REVIEW - PELANGI DI MARS
Baru kemarin saya menulis tentang bagaimana Na Willa sukses sebagai film anak berkat keberhasilan sang sineas membuat dirinya dan penonton mundur ke masa kecil. Pelangi di Mars karya Upie Guava berada di kutub berlawanan, dengan memotret anak-anak memakai perspektif dewasa, hingga mengerdilkan mereka bak makhluk dangkal miskin nalar.
Sudah lama tidak ada film Indonesia mendatangkan kekecewaan sebesar ini bagi saya. Bersenjatakan genre fiksi ilmiah serta pernak-pernik efek komputer canggih, Pelangi di Mars berkesempatan menuliskan namanya dalam buku sejarah sinema tanah air. Sayang, kendati visual spektakuler berhasil disajikan, eksistensi naskahnya terkesan begitu samar.
Alkisah di masa depan Bumi mengalami krisis air bersih akibat monopoli perusahaan bernama Nerotex. Karenanya, misi menuju Mars pun dilangsungkan, guna mencari Zeolith Omega, mineral langka yang konon mampu memurnikan air. Pratiwi (Lutesha) jadi salah satu pelaksana misi, yang kini melanjutkan pencarian bersama putrinya, Pelangi (Myesha Lin), yang lahir di Planet Merah tersebut, serta Batik (Bimo Kusumo Yudo) si robot baik.
Di tengah perjalanan, drone milik Nerotex mengawasi gerak-gerik mereka. Pratiwi segera berlindung, tapi Pelangi, dengan polosnya hanya bengong. Pelangi di Mars merupakan tipe film yang bakal menjelaskan tindakan tak logis bocah dengan selorohan malas, "Namanya juga anak-anak". Kesan serupa hadir saat Pelangi terlibat konflik dengan salah satu rekannya gara-gara alasan bodoh, seolah ia tak mampu secara mandiri memeras otaknya sendiri.
Belum lama ini saya menonton video berisi seorang bocah yang bisa membongkar trik pertunjukan sulap di sebuah pesta ulang tahun. Kendati kerap dituding mengidap brainrot, di saat bersamaan, konten media sosial turut membuka lebar gerbang ilmu pengetahuan generasi alfa. Intinya, mereka cerdas. Tapi cara naskah buatan Upie Guava dan Alim Sudio memperlakukan bocah-bocah ini (baik protagonis maupun target pasar filmnya), kentara mengecilkan kapasitas pikir mereka.
Singkat cerita Pratiwi diyakini tewas pasca sebuah kecelakaan, kemudian alurnya melompat menuju enam tahun berselang. Pelangi (kini diperankan Messi Gusti) sudah makin tumbuh, pun Batik yang tadinya cuma berupa potongan kepala, sudah mempunyai tubuh gagah nan sempurna. Bagaimana Pelangi sanggup merakitnya sendiri? Tanpa ada penjelasan, alih-alih berhasil membuat si tokoh utama nampak jenius, naskah Pelangi di Mars sekadar menampakkan kemalasannya.
Sebagai spektakel pun film ini kekurangan daya hibur. Dihabiskannya sekitar 50 menit hanya untuk memperkenalkan secara berlarut-larut, para robot yang akan menemani petualangan Pelangi: Sulil (Dimitri Arditya) si robot India, Petya (Gilang Dirga) si robot Rusia, Yoman (Kristo Immanuel) si robot rasta, dan Kimchi (Vanya Rivani) si robot (sok) Korea.
Jangankan penokohan mendalam, selain hal-hal permukaan seperti asal negara dan penulisan stereotipikal, seluruh robot di atas tak memiliki kekhasan. Kemampuannya serupa, begitu pula kepribadian mereka yang bisa dideskripsikan dengan dua kata, yakni "berisik" dan "menyebalkan". Puasa saya nyaris batal akibat rasa kesal sewaktu Batik mengucapkan "monggo" untuk keseribu kali.
Apa yang terjadi pasca enam individu tersebut berkumpul? Mereka berkeliaran di tengah lanskap gersang Mars sambil mengoceh tanpa henti memperdebatkan bahasan-bahasan trivial. Ketimbang mengembangkan alur, filmnya lebih tertarik menyuruh tokoh-tokohnya menari diiringi lagu K-pop. Apakah pembuatnya berpikir, karena menggandrungi konten TikTok maka generasi alfa dapat dihibur begitu saja tanpa kisah berbobot?
Humornya tidak kalah parah. Mengandalkan banyolan-banyolan tentang "keranjang kuning" hingga budaya populer Korea Selatan, penulisnya bak berupaya keras menyamakan frekuensi dengan anak-anak. Tapi untuk apa menyelipkan lelucon "ankara Messi" yang notabene tidak dipahami bocah? Patut diingat, kita bisa memanggil kenakan masa kanak-kanak yang dahulu pernah dilalui, tapi berubah menjadi bocah zaman sekarang adalah kemustahilan.
Kemegahan visualnya jelas jadi penebus dosa. Efek CGI-nya juara, dari objek-objek yang mengisi fokus adegan sampai lanskap cantik yang melatarinya, pun kendati berakhir hanya sebagai kosmetik tanpa dibarengi kepribadian berwarna, desain jajaran robotnya harus diakui sarat kreativitas. Sempurna? Belum, apalagi bila mau memperhatikan detail (di satu adegan, karakternya menyebut nama "Sofia Petrovsky" tapi tulisan di layar malah berbunyi "Trotsky"), namun untuk ukuran produk tanah air, Pelangi di Mars tetap patut dikategorikan sebagai batu loncatan.
Andai penceritaan tidak dinomorduakan. Andai filmnya tidak menutup kisah begitu saja tanpa menggiring si protagonis belajar memecahkan persoalan, atau minimal membuatnya melewati klimaks seru. Yoman sempat berkata, "Antiklimaks nih!", dan saya cuma bisa menyetujui celetukan tersebut.


2 komentar :
Comment Page:Saya nunggu dari tahun kemarin tentang pelangi di mars ini bahkan udah follow IG nya @pelangidimars sejak jumbo keluar lebaran tahun lalu. Dan kemarin berkesempatan nonton dengan anak-anakku dan ponakan-ponakan juga. Dan sebagai bocil mereka suka, lepaskan ekspektasi kita sebagai orang dewasa dan berfikir lah seperti target pasarnya.
Anak bungsu saya usia 5 tahun laki-laki bahkan hampir nangis lho saat adegan menemukan zeolit omega dan gagal. Yang kata Yoman "Antiklimaks nih!" buat kita orang dewasa pasti berpikir begitu, tapi buat anak-anak yang masih jujur dan polos ini ok kok.
Setuju. Jujur aja, waktu gue kecil dulu (umur 4 tahunan), bagi gue "Batman & Robin"-nya Joel Schumacher jauh lebih bagussss daripada versi Tim Burton 😂😂😂
Posting Komentar