringkihnya manusia di depan kedigdayaan lautan. 

Paus itu tidak hanya menelan Jay, tapi juga seekor cumi-cumi raksasa yang turut berkontribusi mengancam nyawa protagonis kita. Nantinya, Jay terbangun di bilik lambung pertama yang berfungsi melumat makanan si paus. 

Brian Duffield selaku sutradara secara jeli mencuatkan nuansa klaustrofobik kala menampilkan pergulatan Jay, yang bak tengah menjelajahi gua dengan tingkat kesempitan ekstrim. Tapi alih-alih bebatuan, dia dihimpit oleh dinding-dinding lambung dalam wujud abstrak yang makin menebalkan rasa sesak. 

Naskah buatan Duffield dan Kraus juga menyediakan rangkaian skenario yang sanggup melibatkan penonton dalam usaha Jay bertahan hidup. Whalefall selalu punya ide menarik sehingga presentasinya tampil padat dan menjauhi kesan repetitif. Jay bakal terjebak di bilik lambung kedua yang lebih mematikan, bertarung melawan cumi-cumi raksasa, lalu melakukan penelusuran ditemani nyala tubuh seekor ubur-ubur yang juga diajaknya bicara bak teman senasib. 

Semakin jauh permasalahan bergulir, semakin royal pula film ini membagikan situasi gila serba hiperbolis (money shot sewaktu Jay berteriak dari mulut paus adalah salah satunya). Silakan nantikan momen tatkala Whalefall mengungkap bahaya paling mematikan yang menanti di laut dalam. 

Menariknya, di balik spektakel liar ala b-movie milik film ini, bersemayam pula tuturan yang amat humanis. Dimotori kepiawaian Austin Abrams mencurahkan kecemasan, frustrasi, dan kepiluan hati yang menolak sembuh, pergumulan Jay dalam perut paus mewakili kesukarannya lepas dari himpitan luka masa lalu, terkait hubungan disfungsional dengan ayahnya.

Jay jengah dengan omelan keras tanpa henti sang ayah yang tidak jarang mendekati pelecehan verbal, namun berkat petuah demi petuah dari Mitt yang tertanam di otaknya, ia mampu mengatasi rintangan-rintangan dalam perut paus. Bukan berarti Whalefall sedang menjustifikasi, apalagi meromantisasi pola asuh buruk untuk menyusun cerita dangkal mengenai proses memaafkan. Berbekal sensitivitas tinggi, naskahnya mengolah sesuatu yang lebih kompleks.

Seiring bertambah parahnya kondisi fisik dan psikis Jay, ia mulai terlibat obrolan imajiner dengan Mitt, yang membantunya memungkasi segala kekalutan. Bukan berarti perspektif tentang sang ayah bergeser. Jay hanya berusaha mengintip lewat sudut pandang yang menyediakan kedamaian bagi dirinya. Whalefall bukan soal ayah yang disalahartikan, melainkan anak yang ingin berbahagia. 

Tidak ada komentar :

Comment Page:

Posting Komentar